Chapter I-III

 “Apa yang akan terjadi jika semua benda berbentuk lingkaran? Apa yang akan terjadi jika semua tumbuhan hanyalah biji-bijian? Apa yang akan terjadi jika tidak ada binatang selain Ayam? Dan apa yang akan terjadi jika di dunia ini hanya ada warna putih terang? Tidak perlu dijawab, cukup dibayangkan.”

Particula I

 

Tuhan menciptakan manusia dengan empat kriteria utama yang berbeda namun berhubungan satu sama lain. Yaitu; Dia yang tulus mencintai, Dia yang tidak pernah peduli, Dia yang penuh rasa benci, serta Dia yang selalu mempermainkan situasi. Di antara empat kriteria itu, manakah yang terbaik? Tidak ada jawaban pasti. Karena mayoritas dari kebenaran dan kebaikan di dunia ini terbentuk dari sebuah opini. Yang terbanyaklah yang berhak untuk menghakimi.

Sebuah contoh sederhana; Sebagian besar orang meyakini bahwa polinasi dari warna kuning dan biru adalah warna hijau. Hal ini terjadi karena kesepakatan mayoritas manusia di masa lampau. Dikatakan mayoritas sebab ada sebagian kecil manusia yang tidak menyetujui hal itu. Mereka beranggapan jika perpaduan antara kedua warna primer itu bukanlah hijau, melainkan warna yang lain. Dipercaya atau tidak, perbedaan sederhana itu masih terjadi dan akan terus terjadi sepanjang waktu. Dan si minoritas yang tidak menyetujui kesepakatan itu, akan dianggap sebagai pembangkang abnormal dan diberikan cap stempel buta warna sepanjang hidupnya.

Manusia memang sudah lekat dengan perbedaan pendapat, bahkan sejak ribuan tahun yang lewat. Sejak manusia pertama turun ke Bumi dalam keadaan tersesat, di mana kesepahaman komunikasi diawali dengan kesepakatan bahasa isyarat. Ibarat sebuah garis lurus yang kedua ujungnya dipertemukan sehingga membentuk lingkaran yang sepenuhnya bulat. Manusia zaman sekarang berada di dalam lingkaran-lingkaran yang dibuat para leluhur agar mereka selalu ingat dengan norma-norma dan aturan yang mengikat. Agar mereka berhenti membuat sekat dan saling memberi manfaat.

Tidak ada kebaikan yang tidak memberi manfaat. Bahkan seulas senyum yang terkembang pun bisa menjadi obat. Seperti halnya beberapa patah kata yang mengandung nasehat, kebaikan adalah cahaya bagi mereka yang hidup di balik ruang gelap nan pengap.

Selalu ada panas yang menyertai cahaya. Begitu juga dengan kebaikan, selalu ada resiko yang menjadi konsekuensinya. Gaya aksi selalu sama dengan gaya reaksi. Itu artinya; Semakin besar kebaikan yang dilakukan, maka semakin besar pula resiko yang akan diterima. Akan tetapi, terlepas dari semua itu, menjadi baik dan menyebarkan kebaikan adalah sebuah pilihan.

Dan di negeri ini, di atas Nusantara terbesar di seantero Bumi. Ada banyak sekali orang baik, tapi hanya sedikit di antara mereka yang mau menyebarkan kebaikan dan menegakkan keadilan. Sebagian di antara mereka yang baik memilih untuk diam dan tidak mau tahu, sebab ketidakpedulian telah mengeraskan hati mereka serupa batu. Mereka menganggap kejahatan dan ketidakadilan adalah hal yang sudah lumrah dan biasa terjadi, jadi untuk apa menyulut api kebaikan kalau pada akhirnya akan membakar diri mereka sendiri? Sebab diakui atau tidak, ketika hal buruk sudah menjadi kultur, maka di saat itu pula angkara murka dianggap sebagai dharma.

Di antara sedikit lilin yang memisahkan gelap dari terang di negeri ini, Zenith adalah salah satunya. Seorang wanita kharismatik yang telah menasbihkan hidupnya untuk melindungi dan membela hak anak-anak Nusantara. Wanita berusia tiga puluh sembilan tahun itu adalah Sekjen KPAN (Komisi Perlindungan Anak Nasional), sebuah lembaga yang memiliki wewenang yuridis untuk memberikan perlindungan dan membantu anak-anak korban kekerasan dan pelecehan seksual.

Zenith tidak hanya cantik, tapi juga cerdas. Ia lulus dari sekolah hukum Columbia University dengan predikat summa cum laude[1]. Prestasi yang luar biasa bagi seorang wanita yang mengidap disleksia di masa kecilnya. Sebenarnya ia bisa saja menjadi pengacara yang sangat handal seandainya memilih jalur yang sesuai dengan pendidikan formalnya.  Tapi, nuraninya berkata lain. Kecintaannya akan dunia anak-anak telah membawanya pada pekerjaan ini. Pekerjaan yang sangat melelahkan dan cukup menyita waktunya setiap hari.

Hari ini. Di pagi yang sibuk di jalanan ibukota. Zenith menatap kosong hujan badai yang semakin memperparah kemacetan Jakarta. Sepasang mata cokelatnya mengamati lekat-lekat setiap rintik hujan yang turun menerpa. Air laut yang menguap telah membeku dan bergumul di dalam gulungan awan cumulonimbus[2], lalu jatuh menjadi butiran-butiran air yang sekarang sebagian di antaranya mengembun di kaca jendela. Lamat-lamat Zenith menggerakkan jari telunjuknya, menempelkannya di kaca dan menari-nari di atasnya. Seberkas gambar telah terlukis, sebuah manifestasi dari mimpinya yang sederhana.

Hujan selalu memberi berkah dan harapan, tapi tak sedikit orang yang mengeluh karenanya.

Sementara di sebelah kanan Zenith, di balik jok kemudi, seorang pria memperhatikan setiap geraknya. Sepasang mata abu-abunya sesekali menatap Zenith penuh tanda tanya. Ada semacam kekhawatiran dan rasa bersalah yang menyeruak di wajahnya yang pucat. Pria itu adalah Albern, tunangan Zenith.

Pria berdarah Polandia itu berusia empat puluh satu tahun. Ia berkulit putih dan berbulu lebat. Rambutnya pendek, selalu tertata rapi dan berwarna cokelat. Meski tidak pernah mau disebut metroseksual, tapi penampilannya memang selalu fashionable dan menarik perhatian. Ia memiliki semua hal yang wanita inginkan; tampan, kaya, cerdas, tubuh ideal dan karir yang cemerlang.

“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Albern coba memecah kebekuan. Sejak keluar dari bandara tidak sepatah pun kata terucap dari bibir mereka. Pertengkaran mereka di telepon beberapa hari yang lalu  tampaknya masih menyisakan sedikit problema.

“Tidak ada,” jawab Zenith tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.

“Apa kamu masih merindukan liburanmu?” tanya Albern sedikit menggoda.

Zenith memicingkan matanya, tidak terima, “Apa menurutmu aku baru saja pulang berlibur?”

“Semestinya… iya. Karena aku juga pernah datang ke sana. Lait adalah kota kecil yang indah dan penuh pesona. Tempat di mana kedamaian dan ketentraman bersemayam dalam pelukan Sanggau.”

“Semestinya? Apa menurutmu aku bisa berlibur sementara aku tahu ada sepasang anak kembar yang telah disiksa dan dilecehkan ayah tirinya sedang membutuhkan bantuanku?”

Albern terhenyak, “Apa kamu pikir aku dan Nayla tidak membutuhkanmu?”

“Apa maksudmu?”

“Kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Kamu seperti tidak memiliki waktu untuk kami.”

“Cukup, Al. Aku sedang tidak ingin berdebat.”

Albern terdiam. Kedua tangannya menggengam erat setang kemudi. Sepasang matanya menatap situasi jalanan di depannya, tapi pikirannya melanglang buana entah ke mana. Dengan suara tertahan ia berkata, “Apa karena kesibukanmu ini Jonas menceraikanmu?”

Zenith tersentak. Seketika amarahnya memuncak, “Apa?! Kamu sudah keterlaluan. Kamu boleh menilai sikapku, tapi kamu tidak berhak menghakimi hidupku,” katanya emosional. Sepasang matanya yang berkaca-kaca menatap Albern dengan seksama, “Berhenti. Turunkan aku di sini!”

Tak ada jawaban.

“Aku bilang berhenti!”

Tanpa aba-aba lanjutan Albern segera mengerem mobilnya. Ia lalu menepi dan berhenti. Ia tidak ingin melihat Zenith lebih marah kepadanya. Zenith memang keras kepala, bahkan terkadang jauh lebih keras dari batu permata. Dan ketika pintu mobil terbuka, hujan terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

*****

Usia si kecil Nayla menginjak tujuh tahun. Ia tampak berbeda. Tampilan fisiknya sangat berbeda dengan ayah dan ibunya atau pun orang-orang pada umumnya. Hal itu diakibatkan kelainan genetis yang dialaminya. Nayla mengidap albino sejak masih dalam kandungan ibunya. Ketiadaan pigmen di kulit menyebabkan ciri fisiknya sangat mirip dengan orang-orang Skandinavia. Sebuah takdir yang mesti ia terima tanpa banyak tanda tanya.

Tapi… bukan takdir ini yang disesalinya. Terlepas dari semua opini miring dari orang-orang di sekitarnya. Ada sesuatu yang hanya bisa dirasakan hati kecilnya. Ia haus akan kasih sayang dan belaian lembut dari ibunya. Ibu yang selama ini lebih banyak mempercayakan hari-harinya di tangan pengasuh yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.

Dan siang ini. Di dalam kamar tidurnya yang berwarna-warni dan berlatar mural Hello Kitty. Nayla bermain boneka Barbie sambil sesekali bercengkerama dengan Hani. Seorang gadis muda yang menjadi pengasuhnya selama ini.

“Mbak, apa Nay boleh tanya sesuatu?”

Hani tersenyum tipis, “Ya boleh dong, Non. Masa tanya kok ndak boleh. Memangnya Non Nayla mau tanya apa?”

“Hmmmm.... apa Mbak Hani sudah punya anak?”

Hani terkekeh, “Ya belumlah, Non. Wong mbak belum nikah. Memangnya kenapa, Non? Kok tiba-tiba nanyain hal itu?

Sejenak Nayla terdiam. Kemudian ia menyentuh punggung tangan Hani, “Hm… gak papa kok, Mbak. Oya, kalau nanti Mbak Hani sudah menikah dan punya anak, apa Mbak akan tetap bekerja di sini?”

“Ya ndaklah, Non,” tegas Hani. “Mbak akan berhenti bekerja. Jadi, Mbak bisa lebih fokus mengurus suami dan anak Mbak nanti.”

“Oh…” Riak muka Nayla berubah. Ia menundukkan kepalanya dan terlihat sedih, “Seandainya aku jadi anak Mbak Hani pasti aku tidak akan pernah merasa kesepian seperti ini.”

Hani terperangah begitu mendengar celotehan Nayla. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa bersalah. Sangat bersalah. Sehingga lekas dipeluknya tubuh mungil itu dengan sepasang mata yang sudah basah.

*****

Tidak seperti biasanya. Akhir-akhir ini kantor KPAN selalu disesaki peliput berita. Ini terjadi bukan karena kebetulan semata. Selalu ada panas dari asap tebal yang mengepul di udara. Dan semua ini terjadi sebab kasus pelecehan seksual yang terjadi di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Beberapa murid TK di sekolah itu menjadi korban homo-pedofilia[3] yang dilakukan oleh petugas kebersihan yang bekerja di sana.

Laksana efek Domino, terkuaknya kasus itu telah membuat kasus-kasus serupa mencuat ke permukaan. Sebuah ledakan telah membuat TNT lain meledak dalam satu rangkaian. Sungguh di luar perkiraan. Rupa-rupanya Indonesia tidak hanya menjadi surga bagi para wisatawan, tapi juga Nirvana tempat para pedofil bebas berkeliaran. Ironis memang. Tapi, inilah fakta yang tidak bisa terbantahkan. Negeri ini telah menjadi sarang para penyamun keperawanan dan keperjakaan bocah-bocah tak berdosa. Dan sebagian di antara mereka masih bebas berkeliaran, sebab anak-anak yang menjadi korban memilih untuk diam dan bungkam. Mereka diam sebab terancam, mereka terlalu takut sebab selalu dituntut untuk menurut.

Semua kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi akhir-akhir ini telah membuat Korps Kepolisian dan KPAN cukup kewalahan dalam menanganinya. Mereka harus bekerja lebih keras dari biasanya. Sebab kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di seluruh penjuru Nusantara. Mereka terpaksa berbagi tugas dan tenaga di tengah minimnya sarana dan prasarana yang tersedia. Hal ini tentu saja membuat Adnan Sinaga –Ketua KPAN– pusing tak terkira.

Adnan menatap kosong tumpukan laporan yang teronggok di meja kerjanya. Dari ribuan kasus yang diterima lembaganya sampai kuartal kedua tahun ini, baru empat puluh persen yang bisa mereka tangani. Dan kurang dari dua puluh persen di antaranya yang sudah terselesaikan dengan baik. Minimnya kuantitas SDM, kurangnya partisipasi masyarakat dan lambannya proses penegakan hukum membuat banyak kasus masih terkatung-katung menunggu kejelasan dan penyelesaian.

Di atas selembar kertas HVS, Adnan memainkan beberapa helai ubannya yang berjatuhan. Memikirkan masalah pekerjaan dan kesendirian. Ia sudah cukup tua, tapi belum juga memiliki pasangan. Dan semua itu terjadi karena seseorang. Seseorang yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Ia kemudian menekan tombol interkom[4]nya. Butuh waktu beberapa saat hingga panggilan itu mendapat respon dan jawaban

“Halo, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” kata Deasy –Sekretaris Adnan- dari ujung saluran.

“Apa Zenit sudah tiba?”

Deasy melihat jam di dinding, “Seharusnya sudah.”

“Seharusnya?” tanya Adnan intonatif. “Apa tidak ada di antara kalian yang menjemputnya di bandara?”

“Tadinya Mas Paimin yang mau berangkat menjemputnya. Tapi, kata Bu Zenith tidak usah. Sebab sudah ada orang lain yang menjemputnya.”

‘Albern’ pikir Adnan. “Suruh dia ke ruanganku begitu dia sampai.”

“Baik, Pak. Ada yang lain?”

“Hanya itu.” tukas Adnan sambil menutup sambungan interkom.

Adnan menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dipijatnya pangkal hidungnya pelan-pelan. Ia kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Zenith. Dan sejak saat itu, tidak pernah sedikit pun ia berhasil mengalihkan bayang-bayang wanita itu dari benaknya. Bahkan setelah Zenith menikah dan bercerai beberapa tahun sesudahnya. Zenith adalah misteri yang belum terpecahkan, sebuah kotak pandora yang belum ditemukan kata sandinya.

Entah mau sampai kapan Adnan menunggu. Zenith adalah alasan kenapa ia masih melajang meski usianya sudah melampaui empat dasa warsa. Ia terlalu takut untuk mengungkapkan seluruh perasaannya. Ia takut hal itu akan membuat Zenith pergi menjauh. Bukan hanya dari dirnya, tapi juga lembaga yang dipimpinnya. Sebab ia sadar. Bukan hanya ia yang membutuhkan Zenith, tapi juga lembaga ini. Dan juga anak-anak di seluruh penjuru negeri.

Read previous post:  
38
points
(908 words) posted by AV Hrisikesa 6 years 27 weeks ago
63.3333
Tags: Cerita | Cerita Pendek | filsafat
Read next post:  
Writer rian
rian at Chapter I-III (6 years 23 weeks ago)
60

Abang, ini saya enggak kuat bacanya sampai habis. Telling abis, huhuuu. Ciri-ciri tokohnya itu lho, Abang, kayak dikasih tau gitu aja: Zenith pinter, cantik, berdedikasi, blablabla. Nayla buta tapi tetep optimis. Adnan idealis. Dst.

Dan pembukaan filosofis-eksistensialis-blablabla-apalah itu apakah perlu? Memangnya pembaca enggak bisa, ya, nangkep pesannya Abang kalau enggak disampaikan segamblang itu? Kayaknya pembaca enggak sebego itu deh, Bang:(

Terus juga footnote-nya. Heran kenapa ada kata-kata yang relatif umum dikenal orang kayak suma cum laude, pedofilia, interkom, real estate, developer, jetlag, nongol juga di situ. Pembaca enggak bego kali. Terus juga kata ekuilibrium kenapa enggak diganti sama titik seimbang aja sekalian? Enggak tepat sepenuhnya sih, tapi kan secara konteks memadai.

Kecuali kalau emang pingin menuh-menuhin footnote gitu aja, biar kesannya cerdas gitu.

Sekian, ya, Abang. Maaf kalau komentar saya enggak berkenan.

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at Chapter I-III (6 years 22 weeks ago)

Karena tidak semua orang secerdas kamu dan sebodoh saya, makanya footnote itu saya tambahkan.
Kedua, ada banyak tokoh yang terlibat. Dan yang kamu sampaikan itu hanya gambaran umum, sementara karakter spesifiknya bisa ditelaah melalui dialog dan adegan yang ada.
Ketiga, banyak orang cerdas dan pura-pura cerdas, tapi hanya sedikit yang benar-benar mengerti. Apanya yang gamblang? Semua itu penuh dengan kiasan. Dan seandainya kamu mengerti, maka kamu akan berpikir apa yang sebenarnya ingin saya utarakan.
Sekian tanggapan dari saya. Saya memang seorang penulis pemula yang sedang belajar merangkai kata dengan baik dan benar.
Terima kasih untuk ulasannya.
Salam.
:)
Ini hanyalah nukilan, dan inti dari kisah ini juga tidak tersampaikan di sini.

Writer rian
rian at Chapter I-III (6 years 22 weeks ago)

Poin satu (atau yang dirimu enggak kasih nomor): Sekalian aja taruh glosarium atuh, Bang, huhuu. Dan kenapa presentasinya Albern enggak diterjemahin ke bahasa Indonesia sekalian? Jadi dirimu berasumsi kalau pembaca enggak tau apa itu interkom tapi bisa mengerti bahasa inggris? Atau mungkin dirimu menganggap presentasinya Albern enggak begitu penting sehingga pembaca enggak perlu mengerti apa yang dia presentasikan? Potong aja sekalian presentasinya.

Kedua: kalau memang bisa ditelaah lewat dialog, kenapa disampaikan lagi lewat narasi?

Ketiga: Saya bilang gamblang sebab di pembukaanmu ada kata "sederhana". Gamblang = mudah dimengerti = sederhana? Jadi ini enggak gamblang dan berkiasan tapi di sisi lain juga sederhana?

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at Chapter I-III (6 years 22 weeks ago)

Oke, saya perjelas di sini. Sebenarnya ini adalah novel yang sudah selesai dengan tebal 367 halaman, mulanya 510 halaman. Tapi penerbit meminta saya untuk meringkas jumlah halamannya. So, I did it.

Kenapa tidak dibuat deskripsi setiap karakter lewat dialog?
Dalam cerita ini ada lebih dari 50 tokoh yang terlibat, itu belum termasuk tokoh-tokoh yang hanya sekedar lewat.
Karena itu saya beri gambaran awal dari setiap tokoh untuk mempermudah pembaca untuk memahami karakternya. Dan ini termasuk alasan peringkasan halaman di poin pertama.

Dan kenapa penerbit meminta saya untuk meringkasnya? Karena saya masih bau kencur dan belum punya nama.

Saya tidak ingin membandingkan tulisan saya dengan siapapun, tapi kamu bisa baca buku-buku tebal yang melibatkan banyak tokoh di dalamnya. Dalam hal ini kamu bisa baca war and peace-nya Tolstoy, karena dalam bidang ini saya masih berkiblat padanya. Atau kalau tidak, seandainya kamu pernah membaca karya-karya Tolkien, kamu mungkin akan bisa sedikit mengerti.
:)

Tapi terus terang saja, dalam ini novel saya juga masih di meja redaksi. Jika memang tidak layak, pasti akan ditolak nanti.

Writer Zarra14
Zarra14 at Chapter I-III (6 years 23 weeks ago)
100

Halo, Kak AV :P
Mau komentar sedikit ya.

Pertama, dari segi judul, kurang jelas kalau cuma ditulis Bab I-III, kenapa tidak sekalian ditulis judul novelnya?

Dari segi penulisan, saya perhatikan ada beberapa dialog yang tanda komanya malah tertulis tanda titik, misalnya
“Hanya itu.” tukas Adnan,
seharusnya "Hanya itu," tukas Adnan.
Masih ada typo-nya juga, kak, coba dicek lagi.

Gaya bahasa... Kak AV sering menggunakan kata sambung di awal kalimat, terutama kata 'Dan'. Mungkin itu sah-sah saja, tapi menurut saya itu kurang efektif dan saya temukan pola itu terlalu repetitif di setiap bab. Kurang nyaman dibaca bagi saya.

Dari segi cerita, saya takjub. Topik yang diangkat bagus, mengajak pembaca secara tidak langsung ikut 'aware' dengan fenomena pedofilia dan kasus pelecehan anak. Konflik ironis si tokoh utama juga disampaikan dengan jelas. Lalu, baru bab-bab awal, sudah cukup banyak tokoh yang terlibat (biasanya bab awal itu hanya berpusat pada tokoh utama dan beberapa orang terdekat). Sehingga saya mendapat kesan bahwa cakupan cerita ini akan menjadi luas, dan itu menjadi sisi menariknya.
Selebihnya, saya masih baca bab-bab lanjutannya.

Terus semangat nulis, kak :)

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at Chapter I-III (6 years 23 weeks ago)

Oke. Disunting sekalian, ya.
Tuntaskan sampai bab 39. :)
Semoga saja ada kabar bagus dari Esensi di bulan Ramadhan ini.
Hehe.

Dan mengenai judul, hm... Biar begitu sajalah. Ini kan hanya nukilan.