.

.

Read previous post:  
16
points
(6179 words) posted by AV Hrisikesa 7 years 1 week ago
53.3333
Tags: Cerita | Novel | sastra
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Saekkiya
Saekkiya at . (7 years 4 days ago)
80

Singkat tapi bermakna. Demi apapun, aku suka. Salam kenal. :)

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 4 days ago)

Oke. Salam kenal juga.

Writer rian
rian at . (7 years 5 days ago)
40

Huhuu, ini kayak ceramah jadinya. Tinggal ditambah hadis aja lagi:(

Salam kenal.

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 4 days ago)

Okay, salam kenal juga.
Saya dapat poinnya.
Permasalahan dari setiap ulasanmu adalah topik cerita. Saya tidak bisa mengatakan itu tidak objektif. Setiap orang punya hak untuk mengutarakan pendapatnya, juga dari perspektif yang berbeda pula tentunya.
Ungkapan tentang hadist itu adalah petunjuk jika kamu membaca cerita saya sebelumnya, meski kamu tidak meninggalkan jejak.
Jika kamu tidak suka filsafat ataupun kebaikan dalam agama, maka tinggalkan saja. Setidaknya itu membuatmu tidak terlalu terlihat sentimentil pada agama.
Perlu diketahui, sampai kapanpun tulisan-tulisan saya tidak akan pernah jauh dari ajaran filsafat dan agama.
Sebab saya diciptakan untuk beragama dan hidup dengan sebaik-baiknya dalam petunjuk-petunjuk-Nya.

Salam

AV Hrisikesa :)

Writer rian
rian at . (7 years 4 days ago)

Bukan masalah hadisnya, Bang. Buat saya masalahnya tuh pesan/pemikiran/pendapat yang disampaikan gamblang, jadi kesannya kayak ceramah. Kan tagarnya cerita. Cerita kan punya konflik, alur, penokohan, eksposisi, klimaks, dst. Bukannya idealnya pesan/pemikiran itu disampaikan tersirat, ya?

Gitu sih kenapa saya nganggap cerita ini kayak ceramah. Kalimat tentang hadis itu cuma sarkasme kali. Karena cerita ini menurut saya kayak ceramah, tinggal ditambah hadis aja biar makin total. Begitu, Abang. No offense tentang agama dan hadis.
Peace:D

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 4 days ago)

Oke, silakan dibaca lagi. Maka kamu akan tahu apa yang tersirat di dalamnya. Konflik dan klimaksnya terlihat samar, karena konflik dan klimaksnya justru terjadi saat pembaca selesai membaca cerita singkat itu.

Kalau kamu tahu dan menangkap inti dari cerita tersebut, maka kamu akan mengerti. Tapi, jika kamu tidak menemukan sesuatu yang menurut kamu gamblang itu, maka kamu bisa membaca tulisan lain yang lebih ringan temanya.

Oya, kalau boleh tahu menurut kamu yang dimaksud cerita itu yang seperti apa?

Writer rian
rian at . (7 years 4 days ago)

Yang saya tangkap, cerita ini intinya menyampaikan pemikiran Abang bahwa susah memercayai sejarah. Sejarah itu, menurut Abang, enggak sepenuhnya benar, soalnya pasti ada campur tangan dari salah satu/kedua belah pihak: pihak yang mendominasi sama yang didominasi. Alhasil Kebenaran/Sejarah/apalah istilahnya itu enggak patut dipercayai kecuali kita melihat sendiri kejadiannya. Satu-satunya cara untuk membuktikan ya kembali ke masa lalu, pakai mesin waktu, kayak yang dibilang sama orang di cerita ini.

Cerita itu menurut saya mesti punya konflik, event/kejadian yang bikin hidup tokoh dalam cerita itu berkesan. Gitu sih menurut saya.

Apa, ya, maksudnya, konflik dan klimaks saat pembaca selesai membaca cerita?

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 4 days ago)

Kamu hampir menemukannya.
Baiklah, langsung saya perjelas saja.
Tidak semua cerita harus menghadirkan konflik antar pemerannya. Ada kalanya konflik terjadi karena pergumulan batin tokoh tertentu dengan dirinya sendiri. Dan ada pula konflik di dapat begitu pembaca selesai membaca cerita tersebut, karena penulis menempatkan pembaca sebagai salah satu tokoh yang tak terlihat. Dalam hal ini konflik dan klimaks terjadi ketika pembaca bisa menangkap maksud tersirat dari si penulis dan ikut berpikir tentang pesan tersembunyi yang bahkan oleh si penulis tidak bisa dijelaskan secara pasti kebenarannya.
Dan untuk cerita saya ini masuk dalam kategori dan ketiga. Untuk lebih mengerti lagi maksud saya, silakan kamu baca karya-karya Hemingway karena ia sering mengangkat konten yang serupa dalam karya-karyanya.
Lebih banyak membaca, lebih banyak referensi. Dan imajinasi pun akan semakin berkembang, sebab terkadang kita mendapati kalau apa yang sudah kita tulis 'ternyata' sudah pernah ditulis oleh orang lain di masa lalu. Meski tidak sama, tema dan alur yang persis membuat cerita tampak sama. Dan itulah sulitnya menjadi penulis yang mau total dengan tulisan-tulisannya, ia mesti membuat sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda meski dengan genre yang masih sama.

Salam

Writer rian
rian at . (7 years 4 days ago)

Iya, saya juga tau Hemingway, Abang, tapi kalau Hemingway kan menyampaikan maksudnya lewat simbol, alegori, blablabla. Memangnya apa simbol dalam cerita ini? Apa 'pesan tersembunyi' yang nyaris saya dapatkan itu? Dan jangan bilang "bahkan penulis enggak bisa menjelaskan secara pasti kebenarannya".

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 4 days ago)

Memangnya apa simbol dalam cerita ini?
Pahami dulu apa itu simbol.
Apa 'pesan tersembunyi' yang nyaris saya dapatkan itu?
Efeknya pada setiap orang berbeda-beda, karena tafsir setiap orang usai membaca tulisan jenis ini tergantung dari POV dan situasi dirinya saat membacanya.
Dan jangan bilang "bahkan penulis enggak bisa menjelaskan secara pasti kebenarannya".
Penulis yang baik lebih banyak menyampaikan segala sesuatunya secara samar, karena ia tidak mau memaksakan ideologinya. Sebab ia berusaha merasuki pikiran setiap orang secara perlahan. Meski pada akhirnya beberapa orang-orang yang mulai mengerti akan memberikan pertentangan. Itu adalah pesan yang disampaikan oleh salah seorang dosen saya, ucapan itu dia dengar langsung dari Pramoedya saat bertemu beliau di awal tahun 2000an. Dan ini bukan hadist, meskipun memiliki konten yang serupa, sebab mbah Pram bukan Rasul meski dia banyak menyampaikan kebenaran. :)

Dan satu hal lagi, saya sedikit melewatkan yang ini, "Iya, saya juga tau Hemingway, Abang, tapi kalau Hemingway kan menyampaikan maksudnya lewat simbol, alegori, blablabla."

Kalau kamu mengerti simbol, alegori dan bla bla bla. Saya yakin kamu tidak akan menggunakan gambar katak sebagai ava kamu, meski kamu menyukai binatang itu. Karena dalam konteks sastrawi, dari seratus persen majas, bahasa simbol, peribahasa dan bla bla bla yang menyangkutpautkan katak di dalamnya, hanya kurang dari satu persen -atau bahkan mungkin kurang- yang memiliki makna yang baik. Maka, kalau boleh saya sarankan, sebaiknya kamu ganti ava itu. Ya, hanya sekedar saran saja.

Writer rian
rian at . (7 years 4 days ago)

Tuh, kan, Abang aja bilang penilaian orang berbeda-beda. Saya pernah baca sih tentang cerita-cerita yang multi-interpretable, semakin banyak interpretasi makin bagus. Tapi itu kan butuh latihan bertahun-tahun, saya ragu tulisan macam gitu bisa ada di Kekom, di tulisan siapapun (kecuali Abang sebenernya udah ubanan). Berarti ketika saya bilang cerita ini kayak ceramah, datar, konfliknya enggak ada, enggak nendang, saya juga bener dong, kan itu hasil penilaian saya. Tapi Abang terus bilang konflik cerita ini samar, dan saya mungkin enggak paham, seakan-akan ini udah selevel sama Hemingway atau Munro gitu. Jadi saya yang enggak paham atau penafsiran orang berbeda-beda? Kan ceritanya saya di sini memberi kritik, Abang. Buat apa posting di Kekom, kalau yang Abang tengok cuma yang bilang tulisan Abang bagus?

Oke, entar avanya saya ganti jadi armadillo aja, ya, Bang:D

Dan sekiranya Abang suka yang "samar", barangkali bakal menikmati cerpen yang ditulis sama Dayeuh ini (http://www.kemudian.com/node/277695). Pingin tau komentarnya Abang apaan (saya bukan promosi, saya beneran pingin liat pendapat orang lain tentang ceritany si Dayeuh itu). Menurut saya gitu sih idealnya sebuah cerita yang pingin menyampaikan pesan moral lewat cara yang halus, melalui tindakan tokoh-tokohnya, bukan sekadar lewat dialognya.

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 4 days ago)

:-)

Fewh, dulu saya juga bilang ayat-ayat cinta itu tidak menarik. Waktu itu saya masih SMP. Dan saya bukan Hemingway, saya hanya sedikit berkiblat kepadanya. Dan saya juga tidak bilang ini selevel atau di atas atau di bawahnya. Silakan baca komentar saya sebelumnya kalau saya tidak suka/mau dibandingkan dengan siapapun. Masa iya sih saya harus memperjelas bagian ini lagi? Fewh.

Dan mengenai tulisan Mbak Dayeuh, saya sudah lebih paham meskipun saya masih tergolong baru di sini. Jadi, kalau mau membuat perbandingan, kamu memakai cara yang salah. Saya tahu kamu berusaha mencari sela, tapi tidak apa-apalah. Cara berdebat semacam itu pernah saya pakai waktu SMA. Dan peace untuk mbak Dayeuh serta ... yang ada di sana. Maaf kalau sedikit melibatkan kalian.

Oke, segitu saja dulu. Tapi, kalau masih mau ada yang dilanjutkan, ya monggo-monggo saja.

*Sebaiknya kamu meneliti setiap komentar yang diberikan di posting saya dan bagaimana cara saya menanggapinya, sekedar untuk meluruskan persepsi kamu yang kurang tepat.

Writer rian
rian at . (7 years 4 days ago)

Kok suudzan sih, Bang, yang nyari sela siapa...

Beneran pingin liat pendapatnya Abang di ceritanya dia aja:D

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 4 days ago)

:)
Saya tidak berburuk sangka. Tapi, taulah saya arah tujuannya ke mana. Jadi, kamu cuma mau saya kasih komentar? Hanya itu? Khusus ke dia atau yang lain juga?
Kenapa harus mbak Dayeuh? Apa karena kamu tahu saya pernah memuji tulisannya? Hm?

Writer rian
rian at . (7 years 3 days ago)

Enggak harus ke Mbak Dayeuh juga. Soalnya saya sempat mikir gini sebelumnya: Abang AV itu rasa-rasanya lancar banget nanggapin komentar di tulisannya sendiri, sampai-sampai ngasih petuah segala, tapi kok jarang kasih komentar ke tulisan orang lain ya? Kan secara Abang "berkiblat pada Hemingway" dan pernah baca Tolstoy, masa enggak punya kapasitas apresiasi sih? Di ceritanya Smoker ini (http://www.kemudian.com/node/277256), Abang komentar apa coba? "Deskripsi karakter. :-)", ha, padahal ceritanya kan lumayan "berisi", enggak sekadar teenlit-teenlit GJ. Responnya si Bang Smoker gokil, seenggaknya, jadinya saya terhibur, hehe:D

Jadi, ya, pingin liat opini Abang soal tulisannya Mbak Dayeuh itu. Apa yang bisa Abang tanggapi, gimana caranya Abang mengapresiasi, siapa tau ada ilmu baru yang saya dapat toh?

Dan satu lagi, Abang, mohon maaf banyak nanya. Abang kan bilang "Efeknya (tulisan) pada setiap orang berbeda-beda, karena tafsir setiap orang usai membaca tulisan jenis ini tergantung dari POV dan situasi dirinya saat membacanya". Lantas dari mana Abang bisa menyimpulkan bahwa saya belum "menangkap inti dari cerita tersebut", yang menurut Abang akan membuat saya "mengerti", dan Abang lantas meminta saya "membaca tulisan lain yang lebih ringan temanya" apabila "Efeknya (tulisan) pada setiap orang berbeda-beda"? Memangnya cerita Abang seberat apa? (menganggap cerita sendiri berat, Bang?)Kalau "Efeknya pada setiap orang berbeda-beda" kenapa komentar saya keliru, kenapa saya dianggap enggak "menangkap inti dari cerita tersebut"? Bukannya kalau "berbeda-beda" berarti intinya bagi setiap orang enggak sama juga, berarti enggak tepat disebut keliru? Atau jangan-jangan Abang berharap setiap orang yang selesai membaca tulisan Abang merasa 'tercerahkan', lantas 'tercenung' sejenak mengkontemplasikan kehidupan? Sounds pretentious to me. Apa Abang berharap semua orang bakal bilang, "Wow, orang ini brilian! Gagasan di cerita ini belum pernah ada yang memikirkan sebelumnya!"? Lantas ketika ada orang yang enggak terkesan, merasa ceritamu menggurui/preachy/ceramah maka orang itu enggak "menangkap inti dari cerita tersebut" dan sebaiknya "membaca tulisan lain yang lebih ringan temanya"? Begitukah, Abang?

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 4 days ago)

Dan saya punya satu pesan buat kamu. Seorang penulis memang harus merasa lebih, tapi jangan pernah merasa lebih dari siapapun.
Setiap orang punya kekurangan, dan itu pasti. Namun sebelum kita menguak kekurangan orang tersebut, kita semestinya sadari dulu apakah kekurangan orang lain itu benar-benar kita kuasai kebenarannya atau tidak. Karena ketika kita menyerang tanpa pertahanan yang kuat, kita akan mudah dikalahkan oleh lawan kita.
Well, saya tunggu untuk perdebatan maupun diskusi lainnya. Jangan anggap debat sebagai bahan perselisihan, melainkan sebagai cara untuk menambah wawasan.

Salam

:)

Writer Xeinth
Xeinth at . (7 years 6 days ago)
90

Ceritanya bagus. Saya sangat setuju dengan pemikiran mengenai mesin waktu. Karena jika kita dapat kembali ke masa lalu, kita dapat mengetahui kebenaran bahkan rahasia-rahasia dunia yang belum terungkapkan. Terus berkarya !

Writer Zarra14
Zarra14 at . (7 years 6 days ago)
100

Cuma ingin menimpali.
Bila kebenaran itu relatif, bila dia tidak memihak, bila dia mustahil untuk diwujudkan, mengapa orang-orang masih mencarinya?

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 6 days ago)

Dan apakah mereka menemukannya? Apakah mereka menemukan kesepakatan yang sama -tanpa seorangpun yang merasa dikecewakan karenanya?

Writer Zarra14
Zarra14 at . (7 years 6 days ago)

Karena itulah, tidak ada yang namanya kebenaran, yang ada hanya pembenaran yang mereka karang sebagai landasan tindakan mereka.

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at . (7 years 6 days ago)

Kamu baru saja bertanya untuk sesuatu yang sudah kamu tahu jawabannya. :)

Writer Zarra14
Zarra14 at . (7 years 6 days ago)

Itu pendapat saya aja, barangkali kamu berpendapat lain :)

Writer Nine
Nine at . (7 years 6 days ago)
100

Cerpen ini menurutku tidak ada konflik, namun percakapannya enak diikuti. Walaupun sy belum membaca cerita sebelumnya.
Sekian dari saya, mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan,
Salam olahraga (y)