Cara Berkomentar yang Baik 2 (Ending)

Aku pernah mendengar, bahwa kecantikan sesungguhnya dari perempuan itu terlihat saat baru bangun tidur, dengan rambut kusut, kulit polos yang kadang ada bekas lipatan bantal, dan mata yang terbuka pelan-pelan, yang kemudian diakhiri dengan senyuman malu-malu yang menawan.

Namun aku tidak pernah percaya pada sesuatu yang belum pernah kulihat sendiri, terutama aku tidak pernah melihat hal itu pada kakakku. Ia memang manis saat tidur, tapi ketika matanya terbuka, meski pelan dan malu-malu, ada nuansa horor dari sinar matanya yang mengancam. Tak ada lagi kecantikan, kecuali kebengisan. Namun hari itu, di pagi ketika aku berbincang dengan Bibi Elma, aku percaya bahwa perempuan memang paling cantik saat baru bangun tidur.

Ini berawal dari cerpen yang belum tuntas yang ditulis diriku dan kakak perempuanku, yang kemudian kukatakan pada Bibi Elma, dan ia kemudian bertanya apakah aku pernah mengkritik sebuah karya sebelumnya? Dan ketika aku menggeleng pelan, ia mengajakku untuk berbincang di teras samping rumahnya.

Di temani teh dan biskuit rasa kacang, Bibi Elma menerangkan bahwa ia bisa bercerita panjang lebar tentang tanaman hias, nama-nama bunganya, dan bagaimana merawat mereka. Lalu ia kembali bertanya, apakah aku bisa bercerita panjang lebar seperti dirinya? Aku jawab itu tidak mungkin, karena aku hanya tahu sedikit saja tentang tanaman hias.

"Begitupun kalau kau hendak menulis sesuatu. Kau akan kesulitan untuk menulis apa yang tidak kau ketahui, seperti yang kau ceritakan sebelumnya. Kakakmu mungkin pernah memberi kritik pada sebuah karya, atau ia pernah punya pengalaman dikritik dan ia tahu betul bagaimana hal itu berjalan. Tapi ketika kakakmu tidak ada, kau yang tidak tahu apapun tentang kritik karya, tidak bisa melanjutkan apa yang telah ditulis kakakmu."

Kata-kata Bibi Elma membuatku sadar akan satu hal, yang telah kusadari secara samar selama ini, bahwa aku hanya alat bagi kakakku. Aku hanya sebatang pena—alat—di atas kertas, yang bisa bergerak dan menuliskan secara sempurna kata-kata yang diucapkan kakakku. Meski sudah merasa seperti itu, tapi menyadari secara keseluruhan kebenaran tersebut, tetap membuatku merasa kesal.

Aku teringat pada waktu sekolah dulu, ketika aku menuliskan surat cinta temanku. Ia berkata, tulisan tanganku sangat bagus dan itu bisa menambah persentase keberhasilan cintanya. Dan ia, dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya menyuarakan kata-kata yang harus aku tulis.

Aku masih ingat benar kata-kata cintanya yang begitu konyol. Aku bukannya tidak mengatakan apapun saat itu. Aku sudah berusaha mengatakan padanya apa yang kupikirkan tentang kata-kata konyol yang ia ucapkan, tapi ia tidak mau merubah kata-katanya, dan ia mengirimkan surat itu dengan terlebih dahulu menyemprotkan parfum di atasnya.

Dan hasilnya, membuat reputasiku sedikit ternoda di sekolah. Gadis yang ia suka adalah Shila, murid yang mempunyai lidah paling tajam di sekolah, dan berada di peringkat ke 5 dalam rangking sekolah. Gadis yang mempunyai tahi lalat kecil di sudut bibirnya itu menampilan surat yang kutulis di mading sekolah, yang memiliki pengaman kaca sehingga tidak bisa diambil begitu saja, kecuali punya kunci atau memecahkan kaca pengaman tersebut. Dan ia menuliskan judul "Surat Pria Konyol yang Kesepian" dan di bawahnya ia menambahkan: Jika kau punya waktu luang, gunakanlah untuk belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan untuk merayu gadis dengan kata-kata yang kaupungut dari tong sampah!

Aku tidak mau mengingat kejadian selanjutnya, terlalu menyakitkan. Mungkin lain waktu.

Dan setelah meminum tehku, aku bertanya pada Bibi Elma. "Menurut Bibi, kritik karya yang baik itu seperti apa?"

"Aku lebih suka menyebutnya dengan apresiasi daripada kritik, karena lebih mengesankan pada penghargaan karya seni daripada mencari kesalahan atas karya itu. Apakah kau pernah mengulas secara detail suatu hal?"

Pertanyaan itu membuatku teringat pada hobiku yang suka mengulas berbagai game, baik keluaran terbaru atau sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Aku bahkan mendapatkan uang jajan dari hal itu. Setelah aku katakan itu pada Bibi Elma, ia tersenyum kecil, lalu menyesap tehnya sebelum kembali bertanya.

"Apa dalam ulasanmu ada game yang seratus persen buruk, atau ada yang seratus persen bagus?"

Aku berpikir sebentar sebelum menjawab tidak ada. "Ada sebuah game yang buruk, tapi ada sesuatu di dalamnya yang bagus. Ada pula yang benar-benar bagus, tapi ada satu bagian yang tidak dikerjakan dengan baik."

"Dalam hal ini, apakah ulasanmu dapat dibenarkan?"

"Maksud Bibi?"

"Apakah kau berhak untuk mengulas game-game itu sementara dirimu tidak pernah membuatnya, atau bahkan tidak bisa membuatnya?"

Pertanyaan itu menghantam telak, tapi mata Bibi Elma menyiratkan sebuah kasih sayang yang selalu kulihat pada ibuku, ketika ia bertanya apakah kenakalanku di sekolah dapat ia terima atau tidak. Pertanyaan yang tidak diniatkan untuk menyudutkan, tapi mendorongku untuk memahami sesuatu dengan usahaku sendiri. Sesuatu yang tidak akan pernah aku lupakan selamanya. Maka aku berkata bahwa apa yang kulakukan adalah hakku sebagai konsumen, juga manusia yang berhak memberi pendapat.

"Kau benar, dengan adanya ulasanmu, perusahaan game yang kauulas akan memperbaiki bagian yang kau anggap buruk, dan kembali dengan sebuah game yang lebih bagus. Dampaknya, mereka akan mendapatkan keuntungan lebih, dan kau mendapatkan game yang sangat bagus. Dengan kata lain, kalian sama-sama diuntungkan. Hal itu tidak berbeda jauh dengan karya seni, dalam hal ini penulisan, meski lebih kompleks karena menyangkut sudut pandang dari masing-masing individu."

"Sudut pandang masing-masing individu?"

"Iya. Apakah kau suka lukisan?"

"Tidak terlalu suka."

"Seandainya kau mau membeli lukisan dan ada seseorang bernama A yang tahu betul tentang lukisan serta B yang pengetahuannya biasa saja, siapa yang lebih kau percaya ucapannya."

"Tentu saja A."

"Kalau A tidak pernah melukis sama sekali, sementara B lukisannya sudah masuk beberapa galeri dan terjual cukup mahal?"

Kali ini, aku tidak bisa langsung menjawabnya. Karena aku cukup mengetahui tentang game, maka aku tukar perbandingan pengetahuan A dan B itu dalam kepalaku.

Aku hendak membeli sebuah game RPG, tapi aku hanya bisa membeli satu, dan ada A yang sering mengulas tentang Game dan tahu betul game-gema RPG, sementara itu ada B yang sering membuat Game RPG tapi ulasannya tidak cukup meyakinkan. Maka, orang mana yang ucapannya lebih kupercaya?

"A, karena pengetahuannya tentang lukisan lebih baik daripada B. Aku akan membeli lukisan yang baik, bukan lukisan yang disarankan oleh pelukis yang pengetahuannya sedikit."

"Itulah yang disebut sudut pandang. A yang tidak pernah melukis, belum tentu ia tidak tahu apapun tentang lukisan, bahkan ia bisa jadi adalah seorang yang sangat ahli dalam menilai sebuah lukisan. Sementara B yang sudah beberapa kali melukis, belum tentu ia ahli dalam menilai lukisan. Orang yang terjun ke dunia penulisan, cenderung memiliki kemampuan untuk menilai karya lain, tapi kemampuan berkomentarnya belum tentu selaras dengan kualitas tulisannya. Ada penulis yang karyanya biasa saja, tapi komentarnya dapat memberi gambaran jelas bagian mana yang harus diperbaiki dan dipertahankan. Ada pula penulis yang karyanya bagus, tapi kemampuan komentarnya tidak terlalu baik. Meski hal demikian tidak selalu benar adanya.

"Inilah yang disebut sudut pandang masing-masing orang, dan jika kita tambahkan C sebagai orang awam, bagaimana menurutmu mereka akan berkomentar tentang cerpen yang kau tulis?"

Aku menggeleng pelan, tidak tahu jawabannya. Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka akan berbicara.

"C mungkin bilang bagus, atau jelek. B akan bilang bagus atau jelek pula, tapi dengan menambahkan beberapa pemikirannya, sudut pandangnya, dan aturan-aturan tak tertulis yang sudah disepakati dalam dunia penulisan. Sementara A, akan mengulas lebih jauh, bahkan sampai ke akar-akarnya. Dan ketiga sudut pandang ini, hanyalah contoh dari banyaknya sudut pandang yang ada, yang serupa sidik jari di jari manusia. Dan ketika kita sudah memahami sudut padang ini, maka memberi apresiasi terhadap karya itu akan mudah. Karena kau tidak perlu terlihat ahli dan menguak semua kesalahan dan menyudutkan si pembuat karya, tidak pula hanya sekedar bilang bagus, karena kita punya sudut pandang masing-masing yang unik, dan tentu saja berbeda dari orang lain.

"Ketika penulis telah mengerti bagian ini, maka ia akan lebih mudah untuk memahami komentar-komentar yang ia dapat terhadap karya yang ia buat. Ia akan berpikir, isi komentar-komentar tersebut bukanlah doktrin yang harus selalu ia ikuti, bukan pula hal yang tidak perlu untuk diambil. Kita umpamakan menulis itu seperti berpakaian. Kita bisa memakai apa saja di dalam kamar, bahkan tidak memakai apapun kita bisa melakukannya, namun ketika kita akan keluar rumah, apakah baik jika kita tidak mengunakan apa-apa?"

"Tentu saja, itu tidak baik."

"Kalau kau memakai kaus dan celana pendek?"

"Itu cukup baik."

"Ke acara kondangan?"

"Bibi ini bercanda. Aku pasti diketawain."

"Begitu juga dengan menulis. Kau bisa menulis apapun ketika itu hanya untuk konsumsi sendiri, tapi ketika kau ingin memperlihatkannya pada publik, maka kau harus mengikuti aturan-aturan yang tertulis dan tidak tertulis.."

Aku rasa, aku sedikit memahami apa yang dikatakan Bibi Elma, tapi hal itu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dan aku rasa Bibi Elma menyadari hal tersebut.

"Aku tidak langsung menjawab pertanyaanmu, ya?"

"Aku rasa demikian, Bi." Aku mengucapkannya sambil tersenyum, tidak tahu harus mengajukan pertanyaan itu lagi, atau tidak sama sekali.

"Kalau kau sudah cukup lama berada di dunia penulisan, kau akan mengerti hal ini. Contoh, ketika aku bertanya apakah mencuri itu baik? Kau akan menjawab apa?"

"Mencuri itu tidak baik."

"Tapi orang yang suka bercerita melalui kata-kata, tidak akan menjawab demikian. Ia akan bercerita tentang seorang pencuri, dampak perbuatannya, dan bagaimana keluarganya hidup. Atau, ia akan bercerita tentang si korban yang kemudian jatuh miskin, dan tanpa diduga korban itu adalah adik si pencuri yang ia cari selama ini. Atau cerita-cerita yang lain, yang akan menjawab pertanyaan tadi secara tidak langsung, dan tanpa kejelasan lebih lanjut. Itulah kebiasaan yang cenderung melekat pada penulis, karena ia sering berhadapan dengan kertas dan pena, daripada orang lain saat melihat sesuatu yang mengundang tanda tanya.

"Ketika ia melihat seorang pencuri yang ditangkap dan bertanya pada orang lain, apakah mencuri itu baik, orang lain akan menjawab itu tidak baik. Orang-orang akan menjawab hal yang sama, dengan cara yang berbeda, karena mereka cenderung berusaha tampil sebagai orang baik, yang menaati peraturan, norma dan nilai. Tapi ketika ia sendirian dan bertanya pada dirinya sendiri, tentu jawabannya tidak sesederhana orang lain. Ia akan menjawab sejujur mungkin, karena orang lain tidak bisa melihat dan mendengar jawabannya, dan tidak ada yang memandangnya buruk jika ia berkata mencuri itu adalah hal baik. Mungkin saja si pencuri melakukan hal itu karena terpaksa, atau si korban menyuruhnya demikian untuk mendapatkan simpati lebih, dan berjanji akan membiayai sekolah si pencuri yang miskin."

Lagi, aku merasa kata-kata Bibi Elma bukanlah jawaban atas pertanyaanku, tapi aku mulai paham apa yang ia sampaikan. Bertanya pada orang lain tentang suatu hal itu "buruk" atau "baik" bukanlah hal yang bijaksana, karena mereka bisa saja berbohong untuk jawabannya, tapi ketika bertanya pada diri sendiri, akan mendapatkan jawaban yang benar-benar jujur, meski tidak secara langsung terjawab.

Ketika pemahaman itu sampai ke dalam kepalaku, ada suara yang terdengar dari dalam rumah Bibi Elma. Suara yang agak serak dan baru pertama kali kudengar.

"Bibi, pagi ini mau makan apa?"

Selanjutnya, pemilik suara itu muncul dari pintu di belakang Bibi Elma. Ia adalah seorang gadis yang masih memakai baju tidur, dengan rambut kusut dan wajah lembab, dan ia menguap. Tangan kanannya refleks menutupi mulutnya yang terbuka, sementara tangan kirinya menggaruk-garuk perutnya asal. Ia kembali bertanya pada Bibi Elma, mau makan apa pagi ini? Dan ketika ia menyadari keberadaanku, gadis itu berteriak kaget dan segera berlari ke dalam rumah: bersembunyi.

Read previous post:  
73
points
(1748 words) posted by Shin Elqi 6 years 23 weeks ago
81.1111
Tags: Cerita | Drama | kehidupan | baik | cara | komentar | kritik
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer asder
asder at Cara Berkomentar yang Baik 2 (Ending) (6 years 7 weeks ago)
80

like

Writer yummy2
yummy2 at Cara Berkomentar yang Baik 2 (Ending) (6 years 13 weeks ago)
70

Aku numpang membaca. Terima kasih.

70

Aku setuju dengan pendapat si bibi, setiap orang punya sudut pandang sendiri.

Tapi kembali ke dalam cerita ini sendiri, ini udah selesai kan kk? Aku agak bingung sama akhirnya karena kurasa percakapan di atas tidak menyelesaikan masalah di part 1, yang awalnya membuat sebuah cerita dan si tokoh utama bertanya apa yang harus dia lakukan kan kk sama bibi?

Percakapannyapun dari satu arah, jadi bisa dibilang agak membosankan.

Plusnya menurutku ada di amanat cerita ini, karena apa yang dikatakan si bibi bisa diambil faedahnya :D

huhuhuhu ceritanya membosankan

Distributor Herbalife Indonesia | Harga Produk Herbalife

Menurutku agak membosankan karena kebanyakan isinya percakapan satu arah, dr bibi elma ke aku. Namun karena isinya teori tulis menulis jadi betah deh bacanya karena bagus buat belajar^^
°
Ini sekedar pendapat C alias orang awam sih, jd boleh kok diacuhkan saja^^

100

koq gak bisa post panjang ?
karena belum di post wkwkwk kabuurr

ehhh hola kk shin, udah di post ? maaf kunjunganku di lapaknya kurang mengenakkan hihi

hhhmm aku ke sem-seman/malu malu sama yang di awal cerita itu. gimana membayangkannya yach. ehm
sangat manis di bayangkan apalagi jika melihatnya. namun aku teringat dengan kakakku. dia tidak terlalu manis juga dan sama seperti nenekku.

bagus karyanya kk shin, saya suka
banyak pelajaran yang di dapat dari cara berkomentar. rupanya bibi Elma menceritakan secara detail dan sangat panjang. sampai-sampai membahas bunga dan game RPG segala.

tapi kalo bisa memilih dari A,B atau C
aku milih C deh. aku awam dan hanya orang yang kebetulan lewat saja dengan jalan yang tidak bisa ditentukan bagaikan koin bergambar 2 yang sulit ditebak perbedaan gambarnya namun banyak banget artinya.

maaf saya gak bisa bayar pajak. saya pecinta gratisan hihihi

50

:D

baik menurut siapa?

Writer Zack
Zack at Cara Berkomentar yang Baik 2 (Ending) (6 years 15 weeks ago)
50

hmmm