Krisis di Altheon

Di Puncak Altheon, di dalam Kuil Kubah Biru, para dewa yang bersekutu sekali lagi duduk bersama di depan lingkar meja perundingan. Tempat di mana, secara teori, kedudukan mereka sama dan setara tanpa peduli seberapa luas wilayah kekuasaan mereka atau seberapa banyak manusia yang menggantungkan harapan yang dimilikinya pada mereka, meski pada realitanya, tak ada satu pun yang meragukan, bahwa Teuton::Nerthus dan Gaul::Dayus lah yang saat itu memiliki kekuatan dan pengaruh paling besar untuk menentukan jalannya perundingan. Juga tentu saja sang terdakwa: Aegea::Zeus; Yang saat ini sedang duduk gelisah di kursinya, berkeringat, sambil sesekali melonggarkan ikatan dasi dan jas biru cerah yang dikenakannya.

Semua ini tentang keajaiban, yang, sayang sekali, dalam situasi ini, sudah berada di luar kekuasaan para dewa untuk mewujudkannya.

"Kapan dan bagaimana?" tanya Nerthus dingin pada Zeus, "Kau bisa memperbaiki semua ini?"

Zeus mengangkat bahu, "Sejujurnya, aku, kami, masih belum bisa memberikan jawaban pasti untuk pertanyaan itu."

Dayus menarik napas panjang, "Mungkin perlu kuingatkan, ada sepuluh juta jiwa yang menjadi taruhan dalam persoalan ini."

Nerthus menganggukkan kepalanya, "Ini bukan tentang kita, ini tentang mereka," katanya sambil melemparkan tatapan tajam ke sudut ruangan dimana seorang pria berkulit pucat dengan setelan kelabu dan topi hijau cerah tersenyum ramah ke arah mereka.

Dan di belakang pria itu sebentuk gumpalan, bayangan, gerombolan, gelap dan suram, menatap buas ke arah para dewa tersebut dengan ratusan pasang mata mereka.

Semua ini tentang keajaiban, yang, sayang sekali, sudah sejak lama tidak benar-benar dimiliki secara eksklusif oleh para dewa.

"Kau seharusnya tidak menipu kami Zeus," desis Odin, yang duduk di samping Dayus.

"Kita tidak seharusnya berurusan dengan mereka," keluh El Cid yang sedikit banyak merasa simpati pada Zeus.

"Apa kita punya pilihan?" balas Odin. "Tanpa keajaiban, Para Jotun akan menyadari kelemahan kita dan perang besar akan terjadi."

El Cid memicingkan mata, "Seperti yang sudah diramalkan."

"Ini bukan tentang kami," Odin buru-buru membela diri, "Ini tentang jutaan manusia di benua ini yang menggantungkan harapan mereka pada kita semua."

Pria di sudut ruangan terbatuk saat mencoba menahan gelak tawanya.

Nerthus menyandarkan punggungnya ke kursi lalu memandangi lukisan peta dunia di langit-langit. Di sana tampak para Raksasa di singgasana mereka, juga dewa-dewa lain di timur dan selatan, dan bendera-bendera hitam para pahlawan yang semakin hari semakin sengit menunjukkan perlawanan mereka pada tata dunia kuno.

Kemudian, ada bercak-bercak kegelapan di mana-mana; licin, licik, liat, lihai: para wunderkin dengan tata dunia baru mereka.

Dahulu, para dewa mendapatkan keajaibannya dari kepercayaan yang diberikan oleh para manusia yang menjadi pengikut mereka. Lalu dengan keajaiban itu, para dewa menciptakan logos di wilayah kekuasaan mereka: tali yang apabila digunakan dengan bijak dapat mengikat dan menyatukan harapan yang ada di sana untuk mewujudkan hal-hal yang luar biasa, atau jika disalahgunakan bisa berubah menjadi rantai yang mengekang dan mencencang jiwa hingga muncullah tirani yang melahirkan kemuraman serta kemarahan.

Keajaiban pula lah yang membuat manusia tunduk, dengan suka ataupun berat hati, kepada para dewa.

Kecuali para para pahlawan, yang menyadari arti keajaiban yang sejati, yang dengan lantang menunjukkan penentangan dan perlawanan mereka kepada para dewa.

Maka perang pun berkobarlah. Dan bersama darah yang tertumpah, kegelapan yang dahulu sempat tercerai berai kembali menemukan wujudnya.

Ketika pertempuran akhirnya berakhir... banyak pahlawan menemui ajal mereka sementara beberapa yang berhasil membunuh dewa-dewa menjelma menjadi Raksasa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang bahkan melebihi para dewa.

Tapi itu bukan masalah besar, karena sebelum perang berakhir, para dewa telah membuat perjanjian dengan para wunderkin.

"Tiga Ratus Juta keping Niskala!"

Nerthus mengedipkan mata. Seruan Dayus menyadarkannya dari lamunannya.

Entah sejak kapan sang pria pucat telah berdiri di atas meja, di tengah-tengah mereka, masih dengan senyum sinisnya yang menyebalkan.

"Tiga ratus dua puluh juta sekian lebih tepatnya," kata sang pria lirih, "tapi kami bukanlah tidak memiliki perasaan... dan persekutuan hanya perlu melunasi sepertiganya pada akhir minggu ini."

"Tapi bukan kami yang...," protes Odin sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Zeus yang hanya bisa menundukkan kepalanya.

"Memang bukan." jawab sang pria, "Tapi salah satu anggota persekutuan yang menurut logos adalah bagian dari tanggung jawab semua anggota lainnya."

"Mungkin perlu kami ingatkan," lanjutnya sambil memandang El Cid dan Remus, "bahwa hal semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi semenjak persekutuan ini terbentuk."

Seketika terdengar gumaman pro dan kontra di antara para dewa.

Nerthus mengeluh. Jika mau ia dan dayus bisa saja dengan mudah menyiapkan tiga ratus juta keping niskala untuk menyelamatkan Zeus. Tapi itu bukannya tidak menimbulkan masalah baru.

Yang pertama tentang kepercayaan. Orang-orang Teuton tentu akan mempertanyakan mengapa ia lebih memilih menggunakan keajaiban untuk menyelamatkan manusia yang menjadi pengikut dewa lain daripada meningkatkan kesejahteraan pengikutnya sendiri.

Yang kedua tentang keteladanan. Nerthus tak sanggup membayangkan bagaimana jika masalah serupa lantas terjadi pada dewa-dewa lainnya; bagaimana jika keputusannya memaklumi kebodohan Zeus membuat dewa-dewa lain dengan enteng melakukan kebodohan yang sama. Karena para wunderkin tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk memperkokoh kuasa mereka di benua ini.

"Kami mungkin bisa menyediakan seratus juta Keping Niskala..." kata Zeus perlahan, yang sesaat membuat dewa-dewa lain menghela napas lega, "tapi tidak dalam satu minggu ini..."

"Tidak?" sang pria mengangkat alis. Ia kemudian mengerutkan keningnya dan dalam sebuah gemuruh, berbisik dengan bayang-bayang gelap yang kini telah menggantung di langit-langit. "Jadi? Dua minggu? Tiga minggu? ... Satu Bulan?"

"Paling tidak satu tahun," jawab Zeus lirih yang dengan segera diikuti gelegar derai tawa sang pria.

"Sahabatku," katanya sambil tersenyum, "harus kami akui, itu tadi lelucon yang teramat sangat menggelikan."

"Tapi begitulah kenyataannya," kata Zeus, "Dengan bakti mereka, setiap jiwa di wilayah Aegea bisa menghasilkan satu sampai dua Keping Niskala setiap bulannya."

"Ah tentu saja, tapi dengan pengorbanan, setiap jiwa bisa berubah menjadi sekitar seratus Keping Niskala," ujar Sang Pria dengan senyuman yang makin lebar.

Wajah Zeus berubah merah padam, "Kau meminta kami mengorbankan Satu Juta jiwa pengikutku!?"

"Jika itu bisa menyelamatkan sembilan juta jiwa yang lain, mengapa tidak? Bukankah kalian pernah melakukan hal yang sama dengan Atlantis dulu?"

"Kami... Aku tak bisa mengambil keputusan itu sendirian."

"Tentu saja. Karena itu kami memberi kalian waktu sepekan untuk mengambil keputusan yang terbaik menurut kalian."

Nerthus kembali menyandarkan punggungya, kali ini sambil memegangi keningnya. Berbagai skenario dimainkan di benaknya tapi tak satu pun yang berakhir bahagia.

Dayus berdehem, "Kami mengerti Rumpelstilzchen," katanya pada sang pria, "jadi tolong kalian tinggalkan kami sementara kami berdiskusi sebelum mengambil keputusan."

"Dengan senang hati," kata sang pria ceria, "Dan kapan saja kalian membutuhkan, silakan sebut namaku."

"Tunggu," seru Zeus, "sebelum kau pergi, aku ingin menanyakan... apa yang akan kalian lakukan seandainya persekutuan mengabaikan kami dan aku menolak mengorbankan pengikutku?"

Mata Rumpelstilzchen berkilat-kilat saat ia berbisik pada Zeus, "Maka kami akan mendudukkan dewa lain yang mau mendengarkan kami di tahtamu... atau kami bisa menjadi mimpi buruk bagi para pengikutmu sampai akhirnya mereka akan saling mengorbankan diri mereka sendiri tanpa campur tanganmu."

Sang pria lalu berbalik, tersenyum ceria, kemudian mengangkat topinya sambil membungkukkan badannya kepada para dewa, "Sampai jumpa lagi tuan-tuan."

***

 

Post Script:

Ditulis untuk even Cerbul (Cerita Bulanan) Kastil Fantasi Edisi Juni 2015.
Untuk cerita-cerita lain yang mungkin lebih keren, silakan cek:
https://www.goodreads.com/topic/show/12067922-lomba-cerbul-kasfan-juni-15

Terima kasih telah mampir~

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer 2rfp
2rfp at Krisis di Altheon (5 years 4 weeks ago)
30

maaf gak bisa baca sampai akhir, selain karena saya tidak mengerti perdewaan dan isitilah semaca wunderkin jadi saya kurang paham dan tidak masuk kedalam ceritanya

Writer 145
145 at Krisis di Altheon (5 years 4 weeks ago)

Bukan masalah~
Memang perlu sedikit hmm pemikiran lebih untuk membacanya.
Terima kasih sudah mampir >_<