Sejurus Sebelum Menjadi Dewasa

Perlu dua cangkir ristretto untuk membangunkan nalarku senja itu. Setelah terperenyak selama dua puluh tiga jam. Dengan bokong yang melesak di jok penumpang Greyhound Lines[1] rasanya sudah cukup sengsara. Pasalnya penerbangan terakhir menuju Denver baru saja ditutup, pun sambungan telepon Debra semenit lalu.

“Hei, Jes, di mana kau?”

Aku tahu, pada mulanya ia akan bertanya soal itu, di mana keberadaan diriku kalau-kalau aku melupakan hari bersejarah miliknya.

Dan begitulah diriku; duduk bersilang kaki di tengah kubikel, nyaris menekan tombol “hold” untuk sebuah telepon iseng. Aku perlu menelan liur sejurus, sebelum akhirnya bercakap acuh tak acuh. “JFK[2]?”

Mudah.

Well, aku tak sabar untuk melihatmu besok. Kau tahu, kami akan menggelar pesta bujang besok malam. Eliza, Carmen, kau dan aku. Bukankah itu sempurna?”

Shit. “Iya, tentu saja.” Ponselku melorot ke sisi dagu. Kekehan Deb sekejap menjadi ringisan pilu di benakku. Penerbangan terakhir baru saja terlewat lima belas jam yang lalu. Dan ya, tentu saja, aku terpaksa membawa berkas-berkas ekshibisi minggu depan ke meja pojok Everday’s Joe.

Pollock dan de Kooning. Duo hebat yang sanggup mengaduk-aduk isi kepalaku. Aku mengabaikan surel Deb, teleponnya yang kelima, pun dengan pesan suara Neil. Jelas aku melewatkan pesta bujang Deb kemarin malam dan hari kemenangannya kini berubah dari H minus menjadi hitungan mundur yang melibatkan numerik berdigit dua.

Kupikir aku takkan datang. Tapi, Deb, kakak perempuanku .... o, shit.

Jangan pikirkan itu. Aku tak punya banyak waktu, terlebih jika telepon hantu Jacobson merangsek masuk; siapa lagi kalau bukan penyeliaku yang superperfeksionis itu. Ingat, Jessica, semunya harus sempurna. Kau tahu apa yang akan dikatakan klien padaku, mereka benci pegawai yang tidak kompeten, tiga kali suara itu membahana, ia seperti baru saja mengatakannya dengan sebilah gergaji mesin yang berdesing di sisi telinga.

Tenang. Menyundut satu batang American Eagles Menthol selalu membantu. Aku mengeluarkan pemantik mekanik itu dengan cepat. Batu apinya meletup, sebelum sampul bajanya terpelecat, mengantuk permukaan linoleum.

Great. Aku baru saja menciptakan manuver yang membuat seluruh penghuni kedai menaruh perhatian ke sudut merokok di sayap kanan, tempatku duduk. Dua senti sebelum sol sepatu itu melandas; tangan asing memungut korek mekanikku di lantai.

Sneakers Chuck Taylor. “Jes?”

“Kit?” ujarku, sedikit gelagapan.

Dua kali aku mengerjap, kedua tangan kokohnya dengan lekas merengkuh lengan atasku. “Wow, aku tak percaya kau akan kemari.” Kombinasi tatapan berbinar dan tawa hangatnya.

Yeah,” aku mendengus dengan payah. “Deb akan menikah besok.”

“Terdengar hebat. Tapi, bagaimana dengan kabarmu? O ya, tidak keberatan ‘kan kalau aku duduk di sini?” Ia menarik kursi di hadapanku, duduk dengan bertumpang kaki, memperlihatkan denimnya yang sobek ala Joe Strummer.

Bahuku mengedik. “Baik. Tentu saja. Kau sudah memesan?”

“Iya, segelas machiatto seperti biasa. Dan kurasa ini milikmu.” Ia menyerahkan Bic tua itu di atas meja.

Thanks.”

“Bukankah ini terasa seperti déjà vu?” Ia meringis.

“O ya?” Alisku berjungkit.

“Hanya bedanya dulu korek itu punyaku,” ujarnya; aku terkekeh; mengangsurkan sebatang American Eagles Menthol padanya.

“Aku tak tahu kalau kau keranjingan rokok organik sekarang.” Ia mengambilnya satu. Menyundutnya dengan lekas lantas mengembalikan pemantik kuning itu padaku.

“Semacam itu.” Rokokku nampak renyuk—lantaran insiden rokek mekanik tolol barusan.

Well, bagaimana pekerjaanmu, … kurator hebat?” Ia masih mencoba mencari istilah itu di dalam diriku; kurator hebat, pacar ekstentrik, well, kurasa aku tidak terlalu ingin membahas soal frasa yang terakhir.

“Tidak terlalu hebat. Madison Square yang bising; penyelia superperfeksionis; klien galak.”

Kit terbahak, menyugar riapnya yang sengkarut. “Kurasa kau kangen rumah.”

“Mungkin saja. Tapi tidak dengan berkas-berkas pekerjaanku.”

Kit menggeser berkas-berkas itu ke hadapannya. “Pollock dan de Kooning? Dua pelukis kesukaanmu?”

Aku mengangguk. “Storefront[3] akan mengadakan ekshibisi minggu depan.”

“Berencana membeli?”

“Yang benar saja,” aku tergelak, “Aku menjaga stand untuk para klien. Semacam patroli keliling.”

“Pekerjaan yang mengagumkan,” ujarku, menyesap rokok di selipan jemari. Kit beringsut ke konter pengambilan, menyeruput machiatto di gelas karton sembari berjalan.

“Kau banyak berubah, Jes.” Ia baru saja terperenyak ketika membuka topik baru. Aku gegas menyurukkan rokokku ke asbak yang nyaris meluap. Mendengar senandung Echobelly di stereo kedai. Kit yang pertama terbahak. Ia khatam apa yang aku lakukan dulu.

“Tidak dengan mata hitamku,” kilahku, sembari mencoba menirukan lirik Great Things di bait reff; bergaya centil semenyebalkan dulu, kala bersolek di depan cermin toilet.

“Gaya keren itu masih ada padamu kok,” seru Kit. Ia terpingkal, berusaha mengeluarkan asap rokok sambil terbatuk-batuk.

“Kau juga, Kit.” Ia tersenyum, menyesap cangkir ristretto yang sudah dingin. “Masih mempertahankan Chuck Taylor itu?” Aku menendang sepatu uzurnya sebelum tatapan Kit membuatku berpikir dua kali untuk kembali memesan penerbangan pulang. Mungkin kau kangen rumah. Entah rumah mana yang kumaksud. Kondoku di Queens? Tapi kata-katanya bisa jadi benar. Aku tak ayal memikirkan rak-rak tua The Cupboard ketika dulu kami mencuri sebotol Merlot dari cellar. Berlari kesetanan sepanjang malam. Bercumbu di jok belakang Mustang ayahnya.

“Fort Collins sudah banyak berubah, Jes,” sergahnya. Aku memalingkan wajah dari jendela. Menatapnya lurus-lurus. Tangannya menyumpit puntung separuh hangus dari pinggir asbak. “Kau ingat lapangan di samping rumah orangtuaku?”

“Iya, tentu saja. Kau nyaris tertidur di sana lantaran takut terpergok Amy setelah pesta semalam suntuk.”

“Daya ingat yang bagus.” Lebih banyak tawa, hanya saja ia tak tampak seceria itu. “Mereka baru saja membangun pusat perbelanjaan di sana.”

“Sayang sekali. Kukira aku ingin mengunjungi tempat bersejarah itu lagi.”

Well,” kepalanya berjengit, “entahlah, mungkin yang bisa kau temukan di sana hanya sekadar kebisingan.”

Seperti yang kami buat malam itu? Senandung Sonic Youth dari walkman Kit, ocehan-ocehanku di pangkuannya, menatap langit bergemintang. Berandai soal masa depan ketika tahun senior nyaris berakhir hanya dalam hitungan bulan.

“Setidaknya tempat itu tidak sebising Chinatown di Manhattan.”

“Agaknya kau perlu mengajakku berkeliling jika melipir ke New York suatu hari nanti.”

“Tentu saja. Kau takkan membusuk di tempat ini ‘kan?”

“Untuk sementara waktu sepertinya aku perlu mencuri istilah itu darimu.” Deretan gigi putihnya menyembul. “Aku baru saja mendapat kontrak mengisi scoring terbaru untuk sebuah proyek independen.”

“Wow, Kit. Kau masih bermain di area avant-garde?”

“Tidak banyak yang dapat kulakukan. Aku masih menyukai Sonic Youth dan Jonny Greenwood, asal kau tahu.” Ia menjentikkan rokoknya sekali di sembiran asbak sebelum menyuguhkannya padaku. Seperti terakhir kalinya, di malam terakhir kala kami berpelukan dan aku menaiki kereta pertama menuju Denver keesokan hari.

Menjadi remaja memang payah. Dan satu ide yang tercetus di otakku kala itu, aku ingin cepat-cepat dewasa. Mengenakan blazer, mengitari satu per satu ekshibisi di Tribeca untuk mendapatkan sebuah lukisan Pollock untuk dinding kondominiumku. Tapi, tahu sendiri berapa harga satu lukisan Pollock dalam sekali lelang.

Pura-pura memajang senyum, Kit pasti diam-diam menaruh dongkol dalam hati. Aku meninggalkannya senja itu. Dan kini malah kembali dengan berkas-berkas tolol ekshibisi Pollock dan de Kooning alih-alih mendapatkan lukisannya dan membawanya di sisi meja.

“Bicara soal pernikahan Deb, apa kau tidak mengundangku untuk pernikahanmu?”

Aku nyaris tersedak kalau menyesap ristretto di dasar cangkir. Menyembunyikan kedua tanganku lekas-lekas di bawah meja seolah baru saja terpergok mengunyah camilan Hula Hoops di balik dinding kubikel.

Shit, Kit. Dia tahu rahasia terburukku. Ini ulah Neil. Aku tak benar-benar ingin menerimanya, setidaknya setelah hari bersejarah Deb. Dan aku lupa melepaskannya lantaran gelagapan memesan tiket terakhir untuk keberangkatan bus menuju Fort Collins.

“Sini!” Kit tak benar-benar serius, ia baru saja menjulurkan tangan, menarik lenganku.

“Ini benar-benar memalukan, Kit.” Aku membuang muka.

“Jadi siapa pria beruntung itu?” candanya, bertelekan siku, menopang dagu.

“Baiklah. Namanya Neil. Kami baru bertemu beberapa bulan. Dan ia memberikan benda itu dua hari yang lalu.” Manik biru Kit masih berbinar; tak sabar menelisik cincin platina itu ketika aku menyerahkannya di telapak tangan.

“Lantas, apa yang kau katakan padanya?” Ia menyesap rokok kami yang ketiga. Batang pendek nyaris menyentuh filter.

“Tidak ada. Aku tidak berkata apa-apa. Ia mengizinkan diriku menyimpan benda itu begitu saja.”

“Yang benar saja? Kali ini aku tahu, kau masih seperti dulu, Jes. Si Gadis Mata Hitam itu yang gemar bilang, terserah katamu, Kit.”

Okay, okay. Aku masih memikirkannya. Entahlah. Aku tak bermaksud bertemu Neil secepat itu.”

Kit tertunduk. Entah gagasan apa yang menyembul di balik rambut ikal kecokelatan itu. Apa ia kecewa? Kata-kata kami dulu bahkan tak sempat tersambung; sekadar terputus, dan ia menatapku dengan sebuah raut penuh ragu.

“Aku juga bertemu seseorang, Jes.”

Satu ketukan kecil dari telunjukku.

“Kate Hudgens. Kau tahu, yang berambut hitam sepinggang dulu.”

“Ah, ratu gosip itu.” Manikku jelas menyalang, tapi dadaku bergemuruh.

Kit mendengus geli. “Ia tidak secerewet itu sekarang. Kami sudah bersama untuk tahun kedua.”

Kurasa, aku terlalu banyak melewatkan hal di Fort Collins. Malam bujang Deb, pertemuan Kit dengan Kate, lantas apa lagi?

“Kau masih sahabatku ‘kan, Jes?” Aku benci tatapan teduh itu; sepertinya ada yang tidak beres.

“Tentu saja.” Aku terkekeh sok bahagia. Pengendalian situasibenar, hal itu yang paling kubutuhkan saat ini.

“Aku tahu, ini terdengar sedikit memalukan—membosankan, sepertinya. Terlebih bagi gadis New York seperti dirimu.” Ia menggaruk tengkuknya, seperti ketika aku menatapnya tanpa ekspresi untuk tembang ciptaan sumbang di hari ulangtahunku yang ketujuhbelas. “Aku ingin saran hebat untuk melamar Kate besok.”

“Wow! Dan kau akan membayarku dengan apa?”

“Dengan sebuah kartu undangan?” Dahinya berkerut. “Aku pasti mengundangmu, Jes. Dan jangan lupa katakan hal itu juga pada Neil. Kalian harus mengundangku.”

Bibirku mengerucut. Aku menggigit bagian bawahnya yang kering. “Pakaikan cincin itu di jariku. Mari kita lihat kemampuanmu, anak muda,” ujarku dengan nada takabur.

Kata-kataku sesungguhnya tak benar-benar serius, sekadar mengerjai Kit. Aku menebak responsnya yang makin salah tingkah. Mengerang dengan frustasi.

Aku tertawa dalam hati.

Kit masih tidak berkata-kata; kepalaku berjengit. Dan ia hanya menyentuh lenganku begitu saja. Menggapai tangan kiriku. Dan satu tatapan lurus yang membuat tengkukku meremang. “Kate?”

“I-iya.” Ini konyol. Pasti suaraku terdengar parah barusan.

“Kau tahu, aku ingin mengatakannya sejak lama. Untuk hari-hari yang kita habiskan bersama. Setelah dua tahun. Kurasa aku ingin melamarmu. So, kau akan menerima cincin ini ‘kan?”

Anggukan itu terasa berat di kepalaku. Ia menyelipkan cincin pemberian Neil di jari manisku, tempat di mana seharusnya benda itu tersemat. Lantas, kaki jenjangnya mulai menarik etape di antara kami. Derit kursi itu seharusnya tidak menjadi masalah.

Kit berdiri menjulang di sisi meja. Kupikir ia akan pergi. Aku lekas-lekas berdiri, alih-alih, ia merengkuhku dalam pelukannya. “Bukankah itu hebat, Jes,” bisiknya di telingaku.

Cukup menutup mata. Aku membayangkan sebuah ruas jalan panjang di tengah malam. Kami bergandengan pulang dengan keadaan pengar. Membagi Marlboro pertama, yang ia curi dari rak Amy, di konser Lou Reed padaku. Mencumbunya lebih lama di bench taman. Menarik kembali kata-kataku kala berbaring di pangkuannya.

Dan berhenti berandai tentang perihal menjadi dewasa.

 

______________________________
[1] jasa bus umum antar negara bagian, New York menuju Fort Collins
[2] epitel untuk John F. Kennedy; bandara internasional New York
[3] sebuah galeri seni yang terletak di kawasan Tribeca, New York.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Zarra14
Zarra14 at Sejurus Sebelum Menjadi Dewasa (7 years 11 weeks ago)
90

Numpang mampir lagi :)
Sudah baca dari kemarin, tapi baru sempat komen.
Selera pribadi sih, tapi saya menikmati gaya nulis kamu yang frontal, blak-blakan, dan mengandalkan dialog untuk menyampaikan isi ceritanya.
Saran sedikit, karena latarnya yang asing, mungkin perlu ditambah penjelasan di bagian itu, supaya pembaca lain tidak dibuat bingung.
Semoga berkenan. Terus semangat menulis :D

Halo :) terima kasih sudah mampir lagi dan terima kasih juga untuk sarannya. Iya, sepertinya dengan latarnya yang asing, saya perlu memberikan introduksi latar lebih panjang lagi di awal cerita ketimbang langsung berkelit dengan dialognya.

Writer rian
rian at Sejurus Sebelum Menjadi Dewasa (7 years 11 weeks ago)
80

Sama kayak 2rfp, rada kebingungan sama awalnya. Penulis seakan berasumsi kalau pembaca udah akrab sama tokoh-tokohnya, jadi nama-nama langsung digempur gitu aja, Deb, Eliza, Carmen, Kit, terus juga nama tempat kayak Everyday's Joe (di pembacaan kedua saya baru sadar kalau itu nama kedainya #haduh). Jadi mungkin ini tipe cerita yang enggak bisa sekali baca.

Penceritaannya yang diselang-selingi flashback nyatu sama narasi itu rumit, bisa jadi asik (saya ngerasanya sih asik), tapi pembaca lain mungkin bakal ngerasa itu sulit dicerna. Yang jelas saya nangkepnya ini cerita tentang mantan pacar yang ketemu lagi. Si narator ninggalin pacarnya supaya bisa mewujudkan mimpinya: " Mengenakan blazer, mengitari satu per satu ekshibisi di Tribeca untuk mendapatkan sebuah lukisan Pollock untuk dinding kondominiumku". Tapi yang ada dia malah "kembali dengan berkas-berkas tolol ekshibisi Pollock dan de Kooning alih-alih mendapatkan lukisannya dan membawanya di sisi meja", lantas merasa dirinya sebuah kegagalan. Sekarang mereka berdua sama-sama udah punya pasangan baru, tapi perasaan mereka yang lama masih ada. Rasanya kayak tipikal-tipikal metropop/romance, tapi bahasanya lebih 'wah'.

Saya bacanya tersendat-sendat, meskipun sadar juga kalau secara teknis ini oke, mungkin karena belum akrab sama gayanya, mungkin karena referensi-referensinya, mungkin karena enggak akrab sama latarnya, mungkin mungkin mungkin.

Pasti pembaca yang lain bisa lebih menikmati:)

Maaf kalau enggak berkenan, ya:D

Halo, rian :) terima kasih sudah mampir dan membaca. Senang deh dapat komen panjang dan sangat membangun.

Saya rasa, saya harus lebih banyak belajar lagi setelah lama tidak menulis. Terutama di bagian depan, agar tidak terlalu terburu-buru ingin masuk ke percakapan.

Di depan memang ada flashback yang cepat, lalu masuk lagi lini masa sekarang, sedikit membingungkan ya?

Inti yang ditangkap kamu bener sekali. Iya, sesungguhnya idenya sangat sederhana sih, tapi pengin mengemas ulang aja dengan sudut pandang dan dialog-dialog yang gak biasa, sekaligus pengin bernostalgia.

Terima kasih ya untuk masukannya. Saya bakal giat menulis lagi.

Writer 2rfp
2rfp at Sejurus Sebelum Menjadi Dewasa (7 years 11 weeks ago)
30

maaf hanya baca awalnya. mungkin saya yang tidak biasa membaca gaya menulismu atau karena saya kebingungan akan tokoh-tokoh yang langsung muncul di awal atau karena ini lanjutan suatu cerita dan saya harus baca cerita sebelumnya dahulu?

yang jelas sekali lagi saya minta maaf karena tidak baca sampai akhir

Enggak apa-apa kok. Terima kasih sudah bersedia untuk mampir. Iya, cerita ini di awal memang punya dua segmen dengan lompatan yang besar, dari kubikel, tiba-tiba di kedai Everyday's Joe. Mungkin inilah yang membuat ceritanya memusingkan. Terima kasih untuk masukannya ya. Saya bakal berusaha untuk menulis lebih baik lagi :)