Vulnerable (Prolog)

Arka selalu mengingat pertemuannya dengan Lucy.

Pada saat itu, Arka baru saja pulang sekolah. Masih mengenakan seragam putih-biru. Dia berpisah dengan teman-temannya di belokan depan. Teman-temannya mengajak Arka main layangan. Tapi Arka bilang tidak bisa, Arka berjanji mau membantu Bapak. Beberapa hari ini Bapak pusing terus, namun nampaknya pil-pil murah dari warung Bu Kus tidak manjur juga.

Jadi, Arka berlari pulang secepat mungkin. Langsung menggantung seragamnya agar tidak kusut keesokan harinya, seperti yang selalu diajarkarkan Bapak. Dia mengganti seragamnya dengan kaus bergambar calon legislatif dan celana dari sarung Bapak yang sudah robek.

“Istirahat dulu, le.” Bapak yang sedang duduk-duduk dengan Pak Sur—satpam sekolah—menyapa ketika Arka buru-buru keluar sambil membawa sapu lidi bergagang panjang. “Makan siang dulu. Ada tahu goreng di atas meja.”

“Nanti aja, Pak. Belum lapar,” jawab Arka. “Pak, nanti kalau Arka udah selesai nyapu, boleh main layangan?”

Pak Pardi, penjaga sekolah ramah yang semua rambutnya sudah beruban itu tersenyum. “Boleh. Tapi makan dulu.”

Arka makin semangat menyelesaikan tugasnya cepat-cepat. Jadi dia berlari ke ujung halaman sekolah itu. Apabila sedang membantu Bapak menyapu, Arka selalu mulai dari pohon nangka di sebelah gerbang besar bertuliskan nama sekolah itu. Pohon nangka itu sudah tua sekali. Banyak daun dan rantingnya yang berjatuhan.

Ayah Arka bekerja sebagai penjaga sekolah sejak dua puluh tahun yang lalu. Dulunya, tempat itu sebuah pabrik konveksi. Pabrik itu tutup setelah Pak Pardi bekerja sebagai penjaganya selama sepuluh tahun, dan diganti dengan sekolah swasta. Pak Pardi kemudian bekerja sebagai penjaga sekolah dan diberi rumah berkamar satu di area sekolah. Pekerjaannya bertambah. Selain memastikan semua pintu terkunci setelah jam kerja usai, Pak Pardi juga bertugas merawat kebun sekolah.

Arka kadang membantu Bapak menyapu atau menyirami tanaman hias. Anak itu selalu tidak tega melihat ayahnya yang melakukan segalanya sendiri. Mulai mencari uang, mencuci baju, memasak, belanja—sebab ibunya meninggal ketika melahirkan Arka.

“Wah, Mas Arka bantuin Bapak, ya?” seseorang menyapa Arka saat dia sedang sibuk menyapu. Arka menoleh dan mendapati salah seorang guru yang melewatinya.

“Siang, Bu Naila,” Arka mengangguk sopan. “Iya, Bu. Bapak lagi nggak enak badan.”

“Rajinnya,” guru itu tersenyum senang melihat Arka. “Titip salam buat Bapak, ya, semoga lekas sembuh. Yuk, Arka.”

Arka mengangguk. “Silakan, Bu Naila.”

Arka sudah menyapu setengah halaman sekolah ketika menyadari ada seorang gadis berdiri di bawah pohon talok.

Gadis itu memiliki rambut panjang bergelombang yang bagus. Warnanya tidak hitam, melainkan cokelat sewarna madu yang berpendar ditimpa cahaya matahari siang. Gadis itu cukup dekat, sehingga Arka bisa melihat pipinya yang dijalari bercak kemerahan. Dia terus menatap pohon itu, seakan belum pernah melihatnya.

Saat itu sudah pukul satu siang. Meski sekolah itu setara dengan SD, namun siswa mereka pulang pada pukul tiga sore. Lagian, anak itu tidak memakai seragam merah putih.

Anak berambut madu itu mulai melompat-lompat, berusaha mengambil buah yang ranum. Setelah tidak berhasil melakukannya, dia berkacak pinggang kesal. Kemudian dia beralih pada kursi reyot di bawah pohon itu, menariknya, dan menumpukan sebelah kakinya.

Arka bergerak secepat yang kakinya bisa, mencoba menarik lengan si gadis berambut cokelat. “Itu kursi ru—”

Detik berikutnya, terdengar suara kursi roboh dan tubuh yang berbenturan dengan kayu.

“—sak,” Arka melanjutkan, lirih. “Aduh.”

Gadis itu menindih Arka. Rona merah hilang dari pipinya. Matanya berkaca-kaca. Arka cepat-cepat menggeser posisinya dan memeriksa keadaan si gadis berambut cokelat.

“Kamu nggak apa-apa?” Arka memegang lengan gadis itu, mencari luka di sana. Dia mendudukkan gadis itu dan membersihkan tanah yang menempel di roknya. Lutut anak itu tidak terluka, tapi sekarang dia malah menangis tersedu-sedu.

Arka mengelus-elus kepala anak itu, bingung. “Cup, cup, apanya yang sakit?”

Masih menangis, cewek itu menggeleng kuat-kuat. Dia kemudian menunjuk Arka. Arka melihat ke arah yang ditunjuknya dan menyadari bahwa ada luka memanjang di lengannya. Luka itu kotor dan mengeluarkan darah.

“Oh,” katanya, meringis. Setelah tahu, dia malah baru merasakan sakitnya. “Nggak apa-apa. Udah, jangan nangis.”

Tapi gadis itu tidak juga diam. Dia menggandeng tangan Arka yang tidak terluka dan mengajaknya masuk ke bangunan sekolah. Gadis itu menarik Arka menuju ruang kepala sekolah dan masuk begitu saja. Dia masih terus menangis sembari melakukannya.

Ada tiga orang di ruangan itu. Seorang dikenal Arka sebagai kepala sekolah, sementara pria bule dan wanita di depannya tidak dikenal Arka. Tamu wanita menghampiri mereka dan mengusap air mata gadis yang menangis di sebelah Arka.

“Ada apa, Lucy?”

Anak itu tidak berhenti menangis. Dia berusaha menceritakan sesuatu pada wanita yang kelihatannya ibunya itu. Namun suaranya teredam tangisan, membuat ibunya tidak mengerti. Arka terpaksa menjelaskan kejadiannya pada mereka.

Selanjutnya, kepala sekolah mengantar Arka ke ruang kesehatan. Luka Arka diobati dan dibersihkan di sana. Lucy, gadis berambut cokelat itu, masih tersengguk-sengguk. Dia menemani Arka selama diobati dan terus menggandeng tangannya. Arka tahu anak itu merasa bersalah, karenanya Arka terus menerus bilang padanya bahwa lukanya tidak sakit.

Setelah Lucy berhenti menangis, Arka mengetahui bahwa nama lengkapnya adalah Lucy Aiken. Keluarganya baru pindah dari Perth dan rencananya Lucy akan bersekolah di tempat itu. Arka tahu Lucy bisa berbahasa Indonesia dengan baik karena ibunya juga orang Indonesia, dan dia selalu menggunakan bahasa itu di rumah.

Pada hari itu, orang tua Lucy yang baik mengajak Arka makan pizza, sebab Lucy tidak juga mau pulang. Arka tidak pernah membayangkan bisa makan pizza sebelumnya. Bapak dan Ibu Aiken juga membawakan satu kotak untuk dibawa pulang dan dimakan bersama Bapak.

Sejak saat itu, Lucy selalu mengunjungi rumah Arka setelah pulang sekolah. Gadis itu mengikutinya kemana-mana, menempel pada Arka seperti lem super.

Suatu hari, ketika Arka mengobati luka Lucy yang jatuh karena dia tersandung batu, gadis itu berkata, “Arka, kamu baik sekali. Aku mau jadi adikmu, ah!”

Arka tersenyum, mengelus rambut madu Lucy, dan menjawab, “Boleh.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer citapraaa
citapraaa at Vulnerable (Prolog) (7 years 2 weeks ago)
60

Mau ngasih terong.
Masih sukaan karyamu yang dulu-dulu. XD apa karena ini masih prolog jadi belum terasa..
pertamanya kirain gadisnya kebanyakan keluyuran main layangan, rambutnya warna madu #salah.
narasinya... saya nggak ngerasa apa-apa. Abis baca cerita yang ribet banget soalnya *nyalahin orang*
Adegan jatuh ketimpa kayak sinetron :P
Si Arka anak rajin berbakti ini semoga begitu terus ke depannya ya.
Kenapa Lucy disekolahkan di sekolah biasa (kalau tidak salah)? Bukan apa2 sih.___.
Selain Arka belum kelihatan sih tipenya gimana.
Buat sebuah prolog, ini kurang menarik saya untuk baca kelanjutannya .__. Kebayangnya cerita mainstream gitu. Tapi kali aja jadi lebih menarik.
Maaf kalau komentarnya tidak berkenan.
:) <3

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Vulnerable (Prolog) (6 years 48 weeks ago)

Halo, Cita *peluq*
Maaf ya baru balas komen kamu. Abisnya ribet kalau lewat hempon. Heuheu.
Ahahahahah tidak Cita, dia bukan anak layangan :(
Amin, Arka memang soleh, berbakti, dan gemar menabung /Lah
Heum, sebenarnya ini sekolah swasta, sih :v
Mungkin dia harus ketimpa crane dulu kali ya Cita, biar nggak terasa kayak sinetron ._. /WOY
Anyway, makasih buat terongnya ya :3 Kebetulan saya emang suka terong krispi /halah/
.
Btw saya masih males lanjutin cerita ini, Cita ._.

Writer citapraaa
citapraaa at Vulnerable (Prolog) (6 years 48 weeks ago)

oh.. sekolah swasta.
oke deh semoga malesnya ketimpa crane (?)

Writer abiyyu fasha
abiyyu fasha at Vulnerable (Prolog) (7 years 2 weeks ago)
70

Hmmm, salam kenal ya. Saya member baru :)

Menurut saya ceritanya mengalir seperti aliran sungai daru hulu ke hilir. Tapi, bagi saya ada bagian yang perlu dikoreksi lebih. Seperti, kata Bapak kayaknya diganti kata Ayah aja. Kemudian saya kurang tahu dengan pohon talok, mungkin sebaiknya Anggi jabarkan sedikit tentang pohon talok itu. Atau menggantinya dengan pohon lain, misalnya ketapang :) Tapi, secara keseluruhan ceritanya bagus kok. Enak dibaca. Oke....

Ditunggu lanjutannya ya Anggi :)

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Vulnerable (Prolog) (7 years 2 weeks ago)

Halo, Abiyyu Fasha. Salam kenal juga. Selamat datang di Kemudian, semoga kerasan dan dapat banyak ilmu ^^
.
Sebelumnya, terima kasih sudah mampir, membaca, dan berkomentar :) Saya mau menjawab komentarmu ^^
.
Pertama, soal panggilan Bapak. Karena Bapak diawali dengan huruf kapital, jadi itu merupakan sapaan. Sama seperti panggilan Papa, Papi, Daddy, etc. Sapaan itu bisa saja saya ganti dengan kata 'ayah', tapi saya sesuaikan juga sama karakter dan settingnya. Karena Arka dan ayahnya mau saya buat menjadi tokoh yang sederhana, saya buatlah Arka memanggil ayahnya dengan sebutan Bapak. Saya merasa panggilan itu lebih umum dan nJawani daripada Ayah ^^ (soalnya latar cerita ada di tempat yang memakai bahasa Jawa)
.
Kedua, soal pohon talok. Yah, saya nggak ngerti apa itu pohon ketapang ^^ Nah, kenapa nggak saya deskripsikan? Sebab di sini saya mau mengurangi penjelasan yang nggak perlu. Nggak semua harus dideskripsikan, kok. Kalau pohon itu diganti dengan pohon rambutan pun, jalan ceritanya nggak akan berubah ^^
.
Semoga penjelasan saya membantu kamu juga :3

Writer Nine
Nine at Vulnerable (Prolog) (7 years 3 weeks ago)
100

Ini enak diikuti dari awal sampai akhir. Ngalir. Suka sama cara penceritaannya, bikin betah. Menurut saya konfliknya datang tiba-tiba, terus hilang begitu saja. Jadi saya merasa tidak ada yang menonjol di sini. Terus, motivasi atau alasan Lucy untuk terus mengekor sama Arka, menurutku tidak kuat. Masih samar-samar. Bagaimanapun keakraban dua orang harusnya dibarengi dengan kejadian-kejadian tertentu yang membuat mereka menjadi lebih akrab. Di sini saya merasa alasan Lucy mau akrab sama Arka cuman gara-gara Lucy menindih Arka waktu mau ambil buah kersen.
.
Tapi secara keseluruhan cerita ini tetap enak diikuti, cuman itu saja, kurang di konflik sama motivasi Lucy mengakrabkan diri dengan Arka.
.
Ditunggu lanjutannya, Ngi. :)
Salam olahraga (y)

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Vulnerable (Prolog) (7 years 3 weeks ago)

hohoho dikomen bang nine :") makasih abang, masukannya :3 saya nggak tahu harus bagaimana lagiii~ XD

Writer MissAutumn
MissAutumn at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)
70

Awalnya datar... dan kalimatnya yang pendek2 itu memang kurang nendang. Tapi perkembangannya cukup menarik. Menanti cha[ter selanjutnya.

Btw salam kenal ya

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)

Salam kenal jugaaa ^^ Saya nggak jago memang bikin kalimat panjang, huks :"
.
Makasih sudah mau mampiiiir. Saya senang sekali ^o^)/

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)
100

Terlalu bertele-tele di awal, entahlah. Saya rasa ada bagian yang terlalu panjang penjelasannya. Semakin ke bawah semakin asik. Narasinya enak diikuti. Beberapa bagian juga jelas Arka siapa dan bagaimana. Yang menjadi keluhan ya... itu tadi, beberapa penjelasan yang bertele-tele (seperti gedung sekolah dan sejarah penjaga sekolah, atau itu cuma saya).
.
Arah cerita masih belum bisa ditebak ke mana, jadi, saya tidak berkomentar lebih banyak lagi. Masih prolog.
Btw, nama akun watty-mu apa? Biar saya follow dan ramein :3

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)

Makasih sekali masukannya :') Nanti saya perbaiki lagi :')
.
nama akun saya ecikas. Saya baru posting 2 di watty, itu juga saya posting di sini ahahahaha ^^;
.
Saya juga pengen follow kamu di watty :3

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)

SAYA FOLLOW KAMU SEKARANG!! /caps nyala (?)
.
Saya juga baru posting dua judul di wattpad. Masih baru juga di sana, dan ya, memang susah kok cari pembaca kritis. Mesti ada tekhniknya (apa coba?)
.
Tunggulah pesan saya di wall kakak :3

Writer skybridgerie
skybridgerie at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)
80

Enak di baca.. maaf belum bisa ngasi kritik karna saya sendiri masih newbie banget > <

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)

Nggak apa-apa, saya sudah senang sekali kamu mau mampir ^^
Selamat datang di Kemudian. Semoga kerasan dan bisa belajar banyak sama-sama :)

Writer yummy2
yummy2 at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)
70

Salam kenal. Cerita yang bagus. Aku agak bingung dibagian ~> Tapi gadis itu tidak juga diam. Dia menggandeng tangan Arka yang tidak terluka dan mengajaknya masuk ke bangunan sekolah. Sebenarnya tangan Arka terluka apa enggak ? Mungkin salah ketik ya atau memang seperti itu ? Maaf sebelumnya. Terima kasih.

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)

Terima kasih sudah mampir, membaca, dan berkomentar :) Soal itu, kan tangannya ada dua. Hehehe. Yang luka salah satu aja, kasian masa dua-duanya XD

Writer yummy2
yummy2 at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)

Iya juga ya non..hihihihi..gue ngebacanya berarti kurang fokus..penyiksaan banget ya kalau tangannya dah sakit pake ditarik-tarik hihihihi. Makasih. Ya maaf (sambil nepok jidat). :)

Writer odasekar95
odasekar95 at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)
40

ada beberapa tanda baca yang menurutku lebih cocok pakai koma bukan titik karena maknanya belum selesai, contoh :

Jadi, Arka berlari pulang secepat mungkin, langsung menggantung seragamnya agar tidak kusut keesokan harinya, seperti yang selalu diajarkarkan Bapak (Par 2).

tapi itu rasa bahasa sih mungkin tiap orang beda-beda. keseluruhannya udah bagus kok ^^~ semangaat

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)

Saya memang nggak suka bikin kalimat panjang-panjang sih, hehe. Tapi terima kasih sekali masukannya, buat pertimbangan saya juga untuk menulis kalimat ^^

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Vulnerable (Prolog) (7 years 4 weeks ago)

Saya... sudah lama nggak nulis.
.
Maunya posting cerita ini di Wattpad. Saya suka banget fitur chapternya. Tapi kok susah cari pembaca yang mau mengkritik dan berkomentar di Wattpad. Apa mungkin emang saya yang nggak jago, ya -_-
.
Pokoknya, silakan kalau mau dicabein.