Nostalgila

*

Siang itu Yara pulang ke rumah dengan wajah menekuk. Langkahnya serudak-seruduk masuk kedalam rumah, layaknya petugas Satpol PP menertibkan lapak pedagang liar yang mengganggu aktifitas jalanan umum. Mukanya masam karena cemberut, dan tetesan air matanya tidak berhenti mengalir di pipinya. Rambutnya acak-acakan layaknya kuntilanak yang bergegas untuk pergi dikarenakan pagi berujung tiba. Aneh..?

Yara bahkan tidak menghiraukan Bundanya, yang tentunya heran, menatap sikapnya yang lain siang itu. Tumben nih anak pulang sekolah enggak pake cium tangan dulu, cipika-cipiki sama Bundanya. Biasanya malah cerita tentang dirinya di sekolah, tapi ini, eh malah nyelonong aja kayak bajaj yang remnya blong. Enggak jelas banget nih anak..?

Krek..Brak..Bughhh. Yara membuka pintu kamarnya dan membanting pintunya disaat menutupnya kembali..tanpa sadar. Sesudah itu dirinya terbang meluncur keatas springbed empuknya. Tempat yang teramat sangat keramat baginya. Bunda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Putri semata wayangnya itu. Hening sesaat....

Akhirnya Bunda Yara berinisiatif, berjinjit perlahan melangkah dan menuju kamar Yara. Jaraknya memang tidak begitu jauh dari tempat kejadian perkara tadi, di saat 'Sang Bajaj' tanpa rem tersebut melewati Bundanya tanpa sisa.

Perlahan tapi pasti Bunda membuka pintu kamar anak semata wayangnya itu. Bunda mengintip dari pintu yang terbuka sefikit tersebut. Dilihatnya Yara nyungsep dengan sukses dibawah bantal Doraemon kesayangannya. Seseorang anak yang benar-benar memacu adrenalin Bundanya.

Bunda akhirnya bisa bernapas sedikit lega, dan sempat mengucapkan alhamdullillah.

Tetapi tunggu, tidak beberapa lama 'Sang Bajaj' mulai gelisah. Pertama-tama bantal Doraemon itu harus terbang tinggi ke udara karena luapan amarah dari Yara, dan akhirnya bantal itu harus pasrah menerima dirinya terhempas di lantai kamar. Tidak lupa guling boneka buaya itu akhirnya bernasib sama dengan Doraemon. Terkapar di sudut kamar.

Benar-benar fantastis, Bunda malah geli melihat tingkah Putrinya itu. Disaat sudah tidak ada tempat nyungsep lagi bagi dirinya 'Sang Bajaj' mulai menggelosor-gelosorkan tubuhnya enggak jelas di atas kasur tersebut menarikan tarian ular, untung saja jauh dari terkesan binal. Akhirnya 'Si Bajaj' mulai sesengukan, kesel yang bener-bener kesel banget deh, sampai-sampai air matanya melebihi tetesan air mata buaya.

"Huaaaa..! Bunda kenapa malah ngintip sih. 'Sang Bajaj' protes, sepertinya mengetahui kalau Bundanya telah mengintip sedari tadi. Bukannya malah peluk Yara, tanyain kek Yara ada apa? pake ngajuin opsi nih 'Bajaj' sungguh ter-la-la.

Bunda tetap bersabar dan menahan dirinya untuk tidak tertawa cekikikan. Kalau sempat terdengar hihihihi saja, bakalan nyambung nih ngambeknya Yara. Perang dunia ke-tiga sudah pasti akan terjadi. Dimana 'Si Bajaj' bakal mogok makan, mogok minum, mogok ngomong, dan lebih ekstremnya lagi bakal mogok pergi berangkat ke sekolah. Malah tambah berabe urusannya kalau dah kayak begituan. Bunda akhirnya mengalah dan mendekati Yara. Duduk di atas tempat tidurnya.

Yara akhirnya mendapatkan tempat nyungsep favoritnya. Dengan kepala di atas pangkuan Bunda, Yara mulai tenang. Tangisannya pun mulai berhenti, sesengukannya saja yang masih tersisa. Bunda mulai membelai rambut Yara yang tergerai dan terurai panjang, yang bisa dibilang saat itu cukup sangat acak-acakan, dan kelewat berantakan.

Bunda menyisir rambut Yara dengan perlahan, dengan menggunakan jari-jemari tangannya yang lembut.

"Kamu kenapa sih Yara?" Bunda berucap. Sambil menatap mata Yara dengan lembut.
"Yara lagi kesel Bunda."
"Ya, Bunda tahu kamu lagi kesel. Tapi kesel sama siapa?"

Yara terdiam sesaat.

"Yara kesel tuh sama cowok jelek, mana nyebelin lagi tingkahnya. Sok-sokan ngatur, mana ngerjain Yara lagi!" Yara mengadu kepada Bunda.

"Memang tuh cowok siapa? Temen Kamu? Kamu kok diatur-atur, bisa-bisanya dia tega sampai ngerjain kamu, memang kenapa!? Bunda coba mencari tahu.

"Iya Bunda, tuh cowok memang teman sekelas Yara. Memang salah Yara juga sih, tapi.... Tapi itu bukan kesalahan yang Yara buat dengan sengaja! Yara coba membela diri.

Bunda masih diam dan setia mendengarkan.

"Tapi yang bikin Yara kesel, Yara dikerjain!! Ucapan suara Yara malah bertambah nyaring, suaranya enggak kalah bersaing layaknya suara toha di masjid, disaat adjan berkumandang atau ada sebuah pengumuman penting.

Bunda coba menahan sakit ditelinganya disaat mendengar ucapan Yara, dan menutup telinganya sebisa mungkin.

"Jadi..? Coba deh kamu ceritain ke Bunda bagaimana awal mulanya?" Bunda coba bersikap demokratis, disaat dirinya telah melihat Yara cukup tenang kembali.
"Gini Bunda, waktu itu kan masih agak pagi, pas Yara sampai di kelas. Di kelas cuma ada Yara sama tuh...." Ucapan Yara terputus. Muka Yara menunjukkan wajah shocknya kembali.

"Ya udah, terusin lagi ceritanya sama Bunda." Bunda mengusap punggung Yara untuk memberikan rasa nyaman dan aman. Bunda juga tahu, sebenarnya Yara pengen bilang apa. Bundanya Yara jadi penasaran, sejelek apa tuh temannya Yara, sampai-sampai Yara ngomongnya keblibet kayak begitu?

"Tuh cowok songong, memang lagi dapet jadwal piket. Temen yang lainnya memang belum pada dateng buat bantuin dia. Jadi Yara sempat aneh juga pas ngelihat tuh cowok sendirian piket, sok kerajinan banget! Yara mendengus kesal....

"Tapi Yara enggak begitu perduli Bunda! Tapi yang bikin Yara enggak suka, kenapa juga pas Yara naro tas Yara di atas meja Yara, kok ada tempat sampah di meja Yara. Yara kan sebel Bunda! Emosi Yara mulai campur aduk. Yara berhenti bicara untuk sesaat.

Bunda masih menunggu Yara meneruskan ceritanya.

"Tapi Yara biarin aja. Tapi....tanpa sengaja tangan Yara menjatuhkan tempat sampah itu dan membuat sampahnya berceceran disaat Yara coba memasukkan tas Yara ke selorokan meja tempat tas yara." Yara melanjutkan kisahnya.

"Tapi, kok, eh malah tuh cowok kesal. Cowok itu marah-marah ke Yara!"
"Terus? Bunda coba mengamini ucapan Yara.
"Ya begitu Bunda. Yara kan sudah minta maaf. Tapi tuh cowok masih nyerocos aja ke Yara. Padahal kan Yara sudah bantuin untuk memasukkan lagi sampah-sampah yang berserakan ke tempatnya."
"Lalu?"
"Ya, sebenarnya dia akhirnya berhenti ngomel dan marah kepada Yara Bunda...."
"Lantas..? Kenapa kamu marah sama dia?"
"Itu dia Bunda, sewaktu Yara dari kantin dan kembali ke kelas sehabis istirahat. Yara kan kembali ke meja Yara.... Pas Yara mau ambil tas Yara.. Isi di selorokan meja Yara penuh dengan....sampah-sampah! Huaaaaa...." Yara histeris kembali.

Bunda menghela napasnya perlahan. Membiarkan Yara mengeluarkan ekspresinya kembali. "Sudah ah," ucap Bunda sambil menghapus air mata Yara.

"Tetapi apa Kamu yakin Dia pelakunya?" Bunda memastikan.
"Enggak tau deh Bunda? Tapi pas Yara nengok ke arah dia sehabis kejadian itu, tuh dia....malah ketawa enggak jelas gitu. Yara kan malu Bunda. Baru kali ini, Yara dikerjain kayak begitu." Yara masih bercerita dengan mesuh-mesuh.

"Kamu enggak boleh suudjon loe. Siapa tahu, bukan dia pelakunya!" Bunda mengingatkan Yara.
"Tapi Bunda?"
"Hey,hey,hey.. Kamu kan sudah tahu.... Fitnah itu lebih kejam dari pada apa?"
"Ya Bunda, Yara tahu."

"Jadi...? Apa perlu besok Bunda mencari tahu dan berbicara dengan temanmu itu?" Bunda memastikan.
"Terserah Bunda aja deh," akhirnya Yara pasrah dan menerima pendapat Bundanya.
"Ya sudah, besok Bunda jemput kamu di sekolah. Kamu juga jangan lupa, kenalkan temanmu itu." Bunda menutup pembicaraan.

BERSAMBUNG....

Foot note : Ini cuma cerita fiksi semata mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh dan hal-hal lainnya didalam cerita.

Minal aidin wal faidjin. Mohon maaf lahir dan batin. :)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer wahaha
wahaha at Nostalgila (6 years 42 weeks ago)
40

saran aja sih biar seru, obstacle yang dialamin tokohnya lebih digali lagi biar makin seru. but nice :]

Writer MissAutumn
MissAutumn at Nostalgila (6 years 43 weeks ago)
60

Halo Yummy, akhirnya mampir juga ke ceritamu...
aku harap kamu bisa nerima kritik ya...

Boleh dibilang cerita ini masih sangat mentah. Dari segi gaya bercerita dan kerapian tulisan. Mungkin ada baiknya kamu buka-buka buku EYD. Pilihan kalimat yang kamu pake masih kurang enak.

Penulisan bundanya, putrinya, tidak perlu pakai huruf kapital di depan kata kecuali untuk sapaan (misal: Kemari, Bunda... )
cek juga ejaan yang lain, masih banyak yang kurang tepat. Selebihnya cerita ini masih bisa dipoles.

Btw karakter Yara ini sangat manja ya dan kekanak-kanakan. Mungkinkah Yara ini masih SMP? kalau bisa beri keterangan soal latar belakang tokoh untuk pengenalan.

Salam

Writer yummy2
yummy2 at Nostalgila (6 years 43 weeks ago)

Makasih ya masukannya.

Writer danieltan
danieltan at Nostalgila (6 years 43 weeks ago)
70

lumayan kocak. tadi nulisnya sempet keplintet ya? Dari D ke F yaaa... dimaklumin aja lah yaa.

Writer yummy2
yummy2 at Nostalgila (6 years 42 weeks ago)

Ya agak keplintet heuh,heuh,heuh. Terima kasih

Writer skybridgerie
skybridgerie at Nostalgila (6 years 43 weeks ago)
60

Belum climax ya.. lanjut kan

Writer yummy2
yummy2 at Nostalgila (6 years 42 weeks ago)

Terima kasih.