Nagarasantara #1 : 'Bisakah manusia hidup tanpa kekerasan?'

‘5 senti..

 

Hanya 5 senti jarak antara aku dan pelaku kejahatan itu saat kumenangkapnya

 

Saat dia memberontak, saat diriku bertahan

 

Saat dia menyerang, saat aku mengelak

 

Saat aku berhasil menahannya, saat ia mengeluarkan makian

 

Saat aku mengancamnya, saat ia memohon untuk hidupnya

 

Saat aku mengikat tangannya, saat ia meminta satu permintaan terakhirnya

 

Saat ia tidak lagi ada niat memberontak, dan pada saat ia mengeluarkan air mata dan beralasan….’ A-Aku tidak punya pilihan lain……”

 

 

 

 

 

 

 

 

#1

'Bisakah manusia hidup tanpa kekerasan?'

 

 

Di pinggiran jalan kota kecil  kumuh dengan dinginnya udara malam hari yang menusuk dan musim tak menentu, terpapar disekitarnya pemandangan orang-orang tak memiliki tempat tinggal yang secara berkelompok menyiapkan kardus bekas untuk alas tidur di depan ruko-ruko tak terpakai atau  ruko yang sudah tutup. Sementara diseberang, beberapa orang sedang menikmati makan malam berupa setengah potongan roti sisa siang hari tadi. Disebelahnya juga terhampar beberapa orang sibuk menghitung koin-koin penghasilan hari ini dalam sisa bungkus makanan.

Namun di sisi lain kota, sementara kebanyakan penduduk maupun pendatang di wilayah itu melewati malam dengan berkelompok, di pinggiran trotoar dekat lampu jalan yang redup itu, kilau cahayanya dapat menerangi seorang pemuda yang sedang berdiri dibawahnya. Pemuda dengan jaket abu abu lusuh dan topi merah yang sudah dekil terkena bercak tanah menempel di kainnya serta celana yang terlihat robek di beberapa bagiannya, seolah menjelaskan berbagai macam kejadian telah dilalui sang pemuda. Ditundukkan wajah dan dilipatkan kedua tangannya di depan dadanya menahan dinginnya udara di malam hari itu.

Terlebih dengan perut yang terus-menerus menahan bunyi meminta asupan makanan. karenanya dicobanya mengesampingkan hal itu dan melangkahkan kakinya memulai berjalan pergi demi membuatnya lupa pada rasa laparnya.

           ‘BRUK’

 

Belum genap beberapa langkah, karena tubuh yang makin terasa lemas serta rasa lapar dan dingin saling menyatu, tak sengaja ia tersandung batu besar di hadapannya dan seketika ia terjatuh di tanah itu.

Seolah tak kenal dengan kata menyerah, sisa tenaga yang dimiliki si pemuda digunakannya untuk berdiri kembali walau dengan rasa gemetar membaluti seluruh kulit tubuhnya. Perlahan ia menumpu sendiri tubuh dengan tangannya untuk kembali dapat menegakkan kedua kaki miliknya. Namun dengan segera ia terjatuh lagi, hingga sepintas dilihatnya sebuah dinding toko di dekatnya, dan ia pun mencoba merangkak mendekat untuk kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding kasar tersebut.

 

Si pemuda pun terduduk di sana sambil melipat kedua tangannya kembali. Rasa dingin dan lapar tak kunjung hilang dan malah makin menjadi. Tak banyak yang bisa ia lakukan, sebagai hiburan pribadi, dicobanya menatap langit dimalam itu dengan berjuta juta bintang bertaburan sembari seluruh pikirannya mengawang kepada mitos bintang jatuh yang dapat mengabulkan permohonan itu benar adanya.

 

                                                                                           

        12 TAHUN LALU

.

…..

…….

 

Di sebuah taman besar dalam halaman kediaman keluarga besar Amur yang terhias berbagai macam jenis tanaman, terdapatlah sebuah pendapa berpagar kayu jati kokoh dengan pahatan ukiran kepala singa di ujung pagar yang di dalamnya tersedia sebuah meja bulat kecil dengan lima kursi melingkarinya.

Seorang anak berumur sebelas tahun dengan dua tahi lalat dibawah mata kiri dan satu tahi lalat lagi di bibir yang menjadi ciri khasnya dengan semangat berlari lari dari lorong ruang dalam menuju pendapa itu, beberapa pelayan sempat kewalahan karena tak jarang tuan mudanya itu menubruk mereka selagi berlari

 

Pelayan:  ” Tuan Nusa! Tolong hati hati! “

 

       Nusa: “Maaf bi! Maaf!!”

 

Meski memita maaf, langkahnya tetap tidak dihentikan. Nusa malah terus mempercepat langkah menuju pendapa yang dimana salah seorang adik laki lakinya, Tojaya sedang sibuk dengan kegiatannya memperhatikan buku bacaan di kursi pendapa itu, Nusa memanfaatkan kesempatan saat Tojaya sedang fokus untuk mengagetkan dan mendorongnya dari belakang

 

Nusa: “WA !!”

 

Nusa pun mendorong Tojaya hingga ia terjatuh dari kursinya

 

   ‘BRAK’

 

Tojaya : “WOAH !”

 

Nusa: “Hei tojaya! Aku baru dapat sesuatu yang menarik dari obrolan orang orang di halaman depan! kau tahu hutan yang berada di sebrang sungai sana? Katanya disitu tinggal peramal yang jago membaca masa depan!! Ikut aku kesana !”

 

Tojaya yang masih sibuk memperbaiki posisi duduknya, memberi jeda yang cukup lama untuk mencerna tiap jengkal perkataan yang dilontarkan oleh kakaknya itu hingga akhirnya ia tahu maksud dari kata kata Nusa

 

Tojaya: “Ng... nggak.. aku nggak ikutan. Kau juga jangan kesana Nusa... Para penjaga melarang ke hutan berbahaya itu, pedagang tak ada yang berani lewat situ, Ayah melarang semua mengusik hutan it—“

 

Nusa: ”Blah blah blah, aku tahu itu Tojaya”

 

Nusa dengan segera mendekat dan membuang buku yang sedang diperhatikan Tojaya. Sekarang dia dapat semua atensi dari adiknya itu.

 

Tojaya : “Hei ! aku sedang lihat itu”

 

Nusa : “Dengar Tojaya, kau tidak pernah bertanya kenapa hutan itu tidak boleh dimasuki ?”

 

Tojaya : ” ......Karena...berbahaya... kata orang orang”

 

Nusa : ”Bahaya kenapa? Kalau bahaya kenapa Ayah mengambil resiko mendirikan rumah ini

di dekat hutan itu?”

 

Tojaya : “Ng....... karena...gelap?”

 

Nusa : “Kalau begitu tak perlu khawatir, kita kesana siang siang”

 

Tojaya : “Pasti lebih dari itu !! pasti banyak ....banyak ..nggg sesuatu makhluk tak kasat mata....”

 

Nusa : “Ayolah,coba pikirkan dari pelajaran yang selama ini kau pelajari. Yang membahayakan bukan makhluk  tak kasat mata tapi manusia. Lagipula kau percaya yang begituan tojaya?”

 

Tojaya: ”Pokoknya aku menolak...! Ayah tak suka pelanggar peraturan, Ayah akan tahu kalau kita mengajak beberapa orang-orangnya untuk kesana”

 

Nusa : ”Siapa yang bawa orang-orang Ayah? Kita berdua yang akan kesana! dan pelanggar peraturan? Aku sudah dapat Ijin dari Tita! Minta ijin darinya sama dengan minta ijin dari Ayah kan, dia orang kepercayaan dan perantara jika ada yang ingin disampaikan kepada ayah?”

 

Tojaya : “B- benarkah ? Kau dapat ijin semudah itu....?”

 

  Nusa : ”Siapa yang bilang mudah? Aku menuggu selama 5 hari !”

 

      Tojaya : “E-er.....”

 

Tojaya menundukan kepala, berpikir ulang. Tak bisa dipungkiri sebenarnya ia pun penasaran akan ucapan Nusa tentang peramal di hutan itu. Tapi peraturan membatasi aksi akan keingin tahuannya

 

       Nusa :”hei!”

 

Tojaya tersentak kaget, hampir sekali lagi ia terjatuh dari kursinya

 

Nusa : “Aku tak bisa menunggumu seharian untuk bilang 'ya'! Kau sendiri yang bilang hutan itu ditakuti karena gelap, jadi sebelum sore kita kesana!”

 

     Tojaya :” .....Tapi butuh seharian kalau kita jalan kaki...”

 

      Nusa : “'Kita' ? ohohoh... kau setuju ikut nih?”

 

       Tojaya : “K-karena kau sudah dapat izin.....”

 

       Nusa : “Baiklah ! tenang saja masalah kendaraan sudah kutangani.”

 

Masalah kendaraan sudah kutangani'. Itu kata Nusa. Tojaya tidak yakin dengan apa yang dimaksud kakaknya itu, tapi tetap saja ia mengikuti Nusa untuk segera pergi menuju halaman belakang rumah.

 

***

 

 

Di halaman belakang rumah,

Tojaya melihat suatu benda dibalut kain besar bewarna abu-abu dengan ditempeli tulisan ‘Jangan Sentuh!’ yang ditempatkan jauh dari jangkauan mata orang-orang yang akan melewati tempat itu.

 

Dan selagi adiknya sedang terpaku menatap benda berbungkus kain miliknya, Nusa berjalan duluan menuju benda yang katanya akan menjadi kendaraan mereka dan segera Ia membuka kain yang melapisinya.

 

     ‘SRAK’

 

Terlihatlah benda apa itu seraya kain abu-abu yang telah terbuka seutuhnya. Melihatnya, Tojaya terdiam sejenak, Ia menggaruki kepalanya tanda ia bingung mau biacara apa setelah melihat benda di balik kain abu-abu besar itu.

 

        Tojaya: ” Oh. ini kendaraan kita? pantas kau butuh mengajak satu orang.”

 

Tojaya berjalan menuju ke arah benda yang Nusa sebut-sebut sebagai kendaraan andalannya dan ia pun mencoba dengan hati-hati duduk di atas bangku sepeda yang sudah dikaitkan gerobak di belakangnya.

 

 Nusa yang sudah duluan duduk rapih di atas gerobak itu, membiarkan Tojaya untuk mengayuh kendaraan andalannya ke hutan seberang sungai.

 

          Nusa : “Aku membuatnya selama 5 hari. Tak jelek hah?”

 

    Tojaya : “Kau tahu? Karena sudah dapat izin kenapa kita tidak meminta supir mengantar       sampai sana?”

 

     Nusa : “Dan menyia-nyia kan kendaraan jenius buatanku? Tidak! Tidak! Kita kesana dengan INI”

 

           Tojaya: “Hah…..”

 

Tojaya menghela napas panjang namun ia menuruti apa kata Nusa dan mulai mengayuh sepeda itu. Dia tahu jika debat itu diperpanjang, Nusa akan selalu tahu bagaimana cara membalas tiap jengkal perkataan yang ia lontarkan.

 

Nusa : “Dengar Tojaya, saat sudah dekat pintu keluar halaman belakang.... Kau ngebut ya. abaikan orang orang yang mencoba menghentikanmu”

 

      Tojaya : “Menghentikan....? Hei Nusa! Kau tidak---“

 

Nusa pun menepuk punggung Tojaya dari tempat duduknya digerobak.

Nusa : “Hei ! cepat atau kita baru akan sampai saat sore hari!!” Tojaya : “Hrrrhhgh....”

 

Tojaya mengikuti perkataan Nusa, mengebut menuju gerbang halaman belakang yang terdapat

2 penjaga di tiap sisinya atau lebih tepatnya mereka sedang melakukan pergantian giliran jaga

  sehingga keduanya sedang lengah terhadap ‘kendaraan handal’ yang sedang melaju cepat  ke arah gerbang.

 

       Penjaga 1 : “Apa yang--!”

 

       Nusa : “Lebih cepat tojaya !!”

 

'Kendaraan jenius buatan Nusa' itu pun melaju dengan kecepatan maksimum, membuat orang orang di depannya refleks menghindar kemudian menganga lebar sambil mencoba otak masing masing mencerna tadi itu benda apa dan mengapa dua anak Tuan besar yang mereka layani ada di atasnya.

 

Penjaga 1 :  “Itu....Tuan Nusa dan Tuan Tojaya..? mereka keluar gerbang, apa sudah diizinkan.......?”

 

      Penjaga 2 : “Aku tidak dapat laporan izin apapun tentang mereka.”

 

Kedua penjaga itupun saling tatap, dan setelah selesai mereka sadar apa yang sedang terjadi, salah satu dari mereka langsung pergi melapor kepada Tita, orang kepercayaan dan perantara bicara dengan Tuan besar Rhanggah Amur.

 

        ***

 

 

Di luar gerbang, Tojaya memperlambat laju sepeda gerobak itu, sambil sesekali ditolehkan kepalanya ke arah gerbang halaman belakang tadi yang makin menjauh.

Nusa :  “Hahahahaah!! hebat!! Kau berhasil tojaya! Jagooo!! Tadi aku sempat ragu kau bisa loh…”

Tojaya : “Haha...ha.... hosh hosh... tolonglah..Katakan ini terakhir kalinya aku kebut kebutan dengan kendaraan tidak jelas ini...”

       Nusa : “Kendaraan jenius !”

       Tojaya : “Ya.. ya....”

        Nusa : “Nah ! Itu jembatan menyeberang sungai ! Ayo cepat,cepat,cepat Tojaya !!”

Nusa menunjuk jembatan besar menuju hutan yang menjadi tujuan itu, Tojaya pun kembali menambah kecepatan.

 

***

 

Di kediaman, di Lorong menuju ruang acara dan pertemuan,

Penjaga gerbang tadi berjalan cepat menuju ruangan kerja Tita sampai akhirnya sebuah suara menghentikan langkahnya

        Tita : “Selamat siang.”

Penjaga tadi dengan spontan menoleh ke belakang, melihat seorang pria yang mengenakan kacamata sehari harinya itu yang tidak lain adalah Tita yang berdiri di sana sambil memegang beberapa map dan berkas pekerjaan

       Penjaga : “Tuan Tita! a-- si- siang tuan!“

Sang penjaga menunduk memberi salam penghormatan dan Tita membalas nya dengan balas menunduk

        Tita : “Ada apa? Kau berjalan terburu buru di lorong”

        Penjaga :  “Ah.. anu Tuan... itu.. Tuan Nusa dan Tuan Tojaya...”

        Tita : “Ada apa? Apa Tuan Nusa mengajak Tuan Tojaya bolos pelajaran lagi?”

        Penjaga : “Mereka...... Keluar rumah tanpa izin..tuan..”

        Tita : “Apa ?!”

***

 

 

 

           Tojaya : “APA ?!”

Di dekat gerbang masuk hutan, berdiri Nusa dan Tojaya di depannya

        Nusa : “Apa?”

        Tojaya : “Kau minta izin ke Tita saat dia teler?!”

Nusa : “mmm... aku memberinya banyak Tape sambil berbicara tentang hutan itu daaan aku meminta izin padanya tepat saat dia menghabiskan potongan terakhir”

Tojaya : “Urrrrghhh!! Aku tak percaya kau sengaja melakukan ini!!”

        Nusa : “Hei jika ada pihak yang disalahkan itu Tita”

Tojaya : “Kau sengaja memberinya banyak tape!! kau pasti tahu banyak makan Tape bisa membuat orang mabuk!!!”

Nusa : “Ah... tapi tojaya sedikit telat jika kembali sekarang bukan? Lihat, kau menabrak pohon dan kendaraan kita jadi rusak”

        Tojaya : “Kita kembali jalan kaki !!”

Nusa : “Selangkah lagi kita sampai hutan itu Tojaya, jangan menyia-nyiakan usaha kita begitu”

       Tojaya : ”Ayah bisa marah besar Nusa!!”

Nusa : “Itu bayaran atas pengalaman yang akan kita dapatkan hari ini tojaya. Lagipula ayah pasti sudah tahu detik ini juga, jika kita kembali tanpa masuk hutan hasilnya sama saja. Jadi bukankah lebih baik kembali saat kita sudah kembali dari hutan ini”

       Tojaya : “Hrgggh..... kalau kau sebegitu ingin masuk, masuk saja sendiri”

       Nusa : “Ayolah Tojaya, aku tahu kau penasaran juga”

      Tojaya : “Tidak”

      Nusa : “60 menit saja lalu kita pulang”

      Tojaya : “Tidak”

Nusa : ”45 menit”

Tojaya:“......tidak.”

Nusa : “30 menit”

Tojaya : “10 menit...”

 Nusa : “20 menit”

        Tojaya : “15 menit ! lebih dari itu aku menolak !”

         Nusa : “Baik, 15 menit.”

Mereka berdua pun mulai berjalan menuju hutan, Tojaya masih melangkah dengan penuh keraguan bersama Nusa yang tampak berjalan tanpa khawatir akan apapun di depannya dan setelah 9 menit jalan tanpa arah dihutan itu mereka menemukan jalan setapak.

Nusa : “Lihat tojaya! Jalan setapak! Sepertinya ini menuju sesuatu tempat, mungkin tempat peramal itu tinggal?”

Tojaya : “Ngg.....kita tidak tahu pasti peramal atau bukan kan.....? Bagaimana kalau nenek sihir.....?”

Nusa : “Ya ampun Tojaya, kau kebanyakan baca dongeng anak perempuan! Apalagi selanjutnya yang akan kau katakan? Nenek sihir itu tinggal di atas gunung dikelilingi larva?”

Tojaya : “Err... Sebenarnya iya aku mau bilang begitu”

        Nusa : “Nah ! Di sekitar sini bahkan tidak ada gunung, Tojaya!”

Saat Nusa dan Tojaya saling berdebat, bunyi rumput yang tiba-tiba berbunyi di belakang mereka membuat keduanya melakukan tindakan waspada.

       Tojaya : “Bawahan nenek sihir!! itu pasti bawahan nenek sihir menuju kemari !!”

       Nusa : “Diam tojaya! Lagipula tidak ada nenek sihir !!”

                ‘SRAK’

Seekor kelinci keluar dari rerumputan, Dan seketika Mereka berdua pun terdiam

        Nusa : “Ha…haaaa..... Itu bawahan nenek sihir yang kau maksud, Tojaya?”

        Tojaya : “Erh......... emm....”

Tojaya kembali  menoleh ke arah Nusa dan tak sengaja matanya menangkap bayangan hitam di belakang kakaknya itu

        Tojaya : “N----- n---- Nu....sss.....saaaa....”

          Nusa : “Apa tojaya? Nenek sihir ada di belakangku?”

Sosok bayangan hitam itu makin jelas, menunjukan posturnya sebagai seorang nenek tua dengan rambut putih digerai berantakan

        Tojaya : “IYAAAAA !!!!! BELAKANGMU !!!”

        Nusa : “E..?”

Sebelum sempat Nusa menoleh untuk melihat makhluk apa yang ada di belakangnya, 'Nenek' itu dengan sigap menarik anak itu ke balik semak-semak

         Nusa : “WAAA”

         Tojaya : “Nusa !!!”

Tojaya panik bukan kepalang, tak pernah selama hidupnya ia sepanik ini. Untuk beberapa saat ia hanya mondar-mandir berpikir apa yang sebaiknya dilakukan, mengejar Nusa? atau keluar hutan minta bantuan? Tapi mungkin akan sangat telat jika meminta bantuan sekarang pikirnya. Tojaya pun memutuskan untuk mengejar Nusa ke balik semak-semak.

Ia terus berlari melewati semak dan pohon, perasaan khawatir, takut serta wajah marah Ayahnya semuanya bercampur aduk menjadi satu. Tak lama kemudian ia melihat sebuah rumah kecil yang terlihat terawat. Tojaya pun tertegun sejenak melihat rumah itu, ternyata benar ada yang tinggal di hutan ini. Pertanyaan selanjutnya, apa itu rumah peramal yang dikatakan Nusa atau rumah penyihir imajinasi Tojaya yang kini menjadi kenyataan?

            Nenek : “Aaah...kau pasti sang adik”

Nenek tadi mengendap-endap dan perlahan mengusap belakang leher Tojaya secara halus. namun disaat yang bersamaan membuat siapapun yang berada dalam keadaan itu akan merinding sejadinya.

            Tojaya : “WAAA!!! WA! WA! WA! “

Kemudian Tojaya dengan spontan langsung terhentak  menjauh dan memasang pose ekstra waspadanya

     Tojaya : “Kau ! k-k-k-ka…..kau yang tadi ! mana  Nu…v…sy…. Nuwsha …… a …maksudku ….mana Nusa ?!”

                         ‘DUAK’

Sebuah bola terpantul ke dekat kaki Tojaya yang membuat dirinya langsung melangkah mundur menuju ke balik sebuah bongkahan batu besar untuk bersembunyi.

Nusa : “Haha kau terlalu banyak baca dongeng Tojaya, sopan sedikit pada orang tua, Nenek tadi tidak bermaksud jahat sama sekali”

Nusa dengan kondisi dan ekspresi seolah tak terjadi apa-apa dengan tenang berjalan ke arah

Tojaya yang masih bersembunyi di balik bongkahan batu besar tadi.

         Tojaya : “K-kau…..kau.. dari mana? Kau….Nusa?”

Nusa : “Kau amnesia? Dari tadi disini. Nenek ini hanya tinggal bersama cucu nya, jarang sekali mendapat tamu jadii tadi itu katanya ungkapan perasaan senang karna ada 2 anak muda yang berkunjung”

Tojaya : “Ah....oh...begitukah...? T--tapi rasanya itu tempat pertemuan yang aneh..seolah nenek sudah tahu kita akan datang...”

Nenek : “Ohoho... aku memang sudah tahu…”

        Tojaya : “Eh..? Ehhhhh????? Tunggu tunggu.... Nusa! Jangan-jangan dia ini... “

        Nusa : “Baru sadar, Tojaya?”

 

 

                                   ***

 

Di kediaman, di ruang kerja sang Ayah,

Rhanggah Amur bersama dengan wanita pendamping hidupnya, Adranan yang sedang terduduk di sofa depan meja kerja untuk serentak, keduanya menoleh ke arah Tita yang masih terpaku berdiri seraya ia melaporkan keadaan Tuan-tuan kecil itu.

 

        Ranggah :”Peramal?”

 

Tita : “Ng...ya peramal. Tuan Nusa 7 hari yang lalu bertanya banyak soal hutan itu, kenapa tidak boleh dimasuki dan sebagainya...lalu sepertinya aku keceplosan mengucapkan kalimat peramal..... lalu 5 hari yang lalu Nusa mengajakku minum teh hangat dan ngemil seusai semua pekerjaan selesai.. dia menyediakan banyak tape dan.... ugh aku tak ingat apapun setelah itu... kemungkinan besar di saat itu aku memberinya izin”

 

Ranggah kemudian terdiam dengan tatapan tajamnya yang tak pernah terlepas dari eskpresi wajahnya, untuk beberapa saat terus ditundukkan kepalanya sebagai tanda berpikir sampai saat ia tersadar Adranan sedang memperhatikan dirinya dengan senyuman lembut menghiasi wajah wanita yang sedang duduk menuangkan teh hangat dihadapannya itu.

 

Tita : ”A-- saya tahu ini kesalahan. saya sudah menyuruh orang untuk menjemput mereka. maafkan saya karena lengah”

 

Tita menunduk dalam meminta pengampunan atas kecerobohannya membiarkan dua putra

Tuannya melanggar peraturan yang sudah dibuat atas kesepakatan bersama itu

Dalam pada hal tersebut, setelah mendengar pernyataan Tita, Rhanggah bangkit dari kursinya

       Tita : “Uh..”

Ranggah : “Saat kembali nanti bilang pada mereka berdua untuk menghadap di ruang rapat besar”

Sambil berkata begitu, Rhanggah Amur mengerutkan alis dengan memasang raut wajah tidak senang atas laporan yang baru saja di sampaikan oleh orang kepercayaannya itu namun tanpa membuang banyak waktu, ia membelakangi Tita dan mulai berjalan ke arah rak buku melanjutkan pekerjannya yang sudah tersita selama Tita melapor.

 

Melihat itu, Tita pun dengan sigap memberi hormat pada tuannya

          Tita : “S-- siap tuan! Permisi nyonya….”

Tita membungkuk hormat pada keduanya dilanjutkan segera pergi meninggalkan ruangan dan meninggalkan Rhanggah serta Adranan didalamnya

Adranan : “Saat pulang nanti, jangan terlalu keras kau menghukum mereka ya. Mereka masih anak anak yang ingin memuaskan rasa keingin tahuannya”

Rhanggah menoleh ke arah Adranan.

       Rhanggah : “menurutmu begitu?”

Adranan : “Kau pernah menjadi bocah laki laki, harusnya kau yang paling tahu”

Kembali Rhanggah menatap berkas pekerjaan yang sedang dipeganginya namun pikirannya masih mengambang kepada perkataan istrinya

        Rhanggah: “Akan kupikirkan”

 

 

***

 

 

Di rumah nenek peramal tadi.

 

Teh hangat dari dalam teko tanah liat dituangkan ke dalam cangkir yang juga terbuat dari tanah liat itu , si nenek mempersilahkan Nusa dan Tojaya untuk meminumnya, namun keraguan tertera di wajah mereka berdua. Mungkin karena ajaran ‘Jangan menerima apapun apalagi makanan dari orang asing’ telah mengakar didalam pendirian anak-anak itu.

 

Nenek : “Haha, tenang saja, aku tidak memasukan yang aneh aneh ke dalamnya.“

 

Nenek itupun minum duluan. Nusa dan Tojaya kemudian memperhatikan si nenek

 

Nenek : “Lihat? Tak terjadi apapun kan? Ya.. kalau masih tidak yakin silahkan tunggu selama 15 menit. Biasanya racun atau obat baru bekerja setelah selang beberapa menit. Bagaimana kalau kita ngobrol selagi menunggu?”

        Tojaya : “Ng…. kami tidak lama lagi juga pulang…..ma….”

         Nusa : “Ide bagus !! kita harus ngobrol !”

Tojaya melotot ke arah Nusa. Ini hampir 15 menit, sesuai perjanjian mereka sebelumnya

            Nusa : “Kenapa Tojaya ? Untuk itu kita ke sini kan”

            Nenek : “Sepertinya banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan, nak… Kau terlihat antusias.”

          Nusa : “Aku ?”

Nenek : “Ya, siapa namamu”

Nusa : “‘Nusa’ yang ini Tojaya”

Tojaya melotot lagi ke arah Nusa

Tojaya : “Kurasa kita tau etika supaya tidak memberi tahu nama kita pada orang asing, Nusa!”

Nusa : “Ya...ya…. Nama memang indah…tapi sedikit gunanya selain untuk reputasi dan ketenaran… karena kita belum punya keduanya nama menjadi kurang berguna. Tidak masalah jika kita memberi tahunya.  Lagipula jika nenek ini benar peramal, dia pasti sudah tahu.”

Tojaya menggerutu kesal,namun Nenek tadi hanya tertawa kecil.

Nenek : “Kau anak yang cerdas Nusa, dan kau anak yang waspada Tojaya. Jika kalian menggabungkan kekuatan, kalian benar-benar sulit dikalahkan. Kalian seperti pedang dan perisai, dimana kalian saling mengingatkan dan……… menjaga”

          Nusa : “apakah itu salah satu ramalan nenek ?”

        Nenek : “kau masih percaya aku adalah peramal, Nusa?”

        Nusa : “Memangnya bukan?”

        Nenek : ”Aku hanya orang yang sedang menghabiskan hari tua dengan damai,nak.”

        Nusa : “Itu tidak menjawab pertanyaanku. Apakah anda peramal, nek?”

           Tojaya : “Kalau nenek bukan peramal… Kenapa bisa tahu kita akan lewat jalan tadi?”

Nenek : “Nenek hanya mengikuti instruksi untuk selalu menunggu di jalan itu pada jam yang

sama, nak. Nenek bukan peramal atau…apa tadi yang kau sebutkan, Tojaya? Nenek sihir?”

        Tojaya : “M-maaf…”

Nenek tadi balas tertawa

       Nusa : “Tunggu …instruksi dari siapa?”

       Nenek : ”Kakak laki-laki nenek ,nak”

       Nusa : “Jadi kakak anda yang peramal ?! Dimana dia sekarang?”

       Nenek : “Dia hobi merantau, nenek pun tak tahu dimana dia sekarang.”

       Nusa : “Ooooh begitu…..”

         Nenek : “Kau percaya ramalan, Nusa?”

       Nusa : “Aku hanya percaya oleh apa yang sudah kulihat nek.”

       Nenek : “Kenapa kau sangat ingin menemui peramal kalau begitu?”

Nusa : “Ada jawaban yang ingin kuketahui dari pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiranku”

       Nenek : “Apa itu?”

Nusa terdiam. Tojaya melihat ke arah nusa, begitu juga dengan si nenek.

Nusa : “Hah…sebenarnya…tidak terlalu penting…oh.. sudah 15 menit lewat… kita harus pulang Tojaya.”

Nusa meminum teh tadi hingga habis kemudian berdiri.Tojaya mengikuti menghabiskan teh lalu juga berdiri dari kursinya.

        Nusa : “Sudah ya nek… maaf mengganggu..”

        Nenek : “Nenek tidak keberatan kok”

Nenek pun bersiap berdiri untuk mengantarkan Nusa dan Tojaya ke depan pintu keluar. Tojaya

berjalan duluan ke arah pintu, saat pintu dibuka tiba tiba….

            ‘BRAKH’

         Tojaya : “GAAAH!”

Pintu tadi terbuka dari luar dengan kencang dan membentur batang hidung Tojaya. Dalam seketika Ia pun terjatuh dan mengerang kesakitan.

Sementara Nusa dan si nenek melongo selama beberapa detik kearahnya

        ??? : “Aaaaah! Maaaaafff aku tidak tahu kalau ada orang mau keluar!”

Terlihat anak perempuan dengan gigi ompongnya serta rambut berkucir dua bergoyangoyang seusai irama gerakannya. Ia seumuran Nusa dan Tojaya dan masih terpaku berdiri dari balik daun pintu yang menyambar muka Tojaya dengan keras hingga ia terjatuh kesakitan

        Nenek : “In Ga, sudah nenek bilang jangan ceroboh..”

Nenek dengan segera menghampiri Tojaya dan mengusap darah yang keluar dari hidung anak itu

           Nenek : “Tidak apa apa, nak Tojaya?”

        Tojaya : ”Ti….tidak….apa apa……”

         Nusa : “Hahaha butuh lebih dari itu untuk membuat Tojaya kenapa napa nek tenang saja”

Nusa melirik ke arah In Ga

         Nusa : “Kudengar nenek tinggal bersama cucunya, inikah? Kau gadis yang…..”

Belum sempat Nusa menyelesaikan kalimatnya, In Ga menabrak melewatinya, jalan terburu buru ke arah Tojaya yang masih duduk dilantai sembari nenek menyeka lukanya.

          Nusa : “Oh..baiklah ini bukan yang pertama kalinya aku dicuekin”

In Ga pun terduduk disamping Tojaya

In Ga : “Oooh nenek! Jika nenek member I tahu aku akan ada anak seumuranku dan setampan ini aku akan pulang lebih cepat~ memakai baju yang lebih bagusss~”

In Ga memegang tangan Tojaya dengan eratnya dan makin erat

       Tojaya : “Er…..”

       In Ga : “Mana yang sakit???? Ini?ini? ini? Atau ini????”

       Tojaya : “Nggg……arr…… su..sudah sembuh…t-tak apa….”

          Nusa : “ EHEM uhuk uhuk”

       Tojaya : “AAaah! M-maaf menyela kami harus pulang”

Tojaya pun dengan segera menepis tangan In Ga kemudian cepat cepat berdiri

       In Ga : “Secepat itu????? Janjilah kau akan datang lagii…”

       Tojaya : “Ng….. kulihat nanti ya….”

Nenek : “Ayo In Ga jangan menganggu mereka, mereka harus pulang” In Ga : “Aku hanya ingin mengantar mereka sampai pintu depan kok!”

Nusa : “iya nek, tak masalah, Tojaya juga saama senangnya dengan In Ga”

In Ga melirik dengan antusias ke arahTojaya

         In Ga : “Benarkahhhhh????”

      Tojaya : “Ng……ah…y-ya… suatu kehormatan…”

Tojaya pun langsung melotot kesal ke arah Nusa, dan Nusa hanya balas tertawa mengejek.

Namun dengan tak berniat membuang banyak waktu lagi, Berjalanlah mereka semua ke arah pintu keluar

      In Ga : “Janji datang lagi lohhhh!!! Aku menunggumu!”

     Tojaya : “Ng…..y-ya..kapan kapan…”

     Nusa : “Tenang saja ,dia tidak akan lupa janjinya kok”

Tojaya menginjak kaki Nusa dengan kencang

        Nusa : “AWWW !!”

Tojaya : “Kakakku suka bicara seenaknya haha…… mari. Kami permisi dulu..terima kasih

suguhan nya”

        Nenek : “Tidak apa apa, nenek senang dapat tamu”

        In Ga : “Daaaah~”

Tojaya dan Nusa mulai berjalan ke arah keluar hutan dan membelakangi In Ga serta neneknya

       Nenek : “Nusa,Tojaya”

Nusa dan Tojaya menengok ke arah si nenek

       Nusa : “Ada apa nek?”

Nenek : “ ‘Saat kau bertambah usia nanti, kau akan bertemu dengan banyak orang. Banyak diantaranya yang tadinya orang orang baik lalu lingkungan menghancurkan kebanggaan mereka hingga ke taraf tidak lagi bisa mempertahankan kebaikan yang tersisa pada dirinya’ “

Nenek tadi terdiam sebentar memastikan Nusa dan Tojaya selesai mencerna perkataannya dan kemudian sang nenek kembali melanjutkan omongannya.

          Nenek :  “Nusa.. Tojaya.. aku berdoa.. semoga kalian tidak kehilangan cahaya”

Nusa mengerutkan alis, dan Tojaya mengusap dagu tanda berpikir, In Ga memperhatikan wajah ’yang katanya tampan’ Tojaya

         Nusa : “Kenapa tiba-tiba berbicara begitu ?”

  Nenek : “Pesan dari kakak laki laki nenek yang hobi merantau itu ‘jika datang 2 putra tuan

  Rhanggah sampaikan kalimat itu pada mereka’

         Nusa : “Ah….”

         Tojaya : “Terima kasih atas pesannya nek”

Tojaya menunduk dalam. memberi hormat pada sang nenek di hadapannya, In Ga tersenyum senang melihat Tojaya sebagai pria seumurannya yang kelihatannya sangat mengerti sopan santun, wajahnya kembali memerah.

          Nenek : “Sama-sama nak”

          In Ga : “Putra tuan Rhanggah…..?”

Nusa dan Tojaya mengucapkan salam perpisahan dan kembali melanjutkan perjalanan

Sementara Nenek dan In Ga pun berjalan masuk ke dalam rumah

        In Ga : “Mereka putra tuan Rhanggah nek?????”

        Nenek : “Haha baru tahu, In Ga?”

        In Ga : “Uwoooo  hebaat!!”

       Nenek : “Kendalikan rasa senangmu, In Ga”

        In Ga : “Yaya nek aku tahu…aku tahu….hmm….kalau apa kata kakek benar…maka aku    turut berduka cita atas masa   depan mereka kelak”

Nenek : “Hush In Ga! Hati hati kalau bicara.”

In Ga : “yaya…aku tahu, aku tahu….”

 

 

***

 

 

Di jalan setapak menuju keluar Hutan,

Nusa dan Tojaya untuk beberapa saat sama-sama terdiam seolah keduanya masih kerap terhanyut dalam ucapan nenek tadi

      Tojaya : “Aku tidak percaya….”

      Nusa : “Apanya?”

Tojaya : “Kakak nenek itu benar benar peramal! Seandainya dia tidak sedang merantau.. kita bisa bertemu dengannya langsung! Bukankah itu hebat???”

       Nusa : “Jadi kau ini percaya atau tidak kakak nenek itu peramal?”

       Tojaya : “A-Aku tidak percaya ,ng maksudku aku percaya nggg maksudnya…”

  Nusa : “Sudah sudah, kau tidak lulus pelajaran bahasa! Ngomong saja berbelit belit. Sana belajar berpujangga dengan In    Ga. Ha ha ha”

 

Tojaya kembali menggerutu kesal, ia tahu Nusa akan mendapat bahan ledekan baru untuk seumur hidupnya

        Tojaya : “Ngomong ngomong Nusa….”

        Nusa : “Apa?”

        Tojaya : “Kau memang mau Tanya apa pada si peramal?”

        Nusa : “Hmm…”

        Tojaya : “Aku tidak boleh tahu?”

        Nusa : “Ngga juga. Kau boleh tau”

        Tojaya :  “Nah apa kalau gitu?”

         Nusa : “Apa manusia bisa hidup tanpa kekerasan”

        Tojaya : “Eh…..?”

        Nusa : “Lihat Tojaya , gerbang keluar hutan sudah terlihat “

Nusa menunjuk gerbang keluar yang sudah berjarak sangat dekat dari pandangan mereka. Bukan hanya gerbang yang terlihat. Sekumpulan orang orang berpakaian penjaga juga disana, ada yang berdiri menunggu dan ada yang mondar mandir mencari atau baru kembali dari pencarian

       Nusa : “Ahh…. Jemputan kita….”

 Tojaya : “Uhk…. Bukan jemputan biasa….. itu orang orang pengawal khusus …… sepertinya

 orang suruhan ayah langsung”

      Nusa : “Artinya, setelah ini ayah akan marah”

       Tojaya : “Uhggh……..”

 

 

***

    Di kediaman utama,

Hawa ruangan terasa berat, di ruangan yang biasa dipakai untuk rapat besar kini terasa luas, bisa jadi karena di dalamnya hanya ada empat orang. Nusa,Tojaya, Tita dan tentu saja sang ayah, Rhanggah Amur.

Kedua anak itu terdiam, pandangan menusuk ayahnya membuat mereka tak berniat mengucapkan satu patah katapun. Namun dengan segera keheningan terpecah saat sang ayah mulai membuka mulut untuk bicara

           Rhanggah : “Nusa, baca halaman 4 nomor 5”

Rhanggah melempar buku kecil berisi peraturan tepat disebelah kaki Nusa.

Dan anak itu pun menurut, kemudian dengan sedikit gugup ia mengambil buku kecil yang  dilemparkan

          Nusa : “B-Baik..”

Tojaya melirik ke arah ayahnya dilanjutkan ke arah Nusa yang berada disebelahnya

          Nusa : “Peraturan nomor 5, dilarang keluar rumah utama tanpa izin pihak yang berwenang”

          Rhanggah : “Lanjutkan baca yang nomor 6”

    Nusa : “…peraturan nomor 6, dilarang memasuki daerah yang dilabel tidak boleh  dimasuki..”

          Rhanggah : “Sebutkan berapa jumlah peraturan yang kalian langgar”

    Nusa : “ng tapi……tapi dengar dulu yah! Aku dapat berita menarik! Hutan itu tidak berbahaya! Peramal di hutan itu    berkata dan berpesan pada kami ! kami sudah ditakdirkan untuk ke hutan itu!”

    Rhanggah : “Berapa jumlah peraturan yang kalian langgar”

    Nusa : “Ayah dengar! Ini hal yang lebih besar dari melanggar aturan.. ini …ini tentang..ng…t- takdir..”

         Rhanggah : “Takdir? Apa takdir orang orang adalah untuk melanggar peraturan?”

         Nusa : ”Ng.. secara teknis.. takdir bukan sesuatu yang kita ketahui secara pasti……kadang…”

Rhanggah : “Cukup. Ada waktunya kalau kau mau belajar soal keyakinan, dan bukan sekarang.”

      Nusa : “Ayah!”

      Rhanggah : “CUKUP!”

Nusa ,Tojaya dan Tita tersentak kaget. Tita kemudian menggelengkan kepalanya dan  mengusap keringat di dahi sementara Tojaya menepuk pundak Nusa, kode untuk jangan melawan ayah mereka lebih jauh

Rhanggah : “Melanggar 2 peraturan berarti 2 hukuman. Tita akan menjelaskan rincian hukuman, dan kau Nusa, karena kau dalang nya, hukumanmu 4 kali lipat”

      Nusa : “A-Apa? Tunggu ini tidak adil!”

      ??? : “Itu adil”

Suara yang mereka semua tak asing lagi terdengar dari balik pintu depan yang dibuka oleh seorang anak dengan tinggi tak jauh berbeda dari Nusa dan Tojaya

      Nusa : “Hisa…”

Mahisa, atau sering disebut Hisa oleh saudara-saudaranya, putra kedua Tuan Rhanggah. Adik Nusa dan Kakak Tojaya

Hisa : “Halaman 9 nomor 1. ‘dalang pelanggar peraturan mendapat hukuman 2 kali lipat lebih banyak’ untuk kasusmu kak karena melanggar 2 peraturan.. total 4 kali lipat”

     Nusa : “Aku bisa berhitung ,Hisa. Tak perlu kau ingatkan”

     Hisa : “Oh tapi sepertinya kau agak kurang bisa menghafal peraturan yang sudah tertera.”

     Nusa : “hhh…”

     Tojaya : “Nusa..Nusa..sudah..”

Tojaya menahan Nusa agar tak terbakar amarah yang mulai diperlihatkannya ke permukaan

      Hisa : “Ayah, aku kesini ingin menyerahkan laporan yang ayah minta.”

     Rhanggah : “Baik. Serahkan pada Tita laporannya, Hisa”

Hisa mengangguk, lalu berjalan ke arah Tita, memberikan berkas laporan. Nusa yang tak jauh dari mana Hisa berada kemudian berbisik kepada Tojaya       

     Nusa : “Lihat Tojaya, itu si anak teladan pamer keteladanannya lagi..”

    Tojaya : “Ngg…Nusa….lebih baik jangan cari masalah lagi”

     Hisa : “Aku bisa mendengarmu ,kak.”

Hisa berjalan kembali menuju pintu dibelakang Nusa dan Tojaya

     Nusa : “Aku tahu. Terakhir kali kulihat kau masih punya kuping,Hisa”

     Tojaya : “Nnnnusssssaa…..sudahlah…..”

     Rhanggah : “Cukup Nusa. Pembicaraan selesai, kembali ke kegiatan kalian masing masing.”

     Nusa : “Tunggu!”

Nusa berjalan maju lebih depan mendekati ayahnya, sementara  Tojaya, Hisa dan Tita melihat dari kejauhan apa yang ingin dikatakan oleh si anak yang hobi melanggar peraturan itu.

    Nusa : “Ayah tidak penasaran tentang pesan peramal itu?”

   Rhanggah : “Kau tidak mendengarkan perkataanku Nusa? terakhir kali kulihat kau masih punya kuping”

   Nusa : “E---erh………”

 

***

 

 

Di luar ruangan rapat besar, Tita mendeskripsikan hukuman yang harus dijalani Nusa dan Tojaya

      Nusa : “Persiapkan dirimu, Tojaya. Sebentar lagi Tita akan bertitah, huahaha”

      Tojaya : “Tita bertitah? Pfft..hahaha.”

    Tita : “'Ha ha' ya..ya..lucu sekali. Silahkan tertawa selagi kalian bisa. Apa bisa kumulai”

    Nusa : “Mungkin kita harus berbicara sambil ngemil……misalnya TAPE. HAHAHA”

    Tita : “Hah.. dengar pangeran muda, aku bisa merekomendasi pelajaran etika tambahan khusus untukmu pada Tuan    Rhanggah”

    Nusa : “Hei ! penyalahgunaan kekuasaan!”

    Tita : “Tidak, jika anda terus menyepelekan peraturan dan orang yang lebih tua”

    Nusa : “Ughh..”

    Hisa : “Ya lebih baik jangan memperpanjang masalah, kak”

    Nusa : “Sejak kapan kau disitu Hisa?”

      Hisa : “Dari tadi aku disini, duduk ,membaca.”

      Nusa : “Apa tidak ada tempat yang lebih bagus dari disini, melihat kami dihukum itu tontonan menarik untukmu kan”

      Hisa : “Tidak juga. Sudah terlalu sering aku melihat kau dihukum Nusa. Hmm coba kulihat di buku peraturan….aah yaa…..    peraturan yang belum kau langgar ada di 3 halaman pertama dan 5 halaman terakhir.”

     Nusa : “Hei Tita ! rekomendasikan Hisa untuk pelajaran etika tambahan! Dia menyepelekan kakaknya sendiri !”

Tojaya membuka buku kecil peraturan miliknya

   Tojaya : “Ngg…. Nggak juga sih.. yang dikatakan Hisa itu fakta..peraturan yang belum kau langgar itu ada di 3 halaman per….”

Nusa mengambil buku yang sedang dibaca Tojaya

    Nusa : “Hei ! kau dipihak siapa sih!”

     Tojaya : “E-eh…..?aku harus berpihak….?”

Tita : “Sudah-sudah hentikan kalian bertiga! waktu kita sudah habis terlalu banyak, Tojaya, hukumanmu mengerjakan pekerjaan resume pelajaran 3 minggu lalu dan kedua renungkan kesalahanmu dan tulis dalam laporan 2000 kata, Nusa,hukumanmu sama hanya menjadi 2 kali lipat lebih banyak. Jika ada pertanyaan ajukan sekarang, jika tidak.. silahkan kalian ke ruang hukuman.”

 

                        .                        .

…..

…….

                                                                                                        ==================

=============================  MASA KINI  ==============================

                                                                    ======================

 

 

 

Pemuda berjaket lusuh dengan topi merah tadi yang memisahkan diri dari keramaian, dengan beralaskan koran ia duduk di pinggiran toko buah yang sudah tutup. Tak sengaja ia menyenggol sesuatu di balik palang toko itu, buah apel...

Pasti terjatuh saat penjual buah toko ini sedang berjualan pada siang hari pikirnya.tentu ini seperti keberuntungan kecil saat perutnya sedang dilanda kelaparan.Dan Tanpa berpikir dua kali, ia pun mengambil buah apel itu lalu mengusapkan ke bajunya untuk membersihkannya dari tanah tanah yang menempel.

Sedetik sebelum ia menggigit potongan pertama, 3 berandalan berdiri tepat di depannya.

Berandalan 1 : “Hei..hei..hei... kau duduk di wilayah kekuasaan kami, apa yang bisa kau tawarkan untuk menebus kesalahanmu eh?”

       ??? : ‘Krauk’

Pemuda bertopi merah itu memakan apel temuannya tadi dengan santainya, tidak mempedulikan ketiga orang sangar yang berada di depannya

Perbuatannya membuat salah satu dari ketiga berandalan tersebut menarik jaket pemuda bertopi merah itu

          Berandalan 1 :  “KAU BELUM TAU SIAPA KAMI HAH?!”

Teriakkan berandalan itu membuat orang orang disekitarnya menengok ke arah mereka, tapi tak ada satupun yang mencoba menghentikannya. untuk bertahan hidup dengan mencari makanan saja sudah sulit, mereka tak mau menambah nambah masalah dengan berurusan pada hal macam itu

       ??? : “Aku tak punya apapun untuk membayarmu”

      Berandalan : “Bah! kalau begitu aku ambil topimu ini !”

Salah satu dari ketiga berandalan itu melepas paksa topi merah si pemuda

      Berandalan 2 : “Dan apel ini! hahaaha“

teman berandalan lainnya mengambil apel yang sedang dipegang si pemuda

Berandalan 3 : “Hari ini kau dimaafkan, lain kali jangan berani beraninya kemari lagi hei dengar kau? Ini wilayah tongkrongan kami”

Si berandalan yang berpostur paling besar itu menendang perut si pemuda tadi dengan lututnya

       ??? : “Ugh..!”

Si pemuda jatuh tersungkur sambil menahan rasa sakit yang baru saja dialaminya

      Berandalan 3 : “Biar rasa sakit itu jadi pengingat untukmu”

ketiga berandalan itu pergi

dan setelah mereka menjauh, seorang pria paruh baya dengan terbata bata mendekati si pemuda yang tidak lagi dengan topi merah berciri khasnya

      Pria : “K-kau tak apa apa nak? sepertinya sakit...”

Si pemuda berusaha memperoleh kembali keseimbangan tubuhnya, ia mencoba berdiri, pria paruh baya itu membantunya

      ??? :  “Tidak... tidak begitu sakit... tenang saja"

      Pria : “Astaga.. tak kusangka kau masih muda sekali,nak...oh! aku Adje. sudah bertahun tahun aku tinggal disini, namamu siapa nak?”

     ??? : “.....sa..”

     Adje : “ya?”

     ??? : “Nu..sa...”

     Adje : ”Nusa? baiklah Nusa, aku punya tempat tinggal dekat sini..kau mau ikut? percayalah kau tak mau berurusan dengan ke 3 berandalan itu dengan duduk disini lebih lama lagi”

Nusa mengangguk kecil, ia tak peduli apapun lagi kecuali tempat untuk menghangatkan tubuhnya yang menggigil kedinginan.

 

---o0o---

 

Read previous post:  
Read next post:  
80

Mantep loh, APPLAUSE........

100

masih bisa dirapihin biar lebih enak dimata, segi ceritanya bagus nih, sepertinya menyimpan kejutan-kejutan di bab selanjutnya

wah makasih,, yep twist masih banyak,, ditunggu lanjutannya ya xd

80

Ga rugi udah baca panjang panjang, ngena banget ceritanya, funny yet tragic. Recomended read nih

sip. makasih xD

cerita yang hebat dan mendidik si pembaca juga

Harga Alat Terapi Kesehatan | Harga Timbangan Badan

makasih udh mampir dan baca xD