Ter... Tu... Kar?! - Part 1

Pesan sebelum membaca: Bacalah di ruangan yang terang dan jarak pandang yang aman dari monitor atau gadget anda.

 

“haaaah... cantiknya... tapi... dia benar-benar diluar jangkauanku.”

Itulah kata-kata yang selalu terbesit dalam kepalaku setiap kali aku melihat Bella, gadis pujaanku. Namun, Bella bukan hanya menjadi pujaanku seorang, tapi hampir semua cowok di sekolahku. Bahkan sampai mereka yang masih tergolong adik kelaskupun silih berganti menyatakan cintanya ke Bella, walau tak ada satupun cowok yang pernah diterima cintanya. Bella selalu menolaknya dengan berbagai alasan.

“Oii... Tito, lu kalo jalan cepetan... jangan bikin lama jalannya kelompok kita!” Teriak Tasya sambil melambai-lambaikan tongkat yang dipegangnyanya.

“Ha... oh, iya... iya.” Teriakan Tasyapun segera membuyarkan lamunanku. Dengan segera aku berlari-lari kecil mengejar rombongan kemah kelompokku.

Yah hari ini merupakan hari terakhir kemah liburan semester yang selalu diselengarakan sekolahku untuk melepas lelah siswa kelas 3 sebelum menghadapi semester terakhir mereka di sekolah. Sebenarnya pada kemah liburan ini akupun berencana untuk menyatakan cintaku juga ke Bella, namun setiap kali ada kesempatan, aku selalu saja terlalu gugup untuk mengatakannya.

Haaah... Tasya... Tasya... kenapa kau ganggu kenikmatanku ngelamunin Bella. Yah… tapi, walaupun begitu, aku juga banyak berterima kasih juga sama Tasya, karena dia cukup baik sebagai pemimpin kelompokku, walaupun kelakuannya tergolong kasar untuk cewek. Bahkan tak segan-segan memanggil jan**k ke anggota kelompok yang berperilaku nggak bener.

Perjalanan kelompok kami akhirnya sampai di rute yang cukup berbahaya. Sebelah kiri jalan setapak yang kami lalui adalah jurang yang cukup dalam bagiku, kedalaman jurangnya mungkin seperti dari lantai 5 bangunan. Tapi ini adalah satu-satunya jalan untuk menuju tempat dimana bis yang akan mengantarkan kami kembali ke sekolah kami terparkir.

“Kalian semua! Hati-hati… jalannya agak licin,” kata Tasya mengingatkan anggota kelompoknya.

Tapi, dasar memang lagi apes. Walaupun sudah diperingatkan, sepatuku yang selip tidak bisa diajak kompromi. Sehingga aku terpeleset dan jatuh ke jurang. “Hwaaaaa…”

Dengan cepat Tasya sedikit menuruni curamnya jurang dengan masih berpegang pada akar pohon yang muncul cukup besar dari permukaan, dan segera mengulurkan tongkat yang dipegangnya. Untung saja uluran tongkat itu masih tertangkap olehku, walau kakiku sudah tidak berpijak pada apapun.

“To… pegangan yang kuat… oooi, semua tarikin gue,” perintah Tasya ke aku dan teman-teman sekelompok lainnya.

Tapi, nasib sial kembali menerpa. Akar yang dipakai Tasya untuk berpegangan terlalu rapuh dan kemudian patah. Sehingga aku dan Tasya terjatuh ke dalam Jurang. “Hwaaaaa….” Dan saat sampai dasar jurang kepalaku membentur dasar jurang terlebih dahulu yang membuatku tak sadarkan diri.

 ***

Akupun mulai sadar, walau pengelihatan masih sedikit samar-samar. Namun bisa kurasakan kalau posisiku sedang duduk di sebuah bangku yang sedikit empuk. Serta kudengar suara seperti hingar-bingar anak-anak lain yang sedang berbincang-bincang serta suara bis yang sedang melaju. Ah… sudah di bis ya… syukurlah aku rupanya masih hidup.

“Ah… udah bangun ya,” suara yang tidak asing sekali bagiku, tapi… siapa ya?

Aku coba untuk menengok siapa yang sudah menyadari aku bangun itu. Betapa terkejutnya aku ketika yang duduk bersebelahan dengan aku adalah Bella, Cewek yang selama ini diidam-idamkan hampir semua cowok di sekolah, sampai-sampai aku terperanjat dari tempat dudukku dan secara reflek memegang dadaku. “Hee… empuk?” Kata itu muncul dalam pikiranku saat secara tak sengaja tanganku memegang dadaku. Langsung saja aku melihat tubuhku, akupun kembali terkejut karena aku tidak mengenakan jaket jumper hitam dengan gambar perisai kapten amerika. Melainkan kaos hijau dengan lengan kuning, lebih-lebih lagi ada sesuatu yang menonjol di dadaku, yaitu sesuatu yang kupegang empuk tadi.

“Ada apa Sya?” Bella bertanya dengan melihatku.

“Hee… Sya?” kataku pelan.

“Iya… kamu kenapa Tasya?” Bella kembali menayaiku.

Tasya?! Kenapa Bella manggil aku Tasya? Jangan-jangan aku tertukar jiwanya dengan Tasya. Aku berusahaha tenang karena berpikir jika Bella hanya bergurau. Apalagi bertukar jiwa rasanya itu cuman dalam cerita fiksi-fiksi saja. Namun perasaanku ini seperti tak mau tenang. Aku ingat di Toilet Bis ada cerminnya.

“Ahh… gapapa Bell… cuman mau ke Toilet bentar,” Sambil menjawab pertanyaan Bella sekaligus aku berpamitan untuk ke toilet bis.

Di dalam toilet lagi-lagi aku kembali benar-benar terkejut ketika kulihat di cermin jika wajahku benar-benar wajahnya Tasya. “Ka… kalau begitu yang dibawah ini…” kataku pelan sambil meraba bagian bawah dengan penuh rasa takut.

“AAAAA… NGGAK ADA! Stik analog gue ilang!” Teriakku dalam hati. Dengan segera pula aku tarik tanganku dari tempat seharusnya Stik analog-ku berada.

Dengan terhunyung-hunyung lemas. Aku keluar dari Toilet, berjalan kembali ke bangku di sebelahnya Bella.

“Kenapa kamu Sya? Masih ga enak badan?” Tanya Bella yang kelihatannya sedikit kebingungan karena melihatku lemas setelah keluar dari Toilet.

“Ahh… gapapa kok Bell, cuman lelah doing mungkin,” yah itu mungkin kata-kata yang ku ucapkan ke Bella. Tapi hati ini berteriak, “Aaaaagh… padahal sudah pada jarak sedekat ini tapi kenapa aku jadi cewek tulen! Bener-bener kesempatan emas bisa duduk sebelahan sama Bella di bis, tapi… kenapa gue jadi cewek!”

Di tengah kegalauan hatiku yang sedang memuncak. Tiba-tiba ada suara seperti angry birds yang sedang ditembakkan dari dalam tas ransel yang ada di bawah bangkuku.

“Ada SMS tuh Sya…” kata Bella ketika mendengar suara angry birds itu.

Agak imut juga nih anak nada SMS masuknya pake suara angry birds. Akupun segera membuka bagian saku ransel dimana suara itu berasal. Dan benar di dalamnya ada handphone milik Tasya. Kubuka saja sms yang masuk itu, walau dalam hati aku nggak enak juga, karena bagaimanapun ini bukan benda milikku. Kulihat nomor pengirim SMSnya adalah nomor Handphoneku. Kubuka saja kemudian SMSnya.

Hei, ni tito y!

Ni gue tasya, n gw ad d dlm tbh.u!

Ntar klo dah smpe skul temui gw dlo!

Bhas lnjutx d skul aj

N jngn apa2in tubuh gw n cwe2 lain!

Klo mcem2 gw tenggelamin lo d kenjeran!

(terjemahan untuk yang tidak mengerti bahasa SMSnya:

Hei, ini Tito ya!

Ini gue Tasya, dan gue ada di dalam tubuhmu!

Nanti kalau sudah sampai sekolah temui gue dulu!

Bahas lanjutannya di sekolah saja

Dan jangan apa-apain tubuh gue dan cewek-cewek yang lain!

Kalau macem-macem gue tenggelamin lo di Kenjeran!)

Apa! Betapa kagetnya aku ketika melihat SMS itu, jadi aku benar-benar bertukar tubuh. Dan itu benar-benar aku alami. Sekarang aku ada di dalam tubuh Tasya dan Tasya sekarang ada di dalam tubuhku.

“SMS dari siapa Sya?” Karena penasaran Bella berusaha mengintip Handphone yang aku pegang. Tapi dengan cepat aku menarik handphonenya agar tidak terlihat oleh Bella.

“Ah… bukan siapa-siapa, cuman SMS penipuan mama minta pulsa itu loh…” jawabku sekenanya.

“Ohh…” jawab Bella yang sepertinya percaya dengan jawabanku itu.

Ah… betapa menyedihkannya perjalanan pulang kemah liburanku ini.

Setelah itu untuk menyembunyikan bahwa sebenarnya aku adalah cowok. Selama perjalanan kembali ke sekolah aku berusaha mengurangi segala komunikasi dengan anak-anak lain, demi merahasiakan kondisiku ini.

***

Bispun akhirnya sampai di halaman sekolah. Dan langsung saja ketika aku turun dari bis, aku segera mencari Tasya yang sekarang dalam tubuhku.

“Oii sini… ikut gue.” Tiba-tiba ada tangan yang menarikku.

Langsung saja aku berbalik dan kulihat itu adalah tubuhku. Rasanya aneh sekali perasaanku ini saat aku di tarik oleh tubuhku. Benar-benar kondisi yang di luar akal sehat.

Aku ditarik oleh Tasya sampai di belakang toilet sekolah yang jarang ada pemakainya.

“Anu… Sya… kenapa gue lo bawa kemari?”

“Goblok ya lu To! Kalo di sembarang tempat bakalan heboh ni keadaan, bakal masuk berita dan sebagainya lah,” jawab Tasya dengan terengah-engah.

“Emang kenapa kalo masuk berita?”

“Goblok parah lu To, kalau sampai beritanya ke mana-mana, kehidupan kita ga bakal bisa normal lagi, seumpama kita bisa balik,” jawab Tasya

“Emangnya lo ga pingin punya kesempatan deketin Bella To?” Tambahnya.

“Lho?! Kok lo tau?” Aku kebingungan bagaimana bisa Tasya mengetahui jika aku menyukai Bella.

“Haehh… payah lu,” tanpa babibu lagi Tasya mengeluarkan Handphoneku, dan aku tahu dia akan membuka semua foto Bella yang diam-diam kuambil dari jarak kejauhan.

“Aaaa…… jangan dibuka-buka,” entah kenapa betapa malunya diriku sampai keubun-ubun rasanya.

“Tuh, sekitar 150an fotonya Bella, segitu ngefansnya ya kamu, stalker payah,” ledek Tasya.

“Hentikaaaan,” aku sampai memelas memohonnya.

“Ga hanya itu, ada 70an lebih judul bokep di hapemu, pasti lu puas banget bayangin Bellanya,” serasa kejatuhan kerbau yang terjun bebas dari langit, ketika Tasya mengumbar isi handphoneku, walaupun cuman ada aku dan Tasya saja di tempat ini.

“Udah-udah, pliss, sekarang emang mau gimana kita? Kata lo tadi mo bahas ni kelanjutan nasib kita,” kataku untuk mencegah Tasya melakukan hal yang lebih dengan file-file pribadiku itu.

“Ohh… iya ampe lupa tujuan gue kesini, sekarang coba kita ingat-ingat. Kira-kira bagaimana caranya kita bisa bertukar tubuh seperti ini,” sambil di masukkannya handphoneku ke saku jaket jumper hitam kapten amerikaku.

“Hmm… kalo dipikir-pikir dari tadi pagi sampai siangan ga ada masalah apa-apa tuh. Ah… jangan-jangan gara-gara kita terjatuh ke jurang itukan! Tadi lu waktu sadar dah dimana?”

“Bis, di sebelahnya Si Tedi Tongos,” Jawab Tasya dengan cepat.

“Beneran nih kayaknya gara-gara kita jatuh ke jurang tadi siang, soalnya kita ga sadar setelah jatuh dari jurang sampe di bis,” kataku dengan rasa penuh putus asa yang sangat dalam.

“Oh... kalau gitu kita coba saja terjun dengan ketinggian yang sama apa kita bisa bertukar lagi!” Tasya nyletuk dengan ide yang sangat gila bagiku, tentu saja aku menolaknya, “Kagaaak, emangnya lu inget betapa tinggi banget kita tadi jatuhnya, kalo jatuh lagi ga ada jaminan kita bakal balik dan tetep hidup.”

“Terus... lo mau gimana? Ga ada jalan keluar ini! Ga bisa balikin ke normal! Ga bisa ngomong ke orang lain! Ga ada solusi lain, lo mau kita gimana?” Entah kenapa Tasya yang sebelumnya kelihatan sedikit ceria dengan asal nyletuknya tadi berubah menjadi seperti ketakutan dan tertunduk dengan nada marah dia keluarkan kata-katanya barusan. Hal itu membuatku serba salah, mengingat siang tadi akulah yang terjatuh ke jurang pada awalnya, dan Tasya berusaha menolongku, tapi malah berakhir dengan tertukarnya jiwa kami. Aku serasa diskakmat oleh Tasya. Sesaat suasana di antara kami berduapun menjadi hening tanpa sepatah kata yang bisa kami ucapkan.

Tapi aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya, Tasya seperti makhluk yang tak terduga. Sebentar saja dia bisa berubah situasi perasaannya, dari yang terlihat ceria menjadi takut. Membuat aku seperti tidak tahu bagaimana sebenarnya Tasya itu.

Tasya menghadapkan wajahnya kelangit sembari menghirup nafas dalam-dalam dan melepasnya. “Yasudah gini aja, untuk sementara gue bakal hidup sebagai lo, dan lo bakal hidup sebagai gue,” Tasya kembali menawarkan solusi. Dan kali ini kulihat dari raut wajahnya dia sangat serius dengan perkataanya itu.

“Baiklah sepertinya emang ga ada jalan lain, oke gue setuju,” akupun menyetujuinya. Aku menyetujui demi menghidari keheningan lama lagi seperti sebelumnya.

“ Kalau begitu To, sekarang lo ikut gue!” perintah Tasya sambil menarik tanganku.

“Hee... kemana?”

“Ke Toilet sebelah bentar.”

Reflek saja aku berusaha berontak dari tarikan tangan Tasya, “Ngapain! Gila Lo ya! Ngaco banget!”

“Emangnya lo tahu berbagai macam yang harus lo lakuin kalau jadi cewek!”

“Ah... iya sih... tapi jangan lo apa-apain ya.”

“Tenang aja, itu kan tubuh gue, mana mungkin gue macem-macem! Gue juga maunya kalo dah nikah juga kali!”

 

Bersambung......

 

 

Ekstra: “Tasya side”

“Brrrrrrrm……..”

Suara itu, seperti suara bis yang sedang berjalan. Dan aku sendiripun juga merasa ada dalam kendaraan besar itu. Sepertinya aku masih selamat setelah jatuh ke jurang tadi. Akupun jadi penasaran, apa yang terjadi dengan Tito? Apakah dia selamat? Rasanya jadi serba salah sebagai pemimpin kelompok, jika ada anggotanya yang kecelakaan.

“Oh… dah sadar lo?” Tiba-tiba ada suara cowok berasal dari sebelah kananku. Karena penasaran kucoba untuk melihatnya.

“BUSEEEET! SETAN TONGOS! C*K!” Umpatku karena kaget melihat sosok Tedi, Si Tongos yang terkenal satu sekolah karena pukulannya yang sangat sakit, sekarang dia duduk di sebelahku. Namun bukan itu saja yang saat itu membuatku kaget, melainkan suara yang kukeluarkan juga menjadi lebih berat, menjadi seperti suara cowok.

“Ngajak berantem lu To… baru bangun dah ngejek!” Balas Tedi dengan mengarahkan kepalan tangannya ke aku.

“  Ahh… anu itu,” aku bingung harus beralasan apa supaya bisa menghindari kondisi ini dan alasan menghidari pukulannya. “Ahh… anu sorry Ted… Gue kebelet kencing jadi agak ngelantur,” asal ceplos saja sudah, apapun yang ada di pikiranku. Dan yang terbesit saat ini adalah kencing, walaupun alasan yang sangat ngga masuk akal untuk tidak sengaja mengejek karena kebelet kencing.

“Ah… gitu… ya udahlah, sana lo To!” Kata Tedi, yang sepertinya percaya dengan alasan aneh yang kubuat. Dalam hati aku tertawa karena tidak percaya apa yang terjadi. Bisa-bisanya Si Tedi percaya dengan alasan itu.

“Yaudah gue ke toilet dulu,” ucapku ke Tedi. Sambil jalan ke toilet bis di belakang. Aku bingung kenapa Tedi memanggilku To. Walau begitu akupun tetap ke toilet dan akan kencing beneran.

Di dalam toilet saat aku menurunkan celanaku. Aku kaget karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di bagian bawah, dengan segera pula aku menaikan celana. Dalam hati aku berkata, “Barusan aku melihat sesuatu yang sangat horror.” Akupun menoleh ke cermin yang ada di dalam toilet bis itu. lebih terkejut lagi karena sekarang wajahku adalah wajahnya Tito. “Jadi beneran, Si Tedi tadi ngira gue Si Tito, dan beneran yang di bawah barusan tadi kulihat adalah meriam neo armstong cyclone jet armstong.”

    -Tasya Side  End-

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer akuma89
akuma89 at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 18 weeks ago)
90

Menarik ceritanya.
Dialog nya gak kaku.
Good.
Ganbatte

Writer yummy2
yummy2 at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 23 weeks ago)
70

Ditunggu lanjutannya.

Writer fibifa
fibifa at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 24 weeks ago)

Ceritanya lumayan menarik, tapi ini ada kelanjutan part 2 nya tidak ?

Writer lost_boy
lost_boy at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 19 weeks ago)

ada kok cuman agak lama aja...

selain karena sibuk... yah... rada susah ngembangin gitu dah

Writer The Smoker
The Smoker at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 24 weeks ago)
60

itu yg di awal maksudnya cantik ya?
ceritanya tentang ketuker body gitu, kan?
belum sampe akhir bacanya sii. penasarannya keburu ilang. coba dilebihin lagi pengeksekusian.idenya. cara penyampaiannya. saya juga gak tau sii. baru belajar juga. maaf kalo nggak berkenan.
.
salam.

Writer lost_boy
lost_boy at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 19 weeks ago)

haha iya... kebiasaan kalo baca ulangnya lewat hape... jadinya ga begitu kelihatan... thanks koreksinya

Writer vinegar
vinegar at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 24 weeks ago)
40

Yaaah..baru mulai baca udah ada typonya.. turndown deh

Writer lost_boy
lost_boy at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 24 weeks ago)

hmm kalau typonya masalah besar kecil atau penggunaan bahasa yang lain, akan aku usahain dulu dah

makasih...

Writer duvernoy
duvernoy at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 24 weeks ago)
50

Ehm... Untuk temanya sy gg bisa comment karna udah lumayan sering baca yg ketuker" kaya gini, apalagi ini masih bersambung.. Ditunggu lanjutannya wkwk
Btw ini kok agak flat ya? Waktu jatuh ke jurang kurang kaget, kurang gimana gitu =0
Coba deh bayangin gimana klo km jatuh ke jurang; rasanya nggak sedatar itu narasinya. Trus wakrtu beneran ketuker itu nggak ada feel yg kudapet, kurang dieksplorasi gitu..
Udah gitu aja, maaf klo kurang berkenan, salken kaka ^^
Btw knp gambarmu tulisan api ya? Seberapa panas tubuhmu itu? Hohoho

Writer lost_boy
lost_boy at Ter... Tu... Kar?! - Part 1 (5 years 24 weeks ago)

hmm udah banyak ya... wkwk jarang baca-baca yang di sini-sini juga sih... hmm soal tema cerita sih sebenernya aku sendiri bikin banyak cerita (6 biji), tapi entah kenapa karena menurut aku sendiri tema ceritanya kurang orisinil gitu makanya ga pede... (walaupun yang ini juga kurang juga)

makasih dah masukannya...