Cutting Veins, Pt. 2 (END)

.

.

Sepulang sekolah, aku menelepon Earl. Alih-alih, ponselnya ditangguh ke nada tunggu. Berharap gegas bertemu, aku harus memberitahunya mengenai pengintaian malam itu. Kami berada dalam bahaya.

Berganti ke nomor cadangan Rex. Ia tak mengangkatnya.

Memainkan jemari, aku menggigit bibir, menutup ponsel, dan memutuskan mengambil langkah besar lewat gang belakang Leith Academy.

Citadel selalu punya penghuni, Chip biasanya yang paling kerasan tidur tidak memakai celana. Namun, kala itu Rex yang pertama kali kutemui, tengah buang kencing di foyer yang lebih mirip puing tsunami.

“Maaf untuk rencana membolos tadi siang. Aku terpaksa masuk kelas Mrs. Jones,” ujarku. Aku tak langsung masuk. Sejurus melongok, aku harus bertemu Earl.

Rex mendengus. “Kami sudah membongkar mobilnya tanpa dirimu. Ada pistol Luger di dalam sana.”

Luger.

Langkahku terhenti. Aku berusaha mengatur napas yang nyaris membabi-buta. Memikirkan malam yang tak mau raib dari benakku.

Rex merangsek masuk; aku mengejarnya. Dua langkah dari ventilasi masuk. Earl sudah berdandan bak Iggy Pop. Ia menanggalkan kemejanya, menyisakan korduroi biru. Mereka baru saja menggeledah Chevrolet milik Enzo, mobil yang menjadi proyek abadinya selama puluhan minggu. Chip mempreteli satu per satu ban depan, membongkar kompertemen dasbor. Dan Earl sukses mencungkil bagasi belakang, termasuk melongok ke kolong jok.

Luger keparat itu terkepelai di atas sofa. Chip menjelajahinya sembari tertawa-tawa. Mengusap magasinnya dengan kaus, bergaya sok menembak ke arah dinding. Siung. Seolah itu tontonan paling lucu di dunia.

“Kami menemukan Luger di dalam sana, Tip. Di dalam kompartemen dasbor. Apa kau mengenalnya?” Rex yang pertama kali bertanya. Aku menatap Earl. Cuping hidungku kembang-kempis.

“Aku tahu, kau mengenali benda ini,” ujarnya.

Satu hal tentang Luger itu, aku tahu soal jungurnya yang dingin. Menggigil ke di pipiku.

“I-itu milik Enzo,” ucapku. Aku tak tahu harus melirik ke arah mana. Chip yang mulanya tak peduli, beringsut berdiri di hadapanku.

Bollocks. Ia tahu lebih banyak dari itu, Earl,” Chip menyipit ke arahku. Kendalikan dirimu, Tip. 

“Ayolah, Tip. Kami enggan menyiksamu untuk sekadar berkata yang sejujurnya.” Earl berjalan satu langkah, tapi entah apa yang membuatku amat ketakutan. Seolah ada tabir sebesar piringan asing yang melayap di atas kami, menutupi celah-celah rompal dari para-para bangunan. Leherku dibanjiri keringat. Mengingat napas berbau tembakau yang berbisik di sisi telingaku.

“A-aku—” aku perlu sejurus untuk mereguk liur. Rex mengambil pistol Luger itu dari tangan Chip. “Tolong j-jangan tembak aku,” sergahku terbata-bata. Kedua tungkaiku kebas. Bersinjengket mundur, malah menginjak keliman celana.

Rex mendengus geli. “Tip, kau baik-baik saja?” Earl berjalan kian dekat.

“J-jangan tembak aku,” suaraku berubah menjadi rintihan, kugigit lidahku sekuat tenaga. Terjungkal dengan bokong mencium aspal. Earl berlari mendekatiku. Aku menarik kaki, terjajar mundur dengan kesepuluh jemari.

“Tip, hentikan itu. Kau tidak harus bersikap seperti ini.”

“Jangan sentuh aku! Tidak! Dasar homo!”

Jemari Earl berhenti. Terlalu sering ia diancam dengan kata ‘homo’, tapi kata itu tidak pernah meluncur dari bibirku. Bersirobok dengan matanya begitu nanar. Ia mendengus, seolah yang barusan itu adalah akting terburuk yang pernah dijumpainya.

Earl tidak berbicara, ia berbalik, sebagaimana aku hanya memerhatikan jinsnya yang kedodoran menjauh. Menyelomoti batang rokok apapun yang ia temukan di meja, sedang aku menyelisik isi tas yang berhamburan di aspal.

****

Kebohongan pertama yang paling kuingat agaknya ketika aku berumur tiga tahun. Mendiang ibuku bertanya, apa yang hendak kaulakukan saat besar nanti? Aku tidak menjawab, gigiku hanya membentang jadi satu deret singkat, tanganku meramban miniatur astronot itu.

Begitu naif. Aku ingin jadi astronot. Tapi jika sebuah pilihan (d) ada di kuisioner ruang konseling, aku akan mengisinya dengan kata: “pembohong”.

Cukup singkat. Dan pekerjaan itulah yang sejauh ini paling mumpuni kulakukan, menurut Enzo.

Jangan sangkut pautkan Earl. Anggap saja itu satu rekaman dari koleksi besar yang akan selalu kuputar jelang sesi perkenalan. Dan perkenalanku dengan Enzo bukan lantaran bokongnya yang salah terperenyak di bangku kantin.

Lantaran Enzo memergokiku dua hari sebelumnya, bersetelan kemeja dan berdasi biru. Berjalan tergial menanggapi telepon Earl sembari melewati Albert Street. Dan cuaca tidak cukup terik untuk udara Edinburgh yang lembap. Itu transasksi ketiga puluh Enzo yang berjalan nyaris tidak sesuai dengan rencana. Regulasinya mudah, Enzo perlu satu setengah tahun untuk meyakinkan si gempal keparat Barry untuk menyerahkan heroinnya untuk distributor yang lebih intim. Tak perlu uang muka, sekadar peluang konsinyasi.

Mereka menyebutnya Barry The Blow, seperti lelucon hari kemarin, yang mana ia bermain panggung kabaret dengan pistol dan deretan gigi emas. Bedanya, pistol itu asli dan gigi emasnya bukan sekadar saduran. Lumbungnya sebesar kamp konsentrasi, alih-alih, diisi padi, ia isi heroin dari negeri kincir angin.

Kala itu aku berdiri tegak-tegak; Enzo memasukkan bungkusan cokelat ke dalam ranselnya. Satu jabatan tangan hangat; aku gegas berbalik pura-pura buang kencing di trotoar.

Itu konyol. Jika tak tertangkap basah, pun celanaku akan basah terkena rembesan kencing.

Lima menit, kucoba mencuri dengar derap-derap di aspal. Malah disergap suara yang membikin merinding, “Nyalimu boleh juga, Mate.” Tepukan telak; aku buru-buru menarik ristleting celana. Shite.

“Er, i-iya? Aku tidak tahu apa yang kaumaksud barusan,” pungkasku.

Enzo mengendus. Tingkahku agaknya lucu di benaknya. Ia menyentuh daguku sekali, meniliknya ke kiri kanan seakan-akan jambangan antik di Grassmarket.

“Entalah. Kupikir, kau akan berguna di suatu hari nanti.”

Ia melepaskanku hari itu—aku lupa meletakkan tanda petik di kanan dan kiri. Sekadar sehari, sebelum Earl pulang membawa kabar sinting itu di hari Jumat. Tanpa perlu berselindung, ia tahu benar di mana aku akan terpenyak.

Dan setelah itu Enzo menjadikanku sebagai orangnya yang terpilih. Seperti Barry The Blow dan antek-anteknya yang mencuar nyaris tiga kaki dari jungur hidung. Aku mengikutinya ke mana-mana, tidak sepulang sekolah, bisnis hebat itu digelar malam hari, ketika lampu-lampu meredup dan jalan tak lagi bising.

Dan permainan kami dimulai. “Ingin mencoba?” Kedua kalinya Enzo bertanya, kala itu kami tengah duduk di patio belakang rumahnya, menghidu pipa madat. Malam di bulan keenam sejak insiden buang kencing gadungan.

Alisku berjungkit. Menilik pipa mutakhir ciptaannya, botol mineral bekas yang dibebat berbagai pita rekat.

“Transaksi besok adalah bagianmu. Siap menghadapi Barry?” Ia mengangsurkan pipa dan pemantiknya padaku.

“Tapi besok hari Jumat.” Aku menyesapnya sekali sembari menyulut api; terbatuk-batuk parah dengan mata memerah.

“Peraturan akan diubah, Tip.” Ia tertawa. “Rabu jatahku, Jumat akan menjadi ajang debut hebatmu.” Enzo membangun akademi transaksi itu tanpa sepengetahuan Earl, yang notabene tahu segala hal tentangnya.

Well, mari kita hadapi Barry keparat itu,” seruku. Kami tertawa semalaman. Dan jika ada yang perlu disalahkan, salahkan semuanya pada kanabis kelas tiga yang Enzo dapatkan cuma-cuma.

Aku bertanya padanya mengenai perkara transaksi heroin itu. Mengapa seorang Enzo memilih heroin? “Aku tahu, kau tidak pernah mencicipinya barang setitik,” tantangku dengan cengiran separuh melayang. Memeluk botol madat, kubenahi posisi duduk di atas kursi deck.

“Jangan sok tahu. Aku terlalu sering mencicip sampai-sampai ingin muntah.” Enzo mengentak sneakers-nya. Bersehadap padaku dengan mata sayu. “Ia menyuntiknya berkali-kali, Tip. Tiga kali yang kuingat. Kurasa yang dapat paling kuingat dari wanita keparat itu adalah ketika ia memintaku meraciknya untuk dosis dobel dalam sekali pakai,” dengusannya terdengar payah, tubuhnya ambruk mengempas kursi deck. Tungkainya berderak, untung tidak patah.

Lantas aku tak kembali bicara. Hanya menatap garis horizon yang nyaris raib dilabur malam. Enzo menyulut rokok baru sementara aku menyesap pipa madat miliknya. Sekonyong-konyong saja ia menangis. Bukan dengan efek melodramatis, alih-alih, masih diselundupi tawa sarakastis.

“Wallace, Tip. Kau pernah bertanya mengenai nama belakangku, ‘kan?” celetuknya di sela gemertik bara. Dijeda napas muskil, ia bicara soal Mrs. Wallace yang kerap ia tutup-tutupi.

“Perempuan keparat itu mati lantaran mengendus terlalu banyak heroin.”

Kala itu tangisnya sudah berhenti, seperti Tuhan tak memberikannya cuti untuk sekadar mengenang duka, Enzo bercerita tanpa ekspresi.

“Dan sekarang kau malah menjualnya?” Aku mendengus geli, mempertanyakan paradoks yang begitu sedih.

“Aku perlu perasaan itu, Tip.” Ia duduk berambin. Menyesap lebih banyak asap, lantas mengeluarkannya dari cuping hidung. Sedikit demi sedikit ia malah tertawa, diculik asap kanabis.

“Perasaan takabur kala berurusan dengan Barry?” Aku meliriknya sekali; ia buang muka ke arah kiri.

“Perasaan diinginkan. Ia hanya menginginiku lantaran benda sialan itu.”

Sorry,” ujarku, menyesap lebih banyak kanabis.

Enzo tak lagi menyahut. Manik kelabunya menilikku, bukan biru seperti milik Janet. Lantas, bergumam dalam hati, apa seperti itukah Earl memandang Brent? Seperti saat bungkam di tengah malam; kami tertidur di bangku deck, menggigil sepanjang malam. Menyelinap di kala fajar, melompati birai jendela, dan kembali berpura-pura.

****

Kala itu pukul delapan, aku enggan beranjak dari kasur. Sekadar meramban onggokan buku yang kutimbun di nakas sebagai tugas membaca harian kelas Sastra. Cat’s Cardle dipilih Mr. Keener lantaran terobsesi pada Kurt Vonnegut. Membuka lembar pertama, seseorang pasti tahu, aku tak benar-benar membaca. Jam di pelipir meja menunjukkan pukul delapan; Dad mengetuk pintu untuk ketiga kali, menyembul, sekadar berkata, “Kuharap kau lekas bersiap untuk acara pemakaman itu.”

Dad bukan pria penuh kontradiksi. Ia menutup pintu, sudah dengan setelan kemejanya. Terakhir kami berpakaian serba hitam bukan lantaran menghadiri pesta pernikahan, alih-alih, hari terakhir melihat wajah ibuku di peti mati. Aku masih tidak percaya, harus menemukan wajah Enzo di tempat yang sama.

Menenggak gin yang kusembunyikan di kolong tempat tidur, aku melangkah ke luar kamar. “Sorry. Aku sengaja melakukannya,” ujarku, berjalan menuju patio.

Aku telat lima belas menit dari yang seyogianya. Alih-alih, mengikuti rombongan sekolah. Kepala sekolah kami sengaja menyewa bus untuk membawa murid-murid menuju Rosebank. Kerabat dan teman dekat berendeng di depan; pamannya, si pemilik bengkel dengan perut buncit yang kerap kupergoki berdiri di bersimpangan Leith Docks[1]; Rex; Chip; dan Earl. Tangan tremornya memegangi kertas renyuk.

Ia sempat mencuri lihat ke arahku, sekali. Sementara bibirku memperlihatkan senyum simpatik yang ia tampik jauh-jauh. Kami urung bicara selama dua hari. Malam, teve kubiarkan menyala, kalau-kalau telepon berdering dan ia mengajak menyesap ganja.

Rex sempat menepuk bahuku, berpamitan sebelum ia pergi, tapi Earl masih enggan membuka mulut.

Meremas jemari, aku memandangi pusara itu lebih lama, kendati satu per satu khalayak mulai raib. Aku menolak tumpangan Dad. Epitaf yang tertulis nisan mempertontonkan embos “Enzo Wallace” untuk pertama kali. Dengan kalimat  mutiara Hemingway yang menjadi kesayangannya; ia begitu mencintai dunia yang luar biasa ini, sampai-sampai enggan minggat.

“Kau keparat, Mate.” Napasku terputus, sekali menghidu udara, paru-paruku seperti diinjak sol sepatu. Aku mengambil Pal Mal dari saku, menyulut dua batang, satu kuhisap, satu lagi kuletakkan di pinggir nisan. Dengan julai asap yang dibiarkan menari, mengerdili batang putih. “Kau harus membantuku. Bukan malah terlelap di dalam sana. “ Aku menendang pusara itu. Lantas berjongkok, merokok dengan mata berair. “Itu sama sekali tidak lucu. Permainan kebohonganku nyaris berakhir dan semuanya terus bertanya kepadaku—”

“Apa yang sebenarnya kaulakukan bersama Enzo?” tanya seseorang di belakang sana, suaranya berat, seketika membuatku tersedak asap. Kubuang puntung milikku, melindas milik Enzo dan lekas berbalik.

Barry tersenyum. Sementara aku meniti sol sepatunya yang dibesut licin;menggunkan manset, kugasak kedua mataku yang basah.

“Bagaimana kabarmu, Nak? Er, Tip?” Kekehnya terasa mengintimidasi. Seolah transaksi pertama terulang kembali. Kukepalkan tinju. Kabar persetan, siapa peduli. Menghantamnya keras-keras sampai tubuh jangkung itu terjengkang beberapa senti.

Shite!” pekiknya, tak dinyana aku sanggup melakukan hal itu. Darah menggerumuti tepian bibir gelapnya.

“Jangan sok simpatik, Barry. Aku tahu, apa yang kaulakukan.” Napasku terengah. Sementara tinjuku terasa nyeri hingga ke lengan atas.

“Lantas, kenapa tak bertanya hal yang sama pada tempan pusaramu?” Alisnya meninggi. Ia gegas menggeluarkan sepucuk Glock, lantas menarik laras; aku mengangkat kedua tangan.

Kubiarkan deru angin melabur tungkai hidung, menatapnya lurus-lurus, bayangan Luger milik Enzo masih terasa menghujam pipiku. “Jangan sekali-sekali bergerak, Banci.” Magasinnya mengisi satu perluru ke ruang lontar.

“Aku ingin barangku kembali.”Barry menyentuhkan moncong sedingin es itu di dahiku.

“A-aku tak mengerti apa yang kaubicarakan,” ujarku, terbata-bata, dengan gigi bergemeletuk.

“Jangan berpura-pura, Tip. Kau ingin menjadi yang selanjutnya atau teman-teman busukmu itu?”

Aku menggigit lidah keras-keras. Berharap dapat menarik kata-kata itu. Keringat kembali membanjiri punggung. Kutilik ke atas, Barry tidak main-main. Giginya boleh dipertontonkan, alih-alih, roman mukanya dilabur murka.

“Si Bajingan Tengik itu mengambil barangku. Sedikit demi sedikit hingga ia pikir aku tidak tahu. Katakan di mana benda itu?!” Suaranya meninggi. Aku tak ingin diteriaki Banci di tengah pusara, Earl sudah tak terlihat batang hidungnya.

“Tidak ada pesan, Bar.” Aku melirik pusara Enzo. Memikirkan tangan-tangan yang mungkin mendobrak dari dalam tanah, lantas menariknya ke dalam liang.

“Omong kosong!” Ia berteriak frustasi. Hanya dalam hitungan detik, ia sanggup menarik pelatuk. Alih-alih, tangan kirinya menjambak rambutku. Mata kami bersirobok. Aku berusaha menahan tangis.

“Dua hari—beri aku waktu dua hari untuk barang milikmu,” desisku, mengangkat kedua tangan, memberikan etape sejurus. Barry The Blow selalu menggemari kata ‘negosiasi’, seperti yang Enzo bilang.

“Kau mencoba menipu?” Alisnya berjungkit. Menarik rambutku kian erat. Aku memicing kesakitan.

“Tidak. Tentu saja tidak.” Sekadar dengih paru-paru yang terdengar. Menahan nyeri memikirkan kulit kepala yang nyaris luruh. “Pikirkan sebuah kemungkinan, Barry. Daripada meledakkan kepalaku tanpa sebuah hasil.”

Barry melempar pandangan jauh ke depan, tempat seharusnya aku bisa berteriak meminta pertolongan. Melirik pusara Enzo dengan sebuah epitaf berpahat simetris. “Jangan coba-coba menjebakku. Pukul dua belas, Tip. Albert Street. Jangan melarikan diri.” Ia menendangku di perut. Glock hitamnya kembali terselip di celah ikat pinggang. Tubuhku terpelanting mencium rerumputan, memegangi perut sembari bergelung kesakitan.

Entah apa yang harus kulakukan; selain melihat sol pantofel yang mengentak-entak; rontek dompet yang menggelambir; dan langit yang begitu biru.

****

Sekerat Barney’s merupakan sebuah obligasi dalam bertandang ke rumah Enzo. Menaiki undakan bercat biru, patio porak-poranda dengan berbagai marka. Tiang kayunya tak lagi dibebat tali kuning polisi. Kutarik gagang pintunya; terkunci. Berjongkok di pinggir patio, kurogoh celah di antara petak kayu terakhir. Enzo selalu meninggalkan satu kunci untukku—untuk menyelinap masuk, pun keluar di tengah malam. Earl, Rex, dan Chip tak pernah tahu, aku pergi sesering itu, terakhir kali kami terperenyak berlima di sofa ruang depan, lantaran Earl keranjingan menantang semua orang bermain Rainbow Six.

Pun dengan kedatanganku kali ini, aku berbohong pada Dad—hendak kembali ke sekolah, berkonsolidasi dengan kelompok doa.

Aku memasukkan anak kunci ke lubang, lantas memutar gagangnya ke arah kanan. Menoleh ke kiri, membayangkan Enzo yang kegirangan, ingin lekas-lekas menyesap bir dingin dari bibir botol. Tangannya yang digasak, jemari kakinya yang melompat-lompat di balik sneakers butut.  Rumah itu kini bau tengik, setelah tiga malam lalu dihuni separuh personil kantor polisi. Merokok, menyesap bir, sekadar mengusir dingin. Jendelanya tertutup rapat, kelirnya tak dibiarkan terempas.

Ronce kunci masih menggelendoti pintu, ketika aku meletakkan kerat bir di atas meja. Memperhatikan marka di permukaan lantai. Aku memilih berjongkok, meramban getir lini putih yang menjadi tempat terakhir Enzo duduk. Membayangkan antek-antek bayaran Barry menyekapnya dan menjadikannya sebagai pencandu dalam satu malam. Tanpa sidik jari, pun barang bukti.

Keparat.

Menilik ke sekeliling rumah, lemari pajang itu masih berdiri di sayap kiri—lemari milik mendiang ibunya. Aku menarik kaki, meramban satu per satu kaleng yang berendeng di sana. Tempat di mana Enzo menyimpan butiran E yang kerap ia bagi dua. Seperti malam itu.

“Kau perlu “eksodus”, Tip. Untuk sekadar tidak menjadi Banci,” ujarnya, ketika kami duduk berdekatan. Tangan jenjangnya memamerkan itu pada remang lampu.“Ini pil hebat, ambil satu. Lantas, kau akan punya kekuatan super,” pamernya, sementara aku tak henti bertanya, tentang betapa kelabu matanya. Dan bibirnya tak pernah berhenti mengunyah Peppersmith. E tidak membuatmu menjadi pemadat pilon yang rela menggadaikan segalanya. Rasanya tak keruan, tapi tak seabsurd kala bibir itu menyentuh bibirku. Jantungku berkebit; kepalaku pengar bukan kepalang. “Bukankah kau ingin melakukannya malam itu?” tanyanya, diikuti tengik tembakau dan senyum tolol yang kami pertontonkan bersama.

Aku menemukan plastik E di dalam kotak Rolodex berduli. Menelan satu butir, menjejalkan sisanya ke saku jas. Membuka ponsel. Menyoroti satu per satu pernak-pernik dan bingkai foto tentang liburan terakhirnya ke London. Dan berharap bisa menemukan sesuatu yang dapat menjawab teka-teki sialan Barry.

Aku kembali berbalik. Bersandar dengan punggung luruh dan duduk bercangkung kaki. Mengambil sebotol Barney’s, mencungkil tutupnya di sembiran meja. Menyesap seperempat botol. Kepalaku seketika terasa berat. Seperti pertama kali kusentuh mandibula itu dan bertanya, siapa diriku sebenarnya?

.

E memberiku Enzo, Enzo yang aku mau, berjalan lewat pintu. Tubuh jangkungnya, manik kelabunya. Mengenakan kemejalumberjack kusut itu dan jins belel terinjak sneakers yang kerap memeluk kedua tungkai kakinya.

Kami bercinta seperti malam terakhir ketika ia membuka ritsleting celanaku. Dan melakukan akrobat spektakuler di atas sofa. “Barry mendatangiku,” ujarku dengan napas terengah.

Enzo tersenyum. Aku begitu takut ia akan berang. Kuperhatikan jemarinya yang masih mendekap tubuhku. Tubuh kami sama-sama telanjang di bawah satu remang lampu.

“Ia mencari barang itu.” Kususuri tulang selangkanya dengan bibir. Seolah takut kehilangan dirinya untuk kedua kali.

“Itu untuk Earl, Tip. Katakan padanya, aku minta maaf. Untukmu juga, tidak ada yang boleh berkata Banci.” Ia mengecup dahiku.

“Jangan konyol.”

“Jangan konyol juga untukmu. Bersikap seperti kau tidak ingin. Kau menginginkannya ‘kan, Tip?”

“Aku hanya ingin kau tetap di sini,” kataku.

“Tidak. Kau yang mengatakannya, Tip. Kau ingin Janet.”

Dadaku kontan terimpit. Berat tubuh Enzo menimpa tubuhku. Kulihat kedua mata nyalang itu. Lengan kirinya yang merogoh ke balik punggung.

“Apa yang kaulakukan?” Suaraku gemetar; pistol Luger menyembul di antara jemarinya.

Please,” aku mengangkat kedua tangan. Alisku menandak. Berusaha melepaskan diri. Ia baru saja mengarahkan moncongnya ke arah kepala; aku berteriak kesetanan. “Hentikan! Hentikan! Enzo!”

Dan peluru itu menembus kepalanya. Pecah menjadi onggokan daging berbau formalin.

.

Masih menemukan diriku duduk berambin, bersandar di kerai lemari, tubuh basah kuyup diguyur keringat. Teriakanku berakhir parau, disambut denting Botol Barney’s yang terguling, menggelincir di kolong sofa.

Sebuah gumpalan menyumpal kerongkongan untuk sekadar tidak mengumpat. Aku tidak menginginkan Enzo. Aku melirik ke sekeliling, alih-alih, kegelapan yang menyergapku. Kulirik arloji. Petang datang lima menit lebih cepat dari perkiraanku.

Aku ingin menangis. Tanganku memporak-porandakan seluruh isi lemari, kugulingkan satu per satu bingkai foto. Melempar pernak-pernik dan kaleng-kaleng keparat ibunya, menghujani lantai.

“Tutup mulutmu, Enzo!” pekikku, meremas rambut.

Kau ingin mengaku sekarang, Tip. Kutendang lemari itu hingga nyaris terguling. Aku tidak menemukan apa-apa.

“Di mana benda keparat itu, Enzo?!”

Kau tahu jawabannya, homo.

“Aku bukan homo! Aku masih menyukai Janet!”

Tapi kau masih menginginkan aku ‘kan?

Aku berusaha tidak mengindahkan suara itu, bergerak ke sisi samping. Mendorong lemari beberapa meter ke arah kiri.

“Persetan, Enzo,” bisikku. Lubang itu sebesar tiga puluh senti. Dibobol paksa di belakang lemari. Kurogohisi dengan tangan gemetar, lantas menemukan beberapa bungkusan cokelat. Sepucuk Beretta 92 dan sebuah kunci mobil. Beretta serta-merta menyisipi sela ikat pinggang. Aku memikirkan kata-kata terakhir Enzo satu malam sebelum kami menemukannya menyayat nadi:

Jangan bergerak, TipJangan sekali-sekali kau menyentuh mobilku.

****

“Berhenti! Berhenti, Enzo!” pekikku, berlari di pelataran jalan, mengayunkan kedua tangan. Entah dari mana sepasang kaki itu menandak. Aku mendengarnya berlarian. Satu meter menganju dari iris mataku, menengok ke belakang. Ia enggan berhenti. Senyumnya mencuat. Seolah-olah kami hendak menerkam barang bagus di pesta tengah malam.

Aku terus berlari. Mengumpat beberapa kali. Duke Street sudah termaram mendekati pukul sepuluh. Etalase gerai redup satu per satu. Dua jam sebelum janji temu dengan Barry. Napasku terengah. Rontek kunci bergemerincing di saku belakang.

Berbelok di gang pertama, dengan bau onggokan sampah paling menyeruak. Aku menyusupi jalan rahasia menuju Citadel.

Sedikit pengar, aku melihat Citadel dengan penerangan minim seperti seharusnya, seseorang mungkin di dalam. Sepertinya Chip. Speaker dibiarkan menyala. Duran Duran [2]seperti baru saja menggelar konser, membawa seisi fan base dan memporak-porandakan ruang tengah.

Chevrolet milik Enzo terparkir di sayap kiri. Chip sudah memasang keempat roda seperti semula. Tak sempat mencari batang hidung Earl, aku harus segera membawa mobil itu pergi. Merangsek pintu depannya yang tak terkunci. “Shite!” Bokongku belum sempat terperenyak di jok, alih-alih, melihat bubuk putih terburai dari kulit jok.Mereka sudah mengetahuinya. Aku berusaha mengembalikan duli-dulinya, bergerak secepat mungkin sebelum seseorang datang memergok.

“Kau mencoba membohongi kami untuk hal ini?” Sekonyong-konyong saja aku merasakan moncong pistol di tengkuk; Earl mencoba menggebah.

Aku tak serta-merta mengeluarkan suara, sekadar mengangkat tangan. Earl menarik pelatuk pistolnya. “Jawab, Banci!” pekiknya.

“Aku baru mengetahui ini beberapa jam lalu,” kataku, perlahan membalikkan badan, tersudut, bersandar di pintu mobil.

“Keparat! Kau membohongi kami!” Aku mendengar Rex dengan isi botolnya yang berkecipak. Bau Vernon seketika menguar lantaran ia membantingnya berkeping-keping di atas aspal.

Kutatap mata Earl lekat-lekat, tangannya yang  memegang popor dengan kesepuluh jemari. “Aku sungguh-sungguh. Aku berbohong, iya, tapi tidak dengan benda ini—benda ini harus dikembalikan.” Tangannya gegas mencengkeram lapel kemejaku. Penampilan kami sama-sama kacau, napas yang memburu, sengit tembakau yang melayap dari lapel kemeja.

“Hei!” Chip ganti memekik. “Barang ini bahkan bukan milikmu.” Menyembul dari sisi kiri, membuka pintu. Lantas mempertontonkan heroin itu di tangannya. Bulir-bulir berjatuhan; aku mereguk liur.

“Aku berbohong soal Barry. Barang itu milik Barry The Blow.”

Bollocks. Kau tahu apa soal Barry!” damprat Chip, mengempas pintu mobil. “Kita terlalu lama memercayainya, Earl.”

Earl sejurus membisu. Jemarinya boleh mencengkeram kuat; pistolnya mengendur. Lengannya gemetar. “Kau melakukannya dengan Enzo selama ini?”

Aku mengangguk. “Maafkan aku.”

Ia mendorong tubuh kuat-kuat. Mendengus geli. “Kau orang baik, Tip. Bukan En—”

“Aku pembohong yang payah, Earl. Aku mencintainya,” aku memberangus kontemplasi Earl. Menengok aspal, sengaja menghindari tatapan mata itu. Sejurus hanya bunyi perkusi Roger Taylor[3] yang terdengar dari stereo, sebelum jemariku balas menarik popor senjata dari sela ikat pinggang.

Shite!” Rex bergerak mundur. “Earl!” pekiknya.

Aku mengacungkan benda itu lurus-lurus, ke arah Rex yang hendak menerjang; kaki Chip yang melentuk ketakutan. Earl masih geming. Aku lekas-lekas menyuruk masuk ke dalam mobil. Mengunci keempat selak pintu.

“Keparat, Tip!” pekik Chip. “Buka pintunya.” Gebukan keras itu menghantam roda kanan belakang. Jemariku gemetar hebat, berusaha memasukkan anak kunci.

“Buka pintu! Banci!” Rex mengangkat tinggi-tinggi kursi kayu itu. Menghantam kaca belakang. Suara mesin meringking beberapa kali, sebelum akhirnya berderum. Aku tidak sempat berpikir dua kali; melirik Earl; menginjak kopling dan menarik persneling menuju gigi mundur. Ban berdecit disambut derum mesin.

.

Beretta masih mengait di telunjuk kanan; aku menginjak pedal gas dengan kecepatan maksimum. Jantung meninju rusuk. Melintasi tiang lampu di perimeter Easter Road. Kepalaku pengar, dengan mata separuh memicing, entah berapa lama lagi aku harus menahan muntah di kerongkongan.

Sneakers sompek itu lagi-lagi menyembul, menutupi spion kiri. “Kenapa kau begitu keras kepala, Tip?”

Enzo. Berpangku tangan, dengan kepala yang diangguk-angguk, seolah ia mendengar melodi sunyi lewat stereo.

Ia sudah mati tiga hari lalu. Persetan. Aku membersit hidung, pura-pura tidak mendengar, terlepas bunyi rontek-rontek yang menggelambir di spion muka, yang nyaris membuat kepalaku pecah. Kuarahkan Beretta itu menuju pelipisnya. Ia tertawa kecil. “Apa yang hendak kaulakukan dengan benda itu? Menembak kepalaku?”

“Tutup mulut!” Aku menggebrak roda kemudi. “Aku harus mengembalikannya.” Melempar pandangan ke ruas jalan. Tempat janji temu dengan Barry The Blow berada dalam hitungan meter. Aku menginjak pedal rem.

“Dan bersikap seperti jagoan, Banci?” Alisnya menjungkit. Menarik kaki dari dasbor. Merogoh saku untuk sebatang Berkeley. Aku mematikan mesin mobil. Bersihadap dengan dirinya, yang melipat sebelah kaki.

“Bisa kau berhenti bicara?! Aku tak ingin membuat kita semua terbunuh.” Aku hendak menarik gagang pintu. Memutuskan untuk menutup telinga.

“Kau tidak akan menyelamatkan siapa-siapa!” pekiknya.

“Persetan, Enzo! Ini semua lantaran ulahmu! Apa yang kauberikan?! Kau mati, keparat!”  umpatku, dilahap amarah. Kucekik lehernya dengan kedua tangan. Berharap ia lekas-lekas dikirim ke neraka. “Kau tidak meninggalkan apa-apa kecuali barang sialan itu yang malah membuat semua orang terbunuh.”

Enzo tertawa santer. Seperti ketika kami menonton kejuaraan Piala Eropa.

“Keparat, Enzo!” Kutinju tubuhnya berkali-kali; menghantamkan kepalanya di kerai jendela. Tawa itu tak urung raib.

“Kau orang yang paling berani yang pernah kukenal, Tip.” Ia tergelak kecil, sebelum menahan kedua tanganku di depan dada. Mengelus dahiku. Napasku terenggah. Menatap matanya yang nanar.

PRANG!

Peluru itu menancap di belakang kepala. Aku merasakan aliran hangat yang menggerayangi leher. Sakit sedikit menggigit—nyaris tak terasa, alih-alih cengkeramanku di lapel kemejanya sekonyong-konyong mengendur. Pengar di kepalaku menjadi berlipat ganda. Melirik ke depan, Enzo sudah raib. Hanya dengih napasku yang terputus-putus.

Sementara siluet-siluet jangkung itu datang menyatroni mobil kami dan menyulap jendela samping menjadi puing. Dingin merambat di sekujur tungkai kaki. Seseorang menarikku keluar.

Kuamati giginya, ia berjongkok di emperan. Warnanya emas. Disilap temarang lampu di pelataran Albert Street. “Kau orang paling naif yang pernah kutahu,” ia terkekeh, meninggalkanku dengan punggung bisu itu dan membawa mobil Enzo pergi.

 

-fin

________________

[1] distrik tempat prostitusi di Edinburgh
[2] Band beraliran new wave asal Brimingham
[3] drummer pertama Duran, Duran

Read previous post:  
36
points
(3455 words) posted by azura_caelestis 6 years 18 weeks ago
72
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | bunuh diri | heroin | homoseksual | persahabatan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Nine
Nine at Cutting Veins, Pt. 2 (END) (6 years 17 weeks ago)
100

"Menggigil ke di pipiku."
.
Saya suka dengan twistnya, keren!
Padahal saya berharap Tip jadi hero di sini, saya suka dia karena sifatnya yang seperti pemeran pembantu. Eh? Ujung-ujungnya dia mati, ngak keren lagi matinya. Duh sayang banget, mba cyn. T.T
.
Oh ya, di bagian Tip datang ke rumah Enzo untuk mencari heroin Barry. Di situ Tip menemukan pil E. Saya bingung. Pada saat Enzo ditemukan mati, kan dia di rumahnya? Kok pil E itu tidak kedapatan polisi? Mungkin mba cyn bisa memberi penjelasan? Atau memang saya yang lemot membaca ini?
.
Saya shock dengan adegan Tip yang bercumbu dengan halusinasinya. Tapi adegan ini menambah "kejutan" yang diberi ke saya tentang pribadi Tip yang kompleks ini. Banyak hal-hal tak terduga yang muncul dari Tip.
.
Satu hal juga yang saya pertanyakan. Kenapa harus memberi Tip ayah yang seorang polisi? Bukankah seorang polisi yang terbiasa menangani kasus-kasus narkoba pasti tahu bila anaknya mulai mengomsumsi narkoba?
.
Saya mohon maaf kalau banyak kesalahpahaman saya dalam berkomentar. Membaca cerpen ini cukup repot dengan berbolak-balik kbbi supaya paham betul dengan apa yang sedang terjadi. Keseluruhan cerpen ini lain daripada yang lain yang pernah saya baca. Ngalir. Alurnya bikin penasaran. Twistnya tak terduga. Good job deh, cyn. :)
.
Itu saja dari saya, cyn. Sori lama banget saya komennya. Mohon maaf juga kalau ada kata yang kurang berkenan.
.
Salam Olahraga (y)

Writer The Smoker
The Smoker at Cutting Veins, Pt. 2 (END) (6 years 17 weeks ago)
100

Oke ini bagian terakhirnya ya. Baiklah, Azura itu adalah lompatan - lompatan kalimatnya yg apa ya, kadang susah diikuti(?) Kadang gara2 pengambilan detail yg diambilnya tidak biasa (atau itu emang keren, dan saya yg malah terlalu sibuk mengejar2 lompatan itu)
.
bagi saya pribadi, yg jelas2 kurang baca2, banyak kesan yg beda dari kalimatmu, itu jelas. Misal : "Sekadar meramban onggokan buku yang
kutimbun di nakas" itu nimbulin kesan apa ya, wow? Lantas cuma bilang keren (lagi) karena tidak biasa, saya suka.
.
di bagian ini yg paling saya suka adalah penggambaran Tip yg terus dihantui Enzo. Hebat! Entah yg saya ingat jadi ke salah satu adegan film Stretch (2014).
Lalu saya banyak tersesat lantas sampai beberapa kali membacanya dari awal. Lumayan puas, walau masii sedikit ngelos.
.
Saya suka sekali penggambaran suasananya. Penarikan sudut pandang. Dan ungkapan2nya. Sakti! Haha..
.
Lalu masii.mikir, maksud dari hasil pengintaian Janet. Apakah hanya tentang orientasi sexual Tip? #nyerah.
Maaf kalo gak kenan.
Salam

Writer addvaticon1212
addvaticon1212 at Cutting Veins, Pt. 2 (END) (6 years 17 weeks ago)
100

Bagus..,