Kepatahhatian Duro

Kepatahhatian Duro

 

BAHWA kenyataan pria lain tengah mengulum bibir Muni, terasa seperti tombak yang menusuk dari bokong hingga tembus ke dada Duro. Bagaimana tidak? Hubungannya dengan gorila berparas cantik itu terbilang lama dan berakhir beberapa jam yang lalu. Sekarang bibir itu dengan mudah berpindah pemilik darinya ke pria bermobil Apansa. Lampu-lampu jalan di pinggiran laut malam itu terasa mencekam di mata Duro. Udara terasa sesak. Semilir angin laut tidak lagi menyejukkan seperti saat ia mengajak Muni ke tempat favoritnya, sambil menikmati jagung bakar yang warungnya berjejer bersama kafe remang-remang dan penjual kacang rebus keliling di bahu jalan.

          Kontan, sensasi menggelitik di tulang belakang Duro mulai menari. Ia bimbang, antara maju ke depan dan meninju rahang pria bermobil Apansa—atau menampar Muni terlebih dahulu—atau memutar badannya ke belakang dan menendang benda mati apa saja yang kebetulan ia temui. Amarah meluap-luap. Duro mulai menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan.

          Sebenarnya Duro adalah seekor gorila yang tampan bagi mereka yang memikirkannya dengan seksama. Dianugerahi bibir tebal yang merah merona—cukup abnormal untuk spesies gorila, alis rimbun, dan raut muka yang tegas nan macho. Pendidikannya di Universitas Hatama sudah mencapai semester keempatbelas dan ia belum juga menyusun skripsi. Sebuah alasan utama mengapa Duro sampai sekarang menyandang status penganguran di usianya yang keduapuluhtiga—tapi ia lebih senang menyebut dirinya sebagai seseorang yang gemar menuntut ilmu—dan mengapa Muni mulai bosan dengan alasan “sedang sibuk mengerjakan tugas” dari Duro, yang membuat Muni memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

          Duro beranjur ke arah Muni. Gorila betina itu sepenuhnya tidak sadar akan kehadirannya, ia sibuk membalas ciuman dengan khidmat. Semakin mendekat, semakin sesak Duro bernapas. Sekarang Duro harus menentukan pilihan: (1) menghantam rahang pria bermobil Apansa; (2) menampar Muni lebih dulu. Namun tidak kedua pilihan itu yang diambilnya, alih-alih, seperti otaknya berjalan sendiri tanpa perintahnya, nama itu terucap lirih, “Muni ….” Cukup keras untuk sampai di telinga mantan kekasihnya.

          Muni seperti disetrum. Kepalanya menoleh bersanding mata yang melotot. Suara itu, wajah tampan itu, bibir merah itu … oh sungguh ini bukan pertanda baik bagi kelangsungan hubungan Muni dengan kekasih barunya. Refleks, Muni mendorong pria yang sedari tadi merangkul pinggangnya. Lelaki itu kaget. Namun ia tidak tahu bahwa Muni seratus kali lebih kaget. “Duro …,” gumamnya.

          “Kamu … kenapa … dia siapa, Ni?”

          “Dur, ini tidak seperti yang kamu lihat.”

          “Ini jelas-jelas seperti yang saya lihat, Mun! Kamu siapa?” tanya Duro kepada seekor tapir.

          “Sebut saja Anton, bukan nama sebenarnya,” jawab si Tapir—yang telah berhasil meninggalkan jejak-jejak liur di sekitaran bibir Muni.

          “Oh? Jadi kamu pacaran sama jurnalis sekarang? Ini haram, Mun!”

          “Lancang sekali kamu bilang begitu? Apanya yang haram dari seorang jurnalis?” Anton berbalik kepada Muni. “Ini mantan kamu, ya? Pasti dia mahasiswa semester nenek!”

          Muni mulai panik. Dua lelaki, beda spesies, beda status, pasti akan ada keributan. Apalagi Duro adalah mahasiswa yang rajin berdemo dan, Anton (nama samaran) adalah seorang jurnalis yang sering melanggar kode-kode etik demi mendapatkan berita yang ia inginkan.

          “Dasar tolol! Ini bukan tentang pekerjaan, ini tentang hubungan beda jenis!” Duro melanjutkan, “kamu kenapa mau, Mun, dicium di tempat umum kayak begini? Sama lelaki model beginian?”

          “Kampungan. Semua binatang melakukannya sekarang. Hubungan sejenis tidak lagi menjadi keharusan dalam menjalin asmara. Cinta itu perihal hati, bukan persoalan spesies. Lagipula, apa bedanya ciuman di tempat sepi dengan ciuman di tempat ramai? Sama-sama kemerosotan moral, kan? Tidak perlu munafik kamu,” ucap Anton.

          “Oi! Kamu jangan bawa-bawa kebiasaan binatang di dunia barat ke sini!”

          “Memangnya kenapa?!” jawab Anton sambil menyenggol dada Duro.

          “Apa?!” balas Duro menyenggol dada Anton.

          Kedua lelaki itu mulai saling menyenggol dada. Di sisi lain, Muni melindungi dadanya supaya tidak kena senggol.

          “Apa?!” senggol Anton.

          “Apa?! Mau berkelahi kamu?” tantang Duro.

          “Ayo!” terima Anton.

          “Ayo!” jawab Duro kembali menyenggol dada Anton.

          “Ayo!”

          “Ayo? Siapa takut?!”

          Muni geleng-geleng kepala. Antara pusing dengan kelakuan kedua lelaki di hadapannya atau kecewa dengan perkelahian yang tak kunjung mulai. Muni pun mengambil inisiatif untuk menghentikan pertikaian mereka berdua. “Sudah, sudah!”

          “Muni, kamu jangan tahan saya!”

          “Muni, kamu jangan tahan abang!” seru Anton—padahal tidak ada yang menahan beliau.

          Butuh waktu beberapa menit bagi Muni untuk meredakan suasana. Hening menyelip di antara tatapan Duro dan Muni. Ada sebaris kalimat yang ingin terucap dari bibir mereka. Entah kenapa, kalimat itu tertahan di tenggorokan, menolak untuk keluar. Seperti sensasi muntah yang menggantung, jika ia keluar akan terasa pahit dan sama pahitnya ketika ia ditahan. Maka Muni dan Duro tetap terdiam.

          “Sayang, ayo kita pergi dari sini,” perintah Anton sembari menarik lengan kekasihnya. Muni enggan beranjak. Seperti menunggu sederet kata keluar dari mulut Duro, atau ia ingin mengucap sesuatu kepadanya.

          “Muni, ayo!” titah Anton.

          “Jadi, begitu saja, Mun?”

          “Iya, Dur. Begini saja.”

          “Kamu memutuskan hubungan lewat kabar burung merpati, lalu sekarang kamu jalan sama lelaki bejat ini? Tidak ada kata perpisahan? Tidak ada kesan dan pesan?” tanya Duro penuh harap setengah kecewa.

          “Akhir-akhir ini kamu selalu sibuk. Tidak pernah lagi mau temani saya jalan-jalan. Tidak mau lagi mencari kutu di bulu saya. Padahal dulu kamu bilang itu kegiatan favorit kamu. Kamu tidak akan bosan melakukannya sampai maut datang menjemput atau sampai peluru pemburu liar tembus di dadamu. Mana buktinya sekarang, Dur? Mana?”

          “Muni, kamu tahu kan saya sedang sib—“

          “Sibuk kerja tugas. Iya, saya tahu, Dur,” potong Muni.

          Sekarang Muni merelakan tubuhnya ditarik Anton. Matanya masih terpaku ke wajah Duro—yang tampan, yang bibirnya tebal merah merona, yang macho. Duro hanya bisa memikirkan jawabannya. Ia tahu, Muni butuh jawaban yang lebih dari sekedar “sedang sibuk mengerjakan tugas”. Gorila berparas cantik itu berhak mendapatkan lebih dari sekedar alasan.

          Desiran ombak di teluk Kendari terdengar seperti nyanyian, mengiang, melantunkan lagu sedih tanpa aksara beriring langkah Muni yang menjauh dari mantan kekasihnya. Tanpa Duro sadari, setetes air mata meliuk-liuk di wajahnya yang kerutan—kerutan yang macho. Tidak ada lagi bulu-bulu seksi tempatnya mencari kutu. Tidak ada lagi kecupan mesra dari bibir Muni. Oh, sungguh rasa kehilangan yang menelusuk kerongkongan Duro. Tombak itu kini menohok dari dada hingga tembus ke bokongnya.

          Derum mesin mobil Apansa membawa tubuh Muni melesat dalam remang-remang lampu jalan. Kekasihnya telah pergi. Muni yang dikenalnya adalah sosok perempuan yang baik dan soleha. Tidak sampai di logika Duro jika perempuan itu mau berciuman dengan seekor tapir di tempat umum. Pasti Muni dalam pengaruh obat-obatan.

          Dasar lelaki bejat! kutuk Duro dalam benaknya.

          Dipilihnya tempat untuk melampiaskan amarah dan kekecewaan. Sebuah kafe yang menyajikan makanan dan minuman keras. Duro duduk di salah satu kursi dan telah selesai meneguk gelas ketiganya. Malam itu tidak terlalu banyak pengunjung. Ada seekor beruang yang sedang duduk dengan kedua lengan terlipat di atas meja dengan kepala yang menunduk, ia memakai setelan jas lengkap namun amburadul, sepertinya baru pulang dari kantor, atau mungkin baru saja dipecat. Ada sepasang kekasih yang sedang bercumbu, dua ekor kucing. Di pojok ruangan, ada dua orang sahabat yang sedang bercakap-cakap, meja mereka kosong, baru saja tiba.

          “Pelayan, es tehnya satu!” teriak seekor dinosaurus bernama Oscar.

          “Sepertinya mereka tidak menyediakan minuman itu di sini, Oscar,” jelas sahabatnya Benjamin. Ia adalah seekor anjing yang terpelajar.

          “Lantas? Cuma itu yang saat ini sedang ingin kuminum.”

          “Di sini kami hanya menyediakan minuman keras,” kata pelayan yang menghampiri mereka.

          “Minuman keras?” tanya Oscar. Ia bukanlah binatang yang mengenyam pendidikan. Banyak hal yang belum dimengerti Oscar, namun ia adalah seekor yang cukup kritis meskipun buta huruf.

          “Minuman keras itu ungkapan lain untuk minuman yang memabukkan,” jelas Benjamin sekali lagi.

          “Astaga, minuman begitu dilegalkan?”

          “Akhir-akhir ini memang pemerintah banyak melegalkan hal-hal yang merugikan,” jawab Benjamin.

          Pelayan itu bertanya minuman apa yang ingin mereka pesan. Cukup lama kedua sahabat itu berkutat dengan nama-nama minuman yang membingungkan di selembaran menu: Sex on the beach, The Masquarade, 1001 nights, Love of Jasmine, The Cabana, dan lain-lain. Oscar berpikir nama-nama minuman itu terlihat seperti kumpulan judul lagu, sementara Benjamin menilainya seperti kumpulan judul novel. Terlalu lama menunggu, si pelayan—yang notabene adalah seekor rusa dengan rok mini dan baju yang “agak terbuka”—memberikan saran kepada mereka dua botol bir dingin. Benjamin dan Oscar setuju.

          Duro kini telah selesai meneguk gelas keempatnya. Ia menatap ke sekeliling ruangan. Matanya berpapasan dengan mata Oscar dan Benjamin. Ia cukup terkejut melihat dua orang kenalannya berada di tempat itu. Duro memberikan sapaan lewat anggukan kepala. Oscar dan Benjamin datang menghampiri gorila tampan itu.

          “Hei, bukannya jam begini para gorila sudah tidur?” sapa Oscar, yang kemudian duduk bersebelahan dengan Duro.

          “Tidak untuk gorila yang sedang patah hati, Kawan.”

          Benjamin kemudian duduk di sisi lain Duro.

          “Kalian berdua kenapa masih berkeliaran?”

          “Entahlah, perjalanan kami hari ini cukup banyak meninggalkan pertanyaan-pertanyaan. Sulit untuk tidur jika banyak pertanyaan yang menggantung di kepalamu,” jawab Benjamin.

          Beberapa menit kemudian, pelayan datang kembali dengan membawa dua botol bir di atas nampan kayu. Setelah menaruh pesanan Benjamin dan Oscar di atas meja, pelayan itu berlalu. Oscar meneguk bir pertama dalam hidupnya.

          “Cih! Rasanya seperti kencing.”

          “Bir memang begitu,” kata Duro.

          “Alangkah baiknya jika mereka menambahkan banyak gula ke dalam minuman ini,” keluh Oscar.

          “Namanya Muni.”

          “Siapa?”

          “Wanita yang bertanggung jawab mengapa aku duduk di kafe ini dengan minuman keras.”

          Oscar mengangkat tegukan kedua.

          “Cih! Tunggu sebentar, saya mau minta pelayan supaya menambahkan gula di bir ini,” kata Oscar yang kemudian berlalu.

          “Memangnya kekasihmu kenapa, Duro?” tanya Benjamin.

          “Selingkuh dengan seekor tapir. Hubungan yang haram.”

          “Semua binatang melakukannya sekarang. Hubungan seje—“

          “Stop! Saya sudah dengar itu dari si tapir sialan.”

          Benjamin mengangguk pelan. Ia tahu suasana hati temannya sedang tidak baik. Anjing itu memilih diam dan mendengarkan Duro mulai menceritakan kisah-kisah kasihnya selama berpacaran dengan Muni.

          Jam di dinding menunjukkan pukul 02.37 dini hari. Duro tengah bercerita bab keempat dalam hubungan asmaranya: Bercinta di Atas Pohon Beringin. Sepertinya kisah ini sudah mulai terdengar membosankan di telinga Benjamin. Oscar—setelah gagal meminta gula untuk bir dinginnya—sudah hampir menghabiskan minumannya. Ia mulai terbiasa dengan sensasi “kencing” dari minuman itu yang menurutnya adalah sesuatu yang unik.

          “Dan sekarang dia berpacaran dengan seekor tapir berengsek yang punya mobil Apansa. Tamat.” Duro mengakhiri ceritanya setelah tambahan tiga puluh menit berlalu.

          “Mencari pacar baru bukan ide yang buruk menurutku. Pelayan yang tadi cukup menarik,” kata Oscar.

          “Dia jantan,” ucap Benjamin.

          “Hah? Benarkah?”

          Duro dan Benjamin geleng-geleng kepala. Masih banyak hal yang tidak diketahui Oscar.

          Di luar, hujan rintik-rintik mulai bertandang. Ketiga sahabat terus bercengkrama. Kehadiran Benjamin dan Oscar berhasil mengurangi duka yang sedang dialami Duro. Sahabat adalah tempat yang baik untuk membuang sampah-sampah kesedihan yang menumpuk. Perlahan mereka bertiga mulai terbahak. Saling berbagi cerita dan pengalaman kehidupan. Diam-diam Oscar menaruh perhatian kepada seekor pelayan rusa dengan rok mini dan bajunya yang menggoda. Namun, itu adalah cerita di lain waktu.

Read previous post:  
32
points
(769 words) posted by erul 11 years 18 weeks ago
64
Tags: Cerita | dongeng | bebas
Read next post:  
Writer hidden pen
hidden pen at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)
100

bentar umm... Tengok kiri kanan. Ini cerpenmu bang ? Kirain. #plaakk ahh kasi poin aja dech. #Kabuuurrr

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)

Hellow bung hidden, aiiiisshhh, mana itu android bung? Katanya mau beli hape? Katanya mau instal line? Mana buktinya, bang? Mana?
.
Saya jrang buka fb, bang. Makany sering2 ngak hubungin kamu lagi di situ. :)
Ada cerpen baru kan? Mudah2an saya mampir, ^^

Writer hidden pen
hidden pen at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)

salam bang umm psstt jangan bongkar aib ane hkhkhk bentar mash kurang 1 jt lagi bwat beli ^_^ umm ane juga jarang di fb skarang aja tumben mampir dimari karna kuota banyak hohoho. Umm eettoo cerpen ya. Hadir dong ^_^ ane kan juga butuh masukan banyak neh :v

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)

Iya bung saya pasti hadirrr, ^^, ada laptop ya bang? Denger2 ada juga line yg bisa diinstal di laptop

Writer hidden pen
hidden pen at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)

katanya ada, tapi gak pernah nyoba hkhk ntar kucoba ya bang ^_^

Writer rian
rian at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)
2550

Bahasa sih oke, kayaknya, tapi leluconnya banyak yang terasa flat buat saya. Entah, mungkin cuma selera pribadi.

Cerpen ini ngingetin saya sama cerpennya Bang Shinichi yang "Teman Ngobrol". Cerpen itu juga bentuknya fabel, tentang tokoh yang patah hati, dan penuh humor-humor sinis. Tapi di cerpennya Bang Shinichi leluconnya buat saya terasa lebih natural, berasal dari keanehan tokoh-tokohnya sendiri, alih-alih keikutsertaan narator kayak di cerpen ini. Perbedaan lain lagi: cerpen Bang Shinichi komplikasinya meningkat sampai mencapai titik klimaks, sementara di sini bergerak mendatar. Tapi--tengok tag--ternyata ini cerber, jadi mungkin masih ada kartu As yang disimpen penulisnya di episode berikutnya.

Oke, kip nulis! Maaf kalau enggak berkenan:)

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)

Halo, rian ^^
.
Sepertinya memang kendala menulis komedi adalah menemukan bentuk komedi yang cocok buat semua orang. Saya merasa memang dalam cerpen ini ngak bakalan bisa semua orang mengerti komedinya. Jadi mohon maaf bung rian, mudah-mudahan ke depannya bisa membuatmu nyengir. Ya, setuju denganmu dan bang shinichi, konflik di sini tidak sampai klimaks. ^^, Masih butuh banyak pembelajaran memang.
.
Makasih sudah mampir, rian.
Selalu berkenan kok. ^^ hehehehe

Writer Shinichi
Shinichi at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)
90

sebelumnya, saya enggak tertarik dengan "menjadi ganteng" makanya

saya komentar di mari. ahak hak hak. lebih dari itu, cerita ini membuat

saya terhibur dan sayang rasanya kalau enggak meninggalkan jejak

#halah.
.
sumpah, cerita ini asyik gilak! ahak hak hak. formulamu dalam menyusun

cerita komedi begini adalah bentukan kalimat-kalimatmu yang pas banget

sama selera saya. ahak hak hak. memang perlu diulik-ulik lagi kalau mau

menemukan cirinya (cara membuat begitu). belakangan, beberapa

kalimatmu itu diambil dari sumber ide cerita ini. dan dikau pun mampu

melanjutkan model seperti itu demi menjaga komedinya terus oke.
.
bilapun ingin mengomentari hal-hal yang dirasa minim dalam cerpen ini,

saya ragu bisa membahasnya dengan rinci dan jelas begitu. sumpah.

menyoal tutur (gaya bercerita) Kepatahhatian Duro ini sudah mulus. hal

yang membuat pembaca bisa mengikuti dan enggak khawatir ada yang

keliru. jadinya, pembaca tinggal baca dan ketawak-ketiwik. ahak hak hak.
.
dan terlepas dari baiknya cerpen ini, saya gak bisa mengomentarinya kalau

tidak sambil mengomparasi dengan sumbernya, yakni cerpen Kemudianers

erul (saya udah baca semuanya). saya enggak koment di cerber erul tsb. di

sini sajalah.
.
hal pertama perbedaan yang bisa saya lihat dari kalian berdua adalah erul

lebih menggeluti konflik secara luas dan dalam. cerpenmu menyentuh

permukaan (karena memang cuma satu tulisan). dan erul itu, entah

kenapa ahli dengan macam-macam karakter tokohnya. jadi keberagaman

itu yang membuat kompleksitas cerbernya menjadi sesuatu yang

"berharga" dan tersimpan di benak pembaca. ceritamu lebih lite. ringan

sangat malah. di sini pembaca diposisikan sebagai penonton yang butuh

hiburan bukan tindak lanjut dari apa yang ditontonnya. Kepatahhatian

Duro ini menyampaikan humor, sedangkan si erul menyampaikan tragedi.

keduanya sama-sama fabel dan bergerak di dua jalur yang beriringan,

meski gak sama. pendapat ini tentu masih bisa diperdebatkan.
.
hal berikutnya adalah: saya merasa dikau memiliki sense yang

membuatmu lebih bisa mengamati prilaku manusia dan

mengaplikasikannya pada tokohmu yang binatang. istilahnya binatangmu

lebih manusiawi dalam hal prilaku. sedangkan erul bukan prilakunya

(secara fisik) melainkan pemikiran. hal ini yang rasanya membuat cerita

buatan erul lebih kuat di ingatan saya tinimbang buatanmu. saya pusing

harus mengomentari dua hal begini, karena jelas butuh sumber dan

dukungan-dukungan argumen. hanya saja, sebatas berbaring tengkurep di

kantor, saya bisa mengatakan begitulah yang saya rasakan ketika

membaca karya kalian.
.
terus keterkaitan tokoh utama. tokoh Duro buatanmu kurang terikat

dengan tokoh lainnya dalam cerita. sedangkan buatan erul sebagai puzzle

yang harus ada demi mendukung argumen-argumennya sepanjang cerita.
.
persoalan tutur adalah daftar bacaan. saya yakin erul punya buku-buku

yang lumayan, yang membuatnya mampu menulis dengan tutur satir

dalam kerangka fabel yang ia kembangkan. sedangkan engkau, mungkin

hanya tulisan si erul itu. saya yakin karena menulis seperti cara erul

enggak bisa didapat dengan cara instan. hal ini juga berpengaruh kenapa

sampai pembaca bisa mendapatkan kesan bahwa buatan erul membahas

hal yang sangat penting, sedangkan dirimu membahas hal yang penting.

tentu saja dalam lingkup semesta ceritanya ya.
.
hal lainnya adalah karakterisasi. erul menciptakan tokohnya dengan

diferensiasi di antara masing-masing tokoh. dan itu kuat kesannya. sangat

berkesan. Kepatahhatian Duro, salah satu yang membuat kesan itu kuat

tercermin dari bagian ini:
.
“Apa?!” senggol Anton.
“Apa?! Mau berkelahi kamu?” tantang Duro.
“Ayo!” terima Anton.
“Ayo!” jawab Duro kembali menyenggol dada Anton.
“Ayo!”
“Ayo? Siapa takut?!”
.
ini bagian yg menurut saya tokohmu lebih dekat secara prilaku fisik

dengan manusia.
.
namun dinilai dari sisi parodi, ceritamu wah dengan celetukan-celetukan

yang gress! konflikmu, menurut saya, enggak punya titik puncak. lalu

ditutup dengan fragmen yang saya rasa enggak seharusnya ada. saya pikir

awalnya dikau sedang ingin mengupas satu peristiwa saja. kehadian

ending begitu malah mengacaukan buat saya.
.
terakhir sebagai penutup. suka dengan stand up comedy? ini kan

boomingnya belum begitu lama di Indonesia (yang sebelumnya

menikmati humor melalui pertunjukkan lawak ala DKI). standupcomedy

ini katanya komedi serius. mirip tragedi, karena yang dibicarakan itu

fenomena aktual yang mau tidak mau audien cuma bisa ketawa. akhir-

akhir ini teknik ber-standupcomedy berkembang, khususnya secara

pengetahuan kita karena ada stasiuntv yg membuat acara kompetisi

begitu. jadinya, kita dikasih tau teknik-teknik tertentu. nah, saya merasa,

ujung-ujungnya asal bisa berdiri dan melucu di depan panggung, sudah

namanya standup. alih-alih bicara lucunya si fenomena, para komika ini

malah melucukan fenomena tsb dengan argumen-argumen konyol. ini

degredasi buat standupcomedy, menurut saya ya. apa hubungannya

dengan cerita ini? buatanmu lebih kepada melucukan kisah tokoh.

sedangkan erul enggak; menampilkan hal yang membuat pembaca cuma

bisa tertawa. kamu membuatnya santai dan nyaman. erul membuat

kepikiran. saya rasa keduanya bisa dinikmati dengan mengubah sudut

pandang saja, dan bukannya menilai mana yang lebih baik atau mana

yang lebih buruk.
.
semoga komentar ini berkenan.
kip nulis dan kalakupand.
ahak hak hak.

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)

Pertama-tama saya mau mengucapkan banyak terima kasih karena sudah mau berkomentar dengan asoy begini, bang momod :)
.
Awalnya saya menulis ini karena memang melihat ada sesuatu yang "menarik" dari cerbung Erul Purnama. Tapi saya tidak tahu apa itu. Baru setelah membaca komentarmu, saya baru ada gambaran tentang sesuatu yang "menarik" dari cerbung itu. Yaitu keberagaman karakter dan keahlian om erul dalam menuturkan tingkah laku mereka, yang buat saya paling menyentuh dengan membahas ironi namun menuturkannya dengan komedi. Dia memang berbicara secara dalam dan luas tentang konflik dalam cerbungnya, walaupun itu dikemas dalam bentuk yang menarik dan lucu (bagi saya).
Di cerpen ini, saya sebenarnya seperti keluar dari cara menulis saya yang biasanya. Mungkin karena pengaruh setelah membaca cerbung Om Erul, tapi sebagian besar karena memang cara menulis saya yang rasanya masih "butuh banyak koreksi sana-sini". Sama seperti yang kamu bilang, bang, cerpen ini tidak memuncak konfliknya--yang kalau saya pribadi merasa konfliknya ngak jelas berarah ke mana, seperti timbul tiba-tiba tenggelam.
.
Perihal keterikatan Duro dengan karakter-karekter lainnya. Mungkin itu disebabkan konflik dalam cerpen ini yang tidak memuncak, jadinya tiap gerak-gerik Duro tidak meninggalkan kesan yang kuat, hanya sebatas tontonan saja.
.
Saya sepakat dengan tokoh di sini lebih dominan perilakunya dan di cerbung Om Erul lebih condong ke pemikiran tiap-tiap tokohnya. Sayangnya beliau sudah tidak lagi muncul di sini, padahal saya mau bertanya kepada dia buku-buku apa saja yang banyak memberi pengaruh ke dalam cara menulisnya. Bukan karena saya ingin menulis seperti dia, cuma sebatas ingin tau, apa-apa saja yang membuat dia bisa menulis dengan sudut pandang yang menarik begitu. Seperti dianya tahu bagaimana cara melucukan tragedi. Saya jadi ingat kata seseorang yang pernah bilang begini, "Puncak dari sebuah tragedi, adalah komedi". Walaupun dalam cerpen ini, konfliknya ngak sampai puncak, dan endingnya tidak bikin klimaks, ^^
.
Yang masalah standupcomedy itu, bang, saya sebenarnya pernah bikin-bikin materi stand up comedi, hihihi ^^
Cuma kendala di mental saja kayaknya. Saya masih malu bukan main kalau mau naik ke panggung. Apalagi kalau komedi saya malah lempem (kata mba dayeuh komedi yang ngak lucu itu harusnya dibilang "lempem" bukan "garing", katanya kalau garing itu kan masih enak dikonsumsi). Soalnya di Kendari, stand up comedy lagi nge-trend emang. Tiap event-event hiburan pasti ada kompetisi standupcomedy #MulaiOOT.
.
Sebagai penutup, mungkin saya bilang saja, kalau cara terbaik mengatasi tragedi adalah dengan menikmati komedi. ^^ hihihihi
.
Makasih buat komentar kamu, bang momod ^^, selalu berkenan kok, bang. Saya bakal nulis sambil ~memandang kelip bintang nun jauh di sana~
Kalakupand too, ^^

Writer amanda.joyce333
amanda.joyce333 at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)
100

menarik

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Kepatahhatian Duro (5 years 46 weeks ago)
90

9, ini asik, saya menikmati pilihan katanya, dan kelucuan ataupun sentilannya yang timbul sesekali, rasanya tulisanmu semakin bagus sahaja, hihihi.
yang lucu, sbg contoh, ya ungkapan "semester nenek" itu, juga ketika Duro dan Muni saling panggil kan jadinya MunDur, hihihi, dan petingkahan Oscar juga menghibur. seperti kata bang haji, absurd sih, jadi mau cerita apa juga ya udah aku terima apa adanya #oleng
walau para tokohnya dikatakan sbg binatang, tapi pada awalnya, terutama bagian Duro-Muni-Anton itu saya enggak peduli dan membayangkan mereka sbg manusia aja. pasti manusia. saya rasa pembinatangan mereka sekalian cara untuk menyindir perilaku manusia yang makin kebinatang2an. baru ketika di bar saya membayangkan mereka sbg binatang2 sbgm disebutkan.
saya belum baca cerita2 sebelumnya sih, hehehe.
keep writing yak.

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)

Senang sudah bisa menghibur dirimu, mba day. ^^
.
Di awal-awal memang banyak yang merasa seperti dirimu, mba. Bingung ini manusia apa hewan. ^^
.
Absurd ya? hehehe, seabsurd muka saya, mba? hehehe, Makasih buat dirimu yang sudah menyempatkan diri mampir, mba. :)--Saya juga baru sadar kalo Muni dan Duro saling panggil itu jadi MunDur. XD

Writer Zarra14
Zarra14 at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)
100

keempatbelas --> setahu saya ini seharusnya: keempat belas
penganguran --> pengangguran
keduapuluhtiga --> kedua puluh tiga
soleha itu bukannya solehah, ya?

Sama sih, pertama baca saya kira ini fabel, tapi rasanya bukan juga. Sepanjang cerita saya coba cari pesan tersiratnya, tapi mungkin sayanya aja yang lemot. Tapi serius ini menghibur, hahaha. Saya suka dialog sentilannya seperti "Pasti dia mahasiswa semester nenek!” dan “Akhir-akhir ini memang pemerintah banyak melegalkan hal-hal yang merugikan,”
Good job.

Terus semangat nulis, kak Nine.

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 45 weeks ago)

Zarra14 :3
.
Yang kedua-kedua-an itu saya sebenarnya terpengaruh sama penulisan di novel, entah saya yang salah ingat ato tidak, penulisan kedua puluh tiga ditulis keduapuluhtiga (CMIIW, ya) dan selebihnya itu memang karena saya yang kurang jeli. ^^
Makasih banyak buat koreksinya Zarra, :)
Salam hangat dariku, ^^

Writer vinegar
vinegar at Kepatahhatian Duro (5 years 51 weeks ago)
70

Saya gak tahu apakah cerita ini masuk fabel atau hanya dimaksudkan sebagai satir. Kalau satir biasanya memakai perlambang untuk mewakili sifat atau perwujudan. Sementara hewan2 di sini mewakili sifat manusiakah atau penampilan fisiknya? Itu sebabnya saya jadi gagal nangkap maksud cerpen ini. Keep writing, nine :)

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

Waktu nulis, saya ngak tahu sama sekali ini termasuk fabel atau satir. Saya juga baru dengar pas kamu komen, mba Vin :)
.
Mungkin yah, mba Vin, mungkin cerita ini termasuk fabel?
.
Sori kalo ceritanya membingungkan dirimu, Mba. Mudah-mudahan yang berikutnya tidak bikin pusyiiiiing
.
Makasih sudah berkunjung, Mba. ^^

Writer Kholid
Kholid at Kepatahhatian Duro (5 years 51 weeks ago)
50

di tunggu cerita lainnya... hehehehe

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

Mari kita sama-sama menunggu. :)
Hehehehe,
.
Makasih sudah mampir kemari ^^

Writer icud
icud at Kepatahhatian Duro (5 years 51 weeks ago)
50

Saat kamu mengira mengetahui sebuah trik, kamu adalah yang paling tidak tau sama sekali. Untuk itu sedikit dewasa kiranya jika bertanya saja sama empunya cerita. Apakah yang penulis mau, kita melihat sifat binatang yang seolah menjadi trend meski itu salah?

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

"Saat kamu mengira mengetahui sebuah trik, kamu adalah yang paling tidak tau sama sekali." Maksud kalimat ini apa yah, Bang? Saya bingung.

Di sini saya cuma nulis cerita aja. Untuk pertanyaanmu yang "Apakah yang penulis mau, kita melihat sifat binatang yang seolah menjadi trend meski itu salah?" Saya masih bingung, mungkin bisa diperjelas lagi pertanyaannya? Maklumlah, otak saya rada-rada lemot. :)

Makasih sudah mampir yah, bang. Hehehe

Writer The Smoker
The Smoker at Kepatahhatian Duro (5 years 51 weeks ago)
80

entah harus punya basic dengan membaca link yang kamu kasih di mesej log itu, atau gimana biar masuk seutuhnya ke cerita ini. tapi saya nggak baca sih, haha.
.
saya kira yang gorila-gorilaan itu cuma sebatas penyebutan untuk ceweknya saja. eh ternyata Duro juga seekor gorila yang ganteng. maka pas muncul tapir, dan pembahasan tentang pacaran berbeda spesies itu saya kembali merengut. mungkin seperti Banghadj, tetang segala perikemanusiaan dan perikebinatangan itu.
.
lalu pas di bar, walau di cerita ini disebut kafe yang njual minuman keras sih, kok bisa itu dinos dan guguk gak tau tempat apa yang mereka masuki. lalu malah bertahan sampai minuman2 terakhir. saya nggak sreg soal itu. apa itu cuman untuk membangun proses komedi lainnya? karena saya nahan ketawa pas Oscar mengira pelayan itu perempuan dan kalimat : " Duro dan Benjamin geleng-geleng kepala. Masih banyak hal yang tidak diketahui Oscar." itu terasa sangat pas ada di situ.
.
saya baca banyak nyengir dan juga kerutan sih, dan kebingungan mikirin bentuk kemasan yang penulis inginkan kepada cerita ini mau seperti apa. apakah mau seabsurd itu? tapi kok rasanya tanggung, ya. karena pembangunan suasanakah, ataukah saya bersalah yang tak mengikuti cerita sebelumnya?
.
cheerrsss.

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

Paduka Zeth Yang Terhormat,

niatnya sih saya mau bikin cerpen ini bisa dimengerti tanpa harus baca cerita sebelumnya, yah semacam side story mungkin.

iya, ini seperti yang Bang Hadjri bilang. Binatang yang diorang-orangkan.

Untuk kejadian yang di bar (atau cafe, saya juga bingung) di situ ceritanya si Dinos ngak tahu tempat apa itu, cuman Gukguk aja yang ngerti.

Absurdnya masih nanggung yah? Iya sih emang, mungkin gara-gara deskripsi dunianya masih minim? Saya juga bingung ini cerita saya kemas dalam bentuk apa, :p

saya nulis aja, ngak terlalu banyak mikir, hehehe

Makasih sudah mampir kemari Om. Salam sama jandamu. ^^

Writer 2rfp
2rfp at Kepatahhatian Duro (5 years 51 weeks ago)
80

Ini menghibur, masih tidak mengerti apakah hewan2 disini hanya perumpamaan atau bukan. Meskipun menemukan kata orang di sana.

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

Halo, bray! :)

Senang saya kalo cerpen ini menghibur dirimu. Hewan-hewan di sini itu yah ... hewan aja, saya ngikut sama cerpen-cerpen Om Erul--penulis yang buat part-part sebelumnya.

Makasih banyak sudah mampir, bro. :)

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kepatahhatian Duro (5 years 51 weeks ago)
70

Hakakakak, ini cerpen agak2 absurd. Sempet bingung ini beneran orang yang dibinatang-binatangkan atau binatang yang diorang-orangkan? Tapi ternyata emang semi antropomorfis (?) gitu. Banyak bagian2 yg redundan, bang, sepakat sama cita, banyak bagian2 yg diulang jadi gak seasik pas pertama kalinya dibaca. Contoh: Tombak yg menusuk dari bokong, mobil Apansa, dll. Tapi ini sukses bikin saya lumayan terhibur. Sukses terus ya, salam kehidupan kemudian

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

Oi bang, kamu itu yang absurd bukan cerpen saya. :)

Di sini emang modelnya binatang yang diorang-orangkan. Mohon maaf kalau masih banyak kekurangan di sini, bang. Mudah-mudahan kedepannya lebih baik.

Makasih sudah mampir Om brewok ganas, mwehehehe ^^

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

Hihihi :D
Aku enjoy2 aja kok bacanya, walopun pas baca (dan setelahnya) ada beberapa pertqnyaan, tp amanat cerita udah tersampaikan dengan baik. Hehe, itu aja deh, ciao ;)

Writer citapraaa
citapraaa at Kepatahhatian Duro (5 years 51 weeks ago)
70

nice :v
hmmm di beberapa bagian terasa mulus, tapi juga ada yg maksa.. kurang ngerti dengan nama2 hewannya. kalau cuma dari cerpen yg itu, apa besar pengaruhnya ke sini.
trus banyak penjelasan yg diulang2. mungkin untuk penegasan. tapi kurang menarik jadinya.
ada kalimat bikin ngakak yg diselipin :P
ini maksudnya hubungan sejenis, lgbt? bukan kan ya? (gagal paham)
endingnya lucu :v
kok ga di tambahin bhs sana? *maksa* wkwk jadi kesannya makin real gitu

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

Halo orang sini :)

Untuk beberapa bagian yang terlihat maksa, itu bagian yang mana, Cita? Beberapa pengulangan kurang menarik yah? Oke saya catat.

Sebenarnya di sini saya mau bikin hubungan asmara yang versi kebalik dari dunia manusia. Kalo dunia manusia kan hubungan beda jenis (jenis Laki-laki sama jenis perempuan) yang dianggap lumrah, tapi kalo di sini hubungan beda jenis itu dianggap haram (jenis tapir sama jenis gorila)

saya ngak tambahin bahasa sini, karena takutnya nanti bikin orang bingung, yang begini saja sudah bikin pembaca jadi bingung, Cita. :)

Makasih sudah mampir yah? Salam sama mamamu, hihihi ^^

Writer citapraaa
citapraaa at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

Untuk beberapa bagian yang terlihat maksa, itu bagian yang mana, >> lupa juga :v mungkin sayanya aja.
saya ngak tambahin bahasa sini, karena takutnya nanti bikin orang bingung, >> kan bisa pake catatan kaki?
salam balik

Writer Nine
Nine at Kepatahhatian Duro (5 years 50 weeks ago)

Hoooh, nanti deh saya coba2 bikin yg begituan (soal bhsa sini itu) ^^