*****

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer purplemacaron
purplemacaron at ***** (5 years 50 weeks ago)

:) good

Writer Balter
Balter at ***** (6 years 2 weeks ago)
100

10 bintang ini bukan karena sopan santun.

Writer Balter
Balter at ***** (6 years 2 weeks ago)
100

10 bintang ini bukan karena sopan santun.

Writer chia
chia at ***** (6 years 3 weeks ago)
100

:D

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 2 weeks ago)

Hihi

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at ***** (6 years 4 weeks ago)
70

Hmmm... kalau ada fitur like semacam di Facebook, komen Om Momod Shin udah saya like berkali-kali deh.
Ada yang kurang dalam cerpen ini. Seolah-olah penulis hanya ingin menunjukkan bobot di narasi, tapi malah bolong di isi.
Bukan berarti buruk ya, tapi tetep berasa kurang.
Saya mesti sering mengerutkan kening dan membaca ulang untuk paham inti ceritanya (inti, saya bilang, bukan ceritanya itu sendiri), lantaran terusik dengan narasinya yang mendayu-dayu dan berputar-putar bak labirin itu.
Saya penyuka diksi indah kok, tapi saya rasa sebaiknya diksi indah itu gak membuat plot/konflik ceritanya sendiri tersingkirkan.

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 2 weeks ago)

Iya, saya juga ngerasanya bermasalah di situ.. terkesan show off sama narasinya gitu ya :(. Terimakasih udah diingatkan, mbak. Terimakasih juga apresiasinya :)

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at ***** (6 years 4 weeks ago)
100

Saya merasa, deskripsi pada paragraf pertama itu tentang saya... #plak!

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 2 weeks ago)

Pasti kamu yang di papan reklame di depan mega mall itu ya, jadi lampunya?

Writer Shinichi
Shinichi at ***** (6 years 5 weeks ago)
80

Oke.
.
Saya enggak tau musti bilang apa. Sebagian besar, apa yang mau saya sampaikan sudah dikomentari oleh Kemudianers lain. (makanya koment duluan dong! #plak). Tapi karena saya sudah baca ini, rasanya sayang banget kalau enggak ninggalin jejak #halah. Um, mungkin komentar saya bisa jadi bukan sesuatu yang membangun. Ini lebih mirip semacam pembacaan.
.
Dayeuh bilangin soal Cantik itu Luka. Judul itu juga yang langsung terngiang di kepala saya begitu membaca baris-baris pertama cerpen ini. Secara keseluruhan, hal utama yang menjadi perhatian saya kali ini adalah narasi (saya enggak yakin apakah narasi adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang menjadi konsentrasi saya kali ini). Apalagi setelah usai membacanya, saya tidak tertarik dengan konflik maupun karakterisasi (sampai ke unsur-unsur ekstrinsiknya sekalipun). Hal-hal itu seharusnya menarik (tapi ini tentu bisa diperdebatkan), mengingat cerita ini berangkat dari waktu yang jauh, setting yang memunculkan rangsangan "mengimajinasikan". Kenapa? Karena waktunya yang jauh. Banyak ornamen-ornamen pembangun setting yang berasal dari tempat lain yang bagi saya, seharusnya, memunculkan semangat berfantasi: menyelami suasana cerita. Dan saya yakin penulisnya bekerja dengan cukup keras demi menyajikannya di sini. Itu pantas untuk diapresiasi.
.
Lalu proses atau kerja menghasilkan narasi (atau menjadikan naratif) itulah yang menjadi fokus saya. Engkau menyajikannya, dengan padat dan detil, cenderung lebih berkonsentrasi pada "cara membangun gedung". Ibarat membangun rumah--dan saya anak yang punya rumah--saya lebih banyak mendengar para tukang membicarakan bagian pondasi, tiang, atap, dsb, serta bahan-bahan yang membuatnya bagus, kuat, dan tahan lama, dan enggak ketinggalan tentang pengetahuan si tukang (atau arsitek) mengenai asal-usul bahan tersebut, asal-usul model bangunan, perkembangannya, contoh-contohnya. Di satu sisi, si anak yang punya rumah (saya) mendapatkan pelajaran berharga bahwa ketika engkau menjadi seorang arsitek, engkau harus tahu hal-hal seputar pekerjaanmu, unsur-unsur yang menjadi "makanan sehari-harimu", juga perkembangan hal-hal lain yang menyangkut itu. luar biasa keren! Ah, tentunya Sang Penulis sudah expert soal ini. Cerita-cerita dikau, seingatku, selalu punya kesan (secara naratif) sebagai hasil observasi. Atau minimal (jaman muda dulu) dikau buka-buka lagi itu kliping-kliping SMP.
.
Narasi cerpen ini detil. Komposisinya dengan dialog sangat jauh. Ketika penulis memulai menyampaikan akar duduk persoalan, bagian itu juga tak lepas dari "aroma" naratif. Buat saya, entahlah kalau baru kali ini saya mengomentari hal begitu, hal tersebut membuat saya malah melupakan masalah yang terjadi di sini. Mungkin ada solusi untuk mengatasinya, misalnya, baca lebih dari sekali. Tapi, dalam sekali pandang, sekali duduk seperti istilah kita pada "apa itu cerpen", saya gagal mengikuti konflik. Gagal memosisikan diri saya dalam ruang "drama". Emang siy, saya rada-rada susah bagi-bagi perhatian, makanya pacaran enggak pernah sekali dua dalam satu waktu #plak! Kembali ke "pembacaan saya", ya, cerpen ini "kurang" drama. Bagi saya, konflik malah enggak tergali--dengan tuntas.
.
Begitu usai membaca seluruhnya (juga komentar) saya langsung yakin bahwa penulis, dirimu, memang sedang bernarasi deskriptif begitu. Memang sedang menyampaikan pada anak si pemilik rumah menyoal unsur-unsur dan hal-hal seputar bangunan yang akan dibangun. Sedangkan saya, sesungguhnya, menantikan bagaimana nantinya rumah itu diisi. Apa yang akan diletakkan di dinding sebelah ini, di atas pintu, jalur-jalur kabel listrik, konsep saklar, lukisan apa di dinding mana, TV sebelah mana, dsb. Nah, saya kuciwa dong! :p Kisahnya enggak berujung pada klimaks. Itu semakin menguatkan dugaan saya menyoal "agenda" penulis. Inilho yang seharusnya penulis lakukan pada fase "bernarasi". Itu bagus. Sangat bagus malah. Hanya saja, buat saya, hal tersebut, di cerpenmu yang ini tentu saja, malah mengurangi ketertarikan saya pada salah satu unsur intrinsik kita: karakterisasi. Ceritanya usai begitu saja. Mungkin hal itu diputuskan penulis karena "unsur" drama itu sudah "sampai" pada titik yang cukup. Menurut saya belum. Saya belum puas dengan hasil begitu. Interaksi tokoh enggak ada kurvanya. Enggak ada naik-turunnya, enggak ada klimaksnya. Itulah yang membuat saya sempat "melupakan" bahwa Elenora itu menyoal drama, menyoal tragedi yang sewajarnya bisa dirasakan ketika "audiens" tahu "kejiwaan" karakternya. Sementara saya, demi Penulis yang engkau idolakan, sudah larut pada betapa naratifnya engkau; betapa pekerjaan menulis itu adalah hasil riset dan kemampuan bertutur yang aduhai yang cenderung enggak bisa didapatkan hanya dengan cukup menulis satu dua cerpen bagus ;)
.
Kira-kira itulah hasil pembacaan saya, Bude (dirimu akrab dipanggil begitu rasanya). Mohon maaf ya kalau kurang berkenan. Ini sekadar pembacaan, bukan pakem. Kalau pakem, Dayeuh oks banget. Saya lebih ke pembacaan sahaja. Ilmu Lapangan. Acuan saya enggak banyak, bahkan mungkin sangat minim. Tapi saya puas bisa menyampaikan hal ini. Enggak nyaman rasanya ketika saya bilang di awal saya enggak tau komentar apa, dan ternyata benar begitu adanya sampai akhir. Ahak hak hak. Kip nulis dan kalakupand.

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 2 weeks ago)

Terharu :'), di tengah kelemahan koneksi inet masih nyempetin komen sepanjang ini ke saya.

Dan hal-hal yang menjadi keresahan saya soal cerpen ini memang sedikitnya bisa abang tangkap. Pertama kenapa cerpen terasa semacam timpang di deskripsi setting ketimbang karakter, karena bahan bangunan saya terlalu banyak dan pengen semuanya masuk. Sementara karakternya saya terbawa tellingnya setting #bingung ya. Karena pov 3(?) menyulitkan saya membangun sisi psikologis dari dalam. Begitu teringat karakter saya masih kosong akhirnya saya paksa ngebangun dialog yang bisa dilihat sebenernya terlalu tiba-tiba, dramatis dan kurang maksimal. Dengan harapan juga bisa ngedrama, padahal unsur drama aja saya belum ngerti. Katakanlah, saya gagal dalam pelajaran drama di sini. Dan maafkanlah, karena ketika saya buat cerpen ini sedang dalam pengaruh membaca novel hasil riset yang luar biasa, juga diksi yang sayapun gelagapan. Secara gak langsung itu ikut andil sih kenapa tulisan ini jadi begini. Apa sebenarnya menulis dalam keadaan seperti itu tidak terlalu baik ya?

Sekali lagi terimakasih ya, bang shin. Jangan kapok mampir lagi :)

Writer 2rfp
2rfp at ***** (6 years 5 weeks ago)
90

ngikut pujian2 di bawah saja :)

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 2 weeks ago)

Lain kali bawa cabe ya, Ryan. Biar bisa dijual :)

Writer Liesl
Liesl at ***** (6 years 5 weeks ago)
90

Diksinya nikmat banget, jadi ga bosen bacanya walaupun paragrafnya panjang2. Terima kasih juga untuk beberapa kosakata yang bikin saya harus buka kamus. Itung2 nambah ilmu :p

Penasaran aja, itu omanya tau Elenora jadi joki? Kalo omanya tau, mungkin Elenora udah diamuk dari lama. Kalo omanya ga tau, omanya ga penasaran Elenora dapet duit darimana?

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 2 weeks ago)

Pekerjaan itu, oma tahu kok. Hanya saja soal pendapatan yg disisihkan itu yang harusnya gak boleh. Makasih singgahmu, liesl :)

Writer AriaLauraT
AriaLauraT at ***** (6 years 6 weeks ago)
80

Salam kenal.
Ini cerpen yang pertama kali saya baca di Kemudian.com
Rapi dan manis. Meski tragis, tapi kamu bisa membalutnya menjadi begitu menyentuh dan dramatis.
Elenora yang cantik dan lugu. Namun menjadi pemberontak akibat modernisasi jaman. Bagus. Ada pesan terselubung yang didapat dari cerpen ini.
Namun, perubahan karakter si Oma yang terlalu beringas secara mendadak nampaknya agak mengejutkan. Mungkin di awal-awal bisa dikasih clue atau sisipan tentang kerasnya sikap si Oma. Selain kekunoan dan kebencian terselubungnya terhadap Elenora.
Malah, kemarahan si Oma itu nampak seperti kemarahan seorang yang peduli ketimbang seorang yang memang ingin mengutuki cucu dan anaknya. Jadi, agak tidak enak aja dengan adegan kekerasan itu.
Untuk ending, agak membingungkan ya. Jauh dari perkiraan di awal.
Masih menjadi tanda tanya untuk saya.

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 2 weeks ago)

Hai, Aria

Perubahan karakter ya, sebenernya tidak ada yg berubah cuma mungkin belum memungkinkan untuk ditampilkan di awal. Hanya secara tersirat aja sedikit ditunjukkan, mungkin porsinya aja yg kurang. Iya, kadang orang bisa melakukan apapun pada orang yang dicintai kalau sedang kalap, bahkan menyakiti. Endingnya, memang itu penyakit saya yang suka mengakhiri cerita dengan pertanyaan. Hihi.

Terimakasih mampirnya ya :)

Writer Zarra14
Zarra14 at ***** (6 years 6 weeks ago)
100

Sudah lama baca di situs sebelah, tapi numpang mampir juga di sini~
Narasinya mengagumkan kak, cantik dan menghanyutkan, bikin dramanya jadi berkelas dan gak cheesy. Belum lagi unsur retronya itu bikin saya makin suka.
'Mungkin ia menyublim jadi bisikan-bisikan yang bertiup dingin di sela halimun.'
'Kian lama mata di kedua sayapnya kian purnama.'
Cetar abis XD
Ditunggu karya-karya lainnya, kak :D

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 2 weeks ago)

Belumlah kalo berkelas :p. Antara yakin dan ngga yakin sebenernya mau posting ini di sini, tapi daripada yg sana error lagi. Makasih udah apresiasi, saya juga nunggu yg lain darimu :)

Writer citapraaa
citapraaa at ***** (6 years 6 weeks ago)
80

keinget Carrie
lebih suka gaya vin yg di Sepatu sih. jadi kurang terpesona seperti yg lain.
omanya kyk kurang sadis (hm. kan di akhir kyk merindukan elenora nya. jadi 2 sisi *ngomong sendiri)
dramanya kerasa.
"balita yang mabuk" wih. (ga setujuuu kan mereka hanya bayi bayi imut)
sekian. maap kalo komennya ga jelas.

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 6 weeks ago)

Cita, kalo lebih sadis lagi nanti jatohnya gore dong, bukan drama :p. Balita mabuk itu banyak kok di jalan-jalan, digendongan ibunya. Mabuk karena dicekokin obat tidur, biar orang menghiba. Thanks mampirnya..

Writer rian
rian at ***** (6 years 6 weeks ago)
2550

"Matanya hanya memandang ke luar jendela, mengadu pada pagi yang sumbing, pada dedaunan yang menunduk berkabung."

"Elenora menjelma sundal seperti Ibu, merupa bangsat seperti Ayah."

"Berlari pada kawan yang tak pernah ada untuk menjanjikan apa-apa."

"Potret-potret dinding lusuh membisu, begitu pula makhluk mungil di baliknya yang berdiam menahan rindu."

"Seekor kupu berwarna senja berputar-putar di luar jendela, mengawasi seisi kamar dengan waspada. Kian lama mata di kedua sayapnya kian purnama."

Permainan rimanya yang halus itu saya suka, belum lagi ungkapan-ungkapannya yang oke punya, bikin cerita yang idenya sebenernya biasa ini (remaja pingin memberontak ditentang yang lebih tua), jadi kerasa asik pas dibaca. Jadi terasa punya suasana sendiri yang beda, yang unik, ditambah lagi sama penamaan tokoh utamanya. Ending tokoh utamanya ngilang udah enggak baru lagi, tapi paragraf-paragraf terakhir itu kata-katanya cantik banget, jadi tetep suka:)

Terus menulis, Bude.

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 6 weeks ago)

Iya, Rian.. kalo lebih sibuk nyari pola ending yang belum pernah ada sebelumnya, gak akan nulis-nulis kita. Makasih apresiasinya ya :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at ***** (6 years 6 weeks ago)
100

barangkali Elenora itu bukan saja secantik namanya, tapi juga secantik narasi yang berkisah tentang dirinya.

gaya bahasamu, budh, duh aduh aduh ....

//Ia hanya bisa menerka-nerka apakah Ayah hidup di cuping telinganya atau lengkung bibirnya atau bulu matanya.//

//Wanita tua itu hanya mengajarinya menyulam kesedihan di selimut tidur dan memintal dendam di langit-langit kamar.//

belum lagi cara oma marah2 (#hlo)--mengaitkan apa2 yang diwarisi Elenora dari kedua orang tuanya, perumpamaan cicak dan kupu2, serta detail2 yang membangun narasi sekalipun cuma untuk mengabsen nama2 tumbuhan di halaman. 

seperti judul novel Eka Kurniawan, bagi Elenora, cinta itu luka, sedangkan menurut Oma, cinta itu kutukan. #jyaa

cerita Elenora ini ngingetin sama Maria di Merpati Tak Pernah Ingkar Janji Mira W. Di situ Maria juga dimarahi habis2an sama bapaknya gegara dandan. 

masih ada yang ngeganjel sih di penulisan. kayak ...

terjerembab / terjerembap

nafas / napas (coba cek kbbi)

selain itu, mil (satuan jarak) bukannya lazimnya dipakai di Amrik, ya, budh?

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 6 weeks ago)

Mira W itu seringnya roman ya, Mah. Belum pernah baca saya. Iya, masih ada yang kelewatan.. ntar diedit lagi. Dan iya..soal mil itu juga lupa, tapi udah terlanjur dapet 'bunyinya', hehe.. Nuhun mampirnya mama day :)

Writer mawarhijati
mawarhijati at ***** (6 years 6 weeks ago)
80

Hai, Kak! Aku baru, loh, di sini. Dan, tau nggak? Aku langsung jatuh cinta sama tulisan Kakak. Aku suka penuturannya ceritanya. Enak, ngalir... dan nggak terlalu berat. Dan endingnya... bikin aku "duh... duh... duh..." terus. Terlepas dari cerita, aku suka pilihan nama tokohnya, Elenora... Duh, cantik banget namanya. Bikin ceritanya lebih apik dibaca. Salam kenal, ya, Kak!

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 6 weeks ago)

Hai, mawar.. salam kenal kembali ya. Makasih udah mampir ke lapak saya yg gak seberapa :)

Writer FaraniD
FaraniD at ***** (6 years 6 weeks ago)
90

Halo Kak Vin, Fara disini.
Saya tertarik untuk membaca cerpen ini karena judulnya, Elenora. Menurut saya, Elenora seperti menjanjikan suatu cerita yang anggun nan apik. Dan saya menemukannya disini, cerita yang dibuat oleh Kak Vin.
-
Konfliknya berlapis-lapis ya? Seperti yang dikatakan oleh Bang Hadjri. Saya tidak menduga, kalau endingnya bakal seperti itu. Entahlah, rasanya keren saja menurut saya.
-
Ini menggunakan sudut pandang orang ketiga ya? Cuman yang agak membikin saya bingung disini adalah, diawal disebutkan jika Eleanor sangat cantik hingga cicak-cicak berjatuhan. Namun ketika Eleanor mencoba baju baru dan lipstik, ia berkata "... aku hanya ingin terlihat cantik."
Bukankah ia sudah sangat cantik? Dan juga di paragraf berikutnya, " ... bahwa perempuan cantik itu telah mati sejak lama."
Dan juga apakah omanya tidak menyadari kecantikan Eleanor sedari dulu?
Sekian dulu ya, Kak Vin. Semoga berkenan.

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 6 weeks ago)

Hai, Fara... terima kasih udah mampir ya.
Saya jadi bingung mau jawab apa :p. Sepertinya saya kurang dalem ya memberi isyarat tentang bagaimana perspektif oma tentang kecantikan, diikuti kegelisahan cucunya yang masih belum sampe ke semua pembaca. PR buat saya pastinya. Keep writing, Fara :)

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at ***** (6 years 6 weeks ago)
90

Halo, kak Vin. Sama seperti Om Smoker, saya juga terkagum-kagum sama cerpen ini. Ngalir, enak banget dibaca. Rada enggak tega juga ngebaca si Elenora jadi joki padahal seaduhai itu hehe. Banyak pesan yg bisa diambil sih, konfliknya berlapis2 di sini, tp terutama yg saya tangkep soal Elenora yg mencoba hidup di masa kini dan Omanya yang terlalu terpaku pada masa lalu. Btw, Elenora berada di kisaran umur berapa sih? SMP?SMA? *rada gak penting, penasaran aja. Hmm, apa lagi ya? Saya suka endingnya, sungguh. Misteri hilangnya Elenora, Oma yang menyesali tindakannya, adegan terakhir dia merindukan Elenora, dsb. Keren ah.

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 6 weeks ago)

Umurnya yah.. ada disebutin samar sih, pas kenal cowo itu umur 18. Saya lagi belajar ngedrama di cerita ini sebenernya, makanya ada tragis2nya. Komenmu tumben dikit2 amat di lapak saya :p. Thanks apresiasinya yah, 91 :)

Writer The Smoker
The Smoker at ***** (6 years 6 weeks ago)
90

terus si sayang Elenora ka mana, Mak? ka sumedang?
.
saya terjengkal jumpalikan, (seperti yang sudah saya bilang), hanya dengan membaca baris pertama, mungkin karena pengaruh penamaan tokoh juga. elegan, anggun. berkelas. ngerasa melayang-layang di paragrap awal. sampai nenek2 itu muncul. lantas nggak rela dunianya kayak gitu. tapi tidak merasa berkeberatan dengan endingnya juga sii.
.
terus ngebayangin si sayang naik angkot. jadi joki. yah buyar sedikit expekstasi saya euy. tega si emak, mah.
#dikeprak

Writer vinegar
vinegar at ***** (6 years 6 weeks ago)

Aslinya secara moral saya juga gak rela dia ngejoki, maunya tuh jadi pemain sinetron ato model aja gitu. Hihi. Tapi kan gak ada manusia yg sempurna #udah tau. Semacam imperfection gitulah. Saya tahu hatimu hancur, Bah.. tapi apalah daya saya *pukpuk *kasi tisu

Makasih mampirnya :)