Bibit Haram

Aku tahu dan sangat mengerti, apa yang kamu lakukan puluhan tahun silam, bukanlah kesengajaan. Melainkan, hanya bentuk ketergesaan yang terpicu dari nafas takutmu. Masih kuingat dengan jelas, bagaimana sorot matamu yang selalu waspada, melirik dan mengamati setiap gerak. Sementara mulutmu tak henti-hentinya menggerogoti sisa daging dan serat di biji mangga yang kau pegang. Mangga yang kamu petik secara sembunyi-sembunyi di lahan sebelah.

“Kusno!” Sebuah panggilan yang membuatmu tersentak. Belum sempat merampungkan peran sebagai binatang pengerat, kamu melemparku begitu saja hingga terjatuh dan terpuruk di atas belukar.

Sama sekali tak memperdulikanku, buru-buru kamu usap mulut dengan kaos hitam dekilmu. Mungkin, itu cara termudah bagimu untuk menghapus dan melenyapkan barang bukti.

“Apa Mbah!” sahutmu, lalu berlari meninggalkanku. Begitulah bibit yang kau tanam di dalam jeruji kesadaranmu. Pencuri kecil yang lugu.

Entahlah, aku sama sekali tak yakin jika kamu masih mengingat kejadian tersebut,
lagipula apa pentingnya menceritakan hal itu padamu? Yang lebih penting dan seharusnya kau tahu adalah, kita telah dirawat oleh orang yang sama, orang yang kita sebut Simbah. Hingga kita besar di lingkungan rumah tangga yang sama, namun melangkah dalam dunia yang berbeda. Kamu dengan dunia pencurimu dan aku dalam kebisuanku.

Sejak kecil, jika cahaya mentari mulai menyerong ke arah timur atau ke arah barat, Simbah pasti memandikanku dengan tangannya yang berkerut namun masih terasa kekar. Saput bibirnya yang berkerut pun sering berkata “Kelak, kau akan menjadi penyejuk, sekaligus saksi atas segala peristiwa yang ada di rumah ini!” Aku sama sekali tak tahu apa maksud ucapannya. Apa karena aku bisu dan tak mampu berkelakar? Atau karena sebab lain?

Apa pun itu, begitulah caranya memberikan wejangan, tentang aku yang katanya terlahir dan dirawat untuk menjadi penyejuk. Atau, mungkin juga karena Simbah tahu benar tabiat dan perangaimu yang buruk. Perangai beraura panas yang diturunkan entah dari siapa.

Kenyataannya, kamu dan aku tahu bahwa kita sama-sama dipungut dan dirawat Simbah. Dengan sepenuh hati, kendati dengan cara yang berbeda.

~*~

Simbah telah mangkat dua tahun yang lalu. Kata orang-orang, kamulah penyebabnya.
Tak terhitung sudah berapa banyak tamparan di wajah Simbah yang kamu kirim lewat peristiwa-peristiwa remeh yang memalukan. Mencuri telur ayam di tempat Pak Karto dengan alasan lapar. Padahal Simbah tak pernah alpa menyediakan makan, meski dengan lauk seadanya. Atau mencuri sandal di Surau dengan alasan tak punya alas kaki.

Padahal Simbah tak pernah telat mengganti sandal rusakmu, meski tak mahal. Bahkan Simbah rela berulangkali menebalkan kulit muka hanya untuk meminta pada Jurangan huller, di tempat kerjanya.

Peristiwa yang bukan menyadarkanmu, namun malah memicumu untuk lebih berhati-hati dan mengembangkan siasat. Pernah satu kali kamu tertangkap basah saat mencuri beberapa karung cabai yang siap panen. Namun dengan cerdik kamu menyesatkan pikiran orang dengan memasang wajah iba yang memelas dan memprihatinkan. Meminta untuk dikasihani dengan alasan kondisi ekonomi Simbah.

Entah apa jadinya dirimu, jika saja Simbah tak menamengimu dengan namanya. Berkali-kali kamu selamat dari peristiwa amuk masa. Berkali-kali juga Simbah harus menanggung malu dan membuang harga dirinya. Demi kamu, yang dirawatnya dengan sepenuh hati.

Entah setan apa yang menempel di mata dan hatimu, hingga lupa pada wujud syukur. Mungkin, sangat pantas jika orang-orang menyebutmu sebagai anak setan yang tak tahu diuntung. Sebab kelakuanmu tak ubahnya seperti setan yang terbelenggu sesat. Setan yang kabarnya mampu menghadirkan ilusi pada sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Seperti juga ilusi yang kamu mainkan untuk menghilangkan handphone tetangga atau di counter simpang jalan dengan begitu mudahnya. Atau barang besar lain yang sepertinya mustahil dihilangkan dengan cepat, mulai dari karungan beras hingga sepeda motor.

Maka tak heran, jika orang-orang mewaspadai dan menghindarimu, sebab setiap ada kamu selalu saja merebak berita duka kehilangan. Begitulah kamu yang sangat piawai memainkan ilusi. Uniknya, pada setanlah kambing hitam itu ditujukan, untuk tingkah polah manusia sepertimu.

Hingga tiba pada pucuk peristiwa, Simbah bukan hanya kehilangan muka, tetapi kehilangan semuanya. Terpicu oleh peristiwa yang diakibatkan oleh kemaluanmu yang tak tahu malu. Entah, ilusi seperti apa lagi yang kau mainkan hingga dengan mudahnya kau gagahi anak Juragan tempat Simbah menafkahimu.

Sekali pun kamu berkilah bahwa semuanya terjadi akibat dasar suka sama suka. Namun, siapa yang bisa mempercayai alasan yang melatar belakangi kisah percintaan antara langit dan bumi seperti itu?

“Aku tak ingin memiliki cucu haram dari Kusno! Cucu setanmu!” bentak Juragan yang sengaja datang untuk melabrak Simbah.

“Biarkan Kusno mempertanggungjawabkan perbuatannya!” jawab Simbah tersendat.

“Bertanggung jawab? Apa kedatanganku ini untuk memintai pertanggungjawaban? Tidak!” Nada juragan semakin meninggi. Ia sepertinya tak sanggup lagi menahan amarah dan keinginan untuk menghajar Kusno. Namun, beberapa pengikutnya menghalangi. Bagaimana pun, tubuh dan usia Kusno tak sebanding dengan Juragan. Terlepas dari itu semua, satu hal yang mereka jaga adalah kehormatan juragannya. Melibas Kusno, sama halnya dengan merusak kehormatan.

“Jikapun aku meminta, lantas bentuk pertanggungjawaban seperti apa yang bisa kalian berikan? Menikah? Enak saja! jika kuizinkan menikah, aku juga yang bertanggung jawab atas biaya pernikahannya. Lalu dengan apa juga anak setan ini akan menafkahi anak dan cucuku kelak? Mencuri, menipu, atau menggerogoti hartaku hingga habis? Anak haram yang dinafkahi dengan harta haram hanya akan melahirkan keturunan haram lainnya! Aku tak ingin itu terjadi...”

Juragan terus saja berkelakar, sementara Simbah hanya bisa terdiam. Tangan dan bibirnya bergetar, manahan segala bentuk emosi. Sorot matanya, tak hanya menunjukkan kekalutan pada peristiwa tersebut. Lebih dari itu, mata rentanya seolah menyeberangi garis waktu. Menerawang fragmen suram di masa depan saat ia kehilangan penghidupan.

Bagaimana pun, Juragan adalah satu-satunya tempat yang menjadi penopang hidup. Dan lewat kejadian ini, sempurna sudah rantai-rantai kehidupannya terputus. Pun demikian, ia sepenuhnya sadar tentang kenyataan yang kini berada di depan mata. Juragan yang ia hadapi, menjelma tuhan penentu nasib atas hidup dan penghidupannya.

Kelakar juragan terhenti saat tiba-tiba saja Simbah jatuh terkulai di hadapannya. Terlihat jelas Simbah memegangi dadanya, pertanda jika ia kerepotan mengambil nafas. Beberapa detik kemudian, Simbah benar-benar mengubah kelakar Juragan menjadi bentuk kepanikan.
Nafas Simbah terhenti dan kamu hanya bisa menangis bahkan tak bisa menghentikan tangisanmu. Tangis penyesalan yang baru pertama kali kulihat sepanjang sejarah hidupku.

~*~

Dua tahun berlalu sejak tangis penyesalanmu. Kamu benar-benar berubah, begitu pun Juragan. Mungkin ilusi yang kau mainkan tak lagi sama seperti dulu atau kamu memang tak lagi menggunakan jurus ilusi. Faktanya, kamu telah benar-benar mampu mengubah hati orang yang pernah menyebutmu setan. Bahkan, kamu menjelma menjadi satu-satunya anak yang sangat dibanggakan ayah mertuamu.

Dua tahun juga aku kembali melihatmu di tempat ini. Tempat yang pernah kamu warnai dengan berbagai kemelut.

“Daripada tak bermanfaat, kenapa tidak kau bangun saja lahan ini sebagai tempat usaha barumu?”

“Tempat ini terlalu banyak menyimpan kenangan, hingga aku menjadi seperti sekarang ini, Yah. Terlebih, dengan pohon mangga yang baru mau berbuah ini. Kakek merawatnya dengan sepenuh hati. Rasanya sayang jika harus ditebang.”

“Lebih sayang lagi jika tak dimanfaatkan. Lihatlah di kiri kananmu! Betapa pesat kemajuan dan perkembangan desa ini! Buanglah memori masa lalumu, sudah saatnya kau ikut membangun dan memberi manfaat yang besar bagi desa ini!”

“Baiklah, jika Ayah merestui. Tapi aku ingin sekali mencicipi hasil dari pohon ini.”

“Terlalu lama, lagi pula mangga ini sama dengan puluhan mangga lain di kebun kita?”

“Tapi, ini beda!”

“Apa yang membedakan? Hanya kenangan dan sejarah! Lagi pula, siapa yang akan menjaga pohon ini jika benar-benar berbuah? Mungkin buahnya akan habis sebelum bisa kaucicipi. Itu sama artinya dengan memberi kesempatan pada orang lain untuk mencuri.”

“Ya, sepertinya masuk akal. Kalau begitu, besok pagi akan kusuruh tukang untuk menebang dan meratakan lahan ini.”

“Ingat, apa yang kau lakukan demi orang banyak!”

Begitulah percakapan yang kusimak sore ini. Sebuah bukti bahwa tabiat dan perangai memang bisa berubah kendati tak mampu mengubah masa lalu.

Begitu pun aku, yang masih saja membisu. Ingin rasanya aku menangis atas perubahan dan keberhasilanmu. Ingin rasanya kupeluk tubuhmu lalu membisikkan sebuah rahasia yang kusimpan selama puluhan tahun dalam kebisuanku. Rahasia bahwa aku hanyalah pohon haram yang terlahir dari biji yang kau lempar begitu saja. Biji dari buah yang kau curi dari lahan sang juragan, ayah mertuamu kini.

Atas kesadaranmu, maka dengan senang hati kurelakan hidupku berakhir. Sebelum bunga-bunga dari tubuh haramku ini terlanjur menjelma sebagai buah yang mengharami tubuh manusia lainnya.

~*o*~

hers,030814

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer budi11
budi11 at Bibit Haram (6 years 47 weeks ago)

Ayo lanjutkan novelnya, bisa dijadikan film FTV ini novel

Jasa Seo Bergaransi | Tambah Saldo Paypal

Writer inul00
inul00 at Bibit Haram (6 years 50 weeks ago)

lanjutkan karya anda dan semangat terus berkarya

Lampu Led | Alat Bantu Jalan Kursi Roda

Writer tiwi11
tiwi11 at Bibit Haram (6 years 50 weeks ago)

mengandung banyak pelajaran di cerpen ini, bagus untuk dijadikan cerpen di sekolah SD

Cream Sari Original | Townhouse Bintaro

Writer danang44
danang44 at Bibit Haram (6 years 51 weeks ago)

keren banget cerpennya, lumayan menyentuh ke hati dan pikiran isi dari cerpennya

Rental Apartemen Surabaya | Koper Umrah