Cektul: 2015_RWD_02_Pelajar Senang Keluyuran (1)

Saat itu sudah lewat jam istirahat, tapi Dean, Icang, dan beberapa kakak kelas masih menongkrong di dekat Tenis Net. Selama dua pelajaran sebelum jam istirahat tadi, Dean ketiduran nyaris sepanjang waktu. Lebih parah daripada sewaktu dia di SMP. Di SMP dia masih bisa menangkap materi yang disampaikan gurunya, sedikit-sedikit. Di SMA pelajarannya bertambah rumit. Maka Dean pikir, daripada mengantuk di kelas, disuruh guru untuk keluar dan cuci muka, dan akibatnya mengganggu kegiatan belajar mengajar, lebih baik dia absen sejak awal atas kesadaran sendiri dan memanfaatkan waktu untuk mempererat silaturahmi dengan para senior. Tidak kalah bermanfaat toh.

Icang menanyakan kepanjangan Bastard pada Kang Yuyun—anak kelas XII yang dikenal sebagai pentolan dalam kelompok itu. Kang Yuyun pun membeberkan pada Icang dan Dean mengenai sejarah, filosofi, sampai visi dan misi Bastard.

“Asalnya sih sebetulnya Bastar.”

“Bastar?”    

“Bastar itu kan artinya hibrida, persilangan, atau gampangnya… campuran. Misalnya, nih, ya, ada mangga sama apel dikawinin, jadinya mangga apel. Atau misalnya kamu, bapaknya orang Jawa, ibunya orang Sunda, kamu jadinya anak Janda—Jawa Sunda.”

“Hubungannya apa, Kang?”

“Yaa… maksudnya, kan, sehari-hari kita ada kegiatan di sekolah sama kegiatan di luar sekolah. Ada waktu untuk belajar, dan ada waktu buat senang-senang. Kita mesti bisa nyampurin kedua-duanya itu dengan seimbang. Kalau enggak seimbang, entar jadi kacau. Kalau terlalu banyak belajar, nanti kita pusing, stres, frustrasi. Kalau terlalu banyak main, ya enggak apa-apa, da main juga kan sebetulnya termasuk belajar. Belajar sesuka kita. Sekolah mah kan yang penting naik kelas, lulus pas UN, terus masuk PTN. Yah, ada waktunya sendiri-sendiri itu mah. Pokoknya mah kita jadikan masa SMA masa yang paling indah.”

Kumaha maneh we lah, asal maneh bahagia,” celetuk Kang Lutung.

“Betul. Asal kita bahagia. Da bahagia mah bukan dicari, tapi dijalani,” Kang Yuyun mengembuskan asap dari mulutnya perlahan-lahan sambil memandangi awan.

“Anjiiir…” teman-temannya menyoraki.

“Saya ngomong ke kamu maksudnya,” kata Kang Lutung pada Kang Yuyun, tapi yang dituju cuek saja.

“Emangnya itu enggak mesti disiapin dari sekarang gitu, Kang?” kata Dean tanpa meneruskan dengan, kata ibu saya mah.

Kang Cawe menceletuk, “Kamu tahu enggak Kang Rhesa?” Dean dan Icang menggeleng. “Entarlah kalau kapan dia main ke sini, kenalan. Dia alumni sini. Dulunya suka duduk-duduk di sini juga. Masuk telat. Mabal. Ngerokok. Santai, pokoknya. Belajar males. UN-nya juga cuma dapet nilai 4. Tapi pas SPMB dia belajar bener-bener. Sekarang di ITB. Geofisika. Udah kerja juga. Pas lagi nongkrong-nongkrong gini teh, ada alumni dateng. Nawarin ke dia, mau enggak kerja sama saya? Jalan-jalan, dibayarin…. Ya maulah. Pas dia SMA itu teh. Kerjanya ikut survei, ke mana gitu. Ngukur sungai, yang gitu-gitu lah. Dia anak PA juga, emang hobinya jalan-jalan.”

“Kang Rhesa teh seangkatan sama Kang Mursyid, ya?” sela Kang Galang.

“Asalnya mah enggak seangkatan. Tapi Kang Mursyidnya enggak naik kelas,” kata Kang Cawe. “Kalau Kang Mursyid di mana gitu sekarang?”

“HI Unpad. Tapi katanya sekarang lagi ikut kerja di pertambangan di mana gitu. Sumatra apa, ya? Enggak tahu kuliahnya gimana. Kayaknya sih belum selesai.”

“Kerja gitu mah kadang dapetnya lewat jalur pertemanan sih, enggak mesti lewat jalur formal. Makanya, enak kalau banyak temen mah, banyak kenalan. Bisa ada yang bantuin.” Kang Yuyun mengisap rokoknya, lalu menoleh pada Kang Abuy. “Kalau kakak kamu yang udah S2 itu udah dapet kerja belum?”

“Belum. Di rumah aja. Nge-Dota.”

“Hahahaha….”

“Enggak pinter ngomong dia mah orangnya. Gagal terus pas wawancara, katanya.”

“Ajakin atuh ke sini, biar pinter,” kata Kang Yuyun.

“Pinter ngebacot, iya.”

“Hahahaha…. Jangan gitu atuh.”

Da  jalan hidup orang mah kadang enggak ketebak sih. Enggak sama antara satu orang dan orang lainnya teh. Ada yang lurus-lurus aja, lancar. Ada yang zig-zag, kayak dikejar babi…” ucap Kang Cawe dengan hikmat sambil menyulut rokok baru.

“Hahaha, babi…” tahu-tahu Kang Abuy terbahak-bahak. Beberapa temannya yang sesama anak PA ikut terkekeh. Lalu mereka sambung-menyambung menceritakan pengalaman saat mendaki Gunung Pangrango beberapa bulan lalu. Mereka sempat mendengar suara berisik dari arah samping, seperti ada sesuatu yang besar dan berat sedang menerobos semak-semak. Mereka mengira ada babi yang mau mengejar mereka. Salah seorang dari mereka berkata bahwa kalau dikejar babi, orang harus berlari zig-zag. Kenapa gitu? Biar babinya pusing! Mereka pun berlari zig-zag. Mereka baru berhenti setelah jauh dan kecapekan. Sewaktu mengamati keadaan di belakang, yang ada cuma sunyi dan senyap.

“Hahaha, goblok…. Perasaan kamu aja kali!” sembur yang lain-lain, yang tidak ikut dalam perjalanan itu.

“Kalau kalian pada ikutan ekskul apa aja?” tanya Kang Yuyun pada Dean dan Icang, setelah tawa anak-anak mereda. “Kalau si Abuy, Galang, Rio, dan sebangsanya ini kan anak Pamanson—Pencinta Alam Smanson. Anying, ngakunya mah pen-cin-ta. Pas sampai puncak, nyodorin HP, atau kamera, terus, Fotoin saya lah, sambil nempelin rokok ke bibir.” Yang disentil terkekeh-kekeh saja. Kang Yuyun melanjutkan, “Kalau saya, si Cawe, si Elmo, dan sespesiesnyalah, anak Samson—Siswa Keamanan Smanson.”

“Ekskul hansip kamu mah,” celetuk Kang Lutung. “Siskamson.”

“Jangan gitu atuh,” kata Kang Yuyun antara mesem dan bernafsu untuk menyambit Kang Lutung dengan kerikil. Kang Lutung buru-buru bersembunyi di balik Dean sambil mengikik. “Kamu mah enggak ngerti ih betapa bahenolnya cewek-cewek di ekskul saya teh.” Anak-anak pun tergelak. Kang Yuyun melanjutkan dengan cuek, “Di sini mah kebanyakan kalau bukan anak Pamanson, ya Samson. Kalau kamu teh ekskul apa, Pil?” tanyanya pada Kang Lutung.

“Kan ketua Patin ini mah!” Kang Cawe menepuk punggung Kang Lutung keras-keras.

“Widih, ngeri,” kata Kang Galang sambil pura-pura takut. Patin itu singkatan dari Pembuka Mata Batin, ekskul bela diri dengan menggunakan tenaga dalam di Smanson. Anak-anak suka menyebutnya begitu meski nama resminya bukan itu.

“Inget enggak, yang kemarin pas demo ekskul, anak-anaknya pada pakai topeng Power Ranger?” ujar Kang Cawe, yang selaku salah satu panitia MOS ikut menonton demo ekskul.

“Jangan macem-macem sama anak Patin mah, yah,” kata Kang Yuyun yang walau nadanya serius tapi tampangnya cengengesan, “Kalau anak Pamanson mah sukanya ngejar gunung, bikin asap, kalau anak Samson kerjanya marah-marahin adik kelas, nah, anak Patin mah… apa, ceunah, Pil? Memecah batu dan membelah awan!” Tidak hanya itu, sewaktu demo ekskul, anak-anak Patin mendemonstrasikan kemampuan mereka berlari cepat di atas bangku panjang yang lebarnya tidak lebih daripada sepuluh senti.

“Ha ha ha!” Kang Lutung tertawa dengan lagak angkuh, tidak lupa sambil mengguncang-guncangkan perutnya yang seakan buncit padahal rata dengan kedua tangan. “Ah, gitu aja da,” katanya lagi.

“Kalau kamu mah yang kemarin ikut technical meeting Samson itu, ya?” Kang Cawe memegang pundak Icang.

“Iya, Kang,” sahut Icang.

“Entar saya mah kejamnya pas di Pendas aja,” ujar Kang Cawe. Pendas yang dia maksud adalah Pendidikan Dasar atau inisiasi masuk Samson yang akan diadakan pada akhir pekan itu. “Di sini mah hayuk aja haha-hehe. Tapi di sana kamunya yang serius, ya.”

“Siap!” Icang mengangkat tangan kanannya ke dahi, menunjukkan penghormatan.

“Kalau kamu, Dean, ikut ekskul apa?” tanya Kang Lutung.

Ditanya begitu, Dean terdiam, mengingat-ingat dia pernah ikut ekskul apa saja. Pada hari-hari terakhir MOS dan minggu-minggu sesudahnya, sewaktu promosi ekskul sedang gencar-gencarnya, Dean iseng saja mengisi setiap formulir pendaftaran yang disodorkan padanya dan mendatangi pertemuan ekskul apa saja. Kadang dia memang tertarik, misalnya sewaktu ekskul Jejepangan mengadakan acara nonton bareng Naruto dan film-film Jepang lainnya. Tapi sering kali dia cuma ikut-ikutan temannya. Dean tidak benar-benar tertarik dengan Jepang, teater, komputer, jurnalistik, bahasa Inggris, kebudayaan Sunda, kewirausahaan, organisasi, dan sebagainya. Bahkan ketika tahu bahwa Rieka mendaftar Vocal Group, OSIS, dan Lempers alias Lembaga Pers Smanson, Dean tidak serta-merta tertarik mengikuti semua itu hanya supaya bisa bertemu lebih sering dengan cewek itu. Lama-kelamaan, setelah punya teman-teman yang bisa diajak main tanpa ada maksud tertentu selain senang-senang saja, acara-acara ekskul itu pun terlupakan. “Ah, saya mah apa aja ikut we, Kang,” kata Dean akhirnya.

“Ekskul Bastard dia mah, Kang,” kata Kang Abuy.

Kang Yuyun mendengus geli sambil bergumam, “Ekskul Bastard….”

“Kan katanya Bastard mau mengakomodasi segala bakat tea, Yun,” kata Kang Lutung.

“Makanya saya bilang juga—sampai mana sih tadi saya ngomongnya? Bastard teh ya bastar, campuran. Kenapa tahu-tahu jadi pada ngomongin babi sama Power Ranger segala?”

“Kenapa jadi ada ‘d’-nya, Kang, dari yang asalnya ‘Bastar’ aja?” tanya Icang.

“Enggak tahu siapa yang awalnya nambahin “d”, dari kapan. Tapi kan sama aja artinya mah. ‘Bastard’ teh, ya ‘Bastar’ juga—enggak suka baca kamus, ya? Cuma kalau di bahasa Inggris mah kan ‘Bastard’ teh jadinya kasar gitu, son of a bitch, hahaha, anak PSK, tapi kita mah PSK-nya Pelajar Senang Keluyuran. Intinya mah tetep, artinya campuran, tapi campuran dari macam-macam ekskul. Ekskul remi. Ekskul gaple. Ekskul ngisi TTS. Ekskul ngerokok. Ekskul AV. Ekskul mabal. Banyaklah. Kemarin juga pas tujuh belas Agustusan kita ngadain turnamen gaple, poker, ngisi TTS sama SMK-SMK tetangga. Oh, anak-anak SMP sebelah juga ada yang ikutan. Ramelah. Kalian ikutan aja kalau entar diadain lagi. Kayaknya akhir semester ini. Di sekolah ada pekan olah raga, di sini juga ada pekan gitu-gituan.”

“Pemenangnya dapet apa, Kang?”

“Apa, ya, kemarin teh? Apa aja, Caw?”

“Ya, yang menang gaple, dapet gaple baru. Yang menang poker dapet remi baru juga. Yang menang ngisi TTS dapet buku TTS baru sama seperangkat alat tulis. Semua hadiahnya fresh pisan dari warung. Da yang dapet tugas beli hadiahnya juga lupaeun. Pas pemenangnya diumumin teh, Mana hadiahnya? Eh, lupa! Bentar, yah, beli dulu. Goblok…. Hahaha…. Ngacir aja anak itu teh. Dikasihinnya juga baru besoknya.”

“Siapa yang tugas beli hadiah teh?”

“Itu, si Abuy tea, sama ada anak SMK sebelah.”

“Udah belum ngerokoknya?” Tiba-tiba ada suara parau menyapa mereka. Semua menengok pada bapak-bapak berbaju safari yang sedang membeli sesuatu di warung sebelah. Namanya Pak Yaya, guru Biologi yang mengajar anak-anak kelas XII.    

“Bentar lagi, ya, Pak!” sahut Kang Yuyun dan beberapa anak lain.

“Bentar lagi, ya.”

“Siap, Pak!”

Pak Yaya pun meninggalkan mereka.

“Enggak apa-apa sama si bapak itu mah,” kata Kang Yuyun pada Dean dan Icang dengan suara pelan sekaligus geli. Kedua anak itu tampaknya kaget tahu-tahu ada guru memergoki mereka sedang membolos. “Tadi juga lagi beli rokok da.”

Kang Cawe menarik arloji di pergelangan tangan Kang Lutung. “Udah mau jam sebelas lagi, ih.”

“Bentar lagilah.” Kang Yuyun mengisap rokoknya bertubi-tubi. “Tadi sebelum ngomongin Bastard, bukannya mau ngebahas rencana bikin jaket bareng tea, kita teh?

“Kita habis ini ada pelajaran apa, ya?” tanya Icang pada Dean di sela-sela obrolan para akang.

“Eh, apa, ya?”

“Matematika ari kamu. Ada PR.” Icang mendadak ingat.

“Anjing! Urang can nyieun!” kata Dean dalam bahasa Sunda yang artinya kira-kira: Saya belum ngerjain! Dia menepuk jidatnya.

Ketika terdengar bel tanda bergantinya pelajaran, mereka ramai-ramai melompati tembok belakang lalu berpencar ke kelas masing-masing.

Read previous post:  
48
points
(1590 words) posted by d.a.y.e.u.h. 6 years 41 weeks ago
80
Tags: Cerita | Novel | teenlit
Read next post:  
50

bagus²... lanjut

80

Btw, saya suka dengan pandangan Dean menyoal mengganggu kegiatan belajar dan silaturahmi dengan para senior. Ahak hak hak. Sayangnya itu kekoplakannya sampai kepada pembaca via narator. Enggak greget jadinya. Mungkin kalau dalam dialog, maka akan terasa lebih ngefeel dan membantu karakternya semakin jelas dan berkembang. Seperti obrolan mereka di Tenis Net itu. Hanya saja ini yang memang saya rasakan terhadap karakter-karakter dalam novelmu ini, Lii. Mereka mirip. Cara bicaranya juga. Memang sih, mereka banyak. Tentu sangat sulit membeda-bedakannya, termasuk buat penulis. Atau mungkin terlalu dini menilai masing-masing mereka. Tapi ini sudah part 3.
.
Lain dari itu, saya suka obrolan mereka.

nah, ya, karakterisasi lagi, hahaha. saya ngebayangin mereka sebagai orang yang berbeda2, tapi emang sih enggak sampai mendalam :/
bang, mungkin enggak sih kalau orang2 dalam suatu kelompok/lingkungan gitu emang punya gaya yang mirip dg satu sama lain? kan adakalanya tuh kita terkesan sama cara bicara seseorang, misalkan, dan secara enggak sadar ngikutin? :v
tapi mungkin di draf ini mah terlalu banyak yang mirip dengan satu sama lain ya, hahaha.
oke, dicatet ini, bang. terima kasih :)

itu mungkin banget kok. tapi ayolah, enggak akan semirip ini. cara bicara mereka sama-sama cepat dan lugas. enggak keliatan jelas bagaimana penulis membedakannya. tapi kalo berkaca ke teenlit, apa iya penulisnya akan memikirkan hal itu dengan serius?

hahaha, iya deh iya, bang :9