Nation Survivor - The Beginning - Chapter 2

Chapter 2

 

Pagi itu, Douglas tidak bisa tidur. (Hei, kerjaku sedang di shift malam, jadi aku tidur di pagi hari!)

 

Walaupun ruanganya di barrack cukup nyaman, dengan kasur yang cukup empuk, ruangan berukuran 6 kali 4 meter bercat kapur putih tersebut termasuk cukup mewah untuk seorang tentara. Tapi masalahnya kini bukanlah tempat tidurnya ataupun ruanganya, melainkan percakapanya dengan Theodor tadi membuatnya hampir tidak bisa memejamkan matanya, walaupun ia tahu tubuhnya sudah merengek minta istirahat.

 

Kurasa mereka diculikKata-kata tersebut masih terngiang-ngiang di telinganya. Kata-kata tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan baru di kepalanya yang tidak dapat ia jawab. Siapa? Kenapa? Untuk apa? Apa belum cukup terpuruk keadaan kami sekarang?

 

Hal ini menambahkan satu hal lgi yang membuat dirinya sulit tidur. Setiap kali ia akan tidur, ia selalu dihantui oleh pikiranya sendiri. Ia biasa gila hanya karena memikirkan berbagai hal secara bersamaan.

 

Pada akhirnya aku tertidur juga karena sangat kelelahan. Pagi ini, aku tidak bermimpi sama sekali. Ini merupakan keenam kalinya secara beruntun Douglas tidak bermimpi. Hal ini membuatnya was-was, karena ia biasanya bermimpi buruk setiapkali tidur. Ini seperti cuaca yang tenang sebelum badai.

 

...........

 

"Douglas, hei, Douglas, bangun." Theodor berusaha membangunkanku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, berusaha menyesuaikan mataku dengan sinar yang terang. Sambil menguap aku melihat keluar jendela. Matahari masih cukup tinggi di langit biru.

"Sekarang jam berapa?" Aku bertanya pada Theodor.

"Sekitar pukul dua."  Theodor menjawabku singkat.

Aku mengerutkan alisku."Kau membangunkanku 3 jam lebih cepat."

"Maaf, mereka yang akan berangkat ke Konstantinopel besok mengalami sedikit perubahan. Yang shift malam dimulai jam empat sore sampai sepuluh malam, sementara shift pagi sekarang istirahat dulu, nanti dilanjutkan jam tujuh malam sampai sepuluh." Theodor membalasku.

Aku hanya menghela nafas. "Biklah, kau sebaiknya istirahat dulu, Theodor. Aku akan bersiap-siap.

 

Theodor hanya menganggukan kepala, lalu keluar dari kamarku. setelah dia keluar, aku menutup pintu kamarku lalu mengganti piama merahku dengan innercoat putih. Setelah itu aku keluar kamar sambil membawa seragam <NSA>, berlatar belakang putih, serta lambang pedang terbalik yang mirip salib berwarna mrah di bagian dada, punggung, dan paha celana. sebuah tulisan Nation Survivor Armry diguratkan di bagian punggung, berwarna merah juga.

 

Setelah selesai dengan innercoatku, aku keluar dari kamarku, menguncinya lalu menuju mess hall barrack tempatku tinggal yang berada dilantai satu. Disana aku mengambil armor serta senjata favoritku. Sebuah <Light Chainmail armor> dan <Light armor plate>. lalu aku mengambil sebuah perisai kavaleri Khusus(berbentuk gabungan dari setengah lingkaran yang digabung denag segitiga), menyandangkanya ke bahu bersama sebuahnlongbow dan anak panahnya, sebuah belati dan sebilah pedang sepanjang 90 senti.

 

Sambil menggunakan peralatan tempurnya yang seberat 12 kg(Hei, ini sudah cukup ringan!), aku berjalan menuju pantry yang sederetan dengan messhall untuk makan. Menu makanan hari ini seperti biasanya, roti kering dengan bubur gandum, serta sebotol bir. Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk menghabiskanya, berhubungan aku sedang kelaparan

 

Setelah selesai, aku bersiap-siap untuk bertugas. sebelum bertugas, setiap tentara akan diundi bagianya. Sialnya, Douglas mendpatkan tugas di bagian paling membosankan dan bikin ngantuk,<Tower Guaard>. Mereka hanya duduk-duduk di menara selama berjam-jam, dan bila mereka ketahuan tidur, hukumanya tidak main-main. Douglas tidak mau membersihkan tembok kota sepanjang belasan kilo batu demi batu.

 

Dengan langkah yang terseret, aku menaiki ratusan tangga batu menuju pusat menara. Ketika aku sampai di atas, aku bertemu dengan empat <NSA> lainya yang juga sama-sama bosan. Selama beberapa jam kedepan, aku hanya duduk-duduk. Hampir saja aku ketiduran ketika Teodor menyapaku di menara.

 

"Yo" Theodor menyapaku.

"Malam" Aku balas menyapanya. Setelah itu aku menuap lebar.

"Maaf, kerjaan disini bikin ngantuk." Aku meminta maaf kepada Theodor.

"Ngak apa-apa. Mendinga kamu gantiin aku patroli di gerbang selatan, deh, daripada ketiduran disini." Dia menkjawabku.

"Benarkah?" Aku agak kaget mendengar perkataanya.

 

Ia hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Makasih banget, Theodor!" aku meenjabat tanganya. Setelah itu aku segera menuruni tangga batu menara.

AKHIRNYA PENYIKSAAN MEMBOSANKAN ITU BERAKHIR!!!!

 

Tepat ketika aku menjejakan kakiku di luar menara, seuatu mengahntam dadaku, membuatku terjembab ke belakang. Pandanganku mulai mengabur ketika melihat sebuah siluet hitam besar di depanku.

 

Besambung..............

(Di Chapter 3)

 

Tolong komen dan saranya ya... masih newbie :)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Bagi para penulis
share juga yuk cerpen/puisi/cerbung kalian di http://tempatnulis.com/

di tunggu ya.

60

bagus

50

Such a nice story!
Walaupun masih newbie, cerita kamu bagus juga.

Makasih kak atas komentnya