*****

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Wanderer
Wanderer at ***** (5 years 13 weeks ago)
100

Siapa yang cantik kini? Narasi cerita ini :)
Mengutip katamu, mulus sekali narasinya, dan sesuai dengan tema cerita ini. Saya suka bagaimana kamu menggambarkan jenis kelamin mereka berdua secara tersirat, melalui dialog "Atau karena kita cantik..." dan 'Siapa yang cantik kini?'
Sepertinya sudah banyak yang diulas di komentar-komentar sebelumnya. Jadi saya mau mengutarakan kesukaan saya dengan cerpen ini saja. Metafora lampu di awal dan akhir cerita menjadi kekuatan dari ceritamu, apa ya, sesuatu yang pasti saya ingat dari cerita ini. Juga bagaimana lamunan dan napak tilas dari sudut pandang Kin yang menjadi alasan mengapa saya sebut cerita ini cantik. Hubungan antara kedua tokoh pun dideskripsikan dalam cara yang halus. Anggun. Seperti selayaknya hubungan antara sesama dua wanita dewasa. Oh ya, saya menemukan kata 'asik' mungkin lebih enaknya diganti menjadi 'asyik'?

Mengomentari temanya, sering saya temukan dalam hubungan antara sesama wanita, salah satunya adalah biseksual. Apa ini memang fenomena yang sering terjadi, ya?

Semoga berkenan :)

Writer vinegar
vinegar at ***** (5 years 12 weeks ago)

Hallo, wanderer, terimakasih udah berkunjung ke lapak saya yang gak seberapa ini. Thanks juga koreksinya :).
Fenomena atau bukan, lgbt adalah realita yg ada di sekitar kita.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at ***** (5 years 14 weeks ago)
100

Anu, bukankah kita sepakat untuk saling menjaga rahasia masing-masing? Tapi kenapa di sini Anda menceritakan kehidupan saya? #apacoba?
.
Saya mau meneruskan hasrat Smoker, bahwa "Lampu Baca" itu seperti buka-tutup cerita, macam kulit yang menutup benda berbentuk tabung agar suaranya merdu jika ditepuk-tepuk. Apalagi "Lampu Baca" memang agak redup, hanya mampu memberi cahaya pada bagian tertentu saja.
.
Sebelum melantur, saya ingin memberikan kesan saya terhadap cerita ini:
.
Saya kembali tenggelam dalam narasinya, hanyut dibawa alur, atau plot, (atau cuplikan kehidupan saya sendiri lewat sudut pandang orang lain?)
.
Saya entah kenapa merasa si Kin ini perempuan (atau memang ia perempuan?) yang ada rasa sama N (pahamlah maksud saya). Tapi ia tak mau menampilkan hal itu karena takut menyakiti si N. Harunya di situ saya, dan gaya berceritanya memang lembut dan mengharukan, seperti perasaan ditinggalkan oleh orang yang dicintai, tapi bukan pergi ke orang lain, namun pergi ke bentuk lain yang sama sepertinya.
.
Dan sebelum saya merancau tak jelas, saya akhiri sampai di sini. Maaf jika ada salah kata.

.
Salam menulis

Writer vinegar
vinegar at ***** (5 years 12 weeks ago)

Apakah dia itu N?? *jeng jeeeng
perasaan ditinggalkan orang yang dicintai, bukan pergi ke orang lain, namun pergi ke bentuk lain yang sama sepertinya., dirimu pinter banget kalo soal beginian mba nur :')

Thanks racauannya ya

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at ***** (5 years 12 weeks ago)

(akan diungkap pada episode ke seribu).
.
jangan panggil Mbak, nanti susah kalau ingin nikah.
panggil saja Mas, biar gak repot-repot pergi ke Belanda atau Amerika. (?)

Writer jxoxs
jxoxs at ***** (5 years 14 weeks ago)

(y)

Writer totobiru@gmail.com
totobiru@gmail.com at ***** (5 years 15 weeks ago)

bagus.. keep writing..

Training Motivasi Indonesia

Writer vinegar
vinegar at ***** (5 years 12 weeks ago)

Hah, totogelap skrg jadi motivator -_-

Writer romy alatas
romy alatas at ***** (5 years 16 weeks ago)
30

mantap buat gue yang pemula banget

Writer Nine
Nine at ***** (5 years 16 weeks ago)
100

Sebenarnya saya tidak terlalu jeli dalam menilai cerpen seperti begini. Cerpen yang mengangkat konflik sosial dalam kehidupan urban masa kini, tidak terlalu sering saya konsumsi. Bukan karena tidak suka, cuma karena memang sayanya yang kampungan.
.
Saya baru bisa ada sedikit gambaran tentang hal-hal yang diceritakan cerita ini setelah membaca komentar baginda zeth dan rian. Itupun masih menyimpan beberapa hal yang masih belum bisa saya pahami. Walaupun begitu, selama membacanya, saya hanya bisa "larut ke dalam" narasi dan dialog para tokoh. Apa ya? Semacam dibisik-bisik dayang-dayang dari nirwana dengan suara mereka yang lembut dan menggoda (dengan catatan dayang-dayang tersebut mutlak bergender wanita atau gadis--janda juga boleh, tapi bukan prioritas).
.
Yang saya tangkap adalah, pergulatan batin seseorang yang berubah jenis kelamin, bagaimana kerinduan ia pada kekasihnya yang lalu, juga kesepian seorang wanita yang ditinggal kekasihnya (yang om smo dan bung rian bilang, diibaratkan lampu baca dalam cerpen ini. Di situ kadang saya merasa syedih T.T ). Awal-awal saya memang meraba-raba ini mau lari ke mana? Mau lari ke dada kah? Ke paha kah? Ke daerah segitiga bermuda kah? Saya bingung mau dibawa ke mana hubungan kita. Seperti konflik yang ada terasa samar dan tidak jelas. Baru setelah tanda pisah yang pertama (***), saya mulai disuguhkan dengan konplik yang sebenarnya. Dan itu membuat saya makin penasaran.
Saya juga sepakat dengan apa yang dibilang om smo (ya ya, saya cuma bisa bilang "sopakat" dan "sotuju" soalnya saya tidak jeli dalam menilai cerpen beginian, tapi jelas-jelas saya menikmatinya) kalau cerpen ini tidak memberikan penutup yang jelas. Seperti digantung. Seperti dibawa ke mana terus digantung. Diajak melayang tinggi, lalu dibiarkan terapung di awang-awang.
.
Sebagai kesimpulan, saya menikmati cerpen ini. Karakternya, narasinya, konpliknya. Terlepas dari beberapa kebingungan saya di cerpen ini, saya enjoy membacanya dari awal sampe akhir. Dari atas sampai bawah. Dari buaian hingga ke liang nirwana.
.
Saya kira itu saja dari saya mba vine. Sebenarnya saya bukan berkomentar ini, lebih kepada berbasa-basi tidak jelas. Yah, setidaknya diriku pernah berjuang, meski tak pernah ternilai di matamu.
.
Sekian mba vine,
Salam Olahraga (Y)

Writer vinegar
vinegar at ***** (5 years 12 weeks ago)

Ah, Nine. Mau urban ato apa bukannya sebagai penulis kita mestinya peka sama apa pun konflik sosial dan realitas yg terjadi di sekitar kita? Itung-itung bt inspirasi ato sekadar penyampai pesan ;)

Nilaimu di mata saya selalu sembilan kok, thanks menyempatkan baca :)

Writer rian
rian at ***** (5 years 16 weeks ago)
2550

Menikmati sekali. Pas baca pertama malah baper, dan mutusin buat baca sekali lagi baru komen. Ternyata bener. Tekhnik dirimu bercerita oke sekali, Mbak.

Gimana, ya? Semacam bisa bikin suasana yang kentel tanpa harus banyak pakai diksi terlampau puitis. Beberapa orang narasinya maksa, jadi nuansanya enggak muncul dari latar/kejadian/kegiatan dalam cerita melainkan diksi yang maksa itu. Jadinya "kerasa" memang, tapi kerasa yang dipaksa, enggak kerasa yang kayak di cerpen ini. Alami.

Pembaca enggak dituntut apa-apa, cukup ikuti aja alurnya, enggak perlu nge-judge karakternya baik apa buruk, yang mereka lakuin benar apa salah, dsb. Pengalaman dari baca cerpen-cerpenmu yang lampau, "Flame" dan "Artifisial", saya belajar untuk enggak berekspekstasi apa-apa pas baca cerita ini. Jadinya tetep puas meskipun kalau dipikir-pikir cerita ini enggak ngasih apapun ke kita kecuali refleksi hidup orang urban dan penjabaran masalah tokoh-tokohnya, bahkan ceritanya enggak sepenuhnya 'nutup', dalam artian ngasih konklusi jelas (tapi saya enggak ngeluh soal ini).

Saya mendapati kalimat-kalimat pendek bisa ngasih kesan nge-jleb pas dibaca. Semisal di bagian ini:

"Aku tak tahu bagaimana nasib kuliahnya. Kontaknya mati. Tidak ada telepon, pesan, email, bahkan status-status media sosial. Nihil."

Pas sampai di bagian nihil itu rasanya kayak...

Setuju sama Bang Smoker tentang penggunaan lampu baca sebagai simbol pembuka dan penutup cerita. Ceritanya jadi berkesan 'bulat' biarpun enggak ada penyelesaian konflik.

Adegan di taman itu suasananya terasa sekali, terutama karena cerpen ini ngasih ruang buat tokoh-tokohnya ngalur-ngidul enggak jelas dulu sebelum sampai ke pokok masalah, plus unsur-unsur yang enggak langsung berhubungan sama pokok masalah (remaja fotografer, refleksi tentang penjual makanan cepat saji, papan reklama depan bioskop). Satu lagi yang bikin saya kagum adalah gimana halusnya penulis menggulir flashback yang seakan nyambung jadi satu sama kejadian masa-sekarang. Itu keren.

Writer vinegar
vinegar at ***** (5 years 12 weeks ago)

Makasih apresiasinya, rian ;).

Writer The Smoker
The Smoker at ***** (5 years 16 weeks ago)
90

Oke, cerpen ini sensual.
Sekilas tentang tema LGBT itu, sebagian berpikiran mungkin bakalan ada adegan sekedar french kiss, tongue kiss, tongsis, keringetan di sekitar leher, toy sex (gak jauh sii, ingat toy boy milik Rijon?), dan cumbuan-cumbuan lainnya di kamar, di dapur deket lemari es, atau semak- semak. Tapi tidak harus ke sana, tentu saja. Emak-emak cukup memberikan kehangatannya saja, katanya, tidak usah berexpansi ke ranah sexualitas itu, cukup sensualitas saja.
.
Suka sekali dengan pembuka cerita ini, telepon yang dianggap nyasar di tengah malam itu. Maka saya pun suka langsung dengan penutupnyadi akhir. Unsur-unsur buka tutup dalam racauan si tokoh terhadap apa saja itu juga oke, sih.
.
Tentang narasimu yang halus itu, dan kebanyakan ngelamun rasanya, sempet gak sabar sii karena saya sempat mencari-cari arah(?) dari cerita ini. nyelamin dialognya pun saya gak puas. Dan Kin, nama apa itu? ngahahha. Nama manusia, ya?
.
Oh, lampu, saya juga suka lampu itu di sana. Simbol yang mengutuhkan cerita ini. Sempat nggak ngeuh. Tapi di akhir saya lega tahu itu, ngahaha. Kin yang kesepian, Kin yang akhirnya menangis.
.
Cerpen ini mengingatkan ke Artifisial di page pertamamu, tapi ini kerasa kurang liar. Bukan tentang nendang apa nggaknya sii, (karena jauh dari danau juga, mungkin, ngahahaha). Sken anak muda pelukan di belakang mobil pas di parkiran itu pun gak ngebantu dirimu ngedobrak sesuatu. Tapi saya suka sensualitasnya, simbol2 itu dan kesadaran tak harus keringetan bikin cerita LGBT itu.
.
*lempar hepi juz*

Writer vinegar
vinegar at ***** (5 years 12 weeks ago)

Tentunya Kin itu nama, bukan batu, gunting ato kertas -_-
Sepertinya masalah saya memang tetap di 'arah cerita' yang gak tahu mau dibawa ke mana. Sadar sih, tapi antara sengaja dan tidak memang saya biarkan begitu saja biar terkesan real, kan gak semua cerita harus berakhir dengan konklusi yang jelas.
Masalah dialog, iya selalu dan selalu di situ saya gagal mempertebal bagian yang dirasa penting.

Makasih komennya :)

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at ***** (5 years 14 weeks ago)

kuciwa, ya, Bang? ahak hak #kabur!