Gadis Itu

Huwaaahh! :" Tolong dicerca sebanyak mungkin agar saya tahu di mana letak kesalahan saya. Jujur, ini karya yang paling nggak bikin saya seneng sepanjang saya buat cerita :" Udah lama nggak nulis dan merasa sangat kurang. Mohon bantuannya kakak-kakak :"

***

 “Kau datang juga!” kudengar suara yang sejujurnya sangat menyebalkan di telingaku. Sungguh, jika ada orang lain yang menyuruhku untuk bangun pagi demi lari 5K dengan suara itu—lagi, akan kutepis semua ceramahnya tentang hidup sehat dan menganggap bahwa makan pizza dengan extra mozzarella, pepperoni dan ayam atau sarapan dengan krim kocok adalah hal yang sehat (untuk kesehatan jiwaku).

Begini, ada hal-hal yang lebih menyenangkan daripada melakukan lari pagi bersama pacarmu. Oh, oke, mungkin dalam hubungan ini hanya aku yang beranggapan bahwa kami berdua berpacaran sementara di sisi lain, Sarah menganggap bahwa aku ini hanya trainernya dalam hal kebugaran atau olahraga atau apa pun itu namanya.

Tapi bagaimana pun juga aku ini laki-laki, yang mana membutuhkan banyak makanan untuk mengisi cacing-cacing di perutku dan tidur pulas seharian tanpa mengkhawatirkan berat badan. Ngomong-ngomong, siapa sih laki-laki yang peduli tentang berat badan mereka?

“Baik, jadi kita akan mulai dari lari santai terlebih dahulu lalu ke olahraga yang lebih berbobot. Kau sanggup?”

“Tentu saja.” Memangnya aku laki-laki macam apa?

“Vega,” ucapnya sambil menepuk pundakku pelan, “kita lakukan ini untuk kebaikanmu. Kau tahu, kan apabila pola makanmu sangat tidak sehat?”

“Mmm,” aku menggumam pelan, seolah-olah membenarkan pernyataannya.

Beberapa saat kemudian kami mulai berlari dan Sarah melanjutkan ceramah pagi hatinya, “Lagi pula, kurasa tubuhmu perlu dibentuk sedikit. Yah, bukannya aku mengatakan bahwa kau gemuk—kau sama sekali tak gemuk. Kau hanya... kurang berotot. Bukannya menyenangkan apabila kau memiliki lekuk seperti orang yang di sana?” tunjuknya pada seorang pria yang berlari santai. “Kita berdua akan menjadi pasangan paling enak dipandang bila kau seperti dia.”

“Mmm,” aku menggumam lagi lalu memperhatikan pria yang Sarah tunjuk tadi.

Baik, secara penampilan kami jelas jauuuuh berbeda. Ia memakai kaus olahraga tanpa lengan dan celana lari pendek yang memamerkan tiap otot-otot di tubuhnya. Taruhan, ia pasti ke pusat kebugaran tiga kali sehari seperti makan obat. Lalu kuingat-ingat pakaian yang sedang kupakai ini (kaus oblong dengan lengan—tentu saja! Aku tak punya otot yang dapat dipamerkan—dan celana training panjang yang membuatku seperti penari tradisional yang sedang latihan) lalu membandingkan diriku dengan pria itu.

“Vega! Apa yang kaulakukan? Kukatakan bahwa kita lari pagi, bukannya jalan santai seperti yang sedang kaulakukan!”

Teriakan Sarah membangunkanku dari lamunan dan membuatku sadar bahwa saat ini aku sedang berjalan santai entah sejak kapan. Sarah berada sekitar sepuluh meter di depanku sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Tanpa perlu diperhatikan pun aku sudah tahu ia sangat kesal kepadaku.

Aku berlari kecil menghampirinya dan mengendikkan bahu ringan, “Sarah, bumi nggak akan berhenti berputar bila aku tidak berlari. Kau kira aku ini Atlas yang memutar bumi?”

Mata Sarah membesar seolah-olah akan keluar dari tempatnya kapan pun, “Serius, apa kau sama sekali tidak mengerti? Kau pacarku, kau harusnya sebagai kebangganku, bukannya kelemahanku, mengerti?”

Oh, oke, dia sudah mulai.

“Aku menoleransi kau buruk dalam pelajaran olahraga—bahkan sepak bola pun kau tak bisa! Tapi aku tak menoleransi apabila kau tak ingin berlari. Ini demi kesehatanmu, kau tahu? Lagipula, apabila kau menerapkan pola hidup sehat, kau bisa saja melakukan hal-hal yang kau inginkan tanpa mengkhawatirkan penyakit yang akan kau derita. Serius, Vega, tubuhmu ini bukannya perlu sedikit dilatih, tapi banyak—sangat banyak latihan.”

Bohong, bohong, dan bohong. Kenapa pantatnya tak terbakar atas kebohongannya?

“Hingga aku seperti pria itu?” tanyaku sambil menunjuk pria yang tadi ditunjuk Sarah. Sungguh, rasanya kekesalanku sudah sampai ke puncak kepalaku.

“Kalau bisa. Dengar, kau tidak harus se-atletik pria di sana, setidaknya lakukanlah pola hidup sehat demiku.”

Aku mundur selangkah dan mengangkat kedua tanganku. “Oke, informasi diterima dengan sangat jelas. Dengar, aku ingin melakukan ini dengan caraku sendiri dan aku ingin pamit kepadamu. Sayonara!”

Kubalikkan tubuhku dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan tujuan lari Sarah. Masa bodoh dengan acara lari pagi yang menyehatkan.

Apa tadi yang dikatakannya? Buruk dalam pelajaran olahraga? Halo, aku ini mantan atlet voli terbaik tahun lalu. Memang aku buruk dalam permainan semua umat manusia—yaitu sepal bola, tapi aku bisa melakukan hal lain selain menendang bola ke sana ke mari seperti basket, voli, tenis, bahkan senam! Aku tak suka sepak bola karena lapangannya terlalu luas dan aku sangat malas untuk berlari mengelilingi lapangannya.

Demi kesehatanku? Huh, maaf saja ya, aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk tubuhku. Bahkan tahu lebih baik dari pada ia. Ck, itu hanya alasannya saja untuk membujukku membentuk otot di bagian perutku. Tolong, aku ini bukan Paman Mamaji dari film Life of Pi yang memiliki otot overdosis di bagian lengannya dan kumis antik yang membuatku iri melihatnya—aku iri pada kumis antiknya, bukan otot overdosisnya.

Beberapa meter medekati halte bus, mataku menemukan seorang gadis dengan rambut hitamnya berdiri memandang ke depan dengan pandangan kosong. Hal ini membuatku penasaran sekaligus merinding karena... yah, kau tahu sendiri apabila kau menemukan seorang gadis berdiam diri sendirian maka satu-satunya hal yang perlu kaulakukan adalah mengecek kakiknya.

Dan kaki gadis itu masih menapak pada tanah yang mana membuktikan bahwa ia bukan arwah penasaran atau hal-hal mistis lainnya.

Beberapa saat kemudian gadis itu menoleh ke arahku dan membuatku sedikit terkejut dengan tatapannya yang terlihat... entahlah, aku sendiri tak bisa menjelaskannya. Matanya benar-benar memikat ditambah rambut hitamnya yang tertiup angin mengingatkanku pada sebuah sungai jernih yang airnya mengalir lembut.

Itulah kesan pertamaku saat melihatnya sebelum ia menaiki salah satu bus yang lewat dan membuatku lupa bahwa seharusnya aku juga menaiki bus itu.

Ah, sial, sial, sial! Benar-benar tak ada gunanya menendang halte meski halte itu bengkok sekali pun. Saat kulihat jadwal bus berikutnya masih sekitar satu jam lagi, kuputuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah.

Dan sepanjang perjalanan pulang aku tak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Sungguh, rambut hitamnya benar-benar membuatku teringat terus padanya. Hal ini dikarenakan aku jarang melihat rambut hitam berkeliaran di sekolahku lagi—banyak anak perempuan yang memutuskan untuk mewarnai rambutnya.

Tapi satu hal yang mengganjal hatiku, yaitu warna matanya. Aku benar-benar bisa lupa akan warna matanya itu—sedangkan rambut hitamnya terekam sangat jelas di otakku. Apakah tadi warnanya hitam juga? Cokelat muda atau cokelat tua? Ataukah berwarna biru? Benar-benar, kenapa aku hanya tertarik pada warna rambutnya saja, sedangkan aku tidak memperhatikan matanya (yang mana kukatakan bahwa tadi matanya seperti sebuah sungai yang airnya mengalir)?

Aaaaargh, bisa-bisa aku mati penasaran bila tak bertemu dengannya lagi dan memastikan apa warna matanya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rharkim
rharkim at Gadis Itu (5 years 27 weeks ago)
60

Sebenarnya tidak perlu ada pendahuluan yang diatas. Itu membuat suatu karya dinilai negatif..

Writer jxoxs
jxoxs at Gadis Itu (5 years 30 weeks ago)

(y)

Writer garoon
garoon at Gadis Itu (5 years 30 weeks ago)

Vega itu pria atau wanita? #plak
Belum merasakan feelnya, cuma agak bingung juga apa cowok seneng ngedumel begini ya?

Writer min_twins
min_twins at Gadis Itu (5 years 30 weeks ago)
70

Menurutku ini kurang cocok disebut cerita pendek. Si gadis berambut hitam yang misterius itu lumayan bikin penasaran, tapi kok cuman gitu aja? Bukannya si Vega tadi penasaran banget, sampe2 kebayang terus sama gadis itu?

Mending jadi cerita bersambung deh.

Writer L. Filan
L. Filan at Gadis Itu (5 years 31 weeks ago)
60

Ini nggak spt cerpen. Cerita narator dg pacarnya blm benar2 ending udah ada tokoh lain yg tidak terlibat atau tidak berhubungan dg konflik cerita. Bisa aja cerita berakhir dg putusnya mereka tp nggak ada konklusi.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Gadis Itu (5 years 31 weeks ago)
50

saya enggak menduga naratornya itu laki2 sampai paragraf yang menyebutkan bahwa dia itu laki2. saya baru tahu laki2 bisa mendumel gaya begitu juga, hehehe.
latarnya enggak jelas. saya bayanginnya sih Vega dan Sarah itu lari2 di seputaran Monas atau semacamnya, tapi bahasanya kok rasa terjemahan.
bener itu tagarnya Cerita Pendek? lalu apa hubungannya otot dengan gadis berambut hitam? ekspektasi saya sbg pembaca, dl Cerita Pendek itu ada semacam kebulatan. antara kejadian satu dan kejadian berikut ada tautannya (atau sebab-akibat menurut definisi plot). atau tiap2 unsurnya saling berkaitan. bukannya isu satu (dl hal ini, misal, diet) dialihkan dg isu lain (gadis berambut hitam), jadinya seperti politik media :v atau ini cerpen model baru sehingga saya belum terbiasa.
bagian yang paling saya suka dari "Cerita Pendek" ini justru paragraf pertama yang ditebelin itu ._.

Writer aprillia28
aprillia28 at Gadis Itu (5 years 31 weeks ago)
40

Saya belum merasakan feel cerita ini

Writer evaporape
evaporape at Gadis Itu (5 years 31 weeks ago)
2550

Kak maaf ada typo "Kubalikkan tubuhku dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan tujuan lari Sarah. Masa bodoh dengan acara lari pagi yang menyehatkan."
Mungkin "Kubalikkan tubuhku dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan tujuan lari dari Sarah. Masa bodoh dengan acara lari pagi yang menyehatkan."

Ceritanya bagus, ngalir, lugas, dan diksinya membuat aku bisa menikmati si cowok tanpa otot ituh #loh
Ini cerita bersambungkah?
Penasaran sama perempuan halte pemilik warna mata misterius, jadi ikut nebak juga warna matanya kira-kira apa ya?
Cerita ini tidak sesimpel judulnya, keren..