If I can't Have You

Kamu menatap hamparan tanaman padi yang terlihat lebih kuning dari biasanya, mungkin karena padi-padi siap panen itu terkena sinar matahari sore. Atau memang warna aslinya terlihat seperti emas? Kamu menghela napas sebab kamu tidak bisa melihat matahari dari sisi jendela ini, kamu hanya mendapatkan guratan cahaya kuning keemasan di langit biru yang sedikit keabu-abuan.

Untungnya kereta sesuai dengan jadwal, meski tadi kereta sempat berhenti setengah jam di Cirebon, membuatmu sedikit panik, takut kalau kereta tidak akan tiba di kota kelahiranmu sesuai dengan jadwal yang tertera di tiket. Kamu tidak mengerti kenapa kamu harus takut jika kamu tidak tiba tepat waktu. Toh ini Indonesia, dimana sebuah keterlambatan sudah menjadi hal yang lumrah, dan bukan sebuah aib seperti di luar negeri. Tapi ini bukan pertama kalinya kamu merasa takut jikalau kereta yang kamu tumpangi tidak tiba di ibukota tepat waktu. Tetapi jauh dalam lubuk hatimu, semoga saja ini menjadi yang terakhir. Kamu lelah kembali ke sini, ke tempat yang terpaksa kamu sebut sebagai rumah, kampung halaman, hanya karena di sana tinggal orang-orang yang berbagi darah denganmu. Orang yang terikat secara hukum denganmu.

Pikiranmu tentang orang-orang itu terpecah saat lagu yang sedanh kamu dengar di HP berhenti, dan terdengar nada dering khusus pesan masuk. Nada dering khusus untuk seseorang.

Aku naik flight malam.

Selalu sederhana dan to the point. Jika ada orang yang membaca history percakapanmu dengan orang ini, pasti mereka tidak akan percaya kalau kalian sudah dekat lebih dari tiga tahun. Ya, dekat. Kalian–atau kamu lebih tepatnya–tidak terbiasa membicarakan hubungan kalian kepada orang lain. Meski keluarganya tahu kalau kalian berpacaran, hampir tiga tahun, atau sudah tiga tahun? Atau bahkan lebih dari tiga tahun?

Kamu menelan ludah sebelum membalas pesan tersebut.

Aku udah mau sampai Jakarta. Kayakny, aku gak tau. Tapi yang pasti udh masuk Jawa Barat

Kamu mengirim pesan sebelum kembali menyetel lagu sambil kembali menatap ke jendela di sisi kanan, atau ini barat? kereta yang kamu tumpangi. Bukan karena kamu tidak bisa melihat sawah dari jendela di sebelahmu. Hanya saja pemandangannya lebih indah di sisi yang lain. Huh, mungkin ini maksudnya ‘Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri’ atau sejenisnya. Entah, kamu tidak begitu paham dengan rumput.

Suara Brendon Urie terhenti saat dia sedang menyanyikan lagu yang membuat band itu terkenal, menandakan kalau ada SMS masuk. Kamu menghela napas sambil merogoh kantong celanamu.

Sampai jumpa di Jakarta. I love you

Kamu tersentak. Ini memang pertama kalinya dia mengucapkan tiga kata sakti itu. Kamu sudah sering mendengarnya, baik secara langsung, via telepon, via Skype, surat elektronik. Tapi bukan berarti kamu tidak tersentuh setiap kali kamu membaca kalimat itu. Kamu tidak percaya bahwa diluar sana ada orang yang bisa mencintaimu, dengan tulus tanpa menuntut apapun kecuali kebahagianmu.

Matamu terasa sangat panas. Kamu ingat janjimu dulu, beberapa hari setela ulang tahunmu. Dia mengucapkan kalimat itu, dan kamu hampir membalasnya. Tetapi kalimat itu tersangkut di tenggorokanmu. Mulutmu terkatup sangat rapat. Kamu bisa melihat wajah sedih dan senyum pengertian yang biasa ia lemparkan kepadamu setiap kali kamu berjuang untuk mengucapkan kalimat itu. Kamu berjanji, jika kalian bertemu nanti, kamu akan mengucapkannya secara langsung. Kamu tidak mau mengucapkannya tanpa melihat reaksinya, tidak setelah sesi telepon kalian yang penuh emosi, tidak saat kamu terjebak di sebuah desa demi kuliah, tidak saat semua orang mempertanyakan hubunganmu dengan dia.

Kamu berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata. Sebab kamu ingat bagaimana dengan mudahnya kamu mengucapkan kalimat itu kepada orang lain, yang baru kamu kenal beberapa bulan. Orang yang belum tentu membalasa perasaanmu, orang yang belum tentu akan melihatmu dengan cara yang sama lagi jika dia tahu mengenai perasaanmu. Orang yang sudah menjadi milik orang lain.

Tetapi kenapa sangat sulit untuk mengucapkan tiga kata itu kepada dia. Orang yang memahami dirimu luar dalam, bahkan jauh lebih baik dibandingkan kamu memahami dirimu sendiri. Padahal perasaan itu ada, kamu tahu kalau perasaan itu ada. Jauh di dalam lubuk hatimu yang gelap, yang rusak, berantakan dan penuh dengan rahasia serta luka yang tidak menghilang meski waktu telah berlalu sangat lama.

Kamu mengigit bibir saat mengetik jawaban untuk pesan barusan. Kamu tidak tega untuk membacanya lagi setelah mengirim pesan tersebut.

Tanpa kamu sadari setetes air mata berhasil keluar dari matamu yang telah tertutup. Baru kali ini kamu menangis setelah menjawab Yo kepada seseorang.

Seseorang yang sangat memahami dirimu. Seseorang yang seharusnya menjadi belahan jiwamu.

                                                   x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x      

Kalian tidak bertemu besoknya, meski hari ini kalian sudah tiba di Jakarta. Di rumah masing-masing, menghadapi kenangan masa lalu yang mengurung kalian. Bedanya, kenangan masa lalu dia memang hanya berupa kenangan. Sementara kenangan masa lalumu, yah, mereka masih hidup. Sangat hidup sampai-sampai mereka bisa membuatmu kesal. Bukan hal baru.

Terkadang kamu tidak mengerti kenapa kamu kembali ke sini.

Oh ya, karena skripsi dan janji kepada orang-orang dari masa lalumu kalau kamu akan pulang.

Suara ibumu mengejutkanmu, ternyata kamu membuka keran daritadi tetapi tanganmu tidak bergerak untuk mencuci tumpukan piring dan gelas di tempat cuci. Kamu menghela napas dan mulai mencuci. Dalam hati kamu ngedumel karena tempat cuci piring ini terlalu rendah. Kamu juga sempat berjanji kepada diri sendiri, jika kamu memiliki rumah sendiri, tempat cuci piringnya tidak boleh serendah ini.

Selesai mencuci piring, kamu menonton televisi. Sedikit bersyukur karena ada siaran televisi luar negeri, sehingga kamu tidak perlu tersiksa dengan menonton siaran televisi nasional. Fokusmu terbagi antara menonton, membaca, dan sesekali melirik ke HP. Kamu lupa kalau kamu bukan manusia super yang memiliki kemampuan konsentrasi tinggi. Sehingga kamu menutup bukumu, mematikan HP dan fokus menonton film yang sebetulnya sudah pernah kamu tonton. Dua kali.

Kamu menghela napas. Seingatmu, rumahmu yang dulu selalu dipenuhi oleh cahaya matahari, terasa ramah dan segar dan nyaman. Tidak seperti sekarang. Gelap, pengap, banyak serangga (apalagi nyamuk!), tidak memiliki jiwa. Mungkin orang akan menanggapmu aneh, tetapi kamu percaya kalau rumah memiliki jiwa. Dari mana rumah mendapatkannya? Dari orang-orang yang tinggal di dalamnya. Pendek kata, rumah memancarkan jiwa orang yang menempatinya.

Kamu langsung merasa ngeri beberapa detik setelah berpikir demikan. Apa itu artinya orang-orang yang tinggal di rumah ini tidak memiliki jiwa? Kamu menelan ludah, kalau dipikir-pikir, itu memang benar. Kamu merasa, kamu tahu, kalau kamu baru mendapatkan jiwamu setelah kamu keluar dari rumah ini. Setelah kamu kabur dibalik alasan ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Matahari terbenam tidak terlihat dengan jelas dari sini, tetapi kamu bisa melihat bukti kalau matahari sedang berjalan pulang ke tempat peristirahatannya dari jejak-jejak warna merah oranye yang ia tinggalkan di langit biru.

Kamu teringat sebuah momen kemarin sore, ketika kereta yang kamu tumpangi mulai memasuki daerah padat penduduk, dimana para warga malah duduk santai di dekat rel kereta api. Seolah melihat kereta api melintas di halaman rumah mereka yang ilegal adalah sebuah kegiatan sore hari yang biasa mereka lakukan. Seperti orang Inggris dengan kegiatan minum teh di sore hari. Kamu melihat sepasang kekasih tengah berjalan di rel sebelah. Salah satu dari mereka berjalan di atas rel, sementara yang satu lagi berjalan di atas batu-batu krikil yang bertebaran seperti hamparan pasir di pantai. Mungkin bagi mereka, ini adalah pantai mereka. Berjalan santai sambil menikmati embusan angin sore, sesekali mengintip ke arah mentari senja yang sibuk melukis di kanvas pemberian Tuhan daripada kembali ke rumahnya.

Tanpa sadar kamu mengirim pesan kepada dia.

Besok sore bisa ketemu? Di stasiun dekat rumahku.

Butuh sekitar sepuluh menit bagi dia untuk membalas pesanmu, kamu sempat takut kalau dia tidak mau bertemu denganmu. Tapi tentu saja hal itu tidak mungkin. Dia terbang dari belahan bumi yang lain demi bertemu denganmu.

Kenapa kita gak ke pantai kalau mau liat sunset?

Kamu berusaha sekuat tenaga untuk tidak tersenyum, orang ini. Kamu menggelengkan kepala, merasa geli karena kamu memang tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari dia.

Sekali-sekali kita JJS di stasiun.

Oke, aku jemput jam 4. I love you.

Maaf, aku belum bisa membalasny

I know, it’s ok. It’s just words. No biggie. See you tomorrow.

Rasanya kamu ingin melempar HP yang sedang kamu genggam. Sebab kamu tahu kalau itu bukan hanya sekedar kalimat.  Itu suara dari lubuk hatinya yang terdalam, dan kamu tidak bisa membalasnya.

                                                   x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x      

Napasmu tertahan saat melihat sosoknya di atas motor, memberikan seringai nakal setelah melepaskan helm yang sedari tadi melindungi kepalanya. Dia selalu menggunakan helm full face, tetapi untungnya helm yang dia lempar ke arahmu bukan helm full face.

Sepanjang perjalanan, kamu tergoda untuk memeluknya dari belakang. Tetapi kamu berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya. Tidak banyak yang berubah dari stasiun ini, untungnya. Gedungnya masih gedung yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda dulu. Hanya saja stasiun terlihat lebih canggih dengan adanya alat bernama gate yang hanya bisa dibuka jika kita menempelkan kartu di mesin tersebut.

Kamu berpikir apakah mesin ini sudah masuk di stasiun di Yogya. Sebab kamu terkadang ingin menyendiri, dan stasiun menjadi salah satu lokasi pilihanmu untuk menghindari kontak dengan orang. Kamu pernah mendengar atau membaca, kalau kamu ingin melihat kesedihan asli pergi ke rumah sakit, dan jika kamu ingin melihat cinta dan kasih sayang yang nyata, pergi ke bandara. Ini memang bukan bandara, tetapi kamu bisa merasakannya, perasaan lega ketika sampai di tempat tujuan. Ketika berjumpa dengan orang yang menjemputmu.

Kalian terpaksa membeli kartu untuk sekali perjalanan, padahal kamu tidak ingin pergi kemana-mana. Namun itu peraturannya. Dia kembali menanyakan niatmu memilih stasiun sebagai tempat pertemuan kalian, kamu mengatakan bahwa kamu sendiri tidak mengerti kenapa kamu memilih lokasi ini. Dengan santai kamu berjalan turun dari peron, menjauhi stasiun. Kamu mendengar dia memanggilmu, tetapi kamu terus berjalan. Tanda kepadanya supaya dia menyusulmu.

Setelah kalian berjalan agak jauh dari stasiun, kamu menoleh ke belakang. Dia kurang lebih berada tiga atau empat langkah di belakangmu. Tidak ada rumah-rumah liar di dekat rel kereta api, bangunan terdekat berjarak kira-kira lima puluh sampai seratus meter dari tempat kalian berdiri. Kamu terdiam sambil mengamati matahari senja.

Dia memanggilmu pelan, dengan lembut dan penuh perasaan. Penuh cinta.

Kamu menelan kembali tangis yang hendak keluar sebelum menatap ke arahnya. Yang tengah memandangimu dengan bingung, keningnya berkerut. Mata birunya terlihat seperti warna abu-abu. Kamu mendengus, abu-abu itu bukan warna. Dia hanyalah tingkat intensitas warna. Dia gabungan hitam atau putih, tetapi dia bukan hitam dan putih.

Kamu menangkup pipinya. Hal itu membuat dia kaget sekaligus bingung, namun belum sempat dia bicara, kamu mengecupnya. Perlahan, dengan lembut. Dan tidak terlalu lama. Seolah-olah kamu baru saja mengetes apakah air itu terlalu panas atau tidak, bukannya mengecup seseorang yang mencintaimu dan rela berkorban demi dirimu.

Dia berdiri mematung, tangan kirinya menyentuh bibir. Setelah sadar apa yang terjadi barusan, dia malah bertanya apakah kamu baik-baik saja. Kamu tertawa sebelum mengatakan tentu saja kalau hal yang pertama terlintas dalam benaknya ketika kamu melakukan hal yang tidak wajar adalah bertanya apakah kamu sehat atau tidak. Mungkin kamu memang tidak sehat.

Tetapi kemudian dia balas menciummu. Berbeda dengan ciuman yang kamu berikan, dia menciummu seolah dunia akan kiamat besok. Dia menuangkan semua perasaan cinta, rindu, amarah, yang dia rasakan untukmu ke dalam ciuman ini. Kamu sudah tidak peduli dengan apakah akan ada orang yang melihat kalian atau tidak.Yang ada dalam benakmu sekarang adalah bibirnya, dekapannya, sentuhannya, napasnya, semua tentang dirinya.

Ketika paru-parumu berteriak meminta udara, dengan sangat terpaksa kamu melepaskan bibirnya.

Bibirnya yang lembut dan penuh dengan cinta, janji akan masa depan yang bahagia. Kamu tidak pernah menyukai akhir yang bahagia atau mendengar orang mengatakan kalau dia mencari akhir bahagia.Sebab kamu tidak ingin kebahagian itu berakhir.

Ketika tangan hangatnya menyentuh pipimu, kamu menangis. Dia bertanya kenapa kamu menangis, dia bertanya apakah kamu menyesal telah menciumnya. Kamu menggeleng sebelum mengatakan kalau kamu tidak pernah menyesali segala sesuatu tentang dirinya. Tetapi kamu mungkin akan menyesal atas apa yang akan kamu lakukan sekarang.

Aku jatuh cinta dengan orang lain

Dia menatapmu selama satu menit penuh, tanpa bicara. Seolah dia baru ingat kalau dia butuh oksigen untuk hidup, dia menarik napas dalam-dalam sebelum membuangnya dengan sangat pelan. Wajahnya seolah berkata kalau dia tahu suatu hari nanti kamu akan mengatakan hal itu kepadanya. Kemudian dia menyalahkan dirinya, karena telah menganjurkanmu untuk pergi dan berpetualang. Hidup masih panjang, kamu masih muda, jangan langsung terikat dengan satu orang.

Kamu menangis sambil memeluknya. Meminta dia berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Suara tangis kalian bercampur jadi satu.

Dari kejauhan kamu mendengar suara kereta, oleh sebab itu kamu tidak mendengar dia mengatakan sesuatu. Hal terakhir yang kamu ingat adalah wajahnya yang sedang dan tangannya yang mendorong kamu ke rel kereta.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vanzoelska
vanzoelska at If I can't Have You (4 years 44 weeks ago)
2550

feelnya dapat kok kak. diksinya lembut banget.
tapi bingung dia itu sebenernya sama cowo itu baru kenal??
terus si cewe itu sebenarnya udah pacaran sama orang kurang lebih 3tahun. orangnya yang itu apa bukan sih?
#jadi kepo ahaha
atau gini-gini.
jadi cewenya itu pacaran udah 3tahun lebih sama cowo lain. nah mpas dia ke jakarta dia nemu cowok yang baru dikenalnya beberapa bulan.
tapi cowok baru itu punya kelebihan yang pacarnya ga punya.
tapi dia masih ragu mana cowok yang lebih ngerti dia sebenarnya.
tapi dibalik itu, dia udah merasa nyaman sama cowok yang baru itu tapi dia takut untuk melanjutkannya.
gitu bukan sih?!!
ahaha maav sok tau. sumpah penasaran tau kak.
#jdak!!
lariiiiiiii
salam kenal, #cling! ;)

Writer penulisku
penulisku at If I can't Have You (4 years 44 weeks ago)

berasa sih momentnya
sip lah

Writer Saskey
Saskey at If I can't Have You (5 years 2 weeks ago)
40

Entah kenapa saya gagal feel :') Buat author, semoga bisa lebih baik :)

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at If I can't Have You (5 years 1 week ago)

Makasih :). Hahahah, maybe PoV 2nd is not my forte

Writer FaraniD
FaraniD at If I can't Have You (5 years 2 weeks ago)
70

Salam kenal, putri kegelapan. Umm, seperti yang dikatakan 2rfp, POV2 bukankah seharusnya tidak memasukkan perasaan? Seharusnya pembaca yang memasukkan perasaanya ke dalam cerita, bukan penulisnya.
>
Alurnya sudah bagus, eyd juga. Saya yakin ini akan lebih baik jika POV2nya diperbaiki sedikit. Maaf, tapi POV2 dalam cerita ini masih belum berhasil.

Sekian, semoga berkenan.
Salam, Fara.

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at If I can't Have You (5 years 1 week ago)

Makasih untuk komentarny. Saia memang baru beberapa kali menggunakan PoV 2nd, jadi masih belum begitu jago. Cerpen2 yang menggunakan PoV 2nd jugamasih sangat sedikit saia baca, jadi belum banyak ilmuny

Dan salam kenal juga, Fara

Writer 2rfp
2rfp at If I can't Have You (5 years 2 weeks ago)

koreksi saya jika salah. bukannya POV dua tidak bisa memasukkan perasaan tokoh dalam cerita?

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at If I can't Have You (5 years 1 week ago)

Oh ya?Arrrgh, saia enggak tau. Dulu pernah sekali baca cerpen pake PoV orang kedua, dan itu memasukkan perasaan tokoh. Kayakny saia masih harus banyak baca cerpen pake Pov 2nd

Writer garoon
garoon at If I can't Have You (5 years 2 weeks ago)

Sayangnya saya engga bisa merasakan jadi 'kamu'..
Nice story..

Writer Yua
Yua at If I can't Have You (5 years 3 weeks ago)
70

Saya bilang ini belum sukses mencapai PoV2
Kamu emang berhasil bikin pembaca merasakan apa yang ingin kamu ungkapkan, tapi saya lihatnya malah 'Kamu' ini nama tokoh alih-alih membuat pembaca merasa dilibatkan

Bukankah kunci PoV2 adalah menjadikan pembaca sebagai karakter?

Salam,
Yua

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at If I can't Have You (5 years 1 week ago)

Makasih untuk masukanny, saia memang masih baru menggunakan PoV 2nd ini, jadi masih belajar

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at If I can't Have You (5 years 3 weeks ago)
100

anu ... typo ....

yang ada di pikiran saya pertama kali, kenapa judulnya berbahasa Inggris coba?

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at If I can't Have You (5 years 3 weeks ago)

Entah kenapa itu yang terlintas dalam benak saia