Kembara

-Kembara-

Aku

Mereka memanggilku Kembara.
Silahkan panggil aku begitu jika kau suka.

Semacam petarung yang diam menantang keadaan. Sejak waktu belum bernama hingga lahir-jatuhnya para raja.
Agama mengalir lewat urat-uratku menerobos relung mistis kepala para orang gila, sementara tubuhku digerogot rayap dan usia.

Pernah ada seorang tua dengan aura putih bijaksana duduk, berumah, dan mati di bawah kakiku. Lalu orang orang menganggap aku sebagai ibarat yang membawa si bijak pada mereka dalam bentuk paling sublim.
Setiap malam ketika purnama, orang-orang itu menyuguhkan berbagai saji dan doa. Berharap dengan bodohnya padaku untuk mengabulkan permintaan mereka.

Inginnya aku memukul dan memaki mereka, sungguh. Tapi Tuhan tidak mengijinkan. Ia terlalu adil untuk memberiku kuasa itu. Tugasku hanya membagikan tetes embun pada tanaman di bawah kakiku, melindungi mereka dari hujan dan erosi, serta menaungi mereka andai cuaca bernafas terlalu keras.

Tapi biar bagaimanapun, aku masih dan akan tetap menjadi semacam petarung yang diam menantang keadaan. Sejak waktu belum bernama hingga lahir-jatuhnya para raja.

.......................

-Kenanga-

Malam di gerbang desa ngulor

Ada yang membisikiku untuk tetap diam dan menunggu. Entah dari mana asal perasaan ini, yang jelas ia membuatku nyaman.
Semakin malam, udara bertambah dingin, aku masih saja menunggumu. Sebab kamu berjanji akan datang malam ini bagaimanapun resikonya.

Di genggamanku sekerat nasi bungkus daun jati, sisa jualan yang sengaja kusisihkan untukmu. Lauk di dalamnya hanya tempe, beberapa ikan teri asin, dan sambal terasi. Kuharap cukup untuk mengganjal perutmu kalau kalau kamu belum sempat makan di rumah.

Sayup-sayup terdengar teriakan dari arah gerbang desa. Keadaan sedang kacau. Aku khawatir terjadi apa-apa padamu, sungguh. Tapi ada yang membisikiku untuk tetap diam dan menunggu.

Aku percaya.

............................

-Kembara-

Dewa-dewi dan iblis bercinta di bawah kakiku

-Hari ketiga-

Aku sedang tidur ketika seorang gadis datang padaku membawa hujan pada kelopak matanya. Jarik panjang bergelantung di pundaknya.
Rambutnya hitam digelung begitu manis, kulitnya putih halus. Ia gadis jawa dengan usia begitu muda, dikaruniai kecantikan yang akan membawanya jauh.

“Kau, beringin tua yang istimewa, kalau keramatmu adalah nyata, kenapa aku kau jadikan tumbal? Kenapa tidak turunkan bidadari saja?” Katanya.

Kulitku mengkerut ketika kepalanya terkulai. Aku mendengarkan, mengingat ingat kejadian dan jejak para manusia yang pernah datang kepadaku. Ia tak ada, ini pertama kali aku melihatnya.

“Semenjak lama, aku bukan pemujamu. Aku bahkan tidak pernah percaya pada keramatmu. Lalu kenapa kau pilih aku lewat mata pendeta sucimu?”

Aku melupakan sejenak gatal yang ditimbulkan serangga di atas kulitku. Melihat gadis ini, membuatku merasakan keberadaan diriku sendiri padanya.
Ia adalah manusia pertama yang tidak percaya ketuhananku dan datang padaku untuk meludahiku atas kebodohan bangsanya.

Namanya Kenanga. Gadis terpilih itu.
Maka ketika ia beranjak pergi, aku mengirimkan sehembus angin untuk menghapus airmatanya.

-Hari kedua-

“Semua karena kesalahanmu! Ya, kamulah biang semuanya!” Pemuda itu berkata murka sambil mengangkat kapaknya.

Langit sedang melukis mendung, dan aku baru saja akan menabuh genderang peringatan agar bunga dan rumput kecil segera berteduh di bawah kakiku. Lalu pemuda itu datang dengan bara di kepalanya. Mengatakan kalau aku adalah pembuat dosa.

“Dari sekian banyak gadis di dunia, kenapa kekasihku yang kau pilih untuk mengiringi pendetamu memujamu?” Ia berteriak. Urat di lehernya menyembul. “Apa karena dia pendetamu dan aku hanya pemuda biasa lantas doa kami kau anggap berbeda?”

Aku ingat wajahnya, ia adalah pemuda yang sering berdoa di kakiku untuk kekasihnya pada lima hari setelah purnama. Memang tanpa membawa apa-apa, tapi mendengar kisahnya sudah merupakan hiburan tersendiri ditengah hari-hariku.

“Aku ke sini untuk membunuhmu, selamatkan dirimu kalau kau benar benar sakti!” Katanya.

Kali itu aku bersorak gembira.
Silahkan...silahkan..., antarkan aku pada Tuhanku yang sebenarnya!
Aku muak dianggap perantaraNya sementara Dia di sana menertawakan kalian. Cepat, aku tak sabar menceritakan kebodohan kalian pada Tuanku di Khayangan!

Lalu ia mengangkat kapaknya sebelum menjatuhkannya lagi. Dengan kalut mulai memukuli tubuhku. Semut semut di sana murka, tapi aku mencoba menenangkan mereka.

“Lihat betapa bodohnya aku selama ini, kau bahkan tidak membalas pukulanku!” Katanya dengan mata gelas retak, lalu memungut kapaknya dan memunggungiku. “Kami akan lari, jauh dari sini. Halangi kami kalau kau memang suci, dan kami akan memberimu bayaran yang pantas dengan kematian kami!” Katanya lalu beranjak pergi.

Aku menjatuhkan selembar daun, mengusap kepalanya. Mencoba mematikan bara di sana.

-Hari pertama-

Enambelas lilin dinyalakan. Aku merasakan panasnya merayapi udara dan menyentuh daun daunku.
Seorang membakar kemenyan dan mengotori cuaca malam ini, berucap mantra dengan bahasa yang tak bisa kumengerti.

“Oh, Kembara, beringin suci tempat Betara sakti pernah bertapa, tunjukkan padaku sebuah nama. Gadis yang beruntung jadi pendampingku memujamu seumur hidup” Kata sang pendeta tua pemimpin upacara.

Jadi orang tua itu, orang yang memimpin manusia manusia bodoh ini memujaku. Manusia licik kelas kakap yang memanfaatkan keadaan atas nama ketuhanan.
Cih!
Aku ingin sekali meludahinya andai aku punya mulut. Lalu menginjaknya andai aku punya tungkai kaki.

“Kenanga!” kata pendeta itu sendiri setelah lama berdiam diri. Berlagak seolah bertapa.

Orang orang yang mengelilinginya berseru seru sendiri.
Di kejauhan, kudengar suara tangisan.
...................................

-Kenanga-

Beringin itu bernama Kembara

Orang-orang menamainya Kembara. Beringin yang dianggap suci karena pernah jadi ruang pertapaan orang sakti tanpa nama.
Di sini sekarang aku menunggumu. Orang orang desa itu pastinya tak akan berani mencari ke sini. Mereka terlalu percaya pada takhayul, bahkan sampai bertindak anarkis dengan mengganggu kita hanya karena mimpi seorang pendeta gila.

Pendeta itu menyukaiku, kita sama sama paham. Tapi aku dan kamu telah saling jatuh cinta. Batara dewa telah mengikat hati kita dengan rantai alih-alih benang, sehingga manusia manapun tak akan dapat memutusnya.
Maka itu aku percaya sebentar lagi kamu pasti datang.
Pasti!

Menit...menit...dan menit...

Kakiku mulai lelah, kau tahu?
Akhirnya aku menyerah dan sejenak mengistirahatkan mereka. Merasakan tekstur kasar menekan punggungku ketika aku mulai bersandar pada kokoh tubuh Kembara, juga akar gantung yang berjumbai di sekitarku. Kembara seolah menawarkan sebuah perlindungan. Sebuah tempat berteduh yang nyaman, untukku: seorang gadis lelah yang menunggu kekasihnya.

Aku tak mau tertidur, jarik pemberian ibuku masih dapat menghalangi rasa dingin, tapi tidak dapat membentengiku dari letih yang kesumat.
Tidak, aku tidak akan tidur! Kamu pasti datang, sebentar lagi!
Aku takkan membiarkan Kembara memelukku sampai aku memelukmu terlebih dulu.

 

- Daha...Daha!! -

Semak-semak bergemeresak, lalu kulihat wajahmu purnama, menyembul dari daun-daun awan.
Aku tidak menahan diri untuk memelukmu. Tidak kali ini.

“Kamu ndak apa apa to?” Kamu bertanya dengan wajah khawatir. Nafasmu tersengal tapi kelegaan luar biasa mengelilingi kita.

“Ndak Kakang, aku baik.” Jawabku.

Hujan hampir jatuh dari kelopak matamu. Kutunggu, tapi ia tetap tidak jatuh, mendung hanya bergelantung dan pergi. Seperti yang kamu pernah bilang: menangis bukan jawaban untuk laki-laki.
Maka kamu hanya tersenyum. Memandangiku dari atas sampai bawah, mencari apakah ada yang tertinggal dari pelarianku tadi.

“Kita akan ke Ibukota.” Katamu akhirnya, sementara teriakan di sana semakin gempar memanggil-manggil nama kita.

“Tapi, Daha enam hari perjalanan dengan kuda, Kakang”

Lalu aku melihat senyum itu, kamu mengulangnya. Senyum yang sama ketika aku dan kamu jatuh cinta untuk kali pertama. Kembali kita kepada atap landai yang menaungi kepala sementara hujan memaksa kita berteduh di bawahnya. Di bawah atap itu pula, kita berkenalan dan bertukar janji untuk kembali lain kali.

“Aku sudah menyiapkan kuda di tepi sungai. Kita hanya perlu ke sana.” Katamu.

Aku tak tahan untuk tidak memelukmu erat. Sekali ini lebih erat dari sebelum sebelumnya.

Maka aku tidak menolak ketika genggamanmu menuntunku keluar dari perlindungan Kembara menuju perlindunganmu.

“Kami akan menuju Daha. Ya, Daha!” Pikirku sembari mencoba mengimbangi langkahmu.

Kaki kita berderap di atas tanah yang mulai basah oleh embun. Nasi bungkus bergelantung di tangan kananku, jarik tersampir mengelilingi leher.
Angin dingin berhembus, menikam kita. Beringin itu melambai.

...........................................

-Kembara-

Pucuk pucuk yang berdoa

.....

Aku pernah berkata: aku semacam petarung yang diam menantang keadaan.
Memang.

Akulah yang membisiki Betara sakti agar berlindung di bawahku ketika hari hujan, lalu seterusnya ia kembali padaku dengan sukarela demi sepotong kedamaian.
Aku juga yang membantu Kenanga melarikan diri bersama pemuda pilihannya daripada terjebak seumur hidup dalam ikatan pendeta keparat.

Aku pernah berkata: aku semacam petarung yang diam menantang keadaan.

Maka mari katakan aku memang ditakdirkan menjadi nadi bagi bumi, menjadi rumah bagi mahkluk mahkluk kecil, menjadi sumber makanan para herbivora. Maka katakanlah kalau aku memang semacam petarung yang diam menantang keadaan, tapi bukannya tak berbuat apa apa.

Karena aku adalah Kembara.
Hari ini atau nanti. Aku akan tetap menjadi Kembara. Beringin besar tua yang sama.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Wanderer
Wanderer at Kembara (6 years 50 weeks ago)
80

Bagus ya cerpen-cerpen di kekom.
Narasinya oke. Karakterisasi si Kembara sangat kuat sebagai beringin tua yang bijak, taat, dan memiliki ketegasan yang kuat dalam menentang kemusyrikan.
Alur yang dibuat mundur, lalu maju kembali, menguji nalar pembaca. Penjabaran rincian yang samar merangsang pembaca untuk lebih berimajinasi, dan saya cenderung suka jenis cerita yang demikian.
Tapi saya harus bilang ini maksa banget sih kalau dibilang mengingatkan dengan bartimaeus. Jenis sarkasme yang berbeda, tidak ada yang mirip, dari sudut pandang saya yang sudah sering baca ulang novel tersebut, ya :p
Maaf bila kurang berkenan.

Writer amanda.joyce333
amanda.joyce333 at Kembara (6 years 49 weeks ago)

Haii wanderer..ceritanya sih beda bgt sm bartimaeus..tapi somehow saya bisa merasa ada rona yg mirip..kemungkinan karna penulisnya suka banget baca bartimaeus? Jadi ada influence dlm cara penulisan. Entah sih..cuma perasaan saya aja mungkin hehe

Writer amanda.joyce333
amanda.joyce333 at Kembara (6 years 50 weeks ago)

Rasanya seperti membaca Bartimaeus-nya Stroud. Entah kenapa penceritaannya seperti saat saya membaca novel itu. Well, what you like to read would influence how you write, rite?

Detil latar tempat dan waktu yang tidak ada di beberapa bagian menurut saya ngga terlalu ganggu sih. Saya sudah bisa menggambarkan segalanya dengan jelas di pikiran saya. Kalau misalnya memang lebih lengkap info-info tadi, mungkin penggambaran di kepala saya akan jauh lebih jelas.

Atau..mungkin ini memang diniatkan untuk ngga terlalu lengkap infonya agar pembaca bisa berimajinasi sendiri?, since you always have this kind of hidden purpose in your writing.

Writer putcieput
putcieput at Kembara (6 years 50 weeks ago)
60

Awalnya kupikir ini puisi, tapi pas pergantian pov kupikir cerpen rasa puisi #iniapabanget :v dari setting waktu, tempat, masa, aku ga nangkep apa2, jaman apa ini? Siangkah? Malam kah? Di bumikah? Atau Indonesia?ke, ada beberapa narasi yang menjelaskan dikit tentang keterangan waktu, tapi untuk keseluruhan belum, padahal bakal lebih hanyut kalo dijelaskan lagi :v dan... banyaknya pov yang selang seling, alur yang disusun tidak beraturan, dua kata "aku oleng" :v
Selain itu udah kerennnn :v

Writer 2rfp
2rfp at Kembara (6 years 50 weeks ago)
60

ada yang bilang menghanyutkan. saya setuju, hanyut hingga saya tidak bisa merasakan yang lainnya. satu kekurangan bagi saya adalah alurnya. saya merasa lompatan-lompatan di ceritanya yang cepat justru mengurangi kedalaman ceritanya, apalagi karakter utama yang saya tangkap bukan hanya si kembara. lalu untuk sub judul yang DAHA! DAHA mgkn lebih mudah jika di awal diberi sedikit gambaran bahwa "kamu" adalah pria yang mencintai kenanga.

setuju juga dengan komentar untuk detail waktu dan karakternya.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kembara (6 years 50 weeks ago)

Hanyut? *lempar pelampung*
hihihi ^^ *melipir*

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kembara (6 years 50 weeks ago)
100

Suka banget, bang. Nyeret banget narasinya. Plotnya juga mantap. Saya ga ada kritikan, bang. Nulis ini aja sampe terkagum-kagum gitu. Duh, bangcensky top deh :) Eh tapi, alangkah lebih mantapnya kalo detailnya ditambah bang, soal latar tempat n waktunya, supaya pembaca bisa lebih kebayang soal settingnya. Hmm, akan ada banyak yg ngerasa kalo ini ngelompat2, atau incomplete, atau sejenisnya. Bagi saya, ini seperti potongan puzzle yg harus disatu-padukan di kepala pembaca supaya jadi cerita yang bulat dan utuh. Selebihnya, aduh, keren :)

Writer samalona
samalona at Kembara (6 years 50 weeks ago)
100

Saya terhanyut membacanya.
Salam, bung Arsenal

Writer hidden pen
hidden pen at Kembara (6 years 50 weeks ago)
100

pery ud tory, u i est. Umm . Ehm ehm so uits yeah cie cie uhk uhk 7, 15, 15, 4 api ulisn aya pa in ?