Prolog : Family First

Aku tak akan malu saat mengatakan bahwa Ayah kami adalah orang yang aneh. Orang yang sudah mengenal keluarga Ichijou sejak lama tak akan kaget saat undangan pernikahan atas nama ayah kami dengan nama perempuan asing datang di pos mereka. Ayah adalah orang yang mendapatkan keberuntungan dibalik kesialan yang ia dapatkan.

Hm...mungkin aku haru menceritakannya dari awal ya.

Koyomi Ichijou adalah seorang pebisnis sukses di kota kami. Ia mengelola sebuah perkebunan yang amat luas dan mengirimnya ke banyak supermarket di Tokyo. konon, perkebunan ini sebenarnya sudah dimiliki keluarga Ichijou sejak zaman edo namun sejak zaman itu pula tanah perkebunan ini tidak menghasilkan terlalu banyak hasil panen.

Saat Ayahku lahir, kpala keluarga saat itu, kakek buyutku, mengatakan bahwa ia akan mengubah kehidupan keluarga ini. Ayah tumbuh besar dengan mempercayai kata-kata itu dan berusaha menjadikannya nyata. Namun apa sih yang bisa dilakukan anak kecil?

Keberuntungan datang saat ia bertemu dengan ibu kami di SMA. Ibu kami bernama Hikari Toujo, lahir dan besar di Tokyo, namun pindah ke kota kecil ini saat masuk SMA. Ibu kami bertekad kembali ke Tokyo dan untuk itu, ia berusaha membuat Ayah ikut dengannya. Sebagai keluarga kuno, tentu saja keluarga Ichijou menolak, namun mereka tutup telinga dan saat lulus SMA, keduanya kabur ke Tokyo.

Ayah dan Ibu hidup bersama, bekerja untuk membiayai hidup mereka tanpa bantuan keluarga mereka dan akhirnya mendapat beasiswa untuk masuk ke Toudai. Menjelang kelulusan mereka, lahirlah aku. Ibu memutuskan untuk putus kuliah dan mempercayakan mimpinya pada ayah dan ayah membuktikanbahwa kepercayaan ibu tidak akan sia-sia.

Lahir bersamaan dengan upacara wisuda ayah, Hikaru Ichijou lahir ke dunia.

Aku masih ingat benar setiap kali Ayah menceritakan bagian ini, ia tersenyum sambil merintikkan air mata. Jurusan yang ia ambil adalah pertanian. Jadi begitu ayah kembali, ia mendobrak pitu rumah keluarga Kujou, dengan aku yang masih bayi di gendongannya, dan berteriak dengan lantang.

"Aku akan mengubah perkebunan ini, berikan aku sebidang tanah dan aku akan membuat kelurga ini kaya."

Beberapa orang tak percaya, malah mereka sepertinya membenci ayah. Ayah tak perduli, ia membeli rumah yang terpisah dari keluarga utama dan kemudian bekerja sendirian mengurus sebidang tanah yang ia terima. Kerja keras itu akhirnya terbayar saat panen keempat yang hasilnya jauh lebih banyak daripada perkebunan keluaga Ichijou yang lain.

Dengan suka cita, Ayah diterima kembali di keluarga Ichijou namun seakan karma membalas ayah, Ibu kami meninggal saat adikku lahir. Nama adikku Akatsuki, gadis berambut hitam itu kelak tumbuh menjadi gadis yang keras  kepala dan selalu bekerja keras seperti ayah dan ibunya.

Meninggalnya ibu tidak berpengaruh pada ayah. Ia sedih, ia marah, namun ia merawat kami sendirian bersama dengan perkebunan yang kini sudah penuh ada di tangannya. Sering kali ia mengajak kami ke perkebunan itu dan mengajarkan kami cara merawat tanaman yang ada di sana.

Aku tak menyukai perkebunan, jadi saat aku cukup tua, aku ke Tokyo untuk mencari jalanku sendiri sementara Akatsuki menemani ayah di kota kecil itu.

Mengingat kembali, mungkin dari sinilah kehidupan mempermainkan hidup ayah.

Akatsuki tidak pernah menyetujui kepindahanku ke Tokyo, namun tentu saja aku tetap melakukannya. Aku kembali ke kota kecil itu hampir setiap tahun dan Akatsuki masih memaksaku kembali ke sana. Saat aku lulus dari kuliah (Aku tidak sepintar ayah, jadi aku gagal masuk Toudai. Jadi aku memtuskan mencari universitas lain) aku mendapat undangan pernikahan.

Atas nama Ayah, Koyomi Ichijou dan seorang wanita asing bernama Natasha Mikagami.

Dari Akatsuki, aku tahu bahwa wanita ini adalah orang Rusia-jepang yang datang ke kota kecil itu untuk melakukan penyuluhan. dari Akatsuki pula aku tahu bahwa Ayah dan wanita itu saling jatuh cinta. Wanita itu juga memiliki seorang anak perempuan yang seumuran Akatsuki dan dengan kata lain.

Kami punya adik baru.

Pernikahan itu berjalan pendek saat seorang debt collector datang ke kota kecil kami untuk menagih hutang Natasha. Kesialan kembali datang saat Hibiki diculik olehnya. Saat itu aku memutuskan untuk kembali pulang dan membantu.

Kenyataannya bantuanku tidak dibutuhkan, saat aku sampai koran sedang mengabarkan berita yang berkaitan dengan keluarga Ichijou.

"Seorang wanita, Natasha Ichijou (25), ditemukan meninggal di pelabuhan bersama dengan laki-laki asing yang diduga penculik anak perempuannya. Hibiki (10) yang saat itu menjadi saksi kunci menolak untuk mengatakan bagaimana keduanya bisa meninggal"

Shock, marah, sedih, aku merasa bahwa kedatanganku tidak diperlukan. Namun Ayah tiba-tiba memelukku dan mengatakan bahwa ia senang aku datang.

"kenapa ayah tidak terlihat sedih?" tanyaku.

"Kalau aku terlihat sedih, bagaimana perasaan Hibiki dan Akatsuki nanti?" tanya Ayah.

Ayah adalah orang yang kuat. lebih dari itu, ia selalu mengutamakan kebahagiaan anak-anaknya. Merasa bahwa keadaan di kota kecil itu berbahaya bagi kondisi Hibiki, ia kemudian membeli rumah di Tokyo dan mengirim kami ke sana.

"Kau sudah dewasa, Hikaru. Biar aku mengurus kondisi di sini, kau jaga adik-adikmu ya,"

Itulah terakhir kali kami bertatap muka langsung dengan Ayah.

jadi Saat pagi ini aku menerima surat berisikan undangan menikah ayah dengan perempuan baru, aku menghela nafas dan berdoa kepada dewa agar kali ini ayah bisa hidup bahagia dengan istri barunya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vonililia
vonililia at Prolog : Family First (6 years 2 weeks ago)
50

Good...
slm knl, mampir ya

Writer adlinaraput
adlinaraput at Prolog : Family First (6 years 2 weeks ago)
70

Untuk ukuran 800an kata, emang terasa terlalu panjang sih ketika membacanya, haha saya juga sering mengalami hal sejenis. semangat yaah

Writer alinaza
alinaza at Prolog : Family First (6 years 2 weeks ago)
70

Hai, salam kenal ^^ sama nih aku jg masih dlm tahap prolog. Ini prolog untuk novel kan ya?
Well aku gamau komentar macem2 sih sjujurnya aku jg masih bngung kaitannya tentang show dan telling dalam pembawaan narasi. Sama sama belajar aja sih yah, hahaha soalnya aku jg gabisa menjelaskan, krn scra deskripsi ini udh menjelaskan apa yang mau diperlihatkan. Haduh aku jg bingung hahaha mampir2 yah ^^

Writer Yua
Yua at Prolog : Family First (6 years 2 weeks ago)

Terima kasih Alinaza dengan komentarnya. saya harap kamu sukses dengan ceritamu

Writer A.Arifin
A.Arifin at Prolog : Family First (6 years 3 weeks ago)
60

cerpennya kejepang-jepangan banget yak hehe, sekilas saya baca kok agak mirip dengan anime bakemonogatari series yak atau memang terinspirasi dari anime itu entahlah... haha

ok sekarang kita kupas.. cerpennya sendiri nggak jelek-jelek amat hanya saja terlalu biasa, nggak ada yang spesial dan cenderung membosankan.. mungkin karena kamu kebanyakan telling, jadi jatuhnya kayak baca buku pelajaran gitu.. sebenarnya sih masih banyak yang ingin saya kupas tapi sementara segitu aja deh.. sory yak kalau tidak berkenan.. piss

Writer Yua
Yua at Prolog : Family First (6 years 2 weeks ago)

Mungkin iya, mungkin tidak. Saya emang spesialisasi di Cerita Jepang sh.

Saya sadar ini bukan kemampuan penuh saya sih. Maaf sudah mengecewakan. Dan hm...saya kadang mikir Tell itu perlu, tapi setuju juga kalau dibilang ini berlebihan dan kayak buku pelajaran.

saya berkenan kok, dan makasih komentarna