Malam Minggu

Lampu sorot mobil menyapukan warna oranye di malam biru tua.

            “Menepi...” pintanya. Suaranya agak sengau. Aku sedikit kaget karena terakhir kali aku melihatnya dia masih tidur dengan leher terkulai. Sekarang wajahnya menghadap kaca. Objek-objek di luar sana berlalu dengan cepat tapi dia termangu pada satu titik. Padang rumput membentang luas di sisi jalan beraspal. “Menepilah sebentar.” Tiba-tiba aku tersadar masih menginjak pedal gas. Dia mengagetkanku sekali lagi.

                 Dia sudah membuka pintu mobil sebelum aku mematikan mesin, aku bahkan tidak mendengar suaranya saat menarik kenop pintu. Udara dingin masuk dari sela-sela rambutnya dan menerpa wajahku dengan lembut. Terpaan itu rasanya seperti sebuah sambutan yang hangat setelah selama 3 jam lebih menyetir melewati dunia peradaban modern. Aku salah menduga karena ternyata dia tidak sedang terburu-buru. Kupikir dia ingin pergi buang air kecil tapi sekarang aku merasa kalau pikiran itu konyol. Dia duduk menghadap keluar, kedua kakinya menapak tanah sementara kepalanya disandarkan ke bantalan jok kursi. Aku tidak tahu apakah dia sedang memejamkan matanya lagi karena dia memunggungiku dengan tanpa dosa. Menunjukkan punggungnya yang tertutup jaket rajutan warna cokelat tua, tampak kusut dan bergelombang, sama seperti bentuk lintasan rambutnya yang beberapa jam sebelumnya masih tersisir rapi.  Aku tidak pernah punya kesempatan untuk memandangi punggungnya seperti ini dan sekarang aku seolah-olah menyingkap keanggunannya. Posenya itu benar-benar telah membuat gagasan tentang buang air kecil terlintas sebagai gagasan paling buruk di dunia.

            Tiba-tiba dia bangkit dan berdiri di luar. Ketika dia menarik napas panjang rasanya udara yang sama juga masuk menuju lubang hidungku. “Kau dengar itu?” tanyanya sambil masih membelakangiku. Suaranya agak terendam. Dia meregangkan kedua tangannya. Aku tidak tahu apa yang dia dengar. Lalu dengan cepat dia berbalik, membungkuk di sela-sela pintu dan mencondongkan wajahnya ke arahku, “Kau dengar?”

            Wajah berseri itu menularkan senyum kepadaku, senyum asimetris yang nyaris seperti tidak menggerakkan bibir. Dia tidak tahu kalau aku seperti baru menyaksikan perubahan musim yang cepat.  “Suara jangkrik?”

            Dia mengangguk dan melebarkan senyum. “Keluarlah.”

            Aku tidak terburu-buru. Aku mencoba menikmati suasana di luar, menyapa alam sekitar perlahan-lahan ditemani hembusan lembut di mulut dan tengkuk yang menggigil. Entah kenapa timbul rasa aman sehingga aku merasa tidak perlu menutup pintu atau mencabut kunci dari lubang starter; aku menghampiri dan berdiri di sampingnya tanpa membuat banyak suara. Ekspresi di wajahnya belum berubah.

            “Apa yang kautahu tentang jangkrik?” tanyanya.

Dia memang khas, aku tidak pernah siap dengan pertanyaan spontannya. Tapi saat memikirkannya lagi aku justru heran kenapa suara jangkrik jadi begitu spesial di telinganya. Aku juga tidak yakin kalau dia memang menantikan jawabanku. Sorot matanya melesat jauh, menggapai-gapai horison yang gelap di depan kami; dari bayangan daun-daun ilalang lalu berpaling ke area menghitam dari kumpulan pohon di belakangnya, lalu ke hamparan danau di ujung yang lain yang riaknya memantulkan sinar bulan seperti kelap-kelip cahaya redup, dan kembali lagi menikmati suara jangkrik.

“Pasti ada ratusan jangkrik di sana,” ujarku, mencoba diplomatif, dan membuatnya kecewa. Gumaman kecilnya itu sepertinya merupakan ekspresi kekecewaan.

“Entahlah,” dia masih belum menoleh, “aku tidak suka melihat jangkrik,” dia menggeleng dengan angkuh, “aku tidak mau membayangkannya,” dia menyatakannya dengan rasa jijik yang anggun.

 Aku menyalakan rokok. Suara ‘klik’ korek api gas menyentil syahdu di telinga, berpadu sempurna dengan suara malam dan kesunyian di dalamnya. Angin menyeret asap tembakau ke wajahnya dan kemudian pada saat itulah dia baru menoleh, menembus rongga-rongga terdalam di balik tubuhku lewat sorot matanya; tajam dan menusuk, seolah-olah dia mampu melihat setiap parasit yang bersemayam di dalam badanku dan mengatakan, “Enyah!”; satu perintah untuk seluruh eksistensiku. Aku bisa mendengarnya mengatakan itu. Tapi aku hanya bisa mematung, membiarkan kepulan asap terus menerpa wajahnya.

Dia melompati undakan dan menuju rerumputan di depan kami. Mendarat dengan kedua lengan terentang, menjaga keseimbangan agar tubuhnya tidak oleng, atau mungkin sedang memerankan pesawat terbang. Aku ingat jaket rajutannya itu, dulu dia pernah bilang kalau itu cocok untuk segala cuaca, menghangatkan di saat dingin, menyejukkan di saat panas, jaket ajaib. Hadiah pemberian ayahnya di suatu ulang tahun. Karena itu pula aku membencinya. Aku yang menyuruhnya membawa jaket karena perjalanan dini hari pasti akan sangat dingin; bawa jaket atau menggigil di dalam mobil karena tidak ada mesin pemanas di sana. Dia punya banyak jaket atau baju hangat lalu kenapa malah jaket rajutan itu yang dia bawa? Padahal sudah cukup lama dia tidak mengenakannya lagi. Bagian mana dari saranku yang mengarahkan dia untuk mengambil jaket tersebut dari dalam lacinya? Tapi melihatnya berdiri di alam terbuka dengan kedua tangan membentang, memeluk udara di sekitarnya bukan memeluk badannya sendiri, rasanya justru jaket itulah yang sangat berperan dalam membentuk suasana hatinya sekarang. Jaket ajaib itu melindunginya agar tetap hangat walaupun tetap saja aku tidak suka.

Aku bersandar di sisi kap mobil, menahan diri untuk menghampirinya dan lebih memilih menonton apa yang dia lakukan.  Samar-samar rasa nyeri muncul di bagian dada. Berkedip-kedip dari kejauhan, radarku menangkapnya, aku bisa merasakannya seberapa jauhpun jaraknya karena rasa ini sudah terlalu familiar buatku; aku sudah pernah dibungkus hidup-hidup olehnya. Tidak perlu panik sekarang, cukup mengatur napas saja, menguatkan diri dengan menunjukkan sikap baik-baik saja, aku tahu rasa itu akan memudar dengan sendirinya. “Hooo!”  seruku untuk mengalihkan perhatian dari rasa nyeri itu, atau mungkin, sebenarnya, adalah sebuah upaya reaksioner untuk menyingkirkan kepanikanku sendiri.

Dia terkejut lalu menoleh ke belakang. “Kau seharusnya tidak berteriak di tempat seperti ini. Kau seharusnya bersiul. Atau bersenandung.”

“Coba kau senandungkan lagu sekarang,” perintahku.

“Aku tidak yakin kau bisa menebak judul lagunya.”

“Aku lebih suka menepi di dekat danau di ujung situ, bukan di sini. Airnya pasti segar.”

“Aku harap juga begitu,” tapi dia kembali mengalihkan pandangannya seperti semula dan berkontemplasi lagi dalam posisi berdirinya. Dia mulai berjalan-jalan di area sekitar. Tidak berani terlalu jauh, hanya menjelajahi titik-titik yang masih berada di dalam jangkauan dan pengawasanku. Penjelajahan kecilnya itu mencetak kesenangan di wajahnya, bukan kesenangan ala anak kecil karena kepolosan seperti itu sudah dipecahkan tapi lebih mirip penebusan yang melemaskan beberapa beban di dalam pikirannya, sebuah ilusi yang pantas dinikmati selagi ada.

Langkah kakinya ringan, suara rerumputan yang diinjaknya lembut, gerak-gerik tubuhnya kikuk. Aku suka melihatnya memakai celana jeans hitam. Dia begitu bebas, riang di tengah-tengah sana. Bagiku dia seperti sedang menari. Dia tampak berkonsentrasi saat kepalanya merunduk, meniti permukaan bumi yang dipijak, bergantian mengayun kaki dengan hati-hati agar tidak kehilangan ritme dan tempo. Sorak-sorai jangkrik adalah melodinya, ditambah desiran rumput dan daun yang membentuk ketukan imajiner di dalam kepalanya. Kalau dia mau, dia bisa sangat handal menguasai seni gerak tubuh.

“Kau ingin terus membuang-buang waktu kita di sini?” tanyaku, sekedar untuk merusak pertunjukan solonya.  Hebatnya, dia tidak terganggu sama sekali. Dia punya segala hak di dunia ini untuk tidak menggubrisku.

Aku menghisap rokokku pelan-pelan, mencoba menyamai kelembutan yang sedang dia pertontonkan. Sesuatu mengalir ke tenggorokanku, menyebarkan hangat ke pembuluh darah sekalian menggigit pinggiran jantungku yang berkerak. Aku dan dia ― kita sama-sama mendapatkan kehangatan dengan cara yang menyakitkan. Aku dan dia sama-sama menerimanya dengan kepasrahan yang destruktif.

“Apa kau bisa merasakannya?” tanyanya tiba-tiba. Kedua matanya terpejam, kedua telapak tangannya meraba-raba ruang kosong.

“Apa itu?”

“Kita begitu kerdil,” suaranya berubah, nadanya menasihati; itu sangat jarang terjadi. Dia membuka matanya lalu tersenyum lebar. Bibirnya bergetar, mencoba mengatakan sesuatu. Kedua bola matanya bergerak-gerak, mencoba mencari kalimat untuk diucapkan. Kedua pergelangan tangannya berputar tak beraturan, mencoba membantu proses persalinan verbalnya. Tapi semua upayanya itu hanya berujung kepada sinar di wajahnya yang mengembang, raut kebahagiaan yang memancar tegas dan penuh, terang namun tidak terlalu menyilaukan persis seperti bulan di atas kami. Itu jauh melampaui kata-kata dan aku bisa memahaminya lebih baik dari apapun.

“Kau boleh menyanyikan lagu kalau mau. Tidak ada yang akan mendengar,” ejekku.

“Aku tidak bisa bernyanyi. Kau tahu itu.” Dia mengusap rambutnya yang terurai, melangkahkan kakinya lagi ke arah yang berlawanan dengan sebelumnya dan mulai bersenandung pelan. Selalu, lagu yang tidak pernah kudengar. Aku yakin kalau lagu-lagu yang pernah disenandungkannya bukan milik orang lain tapi memang lagu baru yang dia karang sendiri sesuai suasana hatinya. Oleh karena itu dia tidak pernah mengulang lagu yang sama. Kali ini dia banyak menggunakan nada-nada tinggi dan panjang. Ada beberapa ayunan dan perubahan tempo. Ada jeda sebentar untuk mengambil napas pendek. Setelah beberapa saat akupun mulai terbiasa dan menikmati karya gubahannya itu.

Kita hanya berjarak beberapa meter saja tapi sesuatu seperti menahan kedua kakiku untuk mendekatinya. Aku juga diliputi kebingungan saat membayangkan apa yang bisa kulakukan kalau berdiri di sampingnya sekarang meskipun ini adalah momen terbaik untuk menari di bawah rembulan. Ide itu malah membuatku tertawa, secara refleks aku menyemburkan gelak yang tak tertahankan. Memang tidak sampai mengocok perutku, hanya ledakan sesaat, dan itu cukup untuk membuat dia merasa tersinggung.

Dia pikir aku menertawakan lagu senandungnya. Diapun langsung meninggikan suara senandungnya sebagai bentuk perlawanan. Mempercepat temponya karena kesal; mengetukkan kakiknya, menggoyangkan badan dan tangannya, membentuk suatu gerakan ritmis yang tidak luwes, aneh, dan kuat. Dia seperti anak kecil yang oleh beberapa kawannya diolok-olok tidak bisa bermain basket lalu dengan kesal dan nekat mencoba lemparan three-point di depan mereka. Itu karakter yang mempesona: kegigihan untuk lepas dari inferioritasnya sendiri, atau dalam bentuk lain merupakan caranya mengacungkan jari tengah kepada orang-orang. Menurutku dia punya daya bertahan hidup yang besar.

Aku jadi semakin diyakinkan lagi untuk tidak mendekat kepadanya. Lagipula sesuatu menarik perhatianku di antara pepohonan rimbun di depan sana. Ada sosok bayangan yang bergerak, jelas sekali bukan manusia, jalan mendekat ke arah dia. Jalannya tidak mulus, sesekali berhenti, melanjutkan beberapa langkah lalu berhenti lagi seperti yang ragu-ragu, penuh kewaspadaan. Semakin dekat, sosok itu memperlihatkan wujud aslinya dengan lebih jelas, seekor rusa betina.

Dia menghentikan gerakannya karena ikut menyadari kehadiran binatang itu. Kita sama-sama tidak bergerak, bingung harus melakukan apa, aku bisa merasakan kalau dia juga kaget dan ingin bertanya kepadaku apa yang harus dia lakukan tapi mulutnya terkunci. Rusa itu berdiri tidak jauh dari posisinya. Langkahnya terhenti seiring dengan mematungnya kita berdua. Lehernya meliuk dengan semacam kewibawaan sementara matanya yang hitam menampilkan kemuliaan. Sedangkan gesturnya yang kokoh di atas empat kaki menunjukkan keagungan aristokrat dari kerajaan binatang. Kita terbius oleh kedatangannya, kita harus menyambutnya dengan pantas dan terbersit olehku sebuah ide.

“Nyanyikan lagi,” bisikku, “dia ke sini gara-gara mendengar suaramu. Nyanyikan lagi dan jangan buat gerakan mendadak.” Dia menganggukkan kepala satu kali, perlahan dan patuh.

“Apa yang kautahu tentang... rusa?” suaranya gemetaran.

Aku berusaha memikirkan jawabannya tapi dia sudah mulai bersenandung lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih hati-hati, lebih kaku, tidak selepas yang sebelumnya, tapi ternyata itu hanya ancang-ancang saja karena ketika rusa itu mengangkat satu kaki depannya diapun langsung semangat menaikkan suaranya.

Apa yang harus aku khawatirkan? Binatang liar sedang bergerak mendekatinya sementara aku terpisah beberapa meter darinya. Hal terbaik yang bisa kulakukan dari jarak seperti ini adalah menyuruhnya lari kalau binatang itu menyerang. Itu bukan rusa jantan, tidak bertanduk; posturnya tidak begitu besar, rusa muda, seekor gadis remaja; lagipula rusa adalah binatang pemalu, tidak agresif dan mereka segan terhadap manusia. Logikaku menenangkan tapi perasaanku malah membantahnya, jantungku berdetak cepat dan rasanya aku mulai berkeringat. Aku tidak bisa memastikan apakah ini memang bentuk kekhawatiranku padanya atau penyakitku yang sedang kambuh lagi? Mana yang datang lebih dulu? Mana yang pengaruhnya lebih besar? Mana yang menyebabkan kemunculan yang lainnya? Aku menaruh telapak tangan di atas dada kananku, merenggut kain baju yang membungkusnya lalu menyeringai menahan rasa aneh yang mendera. Langkah rusa itu bagai detik-detik yang mencekam, terdengar kuat di dalam kepalaku seperti bom waktu, tidak akan ada yang bisa menghalaunya sekarang, dia bersenandung dan mengundang bahaya itu seorang diri sementara aku dirudung rasa takut yang tak berbalas untuknya, selalu tak berbalas, bahkan rasa takut. Aku merasakan tubuhku mulai merosot di atas kap mobil. Dadaku terkoyak sebentar lagi. Rusa kelabu itu menyodorkan kepalanya ke depan dan dia menempelkan telapak tangan kanannya di sana.

Ketika dia mulai membelai kepala rusa, aku mulai membaik. Ketika aku mendengar suara tawa gelinya, aku berangsur-angsur membaik. Napasku penuh lagi, lubang-lubang di jantungku menutup, dia menaklukkan binatang liar dengan satu tangan. “Dia tidak sebesar itu,” katanya tiba-tiba.

Komentarnya memancingku untuk tertawa. Daya ledaknya mendorong penyakitku keluar dengan seketika. Dia terlalu polos untuk mengetahui apa yang lucu dan menurutku lebih baik biarkan saja demikian. “Kau suka?” tanyaku tapi dia tidak menjawab. Dia terus membelai kepala rusa itu lalu tak beberapa lama kemudian, setelah dirasa cukup akrab, diapun mendekapnya di dada, menebalkan ironi yang kurasakan.

Entahlah, di sepanjang hari, pemandangan ini adalah hal terbaik yang terjadi padaku. Atau mungkin, sepanjang tahun. Keduanya sedang berbagi momen, dua mahluk yang tersesat dalam pangkuan Ibu Bumi. Pertunjukan itu tampak seperti  sebuah reuni. Lalu kedua mataku basah dan aku jadi panik.

Aku tak sengaja berteriak untuk menyingkirkan rasa haruku dan rusa itu langsung kaget. Teriakanku membuat kepalanya mendongak dan menghempaskan tubuh yang sedang memeluknya. Binatang itu mundur. Tersentak seperti baru menyadari sesuatu. Rusa itu kemudian memutar badannya dan berlari ke arah hutan tanpa salam perpisahan yang layak. “Jangan pergi dulu!” dia tahu itu sia-sia dan tidak ada yang bisa dia lakukan buat mencegahnya. Rusa itu menghilang di balik bayang-bayang hitam, mengejar kupu-kupu khayalan  yang membimbingnya pulang.

 “Sayang sekali,” ujarku setelah menyeka wajah beberapa kali. Dia tidak mengejar rusa itu, tapi tetap berdiri sambil menggerak-gerakkan leher menelusuri jejak rusa di balik hutan gelap. Setelah yakin rusa itu tidak akan kembali lagi, diapun berbalik dan berjalan ke arahku. Aku tidak menduga kalau wajahnya tampak berseri; dia tidak menyesali tingkahku rupanya. Aku membantunya naik ke atas undakan, aroma tubuhnya menyingkirkan udara di sekitar.

“Sepertinya aku ingin pulang saja,” katanya.

Aku mengerutkan kening. Aku sudah menyetir sejauh ini.

“Lebih baik kita balik lagi.”

“Sekarang juga?” aku masih mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena...” dia berpikir. Aku mengamati bola matanya yang bening, basah juga oleh air mata. “Karena aku punya rumah.”

Seharusnya aku kesal tapi aku tidak sanggup memuntahkannya, terlena oleh keluguan dan kesungguhan yang menyatu di wajahnya. Ragaku seakan runtuh. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurut. “Setidaknya istirahat dulu malam ini. Aku capek.”

Dia setuju. Kita berdua masuk ke dalam mobil, duduk di jok depan lalu menyetelnya ke posisi tidur. Kita mengambil selimut masing-masing dari jok belakang lalu membungkus tubuh dari telapak kaki sampai ke leher. Kita berbaring beberapa lama tanpa menutup mata, saling diam, dan hanya mendengarkan jangkrik. Suasananya syahdu dan cukup kuat untuk dikenang.

“Apa kita sendirian di sini?” tanyanya tiba-tiba.

Kata-kata bijak langsung terbersit di pikiranku. Aku ingin mengucapkannya tapi aku harus tertawa terlebih dahulu. Aku tidak mau terdengar kaku maka aku menertawakan pertanyaannya, pura-pura menganggapnya konyol. “Tidak ada yang sendirian,” kataku setelah tertawa, “tidak ada yang kesepian selama kita masih punya kenangan.”      

Dia tidak menjawab tapi sepertinya aku menangkap gumaman halus dari bibirnya. Tak lama setelah itu dia memejamkan kedua matanya. Aku memang mengantuk tapi aku berusaha agar tidak tertidur.

Aku tidak mau semuanya hilang begitu saja ketika pagi datang.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Malam Minggu (2 years 22 weeks ago)
70

tidak ada yang kesepian selama masih ada kenangan...
ga tahu kenapa ya,
saya menuju bayangan cerita tentang rasa syukur lagi tentang kenangan.
amnesia atau semacam itu bila dibawa ke cerita sambungannya pasti bagus..
atau tokoh yang lebih dari amnesia..
banyak orang di dunia nyata mengalami kehilangan memori dan tak mengenali orang-orang terdekatnya, orang-orang terkasihnya, alzheimer.
#saya bersyukur tidak mengalami amnesia parah ataupun alzheimer.
saya bersyukur saya masih punya kenangan....

Writer rian
rian at Malam Minggu (6 years 14 weeks ago)
70

Ini salah copy-paste, ya? Ada yang keulang, jadi di kekom word counter-nya tertulis 5000+ kata, padahal aslinya cuma dua ribu.

Saya masih kurang bisa menangkap sebenernya apa yang dihadapi sama dua tokoh utama kita. Mungkin masalah penghayatan saya yang kurang, atau kepekaan saya.

Sampai di akhir cerita saya ngerasa datar aja. Seandainya saya tau kenapa si cewek bilang "karena aku punya rumah", atau minimal tau siapa namanya, mungkin efeknya bakalan beda.

Penceritaan udah ngalir, gayanya sedikit kayak novel terjemahan. Ini ngingetin sekali sama beberapa cerpennya Vinegar, terutama Flame, tapi dia pakai banyak metafora, diksinya lebih 'indonesia', secara pribadi saya lebih suka cerpennya dia. Mungkin juga karena saya sulit membayangkan latar di cerita ini, yang bener-bener asing buat saya.