Ter... Tu... Kar?! - Part 3

Sejenak dari kesunyian yang sempat menghampiri kami berdua dia langsung menatapku dengan wajahku.

Dengan wajah yang cukup dekat, entah kenapa situasi seperti ini justru membuatku gugup dan menelan ludah. Sangat aneh sekali karena bukan melihat cermin, tapi aku melihat wajahku. Walau sebenarnya tidak mendekat, entah kenapa wajahku itu serasa mendekat sedikit demi-sedikit, dan membuat jantung ini berdegup cukup kencang. Segera kukembalikan kesadaranku dan menanyakannya lagi.

 “Emmm… G… gimana?”

“Hemm… gua ngerti sih, tapi…”

“Tapi kenapa? Sementara ini ini satu-satunya kemungkinan untuk mengembangkan masalah ini,” protesku.

Tasyapun berbalik dan berkata, “Apa lo mikirin perasaan mereka? Pastinya hal-hal seperti ini bakal bikin mereka sangat panik. Dan sejujurnya, gua… ga mau mereka begitu, karena mereka itu adalah orang-orang yang berharga buat kita-kitakan? Belum lagi apa lo yakin kalo mereka percaya kalau jiwa kita ketuker?”

Memang benar setelah kupikirkan apa yang barusan dikatakan Tasya. Namun dalam hatiku aku masih ingin meyakinkan bahwa ini hanyalah jalan yang ada sekarang.

“Tapi… Sya…”

Seketika itu juga Tasya langsung kembali berbalik kearahku dan mengacungkan telunjuk tangan kanannya ke mulutku.

“Ssst… gue paham kok, tapi kita tetep mesti cari jalan yang terbaik buat bisa keluar dari masalah ini, oke!” Katanya dengan kembali mendekatkan wajah, benar-benar mendekatkannya tidak seperti sebelumnya yang hanya bayanganku saja. Dan dengan wajahku yang terlalu dekat itu justru membuatku gugup dan menelan ludah, dan mengembalikan degupan jantung kembali naik setelah sempat turun saat protes sebelumnya.

“I… iya,” entah kenapa aku benar benar takluk saat itu. Tak ada kata protes lagi yang bisa aku layangkan lagi. Aku bingung sendiri dalam hati kenapa aku jadi seperti ini dalam menghadapi Tasya.

“TEET TEEEEEEEEET,” terdengar suara bel sekolah tanda berakhirnya jam istirahat. Membuatku tersentak dari kebingunganku.

“Dah yuk cabut balik ke kelas To,” ajaknya.

“Ah… yuk dah.”

Kami berduapun berpisah menuju kelas masing-masing.

Ketika aku masuk ke kelas 3 IPS 1, aku sedikit merasa aneh. Aku merasa dengan keadaan yang agak babak belur ini sepertinya teman-teman yang lain tidak begitu peduli dengan keadaan ini. Mereka seakan seperti sudah biasa dengan keadaan jika Tasya babak belur. Tak ada satupun yang bertanya, tak ada satupun yang mengkhawatirkannya. Mereka yang melihat hanya melihat sekilas dan kembali ke kesibukannya sendiri-sendiri. Dengan keadaan ini aku merasa simpati dengan keadaannya sehari-hari sebelumnya ketika kami belum bertukar tubuh.

Yah mereka semua tak ada satupun yang peduli, kecuali satu orang.

“Yaampuuun, lu kok sampe segitunya Sya? Abis berantem?” Tanya Bella yang barusaja memasuki kelas. Dia dengan berlari-lari kecil menghampiriku.

“Ah… bukan apa-apa kok Bell, ga usah dipikirin, cuman masalah kecil kok, hahaha,” aku  menjawabnya sambil menggaruk belakang kepala, dengan menahan wajah bahagia ketika Bella menanyai keadaanku.

***

“TEEEEEEEEET TEEEEEEEET TEEEEEEEET”

Akhirnya jam pembelajaran hari itu telah usai. Aku berencana untuk segera kembali. Namun, terdengar suara pengumuman yang di umumkan melalui speaker yang tersebar di penjuru sekolah.

 “Diumumkan untuk nama-nama berikut ini diharapkan untuk mengikuti ujian praktik renang susulan pada minggu 22 februari mendatang. Rahmania Aryani, Liliana Indriawati, Anastasya Amelia Putri…,” kelanjutan pengumuman itu tidak begitu aku pedulikan. Karena dengan tubuh ini membuat aku harus melaksanakan ujian praktik renang untuk Tasya. Terang saja dengan keadaan seperti itu aku segera mencari Tasya. Dengan segera aku berlari ke kelas 3 IPA 3.

Ketika aku sampai di bibir pintu kelas, dengan terengah-engah aku bertanya pada sisa-sisa siswa di kelas itu, “Haeh… haeh… haeh… dimana Tasya?” Tentu saja mereka kebingungan dan kemudian justru tertawa terpingkal-pingkal.

“Hwahahaha… Tasya nyari Tasya.”

“Dunia sedang sakit, Hwahahaha…”

“Ahh… bukan, maksud gua Tito kemana!” Aku membetulkan ucapanku sebelumnya.

“Oh… Tito lagi ikutan sama anak-anak lainnya, nangkring di kantin,” kata salah seorang siswa setelah menyelesaikan tawanya. Tanpa memperdulikan mereka lagi, aku segera menuju kantin meninggalkan mereka.

Setiba di kantin langsung saja kucari Tasya di kerumunan siswa-siswa yang duduk. Tak sampai lima menit kutemukan Tasya sedang asik menikmati pecel di salah satu meja kantin sambil bergurau dengan beberapa siswa yang lain, yang aku sendiri tidak tahu. Karena aku ingin segera memberitahunya langsung saja kutarik dia dari kursinya.

“Wooi… lu, lepasin ah… ngapain sih!” Protes Tasya.

“Sini ikut gue dulu,” kataku dengan nada marah.

Setelah sampai di tempat yang cukup aman kulepaskan dia dari tarikanku.

“Dah sekarang ada apa? Mao nanyain yang tadi lagi?” Tanyanya yang langsung membuka percakapan.

“Lu emang nggak denger pengumuman tadi! Lu  masih lom ujian praktik renang!”

“Trus kenapa? Masalah?”

“Masalah buanget woy! Gua ga bisa renang!” Setelah sedikit membentaknya nafasku sedikit terengah-engah.

“Trus mau gimana? Mau balikkan lu juga tau sendiri kalau keadaannya susah, jadi?”

Setelah pertanyaan itu aku yang sebelumnya marah, justru menciut nyaliku. Menjadikanku diam seribu bahasa di depannya. Pertanyaan itu seperti langsung membuatku KO dalam waktu singkat.

“Dah gini aja, tuh tanggal 22-kan masi 2 minggu lagi, hari minggu ni gua latih lu renang, gimana?” Tawarnya. Namun entah kenapa aku masih terdiam melihatnya. Entah kenapa ada sesuatu yang sangat mengganggu dalam hatiku, tapi aku tidak tahu apa itu.

“Kan lumayan jadinya kalo lo balik entar jadi bisa renang juga. Entar kalo pas balik bisa ngajak Bella main ke kolam renang,” kata Tasya dengan nada menggodaku. Namun berkat godaan Tasya tadi pikiran yang mengganggu hatiku barusan langsung berganti imajinasiku bermain di kolam renang bersama Bella.

“Dirimu pinter banget negosiasi, bilang aja males ikut ujian praktiknya, tapi kali ini oke lah, gua setuju!” Dengan semangat 45 yang membara dalam hatiku aku menyetujui ajakannya.

***

Akhirnya hari dimana aku akan latihan renang dengan Tasyapun tiba. Ya, pada saat berangkatnya semangatku adalah untuk main ke kolam renang bersama Bella nanti ketika kami sudah kembali ke tubuh kami masing-masing. Namun karena semangat yang terlalu menggelora, lagi-lagi aku mengulangi kesalahan yang sama seperti saat hari pertama masuk sekolah kemarin. Yaitu masuk ruang ganti renang untuk cowok. Untungnya suasana kolam renang umum itu sedang sepi karena masih terlalu pagi.

Segera saja aku mengganti pakaianku dengan pakaian renang. Rasanya cukup memalukan untuk mengenakan pakaian renang perempuan ini, apalagi setelah keluar ruang ganti ternyata kolam renang umum ini sudah mulai ramai.

"Sial Tasya masih belum datang juga," gerutuku dengan kesal. Aku menunggunya sangat lama. disaat menunggunya terkadang ada yang menggodaku. Ah rasanya menyebalkan sekali saat-saat menunggunya.

Akhirnya setelah menunggu selama setengah jam, Dia datang dengan muka malas-malasan. Jujur sangat menyebalkan sekali melihatnya. Dengan segera aku menghampirinya.

"Hoooi, lu nih, lama banget katanya jam 8pagi!" Kataku dengan kesal.

"Hah? Emangnya kemarin gua bilangnya gitu ya?"Katanya seakan tanpa dosa menanggapi amarahku.

"Ah udah deh, cepetan ganti sana."

Beberapa saat kemudian dia kembali dengan mengenakan kaos hijau dengan celana pendek. Dan segera memulai mengajariku berenang.Pada mulanya, dia memang mengajariku dengan serius, seperti bagaimana agar bisa mengambang, mengayuhkan tangan dan lain sebagainya.

Namun, lama-kelamaan dia mulai bermalas-malasan di pinggiran kolam dan tak memperdulikanku.Hal itu benar-benar membuatku kesal. Ada apa dengan Tasya sebenarnya hari ini? Kenapa dia yang biasanya terlihat begitu energik, sekarang terlihat begitu bermalas-malasan?

Dengan segera aku melangkah menghampirinya. Amarah yang tersimpan karena keterlambatannya tadipun juga ikut keluar.

"Hoi, lu ini kenapa sih! Kan elo sendiri yang ngusulin supaya gua latihan buat ujian praktik lu, napa lu malah males-malesan gini!" Kataku dengan nada marah dan kesal, "Yang serius dong! Jujur gua enek ngeliatnya!"

Setelah dia mengusap dan menggaruk rambutnya, kemudian diahanya menjawab,"Udah deh, bukan urusan lo kok, sana lu balik latian lagi," dengan santainya.

"Tentu aja ada lah! Tu kan tubuh gua!" Kataku dengan lantang. Saking lantangnya membuat pengunjung kolam renang itu terperangah dengan ucapanku. Seketika itu juga aku baru sadar jika ucapanku yang barusan bisa mereka salah artikan. Aku sangat malu sekali, namun juga marah ke Tasya.

"Deh, lu malah ngomong gitu depan umum,"kata Tasya dengan menepuk dahinya.

"Diem lu!"Aku yang masih marah langsung meninggalkannya.

"Tunggu To!"Tasya coba memanggilku. Namun aku tidak menghiraukanya sama sekali.

Aku segera berganti pakaian dan berjalan keluar dari kawasan kolam renang umum itu. Pikiranku saat itu hanya diliputi emosiku belaka. Aku terus berpikir "Kenapa Tasya sebegitu menyebalkan hari ini?"

Aku terus berjalan hingga akan menyebrang jalan di sebuah zebra cross. Karena tidak fokus, aku langsung saja menyebrangi zebra cross itu tanpa memperhatikan lalu-lalang kendaraan yang lewat.

"TIIIIIIIIIN!" Saat aku menoleh, kulihat asal suara klakson itu adalah sebuah truk. Truk itu sudah sangat dekat untuk segera menabrakku. “TIIIIN TIIIIN!” Truk itu kembali mengulangi klaksonnya, namun aku sudah tak tau harus berbuat apa karena panik. Sehingga aku hanya berteriak tanpa melangkah untuk menghindar.

Tiba-tiba disaat segenting itu ada sebuah dorongan yang membuatku terdorong dari posisi yang berbahaya tadi.

“Brakkk!” Suara bagian depan truk itu seperti menghantam sesuatu. Karena dorongan yang sebelumnya aku terima. Aku tersungkur ke aspal hanya meninggalkan beberapa luka lecet, namun terselamatkan dari tertabrak truk.

Kulihat truk itu segera berhenti di tempat setelah menabrak seseorang yang telah menyelamatkanku itu. warga-warga yang ada di sekitar tempat itu segera berkerumun melihat kondisi baik aku maupun seseorang yang mendorongku sehingga aku selamat sekarang.

Dengan tertatih-tatih aku bangkit dan berusaha melihat siapa yang telah menyelamatkanku. Aku berusaha menerobos kerumunan orang yang lebih rapat di depan truk yang nyaris menabrakku tadi. Namun ketika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, betapa terkejutnya aku melihat siapa yang terbaring tak sadarkan diri di aspal dengan luka yang terus menerus mengucurkan darah dari bagian belakang kepalanya.

 

Bersambung...

Read previous post:  
18
points
(1848 words) posted by lost_boy 5 years 19 weeks ago
45
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | fiksi | komedi
Read next post:  
Writer fibifa
fibifa at Ter... Tu... Kar?! - Part 3 (5 years 12 weeks ago)

Bagus.....lanjut chapter 4 ok

Writer AninditaAyu
AninditaAyu at Ter... Tu... Kar?! - Part 3 (5 years 13 weeks ago)
70

Ga tau kenapa, baca awal ceritanya malah keinget dorama yamada and 7 witchs kak, kan ceritanya awalnya juga tertukar jiwa. Nah, dorama itu juga koplak ceritanya kak, hehe

Yang aku liat sih, waktu di penulisan partikel pun. Misalnya di dalam cerita ini, kakak menuliskan Tasyapun. Sebaiknya dituliskan terpisah dengan partikel pun ini kak, jadi bisa dituliskan Tasya pun.
Sedangkan untuk penulisan partikel pun yang digabung dengan kata sebelumnya itu cuma ada beberapa kata yang udah lazim digunakan, misalnya meskipun dan walaupun.

Maaf ya kak, kayanya aku sok menggurui padahal masih pemula >.<

Salam kenal sebelumnya kak... :D

Writer lost_boy
lost_boy at Ter... Tu... Kar?! - Part 3 (5 years 13 weeks ago)

yah gapapa kok
hmm gituya...
thanks2 Kalo ada lainnya lagi masukannya gpp...
yah ide awalnya juga gajauh dari aneka tontonan yang ceritanya tentang ketukar2 tubuh, tapi rencananya endingnya lain

Writer hidden pen
hidden pen at Ter... Tu... Kar?! - Part 3 (5 years 13 weeks ago)
70

nggg ettoo ane kira pas baca awal cerita pengen kiss kiss gitu. #bantinghape. Ehm ane gak tau jelasin apa tentang kalimat efectif (diriku aja gak bisa ) .umm titip point bang lost ^_^

Writer lost_boy
lost_boy at Ter... Tu... Kar?! - Part 3 (5 years 13 weeks ago)

bwakakak kena trololol

hmm justru karna itulah ane masih pusing-pusingnya mungkin