Kanpeki No Oyome-tachi [pt-00]

Act – 01 : 7 April, Sabtu

Dari kecil, aku selalu tinggal bersama ibu, kakek dan nenekku. Saat itu, aku tidak merasa bahwa keluargaku itu ada yang kurang meski tidak ada kehadiran ayah di sana. Bahkan aku merasa keluarga kecil ini jauh lebih lengkap dari teman-teman sekitarku.

Meski begitu, beberapa kali dalam satu tahun, seorang laki-laki seumuran ibu akan muncul di depan rumah kami dan membawaku jalan-jalan. Ia memperkanalkan dirinya sebagai ‘Touyama-san’. Setiap kali ditanya apa hubungan laki-laki ini denganku, ia hanya tertawa lebar dan berkata, “Aku hanyalah seorang laki-laki yang ingin memberikanmu banyak sekali mainan!”

Aku yang saat itu masih SD hanya menerima jawaban itu dengan senyuman. Mengingat ibu hanya tersenyum dan lebih banyak diam saat laki-laki itu mengajakku jalan-jalan, aku tidak memberikan rasa curiga sedikitpun pada laki-laki itu.

Touyama-san adalah orang yang menyenangkan. Saat aku melihat anak-anak lain bermain bersama dengan ayahnya, jauh di lubuk hatiku, aku merasa bahwa Touyama-san memang adalah Ayahku.

“Apakah Touyama-san adalah ayahku?”

Pertanyaan itu keluar dari mulutku saat aku akan masuk ke sekolah menengah pertama. Ibuku menutupku dengan tatapan sedih, namun ia hanya diam. Kakekku yang saat itu berkuasa di rumah menatapku dengan wajah marah, jadi aku dengan cepat mengganti topic dan pertanyaan itu pernah terdengar lagi di keluarga Kamiyama.

Saat ibuku meninggal karena peyakitnya semakin parah di umurku yang 14 tahun, Touyama-san muncul dengan wajah sedih. Melihat orang-orang di sekitarku, aku bias melihat kalau Touyama-san adalah orang yang paling sedih atas meninggalkan ibuku.

Jadi pertanyaan itu muncul lagi, “Apakah Touyama-san adalah ayahku?”

Touyama-san hanya menatapku dalam diam, tatapan yang bias berarti apa saja atau tidak berarti apa-apa. Namun akhirnya Touyama-san hanya menjawab, “Kau akan tahu kelak.”

Dan pertanyaan itu sekali lagi tak pernah muncul lagi di keluarga Kamiyama. Bukan Cuma itu, Touyama-san juga tidak pernah dating lagi ke rumah keluarga Kamiyama.

Hidup tanpa ibu bersama kakek dan nenek adalah hal berat. Kakek adalah orang yang keras, ia mengajarkan kendo padaku dan saat prilakuku dinilai tidak baik di matanya, maka pukulan shinai akan melayang. 

Saat itu untuk pertama kalinya aku merasa bahwa keluarga Kamiyama bukanlah keluargaku.

Baru saja akhir-akhir ini aku tahu bahwa ternyata Touyama-san memang benar adalah ayahku. Sayangnya, aku tidak bias memanggilnya ‘Ayah’ di depannya.

Hari disaat aku mempelajari identitas laki-laki itu adalah hari pemakaman Touyama-san, Ichika Touyama, pemimpin sebuah kerajaan bisnis yang berpengaruh di bidang teknologi Jepang. CEO sekaligus pendiri dari perusahaan besar itu tiba-tiba meninggal dalam sebuah kecelakaan dalam perjalanannya menuju amerika.

Pemakaman itu kemudian membuatku ada di sini, hari ini di sebuah hotel mewah bersama seorang sekertaris dan pengacara kepercayaan Touyama Ichika yang bernama Shikanami Mikan.

Sembari melihat sosok cantik berkacamata itu, aku bias melihat wajahnya menatapku dengan keteguhan hati dan kesetiaan.

“Sekarang, untuk masalah warisan,” Shikanami-san memulai.

“Aku sudah mengatakan saat kita pertama kali bertemu bahwa warisan dari Touyama-san akan cukup untuk membiayai hidupmu bahkan meski kau berusaha menghabiskannya dengan membeli hal-hal tidak berguna. Tentu saja aku akan mengurusi tanggung jawab masalah pajak warisan dan kepegerusan perusahaan Touyama saat ini sudah ada di tangan keluarga Domon, wakil CEO Touyama.”

Aku tak memahami hal-hal sulit seperti ini, karena selain nilai di pelajaran sosialku yang buruk di sekolah, aku juga hanya tertarik pada computer dan teknologi digital. Namun aku tetap mendengarkan.

“Namun keluarga Domon tak bias terus memegang kendali perusahaan Touyama. Pada saatnya, kau sebagai pewaris harus maju menjadi CEO perusahaan Touyama,” lanjut Shikanami.

“Touya…Jadi kau melihat isi surat warisan Touyama-san, kan?” Aku menyela, “Tak bisakah aku melihatnya?”

“Untuk menghormati keinginan yang telah meninggal, Aku sebagai pengacara yang sudah dipercaya, akan menyampaikan dan menjalankan secara penuh isi dari surat warisan Touyama-san,” Dengan kalimat lancer, Shikanami-san menjawab, “Hal ini juga untuk mencegah friksi lebih jauh antara keluarga Kamiyama-san dan keluarga Touyama-san.”

“Bisakah paling tidak kau beritahu aku ada apa dibalik hubungan…”

“Itu bukan peranku untuk menjwab,” jawab Shikanami-san tegas.

“Maafkan aku telah meminta hal yang tidak masuk akal,” aku mengalah dan menghela nafas. Pada akhirnya hal itu masih menjadi misteri besar dalam hidupku.

“Tidak, aku juga mohon maaf atas ketidaksopnan saya. Tidak bias dielakkan seorang anak dibawah umur sepertimu merasa bingung dengan masalah sebesar ini. Paling tidak kau masih bias menjaga ketenanganmu.”

“Aku akan melanjutkan. Seperti yang aku bilang sebelumnya, pada akhirnya kau harus maju menjadi CEO perusahaan Touyama. Untuk itu, kau akan dipindahkan ke kediaman keluarga Touyama yang sudah disiapkan. Selain itu, Ayahmu juga berharap saat kelak kau mewarisi tahta perusahaan Touyama, kau sudah memilih satu dari empat calon istri yang disiapkan oleh ayahmu.”

“Tunggu, apa?”

“Kau akan dipindahkan…”

“Bukan! setelah itu?”

“Kau diharapkan sudah memilih satu dari empat calon istri yang disiapkan oleh ayahmu.”

“Serius?”

“Serius!”

Aku menatap Shikanami-san dengan tatapan tak percaya.

“Hanya empat calon?”

“Kau bias memilih gadis lain, tapi keluarga Domon dan Kamiyama akan tidak senang mendengarnya. Empat calon ini adalah pilihan dari mereka. Tentu saja kau bias mengabaikan mereka, namun hidupmu akan terasa lebih sengsara.”

“Tapi aku tidak mengeal mereka!” aku berusaha berdalih.

“Tentu saja kami sudah memikirkan hal itu,” Shikanami-san melanjutkan, kali ini tersenyum menakutkan, “Kau akan tinggal satu atap bersama empat gadis itu. Jika dalam waktu dua minggu kau belum menentukan siapa pilihanmu. Maka hak akan warisanmu akan dicabut. Selain itu, keempat calon istrimu juga akan ikut mederita kemiskinan jika kau tidak memilih.”

“Jadi kau hanya akan menyerahkan ini padaku?”

“Aku akan membujukmu dengan berbagai cara, tuan Ichika. Bahkan jika harus menggunakan peluru,” senyumannya menghilang dan wajah Shikanami-san kembali datar.

“Bukankah menggunakan peluru itu berlebihan?”

“Maaf, maksudku uang.”

“Bukankah membujuk orang dengan uang termasuk menyuap dan melanggar hokum?”

“Keluarga Touyama bias melewati beberapa peraturan karena separuh asset negara ada di bawah perusahaan kita,” kali ini Shikanami tersenyum menantang.

“Bagaimana dengan gadis-gadis itu?”

“Mereka tak punya pilihan. Kalaupun mereka punya, mereka sudah setuju dengan persyaratan yang diajukan keluarga Touyama.”

Aku kembali menghela nafas dan memegang kepalaku. Bagaimana bias hal seperti ini terjadi padaku?

*

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rharkim
rharkim at Kanpeki No Oyome-tachi [pt-00] (6 years 5 weeks ago)
60

Hmm... Kalau boleh saya nanya, judulnya harus bahasa Jepang kah? Atau penulisnya memang suka yang Jepang-Jepangan?

Writer ichii06
ichii06 at Kanpeki No Oyome-tachi [pt-00] (6 years 5 weeks ago)
80

Senangnya dalam hati, punya calon istri 4. Hihihi. XD
Terlepas dari typo, ceritanya oke. Semoga bisa berlanjut jadi novel.
Semangat!
Salam. :)

70

Wanjer, tipikal cerita dengan MC ketiban durian runtuh.

Alih-alih simpati, saya malah dibikin iri sama garis hidupnya. Sebagai laki-laki nommal, saya rasa reaksi paling masuk akal dari skenario ini adalah rasa bingung disertai senang.

I mean... siapa sih yang nggak senang bakalan dijodohkan sama perempuan. Bisa milih pula satu di antara empat yang ada.

Beda halnya kalo misalnya Arai ngasih foreshadow dulu tentang si MC yang udah terlanjur memiliki kedekatan dengan perempuan lainnya. Bisa masuk ke jalur guilt, atau setidaknya rasa "kepaksa"-nya lebih kentara.
Karena saya lihat di alur ini, saya nggak ngerasa aura "Kenapa harus aku?" dari si MC-nya.

then again... ini pendapat subyektif sih. You know... I am a pervert~

Writer hidden pen
hidden pen at Kanpeki No Oyome-tachi [pt-00] (6 years 7 weeks ago)
60

ettoo kayaknya ichijou ini ane pernah lihat di watty. Oohh menurutku narasinya oke dan ane suka. Cuman ya ane gak tau ne typo atau gak atau emang kebiasaan penulis . (bias) (mederita) umm tapi feel kurasa dapat ya. Entah mengapa judul tuh ane merasa situ kayaqnya maksa banget bilang ne cerita ke jejepangan. Udah artikan ajee. Yg penting isi ama namanya udah jepang a.k.a light novel banget. Tapi kalo situ pengen ne cerita ada layak jual . Pake aja nama judul a.k.a part kayaq bahasa jepangnye . Ehm ehm akhir kata salam kenal ya. Panggil aja ane hiden ^_^

Writer Yua
Yua at Kanpeki No Oyome-tachi [pt-00] (6 years 7 weeks ago)

Lupa bilang :
Kanpeki No Oyome-tachi - Para penganti yang sempurna