Bagaimana Cara Membuat dan Menghancurkan Boneka Kayu

*
Menjelang akhir bulan Juni, ketika persiapan perayaan Festa di Giovanni mulai menyemarak di tiap-tiap sudut Alberobello, bayangan tentang sesosok bocah menari-nari di pelupuk mata seorang pria. Kau hampir-hampir bisa melihat beratnya kenangan itu ia pendam sendiri. Dari pundak lebarnya yang tampak mengerut sementara sinar di kedua bola matanya meredup, dari caranya menyilangkan kedua tangan kukuhnya di dada sambil menengadahi sebuah titik yang tak bisa kau lihat di balik kaki langit, dan dari garis-garis kerut yang menggurat keningnya saat pikirannya tertuju pada masa silam. Jika kebetulan saja kau sedang berbicara dengan pria ini--tentang hal-hal remeh seperti harga keju parmigiano yang kebetulan melambung tinggi, atau anakmu yang kau dapati mencuri keping quattrino yang kau simpan sejak muda--lalu tanpa aba-aba ia bersikap demikian, maka kau jangan bingung apalagi tersinggung. Begitulah cara pria tersebut berduka; dengan terus memutar ingatan mengenai adiknya.
**

Girolamo Geppetto mendorong gerobak penuh muatan kayu bakar menuju Piazza Mercato. Di kanan-kiri, jejeran rumah trullo berbentuk silinder beratap kerucut yang seluruhnya terbuat dari batu tampak rapi tersusun. Beberapa penghuninya sudah ada yang menempelkan kain perca warna-warni di atas pintu sebagai hiasan untuk festival. Semburat kuning, biru, merah dan ungu tampak kontras dengan dinding batu berwarna putih-abu.

Semakin mendekati lapangan luas yang tiap hari Rabu dijadikan pasar oleh penduduk, Girolamo melihat semakin banyak penduduk yang juga bergerak menuju tempat tersebut. Para pria mengenakan tunik dan mantel yang sedikit lebih bersih dari biasanya, sedang wanitanya mengenakan gaun wol terusan dan syal dengan warna-warni cerah khas musim panas. Mereka juga berbicara sedikit lebih keras, sedikit lebih bersemangat. Padahal, toh, tak ada yang benar-benar berubah. Matahari tetap terbit dan terbenam seperti biasa, Raja Manfred III tetap memberlakukan pajak sepuluh keping scudo per tahun yang mencekik leher, Alberobello tetap menjadi desa yang dingin menggigit tulang-belulang setiap musim dingin…Dan adikku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya tumbuh dewasa. Begitu pikir Girolamo getir.

Roda gerobak berdecit halus, mencipratkan sedikit air genangan sisa gerimis semalam. Ia menyandarkan gerobaknya pada salah satu sudut dinding lapangan Piazza Mercato yang disesaki penduduk desa. Gerobak dan kios lain berdiri sambung-menyambung memagari seantero pasar. Pedagang-pedagang lain yang tak memiliki cukup kepingan perunggu dan perak untuk membeli gerobak apalagi mendirikan kios harus puas menggelar dagangan mereka di atas selapis kain kusam.

”Minyak zaitun khusus saya datangkan dari Bologna! Silahkan, Tuan dan Nyonya! Hanya empat keping quattrino sebotol!"

"Roti brucellato kau jual lima quattrino sepotong? Turunkan harganya jadi empat keping, kubeli lima!"

"Anggur terbaik Genoa! Kacang almond termanis Sisilia! Kismis dari tanah Tuscan!"

Aroma manis madu, anggur, saffron,berbagai jenis keju dan roti bersaing dengan lezatnya bau sosis cotechino, daging prosciuttodan adonan pasta beragam bentuk. Di tengah berondongan sensasi menggiurkan berlainan ragam tersebut, Girolamo hampir-hampir bisa melupakan betapa tak betahnya ia berada di tengah keriuhan pasar yang selalu sukses membuat kepalanya berdenyut-denyut marah.

Beruntung, Girolamo tak perlu menunggu lama sampai beberapa pembeli datang menghampiri dan memborong kayu bakarnya. Pada musim panas seperti sekarang ini, hangatnya udara dan cerahnya cuaca membuat lebih banyak orang-orang desa enggan memotong sendiri kayu bakar untuk keperluan sehari-hari. Apalagi, hari perayaan sudah semakin dekat. Tak masalah menaikkan sedikit harga seikat kayu bakar yang ia jual barang beberapa keping quattrino,toh tetap saja banyak yang membeli. Jika saja Girolamo masih percaya pada Tuhan, ia akan mengucap syukur atas secuil nasib baik ini. Sayangnya, ia sudah tak sudi lagi menginjak lantai gereja. Pun rumahnya sudah bersih dari kitab suci dan salib-salib yang dulu masih setia menghiasi sudut-sudut ruangan. Apa pula gunanya memanjatkan puji-pujian pada makhluk yang merenggut kebahagiannya?

"Hari baik untuk dagang, si?" Seorang wanita paruh baya tersenyum memamerkan deretan gigi tidak rata dari balik kios peralatan makannya.

Girolamo memandangnya sekilas lalu mengangguk kecil.

Selang beberapa menit wanita itu kembali bertanya, jelas menggunakan taktik lain untuk memancing jawaban, "Jual berapa seikat?" Ia menunjuk tumpukan kayu bakar di atas gerobak Girolamo dengan kuku-kuku yang habis digigiti.

"Murah." Girolamo menjawab dengan nada datar, masih urung membuka pintu percakapan. Wanita itu mendengus kesal lalu membuang muka.

Gerobak kayu bakar Girolamo yang tadinya penuh terisi sekarang kosong melompong, bersamaan dengan matahari yang teguh memanjat langit timur. Keributan pasar sedikit redam, lalu-lalang semakin lengang. Puas menimang kantong kulit yang menggembung oleh puluhan keping perunggu quattrino, beberapa keping perak baiocchi juga grosso, ia pun bersiap-siap pulang ke pondoknya di pinggir desa.

"Sudah mau pulang? Tidak lihat pertunjukan Massimo Vetra dulu?"

Wanita penjual sendok-garpu-piring mengerlingnya sekilas lalu berusaha mempertahankan kontak mata dengan arus penduduk desa yang menyurut di depan kiosnya. Tak terlalu sukses, sedari tadi hanya sedikit barang-barang yang mampu dijualnya.

Girolamo mengangkat alisnya. Massimo. Yang terbaik, yang tertampan, yang terhebat. Bagaimana caranya pria bernama demikian sanggup berjalan lurus dengan nama seberat itu?

Sayangnya, si penjual logam yang tak laku menganggap diamnya Girolamo sebagai isyarat berlanjutnya percakapan. ”Sebentar lagi paling ia akan mulai pertunjukan, sebelum kerumunan benar-benar habis, si? Aku sudah tak sabar! Jarang kan ada marionettista yang berkunjung ke desa ini? Dengar-dengar dari tetanggaku Ia menghabiskan masa kecilnya di Avignon, entah benar atau tidak. Bukannya mereka lagi perang dengan Saraceni yang barbar itu? Che Spavento! Sungguh ngeri! Kau tau ti-"

"Basta," Girolamo memotong. "Ahli boneka kayu katamu?"

"Si," Wanita itu mengangguk cepat sambil membetulkan selendang kuning yang membungkus setengah punggungnya. "Sampai mana aku tadi? Ah, mau tahu yang kudengar tentang kaum Saraceni?"

Girolamo tak peduli soal tentara Saraceni. Ia langsung meninggalkan gerobaknya-dan si wanita yang meneriakinya "Dasar kurang ajar!"-lalu bergegas mencari Massimo Vetra. Tak butuh waktu lama, Ia hanya perlu melihat penduduk desa yang berkerumun di depan sebuah kereta wagon tinggi-besar beroda empat yang dicat warna emas dan merah. Setengah bagian atasnya diselubungi kain putih rangkap empat, dengan tali-temali kuat yang mengikat kedua sisinya. Dua ekor kuda camargue abu-abu berpelana cokelat tertambat di belakangnya.

Dengan mudah penebang kayu itu membelah kerumunan dengan sekali-dua kali dorongan hingga berada di baris terdepan. Gerutuan marah beberapa pria dan wanita tak ia gubris. Girolamo tak ingin melewatkan pertunjukan seni boneka kayu ini demi apapun juga. Kalau kau masih hidup sekarang, apakah kau tetap ingin membuat boneka kayumu sendiri? Berkeliling negeri mengadakan pertunjukan?

Pintu kereta wagon mendebam terbuka dari dalam. Detik itu juga Girolamo merasa sedikit berterima kasih pada wanita di samping gerobaknya tadi karena telah memberitahunya tentang pertunjukan boneka kayu ini tepat pada waktunya. Jantungnya berpacu lebih hidup setelah melihat bahwa seluruh bagian belakang kereta wagon ternyata disulap menjadi panggung kayu poles mengilat dengan latar beludru merah-darah yang bergelombang. Dua buah lentera minyak menyala kuning-terang pada sisi-sisinya, menciptakan bayangan temaram yang membekas pada tirai di belakang. Satu-dua orang menggumam kesal, "Buang-buang minyak saja!" Tetapi penonton lain jelas berpendapat berbeda. Profesional. Girolamo mengangguk setuju. Dari balik tirai merah, Massimo Vetra menampakkan diri.

Ahli boneka kayu itu berpenampilan sehebat namanya. Tinggi, berkulit dan berambut gelap khas Sisilia, dengan mata jenaka secerah almon. Jubah satin mewahnya yang berwarna tembaga berkilat-kilat ditempa gabungan cahaya lentera dan matahari musim panas. Ikat pinggang kulit bertatahkan bebatuan mulia membelit pinggangnya, mengingatkan Girolamo pada kerlip kunang-kunang hutan, namun jauh lebih benderang.
"Buongiorno, penduduk Alberobello yang baik!" Sapanya dengan suara bariton yang renyah. Kedua tangannya ia rentangkan lebar-lebar.

"Angin takdir membawaku dari pulau ke lembah, dari Sisilia ke Alberobello! Aku sudah tak sabar ingin memperlihatkan kepada kalian semua, Tuan dan Nyonya yang terhormat, serta adik-adik kecil yang manis, tentang kisah-kisah kepahlawanan dari seluruh penjuru negeri!" Ia membungkuk dengan satu gerakan luwes kemudian mundur perlahan ke balik tirai. Anak-anak kecil bersiul sahut-menyahut. Orang-orang dewasa, tua dan muda, bersorak gembira.

Tiga puluh menit berikutnya penduduk desa Alberobello dimanjakan oleh pertunjukan boneka kayu terbaik yang pernah mereka lihat. Massiomo Vetra terbukti sangat lihai menggerakkan boneka-boneka kayu seukuran lutut orang dewasa dengan gerakan yang lincah dan tangkas. Dengan menggunakan benang-benang logam tipis yang disambungkan pada berbagai titik di kepala, tangan, dan kaki boneka-bonekanya, Massimo Vetra mengontrol luwesnya gerakan dengan salib kayu kecil. Kayu pengontrol inilah yang menjadi kunci pergerakan mereka. Semakin alami gerakan marionetta, maka semakin menunjukkan kelincahan jari-jemari marionettista yang mengontrolnya.

Pertunjukan berakhir ketika Raja Edward IV, yang berzirah emas dan berpedang, berhasil membunuh panglima berkuda tentara Saraceni yang bersenjatakan panah dengan satu sabetan tangkas. Saat itu, lantai kayu panggung sudah penuh dengan kepingan perunggu dan perak yang dilemparkan penduduk kota selama pertunjukan berlangsung, persis seperti legenda leprecauno yang menghujankan kepingan uang dalam cerita anak-anak. Girolamo tak lupa menyisihkan beberapa quattrino untuk dilemparkan.

Massimo Vetra muncul kembali dari balik tirai untuk kedua kalinya, kali ini dengan sorak-sorai yang lebih menggelegar dari saat sebelum pertunjukkan. "Grazie, grazie!" Berkali-kali membungkuk sambil berterima kasih pada penonton dengan senyum lebar yang tak luntur dari wajahnya.

"Jangan lupa esok petang kalian datang lagi! Pertunjukan lain yang tak kalah seru akan saya persembahkan khusus semalam suntuk! Sampai jumpa, Tuan dan Nyonya Alborebello! Sampai ketemu lagi, adik-adik kecilku semua!"

Dengan kalimat pamungkas tersebut, Massimo Vetra menutup pintu belakang kereta wagonnya. Selesai, penduduk desa pun berpencar dengan mata berbinar, menghela napas puas, lalu kembali ke aktivitas masing-masing.

Seorang penebang kayu bertahan di titik yang sama beberapa jenak, bersilang tangan di depan dada sambil memandang ke ufuk barat tempat jajaran bukit Valle di Itria yang mengitari Alberobello berdiri dengan kokohnya. Punggungnya sedikit membungkuk, keningnya berkerut. Saat itu, sorot matanya lebih sendu dari biasa.
***

Ribuan mil jauhnya dari Alberobello, di sebuah kota kecil bernama Gordes, seorang lelaki yang mulai beranjak dewasa sedang duduk bersimpuh di samping ranjang sederhana beralaskan jerami yang ditempati adiknya, tak lebih tua semusim dari dua belas tahun. Tangan kanan kapalan lelaki itu meremas halus jemari mungil adiknya, sembari tangan kirinya menggenggam kitab suci yang lusuh akibat sering dibaca.

Di hadapannya, sebuah lilin menyala redup.

"..Maka doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu. Tuhan akan membangunkan dia dari deritanya, dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan gugur seluruhnya."

Adik lelaki itu tertidur, tetapi tidak dengan tenang. Dada kecilnya mengembang dan mengempis tak beraturan, sementara keringat dingin terus membasahi keningnya yang masih halus oleh kerut usia. Sesekali, ia mengerang pelan, kesakitan.

Di sampingnya, sang kakak tetap setia mengharapkan belas kasih Tuhan dengan suara lirih.

"Ia sangat mendambakan rahmatMu untuk keselamatan jiwa dan raganya. Tunjukkanlah kasih dan sayangMu, dan tabahkanlah hatinya dengan RohMu. Semoga ia menjadi teladan kesabaran dan kebahagiaan oleh karena imannya yang teguh dan pengharapannya yang tak tergoncangkan."

Tok! Tok! Tok!

Gedoran tak sabar di pintu rumah membuyarkan pembacaan liturgi si lelaki muda.

Dengan tergesa ia bangkit dari posisinya, mengusap ubun-ubun adiknya dengan penuh kasih, lalu membuka pintu rumah.

"Bapa, terima kasih sudah datang malam-malam begini." Ujarnya penuh rasa syukur pada sosok di hadapannya, yang hanya mengangguk cepat sambil melepas mantel wol tebal yang membungkus tubuh tua namun liat. Air mukanya serius.

"Pesanmu baru sampai. Mana dia?"

Tanpa menunggu jawaban si pemilik rumah, pendeta itu melangkah cepat menuju satu-satunya tempat tidur di seberang, tempat si pesakitan kecil berada. Lelaki muda membayangi langkah pendeta tersebut sambil mengepalkan tangan dengan gugup.

"La Morte Nera!" Si pendeta mengumpat keras.

"A-apa? Bukan, bapa, tidak ada bercak hi-"

"Ini tanda-tanda awal Kematian Hitam, anak bodoh! Demam ini akan bertahan hingga beberapa hari ke depan. Kalau adikmu beruntung, ia akan mati karena demam tinggi. Kalau tidak, dua minggu berikutnya akan jadi neraka baginya! Bagimu juga kalau tertular!"

"Bapa, itu tidak mungkin. Adik saya demam. Cuma demam. Mu-mungkin karena roh jahat. A-atau sup ribollita yang saya masak untuknya kemarin lusa. Atau karena..karena entah apa. Ia hanya butuh didoakan, Bapa."

"Tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Datang ke rumah ini saja sudah merupakan kesalahan besar. Jangan datang ke kota. Akan kukabari penduduk yang lainnya untuk menghindari tempatmu."

Mungkin saja si pendeta mengucapkan kalimat itu dengan nada penuh iba, sambil meremas punggung pemuda itu sebagai wujud simpati, kemudian meninggalkan rumah dengan langkah berat yang menyesakkan dada. Atau mungkin, ia mengucapkan kalimat itu sambil melemparkan pandangan jijik bercampur takut pada sosok ringkih di ranjang, lalu bersigegas meninggalkan tempat terkutuk itu secepat yang kaki tuanya mampu lakukan. Entahlah, si pemuda tak tahu, ia tak memperhatikan apalagi peduli. Yang jelas, kata-kata bantahan tertahan di kerongkongan, sementara tubuhnya mengeras di lantai kayu.

Di samping ranjang adiknya, nyala lilin semakin redup.

"Kak.."

Adiknya terbangun. Sepasang kelopak mata membuka separuh, memperlihatkan kilat biru teduh yang tampak semakin teduh. Warna yang sama dengan mata kakaknya yang kini sembab oleh air mata.

Suara lemas adiknya membuat si pemuda memaksa dirinya untuk tersenyum di hadapan wajah polos berbintik-bintik merah itu. Betapa ia rela menjual jiwanya pada Iblis jika itu dapat memperpanjang umur adiknya!

"Haus?"

Yang ditanya menggeleng. Satu gerakan sederhana itu saja sudah cukup menggerus energinya yang sudah tak seberapa, terdengar jelas dari irama nafasnya yang semakin tak beraturan.

"Masih mau membantuku membuat boneka kayu?"

Sang kakak tersenyum pilu mendengar satu lagi bukti betapa terobsesinya adiknya pada pertunjukan boneka kayu. Sejak melihat pertunjukan di kota musim semi lalu, ia berkali-kali berteriak -dengan suara melengking yang menghangatkan dada, dan pandangan mata yang membuat siapapun tersenyum-bahwa suatu saat nanti ia akan berkeliling dunia mengadakan pertunjukan.

Saat sekarat pun adiknya masih menggenggam erat mimpi itu.

"Kau harus baikan dulu, ya? Janji."

"Janji."

Maka, pada sebuah malam musim panas di penghujung bulan Juni, seorang kakak memberikan sebuah kecupan pada kening adiknya yang mengilat basah.

Satu kecupan lagi pada masing-masing pipi nan merah.

Terakhir, kecupan paling lembut, paling lama, paling penuh cinta, mendarat pada bibir mungil adiknya yang membeku.

Di dekat sepasang kakak-beradik itu, nyala lilin akhirnya padam.

****

Girolamo Geppetto terbangun, lagi, karena mimpi buruk kenangan masa silam. Bajunya kuyup karena keringat, nafasnya tersengal-sengal. Ia tak ingat mimpi apa barusan. Dalam sekejap saja matanya tertumbuk tiba-tiba pada atap pondoknya yang kusam, ingatan tentang mimpi yang baru saja ia alami bak tergelincir dari pikirannya. Ia duduk di tepi ranjang yang berkeretak ringan. Matanya mengarah pada pemandangan gelap di luar jendela. Hanya terdengar jangkrik hutan yang bersahutan, diselingi dekuk burung pemangsa yang berkejaran di atas atap.Jam berapa sekarang?

Ia menyeberangi ruangan menuju lemari baju, mengganti pakaian bersih namun lusuh, dan mengenakan mantel wol tebal serta sepatu kulit bututnya. Setelah menimbang beberapa saat, ia ambil sebatang obor yang sengaja ia simpan untuk saat-saat seperti ini, ketika ia merasa cukup berenergi untuk bangun di tengah malam entah-jam-berapa namun terlalu kalut untuk mengerjakan apapun di dalam pondoknya. Sempitnya tempat itu selalu membuatnya tak enak hati, selalu membuatnya gelisah. Ia butuh berada di luar, menghirup udara hutan yang menenangkan, mendengar suara binatang-binatang liar, melakukan sesuatu. Maka Ia ambil sebilah kapak di bawah ranjangnya, teman kerjanya sehari-hari, senjatanya mengusir sepi, lalu melangkah menuju malam yang tak cukup hening untuk menggambarkan isi kepalanya.

"Aku adalah sebuah boneka kayu." gumamnya tak pada seorang pun, masih setengah sadar, setengah melamun. Selang beberapa detik, ia terperanjat oleh perkataannya sendiri. Kenapa aku bisa bicara begitu?

Langkah dan lamunannya terhenti. Ia tiba di titik tempatnya biasa menebang kayu, daerah pinggir desa Alberobello yang lebat oleh pepohonan ek, pinus dan elm. Sempurna untuk dijadikan kayu bakar. Setelah beberapa lama menentukan pohon yang tepat, tak terlalu tua ataupun muda agar lebih mudah ditebang, lalu merubah posisi berdirinya agar sinar bulan yang menyelusup naungan dedaunan membuatnya bisa mematikan obor, ia pun mulai mengayunkan kapak.

Crak! Crak! Crak!

Ini adalah zonanya, terapinya. Ketika bilah kapak menghantam batang pohon keras dengan suara yang mantap, crak, dan ia dapat melihat torehan yang menggurat pohon, lalu berulang terus-menerus, ia tak perlu memikirkan apa-apa. Tak dihantui ingatan tentang adiknya, tentang masa lalu mereka.

Crak! Crak! Crak!

Gerakan yang konstan dilakukan, suara ritmis yang terdengar tiap beberapa saat, torehan kayu yang sama tiap kali terlihat, semua itu membuatnya merasa nyaman. Merasa akhirnya bisa mengontrol sesuatu, sesuai apa yang ia inginkan.

Begitu fokusnya ia pada pekerjaannya, sampai-sampai tak menyadari sosok lain yang mendekat dengan langkah ragu-ragu, pendek-pendek. Ketika berjarak hanya beberapa meter dari punggung lebar Girolamo, sosok itu berhenti, mengamati seorang penebang kayu yang bekerja dengan tekunnya pada malam buta.

Ketika seekor burung malam-atau mungkin kelelawar, sulit membedakannya pada malam hari-terbang melintas dekat kepalanya, ia mengeluarkan pekik terkejut. Girolamo yang juga kaget langsung membalikkan badan sambil mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

"Siapa kau?!"

Girolamo berhadapan dengan seorang anak kecil dekil-kumal mengenakan mantel lusuh yang kedodoran. Rambutnya yang panjang tak terurus terlihat awut-awutan. Ekspresi ketakutan tercetak jelas di wajahnya.

"Ma-maafin aku. Aku enggak bermaksud bikin kaget." Ia berujar dengan suara yang bergetar sambil mundur selangkah.

Girolamo menurunkan kapaknya, namun mata dan pikiran tetap awas. Bukan berita baru lagi bahwa anak kecil pun bisa berniat jahat demi uang, apalagi di masa sulit seperti sekarang. Ia tetap menatap anak kecil di depannya. Ia belum pernah melihat anak itu sebelumnya. Tidak aneh, menjelang perayaan Festa di Giovanni, berbagai jenis pedagang melewati Valle di Itria menuju utara, ke arah kota-kota yang lebih besar seperti Genoa atau Verona. Di mana ada perayaan, anak-anak jalanan pasti akan berkumpul seperti tikus got yang berebut roti.

"Aku bukan pengemis." ujar anak itu cepat, seakan membaca pikiran Girolamo. Setitik keberanian-dan harga diri?- muncul dari gerak tubuhnya. Ia berdiri sedikit lebih tegak, dengan kaki menghentak, khas anak kecil yang sedang menunjukkan kepala batunya.

Girolamo tak terpengaruh.

"Pergi." Ia mengayunkan kapaknya menuju jalan setapak yang mengarah ke desa. Atau kubuat kau pergi.

Rasa takut muncul kembali di wajah anak itu. Ia menggigit bibir bawahnya sambil memberengut, seakan sedang memikirkan pertanyaan yang kelewat susah dijawab.

"Tunggu."

Girolamo menaikkan alisnya.

"Aku cuma mau minta kayu sisamu." Ia menunjuk tumpukan batang-batang pohon di dekat kaki Girolamo. "Sedikit saja, buat-"

"Tidak. Pergi."

Anak kecil itu mengacak-ngacak rambut gelapnyanya yang sudah kelewat berantakan dengan frustasi.

"Ya sudah! Dasar pelit! Aku akan menebang kayu sendiri dan membuat marionettaku sendiri!" Lalu ia berbalik, menjauh dengan bibir mengatup erat dan tangan mengepal keras.

"asta," kata-kata meluncur keluar dari bibir Girolamo sebelum otaknya menyadari apa yang terjadi, "Marionetta?"

"Kalau iya, emangnya kenapa? Kau juga mikir aku enggak bisa?" Anak itu berkacak pinggang sambil mengangkat dagu, menantang Girolamo-yang berkali lipat lebih tinggi dan berat- untuk membantah perkataannya.

"Kenapa mau membuat boneka kayu sendiri?"

Lagi, anak itu menjambak rambutnya sendiri, mungkin karena sering melakukan itu rambutnya jadi tak karuan. "Ugh! Orang dewasa enggak bakal paham! Aku harus bisa jadi marionettista yang lebih hebat dari Massimo Vetra!" ia memejamkan mata dengan ekspresi serius, seakan mengakui bahwa Massimo Vetra adalah marionettista hebat melukai perasaannya. Tak masuk akal, apa anak ini waras? Girolamo mengernyitkan kening mengamati sosok pendek di depannya.

"Kenapa?"

Anak kecil itu membuka matanya cepat, kini wajahnya yang balik penuh kemarahan, sedang Girolamo tak bisa menyembunyikan keheranannya.

"Dengar, kalau kau tidak mau membantuku, Tuan yang Terhormat," -Ia mengucapkan kata itu dengan kesopanan yang dibuat-buat- "Tidak usah mencampuri hal yang bukan urusanmu!"

"Akan kuberi sedikit kayuku kalau kau cerita."

Satu kalimat yang diucapkan Girolamo sambil mengangkat bahu membuat mulut anak itu menganga.

"Benarkah?!" ia berteriak tanpa repot-repot menyembunyikan kegirangannya. Ia menyibakkan surai-Girolamo tak sudi menyebutnya rambut- yang menutupi matanya. Mata biru cerah balik menatap Girolamo dengan penuh harap. Penebang kayu itu harus menekan kuat-kuat keinginan untuk tersenyum melihat ekspresi gembira yang begitu murni, yang hanya bisa diciptakan khusus oleh anak kecil yang masih teguh memegang mimpi.

Girolamo hanya mengangguk. Ia menyandarkan kapaknya di batang pohon yang baru sebentar ia tebang, kemudian duduk. Beruntung, rumputnya tak terlalu basah oleh embun. Ia mengedikkan kepala ke sepetak tanah di sampingnya, isyarat bagi si anak kecil untuk ikut duduk bersama.

Dengan langkah ragu-ragu yang semakin dekat semakin mantap, si anak kecil memandang sejenak sosok Girolamo yang duduk di bawah sebatang pohon ek besar, masih sedikit lebih tinggi darinya yang berdiri tegak. Lalu ia pun duduk bersila.

"Mulailah." Perintah Girolamo.

"Si, si. Dari mana aku harus cerita?" anak itu menatap Girolamo bingung. Yang ditanya hanya diam saja sambil menaikkan alis.

"Ughh, baiklah. Dengar baik-baik ya. Aku tidak suka mengulang-ulang cerita ini. Capisce?"

Girolamo mengangguk.

Setelah menghirup udara hutan yang manis dan segar dalam dalam, kemudian menghembuskannya, anak kecil itu memfokuskan pandangan pada bilah-bilah rumput di depannya, lalu mulai bercerita.

"Aku cuma tinggal berdua sama kakakku yang cerewet dan suka menyuruh-nyuruh di Abano Terme. Itu desa yang membosankan di utara Alberobello, tahu? Hanya ada ladang gandum yang luaaas sekali. Pekerjaanku sehari-hari juga jadi petani gandum, sama seperti kakakku, dan ayah kami, dan kakekku, dan seterusnya. Membosankan! Jadi ahli boneka kayu lebih keren! Aku bisa berkelana ke berbagai desa dan kota di seluruh penjuru negeri! Iya kan?"

Ia menoleh ke pria dewasa yang mendongak memandang langit malam dengan ekspresi aneh yang tak dapat ia pahami. Ia anggap itu sebagai satu keganjilan lain yang orang dewasa lakukan.

"Hai, apa kau dengar?"

"Lanjutkan,"

Anak itu mengedikkan bahu lalu melanjutkan ceritanya, kali ini ini sambil mencabuti rerumputan di hadapannya. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

"Aku kabur dari rumah. Mungkin sekitar..sebulan lalu, si? Aku tidak suka kakakku terus memaksaku menjadi petani. Lalu suatu ketika ada karavan Gipsi yang sedang lewat. Tanpa pikir panjang langsung saja aku naik sembunyi-sembunyi! Tapi, yah, akhinya aku ketahuan juga. Mereka menurunkanku di sebuah desa antah-berantah. Dannazione! Sejak saat itu aku hidup seperti ini. Dari karavan ke karavan. Desa ke kota. Apapun kulakukan untuk tetap bisa makan, dan tidur dengan cukup hangat supaya enggak mati pagi-paginya. Kau paham, si?"

Girolamo mengangguk. Benaknya dipenuhi imajinasi tentang apa yang harus dilakukan oleh anak sekecil ini-mungkin dua belas, tiga belas tahun?-untuk mempertahankan diri. Di jalan, di hutan, desa ataupun kota, terlalu banyak hal-hal yang membuat sedikit kesalahan saja berarti melayangnya nyawa. Bandit, anjing liar, anak-anak jalanan lainnya, kedinginan, kelaparan, penyakit. Girolamo tahu ada jenis penyakit yang membunuh pelan-pelan. Rasa kesepian, terlupakan, tanpa seorang pun tahu dan peduli.. Kau punya nyali juga, bocah.

"Tapi kau tetap tidak lupa mimpimu menjadi marionettista terhebat." Girolamo berkata pelan.

"Tentu saja! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, pada kakakku juga! Laki-laki pantang ingkar janji!" Anak itu berujar antusias. Sinar bulan yang keperakan tertambat pada wajahnya yang dekil dan kumal. Tetapi mata itu, mata biru itu bersinar dengan penuh kepercayaan diri. Yakin bahwa suatu saat nanti ia bisa meraih mimpinya, betapapun sulitnya keadaan, betapapun rendahnya ia berada saat itu.

Seperti adikku.

"Kau benar, laki-laki sejati pantang ingkar janji."

Girolamo berdiri, mengibas-ngibaskan celananya dari rumput dan tanah yang menempel. Ia berjalan menuju tumpukan kayu yang ia kumpulkan sedari tadi, memilih batang elm yang paling pendek dan paling muda agar anak itu mudah mengukir batangnya menjadi boneka kayu, kemudian memberikannya pada si anak kecil yang masih duduk di tempat semula.

Ekspresinya gembira luar biasa bercampur rasa tak percaya.

"Wah, ini..wah, grazie! Kau tau kan aku gak mungkin bisa memotong batang sebesar itu sendiri?" Ia memeluk batang kayu itu dengan penuh kasih sayang.

"Tentu saja. Tapi aku yakin kau bisa membuat boneka kayu yang bagus dari batang itu."

Anak itu mendongak memandangnya lagi, tersenyum lebar sekali.

"Pietro."

Sekejap saja waktu terhenti bagi Girolamo seorang.

Hatinya mencelus.

"Namaku Pietro Pinocchio! Terima kasih, Tuan!" Pietro melompat berdiri seakan sol sepatunya terbuat dari per, kedua tangan memeluk batang elm dengan khidmat layaknya memegang kitab suci.

"Tunggu." Girolamo berujar setelah beberapa saat kemudian berhasil meredakan detak jantungnya yang berdebar tak karuan, dan nafasnya yang tersengal seperti setelah seharian menebang kayu.

"Ka-kau.."

"Ya?"

"Kau mau kubantu membuat boneka kayu?"

Girolamo Geppetto merasa ada yang meleleh di dasar hatinya, ada yang berguguran di perutnya, dan..ada perasaan ganjil yang pelan-pelan bangkit ketika kepalan tangan kasarnya digenggam erat sekali oleh seorang anak kecil bernama Pietro. Kenangan tentang Pietro yang lain, yang selama-lamanya berusia dua belas tahun, menari-nari bak fantom di pelupuk matanya.

Pietro, cahaya hidupku, api hasratku. Dosaku, sukmaku.

*****

bersambung ke bagian kedua (terakhir)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

Jarang melihat cerpen dengan kata yang melebihi 4000 kata dan yang memikat pula.
Kalau kukatakan, cerpen ini menarik dan asyik. Maknyus kalau kata Bondan Winarno ^^
Tapi, ada beberapa hal yang membuatku kemudian bertanya-tanya dan mencoba menafsirkan kenapa menulis melakukan ini dan kenapa meletakkan hal itu?
Komentarku ini kurang lebih sama dengan yang lain. Aku hanya menambahi saja, apalagi kamu meminta dengan personal. :)
Aku melihat cerita ini utuh, meski ada kelanjutannya. Bisa dibilang, pemenggalannya sempurna. Tidak kurang tidak lebih. Tidak membuat pembaca kesal karena dipotong pada bagian seru-serunya, juga tetap membuat pembaca ingin tahu cerita selanjutnya.

Bagian awal itu seperti gambaran cerita, ibarat seorang chef yang berkata akan membuat makanan penutup bertema Perancis dengan potongan apel, tapi tidak mengatakan langsung nama dan bagaimana ia membuatnya. Ia langsung saja memasak, dan pembaca diharapkan menikmati saat ia memasak, dan mampu menebak sendiri saat proses itu.
Dan kamu memasaknya dengan anggun, dengan penokohan yang terasa hidup, setting dapat dipercaya kebenarannya, dengan latar sejarah yang tidak tinggalkan begitu saja, tapi dalam hal ini kamu banyak memasukkan bahan-bahan yang sesungguhnya boros.
Elok kalau nama kota, istilah bangunan dan nama tidak perlu ada tambahan penjelasan lagi, karena bisa direka-reka. Itu pun wawasan mudah yang hampir semua orang bisa menangkap maksud dan tujuannya langsung, tanpa harus mencari-cari ke mana-mana. Perhatikan juga kenyaman pembaca. Apalagi ketika ada kata-kata asing yang disebut.
Seperti Si yang sepengetahuanku hanya berarti, Ya. Aku tidak tahu ia juga berarti Bukan atau Kan, seperti yang kulihat di beberapa kalimat. Juga aku tidak tahu apakah kata itu juga bisa digunakan untuk membuat kalimat "Question Tag" di mana dalam bahasa Inggris dan Indonesia sedikit berbeda dalam struktur dan kata-katanya. Sehingga sedikit membuatku kurang yakin akan maksud dari kalimat dengan kata Si itu.
Yah, ini fenomena. Penulis kadang tergiur untuk menampilkan barang-barang yang menurutnya keren, dan bisa meyakinkan pembaca tentang apa yang ia ceritakan, tapi kalau kebanyakan dan tanpa memjelaskannya, menganggap pembaca sudah paham apa yang ia katakan, malah justru terkesan membual dan sombong.

Selain hal di atas, yang membuatku sedikit mengerutkan kening, pertemuan Girolamo dan Pietro. Karakter Girolamo seakan bias pada adegan itu, tidak sama seperti sebelumnya, dan begitu juga Pietro yang lebih mirip remaja badung daripada anak kecil nakal.
Suana sakral di cerita awal juga terasa meleleh di sini, dan aku kurang yakin dengan kalimat terakhirnya.
Seperti kata penulis, itu diambil dari novel Lolita-nya Vladimir Nabokov, tapi kayanya kurang tepat dimasukkan dalam cerita ini.
Cerita ini dengan Lolita aku rasa berbeda meski sama-sama menceritakan kasih sayang pada anak-anak yang beranjak dewasa.
Di cerita ini, tidak ada kesan Girolamo berhasrat pada adiknya, bahkan terasa sekali ia sangat menyayangi adiknya, normalnya kakak pada adik. Keluarga satu-satunya. Sementara Lolita, aku rasa sudah banyak yang paham, apalagi ada yang berkata novel itu novel cabul. Erotisme kalau aku bilang.
Aku rasa komentarku ini lebih mirip melihat keburukan cerita, daripada bagian bagusnya yang sudah sangat baik menurutku. Maaf jika kesannya begitu, dan aku tunggu bagian keduanya. ^^

Hai, Atre :))
Makasih banget3x udah nanggepin serius permintaan saya di pm. Saya emang butuh banget komentar jujur seperti ini. Iya, soal pemborosan istilah dan patahnya suasana di bagian menjelang akhir, saya terima. Ada beberapa juga yg ngomentarin hal yang sama, ini jadi masukan bagus bgt buat saya nanti, thank you. Soal hubungan Girolamo dan adiknya, juga Pietro..hm, saya ga mau banyak komen sih, soalnya nanti saya bakal jelasin lebih dalam di part selanjutnya. Tapi makasih banget komentar n kesannya soal itu, saya pertimbangkan denga senang hati. :))
Sampai ketemu di lain waktu ya, Atre. Salam menulis selalu :))

90

Hoaaammm.... ampun. Aku baru merasakan ceritanya dari pertengahan ke akhir. Saat boneka, adik, masa lalu, dan Pinocchio disebut. Soalnya, di awal-awal, di bagian deskripsi pasar dan keramaian itu terlalu bertele-tele. Tidak ada dampaknya juga ke cerita kalau dihilangkan. Toh, poin utama Gepetto ke pasar (atau perayaan, entahlah) cuma menjual kayu bakar dan menonton pertunjukan boneka kayu. Sudah.
Membosankan? Iya. Tapi anehnya menarik dan bikin terus ingin membaca sampai habis.
.
Rasanya, deskripsi dan penjelesan di tulisan ini perlu diperpendek dan dipersingkat. Tidak ada rasa "cerpen", dalam lidahku terkecap kental rasa "novel". Entah bagaimana menyebutnya, begitu sajalah :D
Salam kenal :)

Tambahan: Judulnya benar-benar bikin kelenger :D

Hai, Ruf_ina :))
Salam kenal ya, terima kasih banget udah mau jujur, hehe. Iya, soal kebosanan n pemborosan kata, deskripsi, dll, saya terima masukannya. Mudah2an lain kali bisa lebih baik. Untuk judul..jujur saya emg ga pinter nulis judul (nulis yg lain juga ga pinter sih hehe). Sekali lagi, makasih udah berkunjung, sampai ketemu lagi ya :))

100

Melihat di log massage dirimu berjanji akan posting minggu depan setelah cerita ini, maka pertama-tama saya merasa berkewajiban untuk bertanya: Mana lanjutannya?
.
Itu, pada chapter pertama (saya bilang saja chapter untuk bagian yang dipisahkan oleh tanda bintang [*]) saya rasa di situ terlalu bertele-tele. Apa ya, bang? Ini bukan maksud menggurui ya, cuma pendapat pribadi saja. Waktu membaca chap pertama, saya jadi bingung loh, karena menurut saya chap pertama itu bukan chap yang tepat untuk membuka cerita ini. Sebab, saya baru mulai menikmati cerita ini pada saat kalimat pertama chap. 2 sudah mulai, dan itu rasanya ajib banget, coba lihat ini (yang saya maksud): "Girolamo Geppetto mendorong gerobak penuh muatan kayu bakar menuju Piazza Mercato." Nah, apabila kalimat ini yang jadi pembuka, buat saya pribadi, saya langsung konek dengan cerita ini. Tanpa harus meraba-raba dengan apa yang dirimu tulis pada chap.1, karena pada bagian itu saya lebih banyak bingungnya daripada ngertinya.
.
Berangkat dari chap ke 2, saya benar-benar menikmati cerita ini, bang. :)
Asik lah dibaca. Bikin betah. Seperti narasi, dialog karakter, dan tingkah laku pemain (yang utama maupun sampingan) berasa pas dengan latar yang kamu ambil. Itali-nya kental bang. Walau memang ada beberapa yang masih asing buat saya, tapi itu saya sibak aja, ngak begitu ngaruh kok sama pemahaman saya dengan alur cerita ini (dalam artian, ketidakpahaman saya terhadap kata-kata asing yang ada di sini, tidak mempengaruhi saya dalam mengerti dan menikmati alur ceritanya). Jadi, I have no problem with the foreign words-nya. Tetap bisa saya menikmati, bang.
.
Yang saya mau komentari juga, ada pada bagian dialog si pinokio itu. Kamu menulis dialog dia tidak konsisten. Dalam artian begini: pada bagian-bagian sebelumnya, dialog para tokoh terkesan pas di sayanya. Sebab kalimat-kalimat dalam percakapan mereka terasa seperti telah diterjemahkan dari bahasa italia. Maksudnya, seperti pas dengan latarnya. Namun, di beberapa bagian dialog pinokio, saya merasa ucapan dia kurang sreg (dengan membandingkan percakapan-perkacapan para tokoh yang sebelumnya). Ada ketidakkonsistenan yang saya rasa di situ. Maksud saya yang ini:
-"[Ma-maafin] aku. Aku [enggak] bermaksud bikin kaget."
-"Kalau iya, [emangnya] kenapa? Kau juga [mikir] aku enggak bisa?"
.
Di bagian itu, saat membaca, tiba-tiba saya merasa kehilangan "nuansa" gitu loh, bang. Dan itu saya rasa sekali. Tapi buat saya pribadi yah, bang. Karena saya mengernyit kan pantat pas tahu tiba-tiba di sini ada kata "emangnya", "maafin", dsb. Mungkin karena dirimu ingin menumbuhkan kesan kekanak-kanakan pada diri pinokio, tapi saya yakin dengan pengetahuan dan pengalamanmu, bang haji, masih banyak cara lain untuk menggambarkan kekanak-kanakan pada dialog pinokio, tanpa harus memakai kata "maafin" dan "enggak".
.
Secara keseluruhan, cerita ini enak diikuti, bang. Dan bikin penasaran juga. Saya menghitung ini sudah dua minggu sejak cerita ini dipost, jadi sekali lagi saya bertanya: Mana lanjutannya, woy?
.
Hehehe,
Sepertinya itu saja yang bisa saya bilang, bang. Mohon pemberitahuan darimu kalau-kalau ada komentar saya yang kurang berkenan atau kesannya menggurui. Jujur saya tidak pernah bermaksud menggurui dalam berkomentar di lapak orang. Apa ya, bang, menurut saya, dengan mengutarakan semua hal yang saya rasa janggal dan saya suka dari sebuah cerpen, saya rasa itu hal yang baik untuk memberikan apresiasi pada cerpen yang kita baca juga pada penulisnya, ya kan, bang? Jadi sekali lagi mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan, atau berkesan menggurui. Saya hanya murni loh mengucapkan pendapat saya. Cuma sekedar berpendapat. Karena saya tidak ingin berkomentar hanya bilang "nice", "keren", dll. Saya juga tidak ingin ikut-ikutan saja bilang "bagus", "ini keren sekali!" karena teman-teman yang lain bilang begitu, padahal buat saya pribadi, ada beberapa hal yang mengganjal. Dan sekiranya, informasi ini perlu saya sampaikan kepada penulisnya, kan saya termasuk sebagai pembaca juga, kan, bang?
.
Hehehehe, saya ngomong gitu takutnya ada kesalahpahaman nantinya. :)
.
Sekian dari saya, Bang Haji,
Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan :)
.
Salam Olahraga (y)

Hai Nine! Telat banget yah saya bales komen ini wahaha. Hem, soal prolog. mungkin karena saya kepengaruh wattpad kali yak :p kan di sono ngetren banget tulisan pake prolog segala. Tp ya ga cocok diterapin di cerpen (atau cerbung) kayaknya.
Hem, soal suasana yg "jatuh" gegaa dialognya si Pietro, iya Nine, saya terima >.< maklumi saja ya utk kali ini, hehe.
Terus....soal part berikutnya....sabar yah :v wahahaha
Btw, saya selalu senang dan berkenan sama komen. Makin jujur, makin pedes, saya. malah makin semangat. Karena kritik yg bikin kita maju. So, thanks Nine :)) *lalu melipir*

padahal saya nunggu lho tamatnya, kirain bener seminggu, eh malah posting episode baru lagi dia :p
ngahaha
#abaikan

ngahahaha :v
maklumi saja penulis labil (tapi ganteng) ini bang! #remesgordenuutselly

90

Hallo,

Angkat topi deh buat risetmu, niat banget pastinya. Berapa lama itu ubek-ubek wikipedia?
Kalo boleh tahu, ini draf novel atau cerita bersambung aja? Dengan latar seperti itu sayang rasanya kalo cuma berhenti di dua atau tiga part cerita saja. Deskripsi soal latar tempat, latar budaya itu nantinya bakal jomplang dan sayang dibuang begitu saja. Saya juga seperti yang lainnya, kebingungan mengikuti istilah asingnya. Istilah asing di cerita ini punya banyak jenis sih, ada idiom yg asing, nama tempat, nama mata uang, ras kuda, dan banyak lagi. Mungkin kalo hanya satu atau dua masih bisa ngikuti, ini banyaak hampir di tiap paragraf ada.

Pertimbangkan juga pembacamu, siapa yg baca? Karena kita tidak familiar dengan latar italia apalagi abad pertengahan sangat wajar kiranya pada tersesat hingga meraba-raba maksudnya. Dan itu sayang sekali. Saya juga sulit sih ngebayangin panjangnya footnote kalo sampai dibikin. IMO, tidak perlu semua istilah asing dimasukkan, cukup pilih yang penting saja. Misalnya soal doa itu, menurut saya gak harus sekaku itu. Pakai saja bahasa yang terasa luwes, yang penting dalam doa kan intinya, mau dari abad berapa pun esensinya yang utama.

Saya tahu godaan penulis itu selalu ingin memberi informasi untuk meyakinkan pembaca soal apa yang ditulisnya. Saya kira di awal sudah banyak yang ngeh kok kalo ini berlatar Eropa dengan disebutnya nama2 itu, tapi malah jadi bingung karena bahasa yang nyampur. Yah, talk is cheap sih. Saya kadang juga masih kejebak di situ, tapi apa salahnya saling mengingatkan :)


Segitu dulu komen saya, semoga ada gunanya. Sorry kalo ada kesan menggurui. Keep writing..

Kak Viiin! Maafkan daku yg akhir2 ini jarang berkunjung balik ke lapakmuu ;(( Sibuk soalnya, kak, tp nanti saya pasti datang dan mengapresiasi, hehe.
Terus, soal tulisan ini. Wah, risetnya lama emg kak, soalnya di pertengahan jalan kok sy jadi suka brlajar ttg sejarahnya, hehe. Ini cmn jadi cerbung aja kok kak, ga ada niatan jd draft novel..
Yes, soal overload istilah2 asing, makasih ya sarannya. Dan memang saya kurang pertimbangan utk target pembaca itu sendiri. Umm, apa lg, soal doa, jadinya kaku karena apa ya kak, saya berusaha memertahankan akurasi sejarahnya, jdnya begitu. Mohon dimaklumi ya kak, semiga next time lebih baik, amin.
Kak Vin, makasih bnyak ud berkunjung :))

80

Kasih poin dulu untuk risetnya yang top :9
.
Pertama, saya mau tepuk tangan dengan segala istilah asing yang dimaksudkan untuk membangun kesan Italia kuno. Hebat! Tapi sayangnya, malah jadi pedang bermata dua--untuk saya. Seandainya ada footnote, mungkin saya enggak akan berkoar-koar tentang hal ini. Kebanyakan istilah kurang umum dan sulit dipahami, kecuali sekalian googling. Jadi, saya bukan mendapat suasana Italia kuno, melainkan semakin asing dengan latar.
.
Um, Geppetto. Lelaki bermuram durja akibat kematian adiknya. The Black Plague, benar? Wabah parah yang begitu dijauhi orang di masanya. Saya paham mengapa pendeta itu bersikap begitu kasar. Sekalian juga menampilkan bagaimana orang zaman dahulu terlalu cepat berburuk sangka hanya karena demam ringan. Namun, saya masih belum mengerti apa andil kakaknya dalam kematian adiknya ini. DItunggu kejelasannya di part selanjutnya.
.
Saya suka karakter Massimo. Ia terasa kuat, meski cuma tampil sementara. Saya bisa merasakan kehebatannya memainkan marrionetta.
.
Entah kenapa, saya punya firasat kalau nanti Pietro dijadikan boneka (?). Saya mengendus ada niat tidak baik dari Geppetto.
.
Keseluruhan, cerpen ini cukup menghibur, meski istilah asing bertabur sana-sini dan banyak misteri yang belum terselesaikan.
.
Semangat nulis bang! Ditunggu kelanjutannya :D

Hai Nycto!
Makasih udah berkunjung ya, maaf telat komen hehe. Iya, saya ujg menyadari istilah asing itu membingungkan, overload hehe.

Yes, soal black death, org2 jaman dulu kan emg percaya sm takhayulnya kuat, apalagi emg pas abad kegelapan sains masih cetek bgt, gitu. terus..Massimo Vetra bakal muncul lg kok di part selanjutnya. Terus, wahhahah, tunggu aja ya part berikutnya, pertanyaan akan terjawab di sana :)) Makasih bgt lho nycto? Saya terharu bener.Salam :))

70

Ceritanya agak berputar2 ya? Aku bacanya byk ga ngerti terutama didepan2.. byk kata2 asing.. jdnya tersendat2 blum lg lapar krn byk nyebut nm makanan. Wkwkkwk, jd komentnya semampu saya saja ye... harap maklum...
Pertama, byk kata asing, trus setting tmptnya juga asing. N ga dijelaskan sama sekali. Wow.. pertama saya kira ada penjelasan lebih lanjut ternyata kaga ada. Bcnya bisa sambil googleing.
Kedua, ini jgn2 lanjutannya jd si gepeto pinokio.. wkwkkwkwkkw.... saking penasaran lanjutannya minta spoiler dluan. Hahhahah
Ketiga, mgkn krn saya biasa berdoa yang ada salibnya.. pas saya baca bgn doanya kyknya bahasanya aneh.. kurang mirip dengan bahasa berdoa. Mengenai tingkah pak pendeta yang jahatttt, saya ga koment mungkin krn mmg jalan ceritanya hrs dibuat setragis mgkn biar lebih seru.
Ditunggu lanjutannya, n sori kl komentnya ga berkenan. Haahaha...

BENMI!! Lama bgt ga muncul !!
:D
Anyway makasih banget ya komennya, saya enggak puas emg sama ini jd mudah2an dengan adanya kritik tulisan ini lebih baik lagi. Sayaa tanggepin ya:
1. Kata asing & setting asing. Harusnya saya kasih penjelasan macam catetan kaki gt ya di akhir? Oke, *catet* Terus setting asing itu maksudnya kudu dijelasin lg di mana, gitu? Ini di Itali abad pertengahan sih. Semua hal2 yg ada di tulisan ini emang bener ada sesuai setting waktunya sih (semampu riset kecil-kecilan saya)
2. Hihihi, no komen deh, biar penasaran :p
3. Soal doa, itu saya ambil langsung dari sakramen pengurapan orang sakit abad pertengahan (teks inggris) terus saya terjemahin bebas ke bahasa indo. Sebisa mungkin saya pengen nampilin fiksi historis yg akurat gitu, mudah-mudahan nyampe (kayaknya sih enggak, hiks). Soal pendeta yang "jahat", sama sekali enggak ada maksud menyinggung, suer, kalo ini settingnya di Jawa, mungkin saya bakal bikin soal Kyai yg jahat juga paling ._.
Kira-kira begitu, Benmi. Maaf kalo masih banyak kurangnya. Fiuh.

Apa kabar Benmi, sudah lama tak bersua. Aku rinduuu. ^_^

ya ampyun, ane ngos ngosan lantaran bacanya sejak pagi. Ehm gak bang cuma bcanda hi hi. Bagus tapi poinnya ntar lantaran belum lanjut ehm mash setengah baca sembari memahami cerita, ini sedikit memusingkan dan mau ngejar PERTAMAX Hohoho #alasan #digampar

Makasih, Hidden! :))

covernya mana bang? #kaavuurr