Perjalanan Terakhir

Seorang pria separuh baya berpakaian lusuh mengenyakkan diri di tempat duduk di hadapannya.  Ia membawa bungkusan plastik bening berisi sebungkus makanan yang wanginya kini mulai merebak, sedikit membuat Jenni mual. Belum ia membiasakan diri dengan wangi itu, seorang pria lain yang tengah berbicara dengan ponselnya duduk di samping. Kemudian dilanjutkan oleh seorang ibu muda dengan bayinya yang--syukurlah--tengah tertidur lelap, duduk di samping pria di hadapannya.

Ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan menyebalkan.

Jenni mengaduk tasnya, mencari senjata pamungkas yang sudah ia siapkan sejak berangkat, sebuah iPod dengan baterai penuh dan headphone penangkal suara. Begitu kabel itu tersambung, alunan melodi bersenandung dan gejolak di perutnya memudar. Sakit kepalanya berangsur lenyap. Segalanya memang selalu lebih baik dengan musik menemani.

Jenni mengistirahatkan matanya dan bersandar. Tiga setengah jam yang harus ia tempuh hingga mencapai kota kelahirannya, lalu satu jam lagi perjalanan dengan bis sebelum sampai. Tidak ada siapapun yang menyuruhnya kembali, kalaupun ada, tidak ada keharusan baginya. Ia sendiri enggan untuk menempuh jarak sedemikian jauh dalam kondisi tubuhnya kini yang jauh dari kategori sehat, tapi hatinya bersikeras. Seminggu terakhir, Jenni kerap berdebat dengan suara di kepalanya yang menyuruhnya untuk pulang, dengan hasil kalah telak.

Dihelanya nafas letih.

Kali ini ia sungguh-sungguh letih.

Seakan berusaha menyemangatinya, tak begitu lama, kereta mulai beranjak meninggalkan stasiun dengan irama roda besi yang menenangkan. Seperti biasa, Jenni selalu duduk di samping jendela. Portal besar yang menghubungkannya dengan lukisan-lukisan alam, menghubungkannya dengan kenangan.

Kapan terakhir kali ia naik kereta? Selama ini ia disibukkan dengan hiruk-pikuk kota dan pekerjaan yang tak ada habisnya, bola besi yang merantainya dari perjalanan-perjalanan liburan menyenangkan yang  tak pernah ia lewatkan selama di bangku kuliah dulu.

Kapan terakhir kali ia memesan tiket pesawat? Bahkan paspornya kini sudah kadaluarsa dan hanya sibuk mengumpulkan debu di laci mejanya. Setiap lembarnya penuh dengan cap berbagai rupa dari berbagai belahan dunia, saksi bisu setiap petualangan Jenni dahulu.

Senyum merekah di wajahnya saat gelombang kenangan itu muncul kembali. Ukiran hamparan sawah menguning muncul di jendela. Rekaman video dalam kepalanya memutar kembali perjalanannya ke sebuah desa kecil di barat daya Tiongkok. Lukisan itu tak sama, namun cukup kuat untuk mengirimnya kembali dalam kolam memori. Langit bercorak biru polos, kontras hangat sinar matahari dan sejuk hawa pegunungan, dan kerumunan sapi-sapi berbulu yang hidup di pegunungan.

Ada lagi hawa panas dan berdebu dari padang gurun dengan terik matahari yang membakar tengkuknya. Setiap pijakan kakinya meninggalkan jejak sepatu di pasir yang lembut. Lipatan-lipatan kerudung dan selendang putih yang menaungi kepala, lengan, hingga sekujur tubuhnya dari jahatnya panas. Unta-unta yang tak kenal lelah ia tunggangi.

Ada lagi hijau lembab hutan tropis yang sama sekali berbeda dari cerita-cerita dalam dongeng. Tentu masih dengan udara segar dan gemericik air sungai yang menyegarkan, namun juga dihiasi serangga-serangga nakal dan gatal-gatal pada lengan dan betis setelah seharian menerjang sulur-sulur tanaman dan semak-semak.

Lelah namun bahagia.

Setiap lokasi baru, setiap petualangan baru, yang selalu menyajikan inspirasi dan semangat baru, sudah begitu lama tak ia rasakan.

Jenni menatap kenyataan di hadapannya. Kota yang penuh warna abu-abu. Orang-orang yang tak pernah lagi berjalan santai dan menyapa sekelilingnya. Mata yang selalu tertuju pada uang, uang, dan uang lagi.

Realita.

Pria di samping Jenni masih terus berbicara dengan ponselnya seraya sibuk membuka-buka berkas berisi lembaran-lembaran kertas penuh angka dan grafik. Ibu muda di seberangnya tengah tertidur, bayinya--syukurlah--juga masih terlelap. Si pria separuh baya juga tertidur memeluk erat bungkusan plastiknya.

Semua orang juga letih, hanya saja dengan seiring waktu, tubuh ini menyesuaikan diri dan mengebaskan diri dari kesibukan kota, perlahan berubah menjadi mesin yang terprogram untuk terus berputar dan terulang setiap hari. Tahun-tahun pun lewat dengan cepat.

Begitu cepat. Hingga delapan tahun terasa seperti delapan hari saja.

Delapan tahun sejak terakhir Jenni berkunjung.

 

***

 

Semakin dekat, semakin berat langkahnya. Jalan setapak yang begitu familiar. Setiap tanjakan dan turunan. Jalan singkat yang membawanya menerobos rumput-rumput tinggi.

Masih sama seperti dulu.

Lalu sebuah gundukan di bawah pohon besar yang hingga kini tidak ia ketahui jenisnya.

Jenni berhenti mendekat sepuluh langkah dari gundukan itu, ragu untuk maju. Ragu untuk membuka kembali pintu masa lalu yang pernah membuatnya tak sanggup bangkit.

Nyeri mulai menyeruak di dadanya, membuat sekujur tubuhnya panas.

Ia melangkah maju pelan-pelan.

Selangkah.

Lalu berhenti.

Lalu selangkah lagi. Dan lagi.

Hingga lututnya lemas dan jatuh berlutut di hadapan gundukan yang kini penuh ditumbuhi rerumputan berhias bunga-bunga liar mungil.

"Vino. Aku pulang," isaknya tanpa bisa dibendung lagi.

Jemarinya yang pucat menyapu permukaan rumput yang hijau segar, berharap ada sepercik saja kehangatan di sana, namun hanya dingin tanah yang menyambutnya.

"Sepertinya waktu memperlakukanmu dengan baik," ujarnya lagi seraya menyapu pipinya yang basah, "lihat bunga-bunga indah ini. Aku bahkan tidak membawa bunga untukmu. Maafkan aku."

"Tapi hanya ini kekuatan yang kupunya. Aku bahkan tidak sanggup memikirkan tentang memilih-milih bunga untukmu di toko bunga tanpa menangis. Memalukan bukan?"

Jenni tertawa getir.

"Lama tak pernah menengokmu.... Bukan karena aku tidak mencintaimu, kau pasti sudah tahu bukan? Bukan juga karena aku tidak merindukanmu. Tapi aku benar-benar takut akan sakit yang selalu menusukku setiap kali mengingatmu."

Ia menghela nafas.

"Tapi kali ini, akhirnya aku bisa datang. Kurasa lelah membuatku jadi sedikit nekat. Atau mungkin karena semua ini sudah tidak ada artinya lagi."

"Aku benar-benar lelah, kawan."

Lalu, suaranya menolak untuk keluar lagi. Ia menangis dalam diam ditemani gemerisik angin di sela-sela rerumputan. Hari-harinya yang dihiasi kehadiran Vino terputar kembali.

Indah.

Manis.

Namun begitu menyakitkan.

Hingga matahari hampir terbenam, Jenni tak beranjak dari tempatnya. Masih banyak yang ingin diucapkan, tapi pita suaranya berkehendak lain.

Akhirnya hatinya menyerah.

Ia berdiri dan menatap tempat istirahat sahabatnya itu lama-lama. Wajah Vino yang lembut seakan muncul di sana, tersenyum bahagia melihatnya akhirnya datang berkunjung.

Benar-benar tidak dapat menahan nyeri, Jenni berbalik dan melangkah pulang ditemani air mata yang terus menetes.

Angin sore menyamarkan bisikan terakhirnya sebelum pergi dan tidak pernah kembali lagi.

"Aku akan segera menyusulmu, kawan. Tidak lama lagi...."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vinegar
vinegar at Perjalanan Terakhir (5 years 51 weeks ago)
80

Suka sekali dengan narasinya. Juga monolognya, walaupun terkesan kaku. Mungkin kalau pake bahasa yang sedikit luwes, bahasa obrolan sehari-hari mungkin, bisa lebih mengena. Atau sengaja untuk kesan dramatis?

Kalau dibaca secara terpisah segmen satu dan dua memang seperti berdiri sendiri2. Barangkali, karena jalinan yg menghubungkan kedua segmen ini yang kurang kentara.

Semoga berkenan dan salam kenal :)

Writer rian
rian at Perjalanan Terakhir (5 years 52 weeks ago)
70

Saya ngerasa agak datar sih. Setuju sama Benmi, penceritaannya kayak enggak fokus, kalau misalnya intinya mau menceritakan gejolak batin Jenni tentang Vino, kenapa harus dimulai dengan pembukaan yang--menurut saya--sedikit bertele-tele. Emosi tokoh juga enggak nyampe ke saya, kemungkinan besar karena saya enggak kenal tokohnya, jadi rasanya sia-sia dramatisasi yang udah rempong2 dibikin sama penulis.

Tapi ini cuma pendapat saya aja. Selain yang saya sebutin di atas kayaknya saya enggak ada kritikan, narasinya ngalir, enak dibaca. Udah, gini aja. Maaf kalau enggak berkenan, dan salam kenal.

Writer benmi
benmi at Perjalanan Terakhir (5 years 52 weeks ago)
70

Ceritanya ini seputaran kenangan... tapi kenapa pas saya baca lebih byk nyeritain hal2 yg menurutku seharusnya ga perlu mendapat pembahasan terlalu byk... ibu yg gendong anak n segala macam.. ampe berulang kali. Kenapa ga dceritakan lebih byk tentang pengalaman buruk di masa lalunya, emosi n frustasi si tokoh yg ga berani ke kuburan sahabatnya.. n akhirnya resolusi yg didapat oleh tokoh hingga akhirnya mengunjungi makam sahabatnya. Rada ga jelas sih.. pergolakan jiwa sang tokoh. Anw.. sorry kl komentarnya ga berkenan.. salam

Writer Shinichi
Shinichi at Perjalanan Terakhir (6 years 1 day ago)
80

hai, Zhang :)
masih ingat aku? tiga tahun yang lalu kau terakhir posting di sini. 8 tahun sudah umur akunmu. apa kau tidak rindu aku? ah, mungkin saja kau benar-benar lupa. tapi tak mengapa. selalu ada tempat buatmu di sini. juga untuk cerita-cerita yang kau bawa. aku suka dengan yang ini. rasanya seperti ada alunan angin yang menerpaku ketika membacanya. lembut dan sedikit banyak aku bisa merasakan hal yang sama. tapi tentu, aku tidak akan bicarakan teknik; kupikir kau malah ingin meluangkan waktumu untuk berbagi hal-hal yang kaudapatkan selama kau pergi ;)
.
selamat datang kembali, Zhang.
kip nulis dan ahak hak hak :)

Writer Zhang he
Zhang he at Perjalanan Terakhir (5 years 52 weeks ago)

Hi ^_^ masih ingat dong! Mana mungkin lupa. Justru karna kangen makanya kembali ke sini, asal aja posting satu cerita gitu. Ternyata di sini udah lumayan sepi, teman2 yang dulu udah menghilang semua. Hiks... Jaman2 bahagia, ke mana perginya.

Writer Shinichi
Shinichi at Perjalanan Terakhir (5 years 52 weeks ago)

ah, kau ini. ya melangkah ke level berikutnya dong :p
ada yg udah beken, ada yg realistis. ya gitu2 :D satu yg masih tetep tinggal, ya aku, Zhang. ahak hak hak.

Writer Zhang he
Zhang he at Perjalanan Terakhir (5 years 52 weeks ago)

Iyah, udah lama banget vakum nulis, sejak ga aktif di kemudian. Tapi sekarang mulai ada waktu-waktu luang lagi, jadi mau mulai nulis lagi ^_^ Yaaah, seenggaknya masih ada wajah lama yang aku kenal di sini. Hehe, salam kangen~!

Writer Atre
Atre at Perjalanan Terakhir (6 years 4 days ago)
80

Bagian depan sepertinya perlu perbaikan.
Sayangkan kalau bagian tengah dan ending bagus tapi depannya kurang?
Ibarat rumah dengan bagian depan yang tak terawat, sementara bagian tengah dan belakang indah. Orang yang pertama melihat mungkin enggan masuk ke sana.

Writer hidden pen
hidden pen at Perjalanan Terakhir (6 years 5 days ago)
60

kereta mulai beranjak meninggalkan stasiun
dengan irama roda besi yang menenangkan. Perasaan di mana-mana, sepur ntu suaranya melengking kayak seretan kayu. Ehm ceritanya bagus, aku terhanyut ketika ada hal yang mengingatkan tentang kerinduan dan penghayatan pada seseorang. Hmm ada yang janggal sh ketika ada kata berulang. Kesannya berputar-putar gitu ceritanya. Umm ini menurutku loh.