Buku Biru

Untuk A.D S.Wati

Suatu hari, perempuan itu masuk ke toko buku. Ia berkeliling sebentar di rak-rak berisi buku-buku yang ia sangat suka, atau sekedar ia suka (karena tidak semua buku di sana berkualitas). Ia hanya punya anggaran cukup kecil untuk membeli buku, karena ia sudah berkeluarga, tidak bisa bebas membawa buku sebanyak mungkin seperti saat ia sekolah atau kuliah dulu.

Hari itu, akhir tahun, dan ia punya lebih banyak uang dari sebelumnya. Bisa saja ia membawa dua buku ke rumah, di mana jarang bisa ia lakukan. Sudah syukur bisa membawa satu buku dalam satu bulan, meski ia harus sedikit bertengkar dengan suaminya karena hal itu. Namun hari itu, ia sangat tertarik pada buku bersampul biru, tanpa judul atau nama pengarangnya. Hanya warna biru, tidak serupa air lautan yang bergelombang berpadu cahaya matahari, tidak pula seperti langit yang kadang berawan. Hanya biru, warna biru tunggal nan murni.

Harga buku itu sama dengan dua buku biasanya, meski tebalnya sama, dan ia tidak bisa membaca ulasan yang umum ada di belakang sampul, atau sinopsis singkat tentang isi buku tersebut. Namun anehnya, hal itu malam membuatnya makin penasaran.

Dengan pertimbangan yang cukup singkat, ia membawa buku itu ke kasir, membayarnya seharga dua buku, dan pulang ke rumah.

Ia sampai di rumah sekitar jam sembilan. Ia tak perlu risau akan makan siang, karena suaminya tak ada di rumah. Pria yang dicintainya itu sedang bekerja dan pasti makan di tempat kerjanya. Ia pula tak perlu membersihkan rumah, atau menjemur pakaian, karena sudah ia lakukan sebelum pergi tadi. Sekarang, ia hanya perlu duduk nyaman dan membaca Buku Biru itu.

Setelah menyingkirkan pembungkus plastiknya (inovasi yang menurutnya sedikit mengganggu karena tak dapat melihat halamannya saat di toko buku). Ia membuka halaman pertama, dan menemukan halaman yang kosong. Ia takut halaman selanjutnya juga demikian, seperti kisah yang pernah ia baca dulu. Tetapi ia lega saat menemukan kata "Anuisme" di halaman selanjutnya. Hanya itu, entah judul atau nama penulisnya, dan pada halaman selanjutnya ia menemukan bab pertama.

"Buku yang aneh," komentarnya sebelum membaca.

Bab pertama itu bercerita tentang seorang laki-laki yang hidup sendirian di sebuah rumah, dan hendak bunuh diri karena tulisan yang ia buat tidak pernah mendapat pengakuan. Tulisannya selalu ditolak penerbit, dan temannya mencemooh tulisannya tersebut. Tetapi ia terus menulis sampai sepuluh tahun, dalam masa itu kehilangan pekerjaan, kekasih, dan teman-temannya. Namun tulisannya tetap tak memperoleh pengakuan.

Bab pertama itu membuat perempuan itu larut dalam perasaan haru, karena ia seperti merasakan juga penderitaan penulis, dan merasa sama dengan dirinya. Ia adalah perempuan, istri dari seorang laki-laki yang pernah menulis cerita, tetapi tak pernah diakui oleh orang-orang dekatnya, kecuali mereka yang berada entah di mana (orang-orang yang punya nama unik masing-masing, dan segudang cerita dibaliknya, ada pula kisah pilu masa lalu). Merekalah yang membuat ia bertahan untuk membaca buku, dan menulis cerita ketika waktu senggang.

Bab dua dari buku itu masih bercerita tentang penulis, dan masa lalunya. Penulis adalah anak dari keluarga miskin, hidup di bawah kesederhanaan, tetapi bangkit setelah ia berhasil lulus di sebuah universitas dengan nilai memuaskan. Ia bekerja, mengumpulkan uang dengan tekatnya, tetapi ketika kekayaan telah ia raih, orangtuanya meninggal, dan ia sendirian. Ia menemukan keluarga di buku-buku cerita yang ia baca, dan mulai candu untuk bertemu keluarga-keluarga lain di buku yang lain. Dan ia mulai menulis keluarganya sendiri.

Ia menulis ayah yang baik, bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji lumayan, dan setiap akhir pekan selalu menyempatkan diri berlibur bersama keluarga. Ia menulis ibu yang murah senyum, dan memberinya kebebasan untuk melakukan apapun asal tidak kelewat batas. Ia juga menulis tentang kakak perempuan yang cantik, dan selalu memberinya kecupan di pipi meski ia sudah besar.

Bab 3 bercerita tentang penulis yang berada di kamarnya, hari-hari pertama tulisannya ditolak, saat ia masih bekerja. Penolakan itu membuat ia kalut, dan ingin sebuah kesenangan. Ia ingin minum air yang dapat membuatnya mabuk agar ia lupa tentang penolakan itu, tetapi ia takut nanti menjadi pecandu. Mabuk bisa membuat akalnya hilang, dan mungkin bisa merusak otaknya. Bagaimana ia bisa menulis jika otaknya sudah tak berfungsi seperti sedia kala.

Ia kemudian mempertimbangkan untuk memakai narkoba, tetapi itu malah lebih parah. Mungkin, ia bisa mempertimbangkan kesenangan lain, yang tak membuat otaknya rusak, dan hilang kesadaran. Ia kemudian memikirkan tentang wanita, hal yang selalu ada baik ketika minum atau memakai narkoba. Wanita mungkin saja membuat candu, tetapi mereka tak bisa menghilangkan kesadaran, atau merusak otak.

Perempuan yang sedang membaca buku itu mengernyitkan dahi. Ia tak menyukai gagasan itu, pun arah alur dari cerita yang ia baca. Ia berhenti sebentar, menimbang apakah ingin melanjutkan membaca atau tidak. Tetapi beberapa menit kemudian ia memutuskan untuk terus membaca.

Bab 4 bercerita tentang wanita pertama yang penulis itu panggil. Pelacur kelas atas, mantan artis (atau masih artis tetapi hanya berperan sebagai figuran). Detail tentang persetubuhan itu begitu detail, bahkan menggunakan kata-kata yang kurang pantas untuk buku cetak.

Perempuan tersebut merasa muak dan berhenti membaca. Ia menaruh buku tersebut di rak paling bawah, dan segera pergi ke dapur untuk mengambil minum. Ia tidak makan siang, karena tidak bisa menelan. Di kepalanya masih tergambar jelas adegan yang menurutnya mesum dari buku bersampul biru itu. Meski ia harus mengakui, gaya penceritaannya bukan seperti amatiran, malah sangat indah dengan analogi yang pas. Tidak berlebih atau kurang. Tetapi ia selalu merasa tidak nyaman jika menemukan cerita seperti itu.

Buku bersampul biru itu ia biarkan beberapa hari tanpa disentuh, karena ia tak ingin melanjutkan untuk membaca. Tetapi ia takluk di hari ke tujuh, ketika cerita-cerita di internet (cerita terjemahan dunia karena cerita negeri sendiri seperti pengecut yang bangga menang di kandang sendiri) sudah ia baca semua, dan ia tak bisa tenang kalau tidak membaca sesuatu.

Pembacaan kembali buku itu pun tidak sanggup ia jaga selama satu jam, setengah jam saja ia sudah ingin muntah, karena bab-bab selanjutnya hanya bercerita tentang kegagalan si penulis, dan bagaimana tokoh dalam cerita tersebut menghibur dirinya dengan para jalang-kocok (istilah dalam buku itu) yang bisa ia panggil dengan lembaran uang.

Perempuan itu sekali waktu berjanji untuk tidak membaca buku itu lagi, tetapi beberapa hari kemudian ia melanggar janji itu. Ia membaca lagi, lagi dan lagi, sampai tamat dan ia memutuskan untuk menulis tentang buku tersebut.

Ia mengkritik buku tersebut tak lebih dari komersialisasi kecabulan dalam bentuk buku, ketelanjangan yang seharusnya tidak dicetak, dan tidak lebih dari contoh buku paling buruk. Tak ada nilai baik dan manfaatnya. Kritikannya yang ia terbitkan di internet menuai berbagai respon, karena ia menulis dengan begitu piawai, hasil belajar menulisnya selama ini. Respon paling banyak adalah dukungan atas kritiknya tersebut.

Ia berpikir, dirinya adalah orang yang berani mengkritik pedas buku yang memang harus dimusnahkan. Ia merasa apa yang ia lakukan dapat membuat buku bersampul biru lenyap dari peredaran, beserta segala kecabulannya. Namun ia salah, buku itu malah tambah laris, bahkan dicetak ulang setiap hari. Buku itu makin populer, dan dibeli oleh banyak orang berkat kritikannya yang pedas.

Hal itu membuatnya makin pedas dalam mengkritik, bahkan membuat sebuah gerakan anti "Buku Biru" di internet. Setiap hari ia kebanjiran pendukung, dan ketika seorang calon wali kota ikut mendukungnya, ia merasa akan menang.

Kabar baik itu ia terima satu bulan kemudian, Buku Biru itu dilarang di tempat ia tinggal setelah calon wali kota yang mendukungnya terpilih. Tetapi kabar buruk juga ia terima satu bulan setelah itu. Wali kota tersebut terindikasi melakukan hal cabul di hotel bersama bersama wanita yang bukan istrinya, dan pelarangan buku itu tidak lagi bisa diteruskan.

Perempuan itu kemudian menyerah. Buat apa lagi meneruskan jika yang mendukungnya hanya bisa berkoar di depan publik, lalu ia melakukan kecabulan ketika publik tak melihatnya. Ia juga sedang hamil, dan tak mau memikirkan hal yang membuatnya marah, juga hal negatif lainnya.

Semakin bertambah usia kehamilannya, pikiran tentang Buku Biru itu perlahan ia lupakan. Bahkan ia tak ingat lagi akan buku tersebut setelah ia melahirkan.

Lima tahun setelah itu, ia menemukan Buku Biru tersebut tanpa sengaja. Berada di bawah tumpukan buku lama yang berada di gudang. Entah kenapa saat melihat buku itu ia merasa bahagia, seperti saat ia berjumpa untuk pertama kali dan mengambil buku itu dari raknya. Buku itu masih bagus meski sudah menguning, dan ia kembali ingin membacanya.

Ia kemudian mencari informasi akan buku itu, dan ternyata sudah tidak terbit lagi dari tiga tahun lalu. Bahkan buku itu bisa dibeli dengan harga murah di tempat-tempat tertentu. Hal itu menambah keinginannya untuk kembali membaca buku tersebut.

Ia masih merasakan perasaan yang sama saat membaca bab-bab awal, tetapi merasa berbeda ketika lanjut ke bab-bab berikutnya. Ia melihat tokoh penulis dalam buku itu bukanlah orang cabul, ia hanya korban dari butanya media masa akan karya yang berkualitas. Perempuan itu bahkan merasa karya penulis dalam buku itu setara dengan penulis dunia, tetapi media tempat ia dilahirkan tidak tahu apapun tentang karya dunia. Mereka mencari karya yang berpotensi untuk dijual, dan memberi iming-iming uang serta ketenaran bagi penulis-penulisnya, yang dengan bodohnya menulis apa yang dikehendaki pasar.

Perempuan itu merasa bersalah karena dulu mengkritik Buku Biru tersebut. Ia begitu fokus pada kecabulannya sehingga tak bisa merasakan pesan khusus yang tertanam di bawah lapisannya. Untuk menebus kesalahannya itu ia mengulas kembali buku itu dengan cara berbeda.

Kritiknya kali ini (yang lebih menyerupai bentuk dari apresiasi) dihujat banyak orang. Ia dituduh orang cabul, dan mendukung praktek itu. Hal itu membuatnya merasa seperti penulis Buku Biru itu saat awal-awal ia melakukan kritik. Bedanya, penulis itu meraih untung dengan larisnya buku tersebut, sementara ia tak mendapatkan apapun selain stigma buruk. Tetapi ada satu komentar yang membuat hatinya senang, karena sependapat dengan dirinya. Ia membalas komentar itu dengan senyum di bibir dan rasa hangat di hati.

"Anda benar. Kadang, di lembah keburukan tersimpan kejujuran yang murni, begitu sebaliknya."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer benmi
benmi at Buku Biru (5 years 18 weeks ago)
80

Jadi ini ceritanya memotivasi kita untuk menulis blue book jg ya kan? Hahhahahhah....
Mari kita tulis cerita yg jujur bersama... bila perlu dukung n bikin tantangannya.
Teruskan berkarya... anuisme... bravoooo...

Writer torii94
torii94 at Buku Biru (5 years 18 weeks ago)
60

Ide ceritanya menarik, dan pesan moralnya juga dapet.
Penilaian itu tergantung pada sudut pandang yang menilainya, juga tegantung pada situasi dan kondisi waktu itu. Good job kak! Hee ^^

Writer Atre
Atre at Buku Biru (5 years 18 weeks ago)
90

Menarik! Cerpen yang menceritakan reaksi tokohnya terhadap jenis buku yang tidak dia suka dan bagaimana reaksi setelah dia menumpahkan ketidaksukaannya.
Mungkin banyak hal yang bisa digali dari cerpen ini, selain bagaimana mengulas sesuatu ketika kita tidak menyukainya.

Writer hidden pen
hidden pen at Buku Biru (5 years 18 weeks ago)
90

apa kabar mas LQ. ^_^ aduh gagal pertamax hehe. Hmm aku tau di toko buku itu raknya pasti banyak buku :v dan sepertinya cerita ini kayaq pengalaman sendiri dengan judul dan penulis di sensor olehmu. ^_^ ...ceritanya bagus, mas. Hidup emang aneh, hal tidak baik jadi baik dan sebaliknya. ^_^

Writer Amoon
Amoon at Buku Biru (5 years 18 weeks ago)
70

Good Bleach

Writer Silverain
Silverain at Buku Biru (5 years 18 weeks ago)
100

Terkadang setelah manusia menemukan hal buruk pada diri seseorang, dia akan terfokus pada keburukannya dan melupakan kebaikannya :( cerita yang bagus. moral valuenya dapet. boleh ngasih nilai 100 disini gak sih ?