Perpecahan

Untuk Egar V.N

Kami sudah berteman sejak kelas tujuh--enam tahun--dan tak pernah sekali pun bertengkar, dan memang tak ada alasan untuk kami bertengkar, termasuk saat pulang bersama setelah menyelesaikan ujian akhir. Ia hanya bilang dirinya menyukai perempuan, fakta yang baru kuketahui setelah ia ungkapkan selama rentan pertemanan kami.

Kami sudah berteman sejak kelas tujuh--enam tahun--dan tak pernah sekali pun bertengkar, dan memang tak ada alasan untuk kami bertengkar, termasuk saat pulang bersama setelah menyelesaikan ujian akhir. Aku hanya bilang diriku menyukai perempuan, fakta yang baru terungkap setelah aku merasa siap selama rentan pertemanan kami.

Aku meninggalkannya tanpa kata-kata di kursi kafe, bahkan sebelum pesanan kami diantarkan, atau saling melukiskan masa depan, atau mengenang masa lalu, sebelum kami bilang terima kasih satu sama lain atau mengucapkan sampai jumpa lagi dalam keadaan lebih baik.

Ia meninggalkanku tanpa kata-kata di kursi kafe, bahkan sebelum pesanan kami diantarkan, atau saling melukiskan masa depan, atau mengenang masa lalu, sebelum kami bilang terima kasih satu sama lain atau mengucapkan sampai jumpa lagi dalam keadaan lebih baik.

Aku sedih membayangkan persahabatan kami yang lama itu harus berakhir dengan pengakuan sangat jujur, yang perlu keberanian untuk mengatakannya. Aku merasa tak bisa marah padanya karena menyembunyikan kebenaran itu cukup lama, aku bahkan menghargai keberaniannya mengakui hal tersebut. Justru aku yang merasa buruk, bersalah karena meninggalkannya begitu saja setelah mengetahui rahasianya, tanpa memahami alasan dari perbuatanku itu.

Aku sedih membayangkan persahabatan kami yang lama itu harus berakhir dengan pengakuan sangat jujur, yang perlu keberanian untuk mengatakannya. Aku merasa tak bisa marah padanya karena pergi begitu saja, aku bahkan sudah membayangkan ia akan melakukan hal itu. Justru aku yang merasa buruk, bersalah karena tak mengatakannya sejak dulu, tanpa memahami perasaannya atas perbuatanku itu.

"Ia pendosa!" kata orang-orang. "Ia laknat!" kata keluargaku. "Ia temanku!" kataku.

"Kamu pendosa!" kata orang-orang "Kamu laknat!" kata keluargaku. "Ia temanku!" katanya.

Aku sering mendengar orang-orang yang berbeda sepertinya dikatakan pendosa, nista, tetapi apakah manusia berhak menghakimi sesamanya pendosa, ketika mereka tahu ada perbuatan dosa yang mereka lakukan dengan sengaja?

Aku sering mendengar orang-orang yang berbeda sepertiku dikatakan pendosa, nista, tetapi apakah manusia berhak menghakimi sesamanya pendosa, ketika mereka tahu ada perbuatan dosa yang mereka lakukan dengan sengaja?

"Ia penyakit yang harus dimusnahkan dari masyarakat kita!" lalu aku bertanya, kalau ia memang penyakit berarti ia menderita, tidakkah kita harus menolongnya, mengobatinya, agar penyakit itu hilang dan ia bisa menjadi manusia seperti semula?

"Kamu penyakit yang harus dimusnahkan dari masyarakat kita!" lalu ia bertanya, kalau kamu memang penyakit berarti kamu menderita, tidakkah kita harus menolongnya, mengobatinya, agar penyakit itu hilang dan kamu bisa menjadi manusia seperti semula?

Ia temanku, sahabatku berbagi suka-duka, dan rahasia-rahasia memalukan juga menyenangkan (kecuali yang satu itu). Haruskah aku meninggalkannya ketika ia mengaku berbeda?

Ia temanku, sahabatku berbagi suka-duka, dan rahasia-rahasia memalukan juga menyenangkan (kecuali yang satu itu). Haruskah aku melepaskannya ketika ia sudah tahu aku berbeda?

Ia sahabatku yang baik, perhatian, dan selalu berada di sampingku jika dibutuhkan. Haruskah aku meninggalkannya ketika aku tahu ia berbeda?

Ia sahabatku yang baik, perhatian, dan selalu berada di sampingku jika dibutuhkan. Haruskah aku melepaskannya ketika ia tahu aku berbeda?

Adakah perbedaan ketika aku tetap berteman dengannya?

Adakah perbedaan ketika aku tetap berteman dengannya?

Tidak.

Tidak.

Adakah perbedaan ketika aku tetap diam?

Adakah perbedaan ketika aku tetap diam?

Aku akan kehilangan teman terbaikku.

Aku akan kehilangan teman terbaikku.

Aku melangkahkan kaki pergi ke tempat aku meninggalkannya, tak peduli pada asumsi mereka-mereka yang tak mengerti betul tentang ia yang berbeda, pun pada kemarahan orangtuaku. Kami teman, sahabat, saling berbagi bahu untuk kesedihan, dan derai air mata untuk kegembiraan.

Aku melangkahkan kaki pergi ke tempat ia menuju setelah meninggalkanku, tak peduli pada asumsi mereka-mereka yang tak mengerti betul tentang diriku yang berbeda, pun pada kemarahan orangtuanya. Kami teman, sahabat, saling berbagi bahu untuk kesedihan, dan derai air mata untuk kegembiraan.

Aku tidak mau meninggalkannya.

Aku tidak mau kehilangannya.

Tetapi yang kudapat hanya meja kosong.

Tetapi yang kudapat hanya rasa kecewa.

Dan bulir-bulir air mata kesedihan di pelupuk mata, serta dedaunan yang jatuh dari dahan besar di sekitarnya.

Dan bulir-bulir air mata kesedihan di pelupuk mata, serta bebatuan yang dilempar orang-orang dari sekitarnya.

Aku kehilangan ia untuk selamanya.

Aku kehilangan ia untuk selamanya.

Ia, sahabatku tercinta.

Ia, kekasihku tercinta.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rochmatul_Islamiyah
Rochmatul_Islamiyah at Perpecahan (5 years 17 weeks ago)

nyaman di baca ;)

Writer The Smoker
The Smoker at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)
80

sama sii kaya wmhadjri, jadi inget The Djenar.
di sini masii terasa klise tapi.
sekali pindai saya udah tau kemana arahnya.
makanya saya sempat skip ke akhir dan langsung dapetin jawabannya di sana tanpa ngerasa ketinggalan apapun.
liat tagnya sempet saya mendamba keliarannya seperti anak2 pantai itu, mungkin (saya belum bisa menjelaskan perasaan apa sii sebenarnya selepas baca yg itu).
tapi saya juga tau sii, penulis mungkin sengaja menyajikan dengan bentuk seperti ini. dan kemasan seperti ini dekat sekali dengan kemonotonan.
*lemparAnu*

Writer izaddina
izaddina at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)
90

Suka sama point of view dan isi ceritanya, deh ^_^ LGBT memang selalu nikmat untuk dibuat cerita *lalu dibunuh*

Hanya saja kadang bingung baca pov-nya. Gaya bahasanya persis,tidak ada ciri yang menonjol ygmembedakan 2 tokoh tsb.

Maaf kesingkat2, lepi tak mau diajakkompmromi

Writer Wanderer
Wanderer at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)
90

Sepertinya kurang lebih saya mengerti twistnya.
Gaya penceritaannya mengganjal buat saya pribadi. Bila mau menampilkan dua sudut pandang sekaligus dalam membahas peristiwa yang sama, akan lebih menarik bila penggunaan kata-katanya dibuat berbeda. Beragam, bukan pengulangan. Dua sudut pandang di atas menggunakan narasi yang terlalu mirip, kesannya jjadi seperti membaca hal yang sama --dengan hanya sedikit perbedaan-- sehingga saya keburu ingin cepat-cepat selesai membacanya. Tapi twist yang kamu suguhkan di akhir, tentang salah satu tokoh yang menganggap tokoh lain sebagai kekasihnya, menjadi keunggulan yang membuat saya terpuaskan dengan cerita ini.
Semoga berkenan.
Salam :)

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)

Syukurlah ada yang paham juga twistnya ^_^
saat nulis saya juga mempertimbangkan hal itu, tapi saya putuskan sama saja semunya meski tahu risiko akan hal itu.
Komenmu selalu berkenan,
salam dan terima kasih.

Writer benmi
benmi at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)
70

Sedikt bingung pas awal2.. mgkn blm terbiasa baca cerita yang cara penciritaannya begini. Konfliks yang ditampilkan bagus. Tapi menurutku masih kurang untuk menarik emosi dari pembaca. Padahal penceritaan dari hati ke hati ini setidaknya bisa membuat pembaca kasian, setidaknya simpati walau tokohnya disini ga harapin simpati jg dr pembaca. Hahahah
Menurutku emosinya masih krg greget aja gitu.. anw.. sorry kl komentnya ga berkenan..

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)

Terima kasih, Benmi ^_^
Saya akan memperhatikan hal itu kedepannya, tentang emosi ini.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)
100

Saya kasih poin ekstra buat gaya bertutur kamu yang mengingatkan saya sama salah satu cerpen Djenar (Jangan Main2 Dengan Kelaminmu). Kreatif ^^
Isinya masih kurang nendang sih di saya. Senada sama Fara di bawah, bingung kenapa dia nganggep sahabatnya itu kekasih.
Cheers Elqi!

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)

karena ia mencintainya secara diam-diam,
jadi yang normal ini beranggapan ia kehilangan sahabatnya tercinta, sementara yang tak normal kehilangan kekasihnya tercinta.
Saya sengaja memilih kata "kekasih" yang kurang lebih orang yang disayangi (dicintai) baik secara terbuka atau diam-diam (lebih ke arah personal) dari pada "pacar" yang kesannya diamini dua pihak atau lebih (umum). Dan juga kata "kekasih" lebih ringkas daripada "orang yang kucintai (diam-diam),.
begitu, **elus bewoknya**
terima kasih telah berkunjung ...

Writer FaraniD
FaraniD at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)

Astaga Bang, judul cerpennya ....

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)

Wkwkwkwk, biasa, Djenar Maesa Ayu selalu greget aw aw aw bikin cerita dan judul ^^
Btw, di cerita itu, Djenar juga gonta-ganti perspektif tiap paragraf, kayak cerpen ini, cuman lebih membingungkan karena ada 4 perspektif.

Writer FaraniD
FaraniD at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)
70

Bentar, saya bingung tingkat dewa. Jadi maksudnya apa? Mereka pacaran? LGBT? Terus kenapa di paragrap akhir,
"Ia, sahabatku tercinta."
.
Saya bingung T^T < .
Salam, Fara.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)

jadi seperti ini, dua orang itu bersahabat dan ketika sudah menjalankan ujian akhir yang satu bilang ia suka perempuan (lesbian), dan sahabatnya yang satu ini baru tahu hal tersebut, jadi aku bikin paragraf dengan sudut pandang masing-masing, dan yang bilang "Ia sahabatku tercinta" itu yang normal, yang satu lagi jatuh cinta diam-diam pada sahabat yang normal tersebut.
Terima kasih, Fara.

Writer ichii06
ichii06 at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)
80

Ada.. Paragraf yang terulang?
Atau yang bacanya keulang?
Sebentar, sebentar.. *scroll*
Iya, paragraf pertama dan keduanya sama. Hehehe.
Konfliknya bagus, saya suka.
Salam, kak. XD

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)

Anu, sudahkan Anda membaca sampai akhir?
Tapi, terima kasih telah berkunjung.

Writer ichii06
ichii06 at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)

Eugh, maafkan sayaaaa. T.T
Setelah membaca sekali lagi, otak saya yg jalannya agak lambat ini mengerti. Maafkaaaaan, sesepuh #banjir air mata
Tapi, sekali lagi, ini keren!
Salam. XD #tarik selimut

Writer hidden pen
hidden pen at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)
80

kukira dalam perpecahan akan ada cakar-cakaran, atau paling gak demo warga kampung. Tapi cuma konflik bathin akan perbedaan. Yaahh hehe tapi aku suka konfliknya. Hmm syeeddiih ^_^ #kaavvuurr #termehek-mehek

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Perpecahan (5 years 18 weeks ago)

saya tidak sekejam itu, tubuh itu untuk dinikmati, bukan untuk dilukai, baru kalau hati ... :v
Hidden termehek-mehek, apa kata dunia?
terima kasih ^_^