Waltz Untuk Soremu

Ketika Fay sampai di pintu lift dengan rambut kusut masai, mungkin orang berkemeja birunya sudah mendarat di lantai sebelas lalu duduk tenang di meja kerjanya sambil menyeruput kopi. Kemudian ia menjadi bingung hendak berhenti di lantai berapa, seharusnya cukup menekan angka 3, tapi tidak. Ia diam saja berdiri di dalam lift yang hampir penuh. Hingga lantai demi lantai terlewati menyisakan tiga orang termasuk dirinya menuju lantai paling atas. Dirapikannya rambut yang berantakan lalu menekan angkanya, turun kembali. Menit demi menit di dalam sana terasa lambat, sisa aroma parfum, sabun, minyak angin, dan aftershave masih samar tertinggal. Dua orang perempuan entah di lantai berapa masuk dan turun lagi entah di lantai berapa. Lalu langkahnya telah berpadu bersama langkah-langkah lainnya bersahutan di lantai tiga, mengantre pass card.

Inka hari ini terlihat segar memakai blus satin warna kuning, hadiah dari pacar barunya. Fay tahu ia tak suka warna kuning tapi memaksakan diri untuk memakainya di hari Senin, mestinya Senin itu identik dengan blus katun dan harus putih. Inka sendiri yang bilang begitu, ia sendiri juga yang melanggarnya. Demi cinta, katanya.

"Eh, ketemu nggak?" Matanya bersinar penuh selidik, di atas kursi ia meluncur mendekati meja Fay.

Yang ditanya hanya mengangkat bahu ringan, jawaban yang sama seperti pagi-pagi lainnya.

"Kurang pagi sih, lu.."

"Ih, males amat"

"Emang." Inka merapikan lengan blusnya.

"Kalo nggak nyaman ngapain dipake, sih?"

"Ah, lu kaya nggak pernah jatuh cinta aja deh.." Tangannya kembali merapikan kerah blus. Sudah sempurna betul di tubuhnya, padahal.

*****

Ia merasa butuh lebih dari kopi untuk sore ini, mungkin kue waffle dan sebuah percakapan bisa membantu rileks setelah otaknya bekerja seharian. Inka tentu saja sudah kabur duluan dengan pacar yang itu, yang menghadiahinya blus kuning. Mungkin ia merasa harus lapor bahwa hari ini dengan segenap cinta telah diruntuhkannya satu ego, blus-katun-putih-untuk-hari-senin. Demi kekasihnya.

Jadi ketika selepas jam kerja tadi Niko dan Surya mengajaknya ngopi bareng di dekat kantor, ia langsung mengiyakan. Dan di sanalah mereka duduk sekarang, di antara pekerja keletihan yang sedang menikmati sore dengan teh, kopi, atau candaan. Matahari sore menyorot dari antara celah gedung dan bangunan, jatuh di meja dan lantai dan sebagian wajah mereka.

"Kalo Senin udah lewat rasanya lega banget ya. Lu pada perhatiin nggak, di sini paling rame kalo Senin sore gini nih.." ujar Surya sambil menghidu kopinya.

"Ah, Senin ato Kamis buat gue nggak ada bedanya, tuh." Niko mematikan handphone lalu mengantonginya kembali. Ia bersandar sambil membuka kancing kerahnya.

"Kenapa lu, kok dimatiin?" Fay menyuap waffle ke mulut sepotong demi sepotong.

"Niko sih, biasa.. Kebanyakan orderan, susah ngebagi schedule."

"Hahaha, enggaklah. Jam segini tuh enaknya nikmatin yang ada di sekitar lu aja. Singkirin handphone, tv, internet.. ajak ngobrol orang di sebelah lu, make some new friends, ngelihat langit."

"Itu bukan karena di sini nggak ada wi-fi kan?"

"Paket data gue masih penuh, kali. Ngehina lu.."

"Tapi, apa iya sih kita bisa lepas dari gadget seharian. Maksudnya, yang bener aja.. gue yang mejanya sebelahan sama Inka aja komunikasi pake messenger. Bangun tidur mesti pake alarm, buka to-do list, lihat update berita, semuanya lewat handphone.."

"Makanya pake jam weker, Faay.. oldschool dikit nggak dosa kok."

Surya menyulut rokoknya sambil mengarahkan pandang pada beberapa pejalan kaki yang melintas.

"Sejak kapan sih kita paranoid sama hal-hal kaya gitu, Fay? Sejak ada teknologi seperti ini, kan. Jadinya adiktif karena kemudahan yang kita dapat, ibaratnya.. semesta ada di genggaman kita. Anjrit, semesta.."

"Gile, bahasa lu, Nik. Yang mantan anak sastra begitu, tuh. Ibarat semesta pepat dalam lima inchi.. Kayak liriknya Ugoran."

"Kok lu tahu Ugoran? Melancholic Bitch!" Mata Surya melebar menatap gadis di sampingnya.

"Tahu dong.."

"What bitch?" Pandangan Niko menoleh ke arah meja yang lain, seorang perempuan memakai terusan tanpa lengan bergaris-garis, rambutnya tergerai panjang. Pria berkemeja biru di sebelahnya melambaikan tangan padanya, Niko membalas dan memanggilnya.

"Siapa, bro?" tanya Surya.

"Dulu sefakultas sama gue, kantornya di lantai sepuluh apa sebelas gitu."

Tidak lama kemudian orang yang dimaksud sudah menyambangi meja mereka. Fay berhenti mengunyah lalu menghirup kopinya perlahan. Surya menyalaminya. Ikbal, namanya. Bibir Fay masih menempel pada cangkir kopi ketika tangan itu terulur di depannya. Jadi ia hanya ber'hai' sebentar saja. Pria itu tersenyum dan kembali berbicara dengan Niko, lantas berpamitan kembali ke mejanya. Sekilas ia menoleh untuk mendapatkan mata gadis yang duduk di antara dua pria itu tengah mengantarnya beranjak. Lalu keduanya saling membuang pandang.

"Heh, lihat cewek di sebelahnya, nggak?" kata Niko setengah berbisik.

"Bohai. Siapa, A melancholic bitch?" Surya mengangkat alis dan tersenyum jenaka. Tangan Fay menimpuk lengannya, lalu mereka bertiga meringis, tersenyum, dan tertawa.

"Katanya, yah, ini katanya, simpenan pejabat..."

"Dasar, tukang gosip!"

Fay memundurkan tubuhnya untuk bersandar. Langit sore terbagi menjadi dua warna, jingga dan biru tua lalu di antaranya muncul gradasi keunguan. Gumpalan awan keperakan berundak-undak seperti tangga menuju suatu tempat yang jauh.

"Temen lu tadi, selingkuhannya?"

"Urusan kerjaan kayanya,"

"Jam kerja udah lewat, kali."

*****

Ia baru sadar, banyak benda di kamarnya ternyata berwarna biru. Ia memang suka biru, tapi jarang secara sengaja membeli barang-barang tertentu dengan warna itu. Kalau pria itu begitu seringnya memakai kemeja berwarna biru, bukan sengaja juga. Hanya kebetulan saja waktu itu. Bagaimana mungkin orang bisa melupakan sesuatu yang sepertinya terasa penting? Barangkali orang tersebut tak menganggapnya terlalu penting.

Sudah lewat dua bulan Fay tahu bahwa mereka berada di gedung yang sama, tapi itu tak mengubah fakta kalau mereka tak mengenal satu sama lainnya. Ribuan orang hilir mudik dan berpapasan di sana, tentu saja sulit menunggu momen drama di film muncul dalam kenyataan. Terjebak berdua dalam lift, bertabrakan di lobby, bertemu di kereta atau bus, menyukai film yang sama, bertemu kembali di toko buku. Setidaknya, ia bertemu sekali lagi karena teman satu kantornya kenal. Dan kenyataan kalau si kemeja biru sudah punya perempuannya sendiri. Bagaimanapun, ia yang meninggalkannya duluan saat itu, jadi kenapa mesti ia yang kelimpungan.

Dilemparnya tas ke sembarang tempat, memuntahkan isinya berserakan. Lalu benda itu menyembul begitu saja dari sana. Dasi berwarna abu muda bergaris halus, rapi terseterika. Ia merebahkan diri di karpet lalu mengangkat kakinya ke atas sofa. Diraihnya dasi dalam tas dan melilitkan pada lengan, ditimangnya kemudian.

Benarkah dia lupa pernah punya dasi seperti ini? Fay berniat mengembalikannya. Ia tidak berniat untuk menyuruh pria itu mengingat apa pun dengan kehadirannya. Apa yang akan dikatakan Inka ketika tahu ia sebenarnya berniat mengembalikan dasi pria berkemeja biru yang hanya dilihatnya dari jauh. Tentang rasa penasarannya akan warna kemejanya yang melulu biru hanya alasan yang ia buat tiap temannya itu bertanya. Kalau sampai ia tahu setiap pagi kerjanya hanya bermain-main di dalam lift.

Fay memejamkan mata dan mencoba merekonstruksi kembali sketsa wajah sosok yang tadi sore diketahuinya bernama Ikbal. Ia tak bisa mengandalkan ingatannya yang berkabut pada malam awal mereka bertemu. Terlalu samar, terlalu linglung, terlalu cepat, lalu ketika tersadar tiba-tiba ia memutuskan pergi begitu saja tanpa pamit atau meninggalkan pesan. Setelahnya, baru ia menyadari ada yang ikut terbawa bersamanya dini hari itu. Apakah orang yang lupa benar-benar tak bisa mengingat kembali apa yang dilupakannya, atau ia tahu itu ada tapi hanya sekadar tak ingin mengingatnya.

Sejak kapan ia memikirkan hal-hal seperti ini, berharap menjadi tokoh dalam film drama romantis? Dibukanya kembali lilitan dasi di lengan lalu melemparkan tinggi-tinggi hingga terjatuh kembali di wajahnya. Ia sudah hampir seperti orang gila yang naik turun lift tiap pagi, senyum sekilas sore tadi juga tak berarti apa pun. Fay mengangsurkan kaki mencapai televisi, tapi diurungkannya kembali niatnya menonton berita. Mungkin Niko benar, sejenak jauhi teknologi dan pandangi sekitar. Tetapi matanya tertumbuk pada dasi itu lagi. Dengung pendingin ruangan. Kulkas. Suara lalu lintas yang samar. Ngengat di sekitar lampu. Desiran tirai. Matanya memejam, lantas sebuah waltz mengalun di dalam kepalanya. Tentang sebuah pertemuan di suatu sore.

*****

Read previous post:  
Read next post:  
Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Waltz Untuk Soremu (3 years 50 weeks ago)
80

Wow. Bagus.
Saya suka bagian apa-yang-terjadi-di-sore-waltz-waktu-itu diserahin ke imajinasi pembaca dan penulis hanya memberi hint-hint yang cantik.

Writer nusantara
nusantara at Waltz Untuk Soremu (4 years 32 weeks ago)
70

Eumh, jadi inget daniswanda. Main kata warna, angka, lantai gedung, ini story dari dalem gedung, yang itu dari luar gedung.
Seru bacanya. Nyesel baru bca.

Writer Nine
Nine at Waltz Untuk Soremu (4 years 40 weeks ago)
100

Sori mak brusan komen, brapa kali saya bolak-balik cerita ini, tpi nggak mampu slse 2 paragraf. Padahal semakin ke bawah semakin menarik--setelah tadi berhasil lewat paragraf ke 2. Yang saya perhatikan, gaya percakapan tokohnya kerasa lebih ringan dibanding cerpen2mu yg lalu. Feeling aja sih, mak. Juga untuk penggambaran sosok misterius berkemeja biru itu masih nggak konek di saya, apakah dia itu ikbal ato pria lain lagi. Saya ikutan galau seperti si Fay, "yg mna sih orgnya?" Gitu2 mak.
.
Suka sama deskripsi latarnya. ^^
.
Sekian mak, mohon maaf kalau ada salah paham ato kurang berkenan.

Writer Wanderer
Wanderer at Waltz Untuk Soremu (5 years 11 weeks ago)
80

Saya hanya ingin menambahkan komentar yang senada dengan yang lain, tentang mulusnya narasi cerita ini sampai-sampai hampir melupakan aspek lainnya. Sayang, konfliknya memang belum dipaparkan dengan jelas, tapi dengan begini pun sudah menjadi cerita utuh yang ciamik. Menceritakan pertemuan Fay dengan Ikbal --entah bagaimana rinciannya-- yang dituturkan dengan begitu lembut dan elegan, tidak cheesy. Rasa-rasanya memang seperti dibawa menari waltz. Saya suka dengan kekhasanmu ini, mbak Vinegar. Selalu ada kesan dewasa matang nan tenang dalam penceritaanmu. Tapi ya itu, sampai akhir saya masih terus penasaran bagaimana pertemuan pertama Fay dan Ikbal di dalam lift :)
Semoga berkenan. Salam.

Writer vinegar
vinegar at Waltz Untuk Soremu (5 years 9 weeks ago)

Lagi-lagi sy harus minta maaf karena bikin dirimu kentang bacanya, mungkin nanti kalo penulisnya berhenti nggak jelas, nulisnya juga ikut jelas #apaa.. Makasih ya sudah membesarkan hati penulis yg setengah2 ini.


Kalau dirimu mau silakan lanjutin aja, anggap aja tantangan, hihi.

Writer saya_waktu
saya_waktu at Waltz Untuk Soremu (5 years 11 weeks ago)
70

hai, salam kenal.
saya suka yang begini. baru di sini, tapi saya pernah baca Elenora di situs lain. tulisanmu lebih banyak ya di sini. untunglah.:))

narasimu mengalir dan memang ada anjlok saat masuk tanda kutip dialog. butuh kepekaan buat nangkep ping-pong dialog tiga orang yg bersantai akrab itu. kisah ini aku bayangkan sebagai sebuah pemaparan rasa, tidak berawal masalah, tidak berakhir solusi? entahlah. aku tidak pintar berkata-kata, apalagi meraba struktur sebuah cerita. jadi komen aku murni subjektif, krn aku bicara berdasar rasa yg aku tangkap. jujur, aku mencari gaya tutur, bukan aja cerita hebat.aku putuskan, lsg jd fans kamu aja deh.
*maaf jika tidak berkenan dgn komen saya.

Writer vinegar
vinegar at Waltz Untuk Soremu (5 years 9 weeks ago)

Dari sebelah ya, Arok? Bulan? Ato Bianca? Sy terharu sampe dirimu nyamperin kemari :'). Sy tetep aktif di sana kok, cm lagi jeda bentar. Soal tulisan ini, ya begitulah seperti biasa datarnya, hihi. Much thanks ya saya_waktu #peluk

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Waltz Untuk Soremu (5 years 11 weeks ago)
90

Sore-sore biasanya saya ambil tablet dan main Playstation
Menunggu malam tiba, sebelum berangkulan dengan ....

.
Ini justify? Jadi lebih rapi. :)
Anu, lagi-lagi saya terbawa oleh narasinya, jadi tidak bisa komentar apa-apa. Apalagi saya menikmati ceritanya, cuma pada bagian obrolan tiga orang itu yang kurang saya pahami siapa yang berkata siapa yang menanggapi, juga siapa yang bersama si Kemeja Biru itu. Bagian itu saya seperti sedang asyik-asyiknya bermain game, lalu televisi nyala dan menampilkan video klip JKT48 (apa coba?).
.
Maaf jika tidak berkenan dan kurang sopan.
Salam menulis.

Writer vinegar
vinegar at Waltz Untuk Soremu (5 years 9 weeks ago)

...dengan kesepian #plakk


Obrolannya sengaja nggak saya beri embel-embel, sebenernya masih bisa dirunut kok sp yg sedang bicara :), cewe berambut panjang itu, sebut saja namanya Nur. Terimakasih mampirmu..

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Waltz Untuk Soremu (5 years 4 weeks ago)

Anda membuat saya bahagia malam ini. (`•_•)

Writer ichii06
ichii06 at Waltz Untuk Soremu (5 years 11 weeks ago)
90

Saya selalu suka genre josei kayak gini. Kikikikk.
Salam. XD

Writer vinegar
vinegar at Waltz Untuk Soremu (5 years 9 weeks ago)

Terimakasih udah baca..

Writer hidden pen
hidden pen at Waltz Untuk Soremu (5 years 12 weeks ago)
80

ceritanya asyik, konflik orang kantoran kelihatannya asyik, ehm ane bukan orang kantoran soalnya wkwkwk hmm apa yah menjelaskan emosi Fay ini kayaqnya bikin ane ngantuk gitu. Eehh jangan marah ya. Ini pendapat pribadi aja. Kyaa Ampyuun.

Writer vinegar
vinegar at Waltz Untuk Soremu (5 years 9 weeks ago)

Mungkin karena pas bikinnya saya juga ngantuk, hidden. Maaf ya :)

Writer The Smoker
The Smoker at Waltz Untuk Soremu (5 years 12 weeks ago)
80

Fay yg cabut dini hari itu dari cowok yg baru ditemuinya dengan linglung, samar, tapi dasinya yg kebawa. Hah, bis buka baju?
sekilas dugaan sii, bis mabok, lantas cinta satu malam. lalu kejebak di lift dan birunya kenangan, #TJUIH
/melipir

Writer vinegar
vinegar at Waltz Untuk Soremu (5 years 9 weeks ago)

Deh, yang pengalaman terjebak kenangan. Imajinasi terserah pembaca saja, makasih apresiasinanya..

Writer benmi
benmi at Waltz Untuk Soremu (5 years 12 weeks ago)
80

Jadi mereka ketemuan kan... si fay ama si pemilik baju biru... endingnya gantung banget sih... kesel aye... btw.. ceritanya vinegar spt biasa... apik n mengalir.. walau konfliknya mmg agak membosankan... n pas yg bagian seru.. eh mengantung... haiksss.....membuat saya marah n berty2...
Btw... salam n kl ga berkenan.. jgn ditimpuk

Writer vinegar
vinegar at Waltz Untuk Soremu (5 years 9 weeks ago)

Hihi, malah emosi yah bacanya..

Writer rharkim
rharkim at Waltz Untuk Soremu (5 years 12 weeks ago)

Hmmm... Maaf, apa cuma saya saja atau memang konfliknya tidak terlalu terasa kah?

Writer vinegar
vinegar at Waltz Untuk Soremu (5 years 9 weeks ago)

Dimaafkan, saya memang lemah di konflik. Mohon maklum, makasih berkenan baca