Setiap Kata itu Bermakna, Termasuk Cemburu dan Rindu, Apalagi itu dari Istrimu yang Belum Pernah Pacaran atau Berciuman Sebelum Malam Pertama Tiba, dan Ia juga Sangat Pecemburu, Apalagi pada Mantanmu

Pada bulan Desember, hari keempat. Aku bertemu Sri. Ia masih tampak cantik seperti lima belas tahun yang lalu. Keningnya masih bersinar, di mana bulan purnama pernah kutenggelamkan dengan bibirku di sana.

Tanpa bicara, hanya dengan tatapan saja, kami saling melepas rindu lewat tatapan mata. Kaki kami tergerak oleh kekuatan tak kasat mata. Mendekat satu sama lain seperti rima dalam puisi. Mengikat setiap baris dalam bait, seperti bibir kami yang saling tenggelam, dalam deburan asmara yang membuncah. Dan berakhir telanjang di ranjang.

Sialnya, istriku tahu aku telah bertemu lagi dengan cinta pertamaku. Dengan penuh amarah, ia mengambil pisau dari dapur dan menghambur ke kamar. Sri sudah pergi sebelum kusuruh.

"Mana wanita jalang itu?!"

"Sudah pergi."

"Pergi ke mana?!"

"Mungkin kembali ke kuburannya."

"Kau tahu cinta pertamamu sudah mati tiga belas tahun lalu?"

"Mungkin saja, toh jazadnya belum ditemukan. Mungkin ia sedang mampir di kerajaan langit dan ketinggalan pesawatnya. Lalu pesawat itu diledakkan dari darat."

Istriku diam, tapi matanya membara. Ada api yang berkilat-kilat sehingga air matanya muncrat. Seperti pemburu purba, ia menusuk perutku, membedah dadaku dan mengambil daging yang kuberi nama Prosa-prosa Usang. Ia membuka lembar-lembar itu dengan kalap, sebelum melemparnya ke lantai.

Lembar-lembar itu berserakan, pun darah yang masih tersisa. Satu persatu kata-kata di dalamnya kabur, terbirit-birit ke luar kamar dan mungkin ditangkap Ani dan Ujang untuk dijadikan pajangan, atau perekat pekerjaan rumah mereka yang lebih susah dari tugas pegawai akuntan.

Masih dalam keadaan lemah, tidak mampu melawan. Istriku mematukkan ujung pisaunya ke tempurung kepala, memporak-porandakan susunan kata yang telah kususun sejak sekolah dasar. Tak puas, istriku mengambil kapak dan membelah tempurungku jadi dua, membuat kata-kata berhampuran seperti kembang api. Lalu menghilang bersama kenangan yang tak lagi terasa.

"Kau simpan di mana wanita jalang itu?!"

"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja ia muncul dan pergi. Seperti api yang menghangatkan. Setelah padam, api selanjutnya yang datang, bukan lagi api yang sama."

Kemarahan istriku masih belum sirna. Ia kembali ke dapur dan membawa parang. Entah apa lagi yang akan ia lakukan padaku. Saat ia melangkah mendekat, Ujang datang dan memegang tangannya. Anak tujuh tahun itu merengek-rengek minta uang jajan. Istriku menyuruhnya pergi, tapi Ujang keras kepala seperti dirinya.

Ketika istriku sudah tidak tahan lagi, ia menggorok lehar Ujang—anak laki-laki kami—sampai lehernya hampir putus. Ujang malah kegirangan. Ia menghampiriku dan berkata riang.

"Ibu memenggal kepalaku, Yah. Ibu memenggal kepalaku."

Ingin sekali kukatakan itu bukan memenggal, tapi menggorok. Kalau memenggal harus sampai putus. Namun aku tidak mau merusak kesengan anak kecil. Ujang pergi dengan gembira setelah ia mendengar temannya memanggil dari luar.

Lalu aku kembali menghadapi istriku. Matanya mulai melunak sekarang, mungkin paham bahwa pertengkaran ini tidak ada gunanya. Namun ia masih memegang parang. Ia tidak ingin mengaku kalah begitu saja, apalagi pada wanita yang menempati hatiku untuk pertama kali, yang mati tiga belas tahun lalu sebelum sempat kusunting. Dan ia datang dalam mimpiku semalam.

412-214

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Maaf, itu judul atau quote?

Satu hal lagi, jika 'aku' yang menjadi pencerita, bukankah si 'aku' itu mati atau minimal cacat. Lalu, bagaimana dia bisa bercerita?

Judul itu punya tujuan tersembunyi. Mengetes seberapa panjang kata yang bisa ditulis di kolom judul (nggak punya kerjaan, ya?) :v
Hm, bagaimana menjelaskan soal ini, ya. Saya pernah membaca orang yang sudah meninggal dibunuh, bercerita tentang bagaimana ia terbunuh. Jadi saya pikir hal demikian lumrah adanya dalam karya fiksi. Mengikuti pemahaman saya juga soal aliran surealis.
Terima kasih.

70

ini cuma sekedar pendapat pribadi saya saja sebagai seorang pembaca, menurutku surealisme di cerita ini tidak bisa menembus logika saya sebagai pembaca. itu artinya penulis kurang bisa meyakinkan saya dengan cerita yang ia bawa. saya contohkan, dongeng-dongeng masa lalu. jika ditelaah, semuanya tidak masuk akal tapi kenapa banyak sekali yang mempercayai bahkan menganggapnya sebagai kejadian nyata. alasannya cuma satu yaitu penutur/pendongeng menceritakannya dengan sangat meyakinkan. coba bandingkan dengan cerita ini "Ketika istriku sudah tidak tahan lagi, ia menggorok lehar Ujang—anak laki-laki kami—sampai lehernya hampir putus. Ujang malah kegirangan. Ia menghampiriku dan berkata riang" berapa kali pun saya mencoba kalimat tsb tidak bisa menembus logika saya, terus terang saja saya juga sering melakukan yang seperti penulis lakukan hehe. segitu aja deh, mohon maaf kalau tidak berkenan.. piis.

Terima kasih,
setahu saya surealis memang tidak masuk logika. Lain hal dengan surealis magis, di mana sesuatu yang tak masuk akal dianggap hal yang wajar.
Atau saya memang keliru dalam mencari referensi tentang dua aliran tersebut?

80

judulnya puaannjangg
ungkapannya (mungkin namanya emang ungkapan)kental kaya susu kaleng indmlk
seru seru . apalagi saat dialog, tetap menggunakan ungkapan.

agak kesem seman ketika anaknya itu, seneng banget ya. Namanya juga anak anak. Hkhk
oh aku pertamax ya #kavuurrr

Eh main kabur aja. Bayar dulu! Sudah dinikmati malah ditinggal (apa coba?) :v

kenapa kau selalu mengungkapkannya dengan susu?
terima kasih telah mampir,