Ter... Tu... Kar?! - Part 4 (TAMAT)

Dengan tertatih-tatih aku bangkit dan berusaha melihat siapa yang telah menyelamatkanku. Aku berusaha menerobos kerumunan orang yang lebih rapat di depan truk yang nyaris menabrakku tadi. Namun ketika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, betapa terkejutnya aku melihat siapa yang terbaring tak sadarkan diri di aspal dengan luka yang terus menerus mengucurkan darah dari bagian belakang kepalanya.

“Nggak… nggak mungkin,” kataku perlahan seakan tidak percaya melihatnya.

Ya wajah yang tergeletak berlumur darah dari belakang kepalanya adalah tubuhku yang di dalamnya tentu saja adalah Tasya. Saat itu juga ada perasaan aneh dalam hatiku muncul. Perasaan bingung apa sebenarnya maksud Tasya, sekaligus sebuah perasaan takut. Takut seperti akan kehilangan sesuatu. Aku tak tahu bagaimana seharusnya untuk menggambarkan perasaan yang kurasakan ini.

Seketika itu aku langsung berlutut dan menggoyang-goyangkan tubuhnya, “Sya, bangun Sya!” Kataku dengan kencang. Saat itu juga entah kenapa aku tidak bisa membendung air mataku. Padahal beberapa saat yang lalu aku begitu marah dengan Tasya.

 “Mbak sek mbak, iku areke digowo nang rumah sakit disik, dilut maneh ambulane teko (terjemah: Kak sebentar kak, itu anak dibawa ke rumah sakit dulu, sebentar lagi ambulannya datang), kata salah seorang warga yang melihat kejadian itu. Aku langsung mengangguk pelan menyanggupinya.

Tak lama memang, sekitar 10 menit kemudian datanglah ambulan yang akan membawa Tasya ke Rumah Sakit. Saat para petugas dari ambulan itu turun hendak membawa Tasya, aku memohon agar diijinkan untuk ikut mengantarnya.

“Pak tolong ijinkan saya ikut nganterinnya,” kataku berusaha mengiba.

“. Mbak ini siapanya ya?”

“Saya temennya pak, barusan dia ketabraknya karna nyelametin saya, tolong Pak! Tolong Pak! Boleh ya! Boleh ya Pak!” Dengan Paniknya aku berusaha mendesak petugas itu.

“Oke, tapi mbak jangan ganggu kerja kami!” Jawab petugas itu dengan tegas.

Akhirnya setelah semuanya naik, ambulan itupun berangkat. Saat itu langit Kota Surabaya mulai menghitam, dan saat itu pula aku merasa bahwa langit yang menghitam ini adalah sebuah pertanda buruk. Dan memang tidak lama setelah langit menghitam, ambulan yang kami tumpangi terjebak kemacetan, menjadikan perjalanan kami menuju Rumah Sakit terhambat. Padahal Pendarahan Tasya masih belum berakhir meski petugas telah melakukan pertolongan pertama sebelumnya.

“Sial kenapa terjebak macet segala,” panikku dalam hati. Entah kenapa dalam keadaan ini aku jadi terdorong untuk menggengam tangannya. Terdorong untuk mengharapkan sebuah keajaiban untuk menyelamatkan Tasya yang tak sadarkan diri. Saat itu detik demi detik sangatlah terasa lama. Sangat lama sampai aku benar-benar tak sabar dengan sesekali mengintip keluar melalui jendela mobil.

Untungnya, tak lama setelah keluar dari kemacetan akhirnya ambulan sampai juga di Rumah Sakit. Langsung saja Tasya diturunkan dan dibawa ke IGD. Aku pun hendak menyertainya hingga akan masuk IGD. Namun seorang dokter laki-laki yang akan menangani Tasya menghampiriku.

“Mbak tunggu disini dulu ya, percayakan pada kami, apa mbak keluarganya?”

“Aa… engga pak… sa… saya temannya,” kataku dengan sedikit terisak-isak.

“Kalau gitu mbak, saya mohon segera hubungi keluarganya. Udah jangan menangis, yang sabar ya mbak.” Sambil berusaha menenangkan diriku, aku mengangguk. Dan segera dokter itu meninggalkanku.

Aku berusaha menenangkan diriku sebisa mungkin. Setelah menurutku cukup tenang, kucoba telpon ke rumahku. Setelah beberapa saat yang kudengar adalah nada sambung saja, dari ujung telpon sana terdengar suara Mamaku.

“Selamat siang,” sapa suara yang ada diseberang telpon itu.

“Selamat siang, ini dengan siapa ya?” Tanya Mamaku.

“Si…ang… ma…,” kataku dengan terbata-bata. Namun tentunya Mamaku tidak akan menyadarinya , “Maaf siapa ya?” Karena tentu saja suaraku sekarang adalah suaranya Tasya. Lasngsung saja aku memperbaikinya.

“Anu… maaf ini ibunya Tito ya?” Aku tetap berusaha berpura-pura meski aku tau itu adalah Mamaku.

“Iya, ada apa ya mbak?”

“E… maaf ini temen sekolahnya Tito, Tito kecelakaan bu, sekarang di Rumah Sakit Dr. Soetomo.”

“Yang bener mbak?”

“Iya ibu bisa datang kemari, kalau begitu permisi,” setelah telpon kututup, sambil menghela nafas.

Aku menjadi merasa sangat aneh, meski cukup lama tak bersua atau mendengarkan suara orang tuaku. Yang muncul di otakku bukannya rasa rinduku kepada mereka. Namun terus-menerus memikirkan kondisi Tasya.

Seperempat jam kemudian, awan hitam yang sebelumnya menghiasi langit Kota Surabaya pun, akhirnya menjatuhkan hujannya. Disaat itu pula kedua orang tuaku datang. Mereka berdua berjalan dengan terburu-burunya menuju ke IGD. Mereka datang dengan baju sedikit basah karena hujan, dan wajah yang dipenuhi rasa cemas.

Dari kejauhan kulihat mereka bertanya kepada seorang perawat yang lewat. Kurasa mereka sedang menanyakan anak mereka. Ingin rasanya mengatakan bahwa anak mereka sebenarnya ada disini. Tapi aku teringat perkataan Tasya sebelumnya, “Belum lagi apa lo yakin kalo mereka percaya kalau jiwa kita ketuker?” Ya kata-kata itu membuatku menjadi takut sebelum mencobanya. Dan membuatku diam melihat mereka berdua dari kejauhan.

Tak lama kemudian Dokter yang menangani Tasya keluar dari ruangannya. Aku segera menghampirinya, berharap agar dia membawakan sebuah kabar yang baik tentang Tasya. Begitupula kedua orang tuaku juga menghampiri Dokter itu. Namun Dokter itu Tetap tertunduk ketika dia keluar dari ruangan IGD.

“Dok bagaimana anak saya Dok?” Tanya Mamaku.

“Maaf bu…, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi… maaf… anak Ibu dan Bapak… tidak bisa kami selamatkan.”

Saat Dokter mengatakan itu, rasanya seluruh dunia ini terhenti bagiku. Seakan begitu mengejutkan dan membuatku seakan melemas. Dengan segera aku sadarkan diriku dan segera mencengkram bahu Dokter itu.

“Dok… bohongkan Dok! Dia itu selamatkan Dok?” Kataku dengan emosi yang tak terkontrol.

“Iya Dok… tolong anda lihat sekali lagi!” kata Mamaku.

“Maaf mbak, bu, tapi memang nyawa saudara Tito gagal kami selamatkan. Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya Bu, Pak.”

Aku pun melemas saat mendengarnya. Saat itu aku mulai sadar. Ya, perasaan takut kehilangan sesuatu yang kualami dari tadi adalah perasaan takut kehilangan Tasya. Sebuah perasaan yang aneh yang beberapa saat sebelumnya ini mulai menghantuiku. Perasaan yang muncul saat aku mulai mengenal lebih jauh tentang Tasya. Perasaan yang muncul ketika aku merasakan penderitaan yang Tasya alami sehari-hari.

Aku benar-benar paham sehingga setelah sempat tangisku yang sebelumnya sempat sedikit mereda, kembali mengalir dengan sendunya. Beriringan dengan hujan yang mulai turun semakin deras. Air mataku kembali mengalir saat ingat betapa bodohnya aku barusan. Sebegitu mudahnya aku marah ke Tasya, padahal seharusnya aku tahu penderitaannya. Padahal dia sudah pernah menyelamatkanku juga sebelumnya. Saat aku terjatuh ke jurang. Juga saat Tere menyuruh Tedi memukuliku di sekolah. Dan yang barusan saja, dia juga menolongku saat aku sudah panik saat sebuah truk akan menabrakku. Kenapa? Kenapa kamu selalu menolongku?

Tapi pertanyaan itu sudah terlambat. Pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab. Karena Tasya telah tiada. Aku merasa menjadi penjahat dalam masalah ini. Rasa bersalah dalam hatiku yang terus bertambah dan menumpuk. Terlebih lagi, sekarang tak ada satu orangpun di dunia ini yang akan bisa memahami kondisiku sekarang.

Kayaknya emang elu pas jadi cewek aja,” aku pun juga teringat dengan katanya yang ini. Setelah aku berpikir akan ketidak berdayaanku saat ini, seakan aku pun ikut mengiyakan pernyataannya waktu itu.

“Pak boleh saya melihatnya sebentarkan Pak?” dengan suara yang bergetar lemah aku menanyakannya ke Dokter.

“Silahkan Mbak, kalau begitu saya permisi dulu.”

Sebelum masuk ke ruangan perawatan, kulihat Mamaku yang masih begitu menangis di kursi koridor. Papaku pun juga berusaha menenangkannya. Ingin rasanya mengatakan jika anaknya ada masih di sini. Namun lagi-lagi kuurungkan niatku.

Segera aku masuk ke ruangan perawatan. Dengan perlahan, kudekati tubuhku itu yang sudah tak ada lagi nyawa di dalamnya. Kupegang tangannya itu, namun yang kurasa hanyalah rasa dingin dari orang yang telah tiada.

“Maafkan aku Sya…,” kataku dengan lirih disertai air mata yang semakin deras.

“Maafkan aku, karena membuatmu seperti ini.”

“Maafkan, karena egoku tadi...”

“Dan juga aku ingin mengatakan satu hal padamu.”

Aku pun menarik nafas sambil berusaha menenangkan diri sebelum melanjutkannya.

“Aku mencintaimu.”

Dua kata itu begitu terasa berat di hatiku. Benar-benar begitu membekas, sebuah pernyataan cinta yang terlambat. Pernyataan yang tidak akan pernah bisa ku ungkapkan langsung ke orangnya.

Dan tanpa memperdulikan apapun di sekelilingku, kudekatkan kepalaku. Kupertemukan bibir ini dengan bibirnya. Memberikan kecupan cintaku ke bibir itu untuk beberapa saat. Ciuman pertamaku untuknya sekaligus yang terakhir.

 

TAMAT

Read previous post:  
14
points
(1548 words) posted by lost_boy 5 years 7 weeks ago
46.6667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | drama | fiksi
Read next post:  
Be the first person to continue this post