Budi Malang, Anakku Sayang

Tak kurang seperempat hari, sejak surya mulai mengayuh menuju timur.

Lelaki paruh baya itu masih sendu meratapi sepucuk surat diatas bale. Sebatang rokok di sela jarinya melengkung berubah abu, sedang lengan sebelahnya menyiku menahan dagu sambil bergetar dan berpeluh di selimut telapaknya. Bukan karena tak kuat menyangga kepala, tapi lelah menumpu lamunannya.

Lamunan yang berawal dari secarik surat, lamunan yang menenggelamkannya pada samudra terkutuk,  lamunan yang meng-kristal, menjelma batu sebesar jagad yang menindih tengkuknya.

Suara lembut dari balik selambu menumpahkan samudranya, seperti tsunami yang menggulung daratan.

Sambil tersentak Ia menyahut tak kalah halus, kemudian melempar gabus rokok ke sela jendela di seberang bale, lalu menindis sisa abu yang sekarat diatas meja dengan koran yang terbit 2 hari lalu.

“Sudah seterang ini, tidakkah kau isi dulu perutmu nak.. “

Wanita separuh abad menyembul dari balik selambu. Sambil berkata ia mengelus kepala anak sulungnya itu.

“Iya Bu” jawabnya pendek tanpa irama.

Wanita itu mendekat sambil membelai lembut rambut ikal anaknya, kemudian membisik lirih.

“Anakku, sungguh masalahmu tak akan menjadi luntur dari tembakau yang terus kau hisap, atau kemudian lenyap ketika sudah habis lamunanmu.

Makanlah, bersihkan tubuhmu, salat, lalu berfikirlah dengan jernih. Jangan paksa Ibu memukulmu dengan sapu lidi untuk membuatmu sadar. Seperti dulu.”

Lelaki itu tertunduk layu, bahunya berguncang menumpahkan air yang sudah lama mengambang di pelupuk mata, seperti tak ingat umur ia merengkuh bersujud memeluk kedua kaki Ibunya sambil terisak dan tersengal.

“maafkan anakmu Bu, sudah habis sawahmu untuk biayaku kuliah, tapi sudah setahun aku masih saja  menganggur”

“anakku sayang, adakah hal lain yang kukeluhkan selain kau yang terus melamun dan jarang sekali makan? Sungguh, tiada hal lain yang mengusik hatiku selain kedua hal itu”

“Tentang rezeki, sudah tempatnya Allah yang mengatur semua, jangan kau habiskan waktumu untuk memikirkan apa yang bukan menjadi tugasmu, serahkan semua pada Allah”

“Bangkitlah anakku sayang, anakku malang”

Lengan kurus dan keriput itu menggapai jemari lembut buah hatinya yang sudah berumur itu, gerakannya masih sama seperti 25 tahun lalu, ketika anaknya terjatuh saat baru belajar berjalan. Sabar.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Nine
Nine at Budi Malang, Anakku Sayang (5 years 37 weeks ago)
100

Ini asik sekali. Diksinya juga manis. Saya ikut terbuay T.T

Terharu..

Writer sgimeng9
sgimeng9 at Budi Malang, Anakku Sayang (5 years 43 weeks ago)
100

keep it up

Writer nicorock
nicorock at Budi Malang, Anakku Sayang (5 years 44 weeks ago)
100

feelnya depet... agak gimana gitu...

Writer makna_aksara
makna_aksara at Budi Malang, Anakku Sayang (5 years 44 weeks ago)
70

Lanjutkan
jangan lupa visit post saya juga ya :)