Run Away With Me

“Hei, kamu mau kabur bersamaku?”

Rian menatap cewek yang tengah tidur terlentang di sebelahnya. “Kabur ke mana?” ia bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari langit malam. Tidak ada bintang di langit, tapi hal itu tidak menghentikan merekauntuk mengagumi kelamnya hitam di atassana.

“Ke tempat yang tidak ada orang yang bisa mengatur kita, ke tempat di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri. Ke tempat di mana kita tidak perlu ketakutan.” bisik cewek itu.

“Aku kira kamar sudah cukup,” Rian menatap cewek berkaca mata di sebelahnya. “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu, Langit?”

Cewek bernama Langit itu tertawa. “Enggak apa-apa. Aku cuma,” ia menghela napas. “lelah.”

“Semua orang lelah, tetapi bukan berarti mereka bisa seenaknya kabur dari tanggung jawab mereka.”

“Apakah hidup sebuah tanggung jawab?” tanya Langit bingung. “Bukankah kita harus menikmati kehidupan? Kenapa kita membuatnya menjadi sulit?”

Rian menggeram kesal. “Langit, seriusan! Kamu kenapa sih?” Sekarang posisi Rian sudah tidak tiduran lagi, dia duduk bersila.

Tidak lama kemudian Langit ikut bangun, tetapi ia melipat kedua kakinya. Tidak ada yang bersuara, namun malam berlum terlalu larut sehingga di luar sana masih banyak orang yang belum pergi ke dunia mimpi. Perlahan, Langit menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa, aku hanya...”

Tubuh Rian menggigil, dia punya perasaan tidak enak mengenai sikap Langit yang tiba-tiba kelam seperti ini. “Apa Ayahmu kembali memukulimu?”

Langit menggeleng cepat, terlalu cepat. Dengan lembut Rian menyentuh pundah Langit. “Langit, kalau Ayahmu kembali...”

“Bokap enggak ngapa-ngapain, kok.” ucapnya pelan.

“Terus, apa Ibumu–“

“Mereka belum menyentuhku, Rian!” potong Langit marah.

Rian hanya menatap Langit tidak percaya. Tapi dia tidak mau memaksa Langit untuk bercerita mengenai kejahatan apa lagi yang dilakukan oleh orang tuanya terhadap dirinya. Perut Rian bergejolak setiap kali mengingat perlakuan orang tua Langit terhadap sahabatnya dari kecil itu. Padahal mereka adalah orang tua kandung Langit, tetapi mereka, dengan gampangnya menyiksa Langit. Awalnya hanya berupa jeweran, kemudian berlanjut ke tamparan, tidak butuh waktu lama hingga tamparan di wajah berubah menjadi pukulan di tubuh Langit. Rian sampai muntah dan tidak bisa makan seharian setelah melihat kondisi Langit setelah pulang dari ‘jalan-jalan’ liburan kemarin.

Setiap kali Rian ingin melaporkan kejadian ini ke polisi, atau orang tuanya, Langit melarang Rian. Dia bilang dia tidak ingin orang tuanya terkena masalah. Orang tua Langit sudah memiliki masalah dihari mereka memukuli Langit hanya karena Langit tidak tahu di mana dia menyimpan remote televisi.

“Kalau mereka memukul kamu lagi,” Rian menelan ludah. “kamu bakalan bilang kan?”

Langit mengangguk. Tapi entah kenapa Rian tidak percaya.

***

Agnisia Langit Dan Rian Dewanto sudah bersahabat semenjak kecil dulu, bahkan jauh sebelum mereka lahir. Ibu mereka bertemu ketika sedang melakukan pemeriksaan rutin di dokter kandungan, saat mereka tahu kalau rumah mereka berdekatan, setelah itu mereka selalu pergi ke dokter bersama-sama. Kedekatan mereka menurun ke anak-anak mereka.  Langit dan Rian tidak terpisahkan, atau setidaknya sebelum mereka memasuki dunia bernama SMA. Itulah saat Rian pertama kalinya menyadari kalau ada yang aneh dengan sikap Langit, bagaimana ditubuhnya selalu ada luka, bagaimana Langit terlihat sangat lelah setiap harinya.

Awalnya Langit marah saat Rian bertanya darimana Langit mendapatkan luka-luka itu. Tentu saja Rian kaget dan bingung, kenapa Langit harus marah? Kemudian saat Rian sedang berkunjung ke rumah Langit untuk memberikan masakan dari ibunya, dia menyadari ada yang aneh. Gerak-gerik Langit saat berada di dekat Ibunya, senyum ramah-tapi-mengerikan yang diberikan Ibunya Langit membuat Rian merinding. Dan Rian memiliki mata yang masih berfungsi cukup baik, dia bisa melihat ada luka baru di pipi Langit.

Saat itu Rian berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan diri sendiri kalau mungkin saja Langit terjatuh dari tangga, sehingga dia terluka. Langit memang ceroboh, ditambah dengan matanya yang minus. Jadi ya, terkadang Langit jatuh bukan hal yang baru lagi. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang mengganjal pikiran Rian saat dia melihat Langit berdiri dengan postur kaku di belakang Ibunya. Bahkan Langit tidak menatap Rian! Langit selalu menatap Rian.

Malamnya Rian menonton berita tentang seorang anak yang disiksa oleh orang tuanya. Ponsel flip hitamnya terlepas dari genggamannya. Rian tidak mendengar suara lain kecuali suara sang pembawa berita mengucapkan “Anak tersebut akhirnya berhasil kabur setelah tiga bulan lebih disekap oleh orang tuanya sendiri”, pikiran Rian langsung tertuju kepada kejadian tadi sore. Tubuh Langit yang gemetaran, rambutnya yang basah, luka-luka baru yang terlalu kecil untuk disadari jika kamu tidak memperhatikan tubuh Langit dengan seksama.

Perut Rian melilit, jantungnya seperti naik ke tenggorokannya dan kemudian turun ke perutnya dengan cepat, keringat dingin langsung keluar dari pori-pori tubuhnya. Ini seperti saat naik roller coaster hari minggu kemarin. Tetapi sekarang perasaan tidak enak itu berlipat ganda karena Langit tidak ada di sampingnya, Langit sendirian di atas roller coaster itu. Dan Rian tidak tahu apakah dia sanggup menolong Langit untuk turun dari roller coaster yang bergerak dengan kecepatan tinggi dan menyakitkan tersebut.

Ayahnya sampai bertanya apa ada sesuatu yang salah, sebab Rian terlihat sangat pucat. Ibunya menambahkan jika Rian tidak enak badan, dia boleh tidur, toh tugasnya sudah selesai dikerjakan. Rian bergerak dengan lungai, dia tidak melirik apalagi mengambil ponselnya yang nyaris ia injak jika saja Ayahnya tidak langsung mengamankan benda mungil itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Ibu Rian bingung.

“Mungkin dia baru saja putus dengan Langit?” Ayah menjawab sebelum mengecilkan volume televisi.

Ibu mengerutkan kening. “Bukannya Rian pacaran dengan Kiki?”

“Apa maksudmu? Tentu saja dia pacaran dengan Langit!” Ayah mendengus. “Aku tidak mendidik anakku untuk memiliki selera jelek terhadap perempuan.”

“ANTON!!!” Ibu terdengar marah. Sangat marah. Tapi disaat bersamaan dia setuju dengan ucapan Ayah barusan.

“Itu benar, Rena!” Ayah berusaha membela diri. “Apa kau pernah melihat bagaimana pakaian anak itu?! Padahal dia masih remaja tapi sudah seperti itu, bagaimana kalau sudah dewasa nanti? Dan bagaimana dia bisa tidak kena hukuman oleh pihak sekolah, padahal jelas-jelas seragamnya melanggar peraturan sekolah. Entah berapa peraturan yang dia langgar!”

Ibu menggeleng, tidak tahu harus mengatakan apa. Sesekali dia melirik pintu kamar Rian yang tertutup rapat. “Aku harap apapun masalahnya, bukan masalah yang serius. Kau tahu, hanya tipikal masalah remaja.”

Ayah tertawa. “Rena, semua hal bisa menjadi masalah untuk seorang remaja. Bahkan jika penyanyi favoritnya tidak lagi menjadi pemimpin di tangga lagu terbaik atau semacamnya.”

Ibu menghela napas. Rasa khawatirnya perlahan hilang saat Ayah berkali-kali melarangnya untuk melihat kondisi Rian dan bertanya apakah ada yang bisa ia bantu. Ayah mengatakn terkadang manusia membutuhkan waktu untuk sendirian, apalagi remaja.

***

Hanya ada satu tempat dan waktu dimana Rian dan Langit bisa dilihat bersamaan saat di sekolah. Yaitu kegiatan ekstrakurikuler drama yang mereka ikuti. Awalnya tujuan Rian ikut ekskul drama hanya untuk mendekati salah satu kakak kelasnya yang cantik, ternyata dia sudah punya pacar. Ketika Rian hendak keluar, dia sudah terlalu terlibat dalam sebuah proyek drama saat itu. Dia berjanji akan keluar setelah drama itu selesai, tapi ternyata itu hanya sebuah janji. Rian merasa nyaman dan bisa belajar banyak hal. Dia lebih suka berkumpul dengan teman-teman dari ekskul drama dibandingkan anak-anak dari ekskul basket. Biasanya yang mereka bicarakan hanya cewek, olahraga, mau nongkrong di mana.

Rian masuk ke tim basket hanya karena teman-temannya mengatakan kalau Rian cocok untuk menjadi tim basket, dan dia memiliki keahliannya. Dia bertahan di tim itu karena dia memiliki keahlian dalam bermain basket dan untuk menjaga popularitasnya. Sedangkan Rian masuk ke kelas drama karena dia ingin bersama Langit. Dia bertahan di kelas itu karena dia menyukai akting, bisa menjadi orang lain meski hanya untuk beberapa saat. Menyenangkan, juga menegangkan. Sebab dia tidak tahu karakter seperti apa yang akan dia perankan.

“Oke, jadi ada yang punya ide drama apa yang akan kita tampilkan untuk acara perpisahan kelas tiga tahun ini?” Shanti, ketua ekskul drama dan cewek yang Rian taksir berdiri di tengah-tengah lingkaran yang dibentuk oleh anggota kelas drama yang duduk di lantai.

Timothy, cowok yang selalu kikuk bila berhadapan cewek secara langsung tapi dia bisa memerankan seorang playboy dengan sempurna di atas panggung. “Shan, elo kelas tiga.”

Anggota kelas drama yang lain tertawa, sementara Shanti pura-pura kesal. “Padahal gue berharap kalian bakalan lupa kalau gue kelas tiga.” Shanti menatap semua sahabatnya dengan wajah sedih. “Gue pengen penampilan terakhir kita menjadi penampilan yang terbaik.”

“Kita sudah melakukannya sebulan yang lalu, Shanti.” Robin, yang juga kelas tiga dan merupakan wakil ketua ekskul drama berdiri. “Drama musikal pertama kit adalah penampilan terbaik kita. Bahkan penampilan terbaik yang pernah ditampilkan oleh klub drama ini.”

Suara tepuk tangan dan siulan yang bergemuruh di ruangan auditorium ditunjukkan untuk Langit dan Shanti. Merekalah yang mencetuskan ide untuk melakukan drama musikal. Seperti biasa, Langit membuat naskah sedangkan Sinta yang mengurus lagu.

“Jadi, ratu drama,” Shanti suka menggoda Langit dan memanggilnya Ratu Drama. “pertunjukan keren apa yang akan kau tampilkan?”

Langit tersenyum misterius. “Aku tidak mau mengatakannya sebelum semua murid kelas tiga keluar dari ruang latihan.” Mereka biasa menyebut ruang auditorium sebagai ruang latihan, yang memang merupakan ruang latihan untuk ekskul drama. Sama seperti mereka menyebut kegiatan ekskul drama sebagai kelas drama. Atau klub drama.

Shanti menyipitkan mata. “Aku mencium sebuah kudeta!” serunya sambil pura-pura marah.

“Oke-oke, ayo kita pergi.” Robin memimpin anak kelas tiga lainnya, jumlah mereka ada lima. “Ayo, Shanti, kita pergi.”

Shanti memberikan satu kedipan mata sebelum mengikuti keenam sahabatnya. Ketika ia hendak menutup pintu ruang auditorium, ia menoleh. “Jangan mengecewakan kami.”

Langit memberikan satu anggukan. “Kalian tidak akan kecewa.”

Kelompok Septet[1] itu akhirnya keluar dari ruang auditorium. Langit kemudian berdiri di tempat tadi Shanti berdiri. “Oke, jadi drama kali ini adalah...”

***

Rian tahu jika Langit sudah memantapkan hati untuk sebuah drama, dia tidak bisa diganggu gugat. Awalnya Rian berharap anggota klub drama lainnya menolak ide drama yang diberikan oleh Langit, tetapi mereka malah setuju. Bahkan beberapa dari mereka memuji Langit, mengatakan kalau Langit selalu berani mengangkat konflik yang sedang ramai dibicarakan dan mengemasnya menjadi sesuatu yang baru dan berani. Ditambah lagi Langit akan ikut berakting dalam drama ini, bagaimana mungkin mereka bisa menolaknya?

“Aku ingin membuktikan kepada Shinta kalau aku bisa berakting, hanya saja aku lebih suka berdiri di belakang layar.” itulah alasan Langit saat ditanya oleh Rian.

Sebetulnya Rian masih belum setuju dengan keputusan klub untuk mementaskan drama ini, tapi hanya dia yang menolak. Dan karena ini adalah negera demoraksi, Rian harus mengikuti keputusan dengan dukungan terbanyak.

“Langit, kamu serius mau tampil?” tanya Rian untuk yang kesekian kalinya.

Seharusnya Langit bosan mendengar pertanyaan itu, tetapi dia tahu kalau Rian hanya ingin melindunginya. Langit tersenyum. “Aku serius.”

Rian menarik Langit menuju salah satu sudut ruangan. Setelah memastikan tidak ada yang bisa mendengar mereka, dia bersuara. “Langit, drama kali ini tentang seorang anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga,” Rian menelan ludah. “aku merasa kalau apa yang terjadi dalam drama ini adalah–“

“Semua yang terjadi dalam drama ini hanyalah sebuah fiksi belaka. Kesamaan nama karakter dan kejadian adalah sebuah ketidak sengajaan.” Langit menjawab dengan diplomatis.

“Langit...” Rian terdengar frustasi. Dia paling malas berurusan dengan Langit jika dia sudah berlindung dibalik sikap profesionalisme.

Langit tersenyum tulus. “Semua akan baik-baik saja, Rian. Percayalah.”

Entah kenapa tapi belakangan ini Rian mengalami kesulitan untuk mempercayai Langit.

***

Hari pementasan tiba. Sekolah mereka tidak pernah setengah-setengah dalam urusan pementasan drama, seperti sekarang. Mereka rela menyewa gedung pertunjukan di Jakarta. Banyak orang tua murid yang menyumbang untuk membuat pementasan berjalan lancar.

Rian menatap ke arah tempat duduk penonton yang mulai penuh, dia melihat orang tuanya dan orang tua Langit. Mereka duduk bersebelahan. Ia kembali ke belakang panggung, dimana teman-temannya sedang melakukan persiapan terakhir. Ketika pihak dewan guru mengetahui tema apa yang akan diangkat oleh klub drama, banyak yang tidak setuju. Mengatakan kalau ini adalah konflik yang terlalu sensitif untuk dibicarakan. Langit dengan tenang memberikan alasan kenapa dia ingin mengangkat tema kekerasan dalam rumah tangga.

“Jika semua masalah dinilai sensitif, bagaimana kita bisa menyelesaikannya? Bagaimana kita bisa membantu mereka yang terlibat dalam situasi itu? Saya berjanji, drama ini tidak akan memperlihatkan kekerasan secara eksplisit, tapi saya menemukan cara untuk menunjukkan kepada penonton bahwa kekerasan itu terjadi. Bukankah Bapak dan Ibu guru mengajari kami untuk selalu jujur? Dan sekarang, saya membawakan sebuah kejujuran ke hadapan Anda semua. Jika Bapak dan Ibu guru yang terhormat menolak drama ini, berarti Anda melarang klub drama untuk menyuarakan kebenaran.”

Tidak ada yang berkomentar lagi.

“Oke, kawan. Ini adalah penampilan pertama kita dengan Kelompok Septet yang baru.” ucap Timothy yang terpilih menjadi ketua klub drama yang baru. Sebetulnya Rian adalah kadidat yang paling kuat, tetapi Rian menolak. “Meski ini memang bukan pertama kalinya kita menampilkan drama yang berani dan berbahaya, ini pertama kalinya kita mengangkat tema yang sedang hangat dibicarakan secara nasional. Juga tema yang sangat mengguncang kehidupan pribadi kita masing-masing.”

Mereka mengangguk setuju. Mereka tahu kalau mereka tidak bisa mundur, dan mereka tidak mau. Semua anggota klub drama melakukan riset mengenai topik kekerasan dalam rumah tangga. Dan itu bukan hal yang menyenangkan. Sangat tidak menyenangkan. Selama enam bulan mereka menyentuh emosi, luka dan kegelapan yang belum pernah mereka rasakan. Mereka terbagi antara ingin berterima kasih atau memukul Langit atas semua ini.

Ada empat babak dalam drama ini, dan sekarang sudah mau masuk ke babak terakhir. Drama ini menceritakan seorang anak yang berusaha kabur dari keluarga yang selalu menyiksanya. Ketika Rian menangis di panggung, dia benar-benar menangis. Sebab adegan yang diperagakan oleh Langit, itu bukan sebuah khayalan. Rian mendengar cerita itu dari Langit sendiri, dan sekarang untuk melihat bagaimana kejadian itu terjadi dan Rian tetap tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong, membuat hatinya seperti disayat.

Drama akan menjadi puncaknya sebentar lagi, ketika Brian yang berperan menjadi polisi bangun setelah tadi dipukul oleh Timothy–yang berperan sebagai Ayah si karakter utama–dan menembak Timothy bersama Juliana–yang berperan sebagai Ibu si karakter utama–, kemudian dia akan mengadopsi si karakter utama.

Seharusnya yang berdiri adalah Brian, bukan Langit. Beberapa pemain yang berada di atas panggung mengeritkan kening. Siska yang bertugas untuk memberikan aba-aba kepada para pemain hanya menggaruk-garuk kepala, sebab seharusnya Langit tidak bangun. Para penton tidak menyadari keanehan ini.

Seharusnya Langit tidak mengambil pistol yang terjatuh dari tangan Brian. Seharusnya Langit tidak berjalan menuju ke pinggir panggung.

“Sebuah ironi adalah ketika namamu Langit, sebuah entitas yang melambangkan kebebasan, tetapi kamu terperangkap di bawah kaki sang bumi.” Langit mengepalkan tangan kiri, tangan kanannya menggenggam pistol dengan erat.

Rian sangat yakin seratus persen kalau nama karakter yang diperankan Langit adalah Linda, bukan Langit. Brian yang sudah duduk di panggung menggerakan mulutnya, kurang lebih Brian mengatakan. “Apa yang terjadi?” Perlahan, Rian berdiri.

“Hukuman untuk para orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anaknya belum setimpal.” Pistol sudah menempel di pelipis Langit. “Jangan kalian pikir kekerasan hanya berupa fisik saja. Apa kalian tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengobati luka psikologis yang dibuat oleh orang tua terhadap anaknya?” Suaranya terdengar sangat lantang.

Suasana ruang pertunjukan sangat hening, sampai-sampai Rian bisa mendengar suara pistol dikokang. Tubuh Rian tidak bisa bergerak, padahal hatinya menjerit menyuruh kakinya untuk bergerak mendekati Langit. Langit yang ia cintai, yang tengah menggenggam pistol asli.

“Bahkan sampai anak itu mati, luka tersebut tidak bisa sembuh sepenuhnya.” Langit tersenyum sedih. “Mungkin kalian berpikir kalau ini adalah perwujudan dari sikap pengecut.”

Rian berhasil mengendalikan tubuhnya. Dia sudah berlari untuk menghentikan Langit.

“Setidaknya,” air mata menetes dari pipi Langit. “aku kabur untuk bertemu Penciptaku.”

Sayangnya Rian terlambat. Dentuman pistol memecahkan keheningan dan kepala Langit.


[1] Kelompok yang terdiri dari tujuh orang. Biasanya istilah ini digunakan dalam kelompok musik, tetapi bisa diterapkan dalam konteks lain yang memiliki tujuh objek serupa atau saling terkait.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer red_habanero
red_habanero at Run Away With Me (6 years 42 weeks ago)
70

Wow.. what a complicated story..

Writer rian
rian at Run Away With Me (6 years 42 weeks ago)
70

Enggak suka endingnya. Bukan masalah moral bunuh dirinya, tapi masalah caranya. Saya enggak percaya aja si Langit bisa punya pistol beneran, dan nggak ada yang sadar itu pistol beneran.

Alur ceritanya menurut saya kurang efektif. Adegan-adegan yang terpecah-pecah ini menurut saya bisa diringkas, digabung jadi satu, biar mengalir sampai ke bagian endingnya. Kalau dipecah gini malah jadinya--menurut saya--bertele-tele.

Percakapan grup drama menurut saya ngerusak suasana cerita, jokes-jokes mereka ngeflat semua menurut saya. Dialognya juga, di beberapa tempat baku sekali, di tempat lain gaul. Percakapan tentang Kiki, pacar Rian, apakah juga perlu, apa relevan sama konflik tentang Langit? Mungkin bagian yang itu bisa diringkas juga.

Selain itu, POV-nya. Cerita ini menceritakan ttg masalah yang dihadapi Langit, dari sudut pandang Rian, menggunakan POV orang ketiga. Menurut saya itu bikin pembaca jadi terlalu berjarak sama konflik dalam cerita. Si Rian juga kayaknya enggak punya peran yang berarti dalam cerita ini, enggak ada tindakan apapun yang dia ambil kecuali menyaksikan, apa enggak sebaiknya ditulis langsung dari sudut pandang Langit aja? Atau minimal Rian dari sudut pandang orang pertama alih-alih orang ketiga?

Itu aja sih komentar saya. Maaf kalau enggak berkenan.

sijojoz at Run Away With Me (6 years 43 weeks ago)
90

poin

sijojoz at Run Away With Me (6 years 43 weeks ago)

(((rian dewanto)))

si rian gedenya sukses membintangi film filosofi kofi hehe.
sepertinya ada beberapa kesalahan ketik.
Adegan bunuh diri di teater itu jadi ngingetin sama film birdman.
dan langit kalo masuk jenjang kuliah pasti jadi aktivis HAM yang progresif dan revolusioner~

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Run Away With Me (6 years 42 weeks ago)

Sayangny Langit tidak memiliki kesempatan untuk menjadi aktivis...

Writer penulisku
penulisku at Run Away With Me (6 years 43 weeks ago)

keren ceritanya

Writer 2rfp
2rfp at Run Away With Me (6 years 43 weeks ago)
60

Putri gelap! Suka sekali ceritanya apalagi dengan cara menaikkan tensi konfliknya, bikin penasaran untuk terus baca sampai akhirnya. Masalahnya, saya belum nyaman bacanya, pertama jarak antar paragrapnya terlalu rapat, klopun mau begitu setidaknya tambahkan tab (gak tau istilah benernya) di tiap awal paragrap (ini yg bikin gak nyaman) kemudian di awal menemukan satu/dua kata yg kehilangan hurufnya.
Di awal cerita juga ada penjelasan mereka melihat langit dan dialog kamar saja tidak cukup (?) jadi mereka melihat langit dr kamar atau gmn? Klo bener brarti kamarnya gak ada atap dong (?) kan mreka telentang. Dan typo.

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Run Away With Me (6 years 42 weeks ago)

Dalam bayangan saia, mereka itu lagi tidur di beranda/balkon, dan saia lupa memperjelasny. Untuk yang kamar itu, lebih mengarah sebagai tempat untuk kabur. Mengingat bagaimana kondisi Langit, kabur ke kamar aja enggak cukup. Makany dy ngajak Rian kabur

Writer joejoe
joejoe at Run Away With Me (6 years 44 weeks ago)
70

Hai
Menurut saya cerita kamu cukup menarik, konfliknya cukup menyentuh. Mungkin lain kali bisa lebih dibuat lebih efektif naik klimaks sampai resolusinya. Dengan begitu plot nya jadi lebih menarik.

Ayo tetap menulis :)

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Run Away With Me (6 years 44 weeks ago)

Sebelumny makasih untuk masukanny, sebetulny resolusiny ya si Langit bunuh diri. I know that's not right, tapi hanya itu yang bisa saia pikirkan