Nights of Eternal Moon (3. Seminggu Bersama Kakak Cantik)

Namaku adalah Rion Einsbach Trudeau dan ini adalah tahun pertamaku di Akademi MeRV. Aku adalah putra tunggal dari Edith Einsbach Trudeau, seorang pria tua yang bermasalah dengan hari libur. Saking banyaknya bisnis yang diemban demi kemaslahatan klan Trudeau ditambah wafatnya Mama, Ayah semakin tidak tahu bagaimana kisah hidup anaknya sendiri. Aku seorang yang sangat bermasalah sewaktu SMA. Bahkan terlalu bermasalah!

Jangankan terancam D-O, aku juga pernah membuat keonaran di sekolah, berkelahi, membakar gedung, balap liar, menabrakkan limo ke mobil polisi, mengacaukan kota dengan tawuran massal, bahkan hingga mengelola bisnis ilegal, barang bajakan, viagra palsu, film dewasa, miras, dan..., oke! cukup! Jangan terlalu banyak! Semuanya terlalu suram untuk kuingat lagi. Intinya, saat itu, aku lumayan mengerikan. Bahkan jauh lebih kacau ketimbang hanya sekedar seorang boyband..., oh maaf, badboy maksudku.

Tapi, semua berubah ketika negara api menyerang! Apaan sih?! Tidak, tapi itu benar. Aku mulai berubah. Aku mulai sadar tidak ada masa depan dari itu semua. Ketika tidak ada satupun SMA di Federasi ini yang mau menerimaku sebagai murid mereka – karena aku menduduki peringkat nomor satu dalam daftar hitam Komisi Pendidikan – dan masa depanku mulai dipertaruhkan, aku merasa aku harus berubah!!!

Belum lagi ancaman dari Ayah kalau aku akan didepak dari Klan Trudeau, membakar semua bukti kalau aku adalah anaknya yang sah, dikutuk miskin tujuh turunan, dikebiri dan mandul, serta mati muda mengenaskan di tengah belantara salju, kalau aku masih bertahan di jalan kegelapan dan berhenti bersekolah... Sungguh! Semua ucapan manis Ayah itu membuat aku berpikir dua kali untuk kembali ke liang kegelapan itu!

Dan tanpa pikir panjang, aku berusaha untuk berubah. Diiringi segala macam bentuk penyadaran diri ala Edith Trudeau seperti menenggelamkanku ke kolam atau melemparku sampai setengah mampus hingga aku dirawat tiga bulan di RS, serta upaya penuh cinta Ayah dengan memanggil semua mentor terbaik, membayar mereka semua dengan sangat mahal, agar aku bisa mengejar ketertinggalanku di SMA dan berhasil mendapatkan nilai, meskipun itu yang paling rendah, agar bisa lulus dari SMA dan melanjutkan ke Akademi MeRV.

Dan disinilah aku akhirnya. Seorang pelajar tahun pertama di akademi paling elit di negeri ini yang beruntung dapat mengikuti kegiatan orientasi Akademi secara privat bersama seorang gadis yang paling diidolakan di seluruh Akademi. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa!

Dan dalam beberapa saat saja, kami sudah duduk berdua di sebuah taman. Gadis disampingku sedang menikmati minuman dinginnya sembari memandangi matahari senja yang mulai tenggelam. Sekali lagi kalian bayangkan! Dia mengajakku jalan-jalan sesudah aktivitas akademik kami selesai. Bukankah ini di luar kegiatan orientasi? Bukankah ini acara di luar wilayah Akademi MeRV? Bukankah ini bisa menjadi, apa yang biasa disebut oleh anak muda, sebagai kencan?

Oh, betapa bahagianya aku.

"Tidak terasa sudah seminggu ya?" ujar kakak cantik didepanku memulai percakapan.

Aku yang masih terbawa suasana yang begitu intim ini, meskipun sudah seminggu kulakoni momen-momen yang sama seperti ini, tidak menjawab pertanyaannya.

Gadis di sampingku mendadak tersenyum kecil.

"Eh, m... maaf..., aku melamun."

"Nggak, bukan...," aku melihat kak Violet berdiri dan berjalan menuju pagar pembatas taman. Di baliknya, tampak pemandangan sebuah kota terbesar di planet ini, jauh di bawah taman tempat kami berada. Gedung-gedung yang menjulang tinggi dan panel-panel raksasa membentuk siluet yang begitu megah dan cantik. Dia terlihat begitu terkesima menikmati suasana sore ini sehingga kami sempat terdiam cukup lama.

Aku akhirnya bangkit berdiri menghampirinya.

"Sejak setahun aku bersekolah di MeRV, aku sering menghabiskan waktu disini. Setiap sore, saat matahari mulai tenggelam, disini begitu indah… Aku sangat suka melihat betapa luasnya kota dari atas sini," ujarnya saat aku sudah disampingnya. Aku tersenyum sembari mencoba menikmati keindahan yang dirasakan Kak Violet.

"Terima kasih untuk semuanya selama seminggu ini, Kak" ucapku selanjutnya.

Gadis itu berbalik menghadapku dan menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas. Tatapan kami saling bertemu. Angin yang bertiup pelan membelai rambut kuning keemasan dari gadis didepanku dan membuatku cukup terpana. Aku terpaksa harus memalingkan wajah atau kalau tidak, aku bisa mimisan.

"Aku juga sangat menikmati kebersamaan kita Rion. Selama seminggu mengenalmu, kamu sangat menyenangkan. Berbeda dengan penampilanmu yang seperti kurang bersahabat, kamu sungguh sangat berbeda. Selain itu, aku sangat menghargai kepatuhanmu dan aku senang melihatmu memiliki semangat belajar yang tinggi."

"Te...terima kasih banyak, Kak!" ugh, betapa senangnya aku mendengar pujian yang begitu tinggi itu. Diucapkan oleh gadis yang sangat cantik pula. Seumur hidup perjalanan hidupku, tidak pernah sekalipun aku mendapatkan pujian seperti itu dari seorang cewek. Begitulah, mengingat kejahatan yang kulakukan di masa lalu, luar biasa kalau ada cewek yang mau mendekatiku.

"Kamu tidak penasaran kenapa kita bisa terpilih bersama?"

Takdir mungkin, atau karena kita berjodoh, ujarku dalam hati. Aku menggeleng tidak tahu.

"Aku memilihmu untuk menjadi juniorku."

APA!!! Betulkah itu?! Seketika itu juga aku serasa ingin terbang ke angkasa dan meledak diatas sana. Aku begitu bahagia mendengarnya meskipun aku sedikit tidak percaya. Sungguh aku sangat amat tidak percaya! Benarkah yang dia ucapkan? Benarkah dia memilihku? Memangnya siapa aku? Iblis yang mengerikan di masa lalu, sungguh aku tidak punya sama sekali sesuatu yang diunggulkan untuk bisa menarik minat seorang bidadari seperti dia. Banyak junior yang lebih pandai, lebih tampan, dan lebih 'bersih' ketimbang aku.

"Tapi, kenapa Kak? Aku bukan seorang..."

"Tentu saja itu yang harus dilakukan bukan?"

Aku melongo, apa maksudnya 'harus dilakukan?'

"Kita berusaha saling mengenal satu sama lain. Mengakrabkan diri. Saling mengobrol banyak hal yang menyenangkan. Bahkan aku menawarimu untuk saling memanggil nama depan kita masing-masing."

"I...Iya..."

"Aku sudah memberikan semua keramah-tamahanku kepadamu. Apa kamu menikmati itu semua?"

Apa? "Ten... Tentu saja aku sangat menikmatinya! Ta... tapi..." apa maksudnya?

Aku masih belum paham dengan 'harus dilakukan'? Aku belum paham dengan 'sudah memberikan semua keramah-tamahanku'. Aku bahkan juga tidak paham dia bertanya apa aku menikmati itu semua?

Jangan-jangan... Dia adalah orang suruhan!!! Dia disuruh Ayah untuk menjagaku! Dia, Kakak Violet, diutus untuk mengawasiku agar tidak terjerumus kembali ke dalam kegelapan! Jangan-jangan, semua pernyataannya tadi untuk mengevaluasi apa yang telah dia lakukan selama seminggu ini sudah sesuai?!

Tidak! Sangat tidak mungkin! Dia adalah Violet Atreide dari Klan Atreide! Keluarga besar yang memiliki pengaruh yang tidak jauh beda seperti kami. Dan sangat tidak mungkin dia mau menjadi orang suruhan seperti babu?

"Tampaknya, mendadak kamu memiliki banyak hal yang mengganggu pikiranmu, ya?"

Aku tanpa sadar mengangguk.

"Maaf Kak. Apa kakak..."

"Orang yang diperintah oleh Paman Edith untuk mengawasi tingkahmu agar tidak terjerumus lagi di jalan kegelapan seperti dulu?" potongnya sambil tertawa kecil. Dia lalu menggeleng sambil mengisyaratkan tidak dari gerakan tangannya. Tunggu! Bagaimana juga dia bisa tahu nama depan Ayah?

"Jadi..., kau sungguh tidak tahu?" cewek disampingku terlihat begitu senang seperti dia baru saja memenangkan lomba, "Sudah kuduga, sejak pertama kali kita bertemu seminggu yang lalu... Kamu memang tidak mengetahuinya!"

Apa yang dia maksud? Ah, seandainya dia Alan, dia pasti sudah kucekik karena membuatku begitu sangat penasaran! Hendak aku berkata lagi, tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing menyapa telingaku. Sebuah suara yang tidak kusangka akan terdengar disini.

"Menikmati sekolah baru, kurasa?"

Kami sama-sama menoleh kebelakang. Sudah kuduga, ada seorang sosok bernama Edith Trudeau yang sudah berdiri sangat dekat dengan kami.

"Dan tak kusangka sebelum masa kuliah dimulai kau sudah mendapatkan seorang pacar, Rion!"

"Ah! Uh..." aku bingung mau berkata apa. Melihat pria tua itu ada disini, tentu saja aku ingin menanyakan kenapa dia ada disini. Tetapi mendengar ucapannya yang penuh kesalahpahaman itu yang bisa membuat Kak Violet berfikir macam-macam, aku tentunya harus meluruskan. Tetapi belum selesai membela diri, aku mendengar kak Violet memberi hormat.

"Paman Edith, lama tidak berjumpa."

Pria tua itu menatap Kak Violet cukup lama. Akhirnya saat otaknya yang mungkin kadang suka konslet saat melihat cewek cantik itu sudah tersambung lagi, dia tersenyum senang.

"Demi Tuhan, Violet! Kau sudah besar sekarang! Dan kau... sangat cantik! Ya ampun, aku tidak menduga...," matanya memandang ke arahku. Apa? Aku tidak tahu.

"Dan kalian sudah saling bertemu. Sungguh sangat menyenangkan!"

Aku tersenyum. Jadi, si Ayah sudah tahu tentang kak Violet. Dan kak Violet juga tahu siapa Ayah. Bagus! Jadi kalau seandainya saja, aku bisa beneran menjadi pacarnya, aku tidak perlu repot memperkenalkan dia.

"Kalau begitu aku tidak perlu repot memperkenalkan Violet kepadamu kan Rion? Dan lagi, putri Erwin sudah sangat cantik sekarang!"

Aku tahu Ayah mata keranjang. Tapi tolong, jangan sekarang, dan jangan di hadapan Kakak.

"Jadi, kalian bisa segera menikah!"

HEEEHHHH... APAAAA?! "AYAH! Jangan ngomong sembarangan!!! Berpacaran saja belum..." Apa-apaan pria tua ini mengatakan sesuatu yang  memalukan seperti itu. Aku hendak angkat suara, berpidato panjang lebar mengenai hubungan kami sebelum tiba-tiba aku mendengar suara kecil dari cewek disampingku.

"Maafkan saya, Paman...," Kak Violet tiba-tiba menyela pembelaanku, "Tapi, anu..., saya belum memberitahu Rion soal pertunangan ini."

AAAPPPPPPPPPPAAAAAAAAAAAAAAAAAAA??????!!!!!!!!!!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

mohon maaf, berhenti dulu. lagi memperbarui ceritanya.

lanjutanya ceritanya mana gan

Cincin Kawin Online - Saldo paypal

yaaaa?? Mereka udah tunangan? Lanjutannya mana? Ugh, penasaran nih!

nextttttttttttt!