Tectona Grandis - #1

Kisah ini hanya fiktif belaka, tidak berhubungan dengan suatu lembaga, tempat, mau pun orang.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

#1 NATUR ACADEMY

Langit yang terang perlahan berganti menjadi jingga. Semburat kemerahan muncul dari arah barat dan perlahan-lahan warna tersebut meluncur kebawah berganti menjadi gelap. Pohon-pohon di pinggir jalan yang terlihat bergerak dengan cepat perlahan menghilang dari penglihatanku, namun aku tahu tidak ada satu pun rumah yang berdiri di pinggir jalan. Jalanan terasa sepi dan lengang, hanya terdengar suara deru AC dari bis yang kami naiki. Anak perempuan berambut pendek sepundak, berkulit putih dan berkacamata yang duduk di sampingku tertidur sejak tadi siang ketika bis baru berangkat meninggalkan terminal. Selimutnya menutupi hampir separuh tubuhnya. Begitu pun dengan penghuni bis yang lain. Dengkuran bahkan terdengar dari arah tempat duduk seorang anak laki-laki berambut seperti kulit durian –rambutnya berdiri tegak dan mengkilap karena diberi gel.

            Kepalaku bersandar di jendela, hampir tidak kupercayai bahwa akhirnya aku memutuskan mengikuti keinginan orang tuaku bersekolah di Natur Academy. Sebuah sekolah yang terletak jauh dari peradaban manusia, kata ayahku disana tempat yang tepat untuk mengembangkan insting terhadap alam. Kata ibuku, disana ia dulu bertemu dengan ayah dan akhirnya sekarang mereka memilikiku. Tapi menurutku, aku hanya menjadi satu dari sekian banyak korban anak-anak yang masa depannya harus berakhir di keputusan orang tua mereka.

Aku tidak bisa menolak permintaan mereka untuk yang kedua kalinya. Setelah aku mengundurkan diri dari penerimaan murid baru sekolah kedokteran terkenal yang menerimaku secara cuma-cuma melalui jalur undangan dengan hanya mengirimkan nilai-nilai ujian, apakah aku tega menolak kesempatan kedua yang dipilihkan oleh orang tuaku? Berbeda dengan sebelumnya, aku diterima melalui jalur tes tulis di Natur Academy. Natur Academy tidak menyediakan jalur undangan seperti universitas atau institusi perguruan tinggi negeri pada umumnya. Kata ayahku, kepala Academy saat ini tidak mempercayai nilai dari jalur undangan, ia percaya kemampuan seseorang benar-benar dapat terlihat melalui ujian tulis yang di adakan langsung. Tentu dengan soal yang sudah dimodifikasi agar mahasiswa-siswi yang mengikuti les tamabahan dan yang tidak mengikuti les tambahan dapat ditempatkan di level yang sama.

Pemandangan pepohonan berganti menjadi pagar beton yang menjulang tinggi. Ketika kondektur bis berteriak membangunkan orang-orang, bis sudah melewati gerbang besar dengan tulisan “Natur Academy” berwarna keemasan di atasnya. Terdapat pos penjaga di samping gerbang yang diisi oleh dua pria berseragam putih.

Ujung gedung utama dapat terlihat dari sini. Bis semakin dekat dengan gedung utama, ujung tersebut perlahan menunjukkan bagian lain dari bagian gedung utama. Pilar-pilar berwarna gading berdiri kokoh menyangga teras gedung utama, dinding yang dilapisi kaca membiaskan cahaya dari dalam gedung, bendera negara Indonesia dan bendera Natur Academy menjulang kokoh di pinggir lapangan, diikuti oleh tiang bendera keempat jurusan di akademi ini.

Gedung utama terlihat seperti sumber cahaya di antara kegelapan, gedung tersebut merupakan satu-satunya gedung sejauh mata kami memandang yang memancarkan cahaya terang, sementara disekelilingnya hanya terdapat hutan yang gelap. Terdapat sebuah kolam air mancur dengan lambang Natur Academy di depannya. Lambang Natur Academy berbentuk lingkaran, di dalamnya terjalin sulur-sulur yang membentuk gambar sebuah bibit dengan empat helai daun di atasnya. Lambang tersebut disorot oleh lampu berwarna kuning agar dapat terlihat dalam gelap.  Disamping kanan kiri air mancur terdapat taman bunga dengan hamparan rumput hijau yang dipotong rapi serta pohon-pohon dari hutan musim yang ditanam di pinggir lapangan. Lampu-lampu jalan berbentuk bulat di pasang di jalan yang memotong lapangan hijau, sudut-sudut taman dan di bawah pohon-pohon yang tajuknya rapat.

Bis berhenti didepan taman. Kondektur berkeliling membangunkan yang masih tertidur, sementara aku sudah turun untuk segera mengambil koper di bagasi. Namun, baru kujejakkan kaki di atas rumput hijau, terdengar suara yang menginstruksikan kami untuk segera membuat barisan.

            “Ayo, semuanya, segera membentuk barisan, laki-laki sebelah kanan dan perempuan sebelah kiri!” ucapnya dengan cepat.

            Anak-anak lain yang baru turun dari bis langsung mengikuti instruksinya dengan cepat, beberapa yang masih belum sadar sepenuhnya karena masih mengantuk langsung diseret oleh anak lainnya masuk ke dalam barisan memanjang. Kondektur bis membuka bagasi dan koper-koper kami. Lalu –entah darimana beberapa mahasiswa datang ke arah kami, mengangkut koper-koper kami dan memasukkannya ke dalam sebuah truk.

            “Mau dibawa kemana koper-koper kami?” tanya seorang anak perempuan berambut pendek seleher dan mengenakan kacamata, wajahnya terlihat seperti mahasiswa tingkat atas –tapi dari seragamnya aku yakin kalau dia mahasiswa baru sama sepertiku.

            “Koper kalian akan langsung diangkut menuju asrama masing-masing. Semua sudah mencantumkan nama di kopernya kan?” tanya mahasiswa yang menyuruh kami berbaris tadi. Semua mengangguk, mengiyakan. Kami menunggu sampai anak terakhir turun dari bis. Anak yang terakhir turun adalah seorang anak laki-laki berwajah seperti anak-anak, bertubuh kecil dan rambutnya berwarna coklat kemerahan. Laki-laki itu langsung bergabung di barisan paling belakang.

            “Oke, sudah lengkap?”

            Kami saling menoleh kesamping dan belakang, memastikan tidak ada seorang anak pun yang tertinggal di dalam bis dan dibawa kembali ke terminal.

            “Baiklah, namaku Deni, tahun kedua dari jurusan Perikanan dan Kelautan. Disini bertugas mengantarkan kalian ke aula utama dan asal kalian tahu, kalian adalah kloter terakhir dari mahasiswa baru tahun ini, jadi bersemangatlah karena setelah ini upcara pembukaan tahun ajaran baru akan dimulai!”

            Mereka bertepuk tangan riuh dan antusias. Aku hanya ikut bertepuk tangan sambil memerhatikan Deni. Pakaian yang mahasiswa baru kenakan sangat berbeda jauh dengan mereka yang sudah berstatus resmi menjadi mahasiswa Natur Academy. Sejak dari keberangkatan, kami sudah diinstruksikan untuk mengenakan kemeja berwarna putih, bawahan celana panjang hitam untuk laki-laki dan rok hitam untuk perempuan. Sementara Deni mengenakan seragam Natur Academy yaitu kemeja putih dengan dasi hitam bergaris biru tua, blazer berwarna biru tua karena ia jurusan Perikanan dan Kelautan, dan celana bahan hitam.

            “Setelah upacara pembukaan akan dilanjutkan dengan makan malam bersama, lalu kalian akan dibawa menuju asrama masing-masing,” terang Deni, “ada pertanyaan?”

            Laki-laki berambut durian yang tadi tidur mendengkur mengangkat tangannya. “Kapan kami mendapatkan seragam?”

            Deni tertawa, “tidak akan lama lagi,” katanya. “Tenang saja, kalian akan mendapatkan seragam masing-masing sebelum hari pertama kegiatan belajar dimulai! Tidak ada pertanyaan lagi?”

            Hening. Tidak ada satu pun dari kami yang menjawab.

            “Oke, kalau tidak ada, sekarang kita pergi ke aula utama.” Deni berbalik dan melangkah memimpin barisan kami masuk ke Gedung Utama. Barisan kembali ricuh oleh obrolan anak-anak yang antusias dan tidak sabar menghadiri upacara pembukaan.

*****

            Aula utama terletak tepat di belakang utama. Aula tersebut sangat besar dan luas, berbentuk segi lima dan terdapat tribun yang dipisahkan oleh tiga jalan yang secara tidak langsung memisahkan tribun sesuai jurusan masing-masing. Kalau dilihat dari luasnya, aula utama sanggup diisi lebih dari 5000 orang. Bagian depan tribun merupakan lantai marmer gading yang luas –tempat dimana mahasiswa baru dibariskan saat ini, di bagian depannya terdapat panggung dan seluruh dosen di Natur Academy duduk dibaik meja besar panjang disana. Di bagian depan panggung terdapat sebuah podium dengan ukiran lambang Natur Academy di depannya.

            Di tengah aula utama, mahasiswa baru berbaris rapi. Anak-anak yang baru datang, termasuk aku ikut berbaris di belakang mereka. Aula utama sangai ramai, setiap tribun terisi oleh masing-masing jurusan. Ada empat jurusan di akademi ini. Pertama, jurusan yang menguasai tribun paling pinggir kanan adalah jurusan Pertanian. Mahasiswa disana mengenakan blazer berwarna hijau tua, begitu pun dengan dasi mereka yang memiliki garis hijau tua menandakan bahwa mereka mahasiswa jurusan Pertanian. Di tribun sebelahnya berisi jurusan Kehutanan. Blazer mereka berwarna abu-abu dan dibandingkan jurusan lain, jurusan ini terlihat paling ramai dan ricuh. Di tribun selanjutnya berisi jurusan Perikanan dan Kelautan. Sama seperti Deni, mahasiswa dijurusan tersebut mengenakan blazer berwarna biru tua. Ditribun paling sebelah kiri dikuasai oleh mahasiswa dari jurusan Peternakan. Mudah mengenali mereka dari blazer berwarna coklat dan topi cowboy yang mereka gunakan sebagai aksesoris menyambut mahasiswa baru di jurusan mereka.

            Sorakan riuh terdengar dari tribun jurusan kehutanan. Seorang mahasiswa berambut panjang dan dikucir kuda, berdiri di depan tribun jurusan kehutanan, lengan blazer abu-abunya ia gulung sampai siku, teriakannya yang lantang membahana di aula dan menyulut semangat mahasiswa jurusan kehutanan yang lain. Mereka meneriakkan jargo, menyanyikan yel-yel yang mengintimidasi jurusan lain dan tidak bisa ditenangkan karena mahasiswa jurusan Perikanan dan Kelautan menyahuti jargon mereka.

            Aksi heboh tersebut hampir berubah menjadi huru-hara kalau Rektor Natur Academy tidak naik ke atas podium. Aku cukup kagum dengan kharisma rektor kami,begitu ia berdiri, seluruh mahasiswa yang dari tadi meneriakkan jargon dan yel-yel langsung tenang dan kembali ke tempat duduk mereka.

            Deni dan mahasiswa lain yang menjadi penjemput mahasiswa baru kembali ke tribun jurusan mereka masing-masing. Suasana menjadi hening. Mataku melihat-lihat ke seluruh penjuru aula. Bendera setiap jurusan tergantung di langit-langit tribun masing-masing. Dibelakang meja para dosen, terdapat kaca keramik berwarna yang membentuk lambang Natur Academy. Langit-langit aula berjarak sekitar 20 meter dari kami dan bagian tengahnya terbuat dari kaca sehingga aku dapat melihat langit yang gelap dari tempatku berdiri.

            “Selamat datang,” sambut Rektor Natur Academy. Suaranya menggema dan terdengar di seluruh aula bahkan tanpa bantuan pegeras suara. Rektor Natur Academy bertubuh tinggi dan tegap, rambutnya berwarna kelabu menandakan usianya yang tidak muda lagi, kaca matanya berbingkai coklat sangat pas dengan bentuk wajahnya yang persegi tanpa jenggot dan kumis, ia mengenakan jas almamater Natur Academy yang berwarna hitam dengan ukiran emas di pinggir lengannya. Suaranya terdengar tegas dan kuat, tatapannya tajam ke arah tribun dan seakan setiap kata yang ia ucapkan benar-benar terdengar yakin dan merasuk ke dalam diri kami semua.

            “Pertama, saya ingin mengucapkan selamat kepada 120 mahasiswa baru yang berhasil lulus seleksi tes tulis ketat yang hanya kami adakan dalam satu gelombang. Menurut data statistik yang kami catat, pendaftar tahun ini mencapai 8000 lebih dan kalian berhasil mengalahkan 7780 siswa lain untuk berdiri di aula ini, bersama kami para tim pengajar dan calon kakak tingkat kalian.”

            “Seperti yang kalian ketahui, Natur Academy adalah akademi khusus yang didirikan untuk menciptakan mahasiswa-mahasiswa yang berlandaskan pengetahuan mengenai alam. Bagaimana mengelola sumberdaya alam yang melimpah, baik di darat mau pun laut, di bidang pertanian, kehutanan, kelautan mau pun peternakan. Harapannya kalian akan menjadi pengelola sumberdaya alam di negeri ini, sehingga kita bisa menjadi bangsa yang mandiri, tidak tergantung oleh negara lain!”   

            Terdengar tepuk tangan dari arah tribun, aku pun ikut bertepuk tangan karena anak-anak yang lain melakukannya. Dalam waktu singkat, aula kembali hening. Rektor pun melanjutkan pidato sambutannya.

            “Teruntuk anak-anakku yang baru masuk sebagai mahasiswa baru, kalian harus belajar dengan serius dan tekun, contoh kakak tingkat yang baik dan tidak usah ikuti kalau ada yang mengajak kalian membolos atau melakukan tindakan konyol,” bola mata Rektor melirik ke arah tribun jurusan Kehutanan, lalu berpindah ke jurusan Perikanan dan Kelautan. “Saya harap kekacauan tahun kemarin tidak diulangi untuk tahun ini.”

            “Kekacauan? Kekacauan seperti apa yang dia maksud?” seorang anak laki-laki yang berdiri di depanku berbisik dengan teman di sebelahnya yang segera dibalas dengan gelengan.

            “Demi kekayaan sumberdaya alam bangsa!”

            “DEMI KEKAYAAN SUMBERDAYA ALAM BANGSA!” aku terperanjat kaget, seluruh mahasiswa di tribun mengikuti ucapan Rektor tersebut. Kami menoleh ke belakang dan melihat seluruh mahasiswa di tribun berdiri, kepalan tangan kanan mereka menempel di dada kiri mereka.

            Selanjutnya Rektor menjelaskan jumlah produk yang berhasil di ekspor ke perusahaan-perusahaan mau pun industri dalam negeri dan luar negeri, peningkatan keberhasilan panen setiap tahun, produk inovatif yang berhasil memenangkan penghargaan di tahun ajaran sebelumnya, serta peraturan-peraturan baru untuk semua mahasiswa seperti tidak diperbolehkan adanya kegiatan pemerasan dan intimidasi kepada mahasiswa baru. Sepertinya kegiatan itu cukup sering dilakukan di tahun-tahun sebelumnya karena Rektor sampai turun tangan membuatkan perundangannya.

            Rektor mengakhiri sambutannya dengan ucapan “Terima kasih,” dan kemudian ia turun dari podium diikuti tepuk tangan dan siulan dari mahasiswa di tribun. Tidak lama kemudian, seorang mahasiswa dari jurusan Pertanian naik ke atas panggung. Ditangannya terdapat beberapa lembar kertas.

            “Perhatian semuanya! Saya Rey, perwakilan dari pengurus BEM akan membacakan pembagian jurusan untuk mahasiswa baru!”

            Suara teriakan dan kericuhan kembali terdengar dari arah tribun. Sepertinya bukan hanya kami yang merasa tidak sabar mendengar pembagian jurusan dibacakan. Rey membuka lembaran kertas pertama dan akan segera membacakan nama kami satu persatu diikuti dengan jurusan yang telah ditetapkan oleh staff akademik Natur Academy.

            “Dia akan membacakannya dari mahasiswa baru dengan nilai tertinggi dari tes seleksi kemarin,” bisik anak perempuan berambut gelombang yang berdiri di sebelahku. Wajahnya bulat dan pipinya terlihat chubby dengan model rambutnya yang diikat satu kebelakang. Tingginya sepundakku dan wajahnya terlihat tegang karena ia pun sepertinya khawatir dengan pembagian jurusan ini.

            “Adhisty Narayana.... jurusan KEHUTANAN!” Aku terperanjat kaget, namaku disebut pertama dan aku masuk jurusan Kehutanan.

 

 

 

Bersambung.........

 

________________________

 

Mohon maaf kalau ceritanya gaje, sebagai newbie, saya mohon komentar, kritik dan saran dari teman-teman kemudian.com untk mengoreksi atau menambahkan. Terima kasih.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer hidden pen
hidden pen at Tectona Grandis - #1 (6 years 35 weeks ago)
60

umm kasi point aja hkhkhk. Ehm ehm nyantai aja. Mungkin pengenalan cerbung pertama menurutku, hanya menurutku loh ya. Kurang greget. Bagian deskripsi yg terlalu detail, jadi bikin gimana gitu. Rambut, kacamata, umm menurutku jika lebh di narasikan, ceritamu ini akan cetar membahana. Mainkan kata kata gitu, kayaq komen ane ini. Hkhkhk. Ehm maaf, di tunggu kelanjutannya ya. :v

Writer red_habanero
red_habanero at Tectona Grandis - #1 (6 years 34 weeks ago)

Baiik.. terima kasih atas sarannya..
dan memang benar, dibanding bab-bab selanjutnya, bab pertama paling banyak deskripsinya.. hehe..
Terima kasih

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Tectona Grandis - #1 (6 years 35 weeks ago)
80

Wah-wah. Postingan pertama ya? Selamat ^^ Tulisannya sudah lumayan rapi. Poles dikit udah bagus sih menurut saya, karena masih ada ketikan tanda baca yang kurang tepat juga typo. Hohoho.
.
First comment: Sista, kalau ceritanya bersambung, kenapa pakai tag cerita pendek? Bisa diubah jadi cerita bersambung :v
.
Awalan cerita bukan hal yang baru sih, semacam murid baru, baru pindahan, perkenalan pertama~ but, noprob sih. Saya pun kadang pakai :'D
Bacanya saya jadi teringat Harry Potter di mana siswa2 barunya digolongkan jadi empat jurusan.
Hmm.. karena belum ada konflik di part pertama ini jadi saya nggak bisa komen banyak ^^
Semangat dilanjutkan ya~

Salam

Writer red_habanero
red_habanero at Tectona Grandis - #1 (6 years 35 weeks ago)

Oh iya.. benar.. masih banyak typo.. hehe..
Oh ada tag cerbung? Baru tau.. hehe.. baik akan diperbaiki di next posting..

Haha.. mungkin seperti ini sekolah Hogwarts tanpa sihir.. :D

Baik, terima kasih atas komentarnya.. akan saya coba perbaiki..

Writer Jemmy
Jemmy at Tectona Grandis - #1 (6 years 35 weeks ago)
2550

Bagus Banget, sampe ngantuk mbacanya gk kedip wkwkk

Writer red_habanero
red_habanero at Tectona Grandis - #1 (6 years 35 weeks ago)

maksudnya.., merem? wkwk..