Tectona Grandis - #2

Kisah ini hanya fiktif belaka, tidak berhubungan dengan suatu lembaga, tempat, mau pun orang.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

#2 Keanehan

“Adhisty Narayana.... jurusan KEHUTANAN!” Aku terperanjat kaget, namaku disebut pertama dan aku masuk jurusan Kehutanan. Mahasiswa jurusan Kehutanan berseru penuh kemenangan, tentu itu disebabkan tidak hanya karena mereka bersorak senang menyambut calon anggota baru mereka, tetapi juga karena mahasiswa baru dengan nilai tertinggi kali ini berasal dari jurusan Kehutanan.

            Anak-anak yang berada di barisan celingukan mencari pemilik nama yang baru Rey sebutkan. Rey pun ikut mencari-cari dengan menatap wajah setiap anak perempuan di barisan kami.

            “Kepada Adhisty Narayana, segera keluar dari barisan dan masuk ke tribun jurusan Kehutanan,” ucapnya sebelum beralih ke nama kedua di kertasnya. Aku mundur perlahan-lahan dan anak-anak di barisan segera memperhatikanku. Kudengar beberapa dari mereka berbisik,  “nilainya tertinggi”, “tidak terlihat dari wajahnya tapi”, “...dan dia dari jurusan kehutanan, itu langka sekali”.

            Kepalaku menunduk selama naik ke atas tribun. Semakin dekat dengan tribun jurusan Kehutanan, aku mengangkat wajahku perlahan. Ketika pertama kali aku masuk ke wilayah tribun mereka, menatap satu per satu wajah dari mahasiswa di jurusan ini, ternyata setelah kuperhatikan dari jarak dekat, wajah mereka banyak yang dirias, berwarna warni, mungkin salah satu bentuk selebrasi yang mereka lakukan untuk menyambut kami. Mahasiswa laki-laki banyak yang berambut gondrong, lengkap dengan jambang atau kumis yang dibiarkan tumbuh oleh mereka. Aku bergidik. Tidak dapat kubayangkan bagaimana ayahku dulu berhasil melewati masa studinya di jurusan ini.

            “Arka Maharaja jurusan KEHUTANAN!” Aku belum menemukan tempat yang bisa kududuki di tribun ketika nama orang kedua disebutkan. Mahasiswa di tribun jurusan Kehutanan bersorak menyambut calon anggota kedua mereka.

            “Dua orang.. dua orang berada di top list mahasiswa baru!” aku mendengar seorang mahasiswa Kehutanan yang duduk di pinggir tribun berbicara dengan teman disampingnya.

            “Mungkin tahun ini akan berbeda,” balas teman satunya dengan wajah antusias.

            Aku tidak tahu apa maksud mereka. Jika top list mahasiswa baru ternyata menentukan kepopuleran suatu jurusan, berarti selama ini jurusan Kehutanan jarang disinggahi mahasiswa baru dengan nilai tertinggi.

            Aku akhirnya menemukan tempat duduk di tribun paling atas. Aku memilih tempat duduk paling pinggir dan kuperhatikan mahasiswa baru yang namanya disebutkan setelah namaku tadi. Ia berjalan ke arah tribun paling atas dan dari balik kacamatanya, aku tahu kalau ia sedang menatap ke arahku.

            Aku langsung membukakan jalan untuknya ketika ia sampai di tribun teratas. Laki-laki itu menundukkan kepalanya sedikit, lalu berjalan melewatiku dan duduk tepat disampingku. Aku melirik ke arahnya dengan hati-hati. Ekspresinya tidak tegang seperti kami, tapi terlihat serius dan tenang. Kacamatanya agak turun ke batang hidung, matanya menatap tajam ke arah panggung, dan tiba-tiba kepalanya menoleh ke arahku.

            “Eh, anu, selamat datang..,” ucapku, kebingungan karena ia menoleh tiba-tiba. Diluar dugaan, ia tersenyum dan mengangguk.

            “Namaku Nara,” kataku sambil mengulurkan tangan kepadanya.

            “Arka,” balasnya sambil membalas uluran tanganku.

            “Jadi, kita berdua mahasiswa baru pertama di jurusan ini,” aku mencoba membuka percakapan.

            “Tidak, kau yang pertama,” katanya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Matanya fokus memperhatikan satu persatu anak yang namanya disebut beserta jurusannya, mereka berjalan meninggalkan barisan di tengah aula dan menuju tribun masing-masing.

            “Aku rasa itu kebetulan,” kataku lagi, pelan. Suaraku nyaris tenggelam karena lagi-lagi jurusan Kehutanan bersorak menyambut mahasiswa baru ketiga mereka. “Aku tertidur di satu setengah jam pertama ketika tes dan hanya mengerjakan empat soal perhitungan.”

            “Kenapa kau tidur?”

            “Karena membosankan.”

            Ia menoleh ke arahku dengan ekspresi yang tidak dapat kugambarkan dengan jelas. Antara heran dan ingin tersenyum. Mungkin ia menganggapku aneh, tapi memang seperti itu kenyataannya.

            “Kau mengerjakan empat dari lima soal perhitungan yang diberikan oleh mereka,” katanya lagi sambil mengalihkan kembali pandangannya ke arah panggung.

            “Ya... sejujurnya aku tidak tahu kalau soal kelima ada.”

            Ia menoleh lagi ke arahku, kali ini ekspresinya menuntut penjelasan atas tindakan yang tidak kusengaja itu.

            “Aku tidak tahu kalau soal kelima ada di belakang halaman yang sama dengan soal nomor satu sampai empat. Jadi aku langsung pindah ke soal selanjutnya.”

            Dia menggeleng sambil tertawa kecil. Pembicaraan kami berdua terhenti karena ada mahasiswa baru yang mau bergabung di deretan tribun atas. Tidak lama kemudian, ada empat mahasiswa baru lagi yang bergabung dengan kami, salah satu di antaranya adalah anak perempuan berambut gelombang yang berdiri di sebelahku tadi, ia menyapaku dan mengucapkan selamat padaku. Ternyata namanya Zarina.  

            Selanjutnya adalah anak yang duduk bersebalahan denganku di bis, ternyata ia masuk jurusan Kehutanan dan laki-laki yang memiliki rambut seperti durian juga masuk jurusan Kehutanan. Kami sempat berkenalanan, ternyata anak yang duduk di sebelahku bernama Elie dan laki-laki dengan rambut seperti kulit durian itu bernama Henry.

            “Kenapa kita tidak boleh menentukan jurusan kita sejak awal tes? Bagaimana kalau seandainya kita masuk di jurusan yang tidak kita sukai dan akhirnya berhenti karena tidak sanggup menerima materi pelajaran? Bagaimana mereka bisa menentukan kita layak masuk ke suatu jurusan hanya dari jawaban tes tulis?” Aku memberondong pertanyaan pada Arka.

            Ia diam untuk waktu yang lama, mungkin sedang memikirkan jawaban. “Saat kita mengerjakan tes tulis, terdapat soal-soal yang sengaja dijadikan studi kasus untuk menguji minat dan kemampuan kita,” katanya, cepat. “Kau tidak bisa membohongi soal itu karena jawabannya datang dari dalam niatmu, itulah sebabnya mereka mematok waktu yang sangat singkat untuk mengerjakan seratus soal yang isinya hanya menanyakan kepribadianmu.”

            “Bagaimana jika prediksi mereka salah?”

            “Maka kau tidak punya pilihan lain selain menjalaninya.”

            Aku memandang wajahnya yang tenang. Ia seperti orang yang tidak mau repot membuat suatu ekspresi di wajahnya.   

“Arka, apa kau sangat ingin masuk jurusan Kehutanan?”

Ia mengangguk. Rasanya saat itu aku ingin mengatakan “tidak”, tapi kuputuskan untuk tetap diam saja. Seharusnya aku bersyukur karena sudah menjadi bagian dari sedikit orang yang terpilih masuk ke akademi ini, tapi entah mengapa aku tidak bisa menikmati semua ini.

*********

            Akhirnya pembagian jurusan untuk mahasiswa baru sudah selesai. Rey terlihat sangat kelelahan. Suaranya terdengar seperti kodok yang tercekik ketika menyebutkan nama terakhir, namun ada kelegaan disana karena sekarang ia bisa kembali ke tribun dan langsung disambut dengan satu botol air mineral dari teman sejurusannya.

             Selanjutnya adalah acara makan malam bersama. Di bagian samping kiri aula ternyata dining hall yang sangat megah. Lukisan-lukisan terukir di langit-langit, lampu kristal besar bergantung di tengah-tengah, meja-meja panjang berbalut kain putih berjajar di bagian tengah ruang. Piring, gelas, sendok, garpu dan pisau ditata di atas meja yang terletak di sebelah kanan ruang. Aneka puding, agar-agar, buah-buahan, dan makanan penutup lainnya ada di meja panjang yang diletakkan di sebelah kiri ruang. Disamping meja makanan penutup adalah meja yang menyediakan aneka minuman dingin yang ditata bertumpuk seperti piramid.

            Kami mengantri masuk ke dalam dining hall untuk mengambil makan malam kami. Aku begitu tergiur dengan aneka buah-buahan yang terlihat segar di meja makanan penutup. Begitu pun dengan agar-agar dan pudingnya. Tetapi menu utama yang disediakan pun tidak kalah menggodanya. Ada ayam panggang, daging sapi yang diasap, salad, telur yang diolah menjadi macam-macam menu, sup, dan lain-lain.

            “Aku butuh dua piring,” bisikku pada Zarina yang langsung ditanggapinya dengan cekikikan.

            Faktanya, satu piringku nyaris penuh oleh menu utama, dan piring kecil yang lainnya kuisi dengan tumpukan buah dan agar-agar. Aku nyaris tidak bisa membawa satu gelas minum pun kalau Elie tidak membantu membawakannya satu untukku.

            “Thanks, Elie,” kataku ketika kami sudah kembali ke tribun untuk menikmati makan malam.

            “Sama-sama,” Elie meletakkan gelas minum di dekat piringku. Rektor Natur Academy berdiri, diikuti oleh para tim pengejar. Seluruh mahasiswa di aula pun ikut berdiri. Aku hampir menyendokkan nasi ketika Arka menyenggol lenganku, memberi isyarat untuk ikut berdiri.

            “Kita harus berterima kasih kepada Tuhan karena atas berkahNya, sawah dan kebun milik jurusan Pertanian dapat menghasilkan beras, sayur serta buah-buahan segar dan berkualitas, kawasan hutan milik jurusan Kehutanan menghasilkan madu dan rempah yang luar biasa, ikan-ikan segar dan rumput laut dari jurusan Perikanan dan Kelautan, serta daging dan susu berkualitas dari jurusan Peternakan.”

            “Silahkan nikmati makan malam kalian.” Rektor duduk kembali diikuti para tim pengajar, kemudian seluruh mahasiswa. Tidak sampai berselang lima detik, suara dentingan sendok, garpu dan pisau terdengar dimana-mana. Ada yang mengobrol sambil makan, bercanda satu sama lain, saling berebut potongan daging terakhir, mencolek saus krim cupcake, dan kami pun para mahasiswa baru menikmati makan malam pertama kami di Natur Academy.

            Selesai acara makan malam, seorang mahasiswa dari jurusan Peternakan turun dari tribun dan naik ke atas panggung. “Kepada mahasiswa baru,” ucapnya dengan suara lantang, “Setelah acara makan malam kalian akan dimobilisasi menuju asrama jurusan, seragam kalian akan dibagikan di pintu keluar, jadi harap mengantri dan bagi yang sudah mendapatkan seragamnya langsung menaiki truk yang sudah kami siapkan di depan Gedung Utama.”

            “Silahkan dimulai dari jurusan Pertanian, disusul oleh jurusan Perikanan dan Kelautan, kemudian jurusan Peternakan dan terakhir jurusan Kehutanan!”

            Mahasiswa baru dari jurusan Pertanian serentak berdiri dari tempat duduk masing-masing, mereka berbondong-bondong berbaris dari depan pintu Aula Utama karena harus mengambil seragam terlebih dahulu. Sementara mahasiswa tingkat atas langsung turun dari tribun dan keluar melalui pintu darurat di samping kiri panggung, setelah para tim pengajar keluar dari Aula Utama tentunya.

            Perilaku mahasiswa tingkat atas jurusan Kehutanan terlihat aneh bagiku. Mereka berbisik-bisik sambil melihat sesekali ke arah kami, lalu tertawa dan kembali berbisik. Beberapa mahasiswa laki-laki menatap kami dengan tajam dan lekat, seakan kami seperti satwa buruannya yang siap diterkam.

            “Kau tidak merasakan keanehan dari mereka?”

            Arka mengangkat wajahnya dari piring kecil yang berisi buah-buahan. “Tidak.”

            “Mereka aneh,” ucapku tanpa memedulikan komentar Arka. “Laki-laki berbadan besar disana tidak pernah berhenti menatapmu.” Arka melirik sebentar ke arah laki-laki itu, namun segera menundukkan kembali pandangannya. Sepertinya ia tidak curiga sebagaimana aku merasakan atmosfer keanehan yang ada di tribun jurusan Kehutanan. Berbeda dengan kakak tingkat dari jurusan lainnya, ketika mahasiswa baru masuk ke tribun, beberapa dari mereka langsung memeluk atau mengucapkan selamat. Sementara di jurusan Kehutanan, kami dibiarkan naik begitu saja ke atas tribun, tidak ada ucapan selamat, pelukan atau sekedar senyuman. Kami hanya mendapat sorakan selebrasi.

            Semua mahasiswa baru jurusan Pertanian sudah keluar dari Aula Utama, selanjutnya mahasiswa baru dari jurusan Perikanan dan Kelautan yang keluar dari pintu utama, sementara mahasiswa baru dari jurusan Peternakan keluar dari pintu kedua yang terletak di belakang tribun kami.

            “Yak, sekarang jurusan Kehutanan!” kata seorang mahasiswa dari bibir pintu Aula Utama. Kami menghela nafas lega karena terlalu lama menunggu antrian sudah membuat bosan dan lelah. Aku berada di antrian paling depan, diikuti oleh Arka, seorang anak laki-laki mengenakan kacamata dan pendiam yang tidak kukenal, lalu Elie, Zarina, Henry dan seterusnya.

            Namun begitu keluar dari Aula Utama, aku bingung karena tidak ada seorang pun mahasiswa dari jurusan Kehutanan yang menyodorkan seragam padaku. Bahkan disana tidak ada siapa pun.

 

 

 

 

Bersambung...

------------------------------------------------------------------------

Terima kasih bagi yang sudah mau membaca, sekali lagi, mohon kritik, saran dan komentarnya. ^_^

Read previous post:  
24
points
(2471 words) posted by red_habanero 5 years 51 weeks ago
60
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | teenlit | #kuliah #ekspedisi #pertemanan #life-story
Read next post:  
Writer hidden pen
hidden pen at Tectona Grandis - #2 (5 years 50 weeks ago)

Dirimu pernah baca cerbung seperti nyari referensi gitu?
Dialog ini...ehm copas yaaccchh :v oohh ane benerin dikit agar enak.
“Kepada Adhisty Narayana,
segera keluar dari barisan dan masuk
ke tribun jurusan Kehutanan,” ucapnya
sebelum beralih ke nama kedua di
kertasnya.

Aku mundur perlahan-lahan
dan anak-anak di barisan
memperhatikan. Kudengar beberapa
dari mereka berbisik, “Nilainya
tertinggi?”
Sebagian lagi mengatakan. “Tidak terlihat dari wajahnya
tapi...” Ujar salah seorang dari mereka.“...dan dia dari jurusan
kehutanan, itu langka sekali.”

Teknisnya, gini. Untuk dialog ini kenapa ane rubah?
Cuma nyari kalimat efectif aje, dan ane takutnya cerita ini terlihat boring. Kasihankan, cerita udah cetar membahana dikalahkan dengan kalimat berulang ataupun berlebihan.

Namun ane bahas dikit dulu. Sapa tahu komen yang lebih pedas menanti anda hkhkhk #plaaakkk

oohh ya komen ini bila menyinggung segera bakar pake minyak tanah ya. Dan hilangkan jejaknya hhuehehe

Juga untuk apa kop surat itu
Cerita ini hanya fiktif belaka, apapun kejadian bla bla bla
Ane tahu ini fiktif belaka, udah terlihat dari genrenya.

Salam

Komentator numpang lewat

Writer red_habanero
red_habanero at Tectona Grandis - #2 (5 years 49 weeks ago)

Makasih banyak revisinya.. :D
Saya memang lumayan bermasalah dalam mengefektifkan kalimat and still learn about it ._.
Memang lebah enak setelah diubah sih..
Haha.. baik, akan saya hapuskan kop surat itu.. :D
Serasa mau nonton sinetron kalo tiap episode dikasih kop kayak gitu..

Sip, makasiih..

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Tectona Grandis - #2 (5 years 51 weeks ago)
90

Hum... I think I like it. Kamu tipe penulis yang saya sukai deh. Tulisan rapi, karakter cewek yang punya power--jadi bukan karakter cewek loli-linglung yang bikin saya jengkel setengah mati, esteem needs-nya ada dan oke, siswa dengan penggolongan yang mau tak mau pasti ada hirarki di dalamnya, dan yang paling penting: ini teenlit! God, gue-kangen-baca-teenlit-gitu-loh. haha.
.
Story-nya udah bab ke dua yah. Konfliknya mungkin masih tersembunyi. Dan yah, lumayan bikin penasaran di bagian paling akhir. Saya pengennya si... Nara? Yah, dia teriak gaje gitu, "WHERE'S THE HELL MY UNIFORM?!" *pokerface* It's optional btw. Wkwkwkwk.
.
Karena belakangan saya lebih suka membuat karakter "abu-abu", jadi saya sama sekali nggak harap karakter utama di sini murni baik sih. Itu opini aja. Kecuali kalau kamu mau ciptain makhluk malaikat di sini~
.
Terakhir, menyoal tag yang sudah saya ingetin. Dikau masih nggak ngeh mungkin. Oke, ini kan tag-nya: Cerita-Cerita Pendek-teenlit-cerita bersambung-drama-Kuliah-life-story. Tag maksud saya bukan subtag tapi maintag. Tag cerita pendek di sini loh, yang diapit tag Cerita dan Teenlit. Dan btw, kamu nggak perlu nunggu nge-post bab selanjutnya untuk ngubah itu. Bisa toh diedit? :)) Itu penting loh :v --menurut saya sih~
.
Itu aja :3 Semangat dikelarin proyeknya.
Salam

Writer red_habanero
red_habanero at Tectona Grandis - #2 (5 years 51 weeks ago)

Waah.. makasih banyak kak komentar dan sarannya.. :D
Oke, baru saya perbaiki soal maintag itu.. hehe.. agak bingung juga sebenernya tadi pas nyari tag cerita bersambung.

Sejujurnya saya juga tidak terlalu ahli membuat karakter yang murni baik/murni jahat, tapi akan saya coba bagaimana nanti karakter ini bisa berkembang sendiri sejalan dengan ceritanya..

konflik mungkin akan sedikit lambat kak, mengingat saya upload ceritanya hanya sedikit, sementara konflik masih cukup jauh di belakang, hehe.. :D

Sekali lagi, terima kasih

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Tectona Grandis - #2 (5 years 51 weeks ago)

Ini lumayan loh kalau dibikin proyek.
Sudah dibikin outline-nya atau ngebiarin asal jalan?

Writer red_habanero
red_habanero at Tectona Grandis - #2 (5 years 50 weeks ago)

Sudah ada outlinenya -sebenernya. Tapi sepertinya panjang ceritanya diluar ekspetasi saya karena 'opening'nya ternyata jauh lebih banyak menyita halaman daripada yang saya perkirakan. Jadi mungkin, bisa lebih panjang.
._.