Tectona Grandis - #3

Cerita ini hanya fiktif belaka, tidak berhubungan dengan seseorang, tempat mau pun lembaga tertentu. Just a story. Enjoy...

---------------------------------------------------------------------------------------

#3. In The Middle of Forest

 

Tidak ada seorang pun disana. Aku berbalik ke belakang, melemparkan tatapan bingung kepada Arka.

            “Ada apa?” tanya Arka.

            “Tidak ada seorang pun mahasiswa Kehutanan disini.”

            “Hah? Serius?” Elie menyentak tidak percaya.

            “Kau bisa kedepan sini untuk melihatnya langsung, Elie.”

            Elie dan beberapa anak lainnya langsung menyerobot keluar dan memang benar! Tidak ada satu pun seragam kami dan mahasiswa tingkat atas yang mengantarkan kami.

            “Sekarang bagaimana?” tanya Zarina.

            “Kita kedepan Gedung Utama dulu,” kataku.

            Dipimpin oleh Henry, kami keluar dari Gedung Utama dan berkumpul di lapangan hijau depan air mancur.

            “Ini aneh,” kata Henry. “Kemana kakak tingkat kita?”

            “Kan sudah kubilang tadi, ada yang aneh!” Aku menyahut.

            “Sekarang bagaimana caranya kita ke asrama?” kata seorang anak laki-laki dengan potongan rambut cepak dan berwajah melankolis -yang kalau tidak salah- tadi dia memperkenalkan namanya Daniel.

            “Jalan kaki?” usul anak laki-laki bertubuh kecil yang seingatku ia adalah mahasiswa yang keluar paling akhir di bis yang sama denganku tadi.

            “Akademi ini sangat luas, jalan kaki di tengah malam tanpa penerangan seperti ini terlalu berbahaya. Apalagi asrama jurusan Kehutanan terletak di tengah hutan belantara,” timpal Zarina.

            “Aku takut..,” rintih seorang anak perempuan berkacamata dengan rambut dikepang satu. Ia langsung berjongkok di atas rumput, kepalanya ditundukkan ke bawah dan lengannya langsung memeluk kedua lututnya.

            “Devi..,” seorang anak perempuan lain yang berwajah lebih tegas dengan rambut disanggul ke atas langsung berlari mendekat ke arahnya. Ia mengurut punggung Devi, pelan sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan.

            “Bagaimana mungkin orang yang penakut dan cengeng bisa masuk jurusan Kehutanan,” cibir Elie padaku. Aku hanya diam dan tidak menanggapinya. Tatapanku tertuju pada sebuah jalan kecil di samping taman yang perlahan memancarkan cahaya. Bahkan telingaku dapat menangkap suara deru mesin mobil yang terdengar semakin dekat dengan tempat kami.

            “Itu mereka!”

            Lampu dari atap truk menyorot ke arah kami. Dua buah truk -mirip truk tentara AURI-  muncul dari dalam hutan dan berhenti disamping lapangan. Kami tertawa lega, merasa seperti habis dikerjai oleh kakak tingkat kami.

            “Sial! Aku kira kita bakal tidur beratap langit malam ini!” seru anak laki-laki jakung yang berambut tajam seperti landak dan langsung mendapat tanggapan tawa dari anak-anak lain.

            Dua orang mahasiswa dari jurusan Kehutanan turun dari truk. Mereka mengenakan seragam berwarna hitam dengan bordir lambang jurusan kehutanan di lengan kanan mereka. “Maaf karena kami terlambat,” ucap salah satu dari mereka. “Namaku Afara dan ini rekanku...,” ia mempersilahkan laki-laki yang berdiri di sebelahnya.

            “Namaku Indra,” lanjut laki-laki itu. “Sekarang lima belas orang dari kalian masuk ke truk pertama, sisanya naik ke truk yang kedua.”

            Setelah mendengar instruksi darinya, kami langsung berlari menuju truk masing-masing. Aku naik ke atas truk pertama, bersama Arka dan Elie lalu diikuti anak-anak lainnya. Kondisi didalam truk sangat pengap. Jendela-jendela kecil di sisi kanan-kiri truk tidak membantu sama sekali. Aku pun harus berulang kali menarik nafas dalam-dalam untuk menyesuaikan diri dengan kondisi di dalam truk.

Setelah memastikan kami semua naik ke atas truk dan mendapatkan tempat duduk, Afara naik ke atas truk pertama dan Indra di truk kedua. Truk pun melesat masuk kedalam hutan, melewati jalan kecil yang hanya cukup dimuat satu truk. Jalan tersebut masih berupa tanah berkerikil. Patahan dari ranting-ranting pohon yang tumbuh liar disisi kanan-kiri jalan terdengar ketika bagian atas truk menghantam mereka. Jalanan bergelombang, naik-turun dan kepalaku berkali-kali terantuk dengan dinding truk. Beberapa dari kami bahkan langsung diam karena menahan mual. Setelah dijamu makanan mewah kami makan terlalu banyak dan sekarang naik di atas truk dengan kondisi jalan yang bergelombang dan bau bahan bakar kendaraan, tidak heran kalau satu dua anak mulai mencari-cari plastik untuk memuntahkan kocokan isi perut mereka.

            “Kak Afara, Elie mau...,” aku tidak tega melanjutkannya. Wajah Elie sudah sangat pucat dan ia bahkan tidak sanggup mengeluarkan suara lagi. Afara buru-buru mengeluarkan kantong plastik hitam dari kantong celana lapang gelapnya. Ia langsung membagikan kantong plastik itu kepada seluruh anak di dalam truk. “Maaf, aku lupa membagikannya tadi.”

            Ketika Elie menerima kantong plastik hitamnya, tanpa pikir panjang ia langsung mengeluarkan semua makanan yang baru ia makan. Aku hanya dapat meringis mendengar suara yang ia ciptakan ketika mengeluarkan isi perutnya.

            Rasanya kami sudah berjalan hampir satu jam, namun belum sampai di asrama juga. Aku bertanya-tanya, sebenarnya seberapa jauh jarak antara Gedung Utama dengan asrama jurusan Kehutanan. Baru saja aku akan bertanya pada Afara, tiba-tiba truk kami mengerem mendadak, menghuyungkan tubuhku ke kiri dan menggencet Elie yang masih terkulai lemah.

            “Maaf, Elie..,” kataku.

            Elie hanya menanggapi dengan anggukan kecil. Afara tiba-tiba turun dari truk auri dan bersama dengan Indra mereka melesat masuk ke dalam hutan. Lampu truk  tiba-tiba mati. Baru kusadari kalau supir truk kami semuanya sudah turun dari truk dan meninggalkan kami yang kebingungan karena tiba-tiba diberhentikan di tengah hutan.

            “Ada apa ini?”

            “Kenapa tiba-tiba berhenti?”

            Kepanikan merajalela di truk pertama. Aku pun mulai risau karena kegelapan yang menyelimuti kami dan tidak ada penerangan apa pun selain bulan di langit. Arka masih tetap tenang dalam kondisi ini, ia tidak bergeming mau pun terlihat panik seperti anak-anak lain. Entah karena ia tidak peduli atau memang itu caranya menyembunyikan rasa panik. Dengan diam?

            Ditengah kepanikan dan kebingungan tersebut, tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam hutan. Awalnya aku tidak bisa melihat dengan jelas, namun setelah memicingkan mata dan menatap tajam ke arah hutan, terlihat orang-orang berseragam hitam seperti Afara dan Indra. Namun di lengan kiri mereka dibalut oleh band berwarna merah. Entah sejak kapan, aku baru menyadari kalau mereka sudah mengepung truk kami. Seorang di antara mereka yang berambut cepak dan bertubuh paling besar berjalan mendekat ke truk pertama.

            “SEMUANYA TURUN DARI TRUK! SEKARANG JUGA!"

 

 

Bersambung...

 

Mohon koreksi, saran, masukan dan komentarnya ya.. ^_^ terima kasih

Read previous post:  
9
points
(2340 words) posted by red_habanero 6 years 5 weeks ago
45
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | teenlit | cerita bersambung | drama | Kuliah | life-story
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer tiwi11
tiwi11 at Tectona Grandis - #3 (5 years 39 weeks ago)

cerita yg diambil dari kisah nyata nih

____________________________
Harga Kertas Struk Kasir | Harga Sewa Printer

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Tectona Grandis - #3 (6 years 5 weeks ago)
80

Sebenarnya ini bukan masalah sih. Sampai sekarang saya juga masih bertanya-tanya apakah perbedaan jumlah kata antara bagian yang lebih dulu dan lanjutannya, apakah bagus kalau seumpama tidak stabil? Hum... saya mungkin nunggu aja dulu lanjutannya deh. Semoga bukan ini yang saya khawatirkan: dikau menulisnya tanpa kerangka perencanaan alias outline, mungkin kamu semangat menuliskan lanjutannya di awal-awal, tapi bisa jadi lumayan runyam karena semakin tanpa disadari, babnya jauh lebih banyak dari yang diperkirakan. << pengalaman saya dalam berproyek btw. Abaikan saja kalau kamu sudah membayangkan ending yang tepat :)
.
Semburat di bab ke tiga ini sebenarnya sama dengan bab dua menurut saya. Tadinya saya mikir mereka mau di-bully sama senior, atau apa pun--semacam itu. Tapi sangkaan saya ini dipatahkan dengan bab baru. Well, mereka masih lumayan ramah. Atau mungkin nge-bully-nya baru di akhiran bab ini itu? :v
.
Saran saya, apa yang khas dari karakternya lebih ditonjolkan lagi ya. Jujur, saya bingung karena di awal karakter yang muncul lumayan banyak, dan yang saya ingat cuma Nara dan Arka. Abaikan saja kalau yang lain cuma diposisikan sebagai figuran yang mendukung suasananya.
.
Akhirnya, saya tetep mendukung diseriusinnya cerbung ini hingga jadi novel ^^
Write happily.

Writer red_habanero
red_habanero at Tectona Grandis - #3 (6 years 5 weeks ago)

Untuk outline sebenarnya saya sudah ada. Tapi mungkin kendala lama-tidaknya memposting lanjutan cerita tergantung dari riset yang mesti saya lakukan juga untuk memperkuat isi cerita.

Rencananya saya memang ingin menonjolkan beberapa karakter saja dan memang bertahap munculnya. Mungkin dimulai dari Nara dan Arka dulu.

Di bab ini dan beberapa bab kedepan -senior belum muncul. Hehe..

Baik, terima kasihh.. :)