Dunia Cerita Chapter 1

Dunia Cerita, Planet hijau yang indah dengan dua satelit alamnya yang masing-masing mengelilingi secara vertikal dan horizontal—biru dan putih warnanya. Nampak satu satelit di arah utara-selatan sedangkan satunya timur dan barat. Teratur dalam peredaran mengelilingi dunia cerita, siang ataupun malam. Satelit selalu muncul walau Dunia Cerita menerangi dua satelit, hingga kedua satelit tampak cerah jika malam hari.

Saat memasuki atmosfer yang terdiri dari empat lapisan bagaikan selimut dengan awan warna-warni, dapat dilihat pulau-pulau yang tersebar di permukaan laut. Salah satu pulau yang terbesar berada di tengah khatulistiwa, wilayah yang damai dan tentram. Dunia Cerita mempunyai beberapa pulau dengan pemandangan yang menakjubkan, di kelilingi lautan dan hamparan daratan yang begitu luas.

Pulau Imajinasi, beberapa desa terbangun di atas pulau ini. 5 Desa di segala penjuru mata angin dan yang terbesar terletak di tengah-tengah pulau, sepertinya bagian Tengah luasnya lebih besar daripada bagian lain. Jika diperkirakan luas masing-masing Desa maka miliar orang dapat hidup di sini.

Orang-orang di Pulau Imajinasi biasa dipanggil sebagai Imajinasi, sesuai nama pulau yang mereka huni. Dalam kurun waktu yang lama para Imajinasi membentuk kelompok-kelompok yang banyak, bertujuan mempermudah kegiatan sehari-hari. Apalagi ada pekerjaan yang memang sangat penting bagi mereka dan tidak bisa dikerjakan sendiri. Namun, mereka tidak pernah egois ketika ada kelompok lain yang mengalami kesulitan. Mereka selalu membantu satu sama lain ketika melakukan pekerjaan—berburu ataupun menambang. Mereka melakukannya dengan tulus dan ikhlas dalam membantu sesama, sepertinya sudah menjadi motto mereka sejak dari nenek moyangnya. Salah satu pekerjaan mereka yang paling dikagumi adalah Karya, bentuknya seperti kertas dengan bagian kiri dan kanan terdapat pensil serta penghapus.

Karya hasil buah tangan para Imajinasi sangat hebat, bahkan bisa membantu mereka dalam berburu ataupun melindungi diri dari Monster ganas. Kekuatan Karya yang dimiliki membuat Para Imajinasi dapat hidup sejahtera sampai sekarang. Semua berkat usaha keras mereka sendiri dalam membuatnya. Tidak hanya Karya yang mereka buat, Genre mereka ciptakan: Scifi, Cinta, dan Fantasy. Genre sebagai perangkat tambahan saja untuk memperkuat kekuatan Karya juga beberapa tambahan Genre baru: Horror, Comedy dan Mystery. Hingga 1000 tahun tak ada yang bisa menandingi kekuatan Karya, seperti halnya Monster yang terus mengganggu pekerjaan para Imajinasi dan cukup meresahkan.

Suatu hari lahirlah seorang anak di Desa Timur. Tangkas dan pemberani adalah sifatnya sejak lahir. Namanya Shin, seorang pria gagah yang tinggal bersama keluarga yang cukup sederhana. Siapa sangka ambisi di dalam hatinya sangat besar, hingga orang-orang terdekatnya jadi enggan berbicara apalagi berhadapan dengan Shin. Sejak dahulu, Pulau Imajinasi tidak memiliki pemimpin yang mendukung semua kelompok Imajinasi. Shin yang menjuluki dirinya sebagai Kritikus mempunyai ambisi untuk menguasai para Imajinasi walaupun sering gagal, akibat ada yang selalu menentangnya. Terkadang Shin suka bermain kasar terhadap siapapun yang menentangnya kecuali seseorang.

Shin mempunyai saudara dan mereka sering bertengkar karena beda ambisi maupun sifat, diumpamakan mereka berdua bagaikan cahaya putih dan hitamnya bayangan. Shin tidak berani bermain kasar dengan saudaranya, karena hanya dialah temannya berbicara dan saling bermain bersama. Atau kemungkinan takut dihajar orang tua sendiri. Shin sangat menghormati saudaranya walaupun sering bertengkar, terutama banyak orang yang suka dengan sifat saudara Shin . Bila dibandingkan, saudaranya baik hati dan mudah bergaul tanpa menyakiti siapapun didekatnya.

Suatu hari, saudara Shin memilih berkelana dan pergi sejauh mata memandang hingga tidak nampak batang hidungnya. Kepergiannya membuat orang-orang terdekatnya menaruh rindu terhadapnya, bahkan Orang tuanya hanya bisa pasrah mengikuti keinginan sang anak.
Shin kesepian karena tidak ada kawan bicara lagi selain saudaranya dan kedua orang tua. Semenjak dia terus memaksakan ingin menjadi pemimpin para Imajinasi, semua meninggalkannya. Orang tuanya sering menasehati, agar berhenti menuruti keinginan yang terlalu jauh. Namun, masuk telinga kanan keluar di telinga kiri—Shin tidak ingin mendengar perkataan dari orang tuanya. Keputusan telah diambil Shin, yaitu pergi meninggalkan para Imajinasi. Ucapan selamat tinggal terdengar hingga pelosok dalam negeri, sebuah ucapan selamat tinggal yang pahit.
“ Suatu hari aku akan kembali dan kalian akan kukuasai,” ujar Shin.

Seperti saudaranya, dia pergi menjadi seorang pengelana hingga tidak nampak lagi batang hidungnya. Orang tua hanya bisa melepas rindu lagi kepada Shin, dan kedua anaknya kini telah pergi meninggalkan mereka. Berbeda dengan para Imajinasi yang memang sejak dahulu ingin mengusir Shin, jadi mereka sangat bahagia bila dia pergi. Pesta kecil-kecilan mereka adakan atas kepergian Shin, tanpa sepengetahuan orang tua Kritikus sendiri. Mereka sebagai kaum Imajinasi sangat paham kondisi kedua orang tua Shin, tetapi mereka tidak bisa menahan perasaan yang mereka pendam selama ini.
Pada keesokan harinya, orang tua Shin pergi meninggalkan Desa. Nampaknya sudah mendengar perihal pesta yang menyakitkan, hingga mereka tidak tahan dan memilih untuk pergi mengikuti langkah kedua anaknya.
*
Semenjak itu, sudah bertahun-tahun telah berlalu, tidak ada kabar dari keluarga Shin di Pulau Imajinasi. Bahkan tidak jarang ada yang menanggapnya pergi selamanya. Para Imajinasi sedang sibuk melakukan pekerjaan mereka demi kehidupan Pulau Imajinasi—seperti biasa, membuat Karya dengan peralatan tambahan.
“Ada orang datang!”

Salah satu dari para Imajinasi berteriak sembari menunjuk arah Timur, dan mengajak sebagian kelompok untuk mengikutinya. Jari telunjuknya hendak memperlihatkan sesuatu di sana, hingga nampaklah sebuah gerbang perbatasan. Ketika sampai di perbatasan Desa Timur dengan wilayah di luar Desa. Bayangan hitam di tengah kabut tebal—kondisi Desa Timur memang berkabut ketika pagi buta.
“Jangan-jangan itu?” Seru salah seorang di antara mereka. “Cepat beritahukan yang lain!”
Nampak antusias para Imajinasi, bergerombol dan berdesakan satu sama lain. Mereka tidak sabar menanti kedatangan sesosok bayangan hitam, yang kian lama mendekat. Jantung mereka berdetak cepat bagaikan berlari di atas awan, menembus langit ke empat lalu turun bagaikan bintang berjatuhan. Mereka tengah berimajinasi dengan sosok itu, hingga luaplah senyum di wajahnya—wujud seseorang yang sudah mereka nantikan.
Namun, sosok itu bertambah banyak dan tidak terhitung jumlahnya. Para Imajinasi terlihat seperti tanah yang tidak bergerak. Wajah mereka datar sekali hingga ada rasa takut yang nampak, ketika melihat rombongan orang di depan.

Cahaya menampakkan kekuatannya, membias angkasa dengan kilauannya hingga kabut pagi menghilang perlahan. Nampaklah siapa sosok itu sebenarnya, sosok itu memakai baju besi dan terlihat bayangan lain masing-masing membawa tombak. Kaum Imajinasi terlihat panik, hingga mulut mereka menganga disertai mata yang melotot.
“Shin yang datang?” bisik salah seorang di antara mereka.
“Jadi bukan saudaranya ya?”
Rasa kecewa timbul di antara mereka, tetapi tidak menyurutkan perhatian pada Shin yang sudah berhadapan cukup dekat dengan mereka.
“Ternyata kalian sudah menyambutku,” ujar Shin sembari tersenyum. “ Terima kasih.”
“Siapa yang menunggumu, lagian siapa orang-orang yang kau bawa. Mau apa mereka?”
Salah seorang Imajinasi memberanikan berbicara terhadap Shin sang Kritikus dan memberi pertanyaan yang banyak, walaupun secara garis besar badan mereka semua terlihat setinggi para Imajinasi namun hal itu tidak membuat Imajinasi takut.
“Orang tuaku di mana?” ujar Shin sembari tersenyum.
“Sekitar 5 tahun yang lalu mereka pergi, hendak mencarimu dan saudaramu!” Ujar salah seorang Imajinasi.
“Begitu ya? Sayang sekali mereka tidak dapat melihat kekuatanku. Sesuai janji dahulu ketika aku meninggalkan kalian, hari ini akan kukuasai semuanya!”
“Mana mungkin, dengan orang-orang yang kau bawa tidaklah cukup menaklukkan kita semua!” Ujar seorang Imajinasi. “Kami memiliki senjata yang terkuat selama 1000 tahun!”
Para Imajinasi tertawa lepas, ketika perkataan Shin membuat Imajinasi tertawa. Suasana riuhpun terjadi di pagi hari, bisa dikatakan hiburan ini jarang mereka dapatkan ketika ada yang berani menantang adu kekuatan—Seperti itulah pikiran Imajinasi. Shin dan rekan-rekannya hanya menebar senyum.
“Perkenalkan, teman-temanku ini bernama Vote. Mereka sangat tangguh dan berasal dari Pulau Selatan yang diberi nama Vote, sebenarnya bukan para Vote saja yang mengalahkan kalian.” Ujar Kritikus panjang lebar. “Dia juga!”

Shin mengembangkan ke dua tangan, sembari memegang tongkat di tangan kanannya. Terdengar teriakannya hingga para Imajinasi sedikit terkejut. “Summon!”

Nampak sebuah lingkaran bercahaya muncul di tanah, berbentuk simbol bintang. Angin yang semula melambai lembut di pagi hari, kini berubah mendadak sembari meniupkan daun hijau yang belum tiba untuk berguguran. Para Imajinasi hanya bisa membuka mulutnya dengan exspresi mata melotot ketika ada bayangan hitam nampak di hadapan mereka, bayangan itu semakin tinggi hingga menutupi separuh Desa Timur. Bagaikan malam sudah tiba padahal pagi hari baru saja datang.
“Apa itu!” Ujar salah seorang Imajinasi. “ Monster!”
Terdengar derapan langkah kaki para Imajinasi yang cukup berisik, mereka menjauhi bayangan yang menutupi seakan tidak ingin berada di sana. Belum lagi ketika bayangan itu mengganti wujudnya menjadi merah dengan tubuh yang di selimuti api, bagaikan api unggun di kala pesta. Para imajinasi masuk ke rumah mereka masing-masing sembari membawa peralatan. Mereka membawa Karya dengan kedua tangan sembari berlari hingga berhadapan walau agak berjauhan dengan Monster yang dipanggil Shin—Karya adalah kekuatan mereka yang dibutuhkan saat ini.

“Kami tidak akan kalah, kau lihat. Senjata kami akan mengalahkan Monstermu!”
Keyakinan Imajinasi sangat kuat, mereka bermental baja hingga tidak ada satupun dapat mencegah keberanian para Imajinasi yang hendak bertarung. Apalagi ketika melihat Monster yang begitu menakutkan bagi mereka. Karya yang berbentuk kotak mereka angkat seakan menyentuh langit, dan menghadapkannya ke arah monster.

“Kalian tidak akan menang, karena Monsterku mempunyai kekuatan komentar paling pedas dari yang kalian tahu ?!” Ujar Shin sembari mengembangkan tangan kirinya. “Shinichi, Ssseeerrraaannngggg!”
Kedua kubu saling berhadapan, semakin mendekati satu sama lain dan pada akhirnya mengeluarkan kekuatan yang dimiliki. Keyakinan dengan kekuatan 1000 tahun benar-benar memberi semangat lebih terhadap para Imajinasi sendiri, sedangkan Shin sangat yakin dengan kekuatan Monsternya.
DHUUUAARRR!
Kabut asap kembali terlihat di bagian Timur, padahal kabut sudah menghilang sedari tadi akibat cahaya mentari dengan kehangatannya. Terdengar ledakan cukup keras di arah Timur, hingga mengejutkan kelompok para Imajinasi Barat, Selatan, Utara maupun Tengah. Ledakan kekuatan yang mengerikan.
“Apa yang terjadi?” ujar salah satu Imajinasi.
“Kelompok Imajinasi di Desa Timur bertempur dengan Monster api!” Balas temannya.
“Apa!”
Bunyi-bunyian halilintar kian terdengar, bangunan yang rubuh terus terjadi di Desa Timur. Para Imajinasi dari ketiga penjuru mulai mempersiapkan senjata mereka dan berlarian ke Desa Timur. Mereka berpikir, “Monster seperti apa yang telah berani menginjakkan kaki di Pulau ini dan apa tujuannya?!”
BBBLLLAAARRR!
Sebagian Desa Timur telah hancur dan banyak para Imajinasi bergelimpangan di tanah–sebagian terkena reruntuhan bangunan. Perlahan tubuh para Imajinasi yang bergelimpangan di tanah maupun reruntuhan, berubah menjadi serpihan cahaya warna-warni yang indah dipandang apalagi lagi ketika terbang dan menyentuh langit hijau. Namun, para Imajinasi yang tidak berubah menjadi serpihan cahaya, menitikkan air mata.
“Siaaalllaaann!”
BBBBRRRAAAKKK!
Monster yang dipanggil oleh Shin kian mengamuk, menyemburkan sesuatu yang panas. Bangunan maupun pohon hijau, semua ikut meleleh dan terbakar. Begitupula para Imajinasi yang terus berubah wujud menjadi serpihan cahaya warna-warni.
“Besar sekali Monster itu?”
“Gawat, cepat bantu Imajinasi bagian Timur!”

Imajinasi Ketiga penjuru telah datang di suasana genting: Utara, Barat, Selatan. Jumlahnya ribuan dan berdatangan bagaikan gelombang lautan. Tetapi mereka sudah terlambat, Desa Timur sudah rata dengan tanah, hingga bangunan sudah tidak menyimpan seorangpun Imajinasi—apalagi orang tua, ibu dan anak.
“Seberapa banyak kalian, tidak akan mampu mengalahkan Shinichi!”

Shin hanya tertawa bersama teman-temannya, mereka terlihat santai di atas reruntuhan bangunan. Imajinasi ketiga penjuru berdatangan lalu menghampiri mereka dengan senjata-senjata di tangan. Shin memberi isyarat kepada Shinichi—Monster andalannya. Shin mengembangkan telapak tangan kiri ke arah lautan Imajinasi yang sudah semakin mendekat.
“Habisi mereka!”
GGRRROOOAAAHHH!
Monster mengamuk dan menyerang gerombolan Imajinasi—menginjaknya ataupun menghembuskan nafas panasnya. Imajinasi langsung berubah menjadi cahaya, terkena hembusan komentar yang begitu pedas.
“Siiiaaalll!” Ujar salah satu Imajinasi. “Terimalah jurus, Genre Ganda!”
Perlahan satu persatu cahaya bahkan melebihi ribuan cahaya, melesat bagaikan panah dan menuju ke arah Monster itu. Genre Ganda adalah senjata baru kaum Imajinasi karena effect atau pengaruh dari penggabungan Genre lain, prosesnya cukup lama karena ada ketidak-konsistenan energi antara genre lain. Setelah sekian mencoba menyatukan hingga kini, bahan yang rumit telah berhasil melahirkan kekuatan baru. Bila bersatu dengan Karya maka kekuatannya semakin berlipat ganda.
KRRAAASSHHH!

Kabut terus menyelimuti Monster itu dan tidak nampak lagi wujudnya yang terselimuti api cukup terang. Pada akhirnya tubuhnya terlihat dan nampak seperti sedia kala. Monster itu tidak terlihat terluka ataupun cedera cukup parah, terlihat juga Monster itu hanya berdiri sembari memperhatikan lautan Imajinasi.
“Monster itu kuat sekali,” ujar salah seorang Imajinasi.
“Percuma, sekeras apapun kalian berusaha tidak akan berpengaruh apa-apa. Shinichi mempunyai jurus andalan istimewa yaitu Komentar Pedas Level 20.”

Shin berteriak ke arah gerombolan para Imajinasi, dengan lantang dan keras hingga para Imajinasi semakin jatuh kepercayaan dirinya. Mereka tidak menyangka senjata Karya maupun Genre yang tidak terkalahkan selama 1000 tahun harus takluk di hadapan Monster.
“Menyerah sajalah, kalian tidak mungkin menang!” Ujar Shin.“Jadilah pengikutku maka kalian akan baik-baik saja!”
“Tidak akan, selama jiwa kami selalu ada di raga. Tidak ada seorangpun yang bisa memerintahkan kami!”

Kaum Imajinasi terlihat mempunyai kepercayaan diri kembali ketika salah seorang di antara mereka berteriak. Para Imajinasi kembali bangkit, sembari menghentakkan kaki di tanah yang dipijaknya. Memberi peringatan bahwa tiada kata menyerah bagi para Imajinasi yang ingin memperoleh kemenangan.
“Dasar keras kepala, akan kuberi kalian sedikit pelajaran berharga. Shinichi!” Ujar Shin memberi isyarat kepada Monsternya. “Supernova!”
Monster itu berubah wujud menjadi sesuatu yang bulat dan berwarna merah—ada lingkaran api di bawahnya. Semua para Imajinasi dari ketiga penjuru terbakar hebat hingga berbentuk seperti lautan api yang menyala.

“Rasakan kekuatan tertinggi Shinichi, sebuah jurus komentar paling pedas dengan Level 20 yang terkandungnya. Sekarang kalian menyerah?” Ujar Shin sembari tertawa.

Supernova membuat daerah sekitarnya bagaikan daun-daun merah berguguran dari pohonnya. Seluruh Desa Timur sudah terendam lautan api, langit dipenuhi percikan cahaya warna-warni. Diperkirakan sangat banyak hingga langit hijau tertutup cahaya warna-warni, seakan ada aurora yang sangat indah dipandang.
“Ayo teman-teman, kita menuju bagian Tengah dan kibarkan bendera kepemimpinan!” Ujar Shin mengajak.
“Ayoooo!”

Mereka berjalan di antara api yang berkobar, seakan tidak ada yang mengusik baju besi ataupun kulitnya, mereka berjalan cukup santai sembari tertawa ketika melihat sekelilingnya bagaikan daun-daun merah. Sekian lama berjalan, tiba saat bagi mereka dihadapkan pintu yang cukup besar.
“Shinichi, Dive!”
Monster Shin menghancurkan pintu dengan tubuhnya yang diselimuti api, hingga pintu itu sangat mudah berubah menjadi abu. Nampaknya Shin memerintahkan Monsternya mengeluarkan jurus yang di miliki—padahal pintunya cukup mudah di buka. Sepertinya bertujuan untuk menakuti para Imajinasi.

“Heyyy, kalian para Imajinasi. Ada Monster!” ujar seorang Imajinasi yang terlihat sudah kepala lima. “Cepat ambil Karya kalian dan serang!”
DHUUAARR!
Seorang imajinasi yang tengah berumur kepala lima hendak memberi perintah bagaikan pemimpin, kepada para Imajinasi lain. Mereka semua masuk ke rumah masing-masing lalu tidak berapa lama keluar dan melancarkan serangan langsung terhadap Monster itu.

Pagi hari yang seharusnya dipenuhi keceriaan dengan riuh anak-anak dan orang dewasa yang bekerja, harus tergantikan dengan jeritan ketakutan. Begitupula aurora yang indah di langit. Pagi hari yang cukup hangat menjadi sangat hangat, hanya dalam kurun waktu dua jam saja kelima Desa sudah sangat hangat di pagi hari dengan dihiasi sang jago merah. Nampak masih ada jeritan di bagian Tengah, namun hanya sebentar saja dan tergantikan cahaya indah di langit hijau. Di bagian Tengah juga terlihat sebuah bendera berdiri kokoh dengan kibaran bersama daun-daun merah. Bendera berwarna Oranye dengan huruf W di bagian tengahnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Namikaze Geofani-chan
Namikaze Geofan... at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 31 weeks ago)

Kece kak =w= aku jadi penasaran,ini dibuat sepanjang apa

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 31 weeks ago)

Hay namikaze, pa kabar :v

Spanjang apa ya, hhmm sepanjang hatimu. Kurang lebih 10.000 kata koq :v

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 34 weeks ago)

Titip jejak kak :v

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 32 weeks ago)

Uhk uhk. Yapz silahkan :v

Jangan lupa oleh olehnya yaaa :v

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 48 weeks ago)

Wahhh ada yg komen dan ngasi poin rupanya :v muahaha ini cerita absurd dan penuh keterbalikan karakter di dunia nyata muahaha #plaaakk

@penulisku... Oohh yaaa? Makasih

@rirant... Ehm ehm memang begitulah shin, dia emang sadiisss ups

@elska ... Hayooo mau lari kemana? Haaappp tangkap :v. Baru tau ya shin itu terkenal, muahahaha

Writer rirant
rirant at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 47 weeks ago)

Sepertinya aku tau siapa Shin itu, di kners ada yak yang nama akunnya Shin :p

Writer vanzoelska
vanzoelska at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 48 weeks ago)
2550

lagi-lagi Shin. nama itu terkenal banget ya, beberapa cerita pasti namanya itu -_-
eh mau baca yang part 2 dulu hihi lariiiiiii

Writer rirant
rirant at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 48 weeks ago)
80

Wih kasian penduduk sipil yang mati, kenapa Shin tegaa :(

Writer penulisku
penulisku at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 48 weeks ago)

ceritanya gak maainstream
keren

Writer Nine
Nine at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 51 weeks ago)

Bang saya nitip jejak dulu.

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 51 weeks ago)

Sabar ya baannggg

Gk dapat pertamaxx hihihi

Writer red_habanero
red_habanero at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 51 weeks ago)
70

Menurut saya ceritanya menarik, tetapi mungkin paragrafnya kurang rapi jadi tulisannya terlihat pada dan sebaiknya menurut saya- karena taglinenya cerita pendek, mungkin kalau sampai 10ribu kata seperti ini mending dibuat menjadi cerita bersambung.

Itu menurut saya - terima kasih.
Btw, kunjungi juga cerita saya (karena saya penulis newbie jadi masih butuh banyak saran) :
http://www.kemudian.com/node/278541
http://www.kemudian.com/node/278546
http://www.kemudian.com/node/278563

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 1 (5 years 51 weeks ago)

Ahh yaa baru nyadar spasi paragrafnya nyambung kayaq sepur
Haduuhh mau bilang apa ya, hmmm
Mengenai tagline, ane mau nyari cerita panjang, tapi yang ada cerita pendek. Ya udah pake itu aja. Mungkin momod ingin nambahkan system tagline Cerpan :v mudahan aje.

Weleh weleh promo neh ya, syukurlah ada yang bisa ane hancurkan. Eehh maksudnnya di komentarin.
Ditunggu ya kehadiran komentator numpang lewat :v
Ehm ehm gak ada ucapan selamat ultah nehh
Kemudian a.k.a tempat kepenulisan ini ulang tahun loh :v