Persahabatan dan Kepercayaan

             Seandainya kamu lebih percaya pada kami Jeff, gadis yang saat ini sedang berdiri diatap sekolah sebuah SMA mendesah berat. Matanya menatap lapangan basket yang luas berada di depan gedung sekolah itu. Rok sekolah berwarna coklat dengan model lipit yang panjangnya 5 cm diatas lutut kini berayun diterpa angin yang terus berhembus, angin itu membuat rambut panjangnya yang diikat ekor kuda ikut berayun berayun.

“Sia!”. Panggil seorang siswa dari pintu atap sekolah.

Sia nama gadis yang berdiri dibalik pagar pembatas atap. Sia menoleh ke sumber suara, matanya mendapati seorang siswa, Damian namanya. “hei”. Dia tersenyum pada Damian.

Damian berjalan kearah Sia. “kamu ngapain disitu?”. Diselingi senyumnya yang mengembang.
Siswa yang tinggi menjulang itu saat ini sudah berdiri disebelah Sia, kedua tangannya diletakkan di pagar pembatas, namun pandangannya mengarah ke Sia.

Senyum Sia masih mengembang. Matanya memperhatikan Damian yang mengenakan seragam khas sekolah mereka. “kamu juga ngapain disini?”.

Mengedikkan bahu. “Ah~ ya, aku ingin menemuimu”.

“aku?”. Mengarahkan telunjuk kewajahnya sendiri. “kenapa?”. Katanya dengan wajah tak mengerti.

“aku merindukanmu Sia”. Menahan tawa.

Sia mendengar jawaban Damian tak pelak tertawa nyaring. “kau gila Dam”. Tawanya makin nyaring.

Damian ikut tertawa. “tapi, bener kok aku mau ketemu kamu”. Tawanya seketika berhenti.

Tawa Sia ikut berhenti, matanya menatap antusias ke arah Damian yang berubah serius. “jangan membujukku Dam”. Sia menghela napas panjang, matanya terpejam, tubuhnya menikmati aliran udara yang menyentuh tubuhnya saat ini. dia berusaha tak memperdulikan Damian.

Damian mendesah putus asa. “cukup Sia. Aku tau bukan kamu yang melakukan itu, aku tau kamu sangat menyayangi Jeff. Aku tau bukan kamu yang mengatakan rahasia Jeff pada siswa-siswi disekolah ini, tapi Jeff mengira Kita yang melakukannya”. Damian mencoba memohon.

Sia menoleh kearah Damian. “memang benar kan dia anak haram dari keluarga konglomerat itu. Tapi satu kenyataan, dan memang benar juga bahwa dia anak dari pemilik sekolah ini”. Matanya meyakinkan Damian. “lantas, apa yang mau kau perbaiki Dam? Cepat atau lambat rahasia ini akan terbongkar, terlepas siapa yang akan membukanya”.

Damian mendesah lagi. “tapi bukan kamu yang membuka rahasia itu Jeff, aku tau itu Sia, aku tau sifatmu dengan sangat jelas. Diantara aku, Jeff dan kamu, kaulah yang paling setia dalam persahabatan ini, kaulah yang selalu menjaga persahabatan ini. Kaulah yang selalu menyimpan rahasia kami dengan rapat”. Menggigit bibir, mata Damian ikut memohon. “ayolah, kita jelaskan semuanya pada Jeff”. Suaranya makin merendah dan memohon.

Sia tak langsung menjawab, matanya menatap Damian yang sedang memohon. Sia mendesah panjang. “dengar Dam, ini bukan kesalahan kita, kamu tau itu kan?”.

Damian mengangguk, sangat setuju dengan pendapat Sia.

“--jadi, untuk apa kita menjelaskan semuanya pada Jeff? Sedangkan dia tak pernah percaya lagi pada kita. Sampai matipun kita menjelaskan pada Jeff, dia tak akan menerima penjelasan kita. Karena apa? Karena dia tak pernah percaya pada kita. Dan jika kamu tetap bersikeras menjelaskan semuanya pada Jeff, terserah. Tapi aku—“. Sia menggeleng dengan yakin.

“aarrrrggghhh!!”. Damian berteriak dan medesah keras. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. “lalu bagaimana? Dia pun menganggapku merebut ayahnya, dia menganggap ibunya terluka karena aku”.

Sia menghela napas. Dia mendekati Damian yang tadinya berjarak 2 langkah darinya. Sia mengumpulkan keberanian. “lalu salah kalian apa? Pada kenyataannya memang dia adikmu, dan kamu kakak kandung Jeff, bedanya kamu dari istri pertama pemilik sekolah ini, dan Jeff dari istri kedua. Lalu apa yang salah dengan itu? Mereka mengatakan anak haram? Memang benar dimata kita anak yang baru 17 tahun, ah~ bukan bagimu ini 18 tahun”. Sia yang serius tiba-tiba meringis mengejek Damian yang sedang serius-seriusnya, dan nampak sangat frustasi.

Damian langsung melempar wajah dari hadapan Sia. “ayolah serius Sia, aku frustasi dengan keadaan ini”. Mohonnya.

Sia tertawa kecil. Salah satu tangannya menepuk bahu Damian. “sudahlah Dam, biarlah mereka beragapan sesuai usia mereka, toh pada kenyataannya Jeff bukan anak haram, dan kamu tau itu. Dan Damian, kepercayaan itu seperti gelas kaca, jika pecah, maka kamu tak akan bisa mengembalikkannya seperti semula, ada bagian retak disana, dan seperti itulah Jeff saat ini. Berikan dia waktu, percaya tak semudah kamu berucap Dam, percaya itu sangat sulit dan itu sebuah keputusan, jika dia percaya maka kesalahpahaman ini akan berakhir tapi jika Jeff tak percaya dengan penjelasan kita, berarti dia memutuskan untuk tak mempercayai kita. Aku, kamu dan Jeff masih terlalu muda untuk mengurusi hal seperti ini. Dan aku pikir ini bukan kesalahan kalian, tapi ini kesalahan orang dewasa, dan aku mohon padamu untuk mengerti Jeff saat ini”. Sia melihat wajah Damian yang sudah mulai tenang.

Damian menghela napas dan mendesah panjang setelahnya.

Sia tersenyum kerah Damian yang mulai tenang, senyumnya makin mengembang kearah siswa Laki-laki yang berdiri didekat pintu atap, tak jauh dari Damian dan Sia berdiri. “Jeff ada dibelakangmu”. Katanya pada Damian dengan mata memandang Jeff.

Damian langsung berbalik. “Jeff”. Katanya lirih, hampir seperti berbisik.

Senyum Jeff mengembang. “maafkan aku Sia, Damian”.

Damian terperangah.

Sedang Sia tersenyum lebar.

“aku terus merengek seperti anak kecil, kali ini aku sadar bahwa kalian tak pernah mengkhianati kepercayaanku. Dan aku mohon jangan pernah ada rahasia lagi diantara kita”. Pintanya.

Sia mendesah Lega. “lihatkan”. Katanya memandang Damian yang membelakanginya.

Damian menoleh kearah Sia.

“persahabatan kita tak seperti selembar kertas yang mudah rusak ketika diremas—“. Memamerkan senyum kemenangan kearah Damian. Senyum Sia makin mengembang melihat Jeff yang berjalan kerahnya dan Damian.
***
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer atitha_suwito
atitha_suwito at Persahabatan dan Kepercayaan (5 years 40 weeks ago)

Makasi kk agit

Writer gitaa01
gitaa01 at Persahabatan dan Kepercayaan (5 years 40 weeks ago)
80

Hmmm, nice tik. Seperti tergambar jelas adegan dialog dan situasinya di kepalaku :D Good job.

Writer atitha_suwito
atitha_suwito at Persahabatan dan Kepercayaan (5 years 40 weeks ago)
70

Silahkan, ada 1 novel dlm penggarapan :) iya member baru :D kalo bsa follow jg kk :D blm pny pengikut soalny... wkwkwkkwk
Yaak, terimakasih ...

Writer hidden pen
hidden pen at Persahabatan dan Kepercayaan (5 years 40 weeks ago)
60

perasaan kalau di kalimat percakapan dialog , tanda titiknya gak seperti itu.

"lihatlah". = salah

"Lihatlah." =benar

ehm cie member wattpad ya.
hidden91 boleh berkunjung? Hkhkhk