Dering

beep… beep… beep…

Bunyi-bunyi misterius di dalam kepalaku itu sudah menggangguku lebih dari seminggu. Konon bunyi yang terus menerus kita dengar merupakan sebuah pertanda. Tapi pertanda apa?

 

“Minum obat teratur dan istirahat cukup. Saya sarankan juga anda jangan terlalu banyak pikiran.”

“Baik. Terima kasih, Dokter.”

 

Sudah kuduga tak ada seorangpun yang akan percaya kepadaku. Mereka pasti mengganggapku gila. Bagaimanapun, aku juga tak bisa membuktikannya. Jangankan membuktikannya, sekarang aku bahkan mulai tak mempercayai diriku sendiri. Tapi dokter sudah memberiku obat. Cukup kuminum obat-obat itu dan kuikuti semua sarannya, maka bunyi-bunyi itu takkan menggangguku lagi dan aku akan kembali baik-baik saja.

………

 

beep… beep… beep…

Bunyi itu tidak ada.

 

Kupejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam, mengingat-ingat apakah obat untuk malam ini sudah kuminum. Kuperiksa kembali tube obat terjadwalku, ada tiga tablet dalam ruas berlabel untuk malam ini. Ada sedikit kelegaan di dadaku, seakan perkara hidupku hanya tentang lupa minum obat. Kutelan tiga tablet itu sekaligus dengan penuh keyakinan bahwa setelahnya, aku takkan mendengar bunyi-bunyi itu lagi.

 

Sebelum pergi tidur, sesuai saran dokter, kuperiksa ulang seluruh sudut rumah. Kupastikan microwave, pemanggang roti, pengering rambut, televisi, radio, dan seluruh peralatan listrik telah mati dan tak terhubung lagi dengan sumber listrik. Kumatikan juga mesin penjawab telepon dan kugantungkan tulisan “Do not disturb!” di handle pintu apartemenku, mencegah siapapun memencet bel di malam hari, baik karena iseng maupun karena urusan tak terlalu mendesak yang masih bisa ditunda sampai besok pagi.

 

Setelah menggosok gigi, mencuci kaki dan tangan, serta membersihkan wajahku, aku masuk ke kamar. Kumatikan ponselku kemudian menyimpannya di laci meja. Kuteguk habis segelas air sebelum merebahkan diri ke ranjang. Bibirku berkomat-kamit merapalkan doa-doa sebelum tidur. Kuhela beberapa napas panjang untuk menenangkan diri sebelum memejamkan mata. Kulakukan semua itu demi bisa tidur nyenyak tanpa gangguan bunyi-bunyi aneh itu lagi.

………

 

beep… beep… beep…

Aku yakin itu suara kunci mobil tetangga.

 

Aku terbangun. Kududukkan diriku di tepi ranjang. Cahaya itu menembus tirai jendela kamarku yang terbuka. Ya, aku bahkan lebih memilih untuk membuka jendela ketimbang menggunakan pendingin ruangan di cuaca sepanas ini demi menghindari bunyi-bunyi keparat itu.

 

Kuhampiri jendela dan kulihat Range Rover hitam milik gadis tetangga baru saja menghilang di balik tikungan. Aku sebenarnya bukan orang yang senang memperhatikan kendaraan-kendaraan penghuni kompleks apartemen, tapi entah kenapa dalam seminggu terakhir ini mobil itu secara misterius terus saja menyita perhatianku.

 

Selain aku, bunyi kunci mobil tetangga tadi nampaknya tak membangunkan siapapun. Semua jendela masih tertutup rapat tanpa disikap tirainya sedikitpun dan semua lampu terlihat masih padam.

 

Aku kembali ke ranjang. Kuhidupkan ponselku untuk mencari tahu jam berapa sekarang. Baru pukul 01.24 dini hari. Aku tak punya penunjuk waktu lagi selain ponselku. Untuk menghindari bunyi-bunyi itu, aku bahkan membuang semua jam dinding, jam meja, dan jam alarmku.

 

Ada empat pesan masuk ketika ponselku dihidupkan. Aku mengusap-usap kelopak mataku dan menguap. Aku mengantuk, tapi tentu saja takkan bisa tertidur seketika setelah bangun karena terkejut. Maka, kubuka pesan-pesan itu. Satu pesan dari atasanku, memberitahukan jadwal pertemuan besok pagi yang diundur satu jam, tanpa menunda, kuraih agendaku untuk mencatatnya. Tiga pesan lainnya berasal dari tunanganku, Hall.

 

“Sayang, aku sudah menunggu di depan bioskop.”

“Sayang, ponselmu tidak aktif. Apa perlu kujemput?”

“Sayang, tadi aku ke tempatmu tapi sepertinya kau sudah tidur. Hubungi aku besok pagi, ya?”

 

Aku menepuk jidatku. Astaga! Aku melupakan kencanku dengan Hall.

………

 

beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep…

Bunyi apa itu? Laptop? Proyektor? Pointer? Ponsel? Apa?

 

“Arwen? Arwen, ada apa? Kau kenapa?”

 

Kutemukan diriku tengah duduk di ruang rapat, memijit-mijit kepala dengan kedua tanganku sambil merintih kesakitan. Atasanku memanggil namaku sambil mengguncang-guncangkan bahuku. Sementara itu, belasan pasang mata lain semuanya tertuju ke arahku.

 

“Kau pucat sekali, Arwen. Kau baik-baik saja? Ini minumlah!”

Atasanku menyodorkan segelas air kepadaku. Aku meminumnya sedikit.

 

“Ma… Ma… afkan saya, Pak.”

Aku kesulitan mengendalikan kata-kata yang meluncur dari mulutku.

 

“Arwen, temuilah dokter di klinik kantor! Setelah itu pulanglah dan istirahat! Hubungi aku setelah kau baikan! Sekarang, berikan catatannya kepadaku dan biarkan kami melanjutkan rapat!”

“B… Baik, Pak. Permisi.”

 

Aku bergegas keluar dari ruangan itu dengan perasaan sangat malu sekaligus bingung karena tak berhasil mengingat apapun yang terjadi sebelum kejadian tadi.

………

 

beep… beep… beep…

Itu suara printer nomor antrian.

 

Beberapa menit setelah aku duduk di bangku ruang tunggu, kulihat Dashya keluar dari ruang periksa. Wajahnya terlihat pucat, mungkin sepucat wajahku. Tapi dia lebih terlihat seperti sedang khawatir atau kebingungan daripada sakit.

 

Di kantor ini aku hanya punya sedikit teman dekat, dan Dashya adalah salah satu dari yang sedikit itu. Kami sama-sama sudah mulai bekerja sejak kantor cabang ini dibuka lima tahun lalu. Kami sangat akrab. Dashya mengenal seluruh keluargaku, bahkan dia juga mengenal baik Hall. Tadinya kami bekerja di satu divisi, namun sekitar dua bulan lalu, ia dipindahkan ke divisi lain. Sejak itu, karena kesibukan, aku belum bertemu dengannya lagi. Aku bahkan belum meneleponnya. Aku merindukannya, dan aku mulai sadar bahwa ternyata aku sedang kesepian.

 

“Hai Dashya. Apa kabar?” Aku menghampiri dan menyapanya.

“Oh. Hai, Arwen.” Dashya tampak sedikit terkejut. Aku memeluk dan mengusap punggungnya.

“Apa itu?” Aku menanyakan selembar kertas yang dibawanya.

“Ini hasil tes.”

“Tes?”

“Emm…. Tes darah.”

“Tes darah? Kau sakit apa?”

“Emm… Maksudku, ini rujukan untuk tes darah di laboratorium.” Dashya tiba-tiba menjadi gugup.

Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum, tak ingin mempersulitnya lagi dengan pertanyaan-pertanyaan. Barangkali keadaannya sedang tidak baik, karena itu dia gugup.

“Eh, sebentar lagi giliranku. Pulanglah dan segera istirahat, Dashya. Nanti kutelepon, ya?”

Dashya tersenyum dan mengangguk canggung, kemudian dia berpamitan. “Aku pergi dulu.”

………

 

beep… beep… beep…

Itu bunyi ponselku.

 

Sebuah pesan dari Hall.

“Aku akan tiba sekitar sepuluh menit lagi, jalanan macet sekali.”

 

Aku sudah tiba limabelas menit lebih awal dari waktu janjianku dengan Hall. Semalam aku sudah mengecewakannya, dan sore ini ketika ia mengajakku ke kafe, aku berusaha untuk tidak mengacau.

 

“Hai.” Hall mengecup pipiku lalu menarik bangku untuk duduk di sebelahku.

Aku tersenyum dan mengelus pipinya. “Sayang, aku minta maaf soal…”

“Itu bukan masalah. Sungguh. Ehm, sebenarnya aku tak punya banyak waktu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan.” Hall memotong kalimatku sebelum aku memberi penjelasan.

“Hmm… Baiklah. Aku mendengarkan.”

“Ehm… Arwen, aku menyesal mengatakan ini, tapi… aku harus membatalkan pertunangan kita.”

 

Aku mengerutkan dahiku, tak bisa mencerna apa yang baru saja kudengar dari Hall. Sebelum aku menimpali, Hall sudah melanjutkan kata-katanya lagi.

 

“Aku minta maaf. Ini di luar kuasaku. Dua bulan lalu aku bercinta dengan seorang gadis yang kutemui di pesta. Ehm… Aku mabuk dan… Kejadiannya begitu cepat. Kupikir semua akan kembali normal setelahnya, tapi siang ini dia menghubungiku, mengatakan bahwa dia sedang mengandung anakku.”

 

Penjelasan Hall sangat cepat dan sulit kupahami. Aku kebingungan. Satu-satunya yang kutangkap adalah bahwa ini kabar buruk, jauh lebih buruk dari bunyi-bunyi yang mengganggu di kepalaku.

 

“Tapi kenapa pertunangan kita harus dibatalkan?”

“Karena, Arwen, aku harus menikahinya, segera.”

“Bagaimana kau yakin itu anakmu? Bagaimana kalau ia menipumu? Kau tak ingin terlebih dulu melakukan tes DNA atau semacamnya?”

Hall menarik napas panjang sesaat sebelum menjawab. “Arwen, aku tahu ini sangat mengejutkan sekaligus menyakitkan bagimu. Aku… Aku telah jatuh cinta kepadanya.”

 

Aku tertegun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan aku tak ingat berapa lama itu terjadi sampai Hall menepuk pundakku untuk berpamitan.

 

“Aku harus pergi sekarang. Aku minta maaf. Aku menyesal hubungan kita harus berakhir seperti ini.”

Aku hanya mampu mengangguk lemas, kemudian menarik sebentuk cincin dari jari manisku.

“Ini…” Kusodorkan benda itu kepada Hall.

“Tidak. Itu milikmu. Kau simpan saja. Jual. Buang. Atau berikan kepada siapapun.”

Sekali lagi Hall menepuk pundakku, tersenyum, kemudian beranjak pergi.

 

Hall bahkan tak menanyakan keadaanku, tak menanyakan bagaimana hasil pemeriksaan dokter. Tak ada pelukan atau ciuman perpisahan. Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Memulai hubungan memang butuh kesepakatan, tapi untuk mengakhirinya, hanya perlu sebuah keputusan, bukan kesepakatan.

………

 

beep… beep… beep…

Itu bunyi mesin absensi sidik jari.

 

Hari ini aku kembali ke kantor setelah tiga hari penuh mendampingi atasanku survey di luar kota. Aku lelah. Aku patah hati. Aku tidak sedang baik-baik saja.

 

Pada saat-saat sial seperti ini, aku membutuhkan teman baik. Aku membutuhkan Dashya, tapi dia tidak menjawab teleponku setelah beberapa kali kuhubungi. Dia juga tak membalas pesanku. Barangkali dia sangat sibuk, atau sakitnya serius sehingga butuh istirahat total. Teman macam apa aku ini? Aku bahkan belum menjenguknya. Aku tak tahu bagaimana keadaannya.

 

Ada yang aneh dengan semua orang di kantor hari ini. Ketika berjalan di koridor, hampir semua mata menatapku seakan-akan merasa kasihan kepadaku. Kenapa? Apa kabar soal bunyi-bunyi aneh yang kudengar itu telah menyebar? Apakah kabar semacam itu terdengar begitu menyedihkan sampai-sampai mereka merasa perlu mengasihaniku? Seorang rekan menepuk-nepuk bahuku ketika kami berpapasan. Aku tersenyum menunjukkan rasa terima kasih atas simpatinya, walaupun aku tak tahu untuk apa aku harus berterima kasih.

 

Aku baru mengerti apa yang terjadi setelah tiba di meja kerjaku. Sebuah amplop berisi undangan tergeletak disana. Undangan pernikahan Dashya…. Dan… Hall?

………

 

beep… beep… beep…

Itu bunyi mesin kopi.

 

Seorang pramutama menyodorkan dua cup kopi dari truk kedai kopinya. Aku dan atasanku mengambil cup kopi kami masing-masing, kemudian berjalan beriringan menuju bangku di taman sebuah kompleks pertokoan, tak jauh dari gedung tempat kami baru saja menemui seorang klien.

 

Hidup itu kejam. Hidup bukanlah sahabatmu. Karenanya, ia tak perlu berbaik hati kepadamu.

 

Apa? Kau butuh istirahat? Kau butuh menenangkan diri setelah patah hati? Tidak! Lakukan saja pekerjaanmu! Atau kau akan dipecat!

 

Setelah semua hal buruk yang menimpaku. Setelah aku dikhianati teman baik dan kekasihku sendiri, aku belum juga menemukan waktu untuk menenangkan diri, menghilang ke sebuah pulau terpencil, menangis semalaman, atau menggila di bar, membiarkan diriku mabuk sampai taksi mengantarku pulang. Bahkan di akhir pekan seperti ini, aku masih harus lembur.

 

“Arwen, aku sangat berterima kasih atas professionalismemu hari ini. Aku turut sedih soal kejadian yang menimpamu. Tapi aku salut, kau bisa berlapang dada dan tetap bekerja dengan baik.”

Aku tersenyum sendu. “Sudah menjadi tugas saya, Pak.”

“Aku minta maaf kalau pekerjaan di kantor sering membuatmu tertekan. Oh ya. Bagaimana hasil konsultasimu dengan dokter tempo hari? Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Saya sudah mengikuti semua saran dokter, Pak. Dan sekarang saya sudah merasa lebih baik.”

 

Aku berbohong. Keadaanku justru semakin buruk. Bunyi-bunyi itu terdengar makin keras dan makin sering, bahkan nyaris tanpa henti. Semakin hari semakin memenuhi kepalaku.

 

“Arwen? Kau baik-baik saja?” Atasanku menepuk pundakku. Aku tersentak.

“Maaf, Pak.” Kurasakan keringat dingin membasahi pelipisku.

“Tidak apa-apa. Kau sepertinya tegang sekali, Arwen. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?”

“Ehm… Maaf, Pak. Tapi saya lelah sekali. Kalau sudah tak ada yang harus saya kerjakan, bolehkah saya pulang untuk istirahat?”

“Oh. Maafkan aku. Baiklah. Biar aku yang mengantarmu pulang, ya?”

Aku mengangguk. “Terima kasih, Pak.”

“Kau pergilah ke mobil duluan! Ini kuncinya. Aku perlu ke toilet sebentar. Sini, biar aku yang membuangkan cup kopimu!”

………

 

beep… beep… beep…

Itu bunyi kunci mobil atasanku.

 

Aku membuka kunci mobil itu dari seberang jalan. Sebenarnya tak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat mobil atasanku itu diparkirkan, tapi aku sengaja berjalan lambat agar tak perlu berlama-lama menunggu atasanku. Aku yakin sebentar lagi ia pun akan sudah tiba disini.

 

Aku tinggal menyebrangi jalan saja. Aku lelah sekali. Tubuhku lemas dan aku hampir tak bisa merasakan kedua kakiku. Sementara bunyi-bunyi itu terdengar semakin keras sampai rasanya sulit bagiku mendengar bunyi lain yang lebih nyata. Bunyi-bunyi itu seolah-olah sedang berusaha mengasingkanku dari dunia.

 

Aku sudah dekat… Tinggal beberapa langkah lagi… Beberapa langkah…

 

beep… beep… beep…

 

“Arwen!!! Awas!!!”

 

Aku mendengar teriakan atasanku, berbarengan dengan bunyi klakson. Kotolehkan wajahku dan seketika itu, tubuhku terhempas oleh sebuah Range Rover hitam yang sedang melaju cepat. Aku terpental. Rasanya seperti terbang.

………

 

beep… beep… beep…

Gaduh. Bunyi itu benar-benar gaduh. Memenuhi seluruh ruangan. Memekakkan telingaku.

 

“Arwen… Arwen… Tetaplah bersama kami.”

 

Rambutku basah. Cairan hangat itu masih keluar dari kepalaku. Itu darah?

 

beep… beep… beep…

 

“Tekanan darah 70/50… Terus turun… CPR!”

 

Mereka menekan-nekan dadaku, menutup wajahku dengan masker oksigen. Tapi aku tak bisa merasakan apapun. Aku tak bisa menghirup apapun yang keluar dari masker itu.

 

beep… beep… beep…

 

“Defibrilasi sekarang!”

 

Mereka memasang selang intubasi di tenggorokanku, bermaksud memompakan udara langsung ke dalam paru-paruku. Dadaku terbakar. Tubuhku terbanting berkali-kali oleh defibrillator itu.

 

beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep…

 

Sampai pada titik tertentu, kurasa bunyi itu sudah kehilangan kemampuannya untuk menjadi semakin keras. Situasi berbalik, bunyi itu perlahan menjadi semakin pelan, semakin samar-samar sampai tak terdengar lagi. Hanya tersisa sebuah dengungan panjang.

 

Sudah berakhir. Sudah tidak ada. Bunyi itu tak akan pernah menggangguku lagi.

 

Beberapa saat berikutnya semua orang seakan-akan berhenti bergerak. Mereka berpandangan satu sama lain dalam diam sampai seorang dokter memberi perintah kepada perawat.

“Tolong catat waktunya!”

 

Satu per satu dokter melepas masker dan sarung tangan mereka, kemudian meninggalkan ruangan. Sementara itu seorang perawat mematikan monitor yang sedari tadi tak berhenti mendengung itu. Dua perawat lain menghampiriku, mencabut selang infus dan selang tranfusi darah dari lenganku, serta beberapa kabel dari dadaku. Mereka melepas selang intubasi dari tenggorokanku lalu mengatupkan rahang dan kelopak mataku. Aku bisa merasakan mereka menyedekapkan kedua tanganku ke atas dada sebelum akhirnya menutup tubuhku dengan sehelai kain.

 

Apa?

Aku sudah mati?

----- o0o -----

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rirant
rirant at Dering (4 years 50 weeks ago)
80

Dering teleponmu membuatku tersenyum di pagi hari. Eh malah oot, sorry hehe.

Satu kesimpulan saya tentang Arwen, dia punya firasat kuat kalau dirinya bakal tertimpa musibah karena suara itu. Makanya dia sensitif sama suara itu. Meskipun penggambaran kesakitan karena tertabrak mobil kurang dikemas secara indah, tapi saya suka tipe cerita seperti ini, meninggalkan misteri di akhir cerita.

Writer rian
rian at Dering (4 years 50 weeks ago)
2550

Saya suka sama scene-nya yang pendek-pendek. Bikin penasaran. Sampai akhir cerita asal suara misterius itu enggak diberikan, pembaca dibiarin menebak. Tapi saya suka gimana Penulis menghubungkan suara misterius sama alat pendeteksi detak jantung itu. Rapi.

Drama yang dialami tokoh utama saya kurang bisa masuk dan merasakan, terutama karena plot dikhianati-sahabat-sendiri menurut saya udah usang, plus di sini perkembangannya tiba-tiba sekali. Barangkali cerita bisa difokusin aja sama suara-suara di kepala tokoh utama dan pengaruhnya buat kehidupan dia sehari-hari, alih2 melebar ke masalah percintaan? Saran aja:)

Salam kenal

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Dering (4 years 50 weeks ago)
80

Kebetulan, saya lagi belajar menulis kisah thriller, dan saya senang sekali ada postingan dengan genre thriller. hihihi.
.
Sebelumnya saya pikir genre thriller itu ditulis dengan tujuan membuat tegang/ngeri pembacanya karena novel thriller yang kadang saya baca menceritakan semacam itu. Misal ketika harus membayangkan seorang tokoh dikejar-kejar pembunuh yang mengacungkan pisau dapur. Hiiii.
Ah, tapi setelah saya cari tau lebih lagi, Thriller ternyata tidak terbatas mencari sensasi ketegangan saja yah. Genre ini juga bisa memunculkan getaran rasa pembacanya selain rasa tegang/ngeri tersebut, mungkin semisal heboh dalam hati karena senang yang membuncah.
.
Yang jelas, saya tidak merasakan thriller tegang di sini, melainkan lebih kepada memahami kecemasan macam apa yang dirasakan tokoh Arwen. Saya nggak menemukan alasan Arwen mendengar bunyi2an yg mengganggu seperti itu, atau memang pembaca dibiarkan menebak? :) Mungkin saja, saya rasa Arwen di sini sudah punya semacam firasat begitu ya kalau dia akan mengalami sesuatu yang berat?
.
Itu saja sih. Makasih untuk tulisan thriller-nya :)