-

-

Read previous post:  
19
points
(1 words) posted by rian 6 years 40 weeks ago
63.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | keluarga
Read next post:  
Writer Liesl
Liesl at - (6 years 35 weeks ago)
90

Halo Ryan. Pertama saya mau bilang, saya justru suka karakter narator dalam cerita ini super santai. Kenapa? Mungkin karena saya sejenis dengan Hanim.

Buat saya ngga ada yang aneh dari perubahan sikap Hanim yang terlihat drastis. Justru kalo logika saya, Hanim cuek karena dia sudah siap menghadapi kemungkinan terburuk. Orang tuanya ga pernah membayangkan kelakuan Andin akan begitu. Tapi buat Hanim, segalanya mungkin. Makanya pas Andin bawa pulang cowo, dia ngga sekaget orang tuanya. Buktinya dia udah siapin kunci serep itu dari lama, berarti sebenernya dia udah mempersiapkan kemungkinan itu sebelum orang tuanya kan?

Hanim ngasih kunci itu karena dia mau kalo Andin di rumah, karena kemauan Andin sendiri, bukan karena ga punya pilihan. Buat sebagian orang itu aneh, buat saya itu tanda bahwa dia respek dan akan menghargai apapun keputusan Andin.

Seandainya Andin memang ngga memilih untuk jadi bagian dari keluarganya, buat Hanim itu adalah pilihan Andin dan ngga seorangpun berhak memaksa Andin untuk tinggal, dia sekalipun. Bukannya Hanim ga akan sedih, tapi dia akan menerima keputusan Andin tanpa menghakiminya, walaupun dia merasa itu keputusan yang bodoh.

Tapi, biasanya orang dengan personality seperti Hanim ngga sepolos itu. Dia tau dengan pasti bahwa dengan dia ngasih kunci itu ke Andin, justru Andin ga akan merasa terkurung dan kemungkinan besar ga akan kabur dari rumah.

Overall, saya menikmati cerita ini. Seperti cerita-ceritamu sebelumnya, plotnya selalu ngalir dengan mulus. Gaya bahasanya santai tapi ga abal-abal.

Sekian cuap2 saya, maaf kalo saya malah jadi fokus menganalisa karakter Hanim dan bukan ceritanya hahaha.

Writer rian
rian at - (6 years 33 weeks ago)

Analisis ini sesuai sama yg saya pikirin. Hanim kakak yg sok cuek tapi sebenernya peduli, dan dia demokratis, makanya dia ngasih pilihan mau-pergi-apa-tinggal ke Andin.

Makasih, ya, udah komentar dan nyempatin baca

Writer Shinichi
Shinichi at - (6 years 35 weeks ago)
100

Secara keseluruhan, saya setuju dengan komentar-komentar kemudianers lain di part ini, Bung. Jadi, kemungkinan besar saya hanya akan mengulang apa yang sudah mereka sampaikan. Tapi saya pingin bilang jugak. Biar kekinian #plak!
.
Kesan dulu deh. Serius saya suka cerbung ini. Santai. Dalam beberapa hal saya merasa lucu. Saya enggak tahu persisnya kenapa. Tapi semoga bukan karena itu "sepele" bagi saya. Enggak baik deh. Pasalnya, curhat dikit, masalah setiap orang itu beda-beda. Dan setiap orang juga beda-beda menanggapi masalah yang sama. Jadi, bagi Hanim bisa aja apa yang terjadi di sekitarnya itu bukan masalah. Kenapa enggak? Bisa. Nah, itu yang saya anggap terjadi pada Hanim, lalu menceritakan kisah ini kepadamu :p Namun ketika "isi" cerita itu ternyata "enggak cocok" dibawain dengan "enteng", ini yang berasa kurang klop. Saya mau mengenyahkan itu dari pemikiran saya. Serius. Namun memang masih sulit.
.
Hal kedua adalah semacam kehilangan kedalaman. Di cerpenmu ini saya mencari kedalaman. Kedalaman pemikiran masing-masing karakter. Kebetulan karaktermu bukan remaja yang asal melakukan sesuatu. Mereka ini punya masalah serius. Orang tua yang ingin anaknya seperti mau mereka. Saudara yang ringan saja menceritakan kisah kebandelan adik perempuannya. Dan adik perempuan yang punya catatan buruk dalam hidupnya. Ini ternyata masalah serius. Dan karena itu saya mencari kedalaman pemikiran tokoh-tokohmu. Rasanya saya enggak nemu itu. Meski begitu, bakal dapat "didebat" semisal ada komentator yang bilang padamu, sosok bapak seperti Papa mustahil enggak lapor polisi. Atau sosok ibu seperti Mama mustahil enggak masuk rumah sakit. Sosok abang seperti Mas mustahil menceritakan kisah ini dengan gaya "santai". Dan sosok Andin, mustahil nangis dengan catatan buruk seperti itu, hanya karena Kak Randi pergi. Tentu semua itu "debatable". Nah, kedalaman yang saya maksud adalah semacam pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan para tokoh dalam mengambil keputusan.
.
Berikutnya adalah--apa ya tadi?--cerpen ini enggak membuat saya penasaran ingin tahu sebab akibatnya. Dalam kesan positif ya. Maksudnya, saya cenderung sudah larut dengan gaya Hanim ini dalam bercerita. Jadi, saya enggak ingin tahu kenapa si Papa begitu, kenapa si Mama begitu, dll. Itu enggak terjadi lagi di part 3. Saya mendadak blank, karena dari awal saya enggak ingin tahu, lalu dipaksa "harus" ngerti. Aneh kan? Ahak hak hak. Ya, karena ternyata masalahnya enggak ringan. Serasa saya ingin marah-marah sama Hanim. Lu apaan sih? Masalah ginian lu bikin sepele! Sini gua jitak! Ahak hak hak. Ya, part 3 dan 4 konsentrasinya serius. Pekat. Apalagi part 4 ini ya. Sangat dalam, meski dibawakan dengan canggung oleh Hanim. Canggungnya di pembacaan saya ya, karena teringat gimana ia di 2 part sebelumnya. Seandainya Hanim dan Andin enggak terlibat pembicaraan semacam resolusi begitu, saya enggak akan komentar begini. Saya bayangkan ya, Hanim akhirnya, um, enggak mengucapkan dialog itu. Dan Andin juga enggak membalasnya. Rasanya cerpen ini bakalan fine-fine aja.
.
Dialognya mungkin terjadi setelah beberapa hari Andin dikurung. Lalu Hanim datang dan membelikannya lagi kue favoritnya, mereka makan bersama, sebagai jalan buat Hanim menyampaikan pada pembaca bahwa Andin enggak benar-benar menilainya brengsek, plus sebagai epilog bahwa apa yang dilakukan Andin itu, adalah hal yang wajar. Iya, wajar. Lalu mereka ketawa-ketawa pada suatu hal yang mungkin diceritakan Hanim. Bisa saja itu cerita singkat bagaimana pucatnya tunangan Andin itu kabur diusir Papa. Hal itu membikin abang beradik tadi ketawa, jendela kebuka, dsb, dsb, yang enggak ribet. Saya membayangkan kejadian seperti itu akan tetap menjaga gaya Hanim sedari awal. Dan ya "sebagai tujuan awal cerpen ini dibikin", kamu berhasil.
.
Kekecewaan saya lebih pada dialog tendensius di part akhir ini. Maksudnya semacam harus ditutup dengan penjelasan. Berbeda dengan yang lain, untuk kisah segamblang ini, saya enggak butuh penjelasan sama sekali ;) Tapi itu saya ya :D
.
Jadi demikian saja saya berkabar. Mohon maaf ya kalau enggak punya masukan bermanfaat. Sejauh yang bisa saya sampaikan, semua isi komentar saya enggak berdasarkan karya-karya sebelumnya yang saya bandingkan dengan karyamu. Anggap saja ini racauan. Namun tetap, sekali lagi, cerpen ini fresh banget. Saya sangat menikmatinya. Namun, rasa yang enak sekalipun pantas buat diapresiasi kan, bukan hanya dinikmati. Ahak hak hak. Kip nulis dan stay kalakupand.

Writer rian
rian at - (6 years 33 weeks ago)

Entah kenapa saya punya kecenderungan untuk bikin ending yang self-explanatory, dan dialog-dialog yg--mengutip katamu--tendensius. Saya tau itu kekurangan dan sedang berusaha mengurangi itu.

Inti dari keseluruhan cerita ini terletak di pilihan yang dikasih Hanim ke Andin. Sekarang saya sadar kalau itu mungkin terlalu sentimentil, kurang logis, atau apalah. Jadi saya sekarang pingin nulis ulang cerita ini berdasarkan komentar-komentar orang kekom.

Untuk narasi Hanim, saya kira saya enggak bisa bikin narasinya jadi lebih "serius". Enggak klop aja sama bayangan Hanim di kepala saya. Nadanya yg cenderung mengentengkan itu saya anggap semacam mekanisme pertahanan dirinya, kayak orang2 yg sok cuek padahal mereka sebenernya peduli. Saya pingin menunjukkan sifat itu lewat narasinya, tapi mungkin porsinya berlebihan.

Makasih atas komentarnya, ya, Abang.

Writer Wanderer
Wanderer at - (6 years 37 weeks ago)
100

Halo dan maaf baru mampir, Rian. Izin memberi komentar juga ya, meskipun mungkin anggapan saya ini tidak akan terlalu berguna dan --sedikit atau banyak-- tidak jauh berbeda dari komentar-komentar sebelumnya.

Karena dari segi penulisan udah hampir gak ada cacat bagi saya, saya mau meninjau dari kontennya saja.

Pertama, karakterisasi.
Mas Hanim:
Saya masih buram menerka karakter Mas Hanim ini. Saya kira dia sosok kakak yang penyabar dan penyayang terhadap adiknya, Andin. Jadi sewaktu di akhir cerita, dia memberikan pilihan demikian terhadap Andin, saya merasa adegan itu kurang mulus. Mungkin perlu ditambahkan narasi yang lebih menguatkan maksud dari penawaran pilihan oleh Mas Hanim ini.
Andin:
Entah pembacaan saya yang kurang mendalam atau bagaimana, tapi saya kurang merasakan alasan yang melatarbelakangi kebadungan Andin. Apa yang menjadikan Andin sebegitu nakalnya dari kecil? Ayah yang galak, pergaulan sekitar, atau penyebab lain? Ini hanya preferensi personal saya aja, tapi saya menginginkan adanya penjelasan tsb supaya ceritamu bisa lebih kuat. Soalnya Andin ini gak main-main, sampai gaulnya dengan preman, penjambret, dan jabatan-jabatan lain yang berpotensi jadi kriminal. Pasti ada alasan yang kuat di balik itu. Tapi yah kadang tidak semua detil harus dimasukkan juga sih. Sekadar saran pribadi.

Kedua, penuturan konflik. Di beberapa bagian, terutama ketika Andin ditampar dan Mas Hanim memberi kunci kepada Andin, agak terasa sinetronis sih bagi saya. Tapi di sisi lain mungkin itu bagus untuk meningkatkan intensitas dan memberi kesan dramatis. Ini juga sekadar kesan pribadi sesuai selera saya semata.

Oh ya mau tanya satu istilah ini: gelas bekas mie instan itu wujudnya gimana ya? Gelas popmie?

Secara keseluruhan, ceritanya enak diikuti. Rapi dan dikemas secara ringan. Tentunya cerita slice of life yang patut diperdalam. Terus semangat nulis :)

Writer rian
rian at - (6 years 36 weeks ago)

Makasih banyak komentarnya, Wanderer. Betul, karakterisasi dalam cerita ini masih setengah-setengah. Makasih udah ngasih tau bagian-bagian yg mengganjal.

Setelah dipikir-pikir lagi, saya mau nulis ulang cerita ini dari sudut pandangnya Andin aja, dan karakternya enggak perlu seekstrim ini.

Gelas mie instan, gelas pop mie. Kayaknya dulu pernah liat ada orang jadiin gelas pop mie sebagai asbak. Tapi mungkin saya salah. Mungkin gelasnya bakal jadi bolong.

Makasih banyak atas komentarnya. Berharga sekali.

Writer Wanderer
Wanderer at - (6 years 36 weeks ago)

Jangan terlalu memikirkan komentar saya juga. Semangat, rian :)

Writer izaddina
izaddina at - (6 years 40 weeks ago)
100

pertama, maaf bila kurang berkenan. aku kurang bisa mengapresiasi dengan kalimat-kalimat yang mendetail.

aku suka sama ceritanya. apa ya, suka aja. bahasanya enak, dan konfliknya dibawa dengan baik. tetapi (senada dengan Kak Thiya), gayanya yang ringan memang membuat konfliknya terasa enteng. padahal harusnya anak kabur dari rumah tidak semudah itu kan masalahnya?

tetap saja aku suka cerbung ini :)

wassalam.

Writer rian
rian at - (6 years 39 weeks ago)

Gaya terlalu ringan. Catet.

Seneng kamu terhibur, Izadinna.

Makasih atas komentarnya:)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at - (6 years 40 weeks ago)
100

Biarkan ini jadi racauab saya dulu sebelum terjun ke komen yang lebih serius, besok atau lusa :p (gak janji juga sii).
.
Jadi gini, entah sudah berapa kali saya bilang. Saya selalu suka sama narasi kamu. Mulus dan ya, selalu menyenangkan untuk membacanya karena ngalirnya lancar. Gak kesendat begitu.
.
Tapi (iyes! Tetap akan ada tapi di sini. Bwahahahha) saya tidak bisa menyatu dengan tokoh Mas Hanim. Maksudnya, gaya penceritaan ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama. Yaitu Mas Hanim. Dan cara penuturannya--entah gimana ya, kalau di saya--cenderung ringan dan kelewat jenaka.
.
Ada berbagau celetukan, seperti kiamat, kata2 hiperbola yang nampaknya kurang pas gitu penempatannya. Jujur, saya kaget ketika tahu kalau Andin ternyata seberandalan itu. Saya pikir dia adalah anak tipe-tipe rumahan-nakal. Yang cuma ngambekan gitu, lalu pergi ke rumah sahabat lantas menyesal. Eh, ternyata lebih parah. Dan sekali lagi, rasa depresi dalam tulisan ini kurang. Kekhawatiran, kecemasan, ketutupan sama gaya tutur cerita yang ringan dan terkesan menggampangkan (padahal tuturan sendiri sama saja =_=a).
.
Jadi intinya, saya masih gak sreg sama gaya tulisan ini dengan konflik yang dibawanya. Kurang klop, kurang ngena. Senada dengan mbak Azka. Mungkin ini karena kesan Mas Hanim yang terima aja (padahal sudah usaha yak Mas Hanim-nga cuma masih kurang greget).
.
Akhir kata, saya ucapkan. Selamat, saya terhibur. Tapi di sisi lain, selamat, saya masih ganjel di lainnya :)

Writer rian
rian at - (6 years 39 weeks ago)

Hanim ini mestinya jadi tipe cowok cuek-bebek-menggampangkan-segala-hal, sedikit sarkastis, sedikit sinis, tapi, ya, saya setuju kalau gaya kayak gitu enggak cocok untuk menarasikan cerita ini. Saya salah pilih narator kalau begitu. Mungkin lebih bagus kalau ditulis dari sudut pandangnya Andin?

Makasih banget udah komentar:)

Writer azkashabrina
azkashabrina at - (6 years 40 weeks ago)
2550

Rian, lama gak buka Kekom, sekalinya buka saya langsung disuguhin cerbungmu :D Senang! Saya udah baca semuanya, dan komennya disatuin disini boleh, ya.
.
Secara umum, narasinya saya suka. Kamu dapet pengaruh darimanakah? Ada celetukan dan permainan kata-katamu yang mengingatkan saya sama rasa Arswendo, dan saya suka Arswendo, jadi saya suka juga rasa cerita ini. Terus kalau boleh, saya kritik sedikit yaa...
.
Pertama, karena ini ceritanya bersambung, mau nggak mau saya jadi merhatiin cliffhanger di akhir cerita. Di bagian pertama udah enak, dipotong dengan Andin yang tau-tau ilang. Tapi di bagian kedua sama ketiga, agak kurang. Seandainya caramu bertutur nggak seenak ini, mungkin saya akan kurang penasaran untuk baca lanjutannya.
.
Kedua. Mungkin ini saya aja, tapi kalau baca cerita dengan sudut pandang orang pertama begini saya berharap lebih dapet konflik batin dan jalan pikir si narator. Jadi deskripsi situasinya pun akan subjektif dan tercemar emosi naratornya. Apalagi di akhir, si Hanimlah yang 'membungkam' pemberontakan Andin. Kalo saya sih berharap di sepanjang cerita akan kelihatan jejak pikirannya dia sampai akhirnya bikin keputusan untuk ngasih kunci itu. Entah saya yang luput atau gimana, tapi tiba-tiba terasa mendadak aja.
.
Oh ya, yang ketiga, sepanjang cerita ini si Hanim terasa jadi karakter yang paling 'nrimo' gitu di rumah. Yang banyak diam dan nggak ikut campur. Saya agak heran aja kenapa dia yang karakternya kayak gitu, bisa dipanggil brengsek sama Andin.
.
Udah sih, itu aja. Panjang yak? Huehe, sorry. Mudah-mudahan berkenan ya, Rian. Cheers! :)

Writer rian
rian at - (6 years 39 weeks ago)

Saya pernah baca beberapa cerpennya Arswendo, tapi enggak bisa bilang saya suka. Kalau misalnya dirimu suka narasi di cerita ini, syukurlah:)

Saya akui bagian terakhirnya ditulis terburu-buru, jadi mungkin latar belakang keputusannya Hanim enggak tereksplor secara optimal.

Cliffhanger. Catat:)

Makasih udah menyempatkan komentar, Mbak Azka