Resolution – The Man behinds Wall (Chapter 3: Brain Eater)

“Lapor, Pak. Mobil polisi yang dicuri tersangka telah ditemukan di bibir hutan terlarang. Sepertinya tersangka memasuki hutan ini. Menunggu perintah selanjutnya, Pak.”

Terlihat dua anggota polisi mengamati sebuah mobil polisi yang telah kehabisan bensin. Mereka melihat daerah sekitar untuk mencari jejak buronan yang telah kabur. Buronan yang menyulut kemarahan ketua Divisi Kriminalitas. Buronan itu adalah Fero si setan.

“Amankan bukti, aku akan menuju TKP sekarang.” perintah ketua Divisi Kriminalitas, Tommy, kepada kedua anggotanya. Ia memerintahkan pula kedua anggota lainnya yang berada di kantor polisi untuk menelusuri jejak Fero.

Bagi Tommy, menangkap Fero adalah prioritas utama. Apalagi ketika Fero mencuri mobil polisi kesayangannya. Membuat Tommy ingin segera memenjarakannya. Kalau bisa, ia ingin menghajar Fero hingga babak belur sebelum memasukkannya kedalam jeruji penjara.

Tommy dan dua anggotanya tiba di tempat bukti berada. Tommy memerintahkan dua anggota yang baru saja keluar dari mobil untuk mencari bukti-bukti lainnya di sekitar hutan terlarang. Ia sedikit ragu untuk memasuki hutan misterius itu hanya karena buronan kelas kakap yang membuatnya geram.

“Lapor, Pak. Tidak ada bukti lain di sekitar hutan, penduduk desa dekat sini juga tidak melihat buronan sama sekali.” lapor salah satu anggota kepada Tommy yang hanya berdiri melihat kondisi sekitar.

“Laporan saya terima, segera kumpulkan seluruh anggota yang ada di sini! Saya akan memberi pengarahan singkat.”

“Siap, Pak!”

Tanpa perlu menunggu lama, empat anggota polisi divisi kriminalitas langsung berbaris melintang menghadap Tommy. Mereka terlihat sangat serius, apalagi ketika mereka melihat mimik wajah Tommy yang tampak kesal.

“Dengar! Kita akan memasuki hutan ini. Siapkan senjata kalian!”

“Siap!” balas mereka serempak.

Seluruh anggota polisi yang berada disitu langsung mengecek pistol mereka masing-masing. Belati ukuran normal juga mereka sarungkan. Tas kecil berisi amunisi juga tak lupa mereka bawa. Sebenarnya mereka tidak perlu membawa semua itu, namun karena buronan memasuki hutan terlarang, mereka harus mempersiapkan segala kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi.

Setelah semua perlengkapan selesai mereka siapkan. Mereka berbaris lagi menunggu perintah selanjutnya dari pemimpin mereka, Tommy. Sedangkan Tommy sudah siap sedari tadi karena ia telah menduga akan memasuki hutan terlarang itu.

“Apakah ada salah satu dari kalian yang ingin mundur dari pencarian kali ini? Jika ada, mundur sekarang juga!” tanya Tommy seraya memandangi satu-persatu anggotanya. Tidak ada yang menjawab atau mundur satupun.

“Dani, Yono, Joni, Fuad, aku anggap kalian siap memasuki hutan ini. Sekarang ikuti aku!” perintah Tommy ketika tidak ada satupun dari mereka yang mundur. Semua anggota menjawab siap serempak sambil mengikuti Tommy dari belakang. Mereka akhirnya memasuki hutan terlarang.

Dani adalah anggota polisi dengan perawakan tegap dan kekar. Tinggi badannya sekitar seratus-delapanpuluh sentimeter. Wajahnya tampan dan ideal. Kulitnya kuning langsat. Ia merupakan mantan atlet Taekwondo sabuk hitam dan sangat tangkas dalam pertarungan jarak dekat. Ia pernah memimpin penyergapan gembong narkoba dan menghajar seluruh anggota gerbong yang berusaha kabur hanya dengan menggunakan kekuatan kakinya. Ia lebih mengandalkan kemampuan beladirinya ketimbang senjata api. Dani adalah anggota favorit Tommy dalam menangani berbagai kasus-kasus kriminalitas. Kepribadiannya yang santun dan sopan membuatnya semakin populer, apalagi di kalangan polisi wanita.

Sedangkan Yono dan Joni tergabung dalam tim penyelidikan, namun seringkali juga dilibatkan dalam pengejaran buronan. Pasangan tersebut telah lama bergabung dalam anggota kepolisian dan berhasil mengungkap beragam kasus-kasus pembunuhan. Mereka adalah anggota senior namun sangat handal dalam menggunakan belati jenis Kujang Siliwangi berukuran limapuluh-sentimeter.

Dan anggota terakhir adalah Fuad. Ia merupakan anggota muda yang baru dua tahun bekerja di kepolisian. Namun kemahirannya dalam menggunakan senjata api membuatnya cepat mendapat promosi dan naik pangkat. Ia enggan membunuh buronan, meskipun ia sangat gemar menembak. Ia selalu membidik kaki pelaku yang kabur dari pengejaran. Ia pernah membunuh buronan yang berusaha menyerangnya, ia menembak buronan tepat di jantungnya dengan sekali tembak.

Sedangkan pemimpin mereka, Tommy, adalah anggota paling senior di kepolisian divisi kriminalitas. Ia telah menangani berbagai kasus kriminalitas apapun jenisnya. Perawakannya garang dan tegas. Ia sangat menjaga harga dirinya dan tidak segan-segan membunuh buronan jika melawan atau berusaha membunuhnnya. Di usianya yang telah memasuki kepala empat, tidak memupuskan keahliannya dalam menggunakan senjata api. Tidak hanya satu senjata api saja, ia membawa dua pistol Bereta. Ia memesan dan membeli kedua pistol itu langsung dari Italia dan memiliki sertifikat untuk menggunakannya. Ia sedikit menyesal karena meninggalkan salah satu pistol tersebut di kantor ketika menyergap Fero di kediamannya. Namun sekarang ia telah mempersiapkan semuanya, bahkan amunisi cadanganpun jua dibawanya.

Tommy dan keempat anggotanya menyusuri hutan sembari menyelidiki sekitar lokasi barangkali ada jejak buronan berupa bekas tapak kaki, ranting pohon yang putus, atau bahkan noda darah. Namun mereka masih belum menemukan apapun.

“Ada bekas jejak kaki di sini, Pak!” pekik Joni sembari mengarahkan telunjuknya pada tanah kering. Yono langsung mengamati jejak itu.

“Jejak kaki tersebut mengarah ke selatan, Pak!” lapor Yono kepada Tommy.

“Baiklah, kita menuju ke selatan!”

Tommy dan seluruh anggotanya langsung mengarah ke selatan di mana jejak kaki yang sedikit pudar itu mengarah. Setelah cukup lama mereka menyusuri jejak itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suatu jejak yang sangat terlihat. Yaitu noda darah yang sedikit tertutup debu.

“Noda darah ini telah mengering, Pak. Jika dilihat dari kondisi darahnya, saya perkirakan darah ini tercecer sekitar duapuluh-lima jam yang lalu. Jika dilihat dari banyaknya darah yang tercecer, sepertinya korban kehabisan banyak darah dan tidak mungkin hidup lagi. Laporan selesai, Pak!” lapor Yono kepada Tommy.

“Ambil sampel darahnya,” perintah Tommy sembari memikirkan langkah selanjutnya, melanjutkan ekspedisi kecilnya atau kembali ke kantor dan memproses darah tersebut ke laboratorium. Ia bisa saja mencocokkan bukti tersebut apakah cocok dengan golongan darah Fero. Ia dapat mengetahui golongan darah Fero dari database kepolisian.

“Sekarang kita harus kembali ke markas pusat! Kita proses dulu bukti darah tersebut. Jika memang itu milik buronan, maka kita hentikan pencarian ini.” perintah Tommy kepada seluruh anggota.

“Si…”

Sesaat sebelum mereka menjawab perintah Tommy, tiba-tiba busur panah melesat menembus leher Yono. Ia langsung tersungkur dan meronta kesakitan. Darah segar mengalir deras dari lehernya. Dani, Fuad, Joni, dan Tommy sangat terkejut melihat serangan panah mendadak. Joni dan Fuad langsung membopong Yono menuju bebatuan agar terhindar dari serangan lanjutan. Sedangkan Dani dan Tommy bersiaga mencari orang yang berusaha membunuh Yono.

“A…a…!” jerit Yono. Air tampak keluar dari kedua bola matanya. Ia mencoba berteriak namun ia susah bersuara karena terserang rasa perih yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Joni mematahkan busur panah menjadi potongan kecil, lalu mengeluarkan alkohol dari dalam tas kecilnya. Ia berusaha menghentikan pendarahan tanpa mencabut panah terlebih dahulu. Sedangkan Fuad mengeluarkan pistol favoritnya serta membidik ke sumber serangan.

“Tenang, Yono. Jangan panik, aku sudah menghentikan pendarahannya, bertahanlah.” ujar Joni berusaha mengendalikan situasi genting.

"Siapa di situ! Jangan jadi pengecut, keluar kau!” pekik Tommy terlihat geram.

“Hati-hati, Pak! Saya melihat bayangan lebih dari satu orang!” tambah Dani sembari mencari tempat perlindungan dari serangan panah. Ia berlari menuju pohon besar, sedangkan Tommy berlindung di balik bebatuan besar di depan Dani.

Tiba-tiba sekawanan manusia primitif muncul dari balik semak-semak, berusaha mengepung sekelompok polisi malang tersebut. Mereka membawa tombak panjang, sedangkan dari kejauhan tampak perempuan paruh baya membawa busur panah. Perempuan itu berpakaian sangat primitif dengan busana berbahan kulit harimau. Matanya menatap Tommy tajam yang menunjukkan nafsu membunuh yang sangat besar. Kulitnya sawo matang, dan di sekujur tubuhnya dilumuri lumpur kering. Ia juga mengenakan penutup kepala yang terbuat dari tengorak manusia.

“Sial! Sepertinya nasib buruk mendatangi kita, saya mendengar legenda perempuan itu dari penduduk sekitar, perempuan itu dijuluki pemakan otak oleh warga sekitar. Ia gemar memakan otak manusia, hati-hati, Pak Tommy!” pekik Joni dari belakang.

“Apa? Pemakan otak? Yang benar saja?!” tambah Tommy ketika mendengar penjelasan Joni, rasa geramnya tiba-tiba menciut seketika.

BERSAMBUNG

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Ceritanya menarik, sangat menarik terlepas dari beberapa kesalahan mendasar yang sering dilakukan penulis
Bahwa polisi yang baru 2 tahun berdinas karena keahlian menembaknya cepat mendapat promosi dan naik pangkat adalah imposibble di indonesia, tidak ada cerita seperti itu, sekedar saran, sebelum memulai cerita yang berhubungan dengan instansi negara, fiksi pun itu tetap harus dalam taraf realistis, kecuali tuan menulis kisah fantasi yang tidak ada tempat pastinya.

Wah apa atuh kang kesalahannya, kasitau dong (maksa) :D
Oiya sih bener juga, tapi kan ini bukan di Indonesia, aku ndak pernah nyebutin nama Indonesia lhoo (ngeles) hehe.
Ah ternyata masih banyak kesalahan yak kang, makasih banget sarannya, semoga berkenan mampir lagi kemari :D

100

bwahaha seandainya demia mecum di sini. Dia pasti ngiler lihat perempuan primitif. Muahaha ehm ehm maaf nyampah

jadi kali ini pov tommy sang polisi ya. Hmm kayaqnya kalo membicarakan pemimpin. Si tommy cuma seorang pemarah saja. Menurutku kayaq suka marah daripada berpikir kelihatannya.

waahh ini mah masih jauh lebh pintar fero :v

ehm ehm ane penasaran ama kelanjutannya, hehe ok kabuurr

Sekali lagi aku penasaran, siapa demia mecum itu? apakah dia karakter misterius? :o
Kagak nyampah kok, rileks kang, hakhak..
Iya sih, menurutku malah lebih cocok Dani jadi ketuanya :o
Semoga kaga kapok mampir lagi kemari yak :D

100

grrrrr makin penasaran kelanjutannyaaaaa arghhhhh :D

Ahh ada Vanzo, thanks selalu mampir kemari :D Anda penasaran? Tunggu kisah selanjutnya :P

ahahaha kayak iklan tv aja :p
hehe iya donngg, kan nunggin fero ketangkep:p
hehe mampir juga dong kak rirant nanti kita ngopi-ngopi :p

Ahaha si Fero masih lama ketangkepnya :p

Haha udah mampir tuh, ayoo mana kopinya :p