Sebuah Surat

Aku menulis surat ini untuk seseorang di luar sana  yang kelak akan menjadi belahan jiwaku,  seseorang yang sudah ditetapkan menjadi pendampingku bahkan sejak aku masih di dalam rahim ibuku. Pertanyaannya apakah aku tahu siapa dirimu? Jujur yah, aku tidak tahu siapa kamu. Kamu bisa saja tetanggaku, teman dari temanku, atau mungkin seseorang yang tidak aku kenal sama sekali. Namun yang pasti, kamu ada di luar sana menunggu untuk ditemukan.

 

Adapun alasanku menulis surat ini, aku ingin menceritakan kisah perjalananku untuk menemukanmu. Namun sebelum itu aku ingin bertanya satu hal kepadamu, apakah kamu percaya dengan keajaiban?  Aku sangat percaya dengan keajaiban. Keajaiban banyak sekali di sekitar kita. Daun yang jatuh adalah keajaiban, langit yang berwarna biru adalah keajaiban, angin yang berhembus dan menyentuh wajahmu adalah keajaiban, bahkan seekor kambing yang mengeluarkan kotorannya adalah keajaiban dan perjalananku juga ada sedikit keajaiban di dalamnya.

 

Perjalananku dimulai dengan mimpi yang sangat aneh, dalam mimpi itu aku bertemu dengan seorang pria. Kemudian, pria itu menunjuk kearahku dan berkata “Kamu akan bertemu dengan empat orang wanita. Wanita yang pertama adalah seorang ahli ibadah, wanita yang kedua dan ketiga adalah wanita biasa dan yang keempat dia adalah….. (Maaf, aku tidak bisa memberitahukannya. Biarlah menjadi rahasiaku saja).”  Pada awalnya aku menganggap mimpi tersebut hanya sebuah mimpi yang tidak akan berpengaruh apa-apa dalam hidupku. Lalu, pada suatu ketika. Aku bertemu dengan wanita yang pertama, entah kenapa aku sangat yakin kalau dialah wanita yang pertama tersebut.

 

Aku sudah lama mengenal wanita itu tapi aku baru menyadari ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Dia mempunyai tatapan yang dingin dan menusuk.  Kupikir hanya wanita hebat saja yang mempunyai tatapan seperti itu dan seketika itu pula aku jatuh hati padanya. Sayangnya aku hanya bisa memendam segala perasaanku padanya. Jangankan bicara soal cinta, ngobrol biasa dengan orang asing (baru dikenal) saja sudah cukup membuatku frustasi. Karena pada waktu itu aku hanyalah seorang remaja kuper (kurang pergaulan) yang lebih memilih hidup di dunia digital daripada dunia yang nyata.

 

Puncaknya aku memberanikan diri untuk chating dengannya, kalau tidak salah saat itu lagi booming media social facebook. Lewat facebook aku bilang  kalau aku suka dengannya (lihat, betapa pengecutnya diriku).  Aku tidak begitu ingat jawaban darinya tapi yang pasti setelah itu dia minta bertemu di suatu tempat.  Aku begitu senang, jantungku berbunyi keras sekali dan gerakannya sangat cepat. Kupikir tidak ada yang lebih menyenangkan daripada bermain game tapi aku salah. Perasaan ini, sensasi ini, berkali-kali lipat jauh lebih menyenangkan dan membuatku sangat hidup, serta untuk pertama kalinya tubuh dan jiwaku merasakan yang namanya cinta.

 

Singkat cerita kami bertemu di sebuah rumah makan, dia duduk tepat di hadapanku. Perasaanku campur aduk, aku tidak tahu harus ngapain. Ini yang pertama bagiku, alhasil aku bertingkah seperti bocah autis, memalukan!! Seandainya kamu melihat diriku saat itu, kamu pasti akan tertawa geli. Baru kali ini aku merasakan dua perasaan sekaligus, begitu senang suatu waktu kemudian, sakit luar biasa pada jam berikutnya. Setelah itu aku masih berhubungan dengannya bahkan, aku sempat di tes baca Al-Quran olehnya. Hasilnya aku gagal.  

 

Dari wanita pertama aku menyadari beberapa hal penting yaitu yang pertama ketika kamu sangat menginginkan seseorang, bukan berarti kamu bisa mendapatkannya begitu saja. Cobalah dulu tengok dirimu, pantaskah kamu untuknya? Yang kedua aku tersadar kalau dunia itu tidak sesempit yang aku pikirkan, dunia itu sangat-sangat luas yang sempit itu adalah pikiranku maka mulai saat itu aku meninggalkan dunia lamaku dan beralih ke dunia yang lebih nyata. Yang terakhir ternyata aku ini bukan orang baik, ibadahku saja sudah kacau apalagi yang lainnya.  

 

Aku bertemu wanita kedua di sebuah seminar yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Dia adalah wanita terjujur yang pernah aku temui, dia jenis manusia yang apa adanya. Tidak munafik dan sok jaim serta dia agak sedikit gila haha. Satu hal lagi yang kusukai darinya, dia pintar berbaur dengan berbagai macam orang. Bisa dibilang dia adalah kebalikan dari diriku.  Jika diibaratkan, aku adalah kutub utara. Dingin dan kaku, sedangkan dia adalah surga tropis. Hangat dan menyenangkan.  Dan akhirnya aku jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya.

 

Setelah beberapa kejadian konyol dan tentu saja gila, aku jadian dengannya. Yups dia adalah pacar pertamaku yang asli (sebenarnya saat itu aku sedang dekat dengan seseorang tapi hanya kujadikan sebatas pelarian saja jadi wanita kedua ini pacar pertamaku yang sesungguhnya). Bersama dengannya aku belajar, ternyata menjadi manusia itu sangat menyenangkan. Dialah wanita yang menunjukan indahnya dunia. Dengan dirinya Pertama kalinya aku pergi ke bioskop dan kupikir itu adalah hal yang luar biasa, dengan dirinya juga pertama kalinya aku nongkrong sampai larut malam. Sampai-sampai lupa waktu.    

 

Akhirnya aku benar-benar sudah terikat dengan dirinya bahkan aku sangat takut kehilangannya. Kemudian saat itu pun tiba, dia harus kembali ke kota asalnya. Dia meyakinkanku untuk tidak perlu khawatir karena dia berjanji akan terus berhubungan denganku. Akupun sedikit lega dan berusaha mempercayainya. Namun ketika kulihat dia berjalan semakin menjauh. Aku mempunyai firasat kalau inilah akhir dari hubungan kami.

 

Benar saja, ketika aku berusaha untuk menghubunginya yang kudapat adalah makian dari keluarganya. Pada intinya mereka tidak senang dengan pria pengangguran sepertiku. Jujur saja ketika jalan dengannya selalu dia yang bayarin, entah itu tiket bioskop, makanan dll. Saat itulah aku sangat menyesal menjadi pria miskin.

 

Dari wanita kedua ini aku dapat menyimpulkan bahwa sebuah hubungan yang hanya bermodal cinta doang itu tidak cukup, kamu terlalu naïf jika hidup hanya dengan bermodal cinta. Apakah cinta bisa membuatmu kenyang heh? Kalau masih miskin mending jangan pacaran dulu deh.

 

Aku bertemu dengan wanita yang ketiga ketika nasib baik sedang berpihak kepadaku, saat itu aku sudah punya penghasilan sendiri. Tapi sayangnya aku sudah menjadi manusia yang sangat berbeda. Aku tidak lagi percaya yang namanya akhir bahagia, aku tidak percaya yang namanya ketulusan. Pada saat itulah wanita yang ketiga datang.

 

Hubunganku dengan dirinya hanya sebatas teman mengobrol saja, tidak ada status apapun diantara kita berdua. Dia minta ketemu, aku  siap datang. Dia ingin curhat panjang lebar, aku siap mendengarkan. Kemudian pada suatu hari dia bertanya kepadaku

“Menurut pandanganmu aku ini bagaimana?” tanyanya

“Menurutku kamu itu seperti melihat seekor burung yang sedang terbang, mulanya terlihat sangat besar kemudian, menjadi kecil. Semakin kecil, semakin kecil. Lalu menghilang.”

“Kamu benar, seperti itulah diriku.” Kemudian dia tersenyum kearahku dan berkata “bulan depan aku dilamar”

“Ya udah”

“Kamu tidak sakit hati?”

“Sakit hati? Untuk apa?”

“Dasar tidak punya hati!!” katanya dengan nada yang agak meninggi. Lalu dia pergi meninggalkanku.

 

Sejujurnya aku sangat paham arah pembicaraannya. Tapi aku tidak mau sakit hati untuk yang ketiga kalinya karena yang kupahami dan kuyakini tidak ada namanya akhir yang bahagia. Tidak ada manusia yang tulus di muka bumi ini semuanya mempunyai kepentingannya masing-masing.

 

Cukup lama aku tersesat, kemudian aku teringat mimpi yang terdahulu. Lalu aku teringat dirimu. Wanita yang keempat. Wanita terakhir yang harus kutemukan.

 

Aku ingin percaya sekali lagi dengan takdir dan keajaiban serta kuharap kamulah wanita terakhir yang harus kutemukan. Kemudian entah kamu duluan yang mati ataupun aku duluan yang mati. Yang pasti kita berdua akan mati. Tubuh kita akan habis dimakan belatung. Dan akhirnya kita berdua kembali menjadi tanah. 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Sebuah Surat (5 years 50 weeks ago)
80

bagi saya cerpen ini berkesan sangat sendu, Om. bahkan muram. ketika membacanya, saya membayangkan tokoh aku kini, sekarang berusia senja. mungkin sebentar lagi ia mati dan menyadari selama ini ia tak pernah benar-benar memiliki seseorang. ia lajang sampai menjelang ajalnya. ya, karena kesan muram yang ditimbulkan oleh narasinya sih.
.
kisah-kisahnya dengan perempuan-perempuan itu sedikit banyak, kalau di saya, akan lebih menarik konsentrasi. juga penggarapan. meski yang begini, jika ditujukan buat semacam "renungan teduh" buat para pencinta terlatih patah hati, udah cukup bagus. namun secara klimaks atau greget "peristiwa" yang terjadi di dalamnya, cerpen ini masih cenderung "lemas".
.
kip nulis dan kalakupand
ahak hak hak

Writer citapraaa
citapraaa at Sebuah Surat (5 years 51 weeks ago)
100

sederhana. menyentuh.
akhirnya bagus :")

Writer daniswanda
daniswanda at Sebuah Surat (5 years 51 weeks ago)
80

Tema ceritanya mirip film "definitely maybe", tentang orang yg berusaha nemuin soulmate ya?
Mungkin karena terlalu percaya sama soulmate jadi gagal terus hubungannya :D
Buat gue cinta itu tentang 2 orang yang ngebuang egonya jauh2 buat mempertahankan sebuah hubungan. But that's only my opinion.
Keep on writing. Cheers

Writer Dini
Dini at Sebuah Surat (5 years 51 weeks ago)
60

Suatu saat nanti,- akan indah pada waktunya. Dan pada saat itu kamu tidak lagi (merasa) tersesat, karena kamu telah (berhasil) menemukan tulang rusukmu :)

Writer deedim25
deedim25 at Sebuah Surat (5 years 51 weeks ago)
60

takdir yang sedih. sedih karena begitu saja terbawa hati. untuk remaja sih bagus.

sijojoz at Sebuah Surat (5 years 52 weeks ago)
70

lupa belum ngasi poin. pada bagian 'hanya menerima makian dari orang tuanya' sebenarnya ngerasa terlalu berlebihan hehehe.

sijojoz at Sebuah Surat (5 years 52 weeks ago)

nice!