Tarbum

Pada gang yang sempit di malam hari, seorang wanita dengan rambut bergelombang berjalan sambil sesekali menggerakkan tangan-nya kepada seseorang. Gerakan tangan yang seolah meminta untuk tidak lagi berbicara. Wanita itu sepertinya masih mudah, dari gaya berpakaiannya,  kemeja kotak-kotak abu-abu yang tidak terkancing dan kaus dalaman berwarna putih dipadu dengan celana jeans biru,menunjukkan umurnya yang masih dua puluh tahunan. Sementara itu, seorang pria berbaju rajutan hitam dengan garis putih horizontal berusaha mengimbangi langkah perempuan itu.

“Hanya cinta?”

“Lantas kau mau apa lagi?”

“Kita tidak bisa hidup bila hanya bermodalkan cinta!”

Rinzei Fanfy berjalan menjauh, langkahnya semakin cepat. Berharap lelaki yang menurutnya bodoh itu, tidak lagi mengganggunya dengan kata-kata cinta. Sesekali, matanya memperhatikan apa saja yang sedang bergerak . Atau, mungkin saja dia mempercepat langkahnya karena tidak mau berlama-lama di gang kumuh berbau aneh itu. Ia terus berjalan, dan melihat ke arah kiri, melihat ke atas dan dia sedikit mundur ketika matanya menangkap sesuatu di jendela.

“Mampir dulu nyonya!”

Fanfy kembali berjalan. Dia menundukkan kepala dan sekilas melihat sekali lagi ke arah suara yang sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi dia.

 Seekor tikus besar seukuran manusia, duduk di jendela, duduk seperti manusia dengan melipat kakinya yang menjuntai ke bawah. Kemudian kaki depannya diperlakukan seperti tangan, memegang ke dua sisi jendela. “Jangan sungkan! Di sini ada obat untuk orang-orang yang kesepian sepertimu.”

 

Fanfy melewatinya. Dia sudah hafal dengan kelakuan manusia penyihir busuk seperti Josefim Ranborz. Fanfy tidak munafik, dalam hati dia mengakui hal-hal baik yang telah dilakukan orang itu untuk mempertahankan tempat ini. Kota Perhun, satu-satunya kota yang masih tersisa untuk manusia-manusia lemah seperti mereka. Josefim Ranborz telah banyak mengorbankan hidupnya untuk kota ini, tetapi tetap saja, bagi Fanfy pria itu tetap menjijikan. Fanfy mengetahui berapa wanita yang telah dikencaninnya dan akhirnya keluar dari rumah itu dengan histeris karena cemburu. Fanfy tidak habis pikir kenapa pria-pria begitu suka berganti-ganti pasangan. Dan baginya itu sangat menjijikkan.

Itu juga yang menjadi alasannya, kenapa pria bodoh yang sedang berjalan menyusulnya itu diabaikannya. Mariom Roy, pemuda yang menurutnya cukup tampan, punya hati yang sensitive tetapi sangat bodoh. Lagian, belum tentu juga kalau dia itu adalah pria yang baik. Fanfy terlalu kawatir bila wajah polos Roy itu hanyalah topeng, menurutnya menjadi sahabat jauh lebih baik, karena dia tidak akan cemburu bila suatu saat mendapakan Roy sedang berduaan dengan wanita tanpa busana, berbadan gitar, berambut wangi yang bergelombang, dengan dada yang bulat berisi. Ah dia tidak mau memikirkannya, walaupun pemikiran itu tetap melekat, tak mau hilang.

 

“Dasar manusia mesum! Jangan kau ganggu dia!  Mesum,” Kata Roy sambil tetap berjalan cepat berusaha menyusul fanfy.

Wujud tikus itu tiba-tiba berubah menjadi manusia setengah tikus. Dia menyapu wajahnya dengan tangan, kemudian menyentuh janggutnya yang sedikit panjang. Parasnya tampan, giginya rapih, matanya bulat dengan bola mata yang seperti mengandung berlian. Wajahnya sangat baik, seperti malaikat. Kalau saja Fanfy tidak mengenalnya atau Roy belum pernah bertemu dengannya, maka mereka  pasti akan mengira kalau dia adalah seorang malaikat. Hah, tapi dia hanyalah pria mesum, pria  dengan hati yang baik tetapi penjahat kelamin. Entahlah, apakah kebaikannya mampu menutupi semua dosa-dosanya.

Roy hampir mati, dia tiba-tiba terjatuh dan mencoba bangkit. Tiba-tiba barang-barang bekas, sapu, tong sampah, batu-batu dan barang-barang busuk yang berserakan di sepanjang gang bersatu, berwujud manusia menjijikan dan menghalangi jalannya. Roy menoleh ke Ranborz. Dia sempat melihat Ranborz terburu-buru menurunkan tangan dan berperilaku seperti tidak melakukan apa-apa.

“Kenapa melihatku seperti itu?”

“Awas saja kau manusia mesum!” Teriak Roy

“Ha…ha…, pria payah sepertimu sedang mengancam aku.”

Roy berdiri, dia melihat Fanfy yang sudah berhenti berjalan dan memperhatikannya dengan tersenyum bodoh seperti mengejek. Roy menutup mata, dan mengerakkan tanggannya. Beberapa barang  bekas yang  sebelumnya telah terjatuh dan berserakan bergerak mengikuti tangannya. Dia mengarahkan barang-barang itu ke arah Ranborz.

Ranborz diam, kemudian tersenyum bodoh. Dia membiarkan barang-barang bekas itu datang menghampirinya. Tetapi, seketika sebelum dia tertabrak, dia mengangkat tangan dan barang-barang itu berbalik arah dengan cepat, berbentuk robot dengan posisi kaki hendak menendang kepala Roy. Fanfy terkekeh, kemudian wajahnya menjadi serius dan dengan cepat menggerakkan tanganya dengan bentuk silang hingga barang-barang bekas itu terjatuh dan berserakan di depan Roy.

Ranborz tertawa terbahak sambil memegang perutnya. Sementara, Roy begitu kesal, wajahnya sampai berkeringat, dia berdiri dan melihat ke arah Fanfy yang juga tertawa.

“Aku akan membalasmu lain kali Ranborz!” kata Roy, kemudian berjalan menghampiri Fanfy. “Lain kali jangan membantuku!” katanya kepada perempuan yang sedang tersenyum licik padanya. Fanfy tidak menghiraukannya, dia kembali berjalan. Sementara, Ranborz masih tertawa. Dia berteriak, “Dasar pria malang, sampai kapan kau berlindung dibalik ketiak wanita itu,” katanya dengan keras.

“Urusi saja ekor busukmu itu Mesum!” Teriak Roy sambil tetap berjalan dan mengangkat ke dua tangannya.

 

Sekitar tiga ratus meter, mereka keluar dari gang dan berjalan kembali menyusuri jalan raya yang tidak berpenghuni. Gedung-gedung tua pencakar langit berusia seratus tahunan hanya terdiam. Gedung  dan semua bangunan seolah telah dikutuk menjadi patung. Hampir tidak ada kehidupan di tempat itu. Mahluk jahanam yang muncul pada pertengahan abad ke 30 telah merebut hampir seluruh kota dari tangan manusia. Sulit rasanya mempercayai, kalau ribuan tahun lalu orang-orang masih yakin dengan bentuk bumi yang bulat seperti bola. Atau mungkin memang benar, dulu sebelum Tarbum merapat, bumi ini masih bulat, dengan hutan dan buah-buahan dimana-mana, ikan-ikan dan hewan-hewan masih terlihat lucu.

Roy sendiri sudah sangat lama berniat untuk mengikuti misi keluar bumi. Sudah banyak orang yang melakukannya, anak-anak manusia sudah banyak yang berhasil menemukan tempat baru yang lebih  aman di luar bumi. Tetapi, dia tidak mau mengecewakan kakeknya. Kata-kata kakeknya seperti telah menempel pada sarafnya, “Bumi ini milik manusia, bukan bangsa Tarbum. Lebih baik mati di sini daripada keluar dan melarat entah dimana,” kata kakeknya setahun yang lalu sebelum akhirnya meninggal dunia.

Roy dibesarkan oleh kakeknya yang merupakan ahli sejarah, Roy mengetahui banyak cerita tentang bumi sebelum Tarbum yang berukuran dua kali lebih besar dari bumi itu tiba-tiba datang dan menempel pada bumi. Dulu bumi memang bulat, tetapi sekarang bumi tidak lagi bulat, seperempat dari bumi telah hancur karena Tarbum yang bentuknya lonjong seperti buah pepaya itu membutuhkan lubang raksasa untuk bisa merekat. Begitulah pulau yang dulunya dinamakan Amerika dengan orang-orang yang paling kuat dihancurkan sekejap mata.  

 

Fanfy dan Roy masuk ke dalam sebuah gedung. Di dalam suasananya langsung berubah. Manusia-manusia berpakaian lebih rapi sangat sibuk. Mereka adalah ahli cairan Axci, sesuatu yang dipelajari dari kaum Tarbum. Sesuatu yang sudah melekat pada kaum Tarbum, mengalir dalam darah mereka bahkan sebelum mereka lahir. Cairan yang akan membuat fisik dan jiwa mereka menjadi satu. Hal yang selama ini tidak manusia sadari adalah fisik dan jiwanya terpisah pada suatu ruang, jiwa itu bertempat pada daging tetapi terkurung dan hanya diam menikmati apa saja yang terjadi. Sementara kaum Tarbum, mereka sudah mengetahui hal itu sejak lahir, manusia-manusia lemah dengan kekayaan bumi yang masih bisa dikuras membuat mereka dengan mudah menguasai dunia. Bagi kaum Tarbum manusia hanyalah sekumpulan Monyet yang tidak bisa berbuat apa-apa.

 

“Apa? Ini sangat bodoh, aku tidak mau melakukannya, tidak dan tidak,” Kata Fanfy kepada seorang lelaki tua berpakaian putih. Mereka berbicara pada sebuah ruangan di depan sebuah layar komputer yang cukup besar.

“Apa kau ini sudah gila, kau mau membunuh satu-satunya manusia cantik yang masih tersi…” Roy berhenti berbicara ketika lelaki tua itu melotot dengan tajam ke arahnya. “Kau ini sangat menakutkan, tidak seperti kakek-kakek pada umumnya, kau…” Roy kembali berhenti sambil mengerutkan kening dan menggarut kepalannya yang tiba-tiba gatal karena mata lelaki tua itu semakin membesar.

“Apa tidak ada cara lain?” Tanya Fanfy

“Satu-satunya cara adalah dengan memasuki kota pusat pemerintahan mereka. Dan satu-satunya cara untuk bisa masuk ke sana adalah dengan mengunakan cairan Axci,” kata Lelaki tua yang bernama dokter Petrus itu.

“Apa itu tidak berbahaya?” Tanya Roy. “Apa itu tidak akan mengubah …” Roy berhenti dan menggangkat kedua tangannya, sepertinya dia merasa terhina karena kedua orang di depan melihat dengan tajam secara bersamaan. “Oke…oke aku tidak akan berbica lagi, silahkan!”

“Kami sudah melakukan penelitian dan karena itulah kamu dipanggil ke sini. Tidak semua manusia bisa menerima cairan Tarbum di dalam tubuhnya, kecuali…” Lelaki itu berhenti, dia menggerakkan jarinya ke arah sebuah meja di pojok ruangan. Sebuah layar device seperti tab melayang mengikuti gerakan tangannya dan mendarat di meja tepat di depan mereka. Device itu langsung memutar sebuah video. Fanfy dan Roy hampir tidak berkedip menyaksikan video tersebut.

“Ini maksudnya apa?” Tanya Fanfy sambil berdiri menyembunyikan wajahnya dari orang-orang itu. Dia hendak melangkah tetapi kembali berhenti.

“Kenapa? Tidak ada yang salah dengan dirimu Fanfy. Kau tidak boleh menyembunyikan hal ini. Kalau memang ada darah Tarbum yang mengalir dalam darahmu, lantas kenapa? Aku mengenal ibumu, dia adalah wanita yang baik, percaya padaku dia bukan manusia penghianat sehingga melahirkanmu. Ada alasan dari semua ini, mungkin inilah alasannya kenapa ibumu dulu melakukan hal itu.” kata dokter Petrus mencoba menjelaskan apa yang dia rasakan pada Fanfy.

“Tetapi Dokter Petrus, aku tidak merasakan apa-apa, aku ini sepenuhnya manusia.”

“Tidak ada yang mengatakan kalau kau bukan manusia Fanfy. Kita hanya mengatakan kalau dalam darahmu mengalir darah Tarbum.” Tambah Dokter Petrus.

“I..in….ini…maksudn….” Roy terdiam ketika seseorang tiba-tiba menutup mulutnya dari belakang. “emm…lepaskan aku, mesum…mesum lepaskan aku!” rengek Roy ketika dia menyadari kalau tangan  yang sedang membekap mulutnya adalah tangan Ranborz.

Ranborz melepaskan tangannya dan mencubit pinggang Roy kemudian dengan cepat menghindar dan muncul di depan Fanfy, membelakangi dokter Petrus. “Apa yang kau lakukan?” kata dokter petrus ketika dia tiba-tiba menyelip di antara mereka. “stttt serahkan padaku dokter!” Jawab Ranborz

Dokter mundur dan dengan kesal kembali duduk di kursinya.

Ranborz berdiri dengan sombong menatap mata Fanfy begitu dalam. Seketika, Fanfy berubah menjadi mahluk berbulu menyerupai orang utan. Fanfy melihat tubuhnya, dia terkejut dan wajahnya menunduk dan dengan cepat tangannya bergerak mengelus tangan dan perutnya hingga dia kembali berubah menjadi manusia.

“kau sudah gila, kau mau mempermalukan aku di depan orang-orang ini?” Teriak Fanfy padanya dengan marah

“Aku hanya membantu,” jawab Ranborz

“Membantu apa? Kau hanya bisa menimbulkan kekacauan”

“Fanfy, aku yakin kau tahu kalau semenjak Tarbum mendarat di dunia, grafitasi dunia yang kita cintai ini menjadi berubah. Pikiran manusia bisa menggerakkan benda-benda di sekelilingnya. Kau bisa mengerakkan apa saja sesuai dengan kekuatan fisikmu tanpa harus menyentuh apa-apa. Kekuatan itu telah dimiliki oleh apapun yang terlahir di dunia, tapi ada satu yang istimewa dari kamu, sama sepertiku. Kita bisa mengubah sesuatu tanpa menyentuhnya, dan itu karena dalam darah kita ada darah Tarbum. Ibuku bukan penghianat, dia tidak menyerahkan tubuhnya pada kaum Tarbum untuk kepuasan birahi. Inilah tujuan mereka. Mereka ingin ada manusia yang berkekuatan sama seperti tarbum. Aku sudah mengetahuinnya sejak kecil tetapi aku tidak diijinkan untuk menceritakan ini kepada kalian berlima. Yah, sekarang saatnya kita digunakan demi keselamatan manusia,” Kata Ranborz sambil menyisir rambutnya, kemudian menoleh ke arah dokter Petrus dengan sombong dan mengangkat ke dua tangannya.

“Berlima?” Tanya Fanfy.

“Ia, termasuk mereka,” kata Fanfy sambil menunjuk dua orang pria dan seorang wanita di luar ruangan.

“Satu lagi dimana?” Tanya Fanfy. Ranborz kembali berdiri dan mengambil makanan dari atas meja. Kemudian melempar kulitnya ke arah Roy.

“A..a..ku?” Tanya Roy dengan wajah miring dan pucat seperti orang yang baru melahirkan dan langsung struk

“Di…di…dia?” Tanya Fanfy dengan  keras sambil menunjuk Roy, tidak percaya.

Ranborz tersenyum licik kemudian mengambil makanan dam melemparkan kulitnya kembali ke wajah Roy. “Hentikan Itu mesum!” Kata Roy. “Selalu ada produk gagal,” Jawab Ranborz sambil melirik aneh ke wajah Roy dan pergi meninggalkan ruangan itu.

Roy hanya berdiri mematung, lututnya bergetar dan bibirnya mengering. Dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Roy melihat ke arah Fanfy yang masih tercengang tidak percaya. wanita itu terlihat seperti baru tersambar petir, “Kau..u…,” Tanya Fanfy sambil terus menunjuk tidak berkedip. “Ak..ku,” Tanya Roy sambil menunjuk dirinya sendiri kemudian tiba-tiba jatuh dan pingsan.

 

Pada sebuah pertemuan, Fanfy dan Roy beserta ke empat rekannya berkumpul di sebuah ruangan yang berbeda. Ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang yang sedang sibuk bekerja dengan pakaian putih mirip dokter.

“Dua puluh tahunan yang lalu ayahku sudah memikirkan tentang rencana ini, sebelum kalian lahir. Enamorang perempun dipekerjakan diperbatasan untuk berhubungan bandan dengan para tentara Tarbum. Selama ini, kita hanya melihat tentara-tentara mereka saja. Setahu saya, belum pernah ada manusia yang bertemu langsung dengan penduduk kaum Tarbum. Kita terlalu sibuk untuk bertahan di perbatasan kota. Aku yakin mereka mengangap kota ini seperti kebun binatang, itulah sebabnya kota ini tidak dimusnakan. Mereka tidak sedikitpun merasa terancam dengan adanya sisa manusia-manusia di kota ini. Tetapi mereka tidak mau membiarkan manusia musna, sebagian mereka biarkan pergi ke luar dunia tanpa diganggu sama sekali, sebagian mereka biarkan tetap di bumi seperti peliharaan,” Kata Dokter Petrus sambil menatap mata ke enam orang itu satu-persatu.

 “Ini bumi kita, dan kita harus merebutnya kembali dengan sisa-sisa kekuatan yang masih kita miliki. Ada satu hal yang kalian harus ketahui, seperti halnya tubuh kita hampir Sembilan puluh persen menyerupai mereka, hanya berbeda pada daun telingga dan warna kulit saja. seperti yang kamu sudah lihat, telinga mereka sepanjang telinga kelinci dan warna kulit yang bisa berubah sesuka hati seperti pakaian. Bila kami sudah menyempurnakan darah kalian dengan cairan Axci, maka kalian akan menjadi Tarbum sempurna sama seperti mereka. Dan ada dua hal lagi yang harus kalian ketahui. Kami belum bisa memastikan reaksi cairan ini terhadap akal dan perasaan kalian, maksudku kami bertujuan membuat kalian menjadi Tarbum dengan perasaan manusia, tapi hal itu belum bisa kami pastikan. Yang kedua, kami belum menemukan apa-apa untuk bisa mengembalikan kalian menjadi manusia seperti sekarang ini. Ini sangat berat, aku tahu itu. karena itulah, kami hanya membutuhkan orang yang benar-benar mau, yang tidak berkenan untuk bergabung silahkan meninggalkan ruangan ini.”

Ke enam orang itu saling melirik. Ranborz sambil mengunyah sesuatu memandang jijik ke arah Roy. Roy membalas tatapannya seperti menantang. Mereka berenam tetap bertahan, tidak ada yang meninggalkan ruangan itu.

“Untuk memastikan reaksi cairan axci pada perasaan kalian. Kami memerlukan seseorang terlebih dahulu untuk memastikan! Aku mau satu dari kalian secara sukarela.”

Ke-enam orang itu kembali sambil melirik. Kemudian, Fanfy maju melangkah ke depan. “Biarkan saya saja,” katanya dengan tegas.

“kau sudah gila, biarkan Roy saja!” Kata Ranborz. Semua mata tiba-tiba melihatnya dengan marah. “Kenapa? Mungkin untuk itulah tujuan hidupnya, bayangkan kalau gagal! Kita tidak kehilangan kekuatan,” Kata Ranborz mencoba menjelaskan.

“Apa kau tidak pernah serius selama hidupmu?” Tanya Fanfy sambil menunjuk wajah Ranborz dengan marah

“Dia benar, mungkin inilah tujuan hidupku. Aku bersedia Dokter!” kata Roy

 Roy dan dokter Petrus berjalan memasuki ruangan kaca. Beberapa peneliti sudah menunggu dan langsung melepaskan semua pakaian Roy. Roy dibaringkan dan matanya ditutup dengan sebuah alat seperti teropong. Kemudian seseorang menyuntikkan bius ke dalam tubuhnya.setelah menunggu beberapa saat Roy sudah tertidur. Tiga orang ahli langsung memasang selang dan infus berisi cairan Axci yang dialirkan langsung ke bilik jantungnya, kemudian penutup matanya dibuka kembali.

Fanfy, Ramborz, para ahli dan yang lainnya menunggu di luar ruangan dengan perasaan bercampur aduk. Gelisah dan ketakutan. Fanfy beberapa kali menutup wajahnya dengan tangan. Ranborz dan dokter  Petrus berjalan mondar-mandir seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.

Berselang satu jam, ketika cairan Axci sudah masuk sepenuhnya, kulit telinga Roy pelan-pelan memanjang, kaki dan tangannya memanjang sekitar sepuluh senti. Kulit rambut dikepalanya berubah menjadi keras dan terlihat berdiri bagaikan ijuk. Roy membuka mata.

Fanfy dan yang lainnya melihat reaksi Roy tanpa berkedip. Mereka berharap kalau Roy tidak akan berubah buas seperti tentara-tentara Tarbum yang selama ini mereka temui. “Apakah dia baik-baik saja?’ Tanya Celsia, wanita kedua dari enam orang itu. “Aku tidak tahu. Jangan Tanya aku. Aku tidak tahu” Jawab Sandro, rekan yang lainnya. “Kita tunggu saja,” Jawab Dokter Petrus

Roy menggerakkan jari-jari. Pelan-pelan dia menggerakkan leher, melihat kanan-kiri. Kemudian dengan cepat dia menarik tangan hingga selang-selang pada tangganya terputus dan penyangga infus terjatuh. Dia terduduk dan melihat ke luar, ke arah manusia-manusia yang sedang memandanginya. Dia bernafas dengan sangat berat, matanya melotot dan berteriak dengan membuka mulutnya lebar-lebar.

Fanfy dan rekan yang lain menunggu reaksinya. Keringat membasahi telapak tangan dan wajah mereka. “Apakah ini berhasil?” Tanya ranborz, tetapi tidak ada yang menjawab.

Roy terbangun mencabut semua selang di tubuhnya dengan kasar. Dia mencoba berdiri dengan keadaan telanjang. Kemudian sekilas dia melirik ke arah Fanfy yang terlihat dari kaca tembus pandang di luar ruangan. Roy seketika berlari dengan cepat dan menarik sprei putih dan menutupi bagian bawah tubuhnya. Dia menegakkan badan dengan mata merah, kemudian warna kulitnya berubah menjadi hijau, kemudian biru, kemudian merah, kemudian kembali ke warna semula. Dia berjalan dengan menggengam tanggannya begitu erat dan berhenti tepat dibalik kaca. Dia menatap dengan tajam kepada orang-orang yang sedang melihat dari luar ruangan. Pelan-pelan tatapan matanya berubah menjadi lembut, menjadi lebih lembut dan meneteskan air mata, “berhasil” katanya dengan pelan.

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer suransi
suransi at Tarbum (4 years 31 weeks ago)
2550

Aku malah suka dengan gaya bahasa/dialognya yang sangat arogan

____________________________________
Jual alat bantu inhalasi / pernapasan Omron Nebulizer paling lengkap di Gesunde Medical

Writer 2rfp
2rfp at Tarbum (5 years 44 weeks ago)
60

oke ini keren. saya hanya sedikit terganggu dengan dialognya.