Ini Mimpi Tapi Bukan

Ini Mimpi Tapi Bukan

Buku catatan siapa ini kasih, bikin tak enak hati. Tergeletak di bawah lantai di samping lemari. Hendak kusapu, tapi sayang sepertinya masih baru, tak pula berdebu. Sampulnya bukan merah jambu, tak bergambar, hanya hitam polos agak kelabu. Hm? Kunamakan saja catatan hitam? Tak lah, emangnya berisikan catatan kriminal? Eh, tapi mungkin saja.

Sapu kubuang, kuambil buku hitam tanpa nama itu diiringi rasa penuh cemas, khawatir, takutnya itu catatan utang dari Mbak Minarti warung sebelah yang sengaja dikirim ke kamarku oleh angin-angin malam. Ah, terlalu lebay, aku kan gak punya utang, cuman kemarin siang saja makan gorengan bayarnya belakangan karena gak bawa dompet berisi uang.

Tubuh kurubuhkan, kini duduk di pinggir ranjang, tempat tidur kawanku yang sudah tak ditempati lagi. Mengambil nafas panjang, menghirup udara sedalamnya, mumpung masih segar. Kapan lagi coba, dapat kurasakan udara cantik begini, kalau sudah siang hilanglah kecantikannya.

"Ini buku siapa?" Sebuah tanya disela nafasku.

"Dari mana harus kumulai membacanya?" ucapku seketika itu juga.

Mengawalinya dengan membuka halaman pertama, itu jawaban dari pertanyaanku barusan. Hanya saja, baru membacanya saja sudah dibikin kesel, masa dihadapkan dengan kata-kata, "Silakan baca, bila kau suka. Kalau tak suka, jangan dibaca!" Begitu buku itu menyambutku. Tapi, aku merasa penasaran menggebu, menggebuk jari tanganku untuk membuka lembar yang lain.

"Kamu juga tentunya penasaran, bukan? Iya, kan? Ngaku lah?"

"Mungkin, buka saja halaman lanjutannya."

"Tuh kan penasaran?"

"Ya sudah, ayo bacakan saja. Tulisan seperti itu gak kelihatan olehku kalau tak pakai kacamata."

"Bagaimana aku memulainya? Seperti apa seharusnya?" Tulisan di lembaran berikutnya. Aku membacakannya.

"Ih, seperti pertanyaanku barusan."

"Pertanyaan yang mana?"

"Pertanyaan dalam hati. Kau takkan dengar."

"Dalam hati? Beuh. Kau ini, pantaslah. Ya, sudah. Kau baca sendiri saja, nanti ceritakan padaku, yah! Saya ada urusan lain dulu, mau nyiapin makan dulu. Bersih-bersih kamar kan sudah beres."

"Iya. Apa, kamu mau makan lagi? Yang tadi, barusan bukan makan?"

"Jeh, siapa yang mau makan lagi. Saya kan bilang, mau nyiapin makan, buat anak-anak yang lain."

"Bilang dong dari tadi, tambahin kata 'buat anak-anak' kek. Biar lengkap. Hehehee."

"Hahaa, Kau pura-pura tak mengerti saja. Sudahlah, bercanda saja Kau ini. Saya pergi dulu."

"Ya."

"Mau kubawakan makanan?"

"Gak usahlah."

"Minuman?"

"Tak!"

"Gorengan, gorengan?"

"Kagak! ... Eeehh. Kalau ke mari lagi, bawa kerupuk orange yang kecil-kecil itu ya!"

"Siap, bisa diatur."

Memfokuskan ke tulisan lagi, kembali menatapnya, kembali membukanya, inikah catatan sesungguhnya dalam buku yang ditemukan tadi? Iyakah?

Lantas membacanya. Cukup mengejanya dalam hati.

* * *

Di sudut ruang, siapa gerangan duduk-duduk di atas lantai? Itu aku, anak kecil kemarin sore yang baru bisa mengkali membagi angka, baru lancar mengeja kata, baru suka membaca, apapun tulisan ingin rasanya kubaca. Tapi, sekarang sedang tidak, hanya sibuk mencoret kertas dengan krayon warna warni.

Sesekali aku menoleh ke arah kakakku yang sedari tadi diam di situ, di atas kursi ditemani notebook kecil menyala di atas meja. Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan, ini penting. Tapi, kakak perempuanku itu sedang sibuk, sibuk dengan tugas sekolahnya seperti halnya aku.

Melirik ke arahnya lagi. Curi-curi pandang, Mencuri-curi kesempatan. Hingga kudengar tak jauh dari telinga ini, sebuah ucap dalam hening.

"Horeey!... Akhirnya selesai deh. Pegel juga."

Aku sumringah, kini saatnya bertanya ini itu, tanpa harus malu, tanpa harus ganggu si kakak yang lucu itu. Sosok periang yang suka girang sendiri, juga penyayang.

"Kakak, Kak!"

"Iya, ada apa?"

"Kenapa ya pegunungan warnanya biru?"

"Hm, pegunungan itu jaraknya jauh, Dek."

"Kenapa jadi biru? Padahal daun pohon di gunung kan banyak yang hijau?"

"Antara mata dan pegunungan, ada ruang yang menghalangi yaitu udara. Udara dipenuhi oleh molekul-molekul kecil, debu, unsur seperti oksigen maupun unsur dan senyawa lainnya. Kandungan air di udara cenderung memantulkan cahaya dominan berwarna biru. Mungkin begitu."

"Aku nggak ngerti, Kak."

"Hehehee, kamu akan tahu, kamu akan memahaminya nanti."

"Mengapa air berwarna biru juga."

"Nggak juga tuh, air yang kakak minum ini warnanya orange."

"Iih, itu kan perasan jeruk. Maksudnya aku itu air laut, Kakak.."

"Heheehe. Nanyanya aneh-aneh ih. Kemarin bertanya kenapa hidung Doraemon berwarna merah. Sekarang...."

"Yaaa.. Kakak. Kan ini beda lagi. Kenapa air biru juga?"

"Tuhan pencipta alam semesta sudah menetapkannya demikian. Hehehee.." Tertawa kecil, seperti kebingungan menjawab pertanyaan anak kecil.

"Yah, Kakak. Aku juga tau itu mah. Oke deh, Kak. Nanti tanya lagi boleh kan?"

"Ya boleh dong. Eh, Dek. Tolong ambilin buku cerpen di dekat kamu itu!"

"Cerpen apa?"

"Apa ya?"

"Apa judul bukunya?"

"Judulnyaa.. Apa yaaa..? Hehee.."

"Iih, Kakak."

Jeda, sejenak, mencari-cari. Kemudian menanyakan lagi.

"Yang mana? Judulnya apa?"

"Dibilangin dari tadi judulnya 'Apa ya?', ketemu? Itu yang warna biru."

"Huuh.. Judulnya apa ya? Apa ya? Apa? Ternyata memang 'Apa ya' gitu?. Judul yang terasa sangat aneh. Membingungkan. Yang ini kan?"

"Iya, sinikan!"

"Nggak ada judul lain apa? Hahaa."

"Itu judul bukan judul aslinya, kakak tempel sendiri. Biar bikin penasaran orang."

"Hah?"

"Hahaaha. Kena deh, Kakak kerjain," ucapnya sambil melet-melet.

"Au ah.." kubalas melet-melet pula.

Aku sibuk, kembali. Bermain-main dengan warna, lagi. Gunung warna biru, daratan warna cokelat, hijau persawahan, pepohonan pun ada, matahari kuning, langit biru muda berbaur dengan warna jingga. Ceritanya sedang melukiskan senja.

"Pensil krayonku hampir habis, nanti beliin ya, Kak!" Ucapku disela-sela menggambar pemandangan.

"Em, iya," singkat, jawabnya.

Kakak mulai sibuk dengan bacaannya. Kira-kira apa yang dibaca kakak ya? Aku akan tahu, bila saja membacanya.

* * *

--- Bersambung...

 

*) Tulisan di laman ini akan terus diupdate...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer jojon00
jojon00 at Ini Mimpi Tapi Bukan (3 years 11 weeks ago)
90

Pinter pengarang cerita ini bisa membuat penasaran pembaca

_____________________________________
manekin kedokteran - mikroskop laboratorium binokuler

Writer daniswanda
daniswanda at Ini Mimpi Tapi Bukan (4 years 21 weeks ago)
70

Sama, gue juga bingung sama dialog di awal-awal itu sama siapa ya? Apakah akan terjawab di cerita lanjutannya?? hmm makin penasaran

Writer rirant
rirant at Ini Mimpi Tapi Bukan (4 years 21 weeks ago)
90

Wah penasaran lanjutannya, kira2 apa ya isinya 'apa ya'? Oh iya, dialog pertama ketika tokoh utama mau membaca catatan hitam itu sama siapa ya? Penasaran hahahak..