Echia: The Begining / Everything Start With A Story

Echia : The Beginning

Everything start with a story

 

Chapter 1 out of ? Chapter : Romi perspective

 

                Ring Ring Ring.

 

                Suara itu bergemang di telingaku selama lebih dari satu menit. Kemudian aku membuka mataku dan menatap jam alarm yang berada jauh di ujung ruangan. Aku menatap langit-langit sejenak dan kemudian  duduk untuk mengambil nafas. Setelahnya aku bangkit berdiri dan berjalan lunglai ke sumber suara. Dengan satu jari kumatikan alat itu dan menuju ke luar ruangan.

 

                Saat aku melintasi ruang makan,  mataku terarah pada tudung besar yang menutupi sebagian alas meja makan. Karena rasa penasaran yang menggoda aku perlahan menarik kepala tudung tersebut dan melihat beberapa hidangan yang terletak di atas meja.

 

[Seriously, Aku tidak mungkin menghabiskan semua ini sendirian.]

 

                Kemudian aku menutup kembali hidangan itu dengan tudung sebelumnya dan berjalan menuju ruang laundry dan mengambil handuk yang tergantung di sana. Dan setelahnya aku berjalan pelan menuju kamar mandi, menggantungkan handuk di gantungan yang telah disediakan. Sebelum menyalakan shower aku menguap terlebih dahulu, bersiap sebelum semburan air hangat itu menghujani kulitku.

 

                Aku menyeka badanku dengan handuk dan kemudian melilitkannya ke pinggangku. Ku lempar pakaianku ke dalam bak yang telah disediakan dan kembali menuju kamarku. Kukenakan seragamku sambil menatap diriku sendiri di hadapan cermin. Setelah puas dengan penampilanku aku kembali menuju ruang makan dan menyiapkan hidangan untuk sarapan.

 

Suara gadis : (Terdengar parau karena kantuk) “Kakak, kau sudah bangun?”

 

AKu : (dengan nada terkejut) “Huh, Siapa?”

 

Aku menengok ke arah asal suara dan melihat sosok gadis dengan piyama kumal bermotif kelinci, menyeka matanya dan berjalan lunglai.

 

Suara gadis : (Masih dengan suara parau) “Kau lupa dengan adkimu sendiri?”

 

                Rika, adikku. Umurnya 13 tahun, empat tahun lebih muda dariku, dan sekarang menginjak bangku smp kelas dua.

 

[Aku] (Dengan suara kecewa) “Aku bahkan tidak tahu kalau kau di sini. What’s happened?”

 

[Rika]  “Huh? Mama tidak memberi kabar? Aku pindah sekolah.” (Setengah sadar dan dipertengahan kalimat duduk di bangku di sampingku).

 

[Aku] “Tidak ada. Dia bahkan tidak ada menguhubungiku akhir-akhir ini. Bibi Ayu juga tidak bilang-bilang kalau kau akan datang.”

 

[Rika] “Oh. Mungkin dia lupa. Dia terlalu sibuk akhir-akhir ini.”

 

[Aku] “Jadi kau datang malam tadi?”

 

                Rika mengangguk. Ia meraih tangannya ke salah satu piring kosong, sebelum aku mencegahnya.

 

[Aku] “Hei, mandi dulu sebelu makan!”

 

[Rika] “Uuuuh, It’s cold~. Lagian ini baru jam setengah lima pagi. Masih lama sebelum rutinitas mandi. Lagian ini gara-gara kaka bangunnya kepagian.”

 

[Aku] “Bibi yang menyuruhmu untuk bangun pagi?”

 

Rika mengangguk.

 

[Rika] “Kalau tidak aku bakal dikunci sendirian di dalam rumah karena kau tidak tahu”.

 

[Aku] “Ok. Paham. Kau dapat menunggu siangan dikit buat mandi, baru makan. Oke?”

 

[Rika] “Iya, iya. Baka* Onii-chan

 

Rika berdiri.

 

[Rika] Aku tiduran di sofa ruang tamu. Kalau mau berangkat bangunin ya…

 

[Aku] Oke… Oke…

 

                Setelah Rika menghilang dari pandanganku, aku menyalakan televisi dengan remote yang tergeletak di atas meja makan. Televisi yang aku gunakan menggunakan internet, sehingga walau waktu sekarang masih sangat pagi beberapa chanel TV sudah menyediakan acara berita. Sudah kebiasaan bagiku sarapan sambil menyalakan TV untuk mendengarkan chanel berita.

 

[presenter wanita] … Mayat ditemukan di area Gatot Kaca. Polisi masih mengidentifikasi korban sehingga sampai sekarang masih belum diketahui identitas korban. Masih belum diketahui pula jika korban merupakan korban pembunuhan atau bukan…

 

                Area Gatot Kaca? Bukankah itu area sini? Aku tidak mendengar kehebohan malam tadi. Apakah karena tidurku terlalu nyenyak? Tapi Rika juga tidak memberitahuku apa-apa. Mungkin areanya agak berjauhan dengan tempatku.

 

                Setelahnya aku merapikan peralatan makan dan meletakkannya di dapur. Aku kembali ke kamarku untuk mengambil tas dan menuju ruang tamu untuk membangunkan Rika.

 

[Aku] Hei Rika, bangun, aku mau berangkat.

 

[Rika] Uuuuh. Iya… Iya….

 

Rika bangun dengan lunglai.

 

[Rika] Kenapa kaka harus berangkat sepagi ini sih?

 

[Aku] Well, karena sekolahku lumayan jauh dari sini, dan aku dapat berjalan dengan santai.

 

[Rika] Kau berjalan kaki?

 

[Aku] Uh, yah. Menggunakan kendaraan atau transportasi umum just waste of money.

 

[Rika] Ugh. Kaka tetap tidak berubah. Pelitnya minta ampun (Mukanya terlihat jengkel)

 

[Aku] Iya, terimakasih pujiannya. (Kataku sambil memasang sepatu)

 

[Rika] Makanya kau tidak mendapatkan pacar hingga sekarang.

 

[Aku] Hai, Hai… Karena pacarannya juga mengeluarkan uang. So, I don’t wanna…

 

[Rika] Ugh. This man.

 

{Aku] Lagi pula aku punya kamu. (Patting Rika head). Oke aku berangkat.

 

                Rika tersenyum sesaat sebelum aku bergegas keluar. Sebelum lupa ia berucap,

 

[Rika] Ah… Hati-hati di jalan.

 

[Aku] Ok Thanks. Kamu juga hati-hati ya…

 

[Rika] Oke~

 

                Aku membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Memang lama, tapi karena sudah terbiasa, aku tidak merasa kalau hal ini merupakan beban. Lagi pula udara di pagi hari yang sejuk dan juga lingkungan yang tidak bising membuatku menjadi tenang dan santai. Itu merupakan nilai utamanya. Hanya saja jika aku ketinggalan sesuatu dan mengingatnya di setengah perjalanan, merupakan sisi negatifnya. I’ll be fucked up. Makanya, aku harus mempersiapkan segalanya di hari sebelumnya. Well, aku tidak merasa keberatan seperti anak-anak lainnya. Lagipula juga tidak ada pekerjaan lain yang dapat aku lakukan. So, It’s Okay…

 

[Zika] Jadi apa kau melihatnya? Kejadiannya di dekat tempatmu bukan?

 

[Tara] Ah, ya… Mayatnya terbakar hangus. It has a bad shape sehingga rupanya terlihat tidak akruan. It’s Horible.

 

                Aku menguping pembicaraan perempuan yang berada di dekat bangkuku. Sepertinya mereka memperbincangkan masalah kematian seseorang yang masuk berita tv sebelumnya. Bukan masalahku sih. Tapi aku baru tahu kalau Tara tinggal di dekat tempat tinggalku.  Well, aku bahkan tidak mengetahui tempat tinggal seorangpun yang ada di kelas ini, karena pada dasarnya aku tidak mempunyai teman. Lagipula aku merasa tidak terlalu membutuhkan seorang teman, bukan karena antisosial sih, hanya saja aku tidak terlalu bisa untuk bicara. Aku lebih senang diam daripada mengeluarkan kata-kata, terlalu banyak membuang energy.

 

                Seorang pria memasuki kelas dan duduk tepat di belakangku. Namanya Daret. Dia sepertinya sama sepertiku, orang yang sendirian ketika di kelas dan tidak terlalu banyak bicara. Bedanya, dia adalah orang terpintar yang ada di kelas ini. Dan bisa dibilang dia antisosial karena dia menjauh jika bertemu orang lain, dan kata-katanya biasa menyinggung hati orang lain. Seperti kata para ilmuan, orang dengan IQ tinggi memiliki EQ yang rendah, seperti itulah Daret. Dia tidak mempedulikan orang lain, berbeda denganku yang selalu menyimak perilaku orang lain sehingga mudah bagiku untuk mengetahui kepribadian seseorang. Bukan karena  aku senang untuk menstalk seseorang, hanya saja karena tidak ada pekerjaan daripada bosan jadinya aku memperhatikan apa yang orang lain lakukan. Itu sudah menjadi kebiasaan.

 

Bel masuk berbunyi. Semua siswa duduk di bangkunya masing-masing, walau aku sudah duduk di bangkuku sendiri. Sekitar lima menit berikutnya wali kelas kami, Ibu Sephia, masuk. Dia berdiri di tengah-tengah kelas, menghela nafas beberapa kali, dan kemudian mulai berucap:

[Ibu Sephia] Selamat pagi semuanya

 

[Seluruh kelas] Selamat pagi ibu….”

 

Ibu sephia menghela nafas lagi. Ia melirik ke pintu kelas.

 

[Ibu Sephia] Aku akan memberikan pengumuman, tapi ibu harap kalian tidak rebut setelahnya.

 

Ia diam sejenak, mengkonfirmasi keadaan siswanya yang terlihat hening.

 

[Ibu Sephia] Hari ini, di kelas ini, kita mempunyai siswa baru.

 

                Well, it;’s suprising, karena sebelumnya tidak terdengar kabar tentang hal ini. Biasanya jika ada siswa baru paling tidak gossip-gosip itu sudah terdengar di penjuru sekolah. Biasanya para siswa bergosip terlebih dahulu, menebak gender siswa yang akan memasuki kelas. Tapi kali ini, sama sekali tidak terdengar apa-apa. Mungkin kabar tersebut tertelan berita kematian misterius sebelumnya.

 

[Ibu Sephia] Kau boleh masuk sekarang (sambil menghadap pintu)

 

                Seorang gadis memasuki pintu. Rambutnya dikepang sebelah, sehingga memiliki simetri yang berbeda antara kiri dan kanan. Matanya cerah, dan mulutnya tersenyum.  Mukanya sudah tidak asing. Mata setiap siswa takjub. Salah seorang siswa menepuk meja keras dan berdiri.

 

[Ron] Mi… Misa!!”

 

                Setelahnya diikuti suara sorakan ketidak percayaan seluruh kelas. Tidak mengejutkan, semenjak Misa merupakan aktris yang akhir-akhir ini juga sempat heboh di televisi. Hal tersebut karena ia mulai menghentikan karirnya di layar tv maupun layar lebar.Ia mengatakan ingin fokus sekolah, dan masih belum mengetahui sampai kapan ia akan hiatus. Tapi singkatnya ia ingin berhenti total dari hal yang berbau entertainment. Tapi tidak ada yang menduga ia pindah ke sekolah ini, bahkan kelas ini, bahkan tidak ada rumor sedikitpun. Makanya seluruh kelas menjadi heboh. Congrats, Ignito.

 

[Ibu Sepia] Aku tahu ini bakal terjadi (facepalm). Dapatkah kalian tenang terlebih dahulu.

 

{Suara] Cih…

 

[Eh, apa itu? Sepertinya ada seseorang mengatakan cih sebelumnya. Sumber suaranya sepertinya berada di belakangku (sambil sedikit melirik ke belakang)]

 

                Sekarang teriakan histeris itu kembali diam. Tapi bisikan-bisikan tetap terdengar secara samar.

 

[Ibu Sephia] Jadi, dapat kau memperkenalkan dirimu?

 

[Misa] Baik. Nama saya Misa. Dan kali ini saya akan ikut belajar di kelas ini. Salam kenal teman-temaan

 

Kelas kembali heboh, dengan jeritan dand tepuk tangan. Ibu Sepia hanya menggelengkan kepala.

 

[Misa] Ummm. Dapat kalian lebih tenang? Karena ini masih dalam waktu masuk kelas. Jika kalian tenang dan mendengarkan perkataan Ibu Sephia selanjutnya, Aku janji bakal jadi teman kalian selanjutnya dan kita dapat mengobrol saat istirahat nanti.

 

                Surprise! Kelas menjadi tenang. Yang terdengar hanya sedikit bisikan.

 

[Misa] Terima kasih semuanya!! (Dengan senyum lebar)

 

Tara yang duduk di sampingku bergumam kecil.

 

[Tara] So cutee… Aku ingin memeluknyaa…

 

                Aku kembali melihat Misa. Gadis ini mengerikan. Aku yakin aku harus menghindarinya. Jika dia ingin dia dapat mem-brainwash semuanya.

 

[Ibu Sephia] Terima kasih Misa. Sekarang kamu duduk di…. (Sambil menengok mencari bangku kosong).

 

                Ibu Sephia kembali menepuk dahinya.

 

[Ibu Sephia] Ah, AKu lupa untuk membawa bangku kosong. Kamu datang ke kelasku juga cukup mengejutkan makanya aku tidak mempersiapkannya. Sebentar, aku akan pergi menemui pak Ali. You two boys, come for me to get the chair and table (Menunjuk Roy dan David yang duduk di bangku paling depan].

 

[Roy & David] Yes Maaaam.

 

                Setelah mereka bertiga keluar kelas, muncul awkward moment dimana Misa berdiri di tengah kelas menyaksikan kami, sementara mata semuanya tertuju kepadanya. Salah seorang siswa mengangkat tangannya.

 

[Adam] Misa, kenapa kamu sekolah di sini? Maksudnku, masih banyak sekolah lain yang lebih bagus di Negara ini, dank au memilih sekolah di sini yang jauh dari kota.

 

[Misa] Huh? Ummm… Kalau aku bilang rahasia gimana?

 

                Beberapa siswa bersorak kecewa. Misa membalasnya tertawa.

 

[Misa] Just kidding, just kidding. The truth is, there someone I want to meet in this school. (Sambil melirik ke arahku. Wtf. Is it me that she is looking?).

 

[Rea] Apa dia lelaki?

 

[Misa] Yup, you can say he is my first love.

 

                Kelas kembali bersorak.

 

[Gama] Jadi artinya kamu masih belum punya pacar?

 

                Misa kembali tertawa, dan seakan menilai penampilan adam, kemudian ia berkata,

 

[Misa] Yup. Tapi aku rasa kamu tidak mempunyai kesempatan.

 

Seisi kelas tertawa.

 

[Misa] No. I mean in not bad way. It just he is the only I love, and I guess it’s never change. So…

 

                Seseorang bersiul. AKu tidak tahu siapa. Tetapi atmosfirnya seakan-akan berubah menjadi berwarna, manis seperti permen.

 

[Gadis ini benar-benar berbahaya]

 

                Setelahnya Roy dan David kembali sambil membawa meja dan bangku.

 

[Ibu Sephia] Oke, kalian dapat meletakkannya di belakang kelas. (Sambil menunjuk)

 

                Roy dan David kemudian mengangkat meja tersebut ke paling belakang di dekat jendela, satu baris dan jauh di seberang bangkuku, tepat seperti yang ditunjuk oleh ibu Sephia.

 

[Ibu Sephia] Misa, silahkan duduk di tempat yang baru disediakan.

               

                Misa mengangguk dan mulai berjalan menyusuri ruang renggang di antara meja anak-anak. Setelah ia sampai dan duduk, Ibu Sephia mulai membuka kelas.

 

[Ibu Sephia] Ya, karena ini merupakan minggu pertama, sesuai aturan, kita akan melakukan test.

 

                Misa menepuk pundak Shia yang ada di depannya. Aku tahu apa yang ia tanyakan, pasti mengenai test yang barusan dikatakan Ibu Sephia. Tapi sebelum Shia sempat menjelaskan, Ibu Sephia mulai menerangkan.

 

[Ibu Sephia] Ehem. Karena ada siswa baru di kelas kita, jadi aku akan menjelaskan ulang. Di kelas kita posisi bangku berdasarkan urutan dari ranking test kalian. Aturannya tepat seperti aturan lama, 10 ranking terakhir akan berada di bangku urutan depan mulai dari posisi meja guru (yang berada di sebelah kiri kami). Selain dari ranking tersebut, kalian bebas menggunakan bangku dari baris ke tiga dari depan sampai ke belakang. Jika nilai kalian sama, kita memutuskannya dengan gunting batu kertas. Kalian mengerti?

 

                Misa mengucapkan Ooooh dengan keras dengan tangan membentuk segitiga. Dia terlihat semangat, entah itu acting atau tidak. Menurut pengamatanku, seseorang yang popular selalu terlihat ceria. Alasan mereka melakukannya mungkin karena ingin mencari perhatian, tapi bisa juga untuk menjauhkan pikiran dari kepribadiannya di luar lingkungan dari sekarang ia berada. But I don’t know, aku hanya merasa tidak nyaman dengan apa yang dia lakukan. Mungkin karena warnanya berbeda denganku.

 

[Tara] Wow, Romy, kau kelihatan melihatnya dari tadi. Kau naksir?

 

                Tara menegurku sambil menyengir lebar. Aku melihatnya beberapa saat. Perempuan ini tidak pernah memanggilku sebelumnya, melakukan basa basi seperti ini. It just weird. Aku melihat wajah Tara beberapa detik sebelum ia menegurku kembali.

 

[Tara] Romy, you Okay?

 

Aku tersadar. Aku menundukkan wajahku.

 

[AKu] Ah, Uh… Maaf… It just, kau tidak pernah menegurku sebelumnya, jadi… Uh. Tadi kau Tanya apa?”

 

                Tara memberi jeda, kemudian tertawa pelan.

 

[Tara] Ah. Tidak. Kau terlihat melihat Misa dari tadi. Jadi…

 

[Aku] Oh. Aku bahkan tidak sadar kalau terus melihatnya. Aku rasa aku melamun.

 

[Tia] Sudah, jangan bermesraan. Ini kertasmu.

 

                Tia yang duduk di depanku menegurku dan menyerahkan MPT yang sebelumnya diserahkan oleh ibu Sephia. Kemudian aku memberikan satu lembar terakhir kepada Daret. Wajahnya terlihat masam. Ia mengambil kertas dari tanganku dengan kasar.

 

[What is his problem?]

 

                Aku berbalik dan melihat MPT di tanganku. MPT, Mobile Test Paper, merupakan sebuah device pengganti kertas yang digunakan untuk melaksanakan ujian. Tipisnya sama seperti kertas sehingga kami tetap menjulukinya sebagai kertas. MPT hanya di distribusikan untuk bidang pendidikan, dan tidak dijual diluarnya. Mempunyai tingkat sekuriti tinggi yang aku malas menjelaskannya. Dengan kata lain memanipulasi nilai dengan MPT sangat tidak mungkin dilakukan, dan secara public masih belum ada yang mampu melakukan. Lagipula, di masa sekarang ini pemerintah memperketat hukum didalam lingkungan pendidikan, sehingga orang malas untuk melakukan kecurangan maupun mencoba untuk memanipulasi data melalui jaringan. It’s easy to get in jail because of this things.

 

                Aku mulai mengetikkan namaku di atasnya dan mulai mencoba menjawab setiap pertanyaan yang diberikan.

 

                Waktu kelas bimbingan 45 menit. Dua puluh menit sudah dan ujian kami selesai. Ranking yang diberikan secara cepat dihitung oleh MPT. Aku mendapat ranking 7 dengan nilai 8.5. Dengan kata lain aku dapat memilih bangkuku sendiri. Well, aku mendapatkan nilai bagus karena memang aku tidak ada kegiatan lain selain belajar dan bermain game. Tapi sebagus apapun nilaiku tetap tidak bisa mengalahkan Daret. Nilainya perfect 10 dan berada di peringkat ke satu. Sudah tidak asing, tapi yang membuatku terkejut, Misa berada di peringkat ke 2 dengan nilai 9.9 . Aku tidak mengira kalau perempuan ini jenius. Kau tahu, aku kira sebagian artis yang duduk di bangku pendidikan bukan termasuk orang yang pintar karena mereka lebih mementingkan karir dibandingkan pendidikan. Tapi aku rasa Misa menjadi orang yang exceptional di antara mereka.

 

                Daret memilih bangku baru yang berada di paling belakang, mungkin karena ia ingin menyendiri. Kemudian Misa memilih bangku di depannya, tersenyum sesaat kepada Daret sebelum duduk. Daret mengangkat tangannya.

 

[Daret] Bu, saya minta pindah duduk.

 

[Ibu Sophia] Hmmm. Aku rasa kalian tidak dapat memilih bangku jika kalian sudah memilih bangku.

 

[Daret] Aku rasa ibu tidak mengatakan itu sebelumnya.

 

[Ibu Sophia] Oh ya? Mungkin aku lupa mengatakannya. Tapi aturannya begitu.

 

[Daret] Cih…

 

[Ibu Sophia] Daret, I don’t like you’re attitude.

 

[Daret] Yeah mam, Okay… Okay….

 

                Misa terlihat tertawa kecil. Kemudian ia membisikkan sesuatu ke Daret. Kemudian wajah daret terlihat mengerut, dan Misa mengalihkan wajahnya kea rah jendela.

 

                Urutan ke tiga, Kashiro, mengambil bangku di samping Misa. Urutan ke empat, Rea, mengambil posisi di depan Misa. Mereka mendapat Booo panjang dari anak-anak yang lain. Sedangkan aku duduk di tempat Daret sebelumnya di pojok belakang di samping dinding. Aku bersukur tempat ini masih belum diambil siapapun karena yang lainnya berusaha duduk di dekat Misa. Dan di sampingku, peringkat 8, kembali Tara menempatinya.

 

[Hey seriously, there so many seat left and you seat near me? It will makes a misunderstanding. Ah, maybe it’s just in my mind though, since no one actually know I’m in this class…]

 

[Tara] Hei.

 

                Tara kembali menegurku.

 

[Aku] Uhhuh… (Dengan nada seperti menjawab dengan vague)

 

[Tara] Hehe… Sepertinya aku sudah terbiasa duduk di sampingmu.

 

[Eh, is that true? Is you really always seat beside me? I don’t even know that. You always choose a seat beside me? It’s creepy!!]

 

[Tara] Kau bilang kalau kau tidak biasa ditegur. So, This is a start I guess, right?

 

[Aku] Umm… Thanks? I guess…?

 

[Tara] Ahahaha… You’re funny!!

 

[Huh, what so funny? What I know is so awkward this conversation feel about]

 

                Setelah setiap anak menempati bangkunya masih-masing tepat saat itu bel pergantian pelajaran berbunyi.

 

[Ibu Sophia] Okay, it’s that it. Oh ya, aku ingin Romi dan Daret ke ruanganku pas istirahat siang.

 

[Huh…? What is that about?]

 

                Sebelum aku sempat menanyakannya kepada Ibu Sophia, Ia sudah terlanjur keluar dari kelas. Mungkin aku akan menanyakannya saat ia masuk nanti. Dan beberapa menit berikutnya guru fisika ku sudah memasuki ruangan.

 

* * * * *

 

[Ibu Sophia] Jadi di antara satu kelas, cuman kalian berdua yang masih belum mengisi rencana karir. So… Apa alasan kalian?

 

[Aku] Oh damn. I didn’t even know about that. Ups. (Aku keceplosan)

 

[Daret] Mine eaten by my cat.

 

[Ibu Sophia] Huh? Kau tidak tahu? Pengumumannya jelas-jelas terlihat di homepage website sekolah kita.

 

[Aku] Saya jarang liat website mam, lagipula isi berita di website terlihat tidak penting semua.

 

[Ibu Sophia] Okaaay…. Dan Daret. What yours eaten by your cat? Your phone? Your Computer?

 

[Daret] The cable mam. She eat the main cable so my house now doesn’t even has an electricity.

 

                Ibu Sophia mengelus dahinya seakan sakit.

 

[Ibu Sophia] Are you kidding me? Ok than, I give you a time until break ends to fill the formulir here (sambil menyerahkan dua lembar kertas)

 

[Aku] Huh, real paper. It’s kinda weird…

 

{Ibu Sophia] Huh? Kau belum pernah menyentuh kertas?

 

[Aku] Saya malah tidak tahu kalau pabrik masih memproduksinya. Aku hanya pernah melihatnya waktu sd.

 

[Ibu Sophia] Anak-anak jaman sekarang. Orang tua masih menggunakannya tahu!

 

[Daret] Yah, orang tua ketinggalan jaman mungkin masih memakainya.

 

Ibu Sophia mengerutkan dahinya.

 

[Ibu Sophia] Apa katamuu!!

 

[Daret] Nothing mam, Ibu mungkin salah dengar.

 

[Aku] Hei, even me hear that.

 

[Daret] Cih…

 

[Ibu Sophia] Sigh. Kalian ini… Ya udah isi nih! (Katanya sambil memberikan pulpen dengan tinta).

 

                Aku dan Daret mengambil pulpen tersebut dan mengetesnya pada kertas.

 

[Ibu Sophia] Jangan katakana kalau kalian tidak bisa menulis karena kalian terbiasa mengetik.

 

[Aku] Nah. Di pelajaran sejarah kami belajar tulis tangan kok, walau di atas layar pad.

 

[Ibu Sophia] Is that so? Sukurlah kalau begitu. Isi yang serius ya.

 

[Isi yang serius? Aku masih belum tahu ingin jadi apa aku di masa depan.]

 

5 minutes later…

 

[Ibu Sophia] Kalian sudah mengisinya?

 

[Aku] Nope. Masih berfikir.

 

[Daret] Aku sudah… (Sambil mengangkat kertasnya)

 

                Daret kemudian menyerahkan kertasnya.

 

[Ibu Sophia] Wow, neat!! (Kagum melihat tulisan Daret yang rapi tanpa membacanya terlebih dahulu)

 

[Ibu Sophia] Aaaannnnddddd…. What the fuck is this?! You’re gonna be a villain who want to conquer the world?

 

[Aku] Pffft!! (Menahan tawa)

 

[Ibu Sophia] Kataku isi dengan serius!!

 

[Daret] It’s a serius thought…

 

[Ibu Sophia] Apanya yang serius?! Isi lagi!!

 

                Ibu Sophia menepuk muka Daret dengan kertas baru.

 

[Aku] Btw… Bukannya data ini harus masuk ke dalam database server? Kenapa menggunakan kertas? Bukannya lebih baik langsung mengisi dari website?

 

[Ibu Sophia] Mau bagaimana lagi. Submission formulirnya sudah ditutup. Yah, salah kalian sih.

 

[Daret] Bukannya sebenarnya tidak apa-apa tidak dimasukkan ke dalam database? Filenya kan disimpan oleh masing-masing wali kelas. Dan aku rasa, ibu juga membuatnya menjadi harcopy dalam bentuk dokumen kan?

 

[Ibu Sopia] Eh, dari mana kau tahu?

 

[Daret] Orang tua ketinggalan jaman melakukannya.

 

                Ibu Sophia menjitak Daret. Aku hanya tersenyum kecil. Siapa sangka jika Daret memiliki selera humor.

 

[Ibu Sophia] Yeah, it’s kinda private file so it’s okay to not put it in database.

 

[Daret] I’m done (Sambil mengangkat kertas lagi)

 

[Aku] Wow, that’s fast!

 

[Ibu Sophia] Huh, jangan-jangan kamu mengisinya dengan asal-asalan lagi (sambil mengambil kertas dari tangan Daret.

 

[Ibu Sophia] . . . (diam)

 

[Aku] Kau mengisinya asal-asalan lagi bukan? (Prediksi)

 

[Daret] I’m serious this time…

 

[Ibu Sopia] Serius PALAMU?! (Menggulung dan melempar kertas tersebut ke bak sampah.)

 

[Daret] Hey, why you trash it. I’m to tired to think about that?!

 

[Ibu Sophia] If you want to be a NEET you doesn’t even need a school you dumba**!!

 

[Aku] *Pfffft*

 

[Daret] You laugh?! You doesn’t even write a thing!!

 

[Aku] And why you care? (Sambil menyengir)

 

[Ibu Sophia] Oh I care!! Can two of you more fast and serious?! Aku masih belum sarapan pagi!!

 

                Dan kemudian, kami masih belum mengisinya sampai waktu istirahat habis. Ibu Sophia kembali meminta kami untuk datang setelah pulang sekolah karena ia ingin menikmati makan siang.

 

(Saat menuju kelas)

 

[Aku] Hei, can I ask you something?

 

[Daret] Um. No?

 

[Aku] Kau terlihat tidak menyukai Misa. Memangnya ada apa?

 

[Daret] I hate everyone actually. Dan aku rasa aku menjawab tidak pada pertanyaanmu sebelumnya bukan?

 

[Aku] Aku merasa gelombang aneh keluar dari perempuan itu. Perasaanku tidak enak.

 

[Daret] Jadi kau merasakannya juga? Dan kamu sebenarnya mengacuhkan jawabanku bukan?

 

[Aku] Aku merasa tidak ingin mendekatinya. Kau merasakannya juga?

 

[Daret] . . . .

 

                Dan kemudian aku kembali berada di dalam kelas.

 

[Tara] Jadi… Ada apa?

 

                Tara tiba-tiba bertanya kepadaku ketika aku kembali duduk di bangkuku.

 

[Aku] Uh… Why do you ask? You suddenly became friendly with me…

 

[Tara] Hmmm. Is that wrong to be friendly?

 

[Aku] Ah, no… No… It’s good. Aku cuman merasa awkward semenjak aku belum pernah mengobrol ama teman sekelas sebelumnya.

 

[Tara] What?! Seriously?! Dari kecil?

 

                Aku mengangguk.

 

[Tara] Ahahaha…

 

[Aku] Is that funny?

 

[Tara] No… No… I’m sorry. I’m sorry. (katanya sambil menahan tawa)

 

[Aku] Ah, it’s not problem if it’s funny tho’. Since I cannot make a humor, somehow it makes me happy…

 

[Tara] Ah, I pitty you…

 

[Aku] I don’t need a pitty btw.

 

[Tara] Ah sorryyyyy…

 

[Aku] Nevermind.

 

[Tara] So, if you doesn’t have a friend, how about with me? It’s a good start right?

 

[Aku] Huh, can I?

 

[Tara] Tentu saja. Who doesn’t want to be a friend right?

 

[Aku] Daret does…

 

                Tara kembali tertawa. And with that conversation, she became my first friend ever in this highschool.

 

* * * * * *

 

[Tara] So, do you want to go home together?

 

[Aku] Huh… What…?

 

[Tara] I said do you want to go home together?

 

[Aku] Seriously?

 

[Tara] Serious.

 

[Aku] Ah, I though I misheard that. Bukannya kamu biasa pulang bareng Risa dan teman-teman yang lain?

 

[Tara] Huh, you know?

 

[Aku] Uh Yeah. Should I shouldn’t know?

 

[Tara] Nah, It’s okay. Actually it’s sweet to know someone memperhatikanmu.

 

[Aku] Oh yeah? For me it’s a creapy feeling.

 

[Tara] Ahahaha. So are you a creeper?

 

[Aku] Uh, what?

 

[Tara] Someone who gives you a creepy feeling. Called creeper.

 

[Aku] Am I?

 

[Tara] Ahahaha no! Offcourse no.

 

[Aku] Yeah, actually no one notice me. So, no one cares ketika aku menyimak orang lain.

 

[Tara] Wow. Do you want me to introduce me to my friends?

 

[Aku] Nah, I give up. Aku masih belum siap berada di lingkungan yang berbeda. I already used to this.

 

[Tara] Used to it?

 

[Aku] Use to it.

 

[Tara] Ok, great. So…?

 

[Aku] So…?

 

[Tara] I mean. How about go back together?

 

[Aku] Ah, silly me, forgot about what the main conversation is. I’m sorry, but I can’t. Ibu Sophia called.

 

[Tara] Oh. I can wait actually…

 

[Aku] No… No… I think it would be long. So, aku sarankan kamu untuk pulang duluan. I would feel bad jika aku menyuruhmu menunggu tanpa waktu yang jelas.

 

[Tara] Wow, how polite. Ok then. See you soon.

 

[Aku] See you soon.

 

[Risa] Hei Tara, are you coming?

 

[Tara] Ah yeah, wait a second. (Kemudian meraih tasnya dan kemudian melambaikan tangan kepadaku. Aku tidak membalasnya karena it’s feel weird. Seriously weird)

 

Aku melirik kea rah Daret. He’s and Misa is not there. Mungkin dia sudah duluan ke ruang bu Sophia. How nice of him. Aku meraih tasku dan bersiap menyusul daret.

 

* * * *

 

It’s Misa in front of Miss Sophia Office.

 

[Misa] Oh Hi, you’re from my class aren’t you?

 

[Aku] Ughhh. Yeah, I’m me.

 

[Misa] Yeah, you are you. So, you’re being called too?

 

 

[Aku] Ummm, yeah, you too?

 

[Misa] No, Daret does, actually. I wonder what it is about tho’

 

[And why you are the one waiting when Daret is called. You know he hates you right?]

 

[Misa] Can you tell me?

 

[AKu] I don’t know I should. You should ask Daret yourself if you would. SO, Can I excuse me?

 

                Aku melewatinya.

 

[Misa] Ugh… (She looks hurt by my word, but probably not…)

 

Aku membuka pintu dan menutupnya.

 

[Ibu Sophia] So, you are come. So, let’s do this fast so I can go home…

 

[Aku] Bukankah itu yang semestinya siswa katakana?

 

[Ibu Sophia] I’m too have a private life you know! (Sambil menyerahkan kertas)

 

[So she does]

 

[Aku] Actually, Misa waiting for you outside Daret

 

[Daret] Is she? Probably, I should do this slowly then.

 

[Ibu Sophia] Wait what. No!! Do this seriously and fast please. I want to play games!!

 

Kami berdua menatap ibu Sophia sesaat.

 

[Daret] Should be a retro game.

 

[Aku] Pffft…

 

[Ibu Sophia] What’s wrong to like something what you like right? Retro game does have an art. Modern game doesn’t. The differents is significant.

 

[Daret] That’s what old people said…

 

[Aku] Pffft….

 

[Ibu Sophia] I wonder if I can fix your mouth too. Hmmmm (Dengan tangan mengepal)

 

[Daret] I’m sorry mam, please don’t hit me (Dengan suara datar dan pulpen menempel di tangan)

 

(hening)

 

[Daret] By the way, it made me think… (mulai menulis)

 

[Daret] How about this?! (menyerahkan kertas kepada Ibu Sophia)

 

                Ibu Sophia membaca tulisan daret dengan muka serius.

 

[Ibu Sophia] Wow, this one unexpected. You give the job right. Game developer? It’s good but, what about the reason, “With my game I will brainwash every people and then conquer the word.”

 

[Aku] He… Hey Daret, Can you stop makes me laugh. Your taste of humor just too good.

 

[Daret] At least I’m not lie, that’s what I want about.

 

[Ibu Sophia] But I couldn’t eat this sh*t. Can you start over and give a proper reason?! (Sambil melambai-lambaikan kertas yang diberikan Daret)

 

[Daret] Uh noooo?

 

[Ibu Sophia] falcon punch or hadouken?

 

[Daret] Yes maaaam.

 

                Daret kemudian berdiri dan mengambil selembaran kertas lainnya yang ada di atas meja. Dia kembali duduk di bangkunya dan menulis kalimat dengan cepat. Dan sekitar satu menit kemudian selesai. Ia kemudian menyerahkan kertas itu kepada Ibu Sophia.

 

[Daret] It’s a lie, but it’s good, I gueeeesss….

 

                Ibu Sophia kembali mengenakan muka serius dan membacanya.

 

[Ibu Sophia] Okay, I can eat this.

 

[Daret] So I can go home now?

 

[Aku] Wat, can I heard it? I’m curious.

 

[Ibu Sophia] Nope, it’s a private matter, so I shouldn’t talk it to other people actually…

 

[Daret] Really? You already said that with a loud voice about what I want to be…

 

[Ibu Sophia] My bad… My bad… Be carefull next time.

 

[Aku] lol

 

[Daret] Lol indeed. I’m going home.

 

                Daret mengambil tasnya, membuka pintu, dan melangkah ke depan, dan menutupnya. Aku kembali melirik formulirku sebelum beberapa detik berikutnya Pintu kembali terbuka. Daret kembali masuk dan menutup pintu. I know what he did. He forgot about Misa who wait in front of the door to meet him. And then,

 

[Daret] I guess. . . I waitng in here until you done.

 

                We see his face with a cold sweat. Then me and Miss Sophia laugh. We seriously heavilly laugh in that small room. (If you still alive until this paragraph, said “NUUUUAAAAA, GADAGADA!!!”)

 

* * * * * * *

[Ibu Sophia] Daret, why you keep her waiting? Apa kamu tidak merasa kasihan kepadanya yang menunggumu?

 

[Aku] Bu, bukankah kalau ibu merasa kasihan dengan Misa ibu seharusnya mengundangnya masuk ke dalam sini?

 

[Ibu Sophia] Ah kau benar. Aku akan memanggilnya…

 

[Daret] No, don’t… Actually, it’s not a problem if she waiting this long I guess… There so much people waiting with her outside.

 

[Aku] So much?

 

[Daret] Very much.

 

[Ibu Sofia] No wonder, he is an ex-actress afterall.

 

[Daret] You, whatever you do, just do it slowly please…

 

[Aku] I don’t even start writing anything…

 

[Daret] good…

 

[Ibu Sophia] You guys, just want me suffer isn’t it?

 

[Daret & aku] Noopee…

 

* * * * *

 

[Ibu Sophia] So, Gimana kalau kau membuat school club, about gaming?

 

[Aku] why is so sudden?

 

[Ibu Sophia] Just a thought tho’. You like games right?

 

[Aku] I do actually like. But is school actually approve it? I mean it doesn’t benefit for anything right?

 

[Ibu Sophia] Hmmm you are right. How about game developer?

 

[Daret] Sorry guys. I’m already have my own club…

 

[Aku] Huh? You do? Really?

 

[Ibu Sophia & Daret] Club going home…

 

[Aku] lol.

 

[Ibu Sophia & Daret] lol indeed.

 

[Daret] I’m really can’t actually, and no sorry…

 

[Ibu Sophia] Ah yeah, actually I remember your mom said about that, you shouldn’t come that late, right?

 

[Aku] Wow, her did? What a strict mom you have!

 

[Daret] Miss, can you not share my private live to other people please?

 

[Ibu Sophia] Ah, my bad. Aku keceplosan lagi… And seriously Romi, why you take it so long to just fill a form?

 

[Aku] Well, I cannot just write it so sudden without consider anything, you know. I just know this thing today!!

 

[Ibu Sophia] Wait, so you don’t lie about you doesn’t know anything about it?

 

[Aku] I’m not.

 

[Ibu Sophia] Sigh. Couldn’t be help than. I guess I give you time for do it in one weeks. Don’t take it any longer, okay?

 

[Aku] I will not.

 

[Daret] Actually, I’m not lie eather…

 

[Aku & Ibu Sophia] Obviously lie!

 

* * * * *

 

                Well, it’s four a clock and what Daret said is not lie. It’s very crowded outside, and the main reason is one, Misa. So the one she said about who she like actually is Daret. It just so surreal.

 

[Ibu Sophia] Com’on kids, What with this croud. Don’t just stand and sit in the hall. Who doesn’t has a club activity please go home. Hush… Hush…!!

 

                Dan kemudian kelompok tersebut bubar.

 

[Aku] So Daret, Why you don’t go with her?

 

[Daret] If I don’t go to school tomorrow, that’s mean I’m already dead. If do, please tell everyone that  I hate them, and don’t go to my funeral.

 

[Aku] Joke about funeral is not funny man…

 

[Daret] It’s not a joke.

 

Daret kemudian berjalan melewati kerumunan, melewati Misa like her was nothing. Misa berdiri, mengejar daret. She talk about something. I cannot hear it, but I’m curious about what she said. I’m curious about their realitionship.

 

* * * * *

 

[Ibu Sophia] So, going home?

 

[Aku] Uh, yeah.

 

[Ibu Sophia] Want a ride?

 

[Aku] … Can you ask me again? I’m not sure…

 

(We start walking)

 

[Ibu Sophia] Isn’t you going home by walking, and your house is very far doesn’t it?

 

[Aku] . . . .

 

(hening)

 

[Aku] Creepy.

 

[Ibu Sophia] What creepy?

 

[Aku] How you knows that I’m going to my house with walking and my house is very far away?

 

[Ibu Sophia] Hmmm. I guess it’s what your aunt said in the end of first semester when he come to get a report.

 

[AKu] And you remember?

 

[Ibu Sophia] Ofcourse I remember!! I’m your homeroom teacher you know?

 

[Aku] You know about small things, that’s what makes it creepy. And you remember about what Moms Daret talking about too…

 

[Ibu Sophia] Is that it? I think it’s sweet that someone watch over you. That mean he cares about you right? Nothing is wrong with that?

 

[Aku] So, a stalker is actually a sweet person huh?

 

[Ibu Sophia] Uhuk, It’s in different tense, it’s not a same thing. Why are you so afraid about it?

 

[Aku] There someone died around my place yesterday. So…

 

[Ibu Sophia] Wow, is that so. The burned man?

 

[Aku] Or woman. I don’t know. But it is. So you’re watching.

 

[Ibu Sophia] Yeah the news over the place this morning and the suspect still not found. So, there’s actually a reason to be careful about.

 

[Aku] Yeah, that’s why.

 

[Ibu Sophia] That makes me insist to give you a ride you know?

 

[Aku] I know.

 

[Ibu Sophia] Huh…?

 

[Aku] Since it’s a free ride, why should I reject?

 

[Ibu Sophia] Wow, you really doesn’t want your money spend away so you doesn’t use transport?

 

                Aku mengangkat bahuku.

 

[Aku] Money is everything.

 

[Ibu Sophia] Yet, you still can’t decide what job for your future.

 

[Aku] Wow, that’s burn.

 

* * * * *

 

                Aku tiba di parkiran sekolah. It’s a red sprot sedan car, I don’t know what the brand, but I know it’s expensive. You know, probably the most expensive car int this school is her. She opening a dor with her automatic key and we both going in the car. I sat beside her, and then she turn on the machine and began the ride.

 

[Aku] How can you buy this car? Isn’t salary for teacher is not actually that good?

 

[Ibu Sophia] Uhuhuhu. I actually do some other job in the night.

 

[Aku] Is that some underground work?

 

[Ibu Sophia] You’re too much watching a movies kids

 

[Aku] Sooo….

 

[Ibu Sophia] You know, My old proffesor doing a research and the royalty is actually good! And I began to do that job as a routine and it’s like I can buy anything!

 

[Aku] So then you have this car.

 

[Ibu Sophia] Right…

 

[Aku] And… Why you so friendly to me?

 

[Ibu Sophia] What’s wrong to become a friend with a student? Afterall you doesn’t have a friend didn’t you?

 

[Aku] Creepy! (Sambil menggigil)

 

[Ibu Sophia] Hey, you doesn’t even talk to anybody in the class isn’t it? Jadi tidak meragukan jika aku beranggapan kalau kau tidak mempunyai teman.

 

[Aku] A real people just doesn’t relize about me being existed. But you can actually see me!!

 

[Ibu Sophia] Haha… What logic is that?

 

[Aku] Or you actually… doesn’t have a friend mam?

 

[Ibu Sophia] *Hatchu* *Snoort*

 

[Aku] Right in the target.

 

[Ibu Sophia] Hey, I only bersin you know, doesn’t mean what you said was right! Afterall I HAVE friends!

 

[Aku] But all your friend is already married and doesn’t care anymore about you…

 

[Ibu Sophia] *Hatchu* *Snorrt*

 

[Aku] Right in the feel.

 

(Ibu Sophia mengalihkan pandangannya kepadaku)

 

[Ibu Sophia] Falcon kick or…

 

[Aku] Sorry mam, just watch the way please….

 

(Ibu Sophia kembali memandang ke depan)

 

[Ibu Sophia] You know, I do have a friend. But an adulthood friends is actually not fun as teenager, you know. We doesn’t talk like we talk now. We talk about business, position, job, or something like that. That’s why I worried about you who doesn’t have a friend, will not have a fun like other teenager should have. You know, A teenager should do a fun things, or they regret it when they become adult.

 

[Aku] Wow, such a wise word, Mam. Thank you…

 

[Ibu Sophia] You’re welcome kids.

 

[Aku] But I guess they will have a fun if they married Mam.

 

[Ibu Sophia] (menghadap ku) Falco

 

[Aku] Sorry mam, Just watching the way please…

 

(After like two minutes)

 

[Aku] Mam, Sorry forgot to tell you this, but I actually have a friend?

 

[Ibu Sophia] Wow, what a surprise. Who?

 

[Aku] Well, for call it a friend, just became one today actually.

 

[Ibu Sophia] Great!! Who he is? Is he Daret?

 

[Aku] Wow, How could you. I would not be a friend with him ever,,, I Guess… Since he just hate everyone…

 

[Ibu Sophia] Haha… I Know what is feel like. So, who is it?

 

[Aku] Ummm. It’s a girl actually…

 

[Ibu Sophia] Pfft, what?! Your first friend is a girl?

 

[Aku] Hey what’s so funny about it?

 

[Ibu Sophia] Don’t tell me it’s Tara.

 

[Aku] Wait you know?

 

[Ibu Sophia] Ahahaha!! I know I know. She always seat beside you all the time!

 

[AKu] Wait, she really is?

 

[Ibu Sophia] Wahahaha. You don’t know?

 

[Aku] Yeah, I don’t. And why it’s so funny for you?

 

[Ibu Sophia] So you really don’t know and you even don’t know what so funny about this. It’s makes me funny kids. Uhuhuhu!!

[Aku] Madam, can you stop laughing and looking to the way?

 

[Ibu Sophia] Uhuhuhu, can you tell me about it kid?

 

[Aku] I already regret it to told you that. So, can you stop laughing and be adult please? It’s dangerous

 

[Ibu Sophia] Please tell me abou it… Hiks Hiks!!

 

[Aku] Seriously madam, No!

 

[Ibu Sophia] Please… Ahahaha…

 

[Aku] Noooo!!!

 

And then I told her since it’s very dangerous for her too keep laughing while stirring. I regret my decision from the start, when I accept her to give me a ride. And it just like my virginity already been taken from her. God, let me restart the time, please.

 

* * * * *

 

[Aku] That’s my house?

 

Kemudian Ibu Sophia memarkirkan rumahnya tepat di depan rumahku.

 

[Ibu Sophia] Do I need a visit?

 

[AKu] Nope, don’t. Please.

 

                Aku membuka pintu mobil dan sebelum menutupnya aku berkata,

 

[Aku] Thanks for the ride mam.

 

[Ibu Sophia] And don’t forget to fill your form okay!!

 

[Aku] Okay maam.

 

                Aku menutup pintu mobi tersebut. Kemudian suara mobil merah itu berderu kencang dan meninggalkanku jauh di belakang.

 

[Aku] (Bergumam) Hati-hati di jalan mam.

 

[I Hope she okay in the ride tho’]

 

                Aku memencet bel di depan rumah, sebelum seseorang membukakan pintu. It’s Rika.

[Aku] Sigh, I’m happy you’re there.

 

[Rika] Oh, you came! And what kind of greeting you have there. (Sambil membukakan pagar rumah)

 

                Pagar terbuka dan kemudian aku mengikuti Rika untuk memasuki rumah.

 

[Aku] I’m home.

 

[Rika] Welkome home.

 

                AKu kemudian melepaskan sepatu dan kaus kakiku dan meletakkannya di rak sepatu. Aku berjalan pelan ke dalam kamarku, melepas bajuku hingga hanya memakai kolor. Aku keluar kamar dan berjalan di koridor hingga Rika memandangku diam seperti batu.

 

[Rika] What are you doing onichan?

 

[Aku] Huh?

 

                Rika menutup mukanya dengan kedua tangannya, tapi sela-sela jarinya masih terbuka lebar.

 

[Rika] You know, ketika seorang gadis melihat seorang pria telanjang, ia tidak bakal dapat menikah dengan pria lainnya kan?

 

[Aku] Are you an Idiot?

 

[Rika] Do I need to scream? Do I need to call a police?

 

[Aku] Whatever, just do whatever you want. I want to take a bath right now. Bye…

 

[Rike] Now my Oni chan invite me to the bath. What should I do? Do I need to come? Or should I call a police.

 

[Aku] I will lock the door by the way, so please don’t break it…

 

                Aku melewati Rika. Ia kemudian mengeluarkan suara aneh.

 

[Rika] Chiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

 

[Aku] Rika, please stop to watch too much anime!

 

[Rika] Chiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

 

                Aku kemudian masuk ke ruang laundry, diikuti Rika yang menunggu di luar masih sambil mengeluarkan suara anehnya. I slam the door and then lock it. Okay then, time to take a bath.

 

* * * * *

 

[Rika] Onii chan, aunt say she will not come tonight.

 

[Aku] Benarkah? So… we should eat outside then. Where do you want to eat?

 

[Rika] . . . . .

 

[Aku] Hey, I’m asking you.

 

[Rika] *Grasp* OMG Oniichan want to pay Rika for a food. What’s with this miracle. It’s very very suspicious!!

 

[Aku] What’s with that reaction?

 

[Rika] Nothing, it just rare onichan mengeluarkan uangnya sendiri. Padahal dia tidak ingin mengeluarkan uang untuk transportasi dan bersedia berjalan kaki berjam-jam.

 

[Aku] You can die because you don’t eat but but you cannot die because you walk you know.

 

[Rika] Nandekoree….

 

[Aku] What’s that mean?

 

[Rika] That’s mean what is that? Oni-chan baka!!

 

[Aku] This anime references just filling my head. I can’t take it anymore!!

 

[Rika] Is that makes Rika cute to said it without a same?

 

[Aku] This cuteness will makes me die in happiness OMG!!              

 

[Rika] Hei, Oni-Chan Are you okay?

 

[Aku] No, I’m crying. I need tissue in my room for a second or I will die!

 

                Aku berlari menuju kamarku untuk mengambil handphone dan wallet. And then aku mengambil jaketku dan kembali ke ruang makan dan menonton TV. Aku menunggu Rika selesai bersiap-siap. It’s about one hour. No wonder, she a woman afterall. You know 5 minutes for woman in front of mirror is like one hour of man lives, so I couldn’t help but waiting. Until than he appear beside me and seat.

 

[Aku] Are you ready?        

 

[Rika] Okay, Oni~Chan. Let’s go!!

 

                And then we leave our house and search something to eat. After that, before sleep, Aku berbaring dan melihat langit-langit di atasku, sama seperti aku terbangun, mengingat kejadian dari pagi sampai malam. That’s kinda fast and weird but fun. And it feel lonely. I’d got a new friend, I talk a lot with my homeroom teacher, and it’s fun, and then I meet my lovelly sister since a long time (not that long actually, maybe about four to five months, but we only meet in short time. You know, it just me exaggerating so the story become good) and we talk a lot like we usually does. It’s a fun day, and after that it feels empty.

 

                I hope it last forever

 

                Yeah, I wish it last forever

 

* * * * *

                That night, standing an old man and a woman in a lab coat. They look at someone in the seat with a helm covering his head. He screaming, very loud. But even he is screaming, no one hear can it other than that’s two since the room is soundproof. Thay look at monitor with a line graph and a word like code. The man keep screaming like singing. The man take a note and scratch a word in top of it. And the man keep screaming more loud than before. His breath became more fast and his eyes become big. His skin became red and his meat became thin. His bone push forward and his mouth extracting the blood. But he keep screamin and the old man keep writing and the woman keep watching. Until the man cannot scream anymore. Antil the bip become a long bip. Until the old man said,

 

[The Old Man] It’s failed.

 

To Be Continued. Maybe. If has time. And don’t forget about it. . .

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Saran saya sih kuasai dulu bahasa ibu dengan baik dan benar. Kita tidak perlu kok sok keinggris-inggrisan biar terlihat pintar. Yang ada malah kalau banyak tata bahasa yang ngawur kita malah terlihat ...
Ah, sudahlah. Tetap semangat saja menulisnya. Maaf ya saya komentar pakai Bahasa Indonesia, bekaus ai kennot sepik inglesh.

Salam

40

Apa cuma Gue yang ngomong pake bahasa indonesia???

udah lama ngak mampir di kemudian.com ternyata banyak yang berubah.

Lo aja?
Kita kali. :D

80

Hello ... err ... since there were lots of English's, then I will comment it with English too, hoho.
-
I really like the plots and telling format, it is really unique. Also, although this story is kinda long, but I still read it pleasantly. However, I think I feel suspicious of the home teacher tho. I think she is the culprit of the last murder.
-
After all, I will give several (maybe some) comments that (I hope) help you to make some corrections of this amazing story becoming more amazing. It's about EYD, grammar, and odd sentence/word.
-
First things first, on the word 'gemang' on first paragraph of this story. I think according to KBBI, it should be geming. Because the meaning is different between them.
-
Then, on the words: adki, chanel, akruan, horible, ilmuan, katakana, rebut, it;'s, gossip-gosip, Dand, dank au, pitty, Wat, kea rah, eather, realitionship.
I think it has to become: adik, channel, karuan, horrible, ilmuwan, katakan, ribut, it's, gosip-gosip, dan, dan kau, pity, what, ke arah, either, relationship (I suggest you to search it by using 'find' fiture to make fast corrections). I was using site named 'artikatadotkom' to check those words.
-
Afterwards, you said that MPT is Mobile Test Paper, but I think it is switched between Test and Paper.
-
After that, on the sentence: 'AKu lupa untuk membawa bangku kosong.' I think the syllable 'K' has to be not capitalize.
-
Then, what is the name of home teacher, actually? Sephia, Sepia, Sophia, or Sopia? Because Those are shifting on several paragraph. And then, as the profession of home teacher, she is quiet harsh saying 'F' word, 'PALAMU', 'sh*t', and "dumba**' to her student hoho.
-
And, I really do not understand the meaning of NEET hoho.
-
For the grammar, i will comment about sentences that catching my eyes hehe. Those are:
this things
= these things
to tired
= too tired
Do you want me to introduce me to my friends?
= Do you want me to introduce 'you' to my friends?
[Daret] I guess. . . I waitng in here until you done.
= I guess ... I am waiting in here until you done.
I’m really can’t actually, and no sorry
= I really can’t actually, and no sorry
you doesn’t
= you don't
She always seat beside you all the time!
= She always sits beside you all the time!
[Rika] Onii chan, aunt say she will not come tonight.
= aunt said that she will not come tonight.
Until than he appear beside me and seat.
= Until she appears beside me and sit.
-
Alright that is all of my comment, I do not mean to give a lesson tho, I just wanna help you to make your novel become more amazing. I also notice that you are the senior on kners hehehek, salam kenalll :D

Hello guys, long time not see, even no one knows me or anyone forget me... :')
This still a draft, so, The Story quite a mess, with mixed between indo's and english'es languages (And I don't even read it back after I write this, so I know this will be a bad writing,lol). For the next finish story, I prefer to be english with a double quote "if it will be finished tho'. Lol."
I used mixed languages to make this story more fast to be done, I can use a word that I already have in my mind before I typing(Since I used to speak in english in work but actually still kinda bad at it [my TOEFL is very low TvT). For now I don't really care about grammar and vocab, what I need is this story_need_to_be_done. And the gram and vob can go later. Cya Gram and Vob!!
And Actually this is my first story in one chapter which has about 6000 more word (Actually it's 7000 less). And I will continuing this until 10 chapter (if I can and maybe more of support). So...
For the format? Yes, I will use this format. It's easy to write even without description, and I can add more description in the story easily with this kind of format. This is very not Indonesian format, so, it's not wrong of anyone feels wrong about that. And if you do, don't feel bad about that. You're Okay, You're great!! d^.^b
I'm using copy paste from the word, so I don't know if italic and bold text will work in kemudian's text editor (And I guess that will not work) So sorry, I will fix that later.
And Like my other story, if I will not manage to give a next word for this chapter I will delete this story in kemudian (Or editing is kinda overwhelming. Seriously, When I see my writing after a long time, everything that I write become kinda of stupid and cannot be fixed anymore. You know what I do with my stupidity? I delete it, even in real life >.<). For a note, I still keeping it in my PC and my blog. Just in kemudian( or other kind of kemudian) I will delete it.So...
So there is it guys. I hope you enjoy it and help me with this project, like pointing witch grammar is wrong, fixing the wrong or weird sentences, or pointing a wrong word or something like that that will make this novel become a great novel. Thanks for read this description tho'. Have a nice day... :))

Update 1:
After I copy from ms words to kemudian, the format become a mess. So I gave a one space after every paragraph and hope it works, and it works. Yeah I know the space is kinda big, but if it's work it's not a problem right? At least you can read it (Since before it's very hard too read)