Seniman Gagal (Cerbung) Part 1

             Sudah lama sekali aku bermimpi. Ingin bernyanyi tapi tak bernyali, ingin menulis tapi bahasaku semu, tak mungkin dimengerti. Tak ada yang tahu apa mauku, sama seperti aku yang tak tahu apa maumu, maunya dan mau mereka. Aku seperti bunga yang tak diinginkan mekar, setiap karyaku yang selalu diinjak-injak binatang liar. Tak ada yang melihatku, menghiraukanku atau sedikit saja peduli bahwa aku (masih) ada.

             Ketidakpedulian itu membuatku membenci karya-karyaku sendiri, bahkan seringkali aku membakar puisi-puisi dan cerita yang pernah ku tulis. Sampai akhirnya aku terhenti di satu titik dimana setiap memori dalam kepalaku menjelma menjadi bayangan hitam. Kadang ia seperti binatang liar; seperti setan; seperti apa saja yang menakutkan. Dan sejak saat itulah hari-hariku menjadi kelabu, tak ada mimpi; tak ada puisi; tak ada suara; hampa.

             Padahal, disaat-saat terpuruk seperti itu banyak sekali yang ingin ku tuliskan. Tentang benci, frustasi atau apa saja yang mungkin bisa menyentuh hati. Tapi, melihat kertas dan pena saja sudah menghilangkan segala keinginan itu.

             Dan sekarang, sudah terlalu lama aku berdiam dalam keputusasaan. Mulailah aku mencari sesuatu untuk menghibur diriku sendiri, hingga akhirnya waktu juga yang membawaku kembali untuk menulis. Entah bagaimana dan sejak kapan. Sejauh yang aku sadari, ada seorang wanita yang menggeser sudut pandangku. Dia adalah Nadya, gadis manis berdarah batak yang terkenal kejudesannya dikomplek ini.

             Berawal dari perkenalan yang unik sore itu, ketika aku sedang duduk-duduk melongo dipersimpangan jalan. Ya, begitulah kebiasaan konyolku setiap sore. Duduk diam diatas motor tua sembari menghitung kendaraan yang berlalu lalang, mungkin lebih baik daripada berkubang di kamarku yang bau pesing.

"Bang, ojek!" Seru Nadya memecah lamunanku.

"Abang bukan tukang ojek, Dek." jawabku.

"Lah, jadi ngapain abang duduk disini? Liat tuh." Sembari menunjuk kearah papan yang ada dibatang pohon dekat tempatku bertongkak lutut di atas motor, yang bertuliskan "Pangkalan Ojek".

"Ah, sial." ucapku dalam hati. Entah bagaimana dan kapan, apa mungkin aku yang terlalu sibuk menghitung kendaraan sehingga tidak menyadari ada tulisan itu.

"Ah udahlah, Bang. Ayo sekarang antar aku!" Katanya dengan nada sedikit tinggi.

"Antar kemana?" Tanyaku.

"Ke Pelaminan!" Jawabnya singkat.

"Ya ke dalam kompleklah, Bang." Sambungnya lagi.

"Oh iya iya, yauda naiklah kau. Jangan nampak kali batakmu itu dek."

"Halah, abang ini. Entah apa aja." Gerutu Nadya sembari bersiap-siap naik ke motorku.

            Tiba-tiba timbul darah usilku untuk memberi pelajaran pada wanita ini. Belum lagi ia naik, aku sudah menggas motorku lalu menekan rem lagi sehingga maju sedikit demi sedikit.

"Tunggulah, Bang. Belum naik aku!" Ucap Nadya yang tak sadar sedang ku kerjai.

             Aku pun menghentikan motorku, lalu ketika ia mulai naik aku menarik gas lagi, terus berulang-ulang hingga ia hampir terjatuh. Dan akhirnya Nadya sadar bahwa ia sedang ku kerjai. Ia pun marah dan mencubit perutku dengan kuat.

"Awww! Sakit!" Teriakku spontan.

"Makanya, seriuslah bang. Belum kenal aja udah gak serius, apalagi kalo uda kenal." Ucapnya.

              Setelah itu aku mengantar Nadya ke rumahnya yang berjarak sekitar 500 Meter dari persimpangan. Begitulah awal perkenalanku dengannya. Sederhana, apa adanya dan indah seperti matahari yang terbenam diujung senja.

  ********

              Dan pagi ini, aku tahu bumi masih berputar dengan porosnya meski sisa-sisa kebahagiaan sore itu masih menempel di benakku. Tidak, aku tak boleh memikirkan gadis itu. Meskipun aku sudah 2 tahun 10 bulan menjomblo, 2 bulan lagi lunas tapi ini belum waktunya. 

              Dan untukmu Wahai hati, kau tahu harus memohon apa dalam doa sepagi ini. Aku yakin kau tahu itu, jadi tolong jangan sia-siakan pagi yang indah ini.

              Dan aku tahu, wahai hati. Kau pernah bahagia denganku dan akan lebih bahagia lagi nanti, percayalah. Sekarang mari kita menikmati sarapan ini.

               Bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Seniman Gagal (Cerbung) Part 1 (2 years 9 weeks ago)
70

saya banget

Writer Nine
Nine at Seniman Gagal (Cerbung) Part 1 (5 years 33 weeks ago)
100

Udah lama bacanya, Lam. Tapi baru sekarang komentarnya. Klo diitung-itung, ini sdh tiga kali saya baca. Pertama yang saya perhatikan itu adalah beberapa paragraf di awal. Karena ini cerbung, jadi paragraf awal itu saya nangkapnya emang untuk penguatan karakter si aku. Maksudnya dari situ penulis ingin pembaca lebih dekat dengan si aku lewat kegundahannya. Ngalir si bacanya, Lam. Walau masih ada beberapa kesalahan teknis (kamu cari sendiri lah) tapi ngalir.
.
Cuma, saya masih berasa datar sama cerita ini. Bagian yang menarik itu cuma pas pertemuan dengan Nadya. Selebihnya nggak meninggalkan kesan.
.
Lalu untuk bagian endingnya, kan ini cerbung, harusnya ada sesuatu yang bikin kita penasaran kan untuk membaca lanjutannya? tapi kok malah seperti udah ending gitu. Nggak ada yang bikin penasaran, Lam (setidaknya buat saya)
.
Eeeee, kyaknya itu aja dulu. Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan.
.
Salam olahraga

Writer ilham damanik
ilham damanik at Seniman Gagal (Cerbung) Part 1 (5 years 33 weeks ago)

Makasih Nine komentarnya, iya aku tau ceritaku selalu punya kekurangan jadi semoga kau gk jerah lah baca ceritaku lagi. Kalo ada yg kurang jgn ngasih point full nine, sindiran juga gak senyindir-nyindir itu kok.

Writer Nine
Nine at Seniman Gagal (Cerbung) Part 1 (5 years 33 weeks ago)

Ahahahaha XD
.
Itu poin full bukan untuk konten ceritanya sih, Lam. Terus terang, saya nggak bisa ngasih penilaian dalam bentuk angka untuk tulisan fiksi. :p, makanya ngasih poin full aja (yang penting ceritanya nggak asal dan rapi -- setidaknya di situ masih ada paragraf, titik, koma, dan tanda petik untuk dialog jadi nggak bikin pusing pala aliando). Intinya saya nggak nyindir, Lam. Ciyus nih. ^^

Writer rirant
rirant at Seniman Gagal (Cerbung) Part 1 (5 years 34 weeks ago)
90

Yesss pertamax hahahahak...
Seru kali bang ceritanya, humor dan romansanya benar-benar nyelekit hoho.
-
Jikalau boleh memberi secarik saran, ada beberapa bagian yang tertangkap kedua bola mataku, Bang.
-
Kalimat: //Aku seperti bunga yang tak diinginkan mekar, setiap karyaku yang selalu diinjak-injak binatang liar.\\ mungkin bisa dipersingkat menjadi: //Aku seperti bunga yang tak diinginkan mekar, setiap karyaku selalu diinjak-injak binatang liar.\\ karena kata 'yang' yang tersemat di kalimat kedua sepertinya agak gimana gitu. Dan juga, binatang liar itu beneran bintang bang? Ataukah perumpamaan?
-
Lalu sepengetahuanku, kata sambung 'ku-' adalah disambung bang. Juga kata 'kearah' seharusnya menjadi 'ke arah'. Menurut info di google seperti itu bang hoho.
-
Sekian saran sederhana dariku, semoga berkenan. Aku menantikan kelanjutannya, Bang Ilham :D

Writer ilham damanik
ilham damanik at Seniman Gagal (Cerbung) Part 1 (5 years 34 weeks ago)

Terimakasih bro atas saran dan komentarnya yang sangat membangun :)