Sepotong Percakapan di Pesisir

“Cita-cita lo apa?” tanyanya di sela bunyi debur ombak dan udara beraroma asin.

Aku terdiam. Agak kurang paham mengapa tiba-tiba pertanyaan seperti ini dilontarkan, dan bingung karena tidak tahu bagaimana caranya menjawab pertanyaan macam ini. Bukan, bukan karena aku tidak punya cita-cita. Aku punya tujuan hidup yang jelas. Aku bahkan telah membuat rencana masa depan yang cukup mendetail. Hanya saja…

“Kok diem?” tanyanya lagi memecah hening (yang sebenarnya lebih terdengar seperti simfoni pesisir) yang tercipta ketika aku berpikir. Aku tersenyum simpul lalu menggeleng. “Lo yang kasih tau duluan, dong.” Bujukku.

Ia tersenyum geli. Mungkin dia pikir aku kekanakan-kanakan. Ah, bukannya dia yang menanyakan pertanyaan kekanak-kanakan ini duluan?

“Hmm…” ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan, “ada banyak, sih. Tapi yang paling gue mau wujudin sekarang itu mandiri dulu, biar nggak perlu lagi bergantung sama orang tua. Makanya sekarang gue udah mulai cari-cari info beasiswa di mana-mana.” Aku manggut-manggut mendengarnya.

“Sekarang giliran lo.”

Aku mengambil waktu untuk menimbang-nimbang. Akhirnya, aku memutuskan kalau hubungan kami sudah cukup intim untuk buka-bukaan seperti ini. “Sama kayak lo, ada banyak. Dan sama juga, yang mau gue wujudin segera juga jadi mandiri.”

Ia menatapku tertarik. “Ini beneran atau lo cuma ngikutin gue?” tanyanya jahil.

Aku menatapnya sedetik lalu mengangkat bahu. “Abis cita-cita lo mulia banget sih, makanya langsung gue comot.”

Mendengar adanya nada sarkasme di jawabanku, ia malah pura-pura takjub. “Ya ampun, akhirnya ada yang sadar kalo gue orang yang mulia,” katanya dibuat-buat, kemudian menertawai  candaannya sendiri.

Aku menatapnya dengan tatapan yang kira-kira artinya “Geli banget sih, lo!” dan kemudian tertawa karena ketidaklucuan candaannya barusan.

Puas tertawa, ia akhirnya mengembalikan jalannya pembicaraan ke arah cita-cita kami. “Well, cita-cita kita emang pasaran, sih. Tapi gue rasa bakal tetap mulia sepanjang masa.”

Aku mengangguk menyetujui. Kumainkan pasir halus dengan kakiku, sementara tangan kananku sibuk merapikan anak rambut yang tertiup angin pantai.

 “Lo kenapa mau cepet-cepet mandiri?” tanyanya kemudian dengan nada lebih serius. Setelah menatapnya selama beberapa detik untuk memberikan efek dramatis bagi percakapan kami, akhirnya aku memutuskan kalau aku lebih tertarik mendengar jawabannya duluan. “Lo dulu.”

“Yeee… kebiasaan!” katanya sambil mengacak rambutku gemas. Aku kontan protes sambil berusaha ‘merapikan’ kembali rambutku yang sebenarnya sudah berantakan tertiup angin.

“Kalo gue sih klise aja, gue nggak mau jadi beban lama-lama buat orang tua. Mereka masih punya dua anak lagi yang harus dibiayain. Mana mereka ngotot mau sekolahin anak-anak mereka di sekolah mahal, lagi. Ini aja gue bisa satu sekolah sama lo bukan karena kita banyak duit, tapi karena orang tua gue mikirnya anak-anak harus dikasih pendidikan tebaik, walaupun mahal pun dijabanin,” jawabnya dengan nada serius. “Kalo lo kenapa mau cepet-cepet mandiri?”

Aku menggaruk-garuk keningku yang tiba-tiba gatal. Setelah itu, aku menatapnya dramatis karena aku tahu, jawabanku ini akan membuatnya tambah gemas. “Sama sih, sebenernya. Nggak mau ngerepotin orang tua juga.”

Dia melongo sejenak. “Gue berasa ngomong sama beo,” komentarnya dengan ekspresi bodoh. Demi melihat ekspresi itu aku menggaplok pipinya sambil terbahak.

“Aduh!” ia mengelus-ngelus pipinya yang terkena gaplokan dengan penuh penjiwaan, persis seperti yang sering dilakukan aktor-aktor film televisi yang sering ditonton kakak perempuanku.

“Eh, parah banget sih, lo. Jangan main tangan, dong. Ini kekerasan namanya. Kalo dibalik gue yang gaplok lo pasti lo marah deh.” Protesnya dibuat-buat.

Aku tertawa tambah keras. “Dasar meninist!” ledekku di sela tawa.

Mendengar ledekanku, ia malah semakin menjadi-jadi. Dipasangnya ekspresi tersinggung seolah-olah harga dirinya sebagai laki-laki baru saja aku coreng. “Emang nggak boleh ya, seorang laki-laki membela kehormatannya?”

Aku tertawa semakin keras. Dia memang mengerti selera humorku. “Ya ampun, jadi cowok lebay banget sih, lo. Udah kayak gue cabulin aja pake nyebut-nyabut membela kehormatan,” celetukku.

Kali ini dia ikut tertawa. Kami akhirnya malah bercanda balas-balasan dan terbahak sampai lemas.

“Aduh, udah, udah. Gue nggak kuat lagi.” Kataku menyudahi sambil memegangi perut yang tegang karena terlalu lama terkocok. Tapi tetap saja, tawaku tidak bisa hilang. Ia pun begitu. Akhirnya kami malah tertawa lagi.

Kami baru benar-benar berhenti tertawa ketika rasa geli itu habis menguap, dengan posisi terduduk di atas pasir karena tidak lagi kuat berdiri. Suara debur ombak mengisi keheningan di antara kami yang sedang mengatur napas masing-masing.

 “Setelah gue pikir-pikir, kayaknya gue batal deh ngikutin lo. Gue mau ganti cita-cita,” kataku tiba-tiba. Ia menoleh tertarik.

“Gue mau sukses,” lanjutku tegas “apapun jalan gue nanti, gue mau kaya, karena di negara ini orang kaya selalu punya pengaruh, dan suara mereka selalu didenger. Lo kan tau sendiri gimana gue suka protes. Gue yakin suara gue bakal lebih berdampak kalo gue kaya, dibanding sama kalo gue panas-panasan demo di jalan,” jelasku. Mendengar penjelasanku, ia mengangguk-ngangguk. Mungkin ia pikir itu masuk akal.

“Gue juga mau ganti cita-cita. Sekarang gue yang ngikutin lo. Gue juga mau sukses,” katanya tengil.

“Dasar pendendam,” umpatku sambil menoyor kepalanya halus.

Iya hanya terkekeh pelan sebelum melanjutkan. “Tapi kan alasan gue beda, nggak kayak lo yang cuma jiplak dari tadi,” katanya membela diri.

 “Gue tuh mau sukses buat orang tua gue. Klise, sih, emang. Tapi mulia, kan? Mungkin lo bakal geli dengernya, karena gue emang bakal kedengeran full of shit, tapi ini tuh beneran.”

Aku memasang telinga baik-baik. Pada kenyataannya, ia tidak pernah full of shit.

“Coba deh, lo pernah nggak mikir kalo orang tua lo punya cita-cita? Pernah nggak sih, lo mikir apa cita-cita mereka udah tercapai? Kalo gue, gue tau bokap gue ngorbain cita-citanya buat anak-anaknya. Gue tau bokap gue dari dulu pingin banget bikin pabrik, tapi selalu gagal. Modalnya hampir selalu nggak cukup karena uang yang dia kumpulin diprioritasin buat kita bertiga. Eh sekalinya ada modal, malah ketipu abis-abisan. Akhirnya sampe sekarang, sampe umurnya 50 tahunan, cita-citanya nggak tercapai.

“Makanya, karena orang tua gue udah ngorbanin cita-cita buat gue, gue ngerasa nggak boleh ngecewain mereka. Gue ngerasa gue harus sukses,” jelasnya panjang lebar.

Aku menatapnya takjub. Jujur, aku terkesan. Tidak mungkin ada banyak pemuda tujuh belas tahun yang memiliki jalan pikiran sepertinya. Kata-katanya mungkin terdengar sangat klise, tapi aku tahu itu bukan omong kosong. Aku tahu ia akan berusaha keras mewujudkan cita-citanya. Dan aku harap ia akan berhasil, karena aku yakin dunia ini memiliki hukum tabur tuai.

“Sampe terpana gitu,” godanya memecah lamunanku. Aku refleks memalingkan wajah yang langsung panas.

Ia malah tertawa menyebalkan. “Sampe merah banget gitu mukanya. Gue tersanjung, loh,” godanya lagi.

Aku meninju lengannya karena salah tingkah. “Berisik.”

“Hahaha!” ia tertawa puas. Aku memberengut. Ia malah tertawa tambah keras melihatku ngambek. Mana ada, coba, laki-laki yang menertawakan pacarnya sendiri saat ngambek? Aku menatapnya tajam dengan mata yang disipitkan, sengaja mendramatisir.

Melihat gesturku, akhirnya ia melingkarkan lengannya di bahuku sebagai tawaran perdamaian. “Iya, iya, sori. Jangan ngambek, dong,” bujuknya. Aku memalingkan wajah dan pura-pura tidak mendengar. Tapi itu tidak bertahan lama, karena aku malah tertawa. Aku memang tidak pernah pandai merajuk.

“Yah, kirain ngambek beneran,” ujarnya (pura-pura) kecewa. Aku kembali menatapnya dengan mata disipitikan seperti tadi. Ia pun mengalah.

“Oke, oke, daku minta ampun.”

“Baik, dikau diampuni.”

Ia mengecup keningku singkat sebelum melepaskan rangkulannya untuk menyelonjorkan kakinya yang pegal. Aku juga ikut-ikutan menyelonjorkan kaki. Kami berdua larut dalam pikiran masing-masing dengan mata terarah ke lautan.

“Tom,” panggilku memecah diam.

“Hm?”

“Lo kan tadi nanya, cita-cita gue apa. Setelah gue pikir-pikir, kayaknya nggak ada ruginya gue kasih tau lo.” Aku mengambil jeda supaya dramatis. Ia menatapku tertarik. Aku menghela napas perlahan sebelum melanjutkan.

“Gue sebenernya mau jadi orang yang berguna buat bangsa. Gue mau mencerdaskan orang-orang di negara ini. Gue mau ubah pola pikir mereka yang sekarang. Itu alasannya gue mau jadi orang kaya supaya suara gue lebih didenger.

“Tapi gue tau, di lingkungan kita sekarang, nasionalisme itu tabu.”

 

 

 

 

 

 

 

                

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer meme33
meme33 at Sepotong Percakapan di Pesisir (3 years 49 weeks ago)
80

cerita anak abg yang lagi berpacaran ini ya

_____________________________________
Hubungi Gesunde Medical yang Jual Nebulizer Omron dan berbagai alat kesehatan penting lainnya

Writer hidden pen
hidden pen at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 44 weeks ago)
80

Wooww kisah ini begitu kritis ya, saya hanya termangu sembari menganguk saja. Seperti kesan setuju setuju aja dengan percakapannya. Muahaha

BTW, ada yang membuatku penasaran, mana kata sayangnya. Ahh gk romantis :v kesan saling mengadu kepintaran antara pasangan dan hhmm hampir saja aku mengira akan terjadi hubungan terlarang muahaha menurutku loh ya.

Ada hal yg membuatku penasaran juga.
Tentang nama cowoknya aku udah tau. Naahh lloohh nama ceweknya siapa. Luna maya #plaakk

Ok aku mulai ngelantur kkabbuurr

Writer fuaina
fuaina at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 43 weeks ago)

Hai, makasih udah komen dan rate.
Ini ide awalnya emang cuma beberapa kritik dan ironi (yang bisa ketemu kalau direnungin lol) yang dimasukin ke percakapan sih. Emang awalnya nggak berencana buat kembangin karakternya, atau kasih plot-plot lain, makanya saya bilang judulnya harfiah banget hahaha.
Tapi emang seharusnya dikasih beberapa gestur sih ya, supaya lebih nunjukin kalau mereka itu sepasang. Cuma waktu itu saya mikirnya ini udah kepanjangan, jadi agak males juga buat nambahin XD

Writer tashalia
tashalia at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 44 weeks ago)

jauh banget yak ama model pacaran jama sekarang yg otaknya pada ngeres mulu... tp gw berharap style pacaran kayak diatas masih ada diantara beberapa remaja..

Rental Printer | Distributor Produk Herbalife

Writer fuaina
fuaina at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 44 weeks ago)

masih kok, pasti masih ada, walaupun ga banyak. dulu temen saya kayak gitu pacarannya hahaha

Writer ikhsandi373
ikhsandi373 at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 45 weeks ago)
100

nah ini baru pacaran yang bener-bener obrolannya maju, 10 dari 10 dah aku kasih

setuju ama yang dibawah, yang nulis pasti (mantan) demonstran :3

Writer fuaina
fuaina at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 44 weeks ago)

wah makasih loh 10 poinnya hahaha
nggak kok, saya bukan demonstran, saya anak rumahan

Writer dexter
dexter at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 46 weeks ago)
50

yang nulis demonstran nih.. haha

Writer fuaina
fuaina at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 46 weeks ago)

hahaha mungkin emang punya bakat demonstran terpendam

Writer The Smoker
The Smoker at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 46 weeks ago)
70

Gw kira ini obrolan cowok sama cowok, rada antisipasi tadi. Tapi gw nggak masuk sii ke keresahan2 mereka #woelah.... Masih ada kesan kaku, apa mereka baru jadian? Eh pacaran, kan?

Writer fuaina
fuaina at Sepotong Percakapan di Pesisir (4 years 46 weeks ago)

Basically 2 karakter di sini sih semacam pasangan remaja anti-mainstream gitu, jadinya percakapan dan gaya pacarannya kayak gini hahaha