Dark Mansion (Part 1)

Sebenarnya aku tidak tahu apa tujuanku kemari. Tadinya kupikir dengan duduk di tepi danau sambil melihat ikan-ikan kecil berenang di dalamnya, aku dapat melupakan semua kejadian yang memalukan saat di sekolah tadi.

Kau ingin tahu kejadian apa itu?
Nanti saja deh.

Pokoknya hari ini aku tidak mau diganggu oleh siapapun, apalagi oleh Bard. Dia selalu saja berbuat iseng kepadaku hanya untuk bersenang-senang, membuatku malu di depan orang, menyusup ke dalam kamarku dan menyelipkan kecoa di dalam lemari pakaian, mengendap-ngendap di belakangku lalu dia berteriak hingga aku melompat karena terkejut.

Bard adalah kakak ku. Sebenarnya hanya kakak angkat. Dia anak kuliahan yang paling sok di seantero Middle Valley, juga yang paling konyol. Mom dan Dad selalu saja membangga-banggakan prestasi yang diperolehnya dalam bidang akademik. Bard mendapat nilai rata-rata tiga koma sembilan pada semester kemarin. Dan aku akui bahwa itu memang nyaris sempurna.

Bukan itu saja. Bard juga selalu mendapatkan keistimewaan oleh Mom dan Dad. Seperti ruang kamar dan tempat tidur yang lebih besar sehingga ia bisa memasangkan segala macam poster di dinding kamarnya. Bard juga diperbolehkan keluar bersama teman-temannya hingga larut malam. Sedangkan aku hanya bisa duduk nonton TV pada saat malam hari, kecuali kalau aku ada tugas sekolah yang harus dikerjakan bersama-sama dengan teman sekelasku. Itu pun terkadang Mom menyuruhku agar mengerjakannya bersama-sama di rumahku saja.

Pada saat kami sedang duduk berkumpul di depan meja makan untuk makan malam bersama beberapa minggu yang lalu, Dad mengumumkan bahwa dia akan membelikan Bard sebuah mobil jika ia dapat mempertahankan prestasinya tersebut. Aku nyaris tersedak dan memuntahkan kembali semua makanan yang tengah kukunyah waktu mendengarnya.

"Uhm–Dad, aku bagaimana?" Sengaja kupelankan suaraku supaya tidak terdengar seperti anak manja. Kulihat Dad, Mom, dan Bard langsung menatapku secara bersamaan.

"Sarah – kau kan belum butuh mobil untuk pergi ke sekolah," kata Dad. "Lagian, sekolahmu juga hanya beberapa blok dari sini, dan kau..." Dad hendak meneruskan kata-katanya, tapi aku langsung memotong. "Aku tahu–aku tahu." Maksudku kan Dad bisa saja membelikanku sepeda yang baru, itu yang ingin kukatakan kepadanya. Tapi aku lebih memilih diam karena percuma saja berdebat dengan orangtua ku.

Mom hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya melanjutkan makan malam. Sedangkan, Bard cengar-cengir menatapku. Dia pikir dirinya lucu.

Sebenarnya siapa sih yang anak angkat di keluarga ini?
Bard atau aku?
Itulah yang ingin kukatakan pada mereka saat itu, tapi aku tahu Mom dan Dad pasti tidak akan suka aku mengatakan hal itu. Dan aku juga akan terlihat sangat kekanak-kanakan sekali. Ditambah lagi dengan Bard yang akan semakin terus mengolok-olok ku.

Bard diadopsi dari panti asuhan oleh Mom dan Dad ketika ia berusia empat tahun. Lalu, setahun kemudian aku lahir. Tapi perlakuan mereka kepada Bard terlalu berlebihan menurutku. Sedangkan pada diriku mereka biasa-biasa saja.

Ini sungguh tidak adil. Aku rasa kalian juga akan sependapat denganku kan?
Aku tidak tahu kenapa mereka begitu mengistimewakan anak angkat mereka tersebut. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Rasanya sulit untuk menerima kenyataan itu.

Duduk di tepi danau sambil menikmati pemandangan sekitar memang sudah menjadi kebiasaanku apabila aku sedang dirundung masalah. Aku suka ketika terpaan angin yang lembut dan sejuk itu menyentuh kulitku yang halus. Aku juga suka melemparkan beberapa buah batu ke tengah danau. Ketika air yang tenang itu diterjang oleh batu yang kulempar, bunyinya ceplap-ceplop. Lalu disusul dengan riak air yang berbentuk halo, kemudian halo itu semakin membesar dan menyebar ke seluruh permukaannya.

Air di danau ini jernih sekali. Pantulan cahaya matahari yang sudah mulai condong ke barat membuat permukaan danau tampak berkilauan dengan warna keemasan. Langit memang sedang cerah-cerahnya. Kulihat hanya ada sedikit awan saja yang mengambang. Pemandangan yang indah ini selalu membuat suasana hatiku yang kalut menjadi reda seolah-olah aku tidak pernah mendapatkan masalah.

Oh–iya, Kalian pasti sudah mengetahui namaku kan?
Yup. Aku Sarah McClain.
Aku adalah gadis yang berusia enam belas tahun. Tapi aku tidak kelihatan seperti gadis-gadis sebayaku. Maksudku, aku terlihat lebih dewasa daripada usiaku sendiri. Aku memiliki tubuh yang ramping dan cukup tinggi dibanding gadis-gadis lainnya di sekolah. Rambutku yang hitam dan panjang lurus selalu kubiarkan begitu saja terurai menutupi punggung. Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk mengikat rambut ku, karena aku memang tidak ingin itu akan merusaknya. Terkadang beberapa temanku suka iri kepadaku karena aku memiliki rambut yang sangat indah berkilauan. Mataku yang berwarna biru juga ikut menghiasi wajahku. Hidung yang mancung, serta bibir mungil yang tipis selalu tampak kemerahan diatas kulitku yang putih.

Banyak anak-anak yang bilang kepadaku bahwa aku mempunyai camera-face. Dan mereka mengusulkan agar aku ikut mendaftar dalam kontes pemilihan bintang iklan untuk beberapa produk kecantikan. Aku rasa mereka terlalu memujiku. Aku juga tidak pernah berpikir untuk menjadi pusat perhatian. Dan aku tidak mau membuat hidupku menjadi serba terbatas dalam soal waktu. Kau tahu sendiri kan, akan seperti apa jadinya bila kau sudah bergelut dalam dunia casting. Belum lagi, kau harus menyewa jasa seorang manajer untuk mengatur jadwalmu. Aku bilang kepada teman-temanku bahwa aku hanya ingin melalui hidup dengan normal. Sekarang saja hidupku sudah tidak normal gara-gara harus berhadapan dengan kelakuan Bard setiap hari jika kami sudah bertemu.

Aku mengayuh sepeda gunungku dengan terburu-buru ketika matahari sudah tenggelam di ufuk barat dan langit berganti warna menjadi kelabu. Roda sepedaku berputar dengan cepat di atas jalan setapak yang sempit dan berkelok-kelok. Sepintas kemudian, aku melihat sekelebat bayangan hitam yang melesat keluar dari balik pepohonan yang jaraknya cuma beberapa meter dari hadapanku. Lalu aku memelankan laju sepedaku. Memfokuskan mata ke arah bayangan itu.

Itu bayangan hewan, manusia atau hantu?
Aku tidak tahu pasti.
Bayangan hitam itu telah menghilang dibalik pepohonan yang lain.

Kupikir itu mungkin hanya seekor kelelawar yang menukik rendah ke tanah, berpindah dari pohon yang satu ke pohon yang lain.

Di Middle Valley memang sering banyak sekali kelelawar yang berkeliaran pada malam hari. Kadang kau dapat melihat mereka bergerombolan di atas langit pada waktu petang seperti sekarang ini.

Kota ini dikelilingi oleh bukit-bukit, pepohonan, padang rumput dan sungai-sungai kecil yang mengalir di sekitarnya. Kota ini tepat berada di tengah-tengah lembah. Itulah kenapa disebut dengan Middle Valley. Dan pastinya daerah ini adalah surga bagi berbagai macam margasatwa yang hidup di dalamnya.

Sebenarnya aku bukan seorang cewek yang penakut loh. Aku tidak pernah percaya dengan cerita-cerita konyol tentang hantu, dongeng-dongeng kuno seperti Putri Salju yang tinggal bersama para kurcaci, kisah tentang Peri Gigi, atau Dracula yang tinggal di Pensylvania.

Tapi Bard percaya bahwa Dracula itu ada.
Yang benar saja. Pikirku.

Suatu malam saat aku masih berusia dua belas tahun, Bard mengendap-ngendap ke dalam kamarku untuk menakut-nakutiku. Kebetulan pula saat itu sedang mati lampu dan kamarku hanya diterangi oleh cahaya lilin yang berwarna jingga. Aku hendak belajar di meja belajar kesayanganku karena esok harinya ada ulangan sekolah. Lalu tiba-tiba aku merasakan bahuku dicengkeram dari belakang. Dicengkeram oleh tangan yang dingin.

"Bard." Aku berusaha tetap tenang. Aku tahu itu pasti dia. Siapalagi kalau bukan kakak ku yang konyol itu.

Sunyi. Tak ada suara sahutan.

Bahkan tangan itu semakin mencengkeram erat bahuku. Tangan yang sangat dingin. Sekonyong-konyong bahuku jadi terasa nyeri sekali. Kemudian rasa nyeri itu menjalar ke seluruh tubuhku bersama dengan rasa dinginnya.

"Bard — tolong, aku sedang belajar nih. Besok ada ulangan!" Bentakku dengan gusar.

Aku mengambil buku. Berdiri dari tempat dudukku. Kemudian berbalik. Kulayangkan buku itu ke wajah kakak ku, namun sebelum buku itu mendarat di wajahnya, aku menjatuhkan buku itu dan menjerit sejadi-jadinya.

Aku yakin jeritanku saat itu terdengar oleh seluruh penghuni Middle Valley. Saking kerasnya, tak lama kemudian tetangga sebelah kami Mr. and Mrs. Thomson datang ke rumah dan menanyakan apa yang baru saja terjadi kepada kedua orangtua ku.

Seharusnya aku sudah bisa menebak kalau itu Bard. Tapi entah kenapa aku tetap saja menjerit ketakutan. Habisnya dia memakai topeng yang terlalu menyeramkan menurutku. Bibir di wajah topeng itu berlumuran darah. Ia menyeringai kepadaku dengan taring yang panjang seolah-olah aku adalah santapan yang berikutnya.

Bard norak. Bard konyol. Bard tolol. Semua sumpah serapahku keluar semua pada malam itu. Aku kesal sekali. Gara-gara dia aku jadi tidak bisa berkonsentrasi lagi waktu belajar. Gara-gara dia aku dimarahi oleh Mom dan Dad karena jeritanku membuat heboh seisi kompleks. Gara-gara dia aku jadi menanggung malu. Gara-gara dia nilai ulanganku jadi tidak memuaskan.

Oke–Itu adalah empat tahun yang lalu. Sekarang aku bukan anak kecil lagi. Aku terus mengayuh sepedaku menyusuri jalan setapak yang menuju ke persimpangan jalan. Makhluk-makhluk malam mulai berkeliaran. Mengeluarkan suara dan bunyi-bunyian yang nyaring. Aku dapat melihat deretan rumah yang dibangun di atas perbukitan. Lampu-lampunya menyala terang. Saat aku melewati pepohonan, lampu-lampu itu seolah-olah berkedip-kedip bagaikan puluhan mata serigala yang sedang mengintai dari kejauhan.

"Kau darimana saja?" Tanya kakak ku ketika aku masuk ke dalam rumah. Dia tengah duduk di sofa sambil memegang remot TV, menggonta-ganti saluran.

"Bukan urusanmu." Jawabku ketus. Aku mengambil langkah menuju tangga ke kamarku di atas. Bard melompat dari tempat duduknya. "Tadi Janned menelpon," lanjutnya kemudian. "Dia memintamu untuk menelponnya kembali, kedengarannya seperti ada urusan penting."
Paling-paling Janned mengkhawatirkanku karena kejadian di sekolah tadi. Pikirku. Janned adalah teman karibku di sekolah. Kami satu kelas dan dia duduk di sampingku. Setiap aku ada masalah, dia selalu ada untuk membantuku. Dia benar-benar setia kawan. Begitupun juga sikapku kepadanya.

"Aku harus pergi keluar. Seseorang akan menjemputku kemari," Bard mengeraskan suaranya saat aku hampir sampai di depan pintu kamarku. "Kau tunggu di rumah sampai Mom dan Dad pulang."

"Oke." Aku menyahut. Seperti biasa. Aku ditinggal olehnya sendirian di rumah. Sementara ia dan teman-temannya bersenang-senang di luar sana.

Setelah menelpon Janned, aku menjatuhkan diriku ke atas tempat tidur. Tirai yang menggantung di jendela kamarku tampak berkibar-kibar di bawah sinar bulan yang menerobos masuk melalui jendela yang ternganga lebar. Warna bulannya pucat sekali. Kemudian, hembusan udara yang dingin langsung menghantam kulitku. Mau tidak mau aku harus melompat kembali dari atas tempat tidur untuk menutup pintu jendela. Saat tanganku hendak menggapai pengangan pintu, sesuatu yang gelap dan besar menutupi bulan.

Sesuatu yang membuatku bergidik ngeri. Sesuatu yang melambai-lambai. Aku memicingkan mata supaya dapat melihat dengan jelas. Rupanya yang melambai-lambai itu adalah sepasang sayap yang sangat besar.
Sayap seekor kelelawar. Hanya saja tubuhnya menyerupai tubuh manusia.

Aku dapat melihat dengan jelas disaat kepalanya menoleh ke arahku. Matanya memancarkan cahaya berwarna merah. Dan ia sedang menyeringai kepadaku.

"AAH!" Sebenarnya aku hendak memekik. Namun hanya erangan kecil yang keluar dari kerongkonganku. Seolah-olah ada buah semangka yang menyangkut di tenggorokanku.

Mendadak seakan-akan tubuhku mati rasa. Tidak dapat kugerakkan. Jantungku berdegup begitu kencang. Berdebam-debam keras hingga aku takut ia akan meledak. Pandangan mataku tidak mau beralih dari wajah dan seringai itu. Aku pasti tengah terhipnotis. Pikirku.

Makhluk itu menukik tajam. Mendekat ke arahku. Kini pelan-pelan aku dapat melihat dengan jelas wujudnya secara keseluruhan. Itu adalah wujud seorang wanita dengan rambut panjang berombak warna merah darah. Hanya saja ia memiliki sayap kelelawar. Kedua sayap itu rupanya menyembul dari punggungnya.

"Oh!" Aku mengerang lagi ketika makhluk itu berhenti tepat di hadapanku. Tapi kini suaraku kedengarannya hanya seperti tikus yang sedang mencicit.

Taringnya. Ia terus menyeringai mempertontonkan taringnya yang panjang. Apakah makhluk itu adalah vampir?
Tapi — tapi, bukankah vampir itu hanya ada dalam cerita-cerita konyol dan di film saja?

"Aku tidak percaya dengan vampir!" Teriakku. Akhirnya aku bisa bersuara dengan tegas. Namun makhluk itu tidak memperdulikan teriakanku. Bahkan seringai di wajahnya semakin lebar. Ia mendekat lagi hingga hanya beberapa kaki saja dariku. Kedua sayapnya terus mengepak-ngepak di udara. Aku bisa merasakan hawa dingin yang berasal dari nafasnya menyentuh wajahku.

"Ikutlah." Katanya pelan. Suaranya seperti berasal dari kejauhan. Padahal ia begitu dekat.

"I–i–ikut kemana?" Tanyaku terbata-bata. Saking takutnya, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Aku begitu bingung.
Begitu cemas.
Begitu takut.
Sekarang saja seluruh tubuhku bergetar dengan hebat hingga aku nyaris terjatuh. Mulutku terasa kering kerontang.

"Ikutlah," katanya lagi seraya melambaikan tangan kepadaku. "Kita bisa berkumpul lagi seperti sedia kala — putriku."

Berkumpul?
Putrinya?

"TIDAAAK!"
"KAU BUKAN – KAU TIDAK NYATA!"
"TIDAK NYATAA!"

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rirant
rirant at Dark Mansion (Part 1) (4 years 38 weeks ago)
100

Seru mas ceritanya, meskipun ada hampir 2000 kata, tapi ngga membosankan, sangat seru untuk di ikuti :D
-
Mungkin kalau dibuat format diary akan lebih terasa lagi mas, soalnya dari segi penceritaannya kayak bercerita ke pihak ketiga.
-
Dari segi plot, karakter, dan latar tempatnya sudah bagus mas, jempol deh :D
-
Jikalau boleh memberi beberapa saran, kata -> kakak ku; orangtua ku; rambut ku; dan kata yang diakhiri kata sambung (-ku) adalah disambung mas. Meskipun ada beberapa yang sudah di sambung seperti -> sepedaku; kamarku.
-
terus pada kalimat -> //"Sarah – kau kan belum butuh mobil untuk pergi ke sekolah," kata Dad. "Lagian, sekolahmu juga hanya beberapa blok dari sini, dan kau..."\\ ada unsur elipsis ya mas (...) menurut yang aku tahu, elipsis itu dikasih spasi sebelum dan sesudahnya, jadi konsepnya kayak huruf biasa gitu mas.
-
Terus pada kalimat -> //
Lalu disusul dengan riak air yang berbentuk halo, kemudian halo itu semakin membesar dan menyebar ke seluruh permukaannya.\\ aku agak bingung sama pendeskripsian halo itu mas :p
-
Terus pada kalimat -> //Aku adalah gadis yang berusia enam belas tahun\\ mungkin kata 'yang' bisa dihapus mas biar ndak mubazir hehehek
-
lalu pada kalimat -> //karena aku memang tidak ingin itu akan merusaknya.\\ agak janggal mas menurutku, mungkin bisa lebih diperjelas lagi.
-
Terus pada kalimat -> //"Bard — tolong, aku sedang belajar nih. Besok ada ulangan!" Bentakku dengan gusar.\\ dan kalimat -> //Oke–Itu adalah empat tahun yang lalu.\\ mungkin kayaknya lebih pas kalo (—) diganti koma mas, menurutku sih hehehek.
-
Terus pada kalimat ini -> //Paling-paling Janned mengkhawatirkanku karena kejadian di sekolah tadi. Pikirku.\\ Mungkin tanda titik sebelum kata 'pikirku' diganti koma mas, soalnya menurutku masih ada keterkaitan sama kalimat sebelumnya.
-
Terus pada kata atau kalimat yang di huruf besar mungkin karena penekanan ya mas? tapi menurutku penekanan cukup diganti tanda seru tanpa harus di huruf kapital semua, agar serasi antar kalimatnya. Tapi kalo menurut maswin udah bagus di kapital yah gppa mas hoho.
-
terus yang terakhir, pada kalimat -> //Seolah-olah ada buah semangka yang menyangkut di tenggorokanku.\\ mungkin terlalu hiperbola mas, kalo semangka nyangkut di tenggorokan bakal mati orangnya hehehek :p
-
Tapi secara keseluruhan, bagus mas ceritanya. Bikin penasaran. Lanjut masss :D

Writer kemassaputra
kemassaputra at Dark Mansion (Part 1) (4 years 38 weeks ago)

Makasih banyak dek ku @rirant yang baik hati atas pointnya :D

Seluruh krisannya langsung diterima dan ditampung :D

lalu pada kalimat -> //karena aku memang tidak ingin itu akan merusaknya.\\ agak janggal mas menurutku, mungkin bisa lebih diperjelas lagi.

Memang sengaja dibuat begitu supaya lebih tegas dek ku, kalau kata "rambut" terus diulang takutnya memiliki kesan terlalu boros. Karena pembaca juga pasti akan mengerti apa maksudnya :D

terus yang terakhir, pada kalimat -> //Seolah-olah ada buah semangka yang menyangkut di tenggorokanku.\\ mungkin terlalu hiperbola mas, kalo semangka nyangkut di tenggorokan bakal mati orangnya hehehek :p

Sengaja dibuat demikian supaya ada kesan lucunya :D kayak R.L Stine :D

Writer ikhsandi373
ikhsandi373 at Dark Mansion (Part 1) (4 years 38 weeks ago)
90

oke, sekarang aku mulai ragu kalau si Bard yang anak tiri dan Sarah yang anak kandung. Ditambah lagi sejak kapan roh manusia digambarkan mirip seperti selirnya dracula?

next partnya ditunggu lho, asik nih horror fiksi

Writer kemassaputra
kemassaputra at Dark Mansion (Part 1) (4 years 38 weeks ago)

Nantikan aja kelanjutannya ya mas mengenai apakah Bard atau Sarah yang sebenarnya adalah anak angkat :D

Itu bukan roh manusia yang digambarkan mirip Dracula, tapi memang makhluk yang memiliki taring dan sayap kelelawar mas. Di kelanjutannya nanti akan terlihat lebih jelas :D

Btw, makasih banyak atas point dan komentarnya ya mas Ikhsan :D