After School Story Time; Fragment One: Hilangnya 'A' -Bagian akhir-

Ruang tamu Kantor Hukum dan Detektif Rian, 14:30.

            Rea duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang di duduki Anna.

            “Hmm... sebelum aku mulai.” Rea melihat Anna dengan serius. “Apakah ketua kenal dengan cerita?”

            “Cerita? Tentu saja. Apa maksud anda?”

            “Di dunia ini menurutku ada dua tipe cerita. Cerita seseorang yang diceritakan orang lain. Dan cerita seseorang yang hanya diceritakan oleh diri mereka sendiri.”

            “Hmm... jadi maksud anda?”

            “Cerita hanyalah sebuah cerita jika mereka hanyalah sesuatu yang diceritakan oleh yang bukan mengarang. Namun, jika yang menceritakan adalah yang memiliki cerita itu sendiri maka itu adalah...”

            “Kenyataan?”

            “Benar...”

            Rea menggaruk kepalanya sejenak.

            “Namun, cerita yang diceritakan oleh pemiliknya tidak selalu sebuah kenyataan. Kita misalkan saja cerita adalah fakta yang dipegang oleh si A. Fakta ini tidak boleh bertolak belakang dengan fakta lain yang orang lain ketahui tentang si A.”

            “Kenyataan tidak boleh berbenturan dengan kenyataan lain...”

            “Ya,” Rea mengangguk. “Jika mereka berbenturan dengan kenyataan lain, maka cerita itu patut dipertanyakan kebenarannya.”

            “Jadi apa maksud anda?”

            “Aku berpikir dengan melihat cerita-cerita yang ada. Kita tidak boleh mempercayai sebuah cerita tanpa melihat cerita lain yang ada di sekitar. Aku menyebutnya ‘Editing’. Kita meng-edit sebuah cerita yang dipertanyakan kebenarannya menjadi sebuah kenyataan. Semua kemungkinan tidak boleh dipungkiri dalam hal ini.”

            Anna mengangguk. Dia sepertinya mengerti apa maksud Rea. Singkatnya fakta-fakta yang ada di sekitar mereka adalah cerita. Baik cerita yang diceritakan orang lain maupun cerita yang diceritakan pemiliknya sendiri.

            “Jadi... kita mulai saja dari pertanyaan ketua yang paling mudah dan paling mendasar?”

            Rea membenarkan kacamatanya sekali lalu melanjutkan.

            “Kapan Rina kehilangan benda itu? Ketua apakah kau mengerti hal yang satu ini?”

            “Rina terlihat seorang perempuan yang rajin. Tentu saja dia bukan tipe orang yang kehilangan sesuatu tanpa sebab. Mungkin jika kami tahu kenapa Rina bisa lupa, mungkin saya bisa menjawab.”

            Rea berdiri. Dia berjalan menuju meja di belakangnya. Lalu mengambil dua buah gelas kaca dan sebuah air mineral berkemasan botol. Dia lalu menaruh kedua gelas itu di atas meja di depan Anna dan mulai menuangkan air ke gelas tersebut.

            “Pada awalnya kita membahas apa yang dilakukan Rina pagi itu kan, ketua?”

            “Iya.”

            “Dan kita sepakat yang dilakukan Rina pagi itu adalah merias diri.”

            Rea selesai menuangkan air. Dia kemudian menaruh botol di atas meja. Rea duduk. Lalu,

            “Misal Ketua merias diri di pagi hari.”

            “Tapi... Kami hanya merapikan rambut di pagi hari. Saya tidak melakukan hal seperti ber-rias.”

            “Kalau begitu pikirkan saja, jika kamu tidak memiliki waktu untuk merapikan rambut di rumah, apa yang kamu lakukan?”

            “Tentu saja saya tidak akan tahu hal seperti itu, jika tidak ada yang memberi tahu.”

            Seberapa sederhanakah perempuan ini.... setiap pertanyaanku bisa ditolak dengan kesederhanaanya.

            “Kalau begitu, jika kamu dengan pengetahuan bahwa kamu belum merapikan rambut, kamu pergi ke sekolah dan ingat, bahwa kamu akan merapikan di sekolah. Apa yang kamu lakukan.”

            “Tentu saja merapikan. Anda baru saja mengatakannya.”

            Hebat sekali! Terima kasih!

            “Di mana anda akan merapikan rambut itu.”

            “Tentu saja di kelas. Saya kan selalu membawa cermin.”

            Kenapa membawa cermin? Kenapa perempuan yang mengatakan dirinya tidak berdandan dan hanya merapikan rambutnya di pagi hari membawa cermin? Ketua, kamu membuatku jengkel.

            “Jika pagi itu aku berpikir bahwa Rina tidak membawa cermin.”

            “Kenapa anda bisa tahu Rina tidak membawa cermin...? Ingat Knox kedelapan...”

            Sebelum Anna mengacungkan jari telunjuknya Rea memotong.

            “Tenang saja ketua. Ini adalah logika sederhana. Ketua... Jika ketua tahu bahwa ada cermin sebesar cermin yang dahulu ada di depan meja piket di kamar mandi dan ketua memiliki kebiasaan untuk merias diri setiap pagi. Apa yang ketua lakukan, jika ketua tidak membawa cermin yang biasa ketua gunakan untuk merias diri pagi itu?”

            “Tentu saja... Kami akan meminjam cemin teman untuk merapikan rambut.”

            “Huh... sudah kukira ketua akan membuat jawaban yang luar biasa...” Rea menundukkan kepalanya. Mendesah sekali. Lalu meminum air dari satu gelas di depannya. Setelah dia tenang dia menaruh gelas yang hanya tersisa separuh. “Bayangkan jika tidak ada orang lain pagi itu yang membawa cermin dan ketua sangat ingin merapikan rambut.”

            “Tentu saja kami akan ke kamar mandi jika kami tahu ada cermin di sana.”

            “Akhirnya kita bisa melanjutkan pembicaraan ini.”

            Rea membenarkan kacamatanya.

            “Baiklah. Ketua kamu ingat tentang apa yang dikatakan pak Taufan?”

            “Tentu saja kami ingat.”

            Anna membuka halaman demi halaman buku catatannya.

            “Bapak Taufan tidak memperbolehkan seorang siswa ke keluar kelas namun pada akhirnya setelah tatapan tajam yang siswa itu tujukan pada Bapak Taufan akhirnya beliau menyerah.”

            “Bukan, bukan. Bukan bagian yang itu... Sebelumnya.”

            “Anda terlihat panik... dan wajah anda merah padam.”

            “Ketua, kamu ingin pembicaraan ini cepat selesai atau tidak?!”

            “Tentu saja saya ingin... tapi saya penasaran kenapa pipi anda memerah?”

            “Ke-tu-a!”

            “B-baiklah!”

            Anna menyerah. Dia kembali memperhatikan buku catatannya.

            “Bapak Taufan berkata, Maaf anak-anak bapak terlambat. Oh dan terima kasih ada yang mengambilkan buku dan repot-repot memfotokopinya untuk empat kelas... bapak kira tidak ada yang datang sepagi itu.”

            “Terimakasih ketua...”

            Rea membenarkan kacamatanya.

            “Pagi itu Rina ada di kamar mandi. Dan ada pengumuman yang diamanahkan Pak Taufan.”

            “Eh... hanya itu? Saya tidak mengerti.”

            “Mudahnya benda milik Rina hilang pagi itu di antara saat dia berada di kamar mandi. Dan di saat dia melakukan apa yang diamanahkan oleh Pak Taufan

            “Kenapa anda yakin bahwa Rina yang melakukan hal tersebut?”

            “Karena tidak ada yang berangkat pagi itu lebih cepat dari Rina di kelas kita.”

            “... Kami mengerti.”

            “Kamu terlihat tidak terlalu senang dengan jawabanku ketua?”

            “Benarkah?”

            “Kau tidak seperti... Oh seperti itu...”

            “Eh... Saya mengatakan hal itu kah ketika saya puas dengan sebuah jawaban... eh... kenapa anda bisa tahu.”

            Kenapa aku bisa tahu hal seperti itu...

            Rea memainkan rambutnya dengan tangan kanan sejenak. Lalu dia menggelengkan kepalanya.

            “Itu tidak penting sekarang mari kita lanjutkan ke pertanyaan kedua. Di mana ‘A’ milik Rina hilang?” Rea menarik napas. “Jawabannya mudah. Yaitu kamar mandi.”

            “Eh?” Anna tampak kurang puas. “Kenapa?”

            “Karena Rina mengatakan seperti itu.” Rea menutup matanya beberapa saat. “Mengingat dirimu, pasti muncul pertanyaan baru.”

            “Ya!” Anna membuka buku catatannya. “Tidak mungkin! Tentu saja kalau Rina tahu kapan benda itu hilang pasti dia sudah menemukannya di kamar mandi. Tidak mungkin juga, kan benda itu bergerak sendiri.”

            “Kalau begitu kita jawab pertanyaan pertama. Benda apa yang hilang.”

            “Mungkin anda harus melakukannya lebih awal. Kami sama sekali tidak mengerti benda apa yang hilang. Kalau saja ada sesuatu yang bisa mengetahui segalanya.

            “Sesuatu itu ada ketua!”

            “Eh!”

          “Coba ingat-ingat kembali. Sesuatu yang praktis yang bisa menemukan jawaban yang kamu inginkan ketua...”

            “Hmm...”

            Anna mengelus bibirnya dengan jari telunjuk tangan kanannya. Setelah beberapa saat dia tersenyum.

            “Internet!”

            “Tepat sekali.”

            “Namun, apa yang harus kami lakukan dengan internet?”

            “Ingat foto yang kuambil tadi di kelas?”

            “Tentu saja... Tapi apa hubungannya foto tersebut dengan internet?”

            “Ketua... coba masukkan memory- 535798365. Dan lakukan pencarian menggunakan internet.”

            “Eh... ini...”

            “Ya... sekarang kau mengerti ketua.”

          <a href="http://orig03.deviantart.net/6359/f/2015/147/6/2/memory_by_x_ryuu-d8v00nx.png">memory- 535798365</a>

            Anna terdiam. Dia memperhatikan gambar dua orang perempuan yang sedang tersenyum. Salah satu dari mereka ada seorang perempuan yang dia kenal. Dia adalah...

            “Rina...”

            “Kamu mengerti sekarang ketua. Merias diri terutama di bagian rambut, foto itu dan kamar mandi...”

            Anna mengangguk.

            “Pita...”

            “Ya.

            “Sekarang kembali ke pertanyaan sebelumnya. Kapan benda itu hilang.

            Rea mengisi kembali gelasnya. Lalu dia melanjutkan pembicaraan dengan gelas di tangan kanannya.

            “Kenapa aku memutuskan Pita tersebut hilang di kamar mandi... pasti ketua sangat ingin tahu, bukan?”

            “Tentu saja. Rina telah mencari benda itu di kamar mandi. Namun dia tidak menemukannya.”

            “Kalau begitu jangan terpaku pada tempat yang telah ditelusuri Rina. Ubah cara berpikirmu ketua.”

            “Maksud anda? Saya tidak mengerti...”

            Hmm dia ragu akan kemampuan berpikirnya sendiri... Kalau begitu aku akan membantunya sedikit...

            “Ketua... Ubah cara berpikirmu tentang Pita tersebut. Ingat itu adalah pita. Dia tidak mungkin berpindah dari kamar mandi... Kalau begitu apa yang bisa kita simpulkan?”

            “....!!”

            Dia sepertinya menangkap apa yang berusaha aku katakan.

            “Seseorang menemukan pita itu... kah?”

            “Asumsiku seperti itu...”

            “Tapi Knox Kedelapan!”

            “Tentu saja Knox kedelapan tidak mengizinkan pemikiranku itu tanpa bukti. Namun untuk sekarang kita berasumsi dahulu. Jika ketua tidak setuju dengan pendapatku maka aku akan berhenti.”

            Anna mengangguk.

            “Kalau begitu kita mulai dari ‘Siapa’. Ingat kejadian Ron disiram air bak siang itu ketua?”

            “Tentu saja.”

            “Aku berpikir perempuan itu adalah seorang yang menemukan pita milik Rina.”

            “Eh... tidak mungkin. Karena...”

            “Rina mungkin sudah terlebih dahulu mencari ke kamar mandi, bukan?”

            “Kalau begitu kita gunakan hint, kita. Kebiasaan dan perempuan.”

            “Bukannya mereka adalah kebiasaan perempuan?”

            “Tidak, kebiasaan dan perempuan. Terpisah.”

            “Jadi?”

            “Jika berbicara kebiasaan, apa yang terjadi beberapa hari ini. Sesuatu yang berubah dan cukup besar bagi Rina?”

            “Hmmm, tunggu sebentar,” Anna meneliti buku catatannya.

            “Ada!” Anna menunjuk kalimat dari Marwa. “Meninggalnya almarhum ibu Rina.”

            “Kalau begitu, apa kebiasaan seorang perempuan berhubungan dengan kamar mandi.”

            “Hmm... Mengajak teman bersama?”

            “Baik. Jadi kenapa Rina tidak segera pergi ke kamar mandi sesegera mungkin?”

            “Ah! Karena Rina masih berduka.”

            “Ya, mungkin dia tidak mau merepotkan temannya karena dirinya sendiri sedang berduka. Ada pertanyaan tambahan?”

            Anna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

            “Kalau begitu selanjutnya. Kenapa Ron disiram air oleh perempuan di kamar mandi?”

            “Kami juga penasaran dengan hal itu.”

            “Baik. Ketua, kebiasaan apa yang berubah beberapa hari ini di sekolah.”

            “Jam pengajaran?”

            “Bicara jam pengajaran, apa yang berubah?”

            “Waktu pulang kelas dua belas?”

            “Dan.... istirahat.”

            “Oh,” Anna terkejut. “Karena istirahat berbeda, tapi.... walaupun begitu sebelum masuk ke kamar mandi pasti si perempuan melihat ada siswa yang berlalu lalang.”

            “Menurutmu, dengan keadaan seperti itu perempuan kelas berapa yang di kamar mandi?”

            “Dua belas... tapi... siswa lain-”

            “Berbicara siswa lain. Mulai di sini hanya asumsiku. Apa yang kamu pikirkan jika di pagi hari saat pergantian jam belajar berubah dan kamu sering terlambat ke sekolah, kamu melihat koridor kosong dan siswa-siswa sudah di kelas?”

            “Pasti saya berpikir saya sudah terlambat.”

            “Apa yang kamu pikirkan jika ada seorang yang melakukan seperti itu terus menerus dan hari ini terlambat.”

            “Dia pemalas?”

            “Kita berbicara perempuan. Setidaknya kamu ingin membela?”

            “Maaf. Ugh.... Dia sakit?”

            “Sakit apa yang bisa membuatnya dalam kondisi seperti itu? Ingat-ingat kondisi si perempuan menurut cerita Ron.”

            Anna mengecek catatannya dan menunjuk kata-kata ‘mata merah’.

            “Hmm... menurut marwa itu adalah susah tidur? Kami tidak mengerti... kenapa dia sampai tidak tahu menahu soal pergantian jam? Dia kan bisa tahu pada hari senin, atau mungkin dia pelupa?”

            “Bukan begitu... Menurutmu bagaimana, apa yang bisa membuat seseorang tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi di hari senin tentang pengumuman pergantian jam?”

            “Dia tidak masuk. Hanya itu yang saya bisa pikirkan.”

            “Asumsiku, penyakit ini membuatnya tidak berangkat di hari senin sehingga tidak tahu menahu soal pergantian jam.”

            “Bagaimana jika temannya memberitahu?”

            “Bagaiman jika temannya ingin mengerjai dia? Dan setidaknya dia belajar dari hal itu. Namun tidak begitu dengan si perempuan. Nah, apa yang dilakukan orang seperti itu jika dia menganggap dirinya terlambat di hari ini, dan parah sekali sampai semua siswa sudah ada di kelas ditambah lagi kepanikan dirinya?”

            “Ke kantor mencari surat izin terlambat,” Anna tersenyum.

            “Ah...” Rea menepuk dahinya. “Kita berbicara kebiasaan. Jangan tambahkan elemen sederhana milikmu.”

            “Baik... tapi saya tidak mengerti.”

            “Mudahnya, apa yang dia lakukan sehingga dia tidak menyadari pergantian jam pada istirahat kelas sebelas?”

            “Dia membolos? Tapi... itu tidak baik...”

            “Kita tidak membicarakan baik buruk di sini. Kita membicarakan cerita untuk mencapai kebenaran.”

            “Jika begitu soal siswa lain?”

            “Dengan asumsiku tadi kita dapatkan bahwa dia tidak tahu sampai istirahat. Apa yang kamu pikirkan jika ada banyak siswa yang keluar dari kelas?”

            “Istirahat?”

            “Alasan lain.”

            “Pindah kelas?”

            “Ya. Perempuan ini pasti mengira bahwa siswa siswa yang diluar sedang berpindah kelas. Dia tidak mengetahui bahwa ada pergantian jadwal hari itu. Karena itu dia berteriak sekeras mungkin dan berusaha membela diri dengan menyiram Ron. Tentu saja jika dia tahu bahwa siswa-siswa yang diluar sedang istirahat tentu saja dia hanya akan berteriak tanpa melakukan apapun pada Ron.”

Rea meneguk gelas berisi air di tangan kanannya. Anna belum menyentuh gelasnya sama sekali. Dia lebih tertarik pada cerita Rea dari pada kerongkongannya yang kering.

            “Baik, selanjutnya. Tentang kenapa tidak ada siaran. Jawabannya mudah. Apa tujuan dari perubahan jam pengajaran?”

            “Tentu saja Rina belum mengetahui saat itu bahwa pitanya hilang. Dan walaupun dia pergi ke sentral untuk memberitahu barang hilang tersebut, tidak ada yang menjaga hari itu. Karena perbedaan jadwal.”

            “Jika begitu kenapa tidak ada siaran. Tapi mungkin saja Rina bisa melapor pada guru...”

            “Hubungkan dengan tujuan perubahan jam pengajaran.”

            “Oh...” Anna tersenyum. “Agar tidak mengganggu pelajaran kelas dua belas. Jadi karena itu Rina tidak mengumumkannya. Dan juga Bapak dan Ibu Guru juga akan terganggu. Namun mungkin saja jika asumsi anda benar perempuan yang menemukan pita Rina melaporkan?”

            “Lebih tepatnya tidak bisa. Tidak ada siswa yang menjaga. Dan lagi, ketua jika kamu membolos apakah kamu akan mengambil resiko ketahuan guru yang mengetahuimu tidak ada di kelas hari itu hanya untuk memberitahu benda hilang?”

            “Tentu saja kami akan melakukannya.” Rea meneguk gelasnya.

            “Namun teman kita yang satu ini tidak. Karena dia bukan ketua...”

            Seharusnya aku tidak menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah kuketahui pada perempuan ini... hanya buang-buang waktu.

            “Bagaimana aku menemukan pita itu... Menurutmu, jika ada yang mengambil, siapa yang mengambil, ketua?”

            “Manusia.”

            “Aduh!” Rea menepuk dahinya. “Jenis kelamin?”

            “Perempuan pastinya. Mungkin juga laki-laki...”

            “Tidak mungkin. Jika itu benar, maka dia adalah Ron. Namun dia tidak memiliki pita tersebut...” Anna diam sejenak. Dia kemudian terkejut dan lalu berdiri. “Anda!”

            “Tentu saja tidak... aku hanya menemukannya setelah aku mendengar cerita di kelas.”

            Ya ampun perempuan ini... Rea menepuk dahinya sambil melihat ke atas.

            “Jadi... perempuan?”

            “Mulai di sini adalah asumsiku. Jika kamu menemukan sesuatu apa yang kamu lakukan?”

            “Tentu saja karena melapor sudah bukan sebuah pilihan... maka...”

            “Maka?

            “Saya tidak tahu.”

            Anna tersenyum. Dan Rea menundukkan kepalanya.

            Sudah kuduga dia akan mengatakan seperti itu...

            “Misal, kamu menemukan dompet. Dan kamu tidak tahu siapa pemiliknya, jika dititipkan pada pihak lain, takut ada yang hilang. Pasti disimpan. Tentu saja karena melapor bukanlah pilihan untuk pelaku kita. Cara lain yang dilakukan setelah melaporkan dan mungkin tidak ada respon.”

            “Hmm.... kalau kami, kami kembali ke tempat ditemukan. Mungkin ada yang akan mengaku jika dompet itu miliknya.”

            “Kalau begitu, siapa yang bisa menandingi kecepatan Rina untuk mendapatkan ‘A’. Padahal dia keluar segera setelah bel istirahat berbunyi?”

            “Laki-laki yang tergesa-gesa ke kamar mandi? Lawannya kan perempuan.”

            “Sudah kubilang tidak ada laki-laki seperti itu. Yang ada hanya Ron. Dan dia masuk setelah Rina.”

            Ketua... sampai kapan kau ingin membela kaum mu... dengan jawaban yang sudah jelas seperti itu...

            “Kalau begitu perempuan.”

            “Perempuan seperti apa?”

            “Perempuan yang masuk sebelum Rina masuk?”

             “Perempuan seperti apa itu? Perempuan yang bisa masuk sebelum Rina masuk?”

             “Perempuan yang tidak masuk saat jam istirahat dimulai....”

             “Jadi, bisa menebak dari asumsiku ini?”

            “Oh... perempuan yang menyiram air Ron. Namun, bagaimana anda menemukan si perempuan? Dia kan sedang membolos. Dia bisa berada di mana saja.”

“Tenang... Sebelum aku menjawab, apa yang si perempuan pembolos lakukan selama membolos. Padahal dia sepertinya sudah banyak tidak berangkat. Jika hari ini dia terhitung tidak berangkat maka dia bisa bertambah dekat dengan yang namanya dikeluarkan dari sekolah maupun panggilang orang tua. Apa cara terbaik yang dilakukan agar tidak dianggap tidak masuk?”

            “Membuat izin?”

            “Kalau seperti itu, dia bisa tahu ada perubahan jam dan dia tidak akan bertemu Ron dan menyiramnya. Kita tidak akan melihat si playboy Ron basah.”

            “Hmm... kasihan sekali Ron selalu disiram di pembicaraan kita ini...”

            “Ah sudahlah! Begini... Tempat membolos yang menyediakanmu kehadiran di presensi pada hari itu?”

            “Saya tahu! UKS!”

            “Bagus.”

            “Tapi, bagaimana cara anda mendapatkan pita? UKS terdapat dua bilik, laki-laki dan perempuan. Jika anda masuk tanpa izin anda bisa dibanting dengan alat penimbang.”

            “Karena itu saya memfoto gambar yang ditunjukkan Marwa pada Arthur dan Ron. Agar saya bisa gunakan untuk bukti.”

            “Hmmm....”

            “Dan begitulah bagaimana aku menemukan pita tersebut! Semua sudah terjawab. Masih ada pertanyaan?”

            “Tentu saja... Karena semua belum terjawab! Anda belum menjawab pertanyaan terbesar di ‘Asumsi’ anda.”

            ...Aku sampai lupa hal itu.

            Rea melupakan satu hal penting. Anna sudah mengucapkannya berkali-kali. Dan kali ini dia terlihat sangat yakin.

            “Knox kedelapan! Kasus tidak boleh terselesaikan dengan bukti yang tidak diperlihatkan!”

            Dan,

            “Semua yang anda bicarakan mulai di mana pita milik Rina hilang. Sampai bagaimana anda menemukan pita milik Rina adalah sebuah asumsi. Mereka tidak bisa menjadi kebenaran tanpa bukti, benar bukan?”

            Rea membenarkan kacamatanya. Dia kemudian memainkan rambutnya.

            Ranking 4 seluruh angkatan bukan hanya pajangan... Perempuan ini belajar sangat cepat... Kalau begitu...

            Rea menyilangkan tangannya di depan dada. Lalu dia membenarkan kacamatanya dengan tangan kanan. Dan kemudian tangan kanannya dia arahkan ke Anna.

            “Semua bukti telah diperlihatkan ketua.”

            Seperti apa yang dinyatakan Rea di awal pembicaraan keduanya, Rea membuktikan segala teori dan asumsi yang dia buat dengan bukti yang ada. Dan bukti tersebut telah disediakan oleh Anna dengan buku catatannya.

            Dan itu adalah,

            “Aku menemukan pita milik Rina.”

            “... ... Oh seperti itu...”

            Anna tersenyum. Dia puas dengan jawaban Rea. Semua telah terbukti dengan Rea menemukan pita milik Rina. Maka dari itu tidak ada yang bisa dia pertanyakan lagi kebenarannya. Dan untuk pertama kalinya Anna mengecup gelas yang ada di depannya. Perlahan meneguk air mineral yang Rea sediakan untuknya.

            “Nah, nah. Semua sudah selesai,” Rea memainkan rambut. “Jadi...”

            “Ah, anda menyembunyikan sesuatu, ya?”

            “Eh?”

            Kenapa bisa tahu...

            “Pasti anda berpikir kenapa saya bisa tahu. Jelas saja, Anda memainkan rambut. Saya mengira-ngira jika anda tidak sedang ragu, anda pasti sedang menyembunyikan sesuatu.”

            Kenapa...

            Rea memainkan rambut. Dia melirik ke arah lain. Namun Anna mengikuti arah lirikannya dengan mengangkat gelas miliknya di depan arah pandangan matanya.

            “Baik... akan kukatakan,” Rea kembali memperhatikan Anna. “Sebenarnya saat menemukan pita itu, aku membuat janji dengan si perempuan.”

            “Janji?”

            “Ya, agar aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya dan mengembalikan secara sembunyi-sembunyi, pita itu.”

            “Tapi kenapa?”

            “Saat itu dia sudah kenal baik dengan Rina, sesama penghuni UKS bilik perempuan. Dia tidak mau Rina tahu dia membolos. Dia juga berjanji mulai besok akan tertib. Tak ada ruginya kan?”

             “Oh.... Sangat mengharukan.”

            Dia puas?

            Akan tetapi setelah memuaskan Anna, Rea kembali memainkan rambut yang membuat Anna curiga.

            “Apa lagi yang anda sem-“

            “REA! Aku kembali! Jadi perkenalkan pacarmu!”

            Suara Rian menggema. Dia tampak sangat senang. Dia langsung saja duduk di samping Rea.

            Rian, nice timing! Tapi sebenarnya aku tidak perlu menyembunyikan hal itu... sudahlah...

            Rian dengan seksama mengintrogasi Rea dan Anna sampai dirinya puas. Beberapa menit dihabiskan untuk hal itu. Namun Anna hanya tersenyum kecil. Dia seperti berusaha menyembunyikan seseuatu.

*

Siang itu mulai berganti sore petang mulai datang. Tidak disangka telah berlalu tiga jam lamanya bagi Rea. Setelah berbincang dengan Rian, Rea mengantar Anna kembali ke sekolah. Di depan gerbang sekolah Rea berpisah dengan Anna. Sebelum berpisah Anna bertanya.

            “Nah, Rea.”

            “Apa, ketua?”

            “Kenapa Rina sampai menangis mencari pita itu? Dan kenapa Rina bisa lupa jika pita itu sangat berharga?”

            “Kalau menurutmu kenapa?”

            “Mungkin itu peninggalan ibu Rina. Karena itu dia mencari pita itu dengan susah payah sampai menangis. Tapi kenapa Rina bisa lupa?”

            “Ketua ingat saat pak guru datang dia mengatakan apa?”

            “.....”

            “Dia meminta seseorang mengambilkan buku dan memfotokopinya...”

            “Jadi...”

            “Ya... sepenting-pentingnya benda itu... Rina adalah seorang siswa sebelum dia menjadi seorang anak. Saat itu pasti ada pengumuman dan Rina langsung pergi untuk mengambil buku itu. Karena dia tahu hanya dirinyalah yang ada pada pagi itu.”

            Rea langsung saja berlalu tanpa merepotkan dirinya untuk memberi respon terhadap pernyataan Anna. Dia tampak tidak kesal waktu luangnya terbuang. Mungkin dirinya yang acuh

mulai luluh. Mungkin juga dia merasa senang ada yang mengajaknya bicara. Selama perjalanan hanya satu kalimat yang dia pikirkan, dan hanya itu.

            Kamu benar, ketua, kita sebagai manusia ingin meninggalkan sesuatu di dunia untuk mereka yang hidup setelahnya, karena itulah seorang perempuan menangisi hal kecil seperti itu.

 

            Mungkin ini hanya cerita orang lain yang kita percayai, ketua. Namun biarkanlah hal ini menjadi kenyataan dalam diri kita.... Biarkanlah ini menjadi cerita sepulang sekolah di antara kita saja...

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post