The Promise: 1. Neil Gaiman Brengsek

“Who’s she?”

“Nobody important.”

“Nobody important?Blimey, that’s amazing. You know in nine hundred years of time and space and I’ve never met anybody who wasn’t important before.”—conversation between the 11th Doctor and Karzan Sardick regarding Abigail Pettigrew.

“Aaaress!” seruan manja dari Shira mau tak mau membuat Ares mengangkat kepalanya. Gadis bertubuh mungil itu tampak berlari ke arahnya dan tanpa sungkan menggelayut manja di lehernya. Jujur ia tak menyukainya. Shira sendiri tahu ia tak menyukainya. Tapi mereka sudah kenal terlalu lama untuk tahu bahwa gadis itu hanya sedang mengganggunya.

“Pagi-pagi lu udah ngambil pacar orang aja Res, gua gak nyangka lu ternyata tega sama temen!” celetukan Bima yang menyusul di belakang Shira langsung membuat Ares melayangkan tinju candanya ke pemuda itu. Bima hanya menerimanya dengan tawa.

“Jangan ngomong asal, gua gak suka pacar lu, tapi gua pantang mukul cewe, jadi tiap kali nih cewe lu nempel ke gua, lu gua hajar gimana?” ujar pemuda itu dingin yang langsung membuat Shira tertawa dan melepaskan pelukannya dari Ares dan berganti bergelayut manja di lengan Bima yang ikut tertawa bersamanya. Ares hanya membuang muka.

“Klo gak sama Shira, sama gua aja mau gak Res?” pertanyaan yang dilanjutkan dengan gelayutan manja Danu yang entah sejak kapan berada di belakangnya, membuat Ares yang pada dasarnya memang tidak menyukai kontak fisik langsung melepas paksa pelukan Danu dan memuntir tangan sahabatnya itu ke belakang punggungnya. Sontak saja pemuda itu menjerit minta ampun.

“Sadis lu Res, hari pertama sekolah udah mo ngebunuh orang aja ...” gerutu Danu kesal. Ares memutar bola matanya dengan sebal.

“Lu yang gila! Pagi-pagi udah nyari masalah aja!” runtuk pemuda itu yang langsung disambut tawa dari teman-temannya.

“Lagian lu yang aneh sih Res, setua ini masih gak suka dipegang cewe. Klo gak karena lu juga gak mau dipegang sama cowo, semua orang pasti ngira lu maho!” ujar Bima disela tawanya.

“Gua gak maho! Gua punya pacar!” gerutu Ares sebal.

“Mantan, Res! Mantan!” koreksi Shira sadis, “Yang lu punya itu mantan! Dan semuanya pada lari dari lu sambil nangis-nangis karena terlalu sering lu dinginin” vonis gadis itu dingin. Ares kembali membuang muka.

“Udah kelas tiga ini, gua gak butuh pacarlah sekarang!” ujarnya datar sambil membolak balik halaman bukunya. Shira, Bima dan Danu langsung terdiam.

“Res, lu tuh kalo gak punya pacar gak akan punya waktu untuk belajar” ujar Bima prihatin.

“Lu gak inget terakhir kali lu jomblo, cewe-cewe di sekolah ini pada beringas saling ngebully tiap lu ada ketemu mata ato sekedar ngobrol ama salah satu dari mereka?” tanya Shira horor, “Gua aja masih inget banget ... klo bukan gara-gara si Bima, gua pasti udah jadi tempe gara-gara gua deket ama lu!” ujar gadis itu ketakutan. Bima yang berdiri di sampingnya langsung mengusap kepala gadis itu sambil tersenyum.

“Antares Cahya Huberto, lu itu pangeran di sekolah ini! Cakep, pinter, jago olahraga, kaya ... pewaris perusahaan gede lagi, klo gua bukan cowo, gua pasti juga ngejer-ngejer lu!” cetus Danu berapi-api, “Lu itu laki-laki ilegal! Gak harusnya ada di dunia ini, tapi malah ada aja!” sambung pemuda itu lagi dengan nada yang langsung berubah menjadi gerutuan. Ares kembali memutar bola matanya.

“Lu gak salah sih Res, Cuma karena lu terkenal dingin, sekedar ketemu mata ato ngobrol singkat aja udah bisa bikin cewe-cewe di sekolah ini ngerasa punya hubungan spesial sama lu. Hal yang jadi masalah waktu mereka dengan terang-terangan nge-self declared dirinya sebagai pacar lu. Klo lu gak punya pacar resmi yang secara terang-terangan lu tegasin ke cewe-cewe itu, pacar-pacar self-declared lu itu pasti langsung saling serang dan gak jarang ngebawa-bawa lu juga ke peperangan mereka, yang ujungnya bikin lu berakhir di ruang BK ato yang terakhir paling parah bikin lu nyampe masuk ruang kepala sekolah,” jelas Bima setengah tertawa. Shira dan Danu ikut tertawa bersamanya. Ares hanya mendengus sebal.

Ia sama sekali tak bisa menyangkal perkataan teman-temannya. Entah apa yang menghasut kebanyakan siswi di sekolahnya, setiap dia tanpa sengaja bertemu pandang dengan salah satu dari mereka, atau mungkin sekedar menanyakan hal sepele pada mereka, yang memang juga merupakan hal yang jarang ia lakukan, siswi-siswi di sekolahnya itu langsung menggila dan menyatakan diri mereka sebagai orang yang dekat dengannya, sesuatu yang membuat Ares semakin menghindari para kaum hawa di sekolahnya itu.

Tak semua gadis di sekolah Ares bertingkah seperti itu sebenarnya, tapi beberapa yang agresif diantaranya sering sekali mencari masalah dengan para gadis yang sebenarnya biasa saja berada disekitarnya, dan satu hal berkait ke lain hal, permasalahan terus saja muncul dan tak jarang juga menyeret dirinya. Mengganggu proses belajar dan kehidupan pribadinya.

Disaat-saat seperti ini Ares biasanya menjadikan pacarnya sebagai solusi. Bagaimanapun dia juga adalah pemuda normal yang jelas bisa tertarik pada gadis-gadis disekitarnya. Jika ia menyukai salah satu dari gadis yang menyukainya, ia tak pernah benar-benar sungkan menjadikan gadis itu sebagai pacarnya, dan karena perlakuan Ares terhadap pacarnya memberi suatu kontras yang sangat jelas terhadap gadis-gadis lain yang mengejar dirinya. Mereka pelan-pelan akhirnya mundur dan memberikan Ares sedikit ketenangan yang memang dibutuhkannya.

Tapi ia sedang tidak ingin berpacaran. Ia sedang bosan menanggapi rengekan dan tuntutan yang selalu dilontarkan oleh gadis-gadis yang pernah menjadi pacarnya. Ia ingin menjalani tahun terakhir di sekolahnya ini dengan tenang tanpa gangguan dari gadis-gadis yang mengejarnya, tanpa juga perlu mengorbankan dirinya untuk meladeni keinginan-keinginan gadis yang menjadi pacarnya.

“Ah! Chelsy!” seruan takjub Danu sejenak menarik perhatian Ares.

Seorang gadis berkacamata dengan atribut serba hitam tampak memasuki ruangan kelas dan seketika menghentikan seluruh pembicaraan yang terjadi di dalamnya.

Chelsy memang terkenal suram. Bukan hanya karena semua atribut yang digunakannya—selain dari seragam—yang berwarna hitam, tapi juga kepribadian dan tingkah lakunya yang dapat dikatakan pendiam dan cukup mengintimidasi.

Tak ada yang benar-benar mengerti mengapa, dan tak benar-benar diketahui siapa yang sebenarnya memulai perlakuan kompak untuk mendiami Chelsy saat gadis itu memasuki kelas. Bagi kebanyakan siswa dan siswi di sekolah ini, tatapan Chelsy selalu terkesan menghakimi, dan karena itu tak ada yang mau pembicaraannya terdengar oleh gadis itu. Chelsy juga selalu melakukan kegiatannya sendiri, tanpa pernah sekalipun meminta pertolongan teman sekelas atau guru yang membuat orang-orang merasa gadis itu sombong dan sering memandang rendah orang-orang disekitarnya. Jelas gadis itu tak  punya teman.

Perlahan namun pasti gadis itu melangkah menuju bangku di depan bangku Ares, yang memang menjadi satu-satunya bangku yang belum di-claim oleh siswa-siswi di kelas barunya. Sekilas Ares dapat melihat Danu dengan iseng menjulurkan kakinya dan untuk menjegal langkah gadis itu. Ares berusaha menghentikannya tapi tetap saja gadis itu akhirnya tersandung dan sempat hampir terjatuh karena kaki temannya itu. Ares langsung melontarkan tatapan tajam kearah Danu yang hanya cengar-cengir sementara Chelsy, yang sekalipun jelas terlihat kesal, hanya menegakkan dirinya dengan cepat dan langsung duduk ke bangku sisa tadi. Sama sekali tidak memperdulikan wajah cengengesan Danu yang ingin sekali dihajar oleh Ares.

“Nyantai Res, si Chelsy mah gak akan marah. Dia itu kan kayak robot, gak akan dipeduliinnyalah ...” cerocos Danu yang langsung mendapat jitakan dari Shira, yang juga tak menyukai tingkah lakunya. Bima yang berdiri di sampingnya ikut menatap tajam pemuda itu sampai akhirnya Danu memutuskan untuk meminta maaf, tapi sayangnya bel tanda homeroom segera memotong keinginannya. Wali kelas mereka langsung memasuki kelas dan memulai orientasi hari pertama mereka.

Ares sebenarnya ingin memaksa Danu untuk meminta maaf secepat mungkin, namun Chelsy justru langsung menghilang begitu bel jam istirahat berbunyi dan kembali tepat pada bel tanda istirahat berakhir. Ares mencoba mencegah gadis itu saat bel jam istirahat kedua berbunyi namun lagi-lagi gadis itu menghilang dan hanya kembali tepat saat bel istirahat berakhir. Gadis itu sama sekali tidak memperdulikan siapapun dikelasnya saat pelajaran berlangsung dan saat bel jam pelajaran berakhir berbunyi, gadis itu langsung membereskan barang-barangnya dengan cepat dan langsung menghilang sebelum Ares atau teman-temannya berhasil mencegatnya untuk minta maaf.

Frustasi, Ares langsung melampiaskan kekesalannya dengan menendang tulang kering Danu. Pemuda itu hanya bisa mengerang kesakitan dan menatap sahabatnya dengan tatapan bersalah.

“Lu gila sih Nu, kalap apa sih lu seenaknya nyegal kaki orang yang gak punya salah sama lu? Bosen idup?” gerutu Shira gemas sambil mencubiti kedua pipi Danu. Bima yang berdiri disampingnya tak mengatakan apa-apa, tapi dari tatapannya saja Danu dapat melihat kalau pemuda itu sama sekali tidak mendukung kelakuannya.

“Iseng aja sih Ra, kan lucu gitu liatnya, dua tahun lebih tuh orang ada disekolah kita, tapi gak pernah punya reaksi apa-apa ama sekitarnya gitu. Klo si Ares kita ini kan paling nggak masih ada reaksi gimana gitu ama orang-orang disekitarnya, lha dia ... udah jelek, suram, gak punya temen lagi! Penasaran aja gua klo gua jegal kakinya kira-kira dia bakal marah ato nggak, tapi toh gak ada reaksinya juga!” ujar Danu sebal.

“Lu mau jadi musuhnya gitu?” tanya Bima sinis.

“Yah, nggak juga, tapi paling nggak gua penasaran dengan apa yang bikin dia breaksi gimana gitu!” jelas Danu yang langsung membuat teman-temannya menghela nafas panjang. Mereka benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ada di otak sahabat mereka itu.

“Chelsy memang suram, tapi dia itu gak jelek lho! Dan gua rasa dia anak yang baik kok!” seru Shira akhirnya.

“Ya, Shira sudah dari tadi pagi bilang kalau dia mau kenalan sama Chelsy dan nyoba jadi temennya. Kayanya hal itu lebih waras deh dari tingkahnya si Danu!” setuju Bima sambil mengalungkan salah satu lengannya ke leher Shira.

“Lu mo temenan ama Chelsy?” tanya Danu tak percaya yang langsung mengundang jitakan dari Ares.

“Lu ini benar-benar menjijikan ...” ujarnya dingin sambil melangkah pergi. Ia mual berada terlalu lama disamping orang seperti Danu. Penasaran juga ia, kenapa ia bisa jadi teman pemuda itu sejak tahun pertamanya di SMA. Ah, benar, karena Danu adalah satu dari sedikit orang yang mau menjadi temannya tanpa memandang latar belakang keluarganya yang tajir. Mengingat hal itu ia tahu kalau ia pasti akan memaafkan Danu besok.

Getaran smartphone dari sakunya membuat Ares menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Ia tahu kalau ia pasti akan memaafkan Danu besok, tapi ia juga mengambil keputusan kalau ia akan tetap marah dengan pemuda itu hari ini, jadi setelah memandang sekilas nama yang terpampang di smartphone-nya, Ares langsung menggerakkan jarinya untuk menolak panggilan dari Danu dan men-mute semua komunikasi dari pemuda itu untuk hari ini.

Ares memutuskan untuk fokus belajar di tahun terakhir masa SMA-nya ini. Ia memutuskan untuk belajar semaksimal mungkin untuk mencapai universitas impiannya dan karena itu ketika ia mendapatkan tawaran untuk mengikuti bimbingan belajar, ia langsung menerima tawaran itu, tapi hal yang mengejutkannya adalah ketika akhirnya ia tiba di gedung bimbelnya, ia menemukan sosok Chelsy yang tampak tenggelam dalam buku bacaannya di ruang tunggu gedung itu.

Selama beberapa saat Ares tertegun di tempatnya, yang sebenarnya akan membuatnya terlihat bodoh, karena ia berhenti tepat di pintu masuk, tapi tetap saja ia tak dapat bergerak dari tempatnya. Sudah hampir seharian ini, setiap ia memiliki waktu luang ia berusaha menemui gadis itu untuk meminta maaf, namun kini saat ia menemukannya ia justru tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Terutama karena Danu yang menjadi alasannya untuk menemui gadis itu tidak ada di tempat ini, dan Ares sudah memutuskan untuk tidak menghubungi Danu hari ini. Entah kenapa hal ini justru membuatnya semakin marah dengan Danu. Ares tahu bahwa selain memaafkan pemuda itu, ia juga akan memukul kepala pemuda itu sekali lagi besok.

“American Gods, Neil Gaiman, Indonesia atau Ingris?” Ares yang menyadari buku bacaan Chelsy akhirnya memutuskan untuk menjadi orang pertama yang memulai pembicaraannya.

“Inggris, aku ketemu harta karun ini di perpus!”

Jujur, Ares sama sekali tidak menyangka ia akan mendapat jawaban, jadi saat Chelsy mengangkat kepala dari buku yang dibacanya dan menjawab pertanyaannya, Ares mau tak mau kembali mematung. Ia mematung tentu saja bukan hanya karena Chelsy menjawab pertanyaannya tapi karena gadis itu menjawab pertanyaannya sambil tersenyum, dan terkutuklah Cupid yang mungkin sedang iseng saat itu, karena panahnya jelas berhasil menembus jantungnya. Yeah, right, klise total, tapi memangnya Ares peduli? Persetan dengan resolusinya yang tidak ingin berpacaran selama tahun ini. Ia tahu, dia naksir Chelsy hanya karena cewek yang terkenal suram itu senyum ke dia. Ares benci puberitas.

“Kamu udah baca?” pertanyaan yang akhirnya terlontar dari mulut Chelsy akhirnya menyentakkan Ares dari lamunannya, dan seolah tidak ingin ketahuan kalau dia sedang melamun, Ares langsung mengacak-acak otaknya untuk mencari pendapat dirinya terhadap buku bacaan Chelsy barusan.

“Gaiman bikin aku ngerasa mabuk, bukunya bikin perasaan aku campur aduk tapi emosi yang keluar hanya datar ... rasanya kayak abis minum-minum!” jawab Ares cepat, dan setelah mencerna sendiri kata-katanya, Ia langsung menyadari kesalahan dalam kata-katanya barusan.

“B, bukan berarti aku pernah minum-minum! Aku hanya ngerasa abis baca bukunya, dia itu, kayak ngasi perasaan, ah kalau mabuk mungkin gini kali ya rasanya!” koreksinya cepat.

“Aku kira hanya aku yang punya pikiran kayak gitu! Kayak pas ngabisin chapter 1, rasanya pala jadi muter dan rasanya kata-kata jadi lancar keluar dari mulut dan ... yah kayak yang kamu bilang, jadi mabuk—Ah!” seolah tersadar dengan apa yang baru saja dilakukannya, Chelsy langsung melemparkan pandangannya kembali ke buku bacaannya dan mundur beberapa langkah dari Ares.

“Kamu ... les disini juga?” hilang sudah Chelsy yang penuh semangat dan ceria. Halo lagi ke Chelsy si cewek suram. Perubahan yang menampar Ares kembali ke dunia nyata. Dunia di mana Ares dan Chelsy sebenarnya bukan teman, dan pembicaraan tentang buku Neil Gaiman tidak akan cukup untuk meruntuhkan tembok yang selama ini menyembunyikan wajah asli Chelsy yang tak pernah dilihat baik dirinya ataupun teman-temannya yang lain.

Ares ingin kembali melihat senyum Chelsy yang tadi. Ingin kembali mendengar suara ceria yang terlontar dari bibir gadis itu, tapi ia tidak tahu caranya. Danu. Besok dia tidak hanya akan menjatuhkan satu pukulan ke kepala pemuda itu, tapi dua. Gara-gara pemuda itu dia tidak dapat memulai pembicaraan normal dengan gadis ini tanpa teringat bahwa dia adalah teman dari pemuda yang tadi pagi menjegalnya.

“Ah, iya, aku juga les disini ... namaku—“

“Ares! Aku tahu namamu kok!” kata-kata Chelsy yang memotong kalimat perkenalannya langsung memberikan perasaan campur aduk di kepala Ares. Disatu sisi rasanya ia senang karena gadis itu mengetahui namanya, disisi lain, jika gadis itu tahu namanya, maka gadis itu biasanya juga tahu reputasi dan latar belakangnya di sekolah. Entah dia harus senang atau sedih mengetahui hal itu. Terlepas dari semua itu, Ares tahu jika ia ingin mendekati gadis itu, maka ada satu hal yang harus dilakukannya.

“Soal tadi pagi, temanku, Danu yang ngejegal kakimu ... aku minta maaf!” ujarnya cepat, sebelum ia benar-benar melupakan hal yang membuat dirinya ingin menyapa Chelsy seharian penuh ini. Sesuatu yang akhirnya disesalinya karena Chelsy kemudian menutup bukunya dan tatapan gugup yang tadi tampak terlihat diwajah gadis itu seketika berubah menjadi tatapan dingin yang langsung menusuk ulu hatinya.

“You do your own time in prison. You don’t do anyone else’s time for them” kutipan Neil Gaiman yang terlontar tajam dari mulut gadis itu seolah menyayat dadanya. ‘Kau menjalani hukumanmu sendiri di penjara. Kau tidak menjalani hukuman orang lain untuk mereka’ adalah kutipan Neil Gaiman yang berasal langsung dari buku American Gods, buku yang sedang dibaca oleh Chelsy. Dia yang pertama memulai pembicaraan mereka dengan membahas buku Neil Gaiman dan dia sendiri yang tidak mengambil pembelajaran dari buku itu.

Ares hanya bisa berdiri terdiam saat Chelsy akhirnya berjalan pergi dari hadapannya. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini dan apa yang harus dilakukannya, tapi dua hal yang pasti adalah bahwa ia menyukai senyum gadis suram bernama Chelsy, dan pandangan pertama gadis itu terhadap dirinya adalah, bahwa dia adalah seorang idiot. Neil Gaiman brengsek.

Read previous post:  
Read next post:  
60

Menurutku, alangkah baiknya tokoh di perkenalkan satu persatu dahulu tiap chapter. Yahh agar emosi ares, bima shira dan yang lain gk bercampur jadi satu kayaq gini.
Tapi semua keputusan ada pada penulisnya sih. Aku cuma nyari yg enak aja.

Ok akan Kuserahkan kepada komentar yg lain.

Kkabbuurrrr

huah kangennya dapet komentar kayak gini!!!
Makasih!